Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN ONE HEALTH

JAPANESE ENCHEPALITIS
DI PUSKESMAS KELURAHAN PETUKANGAN SELATAN

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat


Dalam menempuh Kepaniteraan Klinik
Ilmu Kesehatan Masyarakat

Disusun oleh :
Aulia whiratama putra (030.12.041)
Danny hermawan (030.12.063)
Dimas rifqi anantyo (030.12.082)
Pembimbing :

Dr .dr. Maskito Asmadi Soerjoasmoro, MS

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS / KESEHATAN MASYARAKAT
PERIODE 11 JUNI – 17 AGUSTUS 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Definisi
Japanese Encephalitis (JE) adalah penyakit radang otak disebabkan oleh virus
Japanese encephalitis merupakan penyakit akut yang ditularkan melalui nyamuk
terinfeksi. Virus Japanese encephalitis termasuk famili Flavivirus. Penyakit ini
pertama dikenal pada tahun 1871 di Jepang; diketahui menginfeksi sekitar 6000
orang pada tahun 1924, kemudian terjadi KLB besar pada tahun 1935; hampir
setiap tahun terjadi KLB dari tahun 1946-1950. Virus Japanese encephalitis
pertama diisolasi pada tahun 1934 dari jaringan otak penderita ensefalitis yang
meninggal.1,2

1.2 Etiologi
Virus japanese encephalitis berasal dari genus Flavivirus dan familia Flaviviridae
dan termasuk dalam arbovirus group B. Virus ini memiliki bentuk yang sferis,
berdiameter 40-60 nm dan memiliki inti virion yang terdiri dari asam ribonukleat
(RNA) rantai tunggal yang sering bergabung dengan protein yang disebut
nukleoprotein. Kapsid merupakan pelindung inti virion yang terdiri dari polipeptida
yang berbentuk tata ruang dan dibatasi oleh 20 segi sama sisi dengan aksis rotasi ganda.
VJE pada umumnya bersifat labil terhadap suhu tinggi dan rentan terhadap berbagai
pengaruh disinfektan, pelarut lemak, deterjen, serta enzim proteolik. Virus ini memiliki
infektivitas yang paling stabil pada pH 7-9, tapi virus ini dapat dilemahkan oleh eter,
radiasi elektromagnetik, dan natrium deoksikolat. VJE berkembangbiak dalam sel
hidup, tepatnya dalam sitoplasma. Kesulitan dalam mengisolasi virus dari darah pasien
disebabkan karena VJE memiliki masa viremia yang pendek.2,4
Terdapat 4 varian genotipe utama virus JE yaitu isolat virus JE tipe I (diidentifikasi
di China, India, Jepang, Nepal, Srilanka, Taiwan dan Vietnam); isolat virus JE tipe II
(diidentifikasi di Kamboja dan Thailand utara); isolat virus JE tipe III (diidentifikasi di
Indonesia, Malaysia dan Thailand selatan, penyebaran genotipe ini yang paling luas
dibanding genotipe lain); dan isolat virus JE tipe IV (diidentifikasi di Indonesia dan
Malaysia).3
Babi telah diketahui merupakan reservoir yang potensial dan merupakan ampl jier
virus JE yang efektif. Hal ini terlihat dari laporan WEI yang menyatakan bahwa kasus
JE pada manusia akan meningkat apabila rasio antara populasi manusia dan babi makin
kecil. Selain babi, burung liar diduga merupakan reservoir yang potensial untuk
meningkatkan perkembangbiakan virus JE yang siap ditularkan kepada hewan atau
manusia melalui nyamuk.1,3

