Anda di halaman 1dari 20

Sistem Kardiovaskuler Pada Manusia

Andre Hasiholan Simarmata

10-2010-284/E2

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

2011

Jl.Arjuna Utara no.6


Jakarta 11510
Smpk5c14@yahoo.co.id

Pendahuluan

Pengertian Kardiovaskuler adalah sistem transportasi dalam tubuh


yang berfungsi menghantarkan berbagai nutrisi , oksigen air dan elektrolit
menuju jaringan tubuh dan membawa berbagai sisa metabolisme jaringan ke
alat ekskresi . Selanjutnya juga mengangkut berbagai sisa metebolisme
jaringan ke alat ekskresi.

1
Selanjutnya juga mengangkut panas sebagai proses metabolisme sel
keseluruh tubuh serta membawa berbagai macam hormon dari kelenjar
endokroin ke organ sasaran.

Sistem kardiovaskuler terdiri dari:


 Jantung
 Pembuluh darah
 Darah
Dimana jantung berfuingsi sebagai pompa, pembuluh darah sebagai
saluran , dan juga darah sebagai media transport
Dari kasus yang diberikan pada kami melalui skenario yaitu:
Seorang ibu membawa bayinya yang berumur 1 minggu ke dokter . Ibu
tersebut mengeluh kalo bibir bayinya berwarna biru saat sedang menangis
kuat keadaan ini sudah terlihat sejak bayi dibawa pulang dari rumah sakit .
Dokter menyarankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Berdasarkan hipotesis kami , bayi tersebut mengalami sianosis yang
diakibatkan gangguan transpor O2 pada sistem hemodinamika jantung, oleh
karena itu saat ini saya akn membahas 4 elemen yang berhubungan dengan
kasus ini

Sianosis

Sianosis adalah warna kebiru-biruan pada kulit dan selaput lendir yang
terjadi akibat peningkatan jumlah absolut Hb tereduksi (Hb yang tidak
berikatan dengan O2). Sianosis biasanya tidak diketahui sebelum jumlah
absolut Hb tereduksi mencapai 5 gram per 100 ml atau lebih pada seseorang
dengan konsentrasi Hb normal (saturasi oksigen [SaO 2] kurang dari 90 %).
Jumlah normal Hb tereduksi dalam jaringan kapier adalah 2,5 gram per 100
ml. Pada orang dengan konsentrasi Hb yang normal sianosis akan pertama kali
terdeteksi pada SaO2 kira-kira 75% dan PaO2 50 mmHg atau kurang.1

2
Sianosis dapat merupakan tanda insufisiensi pernapasan, meskipun
bukan merupakan tanda yang dapat diandalkan. Penderita anemia (konsentrasi
Hb rendah) mungkin tidak pernah mengalami sianosis walaupun mereka
menderita hipoksia jaringan yang berat karena jumlah absolut Hb tereduksi
kemungkinan tidak dapat mencapai 5 gram per 100 ml. Sebaliknya, orang
yang menderita polisitemia (konsentrasi Hb yang tinggi) dengan mudah
mempunyai kadar Hb tereduksi 5 gram per 100 ml walaupun hanya
mengalami hipoksia yang ringan sekali. Faktor-faktor lain yang menyulitkan
pengenalan sianosis adalah variasi ketebalan kulit, pigmentasi dan kondisi
penerangan. Sejumlah kecil methemoglobin atau sulfhemoglobin dalam
sirkulasi dapat menimbulkan sianosis walaupun jarang terjadi. Ada banyak hal
yang mengakibatkan sianosis (dan sianosis sulit dikenali) sehingga sianosis
merupakan petunjuk insufisiensi paru yang tidak dapat diandalkan.

Ada dua jenis sianosis : sianosis sentral dan sianosis perifer. 1 Sianosis
sentral disebabkan oleh insufisiensi oksigenasi Hb dalam paru, dan paling
mudah diketahui pada wajah, bibir, cuping telinga serta bagian bawah lidah.
Selain sianosis yang disebabkan oleh insufisiensi pernapasan (sianosis
sentral), akan terjadi sianosis perifer bila aliran darah banyak berkurang
sehingga sangat menurunkan saturasi darah vena, dan akan menyebabkan
suatu daerah menjadi biru. Sianosis perifer dapat terjadi akibat insufisiensi
jantung, sumbatan pada aliran darah, atau vasokonstriksi pembuluh darah
akibat udara dingin.1

Sianosis sentral

 Saturasi oksigen arteri yang menurun


a.Menurunnya tekanan atmosfir ketinggian
b. Terganggunya fungsi paru
o Hipoventilasi alveolar
o Ketidakseimbangan antara ventilasi dan perfusi paru (perfusi dari
alveoli yang hipoventilasi)
o Difusi oksigen yang terganggu

