Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KASUS FORENSIK KLINIS

LUKA PADA BIBIR

Oleh :
dr. Rahmawati
09711005 / IKF

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK


DAN MEDIKOLEGAL FK-USU
MEDAN
2015
1
DATA DIRI

Nama : dr. Rahmawati


NIM : 097113005.
Tempat/Tanggal lahir : Langsa / 13 Desember 1970
Agama : Islam.
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Sahabat Komplek Griya Sahabat Arby Blok A No. 1
Medan
No. Telp/ Hp : 0812 6582 1896
Tempat pendidikan : Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Departemen : Ilmu Kedokteran Forensik FK-USU.
Tgl/Bln/Thn : 01/ Januari / 2010
Pekerjaan : PNS.
Instansi : Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Lebong
NIP : 19701213 2005 033002
Nama orang tua ayah : Alm. Ir. Syahruddin Umar DA
Nama orang tua ibu : Hj. Kamisah Nur
Alamat orang tua : Jl. Padi I No. 16 Kec. Percut Sei Tuan Medan
Pendidikan : SD lulus Tahun 1983, Takengon
SMP lulus Tahun 1986 Banda Aceh
SMA lulus Tahun 1989, Banda Aceh .
FK-UISU.

2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya (penulis) panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha
Esa serta karunia-Nya, kita semua masih diberikan kesehatan sehingga dapat menjalani
kehidupan hingga saat ini.
Pada kesempatan ini saya akan presentasikan sebuah laporan kasus Forensik
Patologi, yaitu hasil dari pemeriksaan terhadap korban mati (jenazah) yang dilakukan di
Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II berjudul “LUKA PADA BIBIR”
Adapun maksud dan tujuan dari penulisan serta presentasi laporan kasus ini adalah,
sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas akhir pada program Pendidikan
Dokter Spesialis (PPDS) , serta dalam upaya pengambilan gelar Doketr Spesialis
Ferensik dan Medikolegal.
Ucapan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada seluruh
Guru – guru saya , Staff, serta Teman – teman PPDS semuanya di Departemen Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera
Utara, atas segala bimbingan dan pengajarannya kepada saya selama menjalani
pendidikan sebagai Residen (PPDS) . Ucapan Terima Kasih juga saya sampaikan
kepada para penguji Ujian Nasional Board 2015 atas kesempatan yang diberikan kepada
saya saat ini.
Harapan saya semoga presentasi dari laporan kasus ini dapat diterima dan
bermanfaat bagi kita semua.Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Hormat Saya

dr.Rahmawati

3i
DAFTAR ISI

Data Diri
Kata Pengantar ................................................................................................ i
Daftar Isi .......................................................................................................... ii
Pendahuluan .................................................................................................... 1
Laporan Kasus ................................................................................................. 3
Pembahasan ..................................................................................................... 4
Daftar Pustaka ................................................................................................. 9

ii
0
LUKA PADA BIBIR
Rahmawati ,
Departemen Forensik dan Medikolegal
FK USU / RSUP H. Adam Malik Medan