1.3 Epidemiologi
Penyakit ini endemik di daerah Asia, mulai dari Jepang, Filipina, Taiwan, Korea,
China, Indo- China, Thailand, Malaysia, sampai ke Indone- sia serta India. Di Indone-
sia, penelitian penyakit Japanese encephalitis sudah dilakukan sejak 1975, menunjukkan
seroprevalensi sebesar 10-75%.4,5
Di Indonesia, terdapat sekitar 19 jenis nyamuk yang dapat menularkan penyakit ini;
paling sering adalah Culex tritaeniorhynchus, yang banyak dijumpai di daerah
persawahan, rawa- rawa, dan genangan air. Babi dan unggas yang hidup di air, seperti
bangau, merupakan hewan utama reservoir virus ini. Nyamuk Culex tritaeniorhynchus
terdiri dari berbagai jenis, dapat menularkan baik ke manusia maupun ke hewan
peliharaan lainnya.4
Di Indonesia, kasus JE pertama kali dilaporkan pada tahun 1960 Kasus JE banyak di
laporkan di daerah Bali. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Liu et al. 2009
menyebutkan bahwa identifikasi kasus encephalitis dirumah sakit di Bali antara tahun
2001-2004 menemukan 163 kasus encephalitis dan 94 diantranya secara serologis
mengarah pada kasus JE. Selain itu, kasus JE pada manusia juga dilaporkan di beberapa
daerah yaitu di Sumatra Barat, Kalimantan Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa
Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggra Timur dan Papua (Ompusunggu et al.
2008).Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi; beberapa negara seperti Thailand
sudah me- masukkan imunisasi Japanese encephalitis ke dalam program rutin—kasus
ensefalitis turun bermakna dari 14,7 per 100.000 penduduk menjadi 1 per 100.000
penduduk.2
Beberapa daerah di Indonesia menunjukkan sekitar 11-67% seropositif.
Pemeriksaan menggunakan uji HI (Hemaglutination Inhibition) dan uji ELISA.5

1.4 Cara Penularan dan Faktor Resiko


Penyebaran penyakit JE tidak dapat ditularkan melalui kontak Iangsung, tetapi harus
melalui vektor, yaitu melalui gigitan nyamuk yang telah mengandung virus JE. Masa
inkubasi pada nyamuk penular antara 9-12 hari dan nyamuk yang terinfeksi virus JE,
selarna hidupnya akan menjadi infektifyang dapat menularkan ke hewan dan manusia.6
Umur vektor JE, nyamuk Culex, berkisar antara 14-21 hari dan jarak terbang Culex
dapat mencapai lebih dari 3 km. Culex umumnya berkembang biak pada genangan air
yang banyak ditumbuhi tanaman seperti sawah dan saluran irigasinya, selokan yang
dangkal atau kolam yang sudah tidak terpakai.5,7
Pada babi, viraemia terjadi selama 2-4 hari dan diikuti dengan pembentukan
antibodi dalam waktu I hingga 4 minggu.Virus JE dapat menembus plasenta tergantung
pada umur kebuntingan dan galur virus JE. Kematian janin dan mumifikasi dapat terjadi
apabila infeksi JE berlangsung pada umur kebuntingan 40-60 hari. Sedangkan infeksi
JE sesudah umur kebuntingan 85 hari, kelainan yang ditimbulkan sangat sedikit. Masa
inkubasi JE pada manusia berkisar antara 4 hingga 14 hari.7
Di Bali, tingginya kejadianJapanese Encephalitis dikaitkan dengan banyaknya
persawahan dan peternakan babi di area tersebut,' tutur Direktur Surveilans dan
Karantina Kesehatan, dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Dsc, dalam keterangannya
kepada Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI, Senin.

1.5 Manifestasi klinis5,6,7,10


A. Pada Hewan
Pada hewan, penyakit ini dapat menimbulkan abortus, meninggal, atau tanpa
gejala. Hewan yang dapat terinfeksi penyakit ini meliputi ter- nak lembu, sapi,
ayam, bebek dan kambing, dan vertebrata lainnya, termasuk ular, kodok, tikus,
dan kelalawar. Burung merupakan he- wan penting dalam penyebaran penyakit
ini. Virus dapat bereplikasi di dalam darah hewan tanpa menimbulkan penyakit
serius, yang memungkinkan siklus penularan. Manusia dan kuda merupakan
dead-end host, artinya tidak terjadi penularan dari manusia atau kuda ke manusia
atau hewan lain melalui gigitan nyamuk.

