Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Fraktur berarti deformasi atau diskontinuitas dari tulang oleh tenaga
yang melebihi kekuatan tulang. Fraktur dapat diklasifikasikan menurut garis
fraktur (transversal, spiral, oblik, segmental, komunitif), lokasi (diafise,
metafise, epifise) dan integritas dari kulit serta jaringan lunak yang mengelilingi
(terbuka atau compound dan tertutup). 1
Fraktur merupakan cedera yang sering terjadi pada kecelakaan baik itu
kecelakaan kerja, rumah tangga, maupun lalu lintas. Angka kecelakaan di
Indonesia bisa dikatakan cukup tinggi. Pada penelitian sebelumnya di
Indonesia, proporsi cedera patah tulang atau amputasi paling tinggi terjadi
karena kecelakaan lalu lintas.3 Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),
kecelakaan lalu lintas menjadi pembunuh terbesar ketiga di Indonesia setelah
penyakit jantung koroner dan penyakit tuberculosis/TBC. Namun, seringkali
kejadian patah tulang tidak ditangani secara cepat dan tepat sehingga kondisi
korban kecelakaan pun menjadi semakin parah dan bahkan fatal.2,3
Berdasarkan penelitian di rumah sakit di Indonesia pada tahun 2013,
jumlah klien yang mengalami fraktur terutama pada regio kruris yaitu sebanyak
11.357 laki – laki dan 8.319 perempuan. Sedangkan insidennya pada laki-laki
yaitu 152 per 100.000 pasien laki-laki dan 120 per 100.000 untuk pasien
perempuan. Pada tahun 2014, insiden tertinggi dan faktor resiko yaitu pada usia
10 – 14 tahun untuk laki-laki dan diatas 85 tahun untuk perempuan. Insiden
fraktur di Indonesia pada usia 50 tahun keatas meningkat 81% dari tahun
sebelumnya.3
Fraktur Cruris merupakan fraktur tulang panjang yang sering terjadi.
Fraktur cruris merupakan suatu istilah untuk patah tulang tibia dan fibula yang
biasanya terjadi pada bagian proksimal, diafisis, atau persendian pergelangan
kaki. Fraktur pada lokasi ini sangat sering dijumpai pada kecelakaan lalu lintas.
Menurut data Depkes RI (2011), dari 45.987 orang dengan kasus fraktur
ekstremitas bawah akibat kecelakaan, 14.027 orang mengalami fraktur cruris,
3.775 orang mengalami fraktur tibia, 970 orang mengalami fraktur pada tulang-
tulang kecil di kaki dan 336 orang mengalami fraktur fibula.4
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Tibia dan Fibula


Os tibia merupakan os longum yang terletak di sisi medial region cruris.
Ini merupakan tulang terpanjang kedua setelah os femur. Tulang ini terbentang
ke proksimal untuk membentuk articulation genu dan ke distal terlihat semakin
mengecil. Os fibula atau calf bone terletak sebelah lateral dan lebih kecil dari
tibia. Extremitas proximalis fibula terletak agak posterior dari caput tibia,
dibawah articulation genus dan tulang ini tidak ikut membentuk articulation
genus.5

Gambar 1.

Fascia cruris merupakan tempat perleketan musculus dan bersatu dengan


perosteum. Ke proximal akan melanjutkan diri ke fascia lata, dan akan melekat
di sekitar articulation genus ke os patella, ligamentum patellae, tuberositas
tibiae dan capitulum fibulae. Ke posterior membentuk fascis poplitea yang
menutupi fossa poplitea. Disini tersusun oleh serabut-serabut transversal yang
ditembus oleh vena saphena parva. Fascia ini menerima serabut-serabut tendo
m.biceps femoris femoris disebelah lateral dan tendo m. Sartorius, m. gracilis,

