Anda di halaman 1dari 19

ANATOMI AKAR MONOKOTIL DAN DIKOTIL

LAPORAN

OLEH:

NOVIDA YANTI TAMBUNAN


160308015
KETEKNIKAN PERTANIAN
TEP-A

LABORATORIUM BOTANI
PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2017
ANATOMI AKAR MONOKOTIL DAN DIKOTIL

LAPORAN

OLEH :
NOVIDA YANTI TAMBUNAN
160308015
KETEKNIKAN PERTANIAN
TEP-A

Jurnal sebagai salah satu komponen penilaian di Laboratorium


Botani Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara Medan.

LABORATORIUM BOTANI
PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2017
Judul : Anatomi Akar Monokotil dan Dikotil

Nama : NOVIDA YANTI TAMBUNAN

Nim : 160308015

Program Studi : Keteknikan Pertanian

Diketahui Oleh : Diperiksa Oleh:

Asisten Koordinator Asisten korektor

( ) ( Amaluddin Syahputra )
Nim: 1303010 Nim:130301037

Mengetahui,
Dosen Penanggung Jawab Laboratorium

(Ir. Meiriani, MP.)


NIP.196505181992032001
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena

atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada

waktunya.

Adapun judul laporan ini adalah “Anatomi Akar Monokotil dan

Dikotil” yang merupakan salah satu syarat untuk mengikuti Praktikal Test Botani

di Laboratorium Botani Program Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Sumatera

Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-

besarnya kepada Ir. Meiriani, MP; Ir. Ratna Rosanti Lahay, MP; Ir. Lisa Mawarni

dan Prof. Ir. J.A. Napitupulu, Msc selaku dosen pengajar mata kuliah Anatomi

Tumbuhan . Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kakak dan abang

asisten yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan ini.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan.

Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi

kesempurnaan laporan ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih. Semoga laporan ini

bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Medan, 17 Mei 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................ i

DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

PENDAHULUAN

Latar Belakang .......................................................................................... 1


Tujuan Praktikum ...................................................................................... 2
Kegunaan Penulisan .................................................................................. 2

TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Akar Monokotil dan Dikotil ....................................................... 3

BAHAN DAN METODE


Waktu dan Tempat Percobaan .................................................................. 7
Bahan dan Alat .......................................................................................... 7
Prosedur Percobaan ................................................................................... 7

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil ........................................................................................................... 8
Pembahasan ............................................................................................ 10

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan .............................................................................................. 13
Saran ........................................................................................................ 13

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ii
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Akar merupakan bagian bawah dari sumbu tanaman dan biasanya

berkembang di bawah permukaan tanah, meskipun ada pula akar yang tumbuh di

luar tanah. Akar pertama pada tumbuhan berbiji berkembang dari meristem apeks

di ujung akar embrio dalam biji yang berkecambah. Akar embrio juga dinamakan

radikula. Pada Gymnospermae dan dikotil, akar serabut berkembang dan

membesar menjadi akar primer dengan cabang yang berukuran lebih kecil. Sistem

akar ini disebut akar tunggang (Hidayat,1995).

Pada monokotil, akar primer tidak lama bertahan dalam kehidupan tanaman

dan segera mengering. Dari dekat pangkalnya atau didekatnya akan muncul akar

baru yang disebut akar tambahan atau akar adventif. Keseluruhan akar adventif

seperti itu dinamakan susunan akar serabut (Hidayat,1995).

Akar tidak mempunyai anggota tambahan yang dapat dibandingkan dengan

daun-daun pada batang. Akar tidak dilengkapi stomata dan cabang-cabangnya

bermula dalam jringan perisikel yang relatif matang bertentangan dengan batang,

pada cabang-cabang akar berasal dari meristem apikal. Akar juga mempunyai

tudung akar yang tidak terdapat pada batang (Fahn, 1982).

Pada waktu jaringan akar berkembang, sel-sel antara xylem dan floem

membentuk kambium vaskular yang menghasilkan jaringan xylem ke arah dalam

dan membentuk jaringan floem ke arah luar. Xylem dan floem dikelilingi oleh

satu lapisan sel-sel yang disebut perisikel. Jaringan vaskular dan perisikel

1
membentuk suatu tabung yang disebut stele. Di sebelah luar stele terdapat

endodermis. Pada sebelah luar dari sel-sel endodermis terdapat beberapa lapis sel

korteks yang berukuran besar dan berdinding tipis (Lakitan, 1993).