3
c. Shunt anatomik
o Tipe tertentu penyakit jantung congenital
o Fistula arterio-venous pulmoner
o Shunt-shunt kecil intrapulmoner multipel.
d. Hemoglobin dengan afinitas oksigen yang rendah.1
 Abnormalitas Hemoglobin
a.Methemoglobinemia herediter
b. Sulfhemoglobinemia
c. Karboksihemoglobinemia (bukan sianosis yang sesungguhnya)

Sianosis perifer

 Berkurangnya cardiac output


 Paparan dingin
 Redistribusi aliran darah dari ekstremitas
 Obstruksi arterial
 Obstruksi vena

Sianosis Sentral

Penurunan saturasi oksigen arterial terjadi akibat pengurangan yang


nyata pada tekanan oksigen di dalam darah arterial. Keadaan ini dapat terjadi
dengan adanya penurunan tekanan oksigen di dalam udara inspirasi tanpa
hiperventilasi alveoler kompensatif yang cukup untuk mempertahankan
tekanan oksigen alveoler. 2
Fungsi paru yang terganggu dengan serius, melalui hipoventilasi atau
perfusi alveolar pada daerah paru yang ventilasinya jelek, merupakan
penyebab sianosis sentral yang sering ditemukan. Keadaan ini dapat terjadi
secara akut seperti pada pneumonia yang luas atau edema pulmonalis, atau
pada penyakit paru kronik misalnya emfisema. Pada keadaan tertentu,
polisitemia umumnya ada, dan clubbing jari dapat terjadi. Bagaimanapun,
pada banyak tipe penyakit paru kronik dengan fibrosis dan obliterasi bantalan
vaskuler kapiler, sianosis tidak terjadi karena terdapat sedikit perfusi area yang
mengalami ventilasi.1-2

4
Penyebab lainnya yang menimbulkan penurunan saturasi oksigen
arterial adalah pintasan darah dari sistem vena sistemik ke dalam sirkuit
arterial. Bentuk-bentuk tertentu penyakit jantung kongenital akan disertai
dengan sianosis. Karena darah mengalir dari daerah yang bertekanan tinggi ke
daerah yang bertekanan rendah, maka agar pada defek jantung terjadi pintasan
kanan ke kiri, keadaan ini biasanya harus disertai dengan lesi obstruktif di
sebelah distal defek tersebut atau dengan kenaikan resistensi vaskuler
pulmonalis. Kelainan jantung kongenital yang paling sering ditemukan dengan
sianosis pada orang dewasa adalah kombinasi ventrikular septal defek dengan
obstruksi saluran keluar pulmonalis (tetralogi fallot). Semakin parah obstruksi,
semakin besar derajat pintasan kanan ke kiri dan sianosis resultan. Mekanisme
untuk peningkatan resistensi vaskuler paru yang dapat menimbulkan sianosis
pada keadaan adanya komunikasi ekstrakardiak dan intrakardiak tanpa
stenosis pulmonalis.

Sianosis dapat disebabkan oleh methemoglobin yang terdapat dalam


jumlah kecil di dalam darah dan oleh sulfhemoglobin dengan jumlah yang
lebih kecil lagi. Meskipun merupakan penyebab sianosis yang jarang
dijumpai, pigmen hemoglobin yang abnormal ini harus dicari lewat
pemeriksaan spektroskopi kalau gejala sianosis bukan disebabkan oleh
malfungsi sistem sirkulasi ataupun respirasi.1

Sianosis Perifer

Penyebab sianosis perifer adalah penurunan curah jantung, terkena


hawa dingin, redistribusi aliran darah dari ekstremitas, obstruksi arterial, dan
obstruksi vena.

Barangkali penyebab sianosis perifer yang paling sering ditemukan


adalah vasokonstriksi generalisata yang terjadi akibat terkena air atau udara
dingin. Keadaan ini merupakan respons yang normal. Kalau curah jantungnya
rendah, seperti yang terlihat pada gagal jantung kongestif atau pada keadaan
syok, vasokonstriksi kulit akan terjadi sebagai mekanisme kompensasi agar

5
aliran darah dapat dialihkan dari kulit ke bagian yang lebih vital seperti sistem
saraf pusat serta jantung. Pada keadaan ini terjadi sianosis intensif yang
disertai dengan ekstremitas yang dingin. Meskipun darah arterial mengalami
saturasi secara normal, namun berkurangnya aliran darah yang melewati kulit
dan menurunnya tekanan oksigen pada ujung vena sistem kapiler akan
mengakibatkan sianosis.2

Obstruksi pembuluh arteri pada ekstremitas sebagaimana yang terjadi


dengan emboli atau pun konstriksi arteriol, seperti pada vasospasme yang
timbul karena hawa dingin, umumnya akan menimbulkan gejala pucat dan
dingin tetapi dapat disertai dengan sianosis. Bila terdapat obstruksi pada
pembuluh vena dan kongesti ekstremitas, sebagaimana yang terjadi pada
stagnasi aliran darah, sianosis juga ditemukan. Hipertensi vena yang bisa lokal
seperti pada tromboflebitis atau sistemik seperti pada penyakit katup
trikuspidal atau pada perikarditis konstriktif akan menimbulkan dilatasi
pleksus pembuluh vena subpapilaris dan dengan demikian memperbesar gejala
sianosis.

