Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Toksoplasmosis adalah penyakit zoonis yang disebabkan oleh protozoa Toxoplasma


gondii. Parasit tersebut mampu menginfeksi hampir semua jenis sel berinti (nucleated cell)
termasuk leukosit pada manusia dan berbagai jenis mamalia darat maupun air, bangsa burung
bahkan serangga (Subekti dan Arrasyid, 2005).

Pada kehidupan manusia, ada dua populasi yang kemungkinan beresiko tinggi
terinfeksi parasit Toxoplasma gondii, yaitu wanita hamil dan individu yang mengalami
defisiensi sistem imun (Yowani dkk, 2007).Cossart pada tahun 2000 melakukan penelitian
terhadap kasus keguguran spontan di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta dan RS Hasan
Sadikin Bandung, menemukan sekitar 80,2% (81 dari 101) sampel plasenta yang diinokulasi
pada mencit menunjukkan hasil positif mengandung kista toksoplasma. Hasil tes ELISA dari
seluruh sampel sebanyak 178 memperlihatkan 52,25% positif. Dari hasil penelitian tersebut
disimpulkan bahwa penyebab keguguran spontan terbesar adalah infeksi Toxoplasma gondii
(Yowani dkk, 2007).

Toksoplasmosis mungkin bukanlah penyakit yang fatal, tetapi apabila tidak


ditanggulangi dengan baik maka akan menimbulkan masalah mulai infertilitas, abortus,
kecacatan fisik maupun mental. Dengan meningkatnya kasus HIV-AIDS, kanker maupun
kasus gizi buruk maka toksoplasmosis harus diwaspadai, karena terbukti toksoplasmosis
dapat menimbulkan kelainan yang nyata pada penderita dengan status imun yang rendah
(Palgunadi, 2011). Pada penderita imunosupresi, Toxoplasma gondii dapat menjadi penyebab
utama infeksi sistem saraf pusat dan encephalitis yang diakibatkan oleh terapi maupun proses
penyakitnya (Sanjaya, 2007).

Salah satu obat yang menjadi pilihan utama dalam terapi toksoplasmosis adalah
pirimetamin yang diketahui memiliki efek antitoksoplasmosis. Namun, pada dosis dan jangka
pemakaian tertentu pirimetamin dapat menimbulkan kejang, leukositopenia dan teratogenik
sehingga perlu pemantauan dalam penggunaanya terutama pada wanita hamil dan pasien
dengan imunodefisiensi (Subekti dkk, 2005).

1
B. Rumusan masalah
1. Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan infeksi oportunistik
2. Untuk mengetahui pengertian toksoplasmosis
3. Untuk mengetahui morfologi toksoplasma
4. Untuk mengetahui klasifikasi toksoplasmosis
5. Untuk mengetahui cara penularan toksoplasmosis
6. Untuk mengetahui gejala tokoplasmosis
7. Untuk mengetahui penyebab toksoplasmosis
8. Untuk mengetahui diagnosis toksoplasma
9. Untuk mengetahui pengobatan toksoplasmosis
10. Untuk menetahui komplikasi
11. Untuk mengetahui terapi infeksi toksoplasmosis
12. Untuk mengetahui kaitan toksoplasma dengan hiv

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian infeksi oportunistik

Infeksi oportunistik adalah infeksi yang disebabkan oleh organisme yang biasanya
tidak menyebabkan penyakit pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang normal, tetapi
dapat menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk. Mereka membutuhkan
“kesempatan” untuk menginfeksi seseorang (sumber :Wikipedia.org). Dalam tubuh anda
terdapat banyak kuman – bakteri, protozoa, jamur dan virus. Saat sistem kekebalan anda
bekerja dengan baik, sistem tersebut mampu mengendalikan kuman-kuman ini. Tetapi bila
sistem kekebalan dilemahkan oleh penyakit HIV atau oleh beberapa jenis obat, kuman ini
mungkin tidak terkuasai lagi dan dapat menyebabkan masalah kesehatan.