Tujuan Praktikum

Adapun tujuan praktikum ini adalah untuk melihat susunan anatomis dari

akar monokotil dan dikotil, yang umumnya dari luar ke dalam terdiri dari barisan-

barisann epidermis yang ada.

Kegunaan Penulisan

Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Praktikum di Laboratorium

Botani Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera

Utara, Medan.

2.
TINJAUAN PUSTAKA

Penampang melintang melalui akar primer (yang belum mengalami

penebalan sekunder) akan menunjukkan dari luar ke dalam epidermis, korteks,

dan silinder pusat. Sel epidermis akar berdinding tipis dan biasanya tanpa

katikula. Ciri khas akar adalah adanya rambut akar yang berdaptasi untuk

menyerapa air dan garam tanah. Rambut akar adalah sel epidermis yang

memnajang ke luar, tegak lurus ke permukaan akar, dan berbentuk tabung

( Hidayat, 1995).

Pada umumnya korteks terdiri dari sel parenkim. Pada sejumlah besar

monokotil yang tidak melepaskan korteksnya semasa akar masih hidup, banyak

sklerenkim yang dibentuk. Ruang antar sel yang dibentuk lisigen atau sizogen

sering terdapat pada tumbuhan darat yang terendam air, seperti padi. Parenkim

tersebut dianggap berperan dalam pengangkutan gas dan sebagai wadah oksigen

yang diperlukan dalam respirasi jaringan. Pada sejumlah besar tumbuhan, dinding

sel pada lapisan terluar korteks akan membentuk gabus, sehingga terjadi

jaringan pelindung baru, yakni eksodermis yang akan menggantikan

epidermis (Yoshida, 1981).

Endodermis terdiri atas sel-sel yang membentuk silinder uniserat dan

berkembang. Lapisan sel ini merupakan batas sebelah dalam korteks akar. Pada

bagian akar tersebut sistem pembuluh primer mulai menjadi matang dan jalur

Caspary muncul dalam dinding radial dan dinding melintang sel-sel endodermis

tersebut. Silider pembuluh menepati bagian tengah dari akar. Bentuknya lebih

nyata dari korteks akar dibandingkan dengan yang terdapat dalam batang.

Jaringan pembuluh primer dikitari oleh kumpulan sel yang dinamakan perisikel.

Pada monokotil, yang biasanya tidak mempunyai penebalan sekunder berlangsung

3.
pembentukan sklereid (sklerefikasi) di sebagian atau seluruh perisikel. Ada

beberapa dikotiledon perisikelnya terdiri atas beberapa lapis sel (Fahn, 1982).

Salah satu sifat utama yang membedakan akar dari batang ialah susunan

jaringan pembuluh primer. Pada tubuh primer akar perisikel itu secara langsung

dibatasi di permukaan bagian dalam oleh untaian floem dan xylem. Untaian floem

selalu terpisah-pisah dan terpusat di pinggiran silinder pembuluh. Untaian xylem

dapat dalam satuan terpisah di tepi silinder pembuluh atau dapat meluas ke bagian

tengah, xylem tampak seperti bintang pada irisan melintang. Pada monokotiledon

untaian xylem pada akar seminal sedikit, seperti pada akar dikotiledon, tetapi akar

–akar liarnya poliark dan banyaknya untaian pada Palmae dan Pandanaceae dapat

100 atau lebih (Siregar, 1981).

Tubuh sekunder adalah merupakan hasil bentukan kambium. Kambium

mula-mula terlihat pada ujung sebelah dalam dari floem. Tetapi kambium ini

membentuk jaringan sekunder, pericycle di depan kutub xylem membelah.

Derivat sel-sel ini yang disebelah dalam berubah menjadi cambium sehingga

Kambium menjadi bersambung. Kambium ini akan membentuk lingkaran karena

pembentukan xylem didekat floem terjadi lebih dahulu. Kambium ini akan terus

membentuk jaringan sekunder sehingga xylem primer akan terbenam. Dengan

mengembangnya lingkaran kambium oleh pertumbuhan sekunder maka sebagian

dari korteks dan pericycle akan mengelupas sehingga akhirnya hanya tinggal

lapisan gabus ( Napitupulu, 2013).

Perbedaan struktur anatomi akar monokotil dan dikotil. Pada akar

monokotil, terdapat xylem yang banyak atau poliarch, biasanya bervariasi antara

11-20. Perisikel yang terdapat pada akar monokotil hanya menghasilkan akar

lateral. Tidak memiliki kambium serta pada akar monokotil tidak terjadi

4.
pertumbuhan sekunder. Empulur berkembang dan membesar. Sedangkan pada

akar dikotil, terdapat berkas xylem yang beragam anatar 2-6 (diarch- heksarch).