2
m. semitendinosus, dan m. semimembranosus disebelah medial. Ke anterior,
fascia ini bersatu dengan perosteum tibia serta perostenium capitulum fibulae
dan malleolus fibulae. Ke distal, faascia ini melanjutkan diri ke raetinaculum
mm.extensorum superior dan retinaculum mm. flexorum. Fascia ini menjadi
tebal dan kuat dibagian proximal dan anterior cruris, untuk perlekatan m.tibialis
anterior dan m.extensor digitorum longus. Tetapi, fascia ini tipis dibagian
posterior yang menutupi m.gastrocnemeus dan m.soleus. disisi lateral cruris,
fascia ini membentuk septum intermusculare anterius dan septum
intermusculare posterius. Musculus di region cruris dibedakan menjadi tiga
kelompok, yaitu (a) kelompok anterior, (b) kelompok posterior dan (c)
kelompok lateralis.5
A. Musculus di region anterior
1. M. tibialis anterior
2. M. extensor hallucis longus
3. M. extensor digitorum longus dan m.peroneus tertius
B. Musculus regio cruris posterior kelompok superficialis
1. M. gastrocnemius
2. M. soleus
3. M. plantaris
Musculus regio cruris posterior kelompok profunda
1. M. popliteus
2. M. flexor hallucis longus
3. M. flexor digitorum longsu
4. M. tibialis posterior
C. Musculus region cruris lateralis
1. M. peroneus longus
2. M. peroneus brevis

Tibia berada pada batas anteromedial dan terletak pada subkutaneus.


Pada daerah diafisis bagian distal menjadi lebih tipis sehingga rentan terjadi
cedera twisting.5
Cruris terbagi menjadi 4 kompatemen yang masing – masing diselubungi
oleh fascia. Kompartemen anterior terdiri dari 4 otot yaitu tibialis anterior,

3
extensor hallucis longus, extensor digitorum longus dan peroneus tertius. Dan
pada kompartemen ini terdapat arteri tibialis anterior, nervus peroneal deep.5
Kompartemen lateral terdiri dari 2 otot yaitu peroneus longus dan
peroneus brevis disertai nervus peroneal superficial. Kompartemen posterior
terdiri dari 2 yaitu kompartemen posterior deep dan kompartemen posterior
superficial. Pada kompartemen posterior superficial terdapat otot gastrocnemius,
plantaris dan soleus. Gastrocnemius dan soleus sangat penting untuk menutup
defek pada fraktur diafisis tubia proksimal.5
Kompartemen posterior deep sangat penting karena berhubungan dengan
kompartemen anterior dan biasanya terjadi sindrom kompartemen. Terdiri dari
flexor digitorum longus, flexor haliccis longus, dan tibialis posterior, disertai
arteri tibialis posterior dan nervus tibialis posterior.Dikarenakan nervus tibialis
posterior mensuplai motorik otot – otot cruris dan pedis maka adanya kerusakan
saraf ini perlu dipikirkan antara limb salvage ataupun amputasi.5

2.2 Definisi
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang
dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa.6
Fraktur kruris merupakan fraktur yang terjadi pada tibia dan fibula.
Fraktur tertutup adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan
dunia luar. Maka fraktur kruris tertutup adalah terputusnya kontinuitas jaringan
tulang, tulang rawan sendi maupun tulang rawan epifisis yang terjadi pada tibia
dan fibula yang tidak berhubungan dengan dunia luar.6
Fraktur kruris merupakan fraktur yang sering terjadi dibandingkan
dengan fraktur pada tulang panjang lainnya. Periosteum yang melapisi tibia
agak tipis terutama pada daerah depan yang hanya dilapisi kulit sehingga tulang
ini mudah patah dan biasanya fragmen frakturnya bergeser karena berada
langsung dibawah kulit sehingga sering juga ditemukan fraktur terbuka.6

2.3 Etiologi
Penyebab terjadinya fraktur yang diketahui adalah sebagai berikut :
1. Langsung
Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan
terjadi fraktur pada daerah tekanan.
4
2. Tidak langsung
Fraktur yang bukan disebabkan oleh benturan langsung, tapi lebih
disebabkan oleh adanya beban yang berlebihan pada jaringan tulang atau otot.
Tekanan pada tulang dapat berupa:7
1. Tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat oblik atau spiral
2. Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal
3. Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur
impaksi, dislokasi, atau fraktur dislokasi
4. Kompresi vertikal yang dapat menyebabkan fraktur kominutif atau
memecah
5. Trauma oleh karena remuk
6. Trauma karena tarikan pada ligament atau tendon akan menarik sebagian.
3. Trauma patologis
Fraktur yang disebabkan oleh proses penyakit seperti osteomielitis,
osteosarkoma, osteomalacia, cushing syndrome, komplikasi kortison /ACTH,
osteogenesis imperfecta (gangguan congenital yang mempengaruhi
pembentukan osteoblast). Terjadi karena struktur tulang yang lemah dan
mudah patah.
Welch Fossum, Theressa. Femoral diaphyseal and supracondylar
fractures. [cited : 6 Desember 2012) . Available from:
http://veterinarymedicine.dvm360.com

2.4 Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya
pegas untuk menahan tekanan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih
besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang
mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi
fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan
jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena
kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang.
Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang
mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai
denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih.

