Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN LENGKAP

PRAKTIKUM ILMU REPRODUKSI TERNAK


(ANATOMI ORGAN REPRODUKSI TERNAK SAPI BETINA)

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan


Mata Kuliah Ilmu Reproduksi Ternak pada Jurusan
Ilmu Peternakan Fakultas Sains Dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Alauddin
Makassar

Oleh:

DEWI RESFITA SARI


60700116006

LABORATORIUM PETERNAKAN
JURUSAN ILMU PETERNAKAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Reproduksi merupakan salah satu kemampuan hewan yang sangat

penting. Tanpa kemampuan tersebut, suatu jenis hewan akan punah. Oleh karena

itu, perlu dihasilkan sejumlah besar individu baru yang akan mempertahankan

jenis suatu hewan. Proses pembentukan individu baru inilah yang disebut

reproduksi (Urogenital). Reproduksi dapat terjadi secara generative atau

vegetative. Reproduksi secara vegetative tidak melibatkan proses pembentukan

gamet, sedangkan reproduksi generative diawali dengan pembentukan gamet. Di

dalam gamet terkandung unit hereditas (faktor yang diturunkan) yang disebut gen

(Partodiharjo, 1980).

Reproduksi adalah naluri setiap organisme untuk beranak-pinak. Ciri etik

individu makhluk hidup ialah bahwa umurnya terbatas, dan pada suatu ketika

akan menjadi tua kemudian mati karena suatu faktor, baik itu parasit, pemangsa

atau sebagainya. Karena itu perlu suatu perkembangan baru untuk mengganti

reputasi yang telah tiada. Jadi kelangsungan hidup individu sebagian ditunjukkan

untuk memenuhi kemampuan reproduksi yang mutlak bagi kelstarian spesies. Alat

kelamin betina terdiri dari dua buah ovari, dua buah tuba uterin (fallopi), uterus,

vagina, vulva). Secara anatomi alat reproduksi hewan betina terdiri (gonad)

ovarium, saluran reproduksi (oviduct, uterus, cervix, dan vagina) alat reproduksi
luar (vulva dan clitoris). Pada mamlia yang dilengkapi organ kelamin luar (vulva)

(Mozez, 2006).

Adapun yang melatar belakangi dilakukannya praktikum ini yaitu untuk

mengetahui ukuran dan bentuk anatomi dari bagian-bagian organ kelamin betina

serta mengetahui fungsi dari masing-masing bagian tersebut.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari praktikum ini yaitu bagaimana ukuran dari

bagian-bagian organ kelamin betina serta mengetahui fungsi dari masing-masing

bagian tersebut?

C. Tujuan Praktikum

Tujuan dilakukannya praktikum yaitu untuk mengetahui ukuran dari

bagian-bagian organ kelamin betina serta mengetahui fungsi dari masing-masing

bagian tersebut.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gambaran Umum

Reproduksi hewan betina adalah suatu proses yang kompleks yang

melibatkan seluruh tubuh hewan itu. Sistem reproduksi akan berfungsi bila

makhluk hidup khususnya hewan ternak dalam hal ini sudah memasuki sexual

maturity atau dewasa kelamin. Setelah mengalami dewasa kelamin, alat-alat

reproduksinya akan mulai berkembang dan proses reproduksi dapat berlangsung

baik ternak jantan maupun betina. (Wodzicka, 1991).

Ovarium bentuknya biasanya bulat telur atau bulat tetapi kadang-kadang

pipih berhubung dengan pembentukan folikel dan corpoa lutea. Ukuran normal

ovari sangat bervariasi dari satu spesies ke spesies lain bahkan antara spesies juga

terdapat varisasi. Besar dan bentuk ovaria sering berubah. Ovarium umumnya

berukuran panjang 32-42 mm, tinggi 19-32 mm dan lebar 13-19 mm dengan berat

10-19 gr. Pada anak sapi ovarium kiri lebih besar dibanding dengan ovarium

kanan, sedangkan pada sapi dewasa ovarium kanan lebih besar. Sebagian besar

dari permukaan ovarium diliputi oleh lapisan epitel lembaga, ova dapat dilepaskan

dari setiap tempat pada permukaan ovarium. Medulla ovarium mengandung

pembuluh darah , syaraf dan tenunan pengikat (Saliasbury, 1985).

