Anda di halaman 1dari 24

A.

Judul Percobaan
Koefisien Kekentalan Zat Cair
B. Tujuan Percobaan
1. Dapat menentukan koefisien kekentalan zat cair dengan menggunakan hukum
Stokes, dengan mengubah massa bola yang dicelupkan ke dalam zat cair
2. Dapat menentukan koefisien kekentalan zat cair dengan menggunakan hukum
Stokes, dengan mengubah jarak antara Silinder dalam dan Silinder luar.
C. Landasan Teori
Suatu zat cair memiliki kemampuan tertentu sehingga suatu padatan yang
dimasukkan kedalammya mendapat gaya tahanan yang diakibatkan peristiwa
gesekan antara permukaan padatan tersebut dengan zat cair, hal ini disebut
dengan visikositas. Sebagai contoh, apabila kita memasukkan sebuah bola kecil
kedalam zat cair, terlihatlah bola tersebut mula-mula turun dengan cepat
kemudian melambat hingga akhirnya sampai di dasar zat cair. Bola kecil tersebut
pada saat tertentu akan mengalami sejumlah perlambatan hingga mencapai gerak
lurus beraturan (GLB), sehingga sesuai dengan hukum I Newton, jika resultan
gaya yang bekerja sama dengan nol maka benda yang bergerak akan bergerak
dengan kecepatan konstan atau melakukan gerak lurus beraturan, walaupun berat
kelereng tersebut lebih besar daripada gaya ke atas (Gaya Archimedes) pada
kelereng yang diberikan oleh zat cair tersebut.. Hal ini berarti bahwa ada gaya
lain yang bekerja pada kelereng selain kedua gaya tersebut. Gaya lain yang
bekerja tersebut adalah gaya gesekan atau gaya hembatan yang disebabkan oleh
kekentalan zat cair. Kekentalan zat cair atau fluida pada umumnya dapat
dipandang sebagai gesekan dari fluida. Karena kekentalannya, maka diperlukan
gaya untuk menggeserkan suatu lapisan fluida terhadap lapisan lainnya.
Kekentalan zat cair jauh lebih besar dari pada kekentalan gas. Adapun alat yang
digunakan untuk mengukur kekentalan zat cair yaitu viscometer.
Viskositas dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:
1. Temperatur atau suhu

1
Koefisien viskositas akan berubah sejalan dengan temperatur
(Ginting,1991).
2. Gaya tarik antar molekul
Perbedaan kuat gaya kohesi menjadi faktor penentu kekentalan suatu
fluida.
3. Jumlah molekul terlarut
Jumlah molekul terlarut memberikan komposisi yang lebih padat terhadap
suatu fluida.
4. Tekanan
Pada saat tekanan meningkat, viskositas fluidapun akan naik.

Koefisien kekentalan fluida atau kekentalan fluida dilambangkan dengan η


(eta) yang didefinisikan sebagai perbandingan antara tegangan geser dengan laju
perubahan regangan geser yang dapat dilihat seperti persamaan berikut:

Tegangan geser F/A


  ............................................(1)
Lajupr perubahan regangan geser v / I

Atau

v
F  A ......................................................................................................(2)
I

Persamaan (2-1) diturunkan untuk hal khusus yaitu kecepatan akan bertambah
dengan laju yang seragam jika jarak dari silinder atas bertambah. Untuk hal yang
lebih umum, laju perubahan kecepatan dalam ruang pada arah yang tegak lurus aliran,
digunakan gradien kecepatan pada arah tersebut. Dalam hal yang khusus seperti ini,
gradien kecepatan = v/I. Untuk hal yang umum, gradien kecepatan tidak seragam, dan
nilainya pada tiap titik diungkapkan dengan dv/dI dengan dv adalah beda kecil dari
kecepatan diantara dua titik yang dipisahkan oleh jarak dI, diukur tegak lurus pada
arah aliran.

dv
Jadi persamaan yang umum adalah F    A
dI

2
Satuan Sistem Internasional (SI) untuk koofisien viskositas adalah Ns/m2 =
Pa.s (pascal sekon). Satuan CGS (centimeter gram sekon) untuk si koofisien
viskositas adalah dyn.s/cm2 = poise (P). Viskositas juga sering dinyatakan dalam
sentipoise (cP). 1 cP = 1/100 P. Satuan poise digunakan untuk mengenang seorang
Ilmuwan Perancis, almahrum Jean Louis Marie Poiseuille (baca : pwa-zoo-yuh).