5
Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang
nantinya.5
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur penyembuhan tulang:
1. Faktor intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan
untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas,
kelelahan (fatigue fracture), dan kepadatan atau kekerasan tulang.
2. Faktor ektrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung
terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.

2.5 Klasifikasi

Berikut klasifikasi fraktur diafisis humerus menurut Ortopaedics


Trauma Association (OTA);8,9
 Tipe A: fraktur sederhana (simple fracture)
 A1: spiral
 A2: oblik (>30°)
 A3: transversa (<30°)
 Tipe B: fraktur baji (wedge fracture)
 B1: spiral wedge
 B2: bending wedge
 B3: fragmented wedge
 Tipe C: fraktur kompleks (complex fracture)
 C1: Spiral
 C2: Segmental
 C3: Ireguler (significant comminution)

6
Gambar 3. Tipe A = fraktur sederhana. A1 = fraktur spiral (.1 pada sepertiga proksimal,
.2 pada sepertiga tengah, dan .3 pada sepertiga distal), A2 = fraktur oblik, A3
= fraktur transversa.12

Gambar 4. Tipe B = fraktur baji (wedge fracture). B1 = fraktur baji spiral (spiral wedge
fracture), B2 = bending wedge fracture, A3 = fragmented wedge fracture.9

7
Gambar 5. Tipe C = complex fracture. C1 = fraktur spiral kompleks, C2 = fraktur
segmental kompleks, C3 = fraktur ireguler.9

Fraktur atau patah tulang humerus terbagi atas :4,5,7


1. Fraktur Proximal Humerus
Pada fraktur jenis ini, insidensinya meningkat pada usia yg lebih tua yang
terkait dengan osteoporosis. Perbandingan wanita dan pria adalah 2:1.
Mekanisme trauma biasa dihubungkan dengan kerapuhan tulang
(osteoporosis). Pada pasien dewasa muda, fraktur ini dapat terjadi karena high-
energy trauma, contohnya kecelakaan lalu lintas sepeda motor. Mekanisme yang
jarang terjadi antara lain peningkatan abduksi bahu, trauma langsung, kejang,
proses patologis: malignansi.
Gejala klinis pada fraktur ini adalah nyeri, bengkak, nyeri tekan, nyeri pada
saat digerakkan, dan dapat teraba krepitasi. Ekimosis dapat terlihat dinding dada
dan pinggang setelah terjadi cedera. Hal ini harus dibedakan dengan cedera
toraks.
Menurut Neer, proksimal humerus dibentuk oleh 4 segmen tulang:
a. Caput/kepala humerus
b. Tuberkulum mayor
c. Tuberkulum minor
d. Diafisis atau shaft