B. Pada Manusia
Gejala biasanya datang tiba-tiba, seperti nyeri kepala, gangguan pernapasan,
penurunan nafsu makan, mual, sakit perut, muntah, ke- lainan saraf, termasuk
gangguan jiwa.
Gejala kerusakan otak sehubungan dengan infeksi dapat berupa: kejang dan/atau
perge- rakan abnormal, pergerakan bola mata yang tidak simetris, re eks kornea
negatif, pernapasan tidak teratur. Demam tidak terlalu tinggi disertai gangguan
pernapasan mung- kin merupakan gejala klinis Japanese encephalitis .
Kejang dialami oleh 10-24 % penderita anak; lebih sedikit pada dewasa. Gejala
pening- katan tekanan intrakranial mencakup nyeri kepala hebat, muntah, pupil
tidak reaktif ter- hadap cahaya, hemiplegia, bradikardia, dan hipertensi. Pada
fase ini, biasanya pemerik- saan cairan otak menunjukkan peningkatan leukosit.
Beberapa hari kemudian, tampak limfosit dominan. Albuminuria sering
ditemukan.

1.6. Gejala klinis


Manifestasi klinis penyakit JE pada manusia bervariasi, mulai dari gejala ringan
seperti demam flu biasa sampai berat bahkan kematian. Pada kasus yang berat,
ditemukan gejala sisa pada sekitar 40%-75% kasus berupa kelumpuhan,
keterbelakangan mental dan penurunan inteligensia.3 Tidak semua manusia yang di gigit
oleh Culex yang infektif menunjukkan gejala klinis ensefalitis. Penelitian di Jepang
memperkirakan 1 kasus menunjuk-kan gejala klinis ensefalitis dari tiap 500-1000 anak
yang menderita infeksi JE yang asimtomatik, dengan angka kematian 20%-40%.2
Japanese encephalitis termasuk famili flavivirus yang sama dengan virus dengue, maka
perlu dilakukan juga pemeriksaan terhadap virus dengue.3 Masa inkubasi penyakit JE
bervariasi antara 4 sampai 14 hari. Perkembangan gejala terbagi atas 4 stadium : 12,14
1. Stadium Prodormal
Stadium ini berlangsung selama 2-3 hari, mulai dari timbulnya keluhan sampai
timbulnya gejala SSP. Gejala yang sangat dominan ialah demam, nyeri kepala
dengan atau tanpa menggigil. Gejala lain berupa malaise, anoreksia, keluhan
dari traktus respiratorius seperti batuk, pilek dan keluhan gastrointestinal
seperti mual, muntah dan nyeri di daerah epigastrium. Nyeri kepala dirasakan
di dahi atau seluruh kepala, biasanya hebat dan tidak bisa dihilangkan dengan
pemberian analgesik. Demam selalu ada dan tidak mudah diturunkan dengan
obat antipiretik, namun mungkin saja seorang pasien JE hanya mengalami
demam ringan atau gangguan pernapasan ringan.12,14