Infeksi yang mengambil manfaat dari lemahnya pertahanan kekebalan tubuh disebut
“oportunistik”. Kata “infeksi oportunistik” sering kali disingkat menjadi “IO”. Anda dapat
terinfeksi IO, dan “dites positif” untuk IO tersebut, walaupun anda tidak mengalami penyakit
tersebut. Misalnya, hampir setiap orang dengan HIV akan menerima hasil tes positif untuk
sitomegalia (Cytomegalovirus atau CMV). Tetapi penyakit CMV itu sendiri jarang dapat
berkembang kecuali bila jumlah CD4 turun di bawah 50, yang menandakan kerusakan parah
terhadap sistem kekebalan.

Untuk menentukan apakah anda terinfeksi IO, darah anda dapat dites untuk antigen
(potongan kuman yang menyebabkan IO) atau untuk antibodi (protein yang dibuat oleh
sistem kekebalan untuk memerangi antigen). Bila antigen ditemukan artinya anda terinfeksi.
Ditemukan antibodi berarti anda pernah terpajan infeksi. Anda mungkin pernah menerima
imunisasi atau vaksinasi terhadap infeksi tersebut, atau sistem kekebalan anda mungkin telah
“memberantas” infeksi dari tubuh, atau anda mungkin terinfeksi.

Jika anda terinfeksi kuman yang menyebabkan IO, dan jika jumlah CD4 anda cukup
rendah sehingga memungkinkan IO berkembang, dokter anda akan mencari tanda penyakit
aktif. Tanda ini tergantung pada jenis IO. Orang yang tidak terinfeksi HIV dapat mengalami
IO jika sistem kekebalannya rusak. Misalnya, banyak obat yang dipakai untuk mengobati
kanker dapat menekan sistem kekebalan. Beberapa orang yang menjalani pengobatan kanker
dapat mengalami IO.

3
HIV memperlemah sistem kekebalan, sehingga IO dapat berkembang. Jika anda terinfeksi
HIV dan mengalami IO, anda mungkin AIDS. Di Indonesia, Departemen Kesehatan
bertanggung jawab untuk memutuskan siapa yang AIDS. Depkes mengembangkan pedoman
untuk menentukan IO yang apa mendefinisikan AIDS. Jika anda HIV, dan mengalami satu
atau lebih IO “resmi” ini, maka anda AIDS.

Apa IO yang paling umum?

Pada tahun-tahun pertama epidemi AIDS, IO menyebabkan banyak penyakit dan


kematian. Namun, setelah orang mulai memakai terapi antiretroviral (ART), lebih sedikit
orang yang mengalami IO. Tidak jelas berapa banyak orang dengan HIV akan jatuh sakit
dengan IO tertentu.Pada perempuan, masalah kesehatan di daerah vagina dapat menjadi tanda
awal infeksi HIV. Masalah ini, antara lain, termasuk penyakit radang panggul dan vaginosis
bakteri.

IO yang paling umum terlampir di sini, bersama penyakit yang biasa disebabkannya, dan
jumlah CD4 waktu penyakit menjadi aktif:

1. Kandidiasis (thrush) adalah infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, atau vagina.
Rentang CD4: dapat terjadi bahkan dengan CD4 yang agak tinggi.
2. Virus sitomegalia (CMV) adalah infeksi virus yang menyebabkan penyakit mata yang
dapat mengakibatkan kebutaan. Rentang CD4: di bawah 50.
3. Berbagai macam virus herpes simpleks dapat menyebabkan herpes pada mulut atau
alat kelamin. Ini adalah infeksi yang agak umum, tetapi jika anda mengidap HIV,
perjangandannya dapat jauh lebih sering dan lebih parah. Penyakit ini dapat terjadi
pada jumlah CD4 berapa pun.
4. Malaria adalah umum di beberapa daerah di Indonesia. Penyakit ini lebih umum dan
lebih parah pada orang terinfeksi HIV.
5. Mycobacterium avium complex (MAC atau MAI) adalah infeksi bakteri yang dapat
menyebabkan demam kambuhan, rasa sakit umum, masalah pada pencernaan, dan
kehilangan berat badan yang parah. Rentang CD4: di bawah 75.
6. Pneumonia Pneumocystis (PCP) adalah infeksi jamur yang dapat menyebabkan
pneumonia (radang paru) yang berbahaya. Rentang CD4: di bawah 200. Sayangnya,
IO ini masih umum terjadi pada orang yang belum mengetahui dirinya terinfeksi HIV.
7. Toksoplasmosis (tokso) adalah infeksi protozoa otak. Rentang CD4: dibawah 100.