8
Gambar 6. Klasifikasi fraktur menurut Neer 8

2. Fraktur Shaft Humerus


Fraktur ini adalah fraktur yang sering terjadi.60% kasus adalah fraktur
sepertiga tengah diafisis, 30% fraktur sepertiga proximal diafisis dan 10%
sepertiga distal diafisis. Mekanisme terjadinya trauma dapat secara langsung
maupun tidak langsung6,7
Gejala klinis pada jenis fraktur ini adalah nyeri, bengkak, deformitas, dan
dapat terjadi pemendekan tulang pada tangan yang fraktur.Pemeriksaan
neurovaskuler adalah penting dengan memperhatikan fungsi nervus radialis. Pada
kasus yang sangat bengkak, pemeriksaan neurovaskuler serial diindikasikan
untuk mengenali tanda-tanda dari sindroma kompartemen. Pada pemeriksaan
fisik terdapat krepitasi pada manipulasi lembut7
Deskripsi klasifikasi fraktur shaft humerus:
a. Fraktur terbuka atau tertutup
b. Lokasi : sepertiga proksimal, sepertiga tengah, sepertiga distal
9
c. Derajat : dengan pergeseran atau tanpa pergeseran
d. Karakter : transversal, oblique, spiral, segmental, komunitif
e. Kondisi intrinsik dari tulang f. Ekstensi artikular
3. Fraktur Distal Humerus
Fraktur ini jarang terjadi pada dewasa. Kejadiannya hanya sekitar 2% untuk
semua kejadian fraktur dan hanya sepertiga bagian dari seluruh kejadian fraktur
humerus.
Mekanisme cedera untuk fraktur ini dapat terjadi karena trauma langsung
atau trauma tidak langsung. Trauma langsung contohnya adalah apabila terjatuh
atau terpeleset dengan posisi siku tangan menopang tubuh atau bisa juga karena
siku tangan terbentur atau dipukul benda tumpul. Trauma tidak langsung apabila
jatuh dalam posisi tangan menopang tubuh namun posisi siku dalam posisi tetap
lurus. Hal ini biasa terjadi pada orang dewasa usia pertengahan atau wanita usia
tua.
Gejala klinis dari fraktur ini antara lain pada daerah siku dapat terlihat
bengkak, kemerahan, nyeri, kaku sendi dan biasanya pasien akan mengeluhkan
siku lengannya seperti akan lepas. Kemudian dari perabaan (palpasi) terdapat
nyeri tekan, krepitasi, dan neurovaskuler dalam batas normal6,7,8

2.6 Diagnosis
a. Manifestasi Klinis
1. Nyeri terus menerus dan bertambah berat. Nyeri berkurang jika fragmen
tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan
bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar
fragmen tulang.7,8
2. Deformitas dapat disebabkan oleh pergeseran fragmen pada eksremitas.
Deformitas dapat di ketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas
normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi
normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya
obat. 7,8
3. Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat diatas dan
dibawah tempat fraktur. 7,8

10
4. Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba
adanya derik tulang. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen
satu dengan lainnya. 7,8
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat
trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi
setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah cedera. 7,8
6. Pada pemeriksaan harus diperhatikan keutuhan faal nervus radialis dan
arteri brakialis. Saat pemeriksaan apakah ia dapat melakukan dorsofleksi
pergelangan tangan atau ekstensi jari-jari tangan. 7,8

b. Pemeriksaan
Pemeriksaan awal terhadap pasien yang mungkin menderita fraktur
tulang sama dengan pemeriksaan pada pasien yang mengalami luka pada
jaringan lunak yang berhubungan dengan trauma. Penilaian berdasarkan
pada tanda dan gejala. Setelah bagian yang retak telah di-imobilisasi dengan
baik, kemudian dinilai adanya lima P yaitu Pain (rasa sakit), Palor
(kepucatan/perubahan warna), Paralysis (kelumpuhan/ketidakmampuan
untuk bergerak), Paresthesia (rasa kesemutan), dan Pulselessness (tidak ada
denyut) untuk menentukan status neurovaskuler dan fungsi motorik pada
bagian distal fraktur.6
Rontgen sinar-x pada bagian yang sakit merupakan parangkat
diagnostik definitif yang digunakan untuk menentukan adanya fraktur.
Meskipun demikian, beberapa fraktur mungkin sulit dideteksi dengan
menggunakan sinar-x pada awalnya sehingga akan membutuhkan evaluasi
radiografi pada hari berikutnya.6

Laboratorium
Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui : Hemoglobin,
hematokrit sering rendah akibat perdarahan, laju endap darah (LED)
meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas.

Pemeriksaan Radiologis
Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya
fraktur. Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan untuk