2. Stadium Akut
Stadium ini berlangsung selama 3-4 hari, ditandai dengan demam tinggi yang
tidak turun dengan pemberian antipiretik. Bila selaput otak telah terinfeksi dan
membengkak, maka pasien akan merasakan nyeri serta kekakuan pada leher
hingga peningkatan tekanan intra kranial berupa gangguan keseimbangan dan
koordinasi, kelemahan otot-otot, tremor, kekakuan pada wajah, nyeri kepala,
mual, muntah, kejang, penurunan kesadaran dari apatis hingga koma. Berat
badan menurun disertai dehidrasi.12,14 Pada kasus ringan mulai penyakitnya
perlahan-lahan, demam tidak tinggi, nyeri kepala ringan, demam akan
menghilang pada hari ke-6 atau ke-7 dan gejala ekstrapiramidal muncul setelah
gejala neurologik lainnya menghilang. Gejala ekstrapiramidal seperti
Parkinson berupa wajah menyerupai topeng (masklike facies), tremor, rigiditas
dan gerakan choreoathetoid sering terjadi.3,4 Kelainan neurologik menyembuh
pada akhir minggu ke-2 setelah mulainya penyakit. Pada kasus berat, awitan
penyakit sangat akut, kejang menyerupai epilepsi, hiperpireksia, kelainan
neurologik yang progresif, penyulit kardiorespirasi dan koma, diakhiri dengan
kematian pada hari ke-7 dan ke-10 atau pasien hidup dan membaik dalam
jangka waktu yang lama, kadang-kadang terkena penyulit infeksi bakteri dan
meninggalkan gejala sisa permanen. Kejang dialami oleh sekitar 10%-24%
penderita anak, sedangkan orang dewasa lebih jarang mengalami kejang. Pada
stadium ini pemeriksaan cairan serebrospinal (CSS) menunjukkan leukositosis
yang pada awalnya didominasi sel polimorfonuklear (PMN) tetapi setelah
beberapa hari menjadi limfositosis. Albuminuria sering ditemukan. 12,14

3. Stadium Subakut
Stadium ini berlangsung selama 7-10 hari. Gejala gangguan SSP berkurang,
namun seringkali pasien menghadapi masalah pneumonia ortostatik, infeksi
saluran kemih (ISK), dan dekubitus. Gangguan fungsi saraf dapat menetap
seperti paralisis spastik, hipotrofi otot sebagai akibat perawatan lama dan
pemasangan kateter urin, fasikulasi, gangguan saraf cranial. dan gangguan
ekstrapiramidal. 12,14

4. Stadium Konvalesens
Stadium ini berlangsung lama, bisa 4-7 minggu dan ditandai dengan
kelemahan, letargi, gangguan koordinasi, tremor dan neurosis. Berat badan
dapat sangat menurun. Stadium ini dimulai saat menghilangnya inflamasi yaitu
pada saat suhu kembali normal. Gejala neurologik bisa menetap dan cenderung
membaik. Bila penyakit JE berat dan berlangsung lama maka penyembuhan
lebih lambat, tidak jarang sisa gangguan neurologik berlangsung lama. Gejala
sisa yang sering dijumpai ialah gangguan mental berupa emosi tidak stabil,
paralisis upper atau lower motor neuron. 12,14
Gejala sisa atau sekuele ditemukan pada 5%-70% kasus, umumnya pada anak
usia di bawah 10 tahun, dan pada bayi akan lebih berat. Kekerapan terjadinya
sekuele berhubungan langsung dengan beratnya penyakit. Sekuele tersebut
dapat berupa gangguan pada:
 Sistem motorik: motorik halus (72%),
 kelumpuhan (44%), gerakan abnormal (8%).
 Perilaku: agresif (72%), gangguan perhatian (55%), depresi (38%).
 Intelektual: abnormal (72%), retardasi (22%).
 Fungsi neurologik lain berupa gangguan ingatan (46%), afasia (38%),
epilepsi (20%), paralisis saraf kranial (16%) dan kebutaan (2%).