PENDAHULUAN
Luka ialah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh atau rusaknya
kesatuan/komponen jaringan, di mana secara spesifik terdapat substansi jaringan
yang rusak atau hilang. Luka dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau
tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik, atau gigitan hewan.
Ketika luka timbul, ada beberapa keadaan yang akan muncul di antaranya
hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ, respon stress simpatis, perdarahan
dan pembekuan darah, kontaminasi bakteri dan kematian sel (Kaplan & Hentz,
1992; Sjamsuhidajat & Wim de Jong, 2004). Luka yang paling sering terjadi
dalam kehidupan sehari-hari adalah luka yang mengenai jaringan kulit misalnya
luka lecet (ekskoriasi) dan luka iris (skisum). Studi di Inggris menunjukkan
prevalensi pasien dengan luka adalah 3,55 per 1000 penduduk. Mayoritas luka
yang terjadi adalah luka pembedahan atau trauma (48%), luka tungkai atau kaki
(28%) dan ulkus dekubitus (21%). Prevalensi luka di antara pasien rawat inap di
rumah sakit adalah 30,7% (Vowden et al, 2009). MedMarket Diligence, sebuah
asosiasi luka di Amerika, melakukan penelitian tentang insiden luka di dunia
berdasarkan etiologi penyakit. 1
Diperoleh data untuk luka bedah ada 110,3 juta kasus, luka trauma 1,6 juta
kasus, luka lecet ada 20,4 juta kasus, luka bakar 10 juta kasus, ulkus dekubitus 8,5
juta kasus, ulkus vena 12,5 juta kasus, ulkus diabetik 13,5 juta kasus, amputasi 0,2
juta pertahun, karsinoma 0,6 juta kasus pertahun, melanoma 0,1 juta kasus,
komplikasi kanker kulit ada sebanyak 0,1 juta kasus (Diligence, 2009). 1
Berdasarkan waktu penyembuhan, luka di bagi atas luka akut dan luka
kronik. Luka akut memiliki serangan yang cepat dan penyembuhannya dapat
diprediksi. Contoh luka akut adalah luka jahit karena pembedahan, luka 2 trauma
dan luka lecet. Di Indonesia angka infeksi untuk luka bedah mencapai 2,3%
1
sampai dengan 18,30%. Luka kronik, waktu penyembuhannya tidak dapat
diprediksi dan dikatakan sembuh jika fungsi dan struktural kulit telah utuh. Jenis
luka kronik yang paling banyak adalah luka dekubitus, luka diabetikum dan luka
kanker (Lazarus et al., 1994; Depkes RI, 2001). 1
Sebuah penelitian di India baru-baru ini, memperkirakan tingkat prevalensi
luka kronis sebesar 4,5% per 1000 penduduk. Insidensi luka akut lebih dari dua
kali lipat sebesar 10,5% per 1000 penduduk (Shukla et al, 2005). Etiologi luka
tersebut adalah diabetes, aterosklerosis, TBC, kusta, ulkus vena, ulkus tekanan,
vaskulitis dan trauma (Shukla et al, 2005; John MacDonald, 2009). Berdasarkan
survei yang dilakukan pada tahun 2004, prevalensi luka akibat RTA (Road
Transportation Accident) di Indonesia pada populasi yang berumur ≥15 tahun
adalah 1,02%, sedangkan luka akibat non-RTA (keracunan, tenggelam, jatuh, dan
lain-lain) pada populasi usia ≥15 tahun adalah 0,4%. Di Amerika Serikat pada
tahun 2005, 173.723 orang meninggal akibat luka dan kecelakaan akibat
kendaraan bermotor dapat menyebabkan luka yang fatal sebanyak 37,1% dan
menunjukkan 43.667 kematian (U.S. Departement of Health and Human Services,
2009; WHO, 2012).1
Trauma tumpul dapat terjadi karena 2 sebab yaitu alat atau senjata yang
mengenai atau melukai orang yang relatif tidak bergerak dan yang lain orang
bergerak ke arah objek atau alat yang tidak bergerak. Dalam bidang medikolegal
kadang-kadang hal ini perlu dijelaskan, walaupun terkadang sulit dipastikan.
Sekilas nampak sama dalam hasil lukanya namun jika diperhatikan lebih
lanjut terdapat perbedaan hasil pada kedua mekanisme itu. Organ atau jaringan
pada tubuh mempunyai beberapa cara menahan kerusakan yang disebabkan objek
atau alat, daya tahan tersebut menimbulkan berbagai tipe luka.2
Jenis luka yang diakibatkan trauma tumpul antara lain :
 Luka memar
 Luka lecet
 Luka robek
 Patah tulang