11
menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Untuk menghindarkan
nyeri serta kerusakan jaringan lunak selanjutnya, maka sebaiknya kita
mempergunakan bidai untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan
pemeriksaan radiologis.
Pada fraktur dilakukan foto rontgen sinar X pada posisi AP, ataupun
lateral untuk melihat adanya fraktur naviculare dilakukan foto oblik khusus
45° dan135° atau foto ulang 1 minggu setelah kejadian karena mungkin
retak tidak terlihat pada cedera baru. Untuk fraktur-fraktur dengan tanda-
tanda klasik, diagnosis dapat dibuat secara klinis sedangkan pemeriksaan
radiologis tetap diperlukan untuk melengkapi deskripsi fraktur dan dasar
untuk tindakan selanjutnya. Untuk fraktur-fraktur yang tidak memberikan
tanda-tanda klasik memang diagnosanya harus dibantu pemeriksaan
radiologis baik rontgen biasa ataupun pemeriksaan canggih seperti MRI,
misalnya untuk fraktur tulang belakang dengan komplikasi neurologis. Foto
rontgen minimal harus 2 proyeksi yaitu AP dan lateral. Posisi yang salah
akan memberikan interpretasi yang salah. Untuk pergelangan tangan atau
sendi panggul diperlukan posisi axial pengganti lateral. Untuk acetabulum
diperlukan proyeksi khusus alar dan obturator. Pada investigasi fraktur
cruris dengan foto rontgen x-ray dilihat adakah soft tissue swelling,
kemudian dicari adakah fraktur pada os tibia dan fibula dimanakah
tempatnya, apakah di diafisis, metafisis, atau epifisis, apakah komplit atau
inkomplit, bagaimana konfigurasinya, apakah transversal, oblik, spiral, atau
kominutif, apakah hubungan antara fragmennya displaced atau undisplaced,
lalu adakah dislokasi pada pertautan tulang-tulang tersebut
Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip:10

1. Dua posisi proyeksi; dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada antero-


posterior dan lateral
2. Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, di proximal dan
distal sendi yang mengalami fraktur
3. Dua anggota gerak. Pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto pada kedua
anggota gerak terutama pada fraktur epifisis.

12
4. Dua trauma, pada trauma yang hebat sering menyebabkan fraktur pada
dua daerah tulang. Misalnya pada fraktur kalkaneus atau femur, maka
perlu dilakukan foto pada panggul dan tulang belakang
5. Dua kali dilakukan foto. Pada fraktur tertentu misalnya fraktur tulang
skafoid foto pertama biasanya tidak jelas sehingga biasanya diperlukan
foto berikutnya 10-14 hari kemudian.

Gambar 7. X-Ray Fraktur Humerus

2.7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Umum 6,7
1. Bila terjadi trauma, dilakukan primary survey terlebih dahulu.
2. Sebelum penderita diangkut, pasang bidai untuk mengurangi nyeri,
mencegah (bertambahnya) kerusakan jaringan lunak dan makin buruknya
kedudukan fraktur. Bila tidak terdapat bahan untuk bidai, maka bila lesi di
anggota gerak bagian atas untuk sementara anggota yang sakit dibebatkan
ke badan penderita. Pilihan adalah terapi konservatif atau operatif. Pilihan
harus mengingat tujuan pengobatan fraktur yaitu mengembalikan fungsi
tulang yang patah dalam jangka waktu sesingkat mungkin.

13
2.8 Komplikasi
Komplikasi fraktur menurut Smeltzer dan Bare (2001) dan Price (2005) antara
lain:
1. Komplikasi Awal
a. Syok
Syok hipovolemik atau traumatik, akibat perdarahan (banyak
kehilangan darah eksternal maupun yang tidak kelihatan yang bisa
menyebabkan penurunan oksigenasi) dan kehilangan cairan ekstra sel
ke jaringan yang rusak, dapat terjadi pada fraktur ekstrimitas, thoraks,
pelvis dan vertebra.
b. Sindroma Kompartemen
Merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam
otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Ini bisa
disebabkan karena penurunan ukuran kompartement otot karena fasia
yang membungkus otot terlalu ketat, penggunaan gibs atau balutan
yang menjerat ataupun peningkatan isi kompatement otot karena
edema atau perdarahan sehubungan dengan berbagai masalah
(misalnya : iskemi, dan cidera remuk).
c. Infeksi
Infeksi luka pasca trauma sering menyebabkan osteitis kronik.
Osteitis tidak mencegah fraktur mengalami union, namun union akan
berjalan lambat dan kejadian fraktur berulang meningkat.
Jika ada tanda-tanda infeksi akut dan pembentukan pus,
jaringan lunak disekitar fraktur harus dibuka dan didrainase. Pilihan
antibiotik harus disesuaikan dengan hasil sensitivitas bakteri.
2. Komplikasi Lanjut
a. Mal Union
Malunion dalam suatu keadaan dimana tulang yang patah
telah sembuh dalam posisi yang tidak seharusnya. Malunion
merupaka penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya
tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion
dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik.
b. Delayed Union
14
Delayed union adalah proses penyembuhan yang terus
berjalan dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
Delayed union merupakankegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai
dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini
disebabkan karena penurunan suplai darah ke tulang.
c. Non-Union
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan
memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9
bulan. Nonunion di tandai dengan adanya pergerakan yang berlebih
pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau
pseuardoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang
kurang.

