Anda di halaman 1dari 2

FLEKSIBILITAS PANCASILA DALAM ARUS GLOBALISASI TERHADAP

MORALITAS BANGSA

Dalam dimensi fleksibilitas pancasila diartikan bahwa Pancasila bukanlah barang jadi yang
sudah selesai dan berhenti dalam kebakuan dogmatis dan normatif, melainkan terbuka bagi
tafsir-tafsir baru untuk memenuhi kebutuhan zaman yang terus menerusberkembang. Dengan
demikian tanpa kehilangan nilai hakikatnya Pancasila menjadi tetaap aktual, relevan serta
fungsional sebagi tiang-tiang penyangga bagi kehidupan bangsa dan negara dengan jiwa dan
semangat “Bhineka Tunggal Ika”. Reposisi Pancasila sebagi Dasar Negara harus diarahkan
pada pembinaan dan pengembangan moral, sehingga moralitas Pancasila dapat dijadikan
dasar dan arah untuk mengatasi krisis dan disintegrasai. MoralitasPancasila harus disertai
penegakan hukum (penegakan supremasi hukum).

Globalisasi, sebuah kata yang sudah tak asing lagi dan menjadi icon dunia. Namun apa
sebenarnya globalisasi itu. Globalisasi adalah penyebaran unsur-unsurbaru khususnya yang
menyangkut informasi secara mendunia melalui media cetak dan teknologi. Perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi melesat dengan pesat, hal tersebut membawa dampak
yang positif tentunya, namun tak bisa dipungkiri bahwa dampak negatif tak bisa
dikesampingkan. Selagi manusia tergiur dan terlena dengan segala kenikmatan-kenikmatan
karena kemajuan teknologi, kebanyakan dari mereka tidak menyadari efek sampingnya.
Tanpa disadari globalisasi membawa kerapuhan moral pada manusianya. Globalisasi
sesungguhnya memang bertujuan memajukan berbagai negara-negara didunia dengan konsep
“dunia yang satu”, negara-negara didunia berubah menjadi negara yang maju dan bersama-
sama meninggalkan “keterbelakangannya”.