1.7. Diagnosis dan pencegahan pada Manusia


Diagnosis pasti adalah ditemukannya virus dalam darah atau cairan spinal, tetapi
isolasi virus sangat sulit pada manusia karena masa viremia yang mungkin pendek
sekali sehing- ga saat pasien mengalami gejala, masa vire- mianya sudah berlalu. 11,12
Uji serologi: Uji HI (hemagglutination inhibi- tion) dan ELISA memerlukan serum
akut dan konvalesen sehingga bisa dilihat kenaikan titer antibodi terhadap virus
Japanese en- cephalitis. 11
Penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi. Vaksinasi merupakan pencegahan ter-
baik. Beberapa negara seperti Thailand, China, Ne-pal, India dan Jepang sudah
memasukkan imunisasi Japanese encephalitis dalam salah satu program imunisasi rutin.
Imunisasi juga dianjurkan untuk orang yang bepergian ke daerah endemik Japanese en-
cephalitis. Vaksin yang beredar saat ini ada- lah JE-Vax dari Jepang (Biken), Korea
(Green Cross), dan SA-14-14-2 (China). Pemberian dengan subkutan. Vaksin SA-14-
14-2 membe- rikan kabar baik karena cukup satu dosis dan memberikan respon antibodi
83-100% pada anak usia 6-7 tahun. Pada anak usia lebih tua dilakukan dua kali dengan
selang 1-3 bulan, memberikan respon antibodi cukup tinggi. (94-100%). Selain
vaksinasi terhadap manusia, vaksinasi hewan terutama untuk kuda dan ternak lainnya.8,9

1.8.Respon penemuan kasus pada hewan ternak


 Dalam pelaksanaan respon penemuan kasus selalu menggunakan alat pelindung diri
 Bila menemukan kasus pada ternak terutama babi laporkan pada puskesmas
kecamatan agar diteruskan ke dinas terkait.
 Melakukan koordinasi lintas sektoral
 Amankan daerah sekitar bila perlu pindahkan ternak ke tempat yang jauh dari
pemukiman
 Lakukan vaksinasi pada babi sebelum dikawinkan

1.9. Respon penemuan kasus pada manusia

Penyelidikan
Epidaemiologi
ONE HEALTH APPROACH
Tanggung
Sumber Topik Program Kebijakkan Pemangku pementingan
jawab

Vektor (Hewan)

 Pengawasa • Kementrian  Pengamatan • UU no 36 tahun 2009 tentang • Kepala daerah


n Peternakan kesehatan hewan kesehatan • Peternak
Hewan • Kementrian ternak, • PERMENKES RI No.82 tahun • Dokter Puskesmas
Babi ternak Kesehatan  memindahkan 2014 tentang penanggulangan • Dokter Hewan
peternakan ke
penyakit menular • Masyarakat
lokasi jauh dari
penduduk

Lingkungan

 Sanitasi • Kementrian • Penyediaan sumber • Peraturan pemerintah republik • Kementrian


Air dan  Saluran lingkungan air bersih dan saluran indonesia nomor 66 tahun 2014 lingkungan hidup
limbah penampung hidup dan irigasi yang tertata tentang kesehatan lingkungan • Kepala daerah
an limbah PU dan aman • Uu no. 32 tahun 2009 tentang • Peternak
dan irigasi • Managemen perlindungan lingkungan hidup • masyarakat
penanganan limbah
• Mencegah
berkembangbiaknya
nyamuk di air

Manusia

Kebersihan • Kementrian • Perilaku hidup bersih • Peraturan Pemerintah RI No. • Kepala daerah
diri dan kesehatan dan sehat pada setiap 66 Tahun 2014 tentang • Masyarakat
lingkungan • Kementrian individu masyarakat kesehatan lingkungan • Tenaga kesehatan
lingkungan • Kebersihan • Permenkes No. 35 tahun 2016 • Tenaga kesehatan
Penanggulan hidup lingkungan rumah dan tentang pedoman
gan penyakit • Tenaga peternakan penyelenggaraan program
Masyarakat
JE kesehatan • Imunisasi di wilayah indonesia sehat dengan
endemis maupun pendekatan keluarga
orang yang berpegian • Keputusan menteri kesehatan
ke daerah endemis Republik nomor
HK.01.07/MENKES/117/2017
Tentang pelaksanaan
kampanye dan introduksi
imunisasi Japanese enchepalitis
.
• Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 42 Tahun 2013 tentang
Penyelenggaraan Imunisasi
Pemakaian • Dinas Penyuluhan mengenai • Undang – undang Nomer 1 • Kepala daerah
Alat Kesehatan penggunaan APD dan Tahun 1979 tentang • Peternak
Pelindung dan Suku keselamatan kerja Keselamatan Kerja • Masyarakat
Peternakan
Diri Dinas • Peraturan Menteri Kesehatan • Tenaga kesehatan
dan pekerja
Kesehatan Nomor 82 Tahun 2014 tentang
• K3 Penanggulangan Penyakit
Menular
DAFTAR PUSTAKA