Ovarium sapi lebih kecil dari pada kuda. Dan ovarium kanan biasanya

lebih besar dari pada yang kiri. Berbentuk oval, tidak mempunyai fossa ovarii.

Terletak 40-45 cm dari pintu vulva sebelah luar. Apabila ada corpus luteum, maka
lataknya superfisial, sehingga menonjol dan dapat dilihat dari permukaan luar.

Corpus luteum berwarana kuning coklat . Folikel pada ovarium bergaris tengah 12

mm pernah ditemukan pada anak sapi berumur 4-5 bulan jauh sebelum pedet.

Folikel yang masak bergaris tengah 8-19 mm. Sedangkan corpus luteum yang

telah matang bergaris tengah 25-32 mm. Pada sapi yang tidak bunting dan normal,

corpus luteum hanya aktif untuk beberapa hari, lalu mengecil. Corpus luteum pada

sapi yang sedang bunting tetap tinggal dan aktif di dalam ovarium selama

kebuntingan (Saliasbury, 1985).

Oviduct atau tuba fallopi yang juga disebut tuba uterine adalah

saluran yang berpasangan dan berkonvolusi yang menghantarkan ovum dari

ovarium menuju tanduk uterus, dan juga merupakan tempat terjadinya fertilisasi

oleh spermatozoa. Tuba uterina bersifat bilateral, strukturnya berliku-liku yang

menjulur dari daerah ovarium ke kornua uterina dan menyalurkan ovum,

spermatozoa, dan zigot. Tiga segmen oviduk dapat dibedakan menjadi

infundibulum, ampula, isthmus. Epitel tuba uterina berbentuk silinder sebaris atau

silinder banyak lapis dengan silia aktif. Baik sel tipe bersilia maupun tidak bersilia

dilengkapi dengan mikrovili (Mozez, 2006).

Tuba fallopi sapi betina merupakan satu pasang saluran yang berkelok-

kelok dan berjalan dari ovarium ke bagian sempit cornua uteri. Panjangnya rata-

rata 12,4 cm pada anak sapi, 20,4 pada sapi dara, 24,5 pada sapi tua. Kisaran

panjang dari tuba fallopi yaitu 20-35 cm. Tuba fallopi memiliki garis tengah

terkecil kira-kira mulai dari bagian pertengahan pembuluh sampai titik terdekat

persambungan dengan cornua uteri (Mozez, 2006).


Uterus memiliki kesamaan antara beberapa ternak lainnya, yaitu berbetuk

bicornua (dua tanduk). Pada hewan yang tak bunting uterus berada 25-40 cm ke

deapan dari lubang vulva, tepat di depan cervix. Corpus Uteri bergaris tengah

transversal 9-12 cm berukuran panjang 2-5 cm dan bagian depan terbagi atas 2

tanduk. Karena tanduk uterus terletak sangat berdekatan sepanjang 10-15 cm dan

tumbuh bersama, maka seakan-akan corpus uteri tampak lebih panjang dari pada

kenyataannya. Kadang-kadang tanduk uterus memanjang masuk ke dalam cerviks,

sehingga tidak terdapat corpus uteri. Pada tempat dimana kedua tanduk

memisahkan diri garis tengahnya 3-4 cm, Dari tempat pemisahan panjang tanduk

uterus biasanya 20-35 cm, membuat panjang seluruh uterus menjadi 30-55 cm.

Panjang uterus beragam sesuai dengan umur hewan dan faktor lain (Mozez,

2006).

Uterus sapi terdapat sebagian besar di ruang abdomen. Corpus uterinya

sangat pendek (3-4 cm), tetapi mempunyai cornua uteri yang panjang (30-40 cm).