4
8. Tuberkulosis (TB) adalah infeksi bakteri yang menyerang paru-paru, dan dapat
menyebabkan meningitis (radang selaput otak). Rentang CD4: Setiap orang dengan
HIV yang dites positif terpajan TB sebaiknya diobati.

Sebagian besar kuman yang menyebabkan IO sangat umum, dan mungkin anda telah
membawa beberapa dari infeksi ini. Anda dapat mengurangi risiko infeksi baru dengan tetap
menjaga kebersihan dan menghindari sumber kuman yang diketahui yang menyebabkan IO.
Meskipun anda terinfeksi beberapa IO, anda dapat memakai obat yang akan mencegah
pengembangan penyakit aktif. Pencegahan ini disebut profilaksis. Cara terbaik untuk
mencegah IO adalah untuk memakai ART.

B. Pengertian Toksoplasmosis

Toxoplasmosis adalah penyakit parasitik yang disebabkan oleh protozoa Toxoplasma


gondii. Parasit tersebut menginfeksi banyak binatang berdarah-hangat, termasuk manusia,
tetapi paling sering menginfeksi kucing pada famili felidae. Binatang terinfeksi dengan
mengigit daging yang terinfeksi, dengan kontak terhadap kucing feces, atau dengan infeksi
dari ibu ke fetus. Kucing ditunjukan sebagai penyebab utama infeksi ini. Sementara hal ini
benar, kontak dengan daging terinfeksi yang belum dimasak menjadi akibat lebih penting
terhadap infeksi manusia pada banyak negara.Toksoplasmosis adalah infeksi pada manusia
yang ditimbulkan oleh parasit Toxoplasma gondii (T. gondii), yang keberadaannya cukup
umum di seluruh dunia. Orang dewasa dengan tingkat kesehatan baik mungkin tidak
memerlukan perawatan medis apa pun untuk sembuh dari serangan toksoplasmosis. Jika
parasit tersebut menyerang orang dewasa, maka biasanya sistem kekebalan tubuhnya bisa
mengatasi infeksi. Kebanyakan orang yang terjangkit toksoplasmosis tidak menunjukkan
gejala-gejala tertentu, dan penyakit ini umumnya tidak menular dari satu orang ke orang
lainnya. Sekali terinfeksi maka penderita akan memiliki kekebalan terhadap toksoplasmosis
seumur hidup.

Menegakkan diagnosis toksoplasmosis adalah sulit karena gejala klinisnya yang tidak
selalu jelas dan bahkan pada banyak pasien tidak memberikan gejala. Hingga saat ini sudah
banyak metode pemeriksaan yang dikembangkan termasuk metode pemeriksaan serologi
untuk mendeteksi antibodi tetapi hasilnya masih belum memuaskan dan biayanyapun masih
sangat mahal. Pemeriksaan histopatologi mungkin dapat membantu meskipun dengan hasil
yang masih kurang memuaskan.

5
Penyebaran dari infeksi toksoplasma mencapai seluruh penjuru dunia dengan
insidensi yang bervariasi. Pada penelitian antibodi toksoplasma di Tahiti dan Guatemala
didapatkan infeksi hampir 100%, sedangkan di India hanya 2 %. Di Perancis didapatkan
kejadian 10 infeksi akut tiap 1000 kehamilan, sedangkan di Amerika hanya 1,1 tiap 1000
kehamilan., Hasil penelitian di Indonesia untuk serologi Toksoplasma didapatkan 51,58 %
untuk IgG dan 13,16 % untuk IgM. Insidensi infeksi toksoplasma rendah pada daerah dengan
iklim suhu rendah seperti daerah Alaska dan juga pada daerah dengan iklim kering seperti
daerah Arizona.