1 poise = 1 dyn . s/cm2 = 10-1 N.s/m2

Pada tabel didaftar koefisien viskositas beberapa fluida. Untuk suhu yang
lebih rendah umumnya zat cair menjadi lebih kental (koefisien viskositasnya lebih
besar). Seperti yang diamati pada oli mesin, madu, dan fluida-fluida kental lainnya.
Berlawanan dengan itu, gas biasanya berkurang kekentalannya jika suhu turun.
Makin kecil η fluida, makin mendekati fluida ideal; untuk fluida ideal η = 0.

Fluida Temperatur (o C) Koofisien Viskositas


Air 0 1,8 x 10-3

20 1,0 x 10-3
60 0,65 x 10-3
100 0,3 x 10-3
Darah (keseluruhan) 37 4,0 x 10-3
Plasma Darah 37 1,5 x 10-3

Ethyl alkohol 20 1,2 x 10-3


Oli mesin (SAE 10) 30 200 x 10-3

Gliserin 0 10.000 x 10-3

20 1500 x 10-3
60 81 x 10-3
Udara 20 0,018 x 10-3
Hidrogen 0 0,009 x 10-3

Uap air 100 0,013 x 10-3

3
Hukum Stokes

Benda berbentuk sembarang bergerak melalui fluida kental, dalam geraknnya


akan mengalami hambatan pengereman (drag) oleh kekentalan fluida. Sir George
Stokes (1985) menunjukkan bahwa gaya hambatan (gaya gesekan) F, yang dialami
benda berbentuk bola yang bergerak relatif terhadap fluida diberikan oleh hubungan:

𝐹𝑠 = 6𝜋.  . 𝑟. 𝑣 … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . (3)

Keterangan:

Fs = gaya gesekan yang dialami bola terhadap fluida (N)

 = koefisien kekentalan (koefesien viskositas) (Ns/m2)

r = jari-jari bola (m)

v = kecepatan relatif bola terhadap fluida (m/s)

Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

A Zat cair

B Silinder bagian luar


Y Ff
C Bola
w
D Silinder bagian dalam

Set Up Percobaan Hukum Stokes


Stokes
Jika sebuah bola padat yang memiliki rapat massa ρ dan jari-jari r, yang
dilepaskan tanpa kecepatan awal dari kedudukan A di dalam zat cair kental yang
rapat massanya ρo dimana ρ > ρ0, beberapa saat kemudian bola mendapatkan
percepatan sehingga kecepatan bola bertambah besar yang mengakibatkan gaya
Stokes bertambah besar pula. Pada kedudukan B yaitu pada saat kedalaman tertentu
akan terjadi kesetimbangan di antara gaya-gaya yang bekerja, sehingga bola bergerak

4
lurus beraturan yaitu bergerak dengan kecepetan konstan pada kedudukan C.
Kecepatan yang konstan ini disebut dengan kecepatan akhir atau kecepatan terminal
dari bola. Dalam keadaan setimbang gaya-gaya yang bekerja pada bola secara
matematis dapat dituliskan sebagai peersamaan berikut:

F  0 𝐹𝑓 − 𝑊 = 0

FA + FS – W = 0

FS = W – FA

6   r  v = mg –  0 gV

=    0  gV

=    0  g
4
 r3
3

Jika benda dalam cairaan berbentuk bola dengan massa jenis ( ρ ) maka
persamaannya menjadi:

r    0 g  6  r   v
4 3
3

2r 2 g    0 
v ..........................................................................................(4)
9

Y
v
T

Maka:

2r 2 g     0 
Y T .......................................................................................(5)
9

dengan:

Y = jarak tempuh bola (m)

5
g = percepatan gravitasi bumi (g = 9,8 m/s2)

T = waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak Y (s)

D. Alat dan Bahan


1. Tabung gelas berisi zat cair yang dilengkapi dua karet gelang
2. Dua buah bola padat dengan ukuran berbeda
3. Mikrometer sekrup dengan NST 0,01 mm
4. Jangka sorong dengan NST 0,02 mm
5. Sendok saring pengambil bola
6. Stopwatch dengan NST 0.1 detik
7. Aerometer beaume dengan NST 0.01 gr/cm3
8. Neraca ohaus dengan NST 0,01 gr dengan batas ukur 0 – 200 gr
9. Gliserin (Oli) sebagai pengisi tabung
10. Thermometer