Sianosis sejak lahir berkaitan dengan penyakit jantung kongenital.


Sianosis yang timbul akut dapat terjadi pada penyakit saluran pernapasan yang
berat, terutama obstruksi akut pada saluran napas. Pada pasien dengan anemia
berat, di mana kadar hemoglobin turun secara bermakna, sianosis mungkin
tidak dijumpai.1-2

Hemodinamika

Sirkulasi paru

6
Darah yang kembali dari sirkulasi sistemik (dari seluruh tubuh) masuk
ke atrium kanan melalui vena besar yang dikenal sebagai vena kava. Darah
tersebut telah diambil O2-nya dan ditambahi dengan CO2. Darah yang miskin
akan oksigen tersebut mengalir dari atrium kanan melalui katup trikuspidalis
ke ventrikel kanan, yang memompanya keluar melalui arteri pulmonalis ke
paru.3 Dengan demikian, sisi kanan jantung memompa darah yang miskin
oksigen ke sirkulasi paru. Di dalam paru, darah akan kehilangan CO 2-nya dan
menyerap O2 segar sebelum dikembalikan ke atrium kiri melalui vena
pulmonalis. Darah kaya oksigen yang kembali ke atrium kiri ini melalui katup
bikuspid atau mitral kemudian mengalir ke dalam ventrikel kiri , bilik pompa
yang memompa atau mendorong darah ke semua sistim tubuh kecuali paru.3

Sirkulasi sistemik

Darah kaya oksigen kemudian mengalir ke dalam ventrikel kiri, bilik


pompa yang memompa atau mendorong darah ke semua sistim tubuh kecuali
paru melalui arteri besar yang membawa darah menjauhi ventrikel kiri yag
disebut aorta. Aorta bercabang menjadi arteri besar dan mendarahi berbagai
jaringan tubuh.

Darah arteri yang sama tidak mengalir dari jaringan ke jaringan.


Jaringan akan mengambil O2 dari darah dan menggunakannya untuk
menghasilkan energi. Dalam prosesnya, sel-sel jaringan akan membentuk CO2
sebagai produk buangan atau produk sisa yang ditambahkan ke dalam darah.
Kemudian darah yang menjadi kekurangan O2 dan mengandung CO2 berlebih
akan kembali ke sisi kanan jantung dan memasuki siklus paru. Selesailah satu
siklus dan terus menerus berulang siklus yang sama setiap saat.4

Kedua sisi jantung akan memompa darah dalam jumlah yang sama.
Volume darah yang beroksigen rendah yang dipompa ke paru oleh sisi jantung
kanan memiliki volume yang sama dengan darah beroksigen tinggi yang
dipompa ke jaringan oleh sisi kiri jantung. Sirkulasi paru adalah sistim yang
memiliki tekanan dan resistensi rendah, sedangkan sirkulasi sistemik adalah
sistim yang memiliki tekanan dan resistensi yang tinggi. Oleh karena itu,

7
walaupun sisi kiri dan kanan jantung memompa darah dalam jumlah yang
sama, sisi kiri melakukan kerja yang lebih besar karena ia memompa volume
darah yang sama ke dalam sistim dengan resistensi tinggi. Dengan demikian
otot jantung di sisi kiri jauh lebih tebal daripada otot di sisi kanan sehingga
sisi kiri adalah pompa yang lebih kuat.3-4

Darah mengalir melalui jantung dalam satu arah tetap yaitu dari vena
ke atrium ke ventrikel ke arteri. Adanya empat katup jantung satu arah
memastikan darah mengalir satu arah. Katup jantung terletak sedemikian rupa
sehingga mereka membuka dan menutup secara pasif karena perbedaan
gradien tekanan. Gradien tekanan ke arah depan mendorong katup terbuka
sedangkan gradien tekanan ke arah belakang mendorong katup menutup.4

Sirkulasi darah

Sirkulasi darah janin

Peredaran darah terjadi pada janin dalam kandungan agak berlainan


dengan perdaran darah orang yang telah dilahirkan atau orang dewasa.
Keistimewaan perdaran darah janin dalam kandungan yaitu oksigen dan zat
makanan yang diperlukan diambil dari darah ibu.3

Hal ini dimungkinkan karena adanya hal-hal berikut ini :

a. Foramen ovale : lubang diantara atrium deksra dan atrium sinistra.