2
LAPORAN KASUS

Dilaporkan sebuah kasus seorang laki-laki umur 22 tahun datang ke Rumah


Sakit Umum Dr. Pringadi Medan pada tanggal 30 Oktober 2015 pukul 08.00 Wib
(IGD) diantar oleh polisi bersama surat permintaan visum. berdasarkan
keterangan dari korban, terjadi pertengkaran di Stasiun mobil PO. DATRA
Transport di Jalan Jamin Ginting Medan, awalnya korban berjanji akan membayar
hutang tapi setelah hari yang susah ditentukan, korban tidak juga membayar
hutangnya, lalu korban dipukul dengan tangan tepat di bibir korban.
Atas permintaan tertulis dari Kepala Kepolisian Resort Kota Medan, jalan
H.M Said No. 1 Medan dengan surat No: VER/R/656/X/2015/Resta/Medan
tanggal 30 Oktober 2015 pukul 08.00 wib. memeriksa seorang korban yang
menurut permintaan visum tersebut M.Rafi Rahmadani.
Pemeriksaan Umum Baik Tekanan darah Seratus dua puluh per delapan
puluh mmHg. Denyut nadi Delapan Puluh Delapan kali per menit, Pernafasan Dua
Puluh Dua kali per menit, Kesadaran Compos Mentis.
Pemeriksaan Tubuh telah Dijumpai luka lecet berwarna merah kehitaman
pada bibir atas, ukuran panjang satu centimeter , lebar satu centimeter , jarak
setentang garis tengah tubuh, Dijumpai luka lecet berwarna merah kehitaman pada
bibir bawah, ukuran panjang tiga centimeter , lebar dua centimeter , jarak
setentang garis tengah tubuh.

Tindakan : Tidak diberikan obat


Periksaan tambahan : Disarankan untuk foto rongent

KESIMPULAN:
Dari hasil pemeriksaan korban tersebut diatas ditemukan luka lecet apa bibir atas
dan bawah, akibat trauma tumpul, Luka tersebut diklasifikasikan luka ringan
serta tidak mengganggu pekerjaan sehari-hari.
3
PEMBAHASAN
Pada kasus ini dilaporkan seorang laki-laki yang bekerja sebagai Tukang
Angkat Barang naik Ke Atas Bus (Kurir Barang) telah mengalami penganiayaan
oleh teman yang menagih utang, korban berjanji akan membayar hutang tapi
setelah hari yang susah ditentukan, korban tidak juga membayar hutangnya, lalu
korban dipukul dengan tangan tepat di bibir korban.
Luka lecet adalah suatu kerusakan yang mengenai lapisan atas dari epidermis
akibat kekerasan dengen benda yang mempunyai permukaan kasar, sehingga
epidermis menjadi tipis, sebagian atau seluruh lapisannya hilang.. Ciri – ciri luka
lecet adalah :3
 Bentuk luka tak teratur
 Batas luka tidak teratur
 Tepi luka tidak rata
 Kadang – kadang di temukan sedikit perdarahan
 Permukaannya tertutup oleh krusta (serum yang telah mengering) dan
timbul reaksi radang berupa penimbunan sel-sel PMN, dan biasanya tidak
meninggalkan jaringan parut.
 Warna coklat kemerahan
 Pada pemeriksan mikroskopik terlihat adanya beberapa bagian yang masih
di tutupi epitel dan reaksi jaringan (inflamasi)
Arah luka dapat ditentukan dari penumpukan epidermis yang terseret pada
satu posisi. Bentuk luka lecet kadang–kadang dapat memberi petunjuk tentang
benda penyebabnya; seperti misalnnya kuku, ban mobil, tali atau ikat pinggang.
Nilai medikolegal dari luka lecet ini antara lain menunjukkan adanya kekerasan,
bentuk alat yang digunakan, bekas cakaran, bekas gigitan. Untuk kepentingan
VeR walaupun kecil luka lecet harus diamati dan direkam karena mempunyai nilai
medikolegal.3
Berdasarkan mekanismenya, luka lecet dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
 Luka lecet gores (scratch), diakibatkan oleh benda runcing yang
menggeser lapisan permukaan kulit di depannya dan menyebabkan lapisan
tersebut terangkat sehingga dapat menunjukkan arah kekerasan yang
terjadi.

4
Gambar Luka Lecet Gores
 Luka lecet serut (graze) adalah variasi dari luka lecet gores yang daerah
persentuhannya dengan permukaan kulit lebih lebar. Arah kekerasan
ditentukan dengan melihat letak tumpukan epitel.

Gambar Luka Lecet Serut


 Luka lecet tekan (impression, impact abrasion) disebabkan oleh
penjejakan benda tumpul pada kulit. Karena kulit adalah jaringan yang
lentur, maka bentuk luka lecet tekan belum tentu sama dengan bentuk
permukaan benda tumpul tersebut tetapi masih memungkinkan
identifikasi benda penyebab yang mempunyai bentuk yang khas misalnya
kisi-kisi radiator mobil, jejas gigitan, dsb.