E. Langkah-Langkah Percobaan
1. Menyusun atau menset up peralatan seperti gambar dibawah ini.

A Zat cair

B Silinder bagian luar


Y Ff
C Bola
w
D Silinder bagian dalam

Set Up Percobaan Hukum Stokes


Stokes
2. Menimbang bola kelereng dan mengukur diameter bola
3. Menghitung massa jenis bola.
4. Menyiapkan tabung gelas berisi gliserin atau oli dan menempatkan dua karet
gelang sebagai penanda pada titik B dan D.

6
5. Memeriksa apakah sendok saringan sudah tersedia di dasar tabung untuk
memastikan bahwa kelereng dapat diambil dan digunakan lagi.
6. Mengukur massa jenis gliserin dengan Areometer Beaume.
7. Mengukur jarak antara kedua karet gelang (Y1).
8. Melepaskan bola dari permukaan gliserin (oli) dan mengukur dengan
stopwatch waktu yang diperlukan bola dalam menempuh jarak Y1.
9. Mengulangi langkah 8 sebanyak 2 kali.
10. Mengulangi langkah 7 sampai 9 untuk variasi jarak BD yaitu Y2, Y3, Y4, dan
Y5.
11. Mencatat hasil percobaan yang di dapat pada Tabel 6.

F. Teknik Analisis Data


1. Menghitung waktu tempuh rata-rata

T
T
2
2. Menghitung koefisien kekentalan zat cair berdasarkan hukum Stokes dengan
persamaan (5) sebagai dasar melakukan analisis berikut ini.

2r 2 g     0 
Y T
9
3. Persaamaan (5) identik dengan persamaan analisis regresi linier sederhana:
Y  a  bX ......................................................................................................(6)
dengan konstanta a = 0. Dengan demikian, maka analisis data digunakan
teknik analisis regresi linier sederhana berdasarkan azas kuadrat terkecil
sebagai hasil modifikasi dari persamaan (6) yaitu:
Yi  bXi................................................................................................................(7)

4. Konstanta b dari persamaan di atas dapat dihitung dengan persamaan:

7
N X i Yi   X i Yi 
b .................................................................................(8)
NX i2  X i 
2

di mana, N adaalah banyaknya variaasi (pada percobaan 1, N sebagai variasi


diameter sedangkan pada percobaan 2, N adalah variasi ketinggian).
Dengan mensubsitusi persamaan (5) ke dalam persamaan (7) dalam hal ini
prediktor X = T (waktu tempuh), maka diperoleh hubungan sebagai berikut:
2r 2 g (    o )T
Y  bX  bT  .............................................................(9)
9

2r 2 g (    o )T
Y  bX  bT  .................................................................(10)
9
5. Dalam hal ini nilai b pada persamaan (8) = nilai b pada persamaan (10).
Taksiran terbaik simpangan baku Y1 terhadap garis lurus Y = bX yaitu Sy
dapat dihitung dengan mengunakan persamaan:

1  2 X i2 Yi   2X i  X i Yi Yi  N X i Yi  


2 2

S y2  
 iY  .....................(11)
N  2  NX i2  X i 
2


6. Untuk mendapatkan Sb, b dapat kita tulis sebagai fungsi Y1 (b bukan


merupakaan fungsi X) karena sudah dianggap bahwa ketidakpastian
percobaan bersumber pada Y1 saja. Ketidakpastian pada b yaitu Sb = Δb,

N
b  S y ..............................................................................(12)
NX  X i 
2 2
i

7. Untuk membantu memudahkan dalam melakukan perhitungan dapat


digunakan tabel pembantu seperti berikut:

No Waktu (Xi = T ) Jarak (Yi = Y) XiYi Xi2 Yi2

8
1
2
3
4
5

Untuk menghitung besarnya ketidakpastian koefisien kekentalan zat cairan
2r 2 g     0 
digunakan persamaan (10) yaitu: b  . Dari persamaan ini
9
diperoleh:

2r 2 g     0 
b   
9 2

ketidakpastian pengukuran koefisien kekekntalan zat cairan  adalah:

9 2
   b ...........................................................................(13)
2r 2 g    0 

dari persamaan (5-6), di peroleh:

2r 2 g     0 
 .......................................................................................(14)
9b

jadi hasil pengukuran  adalah:

  (   ) .................................................. ...........................................(15)

8. Selanjutnya kesalahan relatif percobaan yang dilakukan terhadap hasil


pengukururan dapat ditentukan dengan rumus:

KR   100% .........................................................................................(16)

Kesalahan relatif yang lebih kecil dari 10% masih dapat diterima atau
ditolerir.

