Anda di halaman 1dari 3

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Batu Saluran Kemih (Urolithiasis) merupakan keadaan patologis karena adanya masa
keras seperti batu yang terbentuk disepanjang saluran kencing dan dapat menyebabkan nyeri,
perdarahan, atau infeksi pada saluran kencing.1 Terbentuknya batu disebabkan karena air kemih
jenuh dengan garam-garam yang dapat membentuk batu atau karena air kemih kekurangan
materi-materi yang dapat menghambat pembentukan batu, kurangnya produksi air kencing, dan
keadaan-keadaan lain yang idiopatik. Lokasi batu saluran kemih dijumpai khas di kaliks atau
pelvis (nefrolitiasis) dan bila akan keluar akan terhenti di ureter atau di kandung kemih
(vesikolitiasis).1

Penyakit ini menyerang sekitar 4% dari seluruh populasi, dengan rasio pria-wanita 4:1
dan penyakit ini disertai morbiditas yang besar karena rasa nyeri. Di Amerika Serikat 5-10%
penduduknya menderita penyakit ini, sedangkan di seluruh dunia rata-rata terdapat 1-2%
penduduk yang menderita batu saluran kemih. Angka kejadian batu ginjal di Indonesia tahun
2002 berdasarkan data yang dikumpulkan dari rumah sakit di seluruh Indonesia adalah sebesar
37.636 kasus baru, dengan jumlah kunjungan sebesar 58.959 orang. Sedangkan jumlah pasien
yang dirawat adalah sebesar 19.018 orang, dengan jumlah kematian adalah sebesar 378 orang.2

Gejala klinis yang paling umum dari batu kandung kemih adalah hematuria makroskopik,
dapat disertai gejala lain berupa keluhan intermitensi, frekuensi, urgensi, disuria, pancaran urin
lemah, inkontinensia, dan nyeri perut bagian bawah3. Adanya ketidaksembangan saturasi, pH dan
konsentrasi pada urin dapat mengalami kristalisasi dan menyebabkan terbentuknya batu di
kandung kemih. Batu kandung kemih dapat terbentuk dari batu kalsium 70% kasus, asam urat
20% kasus, magnesium ammonium fosfat (struvite) 10% kasus dan cystine < 1% kasus.3

Obstruksi aliran keluar urin dari kandung kemih adalah faktor pencetus yang paling
umum dapat menyebabkan pembentukan batu di kandung kemih. Obstruksi umumnya
disebabkan oleh Benign Prostatic Hyperplasia (BPH), striktur uretra, bladder neck contracture,
dan divertikel kandung kemih. Beberapa faktor komorbid lain yang dapat menyebabkan
pembentukan batu di kandung kemih yaitu adanya benda asing di intravesika, neurogenic
bladder, migrasi dari batu ginjal, dan infeksi saluran kemih.3

Saat ini ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menangani kasus batu kandung
kemih diantaranya : vesikolitolapaksi, vesikolitotripsi dengan berbagai sumber energi
(elektrohidrolik, gelombang suara, laser, pneumatik), vesikolitotomi perkutan, vesikolitotomi
terbuka dan ESWL.3 Pemilihan tindakan operatif pada penderita batu kandung kemih di rumah
sakit tergantung dari indikasi medis, ketersediaan alat, dan tenaga kesehatannya.
Daftar pustaka

1. Turk C, Knoll T, Ptrerick A et al.Guidelines on Urolitiasis. European Association of


Urology 2015. Marcg 2015.
2. Armed Forces Health Surveilance Center. Urinary stonesActive Components, U.S Armed
Forces, 2001-2010. Medical Surveilance Monthly Report (MSMR), 2011.December, Vol
18,pg 6-9.
3. Sweta B, Archana n. Diagnosis and Treatment of Urolithiasis. Indian journal of
Pharmaceutical Sciences.2017:pg 164-174.