Toksoplasmosis adalah penyakit sistemik yang disebabkan oleh protozoa toxplasma


gondii. Antara 15 – 45% wanita usia reproduktif memiliki antibodi terhadap toksoplasma (
IgG ) sehingga terlindung dari infeksi toksoplasma.Gejala umumnya subklinis dan kadang
menyerupai sidnroma monukleosis. Organisme berasal dari makanan menath atau setengah
matang yang terpapar dengan ktoran kucing domestik

Ada beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko toksoplasmosis menjadi gangguan
kesehatan serius, yaitu:

1. Sedang hamil.
2. Mengonsumsi obat steroid atau imunosupresan.
3. Mengidap HIV/AIDS.
4. Sedang menjalani kemoterapi.
C. Morfologi dan Klasifikasi toksoplasmosis

Toxoplasma gondii merupakan protozoa obligat intraseluler, terdapat dalam tiga


bentuk yaitu takizoit (bentuk proliferatif), kista (berisi bradizoit) dan ookista (berisi
sporozoit) (Hiswani, 2005). Bentuk takizoit menyerupai bulan sabit dengan ujung yang
runcing dan ujung lain agak membulat. Ukuran panjang 4-8 mikron, lebar 2-4 mikron dan
mempunyai selaput sel, satui nti yang terletak di tengah bulan sabit dan beberapa organel lain
seperti mitokondria dan badan golgi (Sasmita, 2006).

Bentuk ini terdapat di dalam tubuh hospes perantara seperti burung dan mamalia
termasuk manusia dan kucing sebagai hospes definitif. Takizoit juga ditemukan pada infeksi
akut dalam berbagai jaringan tubuh (Chahaya, 2003). Kista dibentuk di dalam sel hospes bila
takizoit yang membelah telah membentuk dinding. Ukuran kista berbeda-beda, ada yang
berukuran kecil dan hanya berisi beberapa bradizoit dan ada juga yang berukuran 200 mikron

6
berisi kira-kira 3000 bradizoit. Kista yang terdapat pada tubuh hospes dapat ditemuka seumur
hidup terutama di otak, otot jantung, dan otot bergaris. Di otak bentuk kista lonjong atau
bulat, tetapi di dalam otot bentuk kista mengikuti bentuk sel otot (Gandahusada, 2003).

okista berbentuk lonjong, berukuran 11-14 x 9-11 mikron. Ookista memiliki dinding,
berisi satu sporoblas yang membelah menjadi dua sporoblas. Pada perkembangan selanjutnya
kedua sporoblas membentuk dinding dan menjadi sporokista. Masing-masing sporokista
tersebut berisi 4 sporozoit yang berukuran 8x 2 mikron dan sebuah benda residu (Chahaya,
2003)

D. Klasifikasi toksoplasmosis
1) Infeksi toksoplasma akut: infeksi yang didapat sesudah bayi dilahirkan,
biasanya asimptomatik.
2) Infeksi toksoplasma kronik: terjadinya persistensi kista dalam jaringan yang
berisi parasit pada individu yang secara klinis asimptomatik.
3) Toksoplasmosis akut maupun kronik: suatu keadaan saat parasit
menjadi penyebab terjadinya gejala dan tanda klinis (antara lain: ensefalitis,
miokarditis, pneumonia).
4) Toksoplasmosis kongenital: infeksi pada bayi baru lahir yang terjadi
akibat penularan parasit secara transplasental dari ibu yang terinfeksi terhadap
janinnya. Bayi ini biasanya asimptomatik pada saat dilahirkan tapi di
kemudian hari akan timbul manifestasi berupa gejala dan tanda dengan kisaran
yang luas seperti: korioretinitis, strabismus, epilepsi dan retardasi psikomotor
(Lloyd, 1999).