Lubang ini akan tertutup sesudah bayi lahir.
b. Dustus ateriosus botalli : pembuluh darah yang menghubungkan
arteri pulmonalis dengan aorta.
c. Duktus venosus : pembuluh darah yang menghubungkan
umbilikalis dengan vena kava inferior.
d. Plasenta : jaringan dinding rahim yang banyak mempunyai jonjot
mengandung pembulu darah yang berfungsi sebagai tempat pertukaran zat,
dimana zat yang di perlukan akan diambil dari darah ibu dan yang tidak
berguna akan dikeluarkan. Plasenta terbentuk kira-kira minggu kedelapan
yang menempel pada endometriumdan terikat kuat sampai bayi lahir.3
Fungsi plasenta :

8
 Menydiakan makanan untuk janin dalam kandungan yang di ambil
dari darah ibu,
 Bekerja sebagai paru-paru fetus dengan menyediakan oksigen pada
janin dalam kandungan,
 Menyingkirkan sisa pembakaran dari janin,
 Penghalang mikroorganisme penyakit masuk ke dalam janin.
e. vena umbilikasis : yaitu pembulu darah yang membawa darah dari
plasenta ke peredaran darah janin. Darah yang dibawa oleh vena umbilikasis
banyak mengandung zat makanan dan oksigen .
f. arteri umbilikasis : pembulu darah yang membawa darah janin ke
plasenta jumlahnya sua buah. Kedua pebulu darah ini membawa zat sisa
makanan dan karbon sioksida dari tubuh bayi ke dalam plsenta. Arteri dan
vena umbilikasis tebungkus menjadi satu dalam satu saluran yang disebut
duktus umbilikasis atau tali pusat.3

Jalannya peredaran darah dari plasenta melalui vena umbilikalis, darah


yang banyak mengandung zat makanan dan oksigen dialirkan kedalam tubuh
janin melalui vena kava inferior dan vena porta menuju atrium dekstra.

Dari atrium sinistra melalui foramen ovale. Darah yang berasal dari
ventrikel sinistra diedarkan ke seluruh tubuh dan dari ventrikel dekstra melalui
arteri pulmonalis menuju paru-paru, karena paru-paru belum bekerja maka
darah dari arteri pulmonalis tersebut malalui duktus arteriosus botali masuk ke
aorta dan diedarkan ke seluruh tubuh.

Darah yang telah digunakan oleh janin banyak mengandung zat-zat


sisa pembakaran dan sisa makanan. Darah ini berjalan melalui arteri aliaka
interna masuk ke arteri umbilikalis melalui duktus umbilikalis masuk ke
plasenta.4

Perubahan pada waktu bayi lahir

Pada saat lahir, bayi akan segera menagis dengan kuat sambil bernafas
sehingga udara akan diisap ke paru-paru. Pada saat itu paru-paru mengmbang
dan terjadilah perubahan yang besar dalam tubuh bayi.

9
Saat paru-paru mengembang akan menarik darah dari arteri pulmonalis
sehingga duktus arterius botali tertutup. Pada saat darah mengalir ke paru-
paru, oksigen yang terkandung dalam darah akan diidap masuk ke ruang
alveoli sedangkan korbon dioksiada akan dikeluarkan aleh paru-paru melalui
jalan pernafasan.3

Darah yang sudah dibersikan oleh paru-paru akan dialikan ke vena


pulmonalis menyebabkan septum antara atrium dekstra dan atrium sinistra
mendapat tekanan yang kuat sehingga klep yang terdapat pada foramen ovale
tertutup. Pada saat tali pusat diikat dan di potong, hubungan perdaran darah
antara bayi dan ibu terputus.3

Jantung

Jantung merupakan organ utama dalam system kardiovaskuler. Jantung


dibentuk oleh organ-organ muscular, apex dan basis cordis, atrium kanan dan
kiri serta ventrikel kanan dan kiri. Ukuran jantung kira-kira panjang 12 cm,
lebar 8-9 cm serta tebal kira-kira 6 cm. Berat jantung sekitar 7-15 ons atau 200
sampai 425 gram dan sedikit lebih besar dari kepalan tangan. Setiap harinya
jantung berdetak 100.000 kali dan dalam masa periode itu jantung memompa
2000 galon darah atau setara dengan 7.571 liter darah.5

Posisi jantung terletak diantar kedua paru dan berada ditengah tengah
dada, bertumpu pada diaphragma thoracis dan berada kira-kira 5 cm di atas
processus xiphoideus. Pada tepi kanan cranial berada pada tepi cranialis pars
cartilaginis costa III dextra, 1 cm dari tepi lateral sternum. Pada tepi kanan
caudal berada pada tepi cranialis pars cartilaginis costa VI dextra, 1 cm dari
tepi lateral sternum. Tepi kiri cranial jantung berada pada tepi caudal pars
cartilaginis costa II sinistra di tepi lateral sternum, tepi kiri caudal berada pada
ruang intercostalis 5, kira-kira 9 cm di kiri linea midclavicularis.5

Ruang dalam jantung dibagi menjadi 4, yaitu :