15
BAB III
LAPORAN KASUS
3.1 Identitas Pasien

Nama : IKAYP
Umur : 13 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Pelajar

Alamat :Sidemen, Karangasem


Tanggal Masuk MRS : 09/10/2018

3.2 Anamnesis Pasien

Keluhan Utama :
Nyeri pada kaki kanan
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dalam keadaan sadar diantar keluarganya ke IGD RSU Klungkung
pada tanggal 09/10/2018 dengan keluhan nyeri pada kaki kanan. Nyeri dirasakan
setelah pasien mengalami kecelakaan lalu lintas sekitar 5 menit yang lalu sebelum
masuk rumah sakit. Pasien terjatuh ke arah kanan dengan posisi kaki kanan jatuh
terlebih dahulu. Nyeri dirasakan terutama saat digerakkan. Kaki kanan dirasa
bertambah bengkak dan sulit digerakkan. Pasien tidak mengeluh mual (-), muntah
(-) dan nyeri kepala (-) dan pingsan (-). Saat mengendarai sepeda motor pasien
tidak menggunakan helm.
Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi, penyakit
jantung, diabetes melitus, asma, stroke, dan tidak ada riwayat alergi, trauma
sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Dalam keluarga pasien tidak ada yang memiliki riwayat penyakit tekanan darah
tinggi, penyakit jantung, asma, diabetes mellitus, dan penyakit lainnya.
Riwayat penyakit sosial :

Pasien merupakan seorang ibu rumah tangga. Riwayat mengkonsumsi alkohol dan
merokok disangkal oleh pasien.

16
3.3 Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
- Keadaan umum : Sedang
- Kesadaran : Compos Mentis
- Tanda vital : Tekanan darah = 110/70 mmHg
Nadi = 88x/ menit, irama reguler, isi dan
tegangan cukup
RR = 18x/ menit, ireguler
Suhu = 36,50C, axiller
TB = 145 cm
BB = 45 kg
BMI = 21,40 kg/m2,
- Kepala : Deformitas (-), Normochepali
- Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-,
Reflek Pupil +/+ 3mm, Isokor
- Hidung
Bagian luar : Normal, tidak terdapat deformitas, jejas (-)
Septum : Terletak ditengah dan simetris
Mukosa hidung : Merah muda
Cavum nasi : Tidak ada tanda perdarahan
- Telinga
Daun telinga : Normal, jejas (-)
Liang telinga : Lapang, perdarahan (-)
Membrana timpani : Intake
Nyeri tekan mastoid : Tidak nyeri tekan
Serumen : Tidak ada
Sekret : Tidak ada
- Mulut dan tenggorokan
Bibir : Tidak pucat dan tidak sianosis
Gigi geligi : Lengkap
Lidah : normoglosia
Tonsil : T1/T1 tenang

17
Faring : Tidak hiperemis
- Leher
Kelenjar getah bening :Tidak teraba membesar
Kelenjar tiroid : Tidak teraba membesar
- Trakea : Letak di tengah
- Thoraks :

Jantung
Inspeksi ictus cordis tidak tampak

Palpasi Ictus cordis teraba pada ICS IV 1-2 cm ke arah medial


linea midclavikula sinistra, thrill (-), pulsus epigastrium (-
), pulsus parasternal (-), sternal lift (-)

Perkusi Batas atas jantung : ICS II linea parasternal sinistra


Pinggang jantung : ICS III linea parasternal sinsitra
Batas kanan bawah : ICS V linea sternalis dextra

Batas kiri bawah : ICS V linea midclavikula sinistra


1-2 cm ke arah medial
Kesan
Konfigurasi jantung (dalam batas normal)

Auskultasi Suara jantung murni: SI,SII (normal) reguler, suara


jantung tambahan (-)

Pulmo
Paru depan Paru belakang
Inspeksi
Statis Normochest, simetris, kelainan Normochest, simetris, kelainan
kulit (-/-), jejas (-/-), sudut kulit (-/-)
arcus costa dalam batas
normal, ICS dalam batas
normal Pengembangan pernapasan
Dinamis
Pengembangan pernafasan paru normal
paru Normal