E. Cara Penularan

Pada manusia penyakit toksoplasmosis ini umumnya terinfeksi melalui saluran


pencernaan,perantara yang umum adalah makanan atau minuman yang terkontaminasi
dengan agen penyebab penyakit toksoplasmosis ini, misalnya karena minum susu sapi segar
atau makan daging yang belum sempurna matangnya dari hewan yang terinfeksi dengan
penyakit toksoplasmosis.Penyakit toksoplasmosis sering terjadi karena makanan yang
diberikan biasanya berasal dari daging segar (mentah) dan sisa-sisa daging dari rumah potong
hewan (Hiswani, 2001).

7
Infeksi dapat terjadi bila manusia makan daging mentah atau kurang matang yang
mengandung kista. Infeksi ookista dapat ditularkan oleh vektor lalat, kecoa, tikus, dan
melalui tangan yang tidak bersih. Transmisi Toxoplasma gondii ke janin terjadi utero melalui
plasenta ibu hamil yang terinfeksi penyakit ini. Infeksi Toxoplasma gondii juga dapat terjadi
di laboratorium, pada peneliti yang bekerjadengan menggunakan hewan percobaan yang
terinfeksi dengan toksoplasmosis atau melalui jarum suntik dan alat laboratorium lainnya
yang terkontaminasi dengan Toxoplasma gondii (Levine, 1990).

Pada orang yang tidak makan daging juga dapat terjadi infeksi apabila ookista yang
dikeluarkan melalui tinja kucing tertelan. Kontak yang umumnya terjadi dengan hewan
terkontaminasi atau dagingnya, dapat dihubungkan dengan adanya prevalensi yang lebih
tinggi diantara dokter hewan, mahasiswa kedokteran hewan, pekerja di rumah potong hewan
dan orang yang menangani daging mentah seperti juru masak (Chahaya, 2003). Melihat cara
penularan diatas maka kemungkinan paling besar untuk terkena infeksi Toxoplama gondii
melalui makanan daging yang mengandung ookista dan yang dimasak kurang matang.
Kemungkinan kedua adalah melalui hewan peliharaan.

Gambar 1 : cara penularan toksoplasmosis

F. Gejala Toksoplasmosis

Gejala adalah sesuatu yang dirasakan dan diceritakan oleh penderita. Toksoplasmosis
memiliki beberapa gejala umum, yaitu:

8
1. Pada manusia sehat, yaitu demam tinggi, nyeri otot, kelelahan, radang tenggorokan,
pembengkakan kelenjar getah bening.
2. Pada ibu hamil, menyebabkan gangguan kehamilan seperti keguguran, kelahiran mati,
atau toksoplasmosis kongenital yang menimbulkan kerusakan otak, hilang
pendengaran, dan gangguan penglihatan pada bayi pada saat atau beberapa bulan atau
tahun setelah dilahirkan.
3. Pada penderita gangguan sistem kekebalan tubuh, gejala infeksi toksoplasmosis
adalah sakit kepala, kebingungan, kurangnya koordinasi tubuh, kejang, kesulitan
bernapas, dan gangguan penglihatan.
G. Penyebab Toksoplasmosis

Infeksi toksoplasmosis disebabkan oleh parasit bernama Toxoplasma gondii (T.


gondii). Parasit ini bisa menginfeksi mayoritas hewan dan burung. T. gondii bisa ditemukan
pada kotoran kucing yang terinfeksi, serta daging binatang yang terinfeksi. Karena parasit
T.gondii hanya bisa berkembang biak pada kucing liar dan peliharaan, maka hewan tersebut
menjadi inang utama darinya. Namun, kucing-kucing yang terinfeksi parasit T. gondii
biasanya tidak menunjukkan gejala-gejala tertentu.