1. Atrium Kanan (Serambi Kanan)

10
Atrium kanan yang berdinding tipis ini berfungsi sebagai tempat
penyimpanan darah dan sebagai penyalur darah dari vena-vena sirkulasi
sistemik yang mengalir ke ventrikel kanan. Darah yang berasal dari pembuluh
vena ini masuk ke dalam atrium kanan melalui vena kava superior, vena kava
inverior dan sinus koronarius. Dalam muara vena kava tidak terdapat katup -
katup sejati. Yang memisahkan vena kava dari atrium jantung ini hanyalah
lipatan katup atau pita otot yang rudimenter. Oleh karena itu, peningkatan
tekanan atrium kanan akibat bendungan darah di sisi kanan jantung akan
dibalikan kembali ke dalam vena sikulasi sistemik. Sekitar 75% aliran balik
vena kedalam atrium kanan akan mengalir secara pasif kedalam ventrikel
kanan melalui katup trikuspidalis. 25% sisanya akan mengisi ventrikel selama
kontraksi atrium. Pengisian ventrikel secara aktif ini disebut atrialkick.
Hilangnya atrialkick pada disritmia jantung dapat menurunkan pengisian
ventrikel sehingga menurunkan curah ventrikel.5

2. Ventrikel Kanan ( Bilik Kanan)

Pada kontraksi ventrikel, setiap ventrikel harus menghasilkan kekuatan


yang cukup besar untuk dapat memompa darah yang diterimanya dari atrium
ke sirkulasi pulmonar maupun sirkulasi sistemik. Ventrikel kanan berbentuk
bulan sabit yang unik, guna menghasilkan kontraksi bertekanan rendah yang
cukup untuk mengalirkan darah kedalam arteria pulmonalis. Sirkulasi paruh
merupakan sistem aliran darah bertekanan rendah, dengan resistensi yang jauh
lebih kecil terhadap aliran darah ventrikel kanan, dibandingkan tekanan tinggi
sirkulasi sistemik terhadap aliran darah dari ventrikel kiri. Oleh karena itu,
beban kerja ventrikel kanan jauh lebih ringan dari pada ventrikel kiri.
Akibatnaya, tebal dinding ventrikel kanan hanya 1/3 dari dinding ventrikel
kiri. Untuk menghadapi tekanan paru yang meningkat secara perlahan, seperti
pada kasus hipertensi pulmonar progresif maka sel otot ventrikel kanan
mengalami hipertrofi untuk memperbesar daya pompa agar dapat mengatasi
peningkatn resistensi pulmonar, dan dapat mengosongkan ventrikel. Tetapi
pada kasus resistensi paru yang meningkat secara akut (seperti pada emboli

11
paru masif) maka kemampuan pemompaan venrikel kanan tidak cukup kuat
sehingga dapat tejadi kematian.5

3. Atrium Kiri (Serambi Kiri)

Atrium kiri menerima darah teroksigenasi dari paru-paru melalui


keempat vena pulmonalis. Antara vena pumonalis dan atrium kiri tidak
terdapat katup sejati. Oleh karena itu, perubahan tekanan atrium kiri mudah
membalik secara retrograd ke dalam pembuluh paru-paru. Peningkatan akut
tekanan atrium kiri akan menyebabkan bendungan paru. Atrium kiri memiliki
dinding yang tipis dan bertekanan rendah. Darah mengalir dari atrium kiri ke
dalam ventrikel kiri melalui katup mitralis.5

4. Ventrikel Kiri (Bilik Kiri)

Ventrikel kiri menghasilkan tekanan yang cukup tinggi untuk


mengatasi tahanan sirkulsi sistemik, dan mempertahankan aliran darah ke
jaringan perifer. Ventrikel kiri mempunyai otot-otot yang tebal dengan bentuk
yang menyerupai lingkaran sehingga mempermudah pembentukan tekanan
tinggi selama ventrikel berkontraksi. Bahkan sekat pembatas kedua ventrikel
(septum interventrikularis) juga membantu memperkuat tekanan ynang
ditimbulkan oleh seluruh ruang ventrikel selama kontraksi. Pada saat
kontraksi, tekanan ventrikel kiri meningkat sekitar lima kali lebih tinggi dari
pada ventrikel kanan; bila ada hubungan abnormal antara kedua ventrikel
maka darah akan mengalir dari kiri ke kanan melalui robekan tersebut.
Akibatnaya terjadi penurunan jumlah aliran darah dari ventrikel kiri melalui
katup aorta ke dalam aorta.6

Darah mengalir melalui jantung dalam satu arah tetap dari vena ke
atrium ke ventrikel ke arteri. Adanya empat katup jantung satu arah
memastikan darah mengalir satu arah. Katup-katup terletak sedemikian rupa
sehingga mereka membuka dan menutup secara pasif karena perbedaan
tekanan, serupa dengan tekanan pintu satu arah. Gradient tekanan ke arah
depan mendorong katup terbuka, seperti anda membuka pintu dengan