Perisikel yang terdapat pada akar dikotil selain menghasilkan akar lateral judga

menghasilakan meristem sekunder. Pada akar dikotil terdapat cambium sehingga

dapat melangsungkan pertumbuhan sekunder. Empulurnya kecil seperti tidak ada

(Upi, 2014).

Batas ujung akar dan kaliptra pada akar monokotil tampak jelas. Perisikel

terdiri dari beberapa lapisan, mempunyai empulur yang luas sebagai pusat akar,

letak xylem dan floem berselang-seling. Sedangkan pada akar tanaman dikotil

batas ujung akar dan kaliptra tidak tampak jelas, perisikel hanya terdiri atas satu

lapis, empulurnya sempit, letak xylem didalam dan floem diluar (dengan

kambium sebagai pembatas) (Kurnia, 2013).

Asal akar dari lembaga, pada dikotil akar lembaga terus tumbuh sehingga

membentuk akar tunggang, akar lembaga mati, kemudian pada pangkal batang

akan tumbuh akar-akar yang memiliki ukuran hamper sama sehingga membentuk

akar serabut (Reinhardt, 2008).

Pada tumbuan kelas tingkat tinggi dibedakan menjadi dua macam yaitu

tumbuhan berbiji keeping satu yang disebut Monocotyledonea dan berkeping dua

disebut Dicotyledonea. Tubu tumbuhan dibagi kedalam system akar dan system

tunas yang ada diatas permukaan tanah. Kelompok sel tumbuhan tertentu

membentuk suatu kelompok sel yang memiliki struktur dan fungsi yang sama.

Berdasarkan pembelahan sel selama fase perkembangan maka jenis jaringan pada

tumbuhan dapat terbagi (Compbell, 2003).

5.
Akar juga merupakan bagian tumbuhan yang tumbuhnya telah merupakan

kormus. Bagi tumbuhan akar berfungsi untuk memperkuat berdirinya tumbuhan,

untuk menyerap air dan zat-zat makanan ke tempattempat pada tubuh tumbuhan

yang memerlukan (Estiti, 1985).

Irisan memanjang ujung akar muda menunjukkan empat daerah yaitu

daerah pemanjangan, daerah diferensiasi sel, daerah tudung akar, dan daerah

pembelahan sel. Daerah pertumbuhan ini dapat berhimpitan karena dipengaruhi

oleh jenis tumbuhannya serta keadaan lingkungan yang menentukan aktifitasnya

(Sutrian, 2004).

Secara umum dikatakan pula bahwa tumbuhan dikotil memiliki cirri-ciri

berupa akar tunggang, bentuk daun menjari, bunga kelipatan 5, sedangkan pada

monokotil bentuk daun sejajar ditemukannya akr serbut dan bunga kelipatan 3

(Atinimala, 2006).

Keanekaragaman bentuk dan struktur akar sering tekait dengan fungsinya.

Karena itu dikenal akar penyimpan, aar sukulen, akar udara, pneumatotur, akar

panjat, akar pembelit, dan akar yang hidup bersimbiosis dengan jamur. Kondisi

lingkungan sering mempengaruhi system akar. Banyak tumbuhan yang tumbuh

ditanah berpasiir menghasilkan akar literal yang tidak dalam, menyebar dekat

dibawah permukaan tanah hingga berpuluh meter panjangnya (Savitri, 2008).

Struktur anatomi akar mengikuti garis dan membntuk floem intraseluler.

Sel gabusnya selalu tumbuh hanya sampai permukaan saja dan dinding selnya

tipis. Sel gabus diisi dengan Kristal. Kartexnya sangat kuat atau masuk grup sel

batu. Perisikel berwarna putih seperti papan dan tidak berserat (Loveless, 1991).