Tidak seperti pada kuda extremitas abdominalis dari cornua uteri sapi berbentuk

corong dan berhubungan dengan tuba uterine (Saliasbury, 1985).

Serviks merupakan bagian dari alat reproduksi yang berdinding tebal

dengan panjang 5-10 cm dari tempat sambungan dengan uterus ke arah belakang

yang berkesinambungan dengan vagina yang berdinding tipis. Fungsi utama

menutup lumen uterus sehingga tidak memberi kemunghkinan untuk masuknya

jazad mikroskopik maupun makroskopik ke dalam uterus dalam proses birahi,

dengan mengsekresikan mukosa yang melewati vulva, membantu saat proses

kebuntingan dengan mampu menutup dengan ketat dengan satu sumbat dari
lender. Pada waktu melahirkan, Serviks akan berfungsi melebar yang

memungkinkan fetus beserta selaputnya mudah melewatinya (Saliasbury, 1985).

Vagina merupakan perpanjangan dari cervix sampai ketempat

sambungan uretra dengan saluran alat kelamin adalah bagian yang berdinding

tipis. Vagina merupakan bagian dari organ repoduksi merupakan organ kopulasi

pertemuan antara organ reproduksi jantan dan betina. Vagina adalah bagian

saluran peranakan yang terletak di dalam pelvis di antara uterus (arah kranial) dan

vulva (kaudal). Vagina juga berperan sebagai selaput yang menerima penis

hewan jantan pada saat kopulasi. (Wodzicka, 1991).

Vagina terletak horisontal di ruang pelvis, dimulai dari cervix uteri

sampai vulva. Berbentuk tubulus sepanjang 15-20 cm, dengan diameter 10-12 cm

apabila diregang. Di bagian cranial dari vagina terdapat fornix vaginae yang

merupakan kantong yang dibentuk oleh portio vaginalis uteri. Di bagian caudal

vagina berhubungan dengan vulva. Vagina sapi lebih panjang daripada kuda, juga

dindingnya lebih tebal. Panjangnya 20-35 cm. Di dinding ventral, diantara tunika

muscularis dan selaput lendir terdapat 2 buah saluran Gartner yang bermuara di

posterior orificium urethrae externum. Saluran Gartner adalah sisa embrional dari

duktus Wolfii (Wodzicka, 1991).

Vulva merupakan alat kelamin betina bagian luar termasuk clitoris dan

vestibulum. Bagian ini memiliki syaraf perasa, yang memegang peranan penting

pada waktu kopulasi. Kira-kira 7-10 cm masuk ke dalam dari lubang luar dan

pada lantai dinding ventral vestibulum terdapat celah sepanjang 2 cm. Celah ini

merupakan pintu masuk kedalam kantung buntu seburetrha (devertikulum


suburethralis) dan juga merupakan sebagai orificium urethralis. Saluran urethra

masuk ke dalam vestibulum sedikit di depan saluran buntu suburethra tadai pada

dinding depan dan dapat merupakan sebagian dari saluran buntu tadi. Saluran

buntu sendiri panjangnya 3–4 cm saluran urethra berjalan ke depan, tepat di

bawah vagina, ke kantung air seni (Wodzicka, 1991).

Allah juga telah menyinggung masalah hewan ternak secara gamblang

dalam salah satu ayat-Nya, Dia memperingatkan manusia akan pentingnya hewan

ternak bagi kehidupan manusia dalam Alquran Surah Al-Mu’minuun ayat 21 yang

berbunyi:

   


   
   
  
 
Terjemahnya:
“Dan sungguh pada hewan-hewan ternak terdapat suatu pelajaran
bagimu. Kami memberi minum kamu dari (air susu) yang ada dalam
perutnya, dan padanya juga terdapat banyak manfaat untukmu, dan
sebagian darinya kamu makan.”