12
mendorong salah satu sisinya, sementara gradient tekanan ke arah belakang
mendorong katup menutup, seperti anda mendorong ke pintu sisi lain yang
berlawanan untuk menutupnya. Perhatikan bahwa gradient ke arah belakang
dapat mendorong katup menutup, tetapi tidak dapat membukanya.5-6

Keempat katup jantung berfungsi untuk mempertahankan aliran darah


searah melalui bilik-bilik jantung. Ada 2 jenis katup : katup antrioventrikularis
(AV), yang memisahkan atrium dengan ventrikel dan katup semilunaris, yang
memisahkan arteria pulmonalis dan aorta dari ventrikel yang bersangkutan.
Katup - katup ini membuka dan menutup secara pasif, menanggapi tekanan
dan volume dalam bilik dan pembuluh darah jantung.5

Katup atrioventrikularis terdiri dari katup trikuspidalis dan katub


mitralis. Daun-daun katup atrioventrikularis halus tetapi tahan lama. Katup
trikuspidalis yang terletak antara atrium dan ventrikel kanan mempunyai 3
buah daun katup. Katup mitralis yang memisahkan atrium dan ventrikel kiri,
merupakan katup bikuspidalis dengan dua buah daun katup. Daun katup dari
kedua katup ini tertambat melalui berkas-berkas tipis jaringan fibrosa yang
disebut kordatendinae. Kordatendinae akan meluas menjadi otot kapilaris,
yaitu tonjolan otot pada dinding ventrikel. Kordatendinae menyokong katup
pada waktu kontraksi ventrikel untuk mencegah membaliknya daun katup ke
dalam atrium. Apabila kordatendinae atau otot papilaris mengalami gangguan,
darah akan mengalir kembali ke dalam atrium jantung sewaktu ventrikel
berkontraksi.5

Sedangkan pada kedua katup semilunaris sama bentuknya; katup ini


terdiri dari 3 daun katup simetris yang menyerupai corong yang tertambat kuat
pada annulus fibrosus. Katup aorta terletak antara ventrikel kiri dan aorta,
sedangkan katup pulmonalis terletak antara ventrikel kanan dan arteria
pulmonalis. Katup semilunaris mencegah aliran kembali darah dari aorta atau
arteria pulmonalis ke dalam ventrikel, sewaktu ventrikel dalam keadaan
istirahat. Tepat di atas daun aorta, terdapat kantung menonjol dari dinding

13
aorta dan arteria pulmonalis, yang disebut sinus valsalva. Muara arteria
koronaria terletak di dalam kantung-kantung tersebut. Sinus-sinus ini
melindungi muara koronaria tersebut dari penyumbatan oleh daun katup, pada
waktu katup aorta terbuka.5-6

2 kelompok pembuluh darah utama yang mengalirkan darah dari dan


ke jantung:5

1. Pembuluh Pulmonaris.5-6
2. Pembuluh Sistemik5-6

Pembuluh pulmonaris:


arteri pulmonaris –> mengangkut darah “kotor” dari
ventrikel kanan ke paru-paru.6

vena pulmonaris –> mengangkut darah “bersih” dari paru-
paru ke atrium kiri.6

–> Paru-paru tempat pertukaran gas CO2 dan O2

Pembuluh sistemik:

Arteri sistemik : membawa darah “bersih” dari ventrikel kiri ke


sirkulasi sistemik melalui aorta, cabang-cabang aorta:

 a. koronaria : ke jantung
 a. karotis : ke leher, kepala dan otak

 a. subklavia : ke lengan dan daerah dada

 a. abdominalis: ke organ-organ abdomen

 a. iliofemoralis: ke panggung dan tungkai

14
Vena sistemik : membawa darah “kotor” kembali ke atrium kanan
melalui vena kava superior dan vena kava inferior

–> vena yang bermuara ke v. kava superior:

 v. jugular : dari kepala


 v.subklavia dan inominatum: dari lengan dan dada

–> vena yang bermuara ke v. kava inferior : v. iliofemoralis: dari


tungkai dan panggul.6

Transport gas O2 dan Co2

Kemampuan oksigenasi pada jaringan sangat dipengaruhi oleh fungsi


jantung untuk memompa darah sebagai transpor oksigen.1 Darah masuk ke
atrium kiri dari vena pulmonaris. Aliran darah keluar dari ventrikel kiri
menuju aorta melalui katup aorta. Kemudin dari aorta darah disalurkanke
seluruh sirkulasi sistemik melalui arteri, arteriol, dan kapiler serta menyatu
kembali membentuk vena yang kemudian di alirkan ke jantung melalui atrium
kanan. Darah dari atrium kanan masuk dalam ventrikel kanan melalui katup
trikuspidalis kemudian keluar ke arteri pulmonaris melalui katup pulmonaris
untu kemudian dialirkan ke paru-paru kanan dan kiri untuk berdifusi. Darah
mengalir di dalam vena pulmonaris kembali ke atrium kiri dan bersirkulasi
secara sistemik. Sehingga tidak adekuatnya sirkulasi sistemik berdampak pada
kemampuan transpor gas oksigen dan karbondioksida.1