9
G. Data Hasil Percobaan
6.1 Data hasil pengamatan variasi jarak tempuh bola I (kelereng I)
mbola = 20.11 gr = 20.11 x 10-3 kg
Dbola = 3.05 cm = 30.5 x 10-3 m
Vbola = 14.85 cm3 = 14.85 x 10-6 m3
bola = 1.354 gr/cm3 = 1354 kg/cm3
0 = 0.190 gr/cm3 = 190 kg/cm3
T = 280C
Tabel 6.1 Hasil Pengamatan
No Y (cm) T1 (sekon) T2 (sekon) T (sekon)
1 40 4.8 5.1 4.95
2 45 5.5 5.5 5.50
3 50 6.5 6.6 6.55
4 55 7.2 7.0 7.10
5 60 7.8 7.6 7.70
 250 31.8 31.8 31.80

6.2 Data hasil pengamatan variasi jarak tempuh bola II (kelereng II)
mbola = 5.52 gr = 5.52 x 10-3 kg
Dbola = 16.0 mm = 16.0 x 10-3 m
Vbola = 2.14 cm3 = 2.14 x 10-6 m3
bola = 2.58 gr/cm3 =2
0 = 0.190 gr/cm3
T = 280C

Tabel 6.2 Hasil Pengamatan


No Y (cm) T1 (sekon) T2 (sekon) T (sekon)

10
1 40 1.4 1.4 1.40
2 45 1.7 1.6 1.65
3 50 1.8 1.9 1.85
4 55 2.1 2.0 2.05
5 60 2.2 2.1 2.15
 250 9.2 9.0 9.10

H. Analisis Data
1. Menganalisis bola I (kelerengI)
Massa jenis kelereng I adalah sebagai berikut:
m1 = (20.11 ± 0.005) 10-3 kg
D1 = (30.5 ± 0.001) 10-3 m
m

V
m

4
3
r 3

m
 3
4 1 
 d 
3 2 

6m
 3
d
6(0.02011)

3,14(0.0305) 3

0.12066

0.000089090042
  1354.3601203

 = 1354 kg/m3

11
Perhitungan untuk  adalah:

     
    m    d
 m  d  d  m

6 18m
 m   4 d
d 3
d
6 18m
 m  4 d
d 3
d



6 0,005  10 3  
 
18 20.11  10 3 0,001 10 3 

3,14 30.5  10 3 3
 
3,14 30.5  10 
3 4

0,3  10 4 0.36198  10 6
 
89090.0425  10 9 2717246.2962  10 12
= 0.33673797 + 0.13321575
= 0.46995372 kg/m3
= 0.47 kg/m3
Sehingga massa jenis kelereng 1 yaitu sebagai berikut:
    
= (1354 ± 0.47) kg/m3
Sedangkan kesalahan relatif dari perhitungan massa jenis kelereng adalah :

KR   100%

0.47
  100%
1354
= 0.0003471196 % = 0.0003 %

Tabel Pembantu Analisis Data

No Yi (m) Xi (s) XiYi Xi2 Yi2


1 0.40 4.95 1.980 24.5025 0.1600
2 0.45 5.50 2.475 30.2500 0.2025
3 0.50 6.55 3.275 42.9025 0.2500

12
4 0.55 7.10 3.905 50.4100 0.3025
5 0.60 7.70 4.620 59.2900 0.3600
∑ 2.5 31.8 16.255 207.355 1.275

Konstanta b dapat dihitung sebagai berikut:


N X i Yi   X i Yi 
b
NX i2  X i 
2

516.255  31.82.5

5207.355  31.8
2

1.775

25.535
= 0.0695124339
= 0.07
Untuk Sy dapat dihitung sebagai berikut:

1  2 X i2 Yi   2X i  X i Yi Yi  N X i Yi  


2 2

S 
2
Yi  
N  2  NX i2  X i 
y 2


1  207.3552.5  2(31.8)16.255(2.5)  516.255 


2 2
S 
2
1.275  
52  5(207.355)  31.8
y 2

1 32.548875 
S y2  1.275 
3 25.535 

S y2 
1
1.275  1.274676914
3
= 0.0001076953
Jadi nilai Sy yaitu:

Sy  Sy
2

= 0.0001076953
= 0.0103776346
≈ 0.01

13
Simpangan baku Δb dapat dihitung sebagai berikut:

N
b  S y
NX  X i 
2 2
i

5
 0.01
5207.355  31.8
2

 0.01 0.195809673 = 0.004


Untuk koefisien viskositas rata-rata g liserin (  ) yaitu sebagai berikut:

2r 2 g     0 
 
9b


 
2 1 d g    0 
2
2

9b

 2

2 1 30.5 x10 3 9.81354  190
2

9(0.07)

215.25 x10 3  9,81164


2


90.007 

5.3057739

1.26
= 4.2109316667 Ns/m2 ≈ 4.21 Ns/m2
Simpangan baku (Δη ) dapat dihitung sebagai beerikut:

9 2
   b
2r 2 g     0 

9 2
  b
 
2 1 d g    0 
2
2

94.21
2
 
 
0.004
2 1 30.5 x10  3 9.81354  190
2

14
159.5169
  0.004
5.3057739

= 0.1202589787 Ns/m2
≈ 0.12 Ns/m2
Untuk nilai koefisien viskositas gliserin yang didapatkan yaitu sebagai berikut:
    
= ( 4.21 ± 0.12 ) Ns/m2
Perhitungan kesalahan relatif pengukurannya adalah sebagai berikut:

KR  x100%

0.12
 x100%
4.21
= 2.85035629%
= 2.9%
2. Menganalisis bola II (kelereng II)
Massa jenis kelereng I adalah sebagai berikut:
m1 = (5.52 ± 0.005) 10-3 kg
D1 = (16.0 ± 0.005) 10-3 m
m

V
m

4
3
r  3

m
 3
4 1 
 d 
3 2 

6m
 3
d
6(0.00552)

3,14(0.016) 3

15
0.03312

0.0001286144
  257.51393312

 = 257.5 kg/m3

Perhitungan untuk  adalah:

     
    m    d
 m  d  d  m

6 18m
 m   4 d
d 3
d
6 18m
 m  4 d
d 3
d



6 0,005  10 3  
 
18 5.52  10 3 0,005  10 3 

3,14 16.0  10 3 3
 
3,14 16.0  10 
3 4

0,3  10 4 0.4968  10 6
 
12861.44  10 9 205783.04  10 12
= 0.23325537 + 2.4141931
= 2.64744847 kg/m3
= 2.65 kg/m3
Sehingga massa jenis kelereng 1 yaitu sebagai berikut:
    
= (275.5 ± 2.65) kg/m3
Sedangkan kesalahan relatif dari perhitungan massa jenis kelereng adalah :

KR   100%

2.65
  100%
275.5
= 0.0096188748 % = 0,009 %

16
Tabel Pembantu Analisis Data

No Yi (m) Xi (s) XiYi Xi2 Yi2


1 0.40 1.40 0.56 1.96 0.16
2 0.45 1.65 0.7425 2.7225 0.2025
3 0.50 1.85 0.925 3.4225 0.25
4 0.55 2.05 1.1275 4.2025 0.3025
5 0.60 2.15 1.29 4.6225 0.36
∑ 2.50 9.10 4.645 16.93 1.275

Konstanta b dapat dihitung sebagai berikut:

N X i Yi   X i Yi 


b
NX i2  X i 
2

54.645  9.102.5

516.93  9.10
2

0.475

1.84
= 0.2581521739
= 0.26
Untuk Sy dapat dihitung sebagai berikut:

1  2 X i2 Yi   2X i  X i Yi Yi  N X i Yi  


2 2

S y2   iY  
N  2  NX i2  X i 
2


1  16.932.5  2(9.10)4.645(2.5)  54.645 


2 2
S y2  1.275  
52  5(16.93)  9.10
2

1 105.8125  211.3475  107.880125 
S y2  1.275  
3 1.84

S y2 
1
1.275  1.2745244565
3
= 0.0001585145
Jadi nilai Sy yaitu:

17
Sy  Sy
2

= 0.0001585145
= 0.0125902542
≈ 0.013

Simpangan baku Δb dapat dihitung sebagai berikut:

N
b  S y
NX  X i 
2 2
i

5
 0.013
516.93  9.10
2

 0.013 2.7173913043 = 0.021


Untuk koefisien viskositas rata-rata g liserin (  ) yaitu sebagai berikut:

2r 2 g     0 
 
9b


 
2 1 d g    0 
2
2

9b


2

2 1 16.00 x10 3 9.8257.5  190
2

9(0.26)

264.00  10 6  661.5

2.34
0.084672

2.34
= 0.0361846154 Ns/m2 ≈ 0.036 Ns/m2
Simpangan baku (Δη ) dapat dihitung sebagai beerikut:

9 2
   b
2r 2 g     0 

18
9 2
  b
 
2 1 d g    0 
2
2

9 2
  b
 
2 1 d g    0 
2
2

90.036
2
 
 
0.021
2 1 16.00 x10 3 9.8257.5  190
2

0.011664
  0.021
0.084672

= 0.0028928571Ns/m2
≈ 0.003Ns/m2
Untuk nilai koefisien viskositas gliserin yang didapatkan yaitu sebagai berikut:
    
= (0.036 ± 0,003) Ns/m2
Perhitungan kesalahan relatif pengukurannya adalah sebagai berikut:

KR  x100%

0.003
 x100%
0.036
= 8.3 %

I. Hasil dan Pembahasan


1. Hasil
Dari Analisis Data didapatkan besarnya koefisien kekentalan zat cair (oli) adalah
sebagai berikut:
Untuk Percobaan dengan benda1 (kelereng 1).

η = ( 4.21 ± 0.12 ) Ns/m2

19
Dengan Nilai Kesalahan Relatifnya (Kr):

Kr = 2.9 %

Untuk Percobaan dengan benda 2 (bola gelas besar).

η = (0.036 ± 0,003) Ns/m2

Dengan Nilai Kesalahan Relatifnya (Kr) :

Kr = 8.3 %

2. Pembahasan
Dari hasil analisis data yang telah dilakukan, diperoleh hasil yaitu untuk
kelereng 1 diperoleh 4.21 Ns/m2 dan untuk kelereng 2 diperoleh 0.036 Ns/m2
pada suhu 280C, sedangkan pada teori nilai visikositas yaitu 0.2 Ns/m2 pada suhu
300C. Karena visikositas berbanding terbali dengan suhu. Jika suhu naik maka
visikositas akan turun, dan begitu sebaliknya. Hal ini disebabkan karena adanya
gaya gerakan partikel-partikel cairan yang semakin cepat apabila suhu
ditingkatkan dan menurun kekentalannya. Jadi untuk percobaan yang pertama
sesuai dengan teori tapi untuk percobaan yang kedua tidak sesuai karena nilai
visikositas yang didapat seharusnya lebih besar dari nilai visikositas teorinya.
Hal ini disebabkan karena dalam melakukan percobaan terjadi kesalahan-
kesalahan yang nantinya cukup berpengaruh terhadap data hasil percobaan yang
diperoleh. Adapun kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukan oleh praktikan
adalah sebagai berikut:
1. Kesalahan umum adalah kesalahan yang terjadi karena kekeliruan praktikan.
Misalnya, kesalahan dalam pembacaan dan pemakaian instrumen. Dalam
praktikum ini terjadi beberapa kesalahan umum antara lain: kesalahan dalam
pembacaan skala dalam mengukur massa benda dengan menggunakan Neraca
ohaus, mengukur diameter bola atau kelereng dengan jangka sorong, mengukur
waktu tempuh kelereng sepanjang Y dengan Stop Watch, mengukur kekentalan
zat cair (oli) dengan Araometer Beaume, dan pembacaan skala pada tabung, serta
instrument yang lain yang digunakan dalam melakukan praktikum ini.

20
2. Kesalahan sistematis adalah kesalahan yang disebabkan oleh alat ukur atau
instrumen dan disebabkan oleh pengaruh lingkungan pada saat melakukan
praktikum. Misalnya, Neraca torsi dan jangka sorong yang titik nolnya tidak tepat
barada pada angka nol, sehingga akan mempengaruhi data yang didapatkan
sehingga hasil yang didapat menjadi kurang akurat.
3. Kesalahan acak adalah kesalahan yang disebabkan oleh hal-hal lain yang tidak
diketahui secara pasti tetapi terjadi. Misalnya, dalam melakukan perhitungan
angka-angka. Hal ini sering terjadi, tetapi tidak diketahui atau sulit diketahui.