6.
BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Percobaan

Adapun praktikum ini di laksanakan pada tanggal 26 Maret 2017 pada

pukul 15.00 WIB sampai selesai. Percobaan dilakukan di Laboratorium Botani

Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera

Utara.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan pada saat praktikum adalah preparat abadi

digunakan sebagai wadah objek pengamatan. Akar monokotil sebagai objek yang

diamati. Akar dikotil sebagai objek yang diamati

Alat yang digunakan adalah sebagai berikut; mikroskop untuk melihat atau

mengamati akar monokotil dan dikotil. Kain planel digunakan sebagai alas objek

glass dan deck glass agar tidak berserakan. Serbet digunakan untuk membersihkan

objek glass dan deck glass serta mikroskop yang telah selesai digunakan. Preparat

abadi digunakan untuk membandingkan hasil pengamatan dengan preparat basah

yang dibuat sendiri. Alat tulis digunakan untuk mencatat hasil. Kamera digunakan

untuk mengambil gambar akar monokotil dan dikotil pada mikroskop.

Prosedur Percobaan

1. Diatur masuknya cahaya pada mikroskop,

2. Diletakkan preparat abadi pada meja preparat,

3. Dilihatlah dengan objek 10x ditentukanlah posisi epitel yang akan

diperiksa,

4. Dibuat pembesaran dengan objektif 40x.

7.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

a. AKAR DIKOTIL

Epidermis
Korteks
Floem
Xylem
Endodermis
Eksodermis
Stele

10 x 40

8.
b. AKAR MONOKITIL

Epidermis
Korteks

Stele (vascular)
Endodermis
Pericycle
Empelur
Xylem

Floem

10 x 40

9.
Pembahasan

Secara garis besar jika pada akar yang muda dipotong secara melintang

akan terlihat bagian-bagian struktur anatomi pada akar tersebut. Hal ini sesuai

dengan literature Hidayat (1995), yang mengemukakan bahwa penampang

melintang melalui akar primer (yang belum mengalami penebalan sekunder) akan

menunjukkan dari luar ke dalam epidermis, korteks, dan silinder pusat. Sel

epidermis akar berdinding tipis dan biasanya tanpa katikula. Ciri khas akar adalah

adanya rambut akar yang berdaptasi untuk menyerapa air dan garam tanah.

Rambut akar adalah sel epidermis yang memnajang ke luar, tegak lurus ke

permukaan akar, dan berbentuk tabung .

Berbeda dengan epidermis batang dan daun, epidermis akar yang muda

(rhizodermis) terdiri dari selapis sel yang kompak. Jaringan ini berperan khusus

untuk penghisapan air. Sedangkan keoteks pada akar terutama pada tumbuhan

dikotilodon misalnya yang mempunyai pertumbuhan sekunder dimana korteksnya

akan mengelupas dengan cepat,maka dari itu korteksnya hanya terdiri atas sel

parenkim saja. Hal ini sesuai dengan literatur Yoshida (1981) yang

mengemukakan bahwa, Pada umumnya korteks terdiri dari sel parenkim. Pada

sejumlah besar monokotil yang tidak melepaskan korteksnya semasa akar masih

hidup, banyak sklerenkim yang dibentuk. Ruang natar sel yang dibentuk lisigen

atau sizogen sering terdapat pada tumbuhan darat yang terendam air, seperti padi.

Parenkim tersebut dianggap berperan dalam pengangkutan gas dan sebagai wadah

oksigen yang diperlukan dalam respirasi jaringan. Pada sejumlah besar tumbuhan,

dinding sel pada lapisan terluar korteks akan membentuk gabus, sehingga terjadi

jaringan pelindung baru, yakni eksodermis yang akan menggantikan

epidermis.

10.
Berkas pembuluh pada akar tersusun secara radial dengan xylem exarch

dan floem yang terletak dipinggir central silinder. Perkembangan xylem dan

floem adalah centripetal, sehingga bagisn-bsgisn ini merupakan kutub-kutub.

Banyaknya kutub uuntuk jenis tumbuhan tetentu umumnya adalah tetap,

walaupun hal ini masih ditentukan oleh besarnya diameter akar. Hal ini sesuai

dengan literatur Fahn (1982) yang mengemukakan bahwa, Salah satu sifat utama

yang membedakan akar dari batang ialah susunan jaringan pembuluh primer. Pada

tubuh primer akar perisikel itu secara langsung dibatasi di permukaan bagian

dalam oleh untaian floem dan xylem. Untaian floem selalu terpisah-pisah dan

terpusat di pinggiran silinder pembuluh.