Oksigen membutuhkan transpor dari paru-paru ke jaringan dan


karbondioksida dari jaringan ke paru-paru. Sekitar 97% oksigen dalam darah
dibawa eritrosit yang telah berikatan dengan hemoglobin (Hb) dan 3% oksigen
larut dalam plasma. Setiap sel darah merah mengandung 280 juta molekul Hb
dan setiap molekul dari keempat molekul besi dalam hemoglobin berikatan
dengan satu molekul oksigen membentuk oksihemoglobin (HbO2). Reaksi
pengikatan Hb dengan O2 adalah Hb + O2 - HbO2. Afinitas atau ikatan Hb

15
dengan O2 dipengaruhi oleh suhu, pH, konsentrasi 2,3 difosfogliserat dalam
darah merah. Dengan demikian besarnya Hb dan jumlah eritrosit akan
mempengaruhi transpor gas.1

Selama inspirasi udara mengalir dari atmosfir ke alveoli. Selama


ekspirasi sebaliknya udara yg masuk ke dalam alveoli mempunyai suhu dan
kelembaban atmosfir. Udara yg dihembuskan jenuh dengan uap air dan
mempunyai suhu sama dengan tubuh.7

Difusi merupajkan proses dimana terjadi pertukaran O2 dan CO2 pada


pertemuan udara-darah. Tempat difusi yg ideal yaitu di membran alveolar-
kapilar karena permukaannya luas dan tipis.

Pertukaran gas antara alveoli dan darah terjadi secara difusi. Tekanan
parsial O2 (PaO2) dalam alveolus lebih tinggi dari pada dalam darah ; O2 dari
alveolus ke dalam darah.

Sebaliknya (PaCO2) darah > (PaCO2) alveolus. Perpindahan gas


tergantung pada luas permukaan dan ketebalan dinding alveolus.

O2 perlu ditrasport dari paru-paru ke jaringan dan CO2 harus


ditransport kembali dari jaringan ke paru-paru.

Beberapa faktor yg mempengaruhi dari paru ke jaringan :

- Cardiac out put

- Jumlah eritrosit

- Exercise

- Hematokrot darah, akan meningkatkan vikositas darah

=> menurunkan CO

=> mengurangi transport O2.

Perfusi pulmonal adalah aliran darah aktual melalui sirkulasi pulmonal.

16
O2 diangkut dlm darah;dalam eritrosit bergabung dgn Hb ; (oksi Hb) /
Oksihaemoglobin (98,5%) dalam plasma sbg O2 yg larut dlm plasma (1,5%)
CO2 dlm darah ditrasport sbg bikarbonat.Dalam eritosit sbg natrium
bikarbonat.Dalam plasma sbg kalium bikarbonat.Dalam larutan bergabung
dengan Hb dan protein plasma.4

5 – 7 % => C02 larut dalam plasma

15 – 20 % =>Carbamoni Hb (carbamate) => HbNHCO3

Hb + CO2 HbC0

60 – 80% =>bikarbonat => HCO3

CO2 + H2O H2CO3 - H+ + CO3

Jumlah oksigen yang diambil melalui udara pernapasan tergantung


pada kebutuhan dan hal tersebut biasanya dipengaruhi oleh jenis pekerjaan,
ukuran tubuh, serta jumlah maupun jenis bahan makanan yang dimakan.4

Pekerja-pekerja berat termasuk atlit lebih banyak membutuhkan


oksigen dibanding pekerja ringan. Demikian juga seseorang yang memiliki
ukuran tubuh lebih besar dengan sendirinya membutuhkan oksigen lebih
banyak. Selanjutnya, seseorang yang memiliki kebiasaan memakan lebih
banyak daging akan membutuhkan lebih banyak oksigen daripada seorang
vegetarian.7

Dalam keadaan biasa, manusia membutuhkan sekitar 300 cc oksigen


sehari (24 jam) atau sekitar 0,5 cc tiap menit. Kebutuhan tersebut berbanding
lurus dengan volume udara inspirasi dan ekspirasi biasa kecuali dalam
keadaan tertentu saat konsentrasi oksigen udara inspirasi berkurang atau
karena sebab lain, misalnya konsentrasi hemoglobin darah berkurang.

Oksigen yang dibutuhkan berdifusi masuk ke darah dalam kapiler


darah yang menyelubungi alveolus. Selanjutnya, sebagian besar oksigen diikat

17
oleh zat warna darah atau pigmen darah (hemoglobin) untuk diangkut ke sel-
sel jaringan tubuh.