Beberapa manfaat dari hewan ternak adalah susunya dapat diminum,

dagingnya dapat disantap, kulitnya dapat dipakai sebagai bahan membuat sepatu,

dan manfaat lainnya, bahkan kotorannya sekalipun dapat dimanfaatkan sebagai

pupuk. Maka dari itu, sebagai umat Islam, sepatutnya kita mensyukuri nikmat

Allah SWT yang sungguh besar manfaatnya bagi kehidupan umat manusia ini.
B. Gambaran Khusus

Hewan betina/induk mempunyai tugas memproduksi sel kelamin

yang sangat penting untuk mengawali kehidupan turunan yang baru dan

menyediakan tempat beserta lingkungannya untuk perkembangan individu baru,

dimulai dari waktu pembuahan ovum dan memeliharanya selama awal

kehidupannya. Tugas ini dilaksanakan oleh organ reproduksi primer dan

sekunder. Organ reproduksi primer yaitu ovarium. Ovarium menghasilkan

ova (sel telur) dan hormon-hormon kelamin betina. Organ reproduksi

sekunder atau saluran reproduksi terdiri dari oviduk, uterus, serviks, vagina,

dan vulva. Fungsi organ-organ reproduksi sekunder adalahmenerima,

menyalurkan, dan menyatukan sel-sel kelamin jantan dan betina; memberi

lingkungan; memberi makan; melahirkan individu baru. Alat-alat kelamin

dalam digantung oleh ligamentum lata. Ligamentum ini terdiri dari

mesovarium (penggantung ovarium), mesosalpink (penggantung oviduk), dan

mesometrium (penggantung uterus) (Wodzicka, 1991).

Menurut Kemendik (2013), yang menyatakan bahwa adapun organ

reproduksi betina secara umum yaitu sebagai berikut:

1. Ovarium

Berbeda dengan testis, ovarium tertinggal di dalam cavum

abdominalis. Ovarium mempunyai dwi fungsi, sebagai organ eksokrin yang

menghasilkan sel telur (ova) dan sebagai organ endokrin yang mensekresikan

hormon kelamin betina (estrogen dan progesteron). Pada sapi dan domba,

ovarium berbentuk oval, namun pada kuda berbentuk seperti ginjal karena ada
fossa ovulatorus yakni suatu legokan pada pinggir ovarium. Pada babi, ovarium

berupa gumpalan anggur, folikel-folikel dan corpora lutea menutupi jaringan-

jaringan ovarial di bawahnya. Pada sapi, ovarium bervariasi dalam ukuran

panjang, lebar, dan tebal. Umumnya ovarium kanan lebih besar daripada

ovarium kiri, karena secara fisiologik lebih aktif. Folikel-folikel pada ovarium

mencapai kematangan melalui tingkatan perkembangan yaitu folikel primer,

folikel sekunder, folikel tersier (folikel yang sedang tumbuh), dan folikel de Graaf

(folikel matang). Folikel primer terdiri dari satu bakal sel telur yang pada

fase ini disebu t oogonium dan selapis sel folikuler kecil. Folikel sekunder

berkembang ke arah pusat stroma korteks sewaktu kelompok sel-sel

folikuler. Yang memperbanyak diri membentuk suatu lapisan multi seluler

sekeliling vitellus. Pada stadium ini terbentuk suatu membran antara oogonium

dan sel-sel folikuler, disebut zona pellucida. Folikel tersier timbul sewaktu sel-

sel pada lapisan folikuler memisahkan diri untuk membentuk lapisan dan

sutu rongga (antrum), ke arah oogonium akan menonjol. Antrum dibatasi oleh

banyak lapisan sel folikuler yang dikenal secara umum sebagai membrana

granulose dan diisi oleh suatu cairan jernih Liquor foliculi yang kaya akan

protein dan estrogen.Folikel de Graaf adalah folikel matang yang menonjol

melalui korteks ke permukaan ovarium seperti suatu lepuh. Pertumbuhannya

meliputi dua lapis sel stroma korteks yang mengelilingi sel -sel folikuler.

Lapisan sel-sel tersebut membentuk theca folliculi yang dapat dibagi atas

theca internayang vascular dan theca externa yang fibrous.


2. Oviduk

Oviduk atau tuba fallopii merupakan saluran kelamin paling anterior,

kecil berliku-liku, dan terasa keras seperti kawat terutama pada pangkalnya.