5
Gamabr Luka Lecet Tekan
 Luka lecet geser (friction abrasion) disebabkan oleh tekanan linier pada
kulit disertai gerakan bergeser, misalnya pada kasus gantung atau jerat
serta pada korban pecut. Luka lecet geser yang terjadi semasa hidup
mungkin sulit dibedakan dari luka lecet geser yang terjadi segera pasca
mati.
Luka lecet juga dapat terjadi sesudah orang meninggal dunia. Adapun
perbedaan luka lecet ante mortem dan post mortem adalah :3

Tabel 2.2 Perbedaan Luka Lecet Ante Mortem dan Post Mortem3
Perkiraan umur luka lecet dapat diperkirakan secara makroskopis maupun
mikroskopis yaitu pada hari ke 1 sampai dengan ke tiga berwarna coklat
kemerahan karena eksudasi darah dan cairan limfe. Dua atau tiga hari kemudian
pelan-pelan bertambah suram dan lebih gelap. Setelah 1 sampai 2 minggu mulai
terjadi pembentukan epidermis baru. Dalam beberapa minggu akan timbul
penyembuhan luka lengkap.3

6
Perkiraan waktu terjadinya Luka Lecet
Baru (1-2 jam) luka masih segar, warna merah , dan ditemukan
sedikit darah dan serum
12 -24 jam serum yang melapisi luka mengering membentuk
keropeng berwarna kuning (berwarna merah jika
bercampur darah) .
Hari k-2 dan ke-3 keropeng warna merah kecoklatan
Hari ke-4 dan ke-5 keropeng warna coklat kehitaman
Hari ke-5 sampai ke-7 keropeng mulai mengelupas dan meninggalkan
bekas warna putih pada kulit
Hari ke-14 dan ke-15 luka sembuh jika tidak ada komplikasi seperti infeksi
bakteri
Dalam menentukan derajat luka, selain melihat kondisi ataupun keadaan
luka yang diderita dalam hubungannya dengan kesehatan korban, juga harus
diperhatikan jenis pekerjaan korban itu sendiri yang akan berdampak pada
kemampuan dalam menjalankan pekerjaan sebagai mata pencahariannya .
Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, bahwa luka tusuk yang diderita korban
jelas menggambarkan adanya kekerasan (trauma) dengan benda tajam. Luka tusuk
pada korban tidak mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan
pekerjaan atau jabatan atau mata pencahariannya.3
Perundang-undangan yang berhubungan dengan penganiayaan :
Pasal 352 KUHP
1. Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang
tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan
jabatan atau pencaharian, diancam sebagai penganiayaan ringan, dengan
pidana penjara paling lama tiga bulan atau denda paling banyak empat ribu
lima ratus rupiah.Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang
melakukan kegiatan itu terhadap orang yang bekerja padanya atau menjadi
bawahannya.
2. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana4.

7
Kesimpulan Pembahasan.
Dalam pembahasan kasus ini menyimpulkan bahwa dari hasil pemeriksaan
terhadap korban,laki-laki, berkhitan, umur 22 tahun, pekerjaan Tukang Angkat
Barang naik Ke Atas Bus (Kurir Barang), Luka lecet tekan (impression, impact
abrasion) disebabkan oleh penjejakan benda tumpul pada kulit. Karena kulit
adalah jaringan yang lentur, maka bentuk luka lecet tekan belum tentu sama
dengan bentuk permukaan benda tumpul tersebut tetapi masih memungkinkan
identifikasi benda penyebab yang mempunyai bentuk yang khas misalnya kisi-kisi
radiator mobil, jejas gigitan, dsb

8
DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.repository.maranatha.edu/17071/3/1210131_Chapter%201.Pdf
http://www.freewebs.com/traumatologie2/traumatologi.htm. 2006.
2. Wahid. SA. Patologi Forensik. Fakulti Perubatan Universiti
Kebangsaan Malaysia. Kuala Lumpurb, 1993. Hal: 131-149.
3. Di Maio VJM Dana SE.Handbook of Forensic Pathology
4. Kitab KUHP dan KUHAP.

9
10