Hemoglobin yang terdapat dalam butir darah merah atau eritrosit ini
tersusun oleh senyawa hemin atau hematin yang mengandung unsur besi dan
globin yang berupa protein.8

Pertukaran O2 dan CO2 antara alveolus dan pembuluh darah yang


menyelubungi.Secara sederhana, pengikatan oksigen oleh hemoglobin dapat
diperlihat-kan menurut persamaan reaksi bolak-balik berikut ini :

Hb4 + O2 4 Hb O2 (oksihemoglobin)=>berwarna merah jernih

Reaksi di atas dipengaruhi oleh kadar O2, kadar CO2, tekanan O2 (P


O2), perbedaan kadar O2 dalam jaringan, dan kadar O2 di udara. Proses difusi
oksigen ke dalam arteri demikian juga difusi CO2 dari arteri dipengaruhi oleh
tekanan O2 dalam udara inspirasi.

Tekanan seluruh udara lingkungan sekitar 1 atmosfir atau 760 mm Hg,


sedangkan tekanan O2 di lingkungan sekitar 160 mm Hg. Tekanan oksigen di
lingkungan lebih tinggi dari pada tekanan oksigen dalam alveolus paru-paru
dan arteri yang hanya 104 mm Hg. Oleh karena itu oksigen dapat masuk ke
paru-paru secara difusi.4,7

Dari paru-paru, O2 akan mengalir lewat vena pulmonalis yang tekanan


O2 nya 104 mm; menuju ke jantung. Dari jantung O2 mengalir lewat arteri
sistemik yang tekanan O2 nya 104 mm hg menuju ke jaringan tubuh yang
tekanan O2 nya 0 - 40 mm hg. Di jaringan, O2 ini akan dipergunakan. Dari
jaringan CO2 akan mengalir lewat vena sistemik ke jantung. Tekanan CO2 di
jaringan di atas 45 mm hg, lebih tinggi dibandingkan vena sistemik yang
hanya 45 mm Hg. Dari jantung, CO2 mengalir lewat arteri pulmonalis yang
tekanan O2 nya sama yaitu 45 mm hg. Dari arteri pulmonalis CO2 masuk ke
paru-paru lalu dilepaskan ke udara bebas.

18
Setiap 100 mm3 darah dengan tekanan oksigen 100 mm Hg dapat
mengangkut 19 cc oksigen. Bila tekanan oksigen hanya 40 mm Hg maka
hanya ada sekitar 12 cc oksigen yang bertahan dalam darah vena. Dengan
demikian kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen adalah 7 cc per
100 mm3 darah.1

Pengangkutan sekitar 200 mm3 C02 keluar tubuh umumnya


berlangsung menurut reaksi kimia berikut:

C02 + H20 => (karbonat anhidrase) H2CO3

Tiap liter darah hanya dapat melarutkan 4,3 cc CO2 sehingga


mempengaruhi pH darah menjadi 4,5 karena terbentuknya asam karbonat.

Pengangkutan CO2 oleh darah dapat dilaksanakan melalui 3 Cara


yakni sebagai berikut.

1. Karbon dioksida larut dalam plasma, dan membentuk asam karbonat


dengan enzim anhidrase (7% dari seluruh CO2).

2.Karbon dioksida terikat pada hemoglobin dalam bentuk karbomino


hemoglobin (23% dari seluruh CO2).

3.Karbon dioksida terikat dalam gugus ion bikarbonat (HCO3) melalui


proses berantai pertukaran klorida (70% dari seluruh CO2). Reaksinya adalah
sebagai berikut.1

CO2 + H2O => H2CO3 => H+ + HCO-3

Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat dari kasus ini kebiruan pada bibir bayi
disebabkan oleh sianosis. Sianosis yang diderita nya merupakan sianosis
sentral dimana hal ini terjadi akibat gangguan pada hemodinamika jantung,
atau adanya penyempitan pembuluh darah dan pada sistem respirasi misalnya

19
akibat hipoventilasi.oleh karena itu sangat penting untuk mempelajari sistem
kerja jantung,anatomi jantung,siklus yang terjadi dan sistem sirkulasinya agarr
dapat membantu dalam proses pengobatan kelak.

Daftar pustaka

1. Isselbacher KJ,et al.Harrison prinsip-prinsip ilmu penyakit


dalam.Jakarta:EGC;1999.h.208-13,

2. Price SA,Wilson LM.Pathophysiology.edisi 6.volume 2.Jakarta:EGC;2006.

3.Kliegman RM,Arvin AM.Ilmu kesehatan anak nelson.volume 2.Jakarta:EGC


2009. h.1544-00

4.Sherwood L. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Ed.2. Jakarta: EGC,


2001.h.257-78.

5. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC, 2003.h.227-31.


6.Cambridge communication limited.Sistem pernapasan dan sostem
kardiovaskuler.Jakarta:EGC;1998.h.27-48

7.Djojodibroto RD.Respirologi..Jakarta:EGC 2009. h.5-46.

8.Setyawati T Purqonita .Biologi interaktif XI.Jakarta :Azka Press ;2007.p.137-9

20