Parasit ini mampu bertahan sampai beberapa bulan hidup di tanah atau air. Ada beberapa cara
parasit T. gondii masuk ke tubuh manusia, yaitu:

1. Mengonsumsi buah-buahan dan sayuran yang tidak dicuci atau minum air yang
terkontaminasi kotoran kucing.
2. Memasukkan tangan yang terkontaminasi tanah atau kotoran kucing ke mulut.
3. Mengonsumsi daging mentah atau setengah matang.
4. Menggunakan peralatan yang telah terkontaminasi dengan daging yang terinfeksi,
seperti pisau, gunting, dan talenan bekas daging mentah terinfeksi.
5. Meminum susu kambing mentah yang terinfeksi atau produk yang terbuat darinya.

Akan tetapi parasit T. gondii tidak bisa menular antar manusia, sehingga seseorang
tidak bisa menularkan infeksi T. gondii pada anaknya, tertular T. gondii karena bersentuhan
dengan penderita, serta menularkan parasit T. gondii melalui ASI. Kecuali dalam beberapa
kasus seperti melalui prosedur transplantasi organ yang terinfeksi atau ibu hamil yang sedang
terinfeksi fase akut dapat menularkan janinnya.

9
H. Diagnosis Toksoplasmosis

Untuk mendiagnosis toksoplasmosis, hal yang biasanya dilakukan adalah :

1. Tes darah.

Meskipun terinfeksi, tes darah penderita bisa saja menunjukkan hasil negatif. Ini
berarti tubuh penderita belum mulai memproduksi antibodi untuk parasit T. gondii. Tes perlu
diulang beberapa minggu kemudian karena antibodi baru terbentuk 3 minggu setelah
terinfeksi. Tapi pada kebanyakan kasus, hasil negatif pada tes darah juga bisa berarti
seseorang belum pernah terinfeksi sehingga belum kebal terhadap toksoplasmosis.

Hasil tes darah positif berarti seseorang dalam keadaan terinfeksi toksoplasmosis aktif, atau
pernah terinfeksi sebelumnya, dan kebal terhadap toksoplasmosis. Tes tambahan diperlukan
untuk menentukan sejak kapan infeksi berlangsung.

2. Tes pada ibu hamil.

Jika seseorang sedang mengandung dan hasil tes darah menunjukkan dirinya terkena
infeksi toksopl asmosis positif, maka ada beberapa tes untuk memeriksa apakah infeksi juga
menular pada janin. Beberapa tes tersebut adalah:

1) Amniosintesis. Pada prosedur ini, dokter akan mengambil sampel air ketuban
penderita saat usia kehamilan di atas 15 minggu. Dengan tes ini bisa segera diketahui
apakah janin terinfeksi atau tidak.
2) Uji Ultrasound. Pada pengujian ini, dokter akan melihat akibat infeksi pada janin
seperti adanya kumpulan cairan pada otak (hidrosefalus). Bila ternyata janin tampak
normal, maka perlu dilakukan beberapa pemeriksaan pada bayi setelah lahir.

Setelah proses melahirkan, bayi akan menjalani pemeriksaan untuk melihat adanya kerusakan
dari infeksi, serta tes darah untuk memastikan apakah bayi masih mengidap infeksi.

3. Tes Pencitraan

Jika infeksi toksoplasmosis menyebabkan penderita terkena komplikasi yang cukup


serius, maka dibutuhkan pemeriksaan tambahan untuk mengidentifikasi adanya kerusakan
jaringan atau kista pada otak. Pemeriksaan tambahan yang diperlukan antara lain tes
pencitraan MRI dan biopsi otak.

10
I. Pengobatan Toksoplasmosis

Kebanyakan kasus toksoplasmosis hanya digolongkan sebagai sakit ringan dan tidak
memerlukan adanya perawatan medis. Penderita umumnya bisa pulih total tanpa komplikasi.
Untuk mengobati toksoplasmosis akut pada penderita yang mempunyai gangguan kekebalan
tubuh, dokter akan meresepkan beberapa jenis obat yaitu pyrimethamine dan sulfadiazine.
Perawatan medis dibutuhkan hanya pada kondisi seperti berikut:

1. Terkena komplikasi toksoplasmosis.


2. Sedang dalam masa kehamilan.
3. Bayi terbukti terinfeksi toksoplasmosis sebelum atau sesudah lahir.
4. Mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh.