18
Palpasi Simetris (N/N), Nyeri tekan (-/- Simetris (N/N), Nyeri
), ICS dalam batas normal, tekan (-/-), ICS dalam
taktil fremitus dalam batas batas normal, taktil
normal fremitus dalam batas
normal
Perkusi
Sonor seluruh lapang paru Sonor seluruh lapang paru
Kanan
Batas paru-hati Peranjakan paru
Sonor seluruh lapang paru. Sonor seluruh lapang paru
Peranjakan paru
Kiri

Auskultasi
Vesicular Vesicular
Suara dasar
Ronki (-/-), Wheezing (-/-) Ronki (-/-), Wheezing (-/-)
Suara
Tambahan

- Abdomen
Inspeksi : Distensi (-), Hiperemis (-), Jejas (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : Nyeri tekan (-)
Perkusi : Timpani seluruh lapang abdomen

- Ekstremitas atas
Regio kanan : Akral hangat, tidak terdapat oedem
Regio kiri : Akral hangat, tidak terdapat oedem

- Ekstremitas bawah
Regio kanan : Akral hangat, tidak terdapat oedem
Regio kir : Akral hangat, tidak terdapat oedem

3.4 Pemeriksaan Laboratorium


(Tanggal 09/10/2018)
a. Hb : 14,7 g/dl
19
b. Leukosit : 11.600 /mm3
c. Eritrosit : 5,63 /mm3
d. LED : 32 mm/jam
e. Hematokrit : 44,4 %
f. Trombosit : 278.000 /mm3
g. Waktu Perdarahan : 2’00” menit
h. Waktu Pembekuan : 5’00” menit

3.5 Pemeriksaan Penunjang


Foto Regio Cruris Dextra AP/Lateral (Tanggal 09/10/2018)

Gambar 8. Foto Cruris Dextra Proyeksi AP/Lateral


Kesan
 Tampak discontinuitas Os. Tibia dan fibula dextra 1/3 Medial
 Struktur tulang baik
 Soft Tissue tampak normal
Kesimpulan : Fraktur

20
3.6 Diagnosa
Fraktur tibia fibula dextra 1/3 tengah

3.7 Planning terapi


a. Terapi Non farmakologi :
Rencana reposisi dan pasang gips
b. Terapi Farmakologi :
- Infus RL 12 tpm
- Ketorolac 3 x 1 ampul
c. Monitoring :
- Keadaan umum
- Vital sign
- Keluhan pasien
d. Edukasi
- Memberikan penjelasan mengenai penyakit yang diderita oleh pasien
- Istirahat cukup
- Membatasi gerak bagian yang sakit
- Minum obat teratur
3.8 Prognosis
Quo ad vitam : Ad bonam
Quo ad fungsional : Ad bonam

3.9 Follow Up Ruangan


10 Oktober 2018
S : Nyeri kaki kanan (+)
O : Status present
KU : Baik Kesadaran : Compos mentis TD : 120/80 mmHg
RR : 18x/ menit Nadi : 86 x/ menit Tax : 36,2 C
Vas : 3
Status generalis
Mata : Anemis (-/-), Ikterus (-/-)
THT : Tenang
Thorax : Cor : S1S2 tunggal reguler, murmur (-)
Pulmo : Vesikular (+/+), Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)
21
Abdomen : distensi (-), BU (+) menurun
Ekstremitas : Akral hangat : ekstremitas atas +/+
ekstremitas bawah +/+
Edema : ekstremitas atas -/-
ekstremitas bawah -/-
Status lokalis:
Regio Tungkai Bawah Detra
L : Tampak terpasang GIPS. Edema ujung jari (-), hiperemis (-), hematom
(-)
F : Nyeri tekan (+), hangat (+), paresthesia (-)
M : ROM terbatas
A : Close Fracture Cruris Post Reposisi + GIPS Hari I
P : BPL
Paracetamol 3 x 500 mg tablet
Mobilisasi dengan berjalan menggunakan 2 tongkat

