Anda di halaman 1dari 3

Keyakinan Agama Dalam Etika Medis Seorang Dokter

Supranata Tedhak

Agama merupakan sebuah pedoman yang sangat penting bagi setiap orang dan juga bagi
pekerjaan yang dilakoninya. Agama mempunyai peran penting untuk seseorang dalam berbuat sesuatu.
Sesuatu yang tentunya tidak melanggar apa yang ada di dalam ajaran agama tersebut. Namun, bagaimana
jika seorang dokter tidak memiliki pengetahuan serta keyakinan agama yang kuat? Tentu hal tersebut
sangat berbahaya mengingat dokter merupakan pekerjaan yang berhubungan dengan hidup dan mati
seseorang. Dan seperti kita ketahui bahwa hidup dan mati seorang manusia berada ditangan Tuhan.
Ada beberapa kasus dimana seorang dokter harus mempunyai keyakinan agama yang kuat. Tetapi
saya terlebih dahulu akan memberikan contoh dimana dokter tidak memiliki keyakinan agama yang kuat.
Kasus ini dinamakan kasus “Doctor Death”. Dia adalah dr.Jack Kevorkian. Pada awal April 1998, di
Pusat Medis Adven Gledale, California, diduga puluhan pasien telah “ditolong” oleh Kevorkian untuk
mengakhiri hidup. Kevorkian berargumen apa yang dilakukannya semata demi “menolong” pasien-
pasiennya. Namun, para penentangnya menyebut apa yang dilakukannya adalah pembunuhan.
Di Indonesia sudah jelas bahwa tindakan tersebut sangat melanggar hukum yang berlaku, yaitu
Pasal 344 KUHP yang berbunyi Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu
sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana penjara paling lama dua
belas tahun. Ketentuan ini harus diingat kalangan dokter sebab walaupun terdapat beberapa alasan kuat
untuk membantu pasien/keluarga pasien mengakhiri hidup atau memperpendek hidup pasien, ancaman
hukuman ini harus dihadapinya.1
Aborsi Menurut Pandangan Agama Buddha
Secara umum istilah aborsi diartikan sebagai pengguguran kandungan, yaitu dikeluarkannya janin
sebelum waktunya, baik itu secara sengaja maupun tidak. Dan ini biasanya dilakukan saat janin masih
berusia muda (sebelum bulan keempat masa kehamilan). Sebenarnya aborsi juga merupakan penyebab
kematian ibu, hanya saja muncul dalam bentuk komplikasi pendarahan dan sepsis. Akan tetapi, kematian
ibu yang disebabkan komplikasi aborsi sering tidak muncul dalam laporan kematian. Namun dilaporkan
sebagai pendarahan atau sepsis. Hal itu terjadi karena hingga saat ini aborsi masih merupakan masalah
kontroversial di masyarakat. Menurut pandangan agama Buddha apakah melakukan aborsi berarti
melakukan pembunuhan? Dalam pandangan agama Buddha aborsi adalah suatu tindakan pengguguran
kandungan atau membunuh makhluk hidup yang sudah ada dalam kandungan seorang ibu. Agama
Buddha menentang dan tidak menyetujui adanya tindakan aborsi karena telah melanggar Pancasila

1
“BAB XIX : Kejahatan Terhadap Nyawa”, http://hukumpidana.bphn.go.id// (2010) diakses tanggal 10 September
2015
Buddhis, khususnya sila pertama, yang berbunyi Pānātipātā veramani sikkhapadam samādiyāmi yang
mempunyai arti “aku bertekad melatih diri untuk menghindari pembunuhan. Suatu pembunuhan telah
terjadi bila terdapat lima faktor sebagai berikut:

1. Adanya makhluk hidup;


2. Menyadari ada makhluk hidup;
3. Adanya kehendak;
4. Melakukan pembunuhan;
5. Matinya makhluk hidup.2
Dalam Majjhima Nikāya 135, Sang Buddha bersabda “Seorang pria dan wanita yang membunuh makhluk
hidup kejam dan gemar memukul serta membunuh tanpa belas kasihan kepada makhluk hidup, akibat
perbuatan yang telah dilakukan itu akan dilahirkan kembali sebagai manusia dimana saja ia akan
tumimbal lahir, umurnya tidak panjang”.3 Aborsi diperbolehkan dalam agama Buddha jika janin dalam
kondisi abnormal yang dapat membahayakan nyawa sang ibu
Euthanasia Menurut Pandangan Agama Buddha
Di Belanda euthanasia didefinisikan sesuai rumusan yang dibuat oleh Euthanasia Study Group
dari KNMG (Ikatan Dokter Belanda) yang berbunyi “Euthanasia adalah dengan sengaja tidak melakukan
sesuatu untuk memperpanjang hidup seorang pasien atau sengaja melakukan sesuatu untuk
memperpendek hidup seorang pasien, dan ini dilakukan untuk kepentingan pasien sendiri”. Euthanasia
dalam pandangan agama Buddha tidak dibenarkan karena perbuatan tersebut merupakan suatu tindakan
membunuh, walaupun dengan alasan kasih sayang dan tetap melanggar sila pertama pancasila agama
Buddha.
Sesungguhnya orang yang membunuh karena kasih sayang mempunyai ‘dosa citta’ atau pikiran
kebencian karena ia sesungguhnya tidak senang melihat keadaan orang yang sedang menderita sakit itu.
Ia menolak keadaan orang tersebut yang tidak kunjung sembuh dari sakitnya. Lahir sebagai manusia
adalah keadaan yang paling menguntungkan dan sangat kecil kemungkinannya untuk lahir sebagai
manusia, dibandingkan terlahir di alam-alam lain, baik di alam neraka, binatang, setan, raksasa, Dewa,
ataupun alam Brahma. Oleh karena itu, sebagai seorang Buddhis sudah selayaknya kita menghargai
kehidupan sebagai manusia. Seorang Bikkhu berkata “orang itu, jika meninggal dunia pada saat itu, pasti
tumimbal lahir di alam dewa, sebab batin orang itu tenang. Orang itu, jika meninggal dunia pada saat itu,