Pada ibu hamil yang terinfeksi toksoplasmosis, jika janin belum terkena infeksi, maka
dokter akan memberikan antibiotik spiramycin. Jika janin sudah tertular toksoplasmosis,
maka dokter biasanya akan meresepkan pyrimethamine dan sulfadiazine. Pyrimethamine dan
sulfadiazine biasanya juga digunakan untuk menangani bayi dengan toksoplasmosis
kongenital, sebab bisa mengurangi risiko gangguan kesehatan jangka panjang. Akan tetapi,
pengobatan ini tidak bisa memperbaiki kerusakan akibat toksoplasmosis yang sudah terjadi.
Jadi biasanya tetap akan ada gangguan yang bersifat jangka panjang dan kambuhan.

Untuk menangani infeksi toksoplasmosis pada penderita gangguan sistem kekebalan


tubuh, umumnya dokter memberikan obat trimethoprim and sulfamethoxazole untuk
mencegah berkembangnya gejala-gejala toksoplasmosis. Hal ini karena pada penderita yang
bersifat karier, parasit tetap berada di dalam tubuh penderita dalam keadaan tidak aktif.
Ketika kekebalan tubuh menurun, parasit akan aktif kembali dan menyebabkan gangguan
kesehatan yang serius. Jika sistem kekebalan tubuh sudah kembali normal, maka pengobatan
bisa dihentikan.

J. Komplikasi Toksoplasmosis

Beberapa komplikasi yang bisa terjadi pada penderita toksoplasmosis adalah:

1. Toksoplasmosis okular. Peradangan dan luka pada mata yang diakibatkan oleh
parasit. Penyakit ini bisa menyebabkan gangguan penglihatan, muncul floater (seperti
ada benda kecil yang melayang-layang menghalangi pandangan) pada mata, hingga
kebutaan.

11
2. Toksoplasmosis kongenital terjadi ketika janin yang dikandung ikut terinfeksi
toksoplasmosis. Hal ini bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan pada janin.
Misalnya hidrosefalus, epilepsi, kehilangan pendengaran, kerusakan otak, gangguan
kemampuan belajar, penyakit kuning, toksoplasmosis okular, dan cerebral palsy.
3. Toksoplasmosis serebral. Jika penderita gangguan sistem kekebalan tubuh terinfeksi
oleh toksoplasmosis, maka infeksi tersebut bisa menyebar ke otak dan bisa
mengancam nyawa penderita. Beberapa gejalanya adalah sakit kepala, kebingungan,
gangguan koordinasi, kejang-kejang, demam tinggi, bicara tidak jelas, toksoplasmosis
okuler.
K. Pencegahan Toksoplasmosis

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terkena infeksi
toksoplasmosis, yaitu:

1. Gunakan sarung tangan saat berkebun atau memegang tanah.


2. Hindari mengonsumsi daging mentah atau setengah matang.
3. Cucilah tangan sebelum dan sesudah memegang makanan.
4. Cucilah semua peralatan dapur dengan bersih setelah memasak daging mentah.
5. Selalu cuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi.
6. Hindari meminum susu kambing non-pasteurisasi atau produk-produk yang terbuat
darinya.
7. Hindari kotoran kucing pada wadah kotoran kucing atau tanah, terutama bagi Anda
yang memelihara kucing.
8. Berikan kucing makanan kering atau kalengan daripada daging mentah.
9. Tutuplah bak pasir tempat bermain anak-anak.