3.10 Resume
Ny. S, 60 tahun, datang dalam keadaan sadar diantar keluarganya ke IGD
RSU Tanjung KLU pada tanggal 09/08/2017 dengan keluhan nyeri lengan atas
sebelah kanan. Nyeri dirasakan setelah pasien jatuh dari kamar mandi dengan
bagian bertumpuan pada siku sebelah kanan. Lengan dirasakan semakin nyeri.
Nyeri dirasakan terutama saat digerakkan. Lengan atas bagian kanan dirasa
bertambah bengkak dan sulit digerakkan. Pasien tidak mengeluh mual (-), muntah (-
) dan pusing (-) dan pasien menyangkal perna dibawa ke tukang pijat untuk
mengobati keluhannya.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 88x/
menit, frekuensi napas 22 x/menit dan suhu 370C. Pada pemeriksaan ekstremitas
superior dextra didapatkan adanya edema dan nyeri gerak, pemeriksaan motorik
untuk gerakan, kekuatan dan tonus otot sulit dinilai.
Pada pemeriksaan X Foto AP dan Lateral Os. Humerus dextra didapatkan
gambaran discontinuitas Os. Humerus 1/3 medial, aposisi dan aligment tak baik,
struktur tulang baik. Pada pemeriksaan darah rutin dalam batas normal.
Dalam kasus ini pasien dilakukan pemeriksaan foto AP dan Lateral Os.
Humerus Sinistra. Pada proyeksi AP (Antero Posterior) bertujuan untuk
22
memperlihatkan anatomi normal dari os. Humerus dan untuk menampakkan fraktur
yang ada dari arah depan atau pada posisi AP. Sedangkan proyeksi Lateral
bertujuan untuk memperlihatkan os. Humerus dari arah samping serta
memperlihatkan fraktur yang ada pada posisi lateral sehingga dapat melengkapi
diagnosa fraktur yang ada dari posisi AP. Informasi diagnostik yang diperoleh pada
penggunaan proyeksi AP dan Lateral sudah optimal dalam mendukung pada
penegakkan diagnosa fraktur humerus pada pasien tersebut.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Fraktur Os. Humerus adalah kasus yang sering terjadi karena trauma,
baik trauma langsung maupun tidak langsung. Pada laporan kasus ini terjadi

23
fraktur complete Os. Humers dextra 1/3 medial yang dilakukan tindakan reduksi
dengan Open Reduction with Internal Fixation. Pasien mendapatkan hasil
outcome yang baik tanpa adanya komplikasi.

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Rasjad C.2007. Pengantar Bedah Ortopedi. PT. Yarsef Watampone : Jakarta. Hal
380-395.
2. Smeltzer Suzanne, C.1997. Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner &

Suddart. Edisi 8. Vol 3. Jakarta. EGC


3. Price Sylvia, A .1994. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses

Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4. Jakarta. Adam, James G. Emergency


Medicine Clinical Essentials Second Edition. Philadelphia :
Elsevier, 2013.
4. Depkes RI. 2011. Profil Kesehatan Indonesia 2011. Jakarta: Depkes RI.
5. Snell, Richard S. 2012. Anatomi Klinik Edisi 9. Jakarta : EGC.
6. Alan Graham Appley. Appley’s System of Orthopedics and

Fracture 9th edition. Butterworths Medical Publications.


2010.p687-90, 870-2.

7. King Maurice; 1987; Fracture of the Shaft of the Humerus In: Primary Surgery
Volume Two: Trauma; Oxford University Press; UK; p. 233-235
8. Snell,Richard S. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran; alih bahasa Liliana
Sugiharto. EdisiKe- 6. EGC : Jakarta, 2006.
9. R. Putz and R.Pabst. Sobotta : Atlas Anatomi Manusia; alih bahasa Y. Joko Suyono.
Edisi ke- 22. Jakarta: EGC, 2006.
10. Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi ke-3. Jakarta: Media
Aesculapius. 2000.
11. Sjamsuhidajat R, Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Jakarta: EGC. 2004.
12. Apley AG, Solomon L. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Edisi ke-7.
Jakarta: Widya Medika. 1995.
13. Kenneth J, dkk. 2002. Fractures Of The Shaft Of The Humerus In Chapter 43:
Orthopedic; In: Handbook of Fracture second edition. Wolters Klunser Company :
New York
14. Holmes E.J and Misra R.R; 2004; Humerus fracture – Shaft fracture In: A-Z of
Emergency Radiology (e-book); UK; Cambridge University Press; p 110-111.

25
26