2
“Ab#rsi Menurut Pandangan Agama Buddha”, http://indonesiaindonesia.com// diakses tanggal 10 September
2015
3
Gunasilo. “Aborsi Menurut Pandangan Agama Buddha”, http://www.dhammacakka.org// (2013) diakses tanggal
10 September 2015
pasti tumimbal lahir di alam neraka, sebab batin orang itu gelisah”. Artinya batin atau pikiran seseorang
pada saat ia akan meninggal dunia sangat menentukan keadaan kehidupannya yang akan datang. Namun,
pada umumnya orang yang sedang menderita sakit itu mempunyai pikiran yang tidak tenang, kacau,
gelisah, dan takut. Jadi jika seorang dokter mengakhiri hidup orang yang sedang sakit itu, maka ini berarti
menjerumuskannya ke alam yang menyedihkan.
Transplantasi Organ Menurut Pandangan Agama Buddha
Suatu hari, sepasang suami istri memiliki 2 orang anak. satu anak, sebut saja A mengalami gagal
ginjal, sedangkan satunya, sebut saja B mengalami keterbelakangan mental tetapi memiliki ginjal yang
sehat. Maka salah satu cara untuk menyelamatkan nyawa A adalah dengan transplantasi ginjal. Orang tua
A dan B setuju untuk dilakukannya transplantasi dari ginjal B. Apakah tindakan transplantasi dapat
dibenarkan dalam pandangan agama Buddha?
Transplantasi atau pencangkokan adalah pemindahan sel, jaringan maupun organ hidup dari
seseorang kepada orang lain atau dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lain. Transplantasi bertujuan
untuk menggantikan fungsi organ sejenis yang tidak dapat berfungsi lagi dengan organ dari tubuh orang
lain. Ada 2 jenis transplantasi. Yang pertama adalah transplantasi dengan donor hidup, misalnya,
seseorang yang masih hidup ingin mendonorkan organnya seperti ginjal, kulit, dan lainnya yang
berpasangan ataupun yang bersifat regeneratif. Yang kedua merupakan transplantasi dengan donor mati
atau jenazah, misalnya, pemindahan organ atau jaringan dari tubuh jenazah ke tubuh orang lain yang
masih hidup dan biasanya yang didonorkan adalah organ yang tidak memiliki kemampuan untuk
regenerasi misalnya jantung, kornea, ginjal, dan pancreas.
Dalam inti ajaran Buddha janganlah berbuat jahat, perbanyak kebajikan, sucikan batin dan
pikiran. Dan juga terdapat tiga akar perbuatan jahat yaitu Dosa (kebencian), Lobha (keserakahan), dan
Moha (kebodohan batin). Salah satu cara untuk terlepas dari kemelekatan akan tiga akar tersebut yaitu
dengan cara berdana. Dana dalam agama Buddha tidak dipaksakan, hanya dianjurkan dan termasuk salah
satu dari sepuluh perbuatan baik (Dasa punna Kiriyawatthu) yang dapat dilaksanakan oleh umat Buddha.
Dalam pengertian Buddhis, seseorang terlahir kembali dengan badan yang baru. Oleh karena itu,
pastilah organ tubuh yang telah didonorkan pada kehidupan yang lampau tidak lagi berhubungan dengan
tubuh dalam kehidupan yang sekarang. Artinya, orang yang telah mendanakan anggota tubuh tertentu
tetap akan terlahir kembali dengan organ tubuh yang lengkap dan normal. Ia yang telah berdonor kornea
mata misalnya, tetap akan terlahir dengan mata normal, tidak buta. Malahan, karena donor adalah
salah satu bentuk kamma baik, ketika seseorang berdana kornea mata, dipercaya dalam kelahiran yang
berikutnya, ia akan mempunyai mata lebih indah dan sehat dari pada mata yang ia miliki dalam
kehidupan saat ini.