Sekarang ini masalah moral menjadi permasalahan yang kompleks dan tidak bisa dianggap
remeh, terutama bagi negara kita Indonesia sebagai negara yang dikenal dengan budaya khas
timur dan keramah-tamahan penduduk pribumi, dengan dukungan ideologi yang sangat mulia
Pancasila dan semboyannya yang agung, “Bhineka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetap satu
jiwa.Pancasila begitu mengandung nilai-nilai moral yang sangat tinggi dan begitu luhur dan
mampu menjadi benteng persatuan dan kesatuan NKRI saat ini sedang diuji ketahanan dan
kelayakannya dalam menghadapi tantangan dunia dan perkembangannya. Dunia yang sedang
bergejolak dengan slogan globalisasinya ternyata tak bisamelepas pengaruhnya terhadap
kehidupan bangsa ini. Kaum muda-mudi kini terbuai dengan segala kenikmatan yang
ditawarkan dunia. Kita bisa melihat perkembangan dunia maya yang begitu menyita prhatian
generasi muda kita, khususnya facebook. Facebook yang dibanjiri penduduk dari seluruh
dunia menjadi media untuk berteman dan menyampaikan segala aspirasi terhadap segala
perubahan yang menjadi sorotan publik, sesungguhnya akan mempengaruhi kondisi kejiwaan
dan pola perilaku yang diimbulkan sebagi bentuk reksi. Facebook yang dapat dengan
mudahnya diakses kapan, dan dimanapun oleh semua elemen masyarakat baik generasi muda
dan tua mempengaruhi pola dalam berperilaku dalam masyarakat. Contoh kecilnya, jika dulu
kita ingin bercerita dengan teman harus bertemu secara langsung, melaui facebook tidak,
buka hanya facebook, chatting, bahkan yang paling sederhana ialah sms melaluihandphone.
Padahal jika ditinjau dari segi filosofinya, bercerita dengan bertatap muka secara langsung
memberikan manfaat selain mendukung silaturahmi antarwarga, hal tersebut akan
mempengaruhi rasa ingroup kita, kebersamaan dan semangat nasionalisme untuk saling
memahami dan mengenal juga mengapresiasi segala perbedaan yang begitu melekat pada
bangsa ini, sebagai negara multikultural. Internet yang memberikan segala pelayanan publik
yang menjanjikan bagi arus informasi sehingga kita bisa mengetahui situasi politik dunia,
perkembangan negara-negara didunia, sehingga antara issue dan relita terkadang tak bisa
dibedakan yang mana justru menimbulkan disintegrasi nasional bahkan perpecahan dunia.
Sebut saja kasus antara Plaestina-Israel yang kini justru menyeret ke ranah agama antara Ilam
dan nasrani, walau sesungguhnya sebabutama ialah perbutan daerah kekuasaan, kesrakahan
kaum yahudi. Bahwa sebenarnya mereka tidak berhak sama sekali atas tanah palestina, tapi
dengan segala kekuatan yang dimiliki kaum yahudi, mereka bisa memaksa Amerika (negara
adidaya) bersedia menjadi “benteng” dibalik kesalahan mereka yang jelas-jelas salah dan
terlihat dimata dunia. Secara tidak langsung polemik dunia yang tak kunjung selesai tersebut
mempengaruhi sikap dari berbagai warga negara di dunia, baik yang pro dan kontra. Kita
tahu bahwa Indonesia adalah negara multikultural dengan keanekaragaman suku, budaya, dan
agama. Ada 6 agama resmi yang diakui oleh pemerintah di Indonesia (islam, konghuchu,
budha, hindu, kristen, katolik), polemik Israel-Palestina terpaksa menyeret kekutan Islam dan
nasrani di Indonesia untuk beradu, karena secara tidak langsung nasrani berhubungan erat
dengan dukungan atas yahudi, karena amerika ada dibalik itu semua. Dimana hal tersebut
akan mempertaruhkan semangat nasionalisme bangsa ini.

Bukan hanya dalam ranah polotik, globalisasi pun mempengaruhi sistem perekonomian dunia
yang sangat kapitalis. Perdagangan bebas yang dijadikan pelaksana sistem perekonomian
global menimbulkan persaingan antarnegara sehingga terkadang etika sering kali dilupakan
bahkan tidak dianggap. Kejomplanngan kekuatan ekonomi menjadikan beberapa oknum
melanggar etika perdagangan, begitu banyak perdagangan ilegal yang dilakukan, bukan
hanya perbuatannya yang ilegal tapi barangnya pun haram seperti narkoba yang jelas-jelas
merusak generasi muda.

Globalisasi memang tak bisa dipandang sesederhana itu namun hal-hal diatas
hanyalahsegelintir contoh dimana moral menjadi pertaruhan ditengah pesatnya kemajuan
teknologi beserta slogan “globalisasi”. Tantangan negara ini ialah bagaimana Pancasila
mampu bertahan dalam kondisi yang carut-marut seperti ini, bagaimana pancasila mampu
mempertahankan dimensi-dimensinya (realitas, idealitas, fleksibilitas), khususnya dimensi
fleksibilitas, apakah pancasila mampumempertahankan persatuan dan kesatuan negara ini,
apakah sejarah akan berulang bahwa pancasila mampu menjadi dasar negara yang kokoh
seperti ketika kemerdekaan kita mulai diusik diawal-awal masa kebebasan dan apakah
Pancasila bisa menjadi pedoman dalam berpikir dan berperilaku sehingga terjamin moralitas
bangsa kita, tabiat orang timur yang cinta persatuan dan kesatuan. Hanya diri kita yang
mampu menjawabnya sebagi generasi penerus bangsa ini, dan waktu yang akan menjadi saksi
bisu perjuangan kita dalam menjalani sebuah peradaban.