Anda di halaman 1dari 4

NAMA: LISA NANDA FRANSISKA

NIM : 150206069

KELAS : 4.3 PSIK

A. PENGELOLAAN JALAN NAFAS (AIRWAY MANAGEMENT)

1.TUJUAN

Membebaskan jalan napas untuk menjamin pertukaran udara secara normal

2. PENGKAJIAN

Pengkajian airway dilakukan bersama-sama dengan breathing menggunakan teknik L (look),


L (listen) dan F (feel) yang dilakukan dalam satu gerakan dalam tempo waktu yang singkat
(lihat materi pengkajian ABC).

3. TINDAKAN

a. Tanpa Alat

1) Membuka jalan nafas dengan metode :

- Head Tilt (dorong kepala ke belakang)

- Chin Lift Manuver (perasat angkat dahu)

- Jaw Thrust Manuver (perasat tolak rahang)

Pada pasien yang diduga mengalami cedera leher dan kepala hanya dilakukan Jaw Thrust
dengan hati-hati dan mencegah gerakan leher.

2) Membersihkan jalan nafas

- Finger Sweep (sapuan jari)


Dilakukan bila jalan napas tersumbat karena adanya benda asing dalam rongga mulut
belakang atau hipofaring (gumpalan darah, muntahan, benda asing lainnya) dan hembusan
napas hilang.

- Abdominal Thrust (Gentakan Abdomen

- Chest Thrust (Pijatan Dada)

- Back Blow (Tepukan Pada Punggung).

b. Dengan Alat

1) Pemasangan Pipa (Tube)

- Dipasang jalan napas buatan (pipa orofaring, pipa nasofaring). Pipa orofaring digunakan
untuk mempertahankan jalan nafas dan menahan pangkal lidah agar tidak jatuh ke belakang
yang dapat menutup jalan napas terutama pada pasien-pasien tidak sadar.

- Jika saturasi oksigen terus mengalami penurunan dan terdapat sianosis maka dilakukan
pemasangan ETT.

2) Penghisapan Benda Cair (Suctioning)

- Bila terdapat sumbatan jalan napas karena benda cair maka dilakukan penghisapan
(suctioning). Penghisapan dilakukan dengan menggunakan alat bantu pengisap (penghisap
manual portabel, pengisap dengan sumber listrik).

- Membersihkan benda asing padat dalam jalan napas: Bila pasien tidak sadar dan terdapat
sumbatan benda padat di daerah hipofaring yang tidak mungkin diambil dengan sapuan jari,
maka digunakan alat bantuan berupa laringoskop, alat penghisap (suction) dan alat penjepit
(forceps).

3) Membuka Jalan Nafas Dengan Krikotirotomi

Bila pemasangan pipa endotrakhea tidak mungkin dilakukan, maka dipilih tindakan
krikotirotomi dengan jarum. Untuk petugas medis yang terlatih dan trampil, dapat dilakukan
krikotirotomi dengan pisau .

NOTE: seseorang bisa dicurigai mengalami trauma apabila ada tanda-tanda seperti:

 Multiple trauma (KKL)


 Jejas klavikula
 Biomekanik mendukung
 Trauma kapitis

B. PENGELOLAAN FUNGSI PERNAFASAN (BREATHING MANAGEMENT)

1. TUJUAN

Memperbaiki fungsi ventilasi dengan cara membersihkan pernafasan buatan untuk menjamin
kebutuhan oksigen dan pengeluaran karbondioksida.

2. PENGKAJIAN

Gangguan fungsi pernafasan dikaji dengan melihat tanda-tanda gangguan pernafasan dengan
biasanya terdapat sesak napas.

3. TINDAKAN

a. Tanpa Alat

Memberikan pernafasan buatan dari mulut ke mulut atau dari mulut ke hidung sebanyak 2
(dua) kali tiupan dan diselingi ekshalasi.

b. Dengan Alat

- Memberikan pernafasan buatan dengan alat “Ambu Bag” (self inflating bag). Pada alat
tersebut dapat pula ditambahkan oksigen. Pernapasan buatan dapat pula diberikan dengan
menggunakan ventilator mekanik.

- Memberikan bantuan nafas dan terapi oksigen dengan menggunakan masker, pipa bersayap,
balon otomatis (self inflating bag dan valve device) atau ventilator mekanik.

C. PENGELOLAAN SIRKULASI (CIRCULATION MANAGEMENT)

1. TUJUAN

Mengembalikan fungsi sirkulasi darah.

2. PENGKAJIAN

Gangguan sirkulasi dikaji dengan meraba arteri besar seperti arteri femoralis dan arteri
karotis. Perabaan arteri karotis sering dipakai untuk mengkaji secara cepat. Juga melihat
tanda-tanda lain seperti kulit pucat, dingin dan CRT (capillary refill time) > 2 detik.
Gangguan sirkulasi dapat disebabkan oleh syok atau henti jantung. Henti jantung
mengakibatkan suplai oksigen ke jaringan terhenti dan menyebabkan kematian dengan
segera.

Henti jantung ditandai dengan :

- Hilang kesadaran

- Apneu atau gasping

- Sianosis dan pucat

- Tidak ada pulse (pada karotis atau femoralis)

- Dilatasi pupil

3. TINDAKAN

Tindakan untuk mengembalikan sirkulasi darah dilakukan dengan eksternal chest


compression (pijat jantung) untuk mengadakan sirkulasi sistemik dan paru. Sirkulasi buatan
(artificial circulation) dapat dihasilkan dengan intermitten chest compression.