Pada sapi dan kuda, panjang oviduk mencapai 20-30 cm dengan diameter 1,5-3

mm. oviduk tergantung pada mesosalpink. Oviduk terdiri atas infundibulum

dengan fimbriae, ampula, dan isthmus.Ujung oviduk dekat ovarium

membentang menganga membentuk suatu struktur berupa corong

(infundibulum). Muara infundibulum (ostium abdominale) dikelilingi oleh

penonjolan-penonjolan ireguler pada tepi ujung oviduk (fimbriae). Pada saat

ovulasi, pembuluh-pembuluh darah pada fimbriae penuh berisi darah yang

mengakibatkan pembesaran dan penegangan fimbriae. Penegangan ini diiringi

oleh kontraksi otot-otot menyebabkan ostium tuba fallopii mendekati

permukaan ovarium untuk menerima ovum matang yang akan dilepaskan.

Bagian ampula dari tuba fallopii merupakan setengah dari panjang tuba dan

bersambung dengan daerah tuba yang sempit yaitu isthmus. Pada saat ovulasi,

ovum disapu ke dalam ujung oviduk yang berfimbrial. Kapasitas sperma,

fertilisasi, dan pembelahan embrio terjadi di dalam tuba fallopii. Cairan

luminal tuba fallopii merupakan lingkungan yang baik untuk terjadinya

fertilisasi dan permulaan perkembangan embrional. Cairan dihasilkan oleh

lapisan epitel tuba karena pengaruh hormon ovarial. Pertemuan utero-tubal

mengatur pengangkutan sperma dari uterus ke tuba fallopii dan transpor embrio

dari tuba ke dalam uterus.


Fungsi oviduct :

a. Menerima sel telur yang diovulasikan oleh ovarium.

b. Transport spermatozoa dari uterus menuju tempat pembuahan.

c. Tempat pertemuan antara ovum dan spermatozoa (fertilisasi).

d. Tempat terjadinya kapasitasi spermatozoa.

e. Memproduksi cairan sebagai media pembuahan dan kapasitasi

spermatozoa.

f. Transport yang telah dibuahi (zigot) menuju uterus.

3. Uterus

Uterus terdiri dari kornu, korpus, dan serviks. Proporsi relatif

masing-masing bagian berbeda-beda antar spesies. Uterus babi tergolong bicornis

dengan kornu yang sangat panjang tetapi korpusnya sangat pendek. Uterus sapi,

domba, dan kuda kedua kornu dan korpus uteri yang cukup panjang (paling

besar pada kuda). Dari segi fisiologik, hanya dua lapisan uterus yang dikenal

yaitu endometrium dan miometrium. Endometrium adalah suatu struktur

glanduler yang terdiri dari lapisan epitel yang membatasi rongga uterus,

lapisan glanduler, dan jaringan ikat. Miometrium merupakan bagian muskuler

dinding uterus yang terdiri dari dua lapis otot polos, selapis dalam otot

sirkuler, dan selapis luar otot longitudinal yang tipis. Permukaan dalam uterus

ruminansia mengandung penonjolan-penonjolan seperti cendawan dan tidak

berkelenjar, disebut caruncula. Uterus sapi memiliki 70-120 caruncula yang

berdiameter 10 cm dan terlihat seperti spon karena banyak lubang-lubang

kecil (crypta) yang menerima villi chorionok placental. Villi-villi chorion


hanya berkembang pada daerah tertentu pada selubung faetus ( cotyledon)

yang memasuki caruncula. Cotyledon dan caruncula bersama-sama disebut

placentoma. Uterus kuda dan babi tidak mempunyai caruncula. Uterus

mempunyai fungsi-fungsi yang penting untuk perkembangbiakan ternak. Pada

waktu perkawinan, kontraksi uterus mempermudah pengangkutan sperma ke

tuba fallopii. Sebelum implantasi, uterus mengandung cairan yang merupakan

medium bersifat suspensi bagi blastocyt, sesudah implantasi uterus

merupakan tempat pembentukan plasenta dan perkembangan fetus. Fungsi lain

uterus adalah adanya hubungan kerja secara timbal balik dengan ovarium.