J. Jawaban Pertanyaan
1. Pada saat bola dijatuhkan ke dalam zat cair bola akan mengalami gerak lurus
berubah beraturan (GLBB), namun lama kelamaan bola akan mengalami
gerak lurus beraturan.
2. Gesekan yang terjadi antara bola dan zat cair dipengaruhi oleh kerapatan atau
massa jenis dari zat cair sehingga semakin besar massa jenis zat air maka bola
akan bergerak semakin lambat.
3. Jika jarak tempuh bola yaitu jarak antara karet gelang bagian atas dengan
bagian bawah diubaha-ubah, maka harga Y/T akan tetap yaitu tidak berubah-
ubah. Hal ini disebabkan karena ketika suatu benda yang bermassa jenis (ρ)
dijatuhkan di atas fluida benda akan dipercepat menurut persamaan
Fs  6rv , dengan bertambahnya kecepatan bertambah pula gaya
hambatnya (gaya viskositas). Akhirnya gaya viskositas sama besar dengan
gaya gravitasi. Pada keadaan ini benda tidak di percepat lagi (a=0). Karena
benda tidak dipercepat maka benda akan bergerak turun dengan kecepatan
konstan. Jadi nilai Y/T adalah konstan.
4. Grafik T sebagai fungsi Y
a. Grafik untuk kelereng 1

21
Y (m)
Grafik T sebagai fungsi Y Kelereng I
0.7

0.6

0.5

0.4

0.3

0.2

0.1

0
4.95 5.5 6.55 7.1 7.7 T (s)

b. Grafik untuk kelereng 2

Y (m)
Grafik T sebagai fungsi Y Kelereng II
0.7

0.6

0.5

0.4

0.3

0.2

0.1

0
1.4 1.65 1.85 2.05 2.15 T (s)

5. Cara mengurangi atau memperbesar gaya gesekan zat cair dan permukaan
benda yang bersentuhan adalah dengan menentukan jenis zat cair yang
digunakan.
6. Gaya yang memberikan efek paling besar terhadap gerakan benda hingga
benda bergerak lurus beraturan yaitu gaya gesekan yang dialami benda

22
terhadap zat cair. Hal ini karena semakin besar koefisien kekentalan suatu
fluida maka semakin besar gaya gesek yang ditimbulkan oleh fluida. Sebagai
contohnya jika sebuah bola dimasukkan ke dalam fluida kental, maka
mampak mula-mula kelereng bergerak dipercepat. Tetapi beberapa saat
setelah menempuh jarah tertentu nampak kelereng bergerak dengan kecepatan
konstan (bergerak lurus beraturan). Hal ini berarti bahwa tidak hanya terdapat
gaya ke berat dan gaya apung zat cair masih ada gaya gesekkan yang terjadi
pada zat cair. Gaya gesekkan ini disebabkan oleh kekentalan fluida.

K. Simpulan dan Saran


1. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang dilakukan
percobaan ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
a. Analisis pada kelereng 1 pada percobaan ini menghasilkan nilai sebesar
(4.21 ± 0.12) Ns/m2 dengan kesalahan relatif sebesar 2.9 %. Sedangkan
analisis pada kelereng 2 menghasilkan nilai sebasar (0.036 ± 0,003)
Ns/m2 dengan kesalahan relatif sebesar 8.3%.
b. Nilai Y/T tidak akan berubah meskipun Y-nya dibuat berubah-ubah.

2. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan pada percobaan selanjutnya agar
hasil yang diperoleh bisa lebih baik dari sekarang adalah sebaiknya dalam
melakukan praktikum,praktikan lebih berhati-hati karena dalam praktikum ini
butuh ketepatan dan ketelitian yang tinggi dalam mengambil data-data dalam
pratikum ini. Selain itu, praktikan juga harus memahami terlebih dahulu
petunjuk praktikum dengan baik sebelum melakukan praktikum.

23
DAFTAR PUSTAKA

Djonoputro, Darmawan. 1977. Teori Ketidakpastian. Bandung: Universitas ITB.

Giancoli, D.C. 2001. Fisika Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

24