1. Bromm AK, Smith DW, et al. Arbovirus Infections. In: Cook GC, Zumla AI.
Manson’s Tropical Diseases. 21st ed. Saunders:Philadelphia. 2003, pp. 725-95.
2. DEPKES, 2017, Japanese Enchepalitis Berkorelasi Dengan Banyaknya Area
Persawahan, Peternakan Babi Dan Burung Rawa
3. DONG, K .Y., H .K. BYOUNG, H .K. CHANG, H .K. JUN, I .L. SEONG and
R.H. HONG. 2004. Biophysical characterization of Japanese Encephalitis virus
(KV 1899) isolated from pigs in Korea . J. Vet.Sci. 5(2):125-130.
4. Endy TP, Nisalak A. Japanese Encephaltis Virus: Ecology and Epidemiology.
Current Topic in Microbiology and Immunology 2002; 267:11-47.
5. Richman DD, Whitley RJ, Hayden FG. Clinical Virology. New York, NY:
Churchill Livingstone, 1997.
6. Vazquez A, Jimenez-Clavero M, Franco L,Danoso-Mantke O, Sambri V, Niedrig
M, et al Usutu virus: potential risk of human disease in Europe. Euro Surveill.
2014:1-5
7. WEI, L. 2005. Disease burden of Japanese encephalitis: epidemiologic
perspectives . Workshop and training surveilans JE di rumah sakit, Jakarta, 17-19
Februari, 2005 . 26 him.
8. WINARNO. 2011. Vektor Japanese encephalitis di Indonesia. Workshop and
training surveilans JE di rumah sakit. Jakarta, 17-19 Februari 2011. 4 him.
9. Depkes (1993/1994-2003). Dirjen P2MPL, Subdit Zoonosis, Laporan serosurvey
Japanese Encephalitis.
10. Yoshida M, Igarashi A, et al. The rst report on human cases serologically
diagnosed as Japanese encephalitis in Indonesia. The Southeast Asian J Trop Med
Publ Health 1999;30(4): 698-706.
11. Lowry F.Traveling children should get Japanese Encephalitis vaccine. Medscape
Medical News. Jun 19 2015. [cited 2018 Juli 24] available
http://www.medscape.com/viewarticle/806601
12. Unni SK, Ružek D, Chhatbar C, Mishra R, Johri MK, Singh SK.Japanese
encephalitis virus: from genome to infectome.Microbes Infect. 2014;13(4): 312
13. Bromm AK, Smith DW. Arbovirus infections. In: Cook GC, Zumla AI, editors..
Manson’s Tropical Diseases (21st ed). Philadelphia: Saunders, 2003; p. 725-95.
14. Halstead SB. Arbovirus of the Pacific and Southeast Asia. In: Feigin RD, Cherry
JD, editors. Textbook of Pediatric Infectious Diseases (2nd ed). Philadelphia: WB
Saunders, 1987; p. 1502-8.
15. Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit 2017. Petunjuk teknis
Kampanye Imunisasi Japanese Encephalitis(JE). Jakarta : Kementerian Kesehatan
RI.
16. Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit 2013. Buku Pedoman
Pengendalian Japanese Encephalitis Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.
.