Adanya korpus luteum akan merangsang uterus menghasilkan PGF2α yang

berfungsi untuk regresi korpus luteum secara normal. Stimulasi uterus selama

fase permulaan siklus birahi mempercepat regresi korpus luteum dan

menyebabkan estrus dipercepat.

4. Serviks

Serviks adalah suatu struktur berupa sphincter yang menonjol ke

kaudal ke dalam vagina. Serviks dikenal dari dindingnya yang tebal dan

lumen yang merapat. Dindingnya ditandai dengan berbagai penonjolan.Pada

ruminansia penonjolan-penojolan ini terdapat dalam bentuk lereng-lereng

transversal dan saling menyilang disebut cincin -cincin annuler. Cincin-cincin ini

sangat nyata pada sapi (biasanya 4 buah) yang dapat menutup rapat serviks.

Pada babi, cincin-cincin tersebut tersusun dalam bentuk sekrup pembuka botol

yang disesuaikan dengan perputaran spiralis ujung penis babi jantan. Pada
kuda, rongganya lurus dengan lipatan memanjang berbentuk seperti corong

sehingga mudah didilatasi secara manual.

Serviks berfungsi untuk mencegah masuknya mikroorganisme atau

benda-benda asing ke lumen uterus. Pada saat estrus, serviks akan terbuka

sehingga memungkinkan sperma memasuki uterus sehingga terjadi pembuahan

serta menghasilkan cairan mucus yang keluar melalui vagina. Pada saat

hewan bunting, serviks menghasilkan sejumlah besar mucus tebal yang dapat

menutup atau menyumbat mati canalis servicalis sehingga mencegah masuknya

materi infeksius ke dalam uterus serta mencegah fetus keluar. Sesaat sebelum

partus, penyumbat serviks mencair dan serviks mengalami dilatasi sehingga

terbuka dan memungkinkan fetus beserta selaputnya dapat keluar.

5. Vagina

Vagina adalah organ kelamin betina dengan struktur selubung

muskuler yang terletak di dalam rongga pelvis, dorsal dari vesica urinaria,

dan berfungsi sebagai alat kopulatoris (tempat deposisi semen dan menerima

penis), serta sebagai tempat berlalu bagi fetus sewaktu partus. Legokan yang

dibentuk oleh penonjolan serviks ke dalam vagina disebut fornix. Himen adalah

suatu konstriksi sirkuler antara vagina dan vulva. Himen dapat menetap

dalam berbagai derajat pada semua spesies dari suatu pita sentral tipis dan

vertikal sampai suatu struktur yang sama sekali tidak tembus (himen

imperforata). Vagina mempunyai panjang yang bervariasi sapi mempunyai

panjang 25,0-30,0 cm, domba 7,5-10,0 cm, kuda 20,0 -35,0 cm dan 7,5-11,5
cm. Pada vagina sapi dan domba masih ditemukan sisa-sisa saluran Wolfi

sedangkan pada kuda dan babi jarang ditemukan sisasisa saluran Wolfi.

6. Alat kelamin luar

Alat kelamin luar terbagi atas vestibulum dan vulva. Vulva terdiri

dari labia majora, labia minora, commisura dorsalis dan ventralis, serta

klitoris. Pertemuan antara vagina dan vestibulum ditandai oleh muara uretra

eksterna (orificium urethrae externa). Pada sapi dan babi terdapat kantong

buntu disebut diverticulum suburethrae yang terletak pada bagian bawah dari

permuaraan uretra. Selama proses partus berlangsung, vestibulum berfungsi

untuk tumpuan pertautan bagi seluruh saluran kelamin yang berkontraksi

sewaktu mengeluarkan fetus. Labia atau bibir vulva secara normal selalu

dekat berdampingan, tidak menganga, dan lubang vulva terletak tegak lurus

terhadap lantai pelvis. Labia minora adalah bibir yang lebih kecil dengan

jaringan ikat di dalamnya dan mengandung kelenjar Sebaceous. Antara celah

vulva dan anus terdapat perineum yaitu kulit yang terdiri dari jaringan ikat

dan urat daging yang dapat sobek bila melahirkan anak yang terlalu besar.