Awal mula perkembangan cambium pembuluh adalah dengan pembelahan

sel pprokambium diantara xylem primer dan floem primer yang belum

terdiferensiasi. Umumnya pertumbuhan sekunder hanya terjadi pada akar tanaman

dikotil untuk memperbesar ukuran akar tunggangnya. Hal ini sesuai dengan

literature Napitupulu (2013) yang mengemukakan bahawa, Tubuh sekunder

adalah merupakan hasil bentukan kambium. Kambium mula-mula terlihat pada

ujung sebelah dalam dari floem. Tetapi kambium ini membentuk jaringan

sekunder, pericycle di depan kutub xylem membelah. Derivat sel-sel ini yang

disebelah dalam berubah menjadi cambium sehingga Kambium menjadi

bersambung. Kambium ini akan membentuk lingkaran karena pembentukan

xylem didekat floem terjadi lebih dahulu. Kambium ini akan terus membentuk

jaringan sekunder sehingga xylem primer akan terbenam. Dengan

mengembangnya lingkaran kambium oleh pertumbuhan sekunder maka sebagian

dari korteks dan pericycle akan mengelupas sehingga akhirnya hanya tinggal

lapisan gabus.

11.
Secara garis besar terlihat jelas perbedaan pada anatomi akar tumbuhan

monokotil dan dikotil. Secara morfologi, tanaman monokotil berakar serabut dan

tanaman dikotil berakar serabut. Hal ini sesuai dengan literatur Upi (2014), yang

mengatakan bahwa, Perbedaan struktur anatomi akar monokotil dan dikotil. Pada

akar monokotil, terdapat xylem yang banyak atau poliarch, biasanya bervariasi

antara 11-20. Perisikel yang terdapat pada akar monokotil hanya menghasilkan

akar lateral. Tidak memiliki kambium serta pada akar monokotil tidak terjadi

pertumbuhan sekunder. Empulur berkembang dan membesar. Sedangkan pada

akar dikotil, terdapat berkas xylem yang beragam anatar 2-6 (diarch- heksarch).

Perisikel yang terdapat pada akar dikotil selain menghasilkan akar lateral judga

menghasilakan meristem sekunder. Pada akar dikotil terdapat cambium sehingga

dapat melangsungkan pertumbuhan sekunder. Empulurnya kecil seperti tidak ada.

12.
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Pada akar yang masih muda jika dilakukan pemotongan secara melintang akan

terlihat bagian-bagian dari luar ke dalam seperti epidermis, korteks,

eksodermis, endodermis, silinder pusat (stele).

2. Epidermis pada akar tersusun atas sel-sel yang rapat dan berdinding tipis dan

biasanya tanpa katikula.

3. Pada akar terdapat sebuah lapisan baru yang dapat menggantikan epidermis

yaitu eksodermis yang mengandung suberin.

4. Pada akar monokotil, terdapat xylem yang banyak atau poliarch, biasanya

bervariasi antara 11-20. Perisikel yang terdapat pada akar monokotil hanya

menghasilkan akar lateral.

5. Pada akar dikotil, terdapat berkas xylem yang beragam anatar 2-6 (diarch-

heksarch).

Saran

Sebaiknya bagi praktikan selanjutnya dalam melakukan percobaan

harus lebih teliti dalam menggunakan mikroskop, dan sebaiknya praktikan harus

lebih memahami alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum.

13.
DAFTAR PUSTAKA

Aldi , 2010. Anatomi Akar. Konsius, Yogjakarta.

Antinimada, P., 2006. BIOLOGI. Erlangga, Jakarta.

Compbell, 2013. BIOLOGI. Gajah Mada University Press. Yogjakarta. Hal: 446.

Estiti, B. 1985. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB.

Fahn, A., 1982. Anatomi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Hidayat, E,. B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. ITB-Press, Bandung

Kurnia, R., 2013. Dasar Titrasi Tanaman. Penerbit Rineks Cipta, Jakarta.

Napitupulu, J.A, 2013. Pengantar Anatomi Tumbuhan. USU-Press, Medan.

Lakitan, B., 1995. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada,


Yogyakarta.

Loveles, A.R., 1991. Prinsip – prinsip Biologi Tumbuhan. Untuk daerah tropik –
Gramedia. Jakarta.

Reinhardt, 2008. Struktur dan Pembahasab Tumbuhan. Yogjakarta: UGM

Savitri, 2008. Petunjuk Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan (Anatomi


Tumbuhan) Press, UN.

Siregar, H. 1981.Struktur Akar Monokotil dan Dikotil. PT Sastra Hudaya,


Jakarta.

Upi, J. 2014. Anatomi Tumbuhan. Erlangga. Jakarta

Yoshida, S. 1981. Perbedaan Akar Dikotil dan Akar Monokotil.