Bagi orang yang memelihara kucing, beberapa hal di bawah ini bisa mengurangi risiko
terkena toksoplasmosis yaitu:

1. Jagalah kesehatan kucing peliharaan.

2. Hindari untuk memungut serta memelihara kucing liar.

3. Gunakan sarung tangan dan masker muka saat membersihkan wadah kotoran.
Di Indonesia, toksoplasmosis digolongkan sebagai salah satu jenis penyakit tular
vektor dan binatang pembawa penyakit. Sesuai dengan Pasal 11 Peraturan Menteri Kesehatan
No. 82 tahun 2014, untuk mencegah penularan toksoplasmosis ke janin, biasanya para dokter

12
di Indonesia menganjurkan pemeriksaan bagi pria dan wanita yang sering berinteraksi dengan
hewan peliharaan dan ingin memiliki anak.

L. Terapi infeksi toksoplasmosis

Pirimetamin dianggap paling efektif sebagai agen anti Toxoplasma gondii, dan apabila
memungkinkan harus selalu dimasukkan dalam regimen obat untuk melawan parasit.
Pirimetamin merupakan asam folat antagonis yang memiliki efek samping menekan sumsum
tulang, efek tersebut akan menurun seiring dengan pemberian asam folinat (kalsium
leucovorin). Asam folinat harus diberikan secara bersamaan dengan pirimetamin untuk
menghindari penekanan pada sumsum tulang (Montoya dkk, 2010).

Berdasarkan Principles and Practice of Infectious Diseases edisi ketujuh terdapat guideline
atau algoritma terapi infeksi toksoplasmosis, dalam algoritma disebutkan bahwa :

1. Pirimetamin adalah obat antitoksoplasmosis paling efektif dan harus selalu diberikan
pada pasien yang terinfeksi toksoplasmosis
2. Selain pemberian pirimetamin, perlu juga dikombinasikan penggunaannya dengan
sulfadiazin atau clindamycin. Sulfadiazin dan clindamycin bekerja sinergis dengan
pirimetamin
3. Jika pemberian sulfadiazin atau clindamycin tidak dapat ditolerir, dapat juga
diberikan alternatif trimetoprim-sulfametoxazol
4. Pada beberapa penelitian dilaporkan bahwa dapat juga diberikan atovaquon,
claritromycin, azitromicin sebagai regimen pendampingpirimetamin (Montoya dkk,
2010).

Pasien yang hanya memperlihatkan gejala limfadenopati tidak perlu terapi spesifik kecuali
jika terdapat gejala yang persisten dan berat. Pengobatan dapat diindikasikan selama 2
sampai 4 minggu diikuti dengan penilaian ulang kondisi pasien (Ernawati, 2008).

M. Kaitan toksoplasma dengan hiv

HIV adalah virus penyebab AIDS yang membuat penderitanya rentan terhadap berbagai
penyakit karena sistem imun yang melemah. Salah satu penyakit komplikasi yang muncul
akibat virus HIV adalah Toxoplasmosis. Toxoplasmosis sendiri merupakan penyakit yang
disebabkan oleh parasit toxoplasma gondii. Penyakit ini merupakan penyebab utama
gangguan sistem syaraf pada penderita AIDS. penyakit ini muncul ketika infeksi HIV telah

13
menyebabkan jumlah sel CD4 kurang dari 200 sel per mikroliter. Resiko terjangkit
toxoplasmosis lebih tinggi pada pasien dengan sel CD4 dibawah 50 sel per mikroliter. Gejala
yang muncul biasanya dimulai dengan sakit kepala, sering mengantuk, serta muncul masalah
dalam berbahasa. Tanpa perawatan, gejala ini dapat berkembang sehingga pasien mengalami
koma berhari-hari hingga berminggu-minggu.

Sistem imun yang normal mampu mencegah komplikasi akibat virus toxoplasmosis,
meskipun beberapa orang yang memiliki sistem imun sehat terkadang akan mengalami
infeksi mata. Namun ketika sistem imun melemah terutama pada penderita HIV/AIDS,
toxoplasmosis dapat mengarah ke penyakit yang lebih membahayakan seperti encephalitis
yang merupakan infeksi otak serius.

14
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan
B. Saran

15