Commisura ventralis menutupi klitoris, suatu struktur yang homolog dan

mempunyai asal embriologik yang sama dengan penis. Klitoris terdiri dari

jaringan erektil yang diselubungi oleh epithel squamous bersusun dan

mengandung cukup banyak ujung-ujung syaraf sensoris.


BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Adapun waktu dan tempat dilaksanakanya praktikum ini yaitu pada hari

Senin, tanggal 04 Juni 2018, pukul 15:00-16:00 WITA dan bertempat di

Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Sains dan Teknologi Universitas

Islam Negeri Alauddin Makassar.

B. Alat dan bahan

1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat pengukur, dan alat

tulis.

2. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah organ reproduksi sapi

betina dan organ reproduksi sapi jantan.

C. Prosedur kerja

Adapun prosedur kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Menyediakan organ reproduksi sapi betina

2. Mengamati organ reproduksi sapi betina

3. Memperhatikan bentuk dan fungsi dari tiap organ reproduksi sapi betina
BAB IV

HASIL PENGAMATAN

A. Hasil Pengamatan

Tabel 1. Pengamatan anatomi organ reproduksi sapi betina

NO NAMA ORGAN UKURAN FUNGSI

1. Oviduct 6 cm Tempat fertilisasi

2. Ovarium 4 cm Tempat mengasilkan ovum

dan hormon progesteron dan

estrogen

3. Uterus 3 cm Tempat melekat dan

perkembangbiakan zigot

4. Vagina 9 cm Tempat bertemunya alat

kelamin jantan dan betina

5. Vulva 3 cm Alat kopulasi betina

6. Klitoris 0,6 cm Alat perangsang

Sumber: Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Sains dan Teknologi


Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2018.
Tabel 2. Pengamatan anatomi organ reproduksi sapi betina

NO GAMBAR LITERATUR KETERANGAN

1. 1. Oviduct

2. Ovarium

3. Uterus

4. Vagina

5. Vulva

6. klitoris

Sumber: www. Veteriner. blogspot.com

Tabel 3. Pengamatan anatomi organ reproduksi sapi betina

NO GAMBAR LABORATORIUM KETERANGAN

1. 1. Oviduct

2. Ovarium

3. Uterus

4. Vagina

5. Vulva

6. klitoris

Sumber: Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Sains dan Teknologi


Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2018.
Tabel 4. Pengamatan anatomi organ reproduksi sapi betina

NO GAMBAR ASLI KETERANGAN

1. 1. Oviduct

2. Ovarium

3. Uterus

4. Vagina

5. Vulva

6. klitoris

Sumber: Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Sains dan Teknologi


Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2018.
B. Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan organ reproduksi sapi betina diperoleh

hasil sebagai berikut:

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat

diketahui bahwa pada umumnya bentuk ovarium pada hewan ruminansia, dalam

hal ini sapi adalah bulat atau oval dan berwarna kuning maupun putih pucat baik

ovarium kanan. Pajang ovarium sapi adalah 4 cm. Hal ini tidak sesuai dengan

pendapat Saliasbury (1985), menyatakan bahwa ovariumnya berbentuk bulat

panjang oval, contoh: sapi, kerbau. Dalam praktikum ini hasil pengamatan tidak

selaras dengan pendapat diatas bahwa ovarium umumnya berukuran panjang 32-

42 mm, tinggi 19-32 mm dan lebar 13-19 mm dengan berat 10-19 gr. Ovarium

seekor sapi betina bentuknya menyerupai biji buah almond dengan berat rata-rata

10 sampai 20 gram. Ukuran normal ovari sangat bervariasi dari satu spesies ke

spesies lain bahkan antara spesies juga terdapat varisasi. Besar dan bentuk ovaria

sering berubah.

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat

diketahui bahwa oviduct pada sapi betina memiliki ukuran 6 cm, yang berfungsi

sebagai tempat terjadinya fertilisasi oleh spermatozoa. Hal ini tidak sesuai dengan

pendapat Mozez (2006), yang menyatakan bahwa oviduct sapi

betina merupakan satu pasang saluran yang berkelok-kelok dan berjalan dari

ovarium ke bagian sempit cornua uteri. Panjangnya rata-rata 12,4 cm pada anak

sapi, 20,4 pada sapi dara, 24,5 pada sapi tua. Kisaran panjang dari oviduct yaitu

20-35 cm.
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat

diketahui bahwa uterus berukuran 3 cm dan berfungsi sebagai tempat melekat dan

perkembangbiakan zigot. Hal ini sesuai dengan pendapat Kemendik (2013), yang

menyatakan bahwa uterus mempunyai fungsi-fungsi yang penting untuk

perkembangbiakan ternak. Pada waktu perkawinan, kontraksi uterus

mempermudah pengangkutan sperma ke tuba fallopii.

Adapun hasil yang diperoleh dari praktikum, didapat ukuran vagina 9 cm

dan berfungsi sebagai tempat bertemunya alat kelamin jantan dan betina. Hal ini

sesuai dengan pendapat Wodzicka (1991), yang menyatakan bahwa vagina

merupakan bagian dari organ repoduksi merupakan organ kopulasi pertemuan

antara organ reproduksi jantan dan betina.

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat

diketahui bahwa vulva merupakan alat kelamin betina bagian luar, vulva memiliki

bibir yang disebut labia mayor dan minor berukuran 3 cm. Hal ini sesuai dengan

pendapat Kemendik (2013), yang menyatakan bahwa vagina mempunyai panjang

yang bervariasi sapi mempunyai panjang 25,0-30,0 cm, domba 7,5-10,0 cm,

kuda 20,0 -35,0 cm dan 7,5-11,5 cm.

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat

diketahui bahwa klitoris berukuran 0,6 cm dan merupakan alat perasa pada saat

terjadi fertilisasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Kemendik (2013), klitoris terdiri

dari jaringan erektil yang diselubungi oleh epithel squamous bersusun dan

mengandung cukup banyak ujung-ujung syaraf sensoris.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan pada praktikum ini adalah organ kelamin primer

ovarium berukuran 4 cm dan berfungsi menghasilkan telur, organ kelamin

sekunder oviduct (tuba fallopi) memiliki ukuran6 cm dan fungsinya sebagai

tempat terjadinya fertilisasi oleh spermatozoa, uterus berukuran 3 cm, fungsinya

sebagai tempat pertumbuhan dan perkembangan embrio hingga dilahirkan, serviks

fungsinya menutup lumen uterus sehingga tidak memberi kemungkinan untuk

masuknya jazad mikroskopis maupun makroskopis ke dalam uterus dalam proses

birahi, vagina berukuran 9 cm serta berfungsi sebagai tempat bertemunya alat

kelamin jantan dan betina, organ kelamin luar yaitu vulva berukuran 3 cm dan

fungsinya sebagai pintu masuk kedalam kantung buntu seburetra, dan klitoris

memiliki ukuran 0,6 cm, fungsinya memberi rangsangan saat terjadi perkawinan.

B. Saran

Adapun saran dalam praktikum ini yaitu sebaiknya organ reproduksi

yang digunakan sebaiknya berukuran besar sehingga dapat dilihat bentuk dari

organ secara jelas.


DAFTAR PUSTAKA

Kemendik RI, 2013. Reproduksi Hewan. Jakarta: UI Press

Partodiharjo,S. 1980. Ilmu Reproduksi Ternak. Jakarta: Prduksi Mutiara.

Mozez. 2006. Ilmu Kebidanan pada Ternak Sapi dan Kerbau. Jakarta: UI Press,

Saliasbury, G.M. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Wodzicka. 1991. Reproduksi, Tingkah laku dan Produksi Ternak Di Indonesia.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.