Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ilmu tasawuf merupakan rumusan tentang teoritis terhadap wahyu-
wahyu yang berkenaan dengan hubungan antara tuhan dengan manusia dan
apa yang harus dilakukan oleh manusia agar dapat berhubungan sedekat
mungkin dengan tuhan baik dengan pensucian jiwa dan latihan-latihan
spritual. Sedangkan ilmu kalam merupakan disiplin ilmu keislaman yang
banyak mengedepankan pembicaraan tetang persoalan tentang akidah dan
adapun filsafat adalah rumusan teoritis terhadap wahyu tersebut bagai
manusia mengenai keberadaan (esensi), proses dan sebagainya, Seperti proses
penciptaan alam dan manusia. Sedangkan ilmu jiwa adalah ilmu yang
membahas tentang gejala-gejala dan aktivitas kejiwaan manusia.
Maka dalam hal ini ilmu tasawuf tentunya mempunyai hubungan-hubungan
yang terkait dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya, baik dari segi tujuan,
konsep dan kontribusi ilmu tasawuf terhadap ilmu-ilmu tersebut dan begitu
sebaliknya bagaimana kontribusi ilmu kioslaman yang lain terhadap ilmu
tasawuf.
Kami membuat makalah mengenai materi “Hubungan Tasawuf dengan
Ilmu Kalam, Filsafat, dan Ilmu Fiqih” guna memenuhi tugas terstruktur Mata
kuliah Akhlak Tasawuf dengan dibimbing oleh Bapak Dosen Drs. H. Mahfud,
M.Ag. Maka dalam makalah kami ini kami telah membahas hubungan ilmu
tasawuf dengan beberapa ilmu keislaman lainnya, diantaranya: Ilmu kalam,
ilmu filsafat,dan ilmu fikih. Dengan tujuan agar kita lebih mampu
mengkorelasikan ilmu-ilmu tersebut dan bisa membandingbandingkannya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa hubungan tasawuf dengan Ilmu kalam?
2. Apa hubungan tasawuf dengan Filsafat?
3. Apa hubungan tasawuf dengan Ilmu Fiqih?

AKHLAK TASAWUF 1
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Apa hubungan tasawuf dengan Ilmu kalam?
2. Untuk mengetahui Apa hubungan tasawuf dengan Filsafa
3. Untuk mengetahui Apa hubungan tasawuf dengan Ilmu Fiqih

AKHLAK TASAWUF 2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Hubungan Tasawuf Dengan Ilmu Kalam

Nama lain dari Ilmu Kalam adalah Ilmu Aqaid (Ilmu-ilmu akidah), Ilmu
Tauhid (Ilmu tentang ke-Esa-an Tuhan), Ilmu Ushuluddin (Ilmu pokok-
pokok agama) dan juga disebut sebagai Teologi Islam. Teologi berasal dari
bahasa Latin, Theo artinya “Tuhan”. Logos artinya “ilmu”. Maksudnya ilmu
yang membahas dan membicarakan tentang Tuhan. Ilmu kalam adalah
disiplin ilmu yang banyak mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-
persoalan kalam atau perbincangan yang mendalam dengan dasar-dasar
argumentasi, baik rasional (aqliyah) yang cenderung menggunakan metode
berpikir (penalaran) filosofis, ataupun argumen tekstual (naqliyyah) yang
menggunakan sumber-sumber tekstual berupa dalil-dalil al-Qur’an dan
Hadits.

Tetapi dalam perkembangannya, Ilmu Kalam sangat cenderung


menggunakan metode penalaran rasional-filosofis dalam setiap pembahasan
ataupun polemik teologis yang dikemukakannya. Hal ini menyebabkan ilmu
kalam kehilangan “ruh” spiritual dan terkesan tidak menyentuh dzauq (rasa).
Atas dasar ini, dalam kaitannya dengan ilmu kalam, maka ilmu tasawuf
berfungsi sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam
(pemahaman soal-soal ketuhanan). Penghayatan yang mendalam melalui
hati/rasa (dzauq dan wijdan) terhadap ilmu tauhid dan ilmu kalam menjadikan
ilmu tasawuf lebih terhayati serta teraplikasikan dalam perilaku.1 Sebagai
contoh, ilmu tauhid menerangkan bahwa Allah SWT bersifat Sama’
(Mendengar), Bashar (Melihat), Kalam (Berbicara), Iradah (Berkemauan),
Qudrah (Kuasa), Hayat (Hidup), dan sebagainya. Akan tetapi, ilmu kalam
atau ilmu tauhid tidak menjelaskan bagaimanakah seorang hamba dapat
merasakan langsung bahwa Allah SWT mendengar dan melihatnya;

1
Drs. H. Mahfudz, M.Ag, Akhlak Tasawuf, (Cirebon, Al-Tarbiyah Press. 2016), 97

AKHLAK TASAWUF 3
bagaimana pula perasaan hati seseorang merasa bahwa segala sesuatu yang
tercipta merupakan pengaruh dari qudrah (kekuasaan) Allah SWT?.2

Dengan demikian, ilmu tasawuf merupakan “penyempurna” ilmu


tauhid jika dilihat dari sudut pandang bahwa ilmu tasawuf merupakan sisi
terapan (aplikatif) ruhaniyah dari ilmu tauhid.

Ilmu kalam pun dapat berfungsi sebagai “pengendali” ilmu tasawuf.


Karena itu, jika timbul suatu aliran atau kecenderungan tasawuf yang
bertentangan dengan akidah; atau lahir suatu kepercayaan baru yang
bertentangan dengan al-Qur’an maupun Sunnah, maka hal itu termasuk
penyimpangan doktrinal yang harus di tolak. Ilmu tasawuf juga memiliki
fungsi sebagai “pemberi kesadaran ruhaniah” dalam perdebatan kalam.
Seperti diketahui, ilmu kalam dalam dunia Islam cenderung menjadi ilmu
yang mengandung muatan rasional dan naqliyyah. Jika tidak diimbangi oleh
kesadaran ruhaniyyah (spiritual), ilmu kalam dapat bergerak ke arah yang
lenih bebas dan liberal; sehingga kehidupan keilmuan menjadi “kering” dan
jauh dari nuansa keruhanian.3

As-Sunnah memberikan perhatian yang begitu besar terhadap masalah


tadzawwuq, seperti hadits Rasul yang dikutip Said Hawwa, “Yang merasakan
rasanya iman adalah orang yang rida kepada Allah SWT sebagai Tuhan, rida
kepada Islam sebagai agama, dan rida kepada Muhammad sebagai Rasul”.
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW pun pernah mengungkapkan, ‘Ada tiga
perkara yang menyebabkan seseorang dapat merasakan lezatnya iman,
‘Orang yang mencintai Allah SWT dan Rasulnya lebih dari yang lain; orang
yang mencintai hamba karena Allah SWT; dan orang yang takut kembali
kepada kekufuran seperti ketakutannya untuk dimasukkan ke dalam api
neraka’.”

Amalan-amalan tasawuf mempunyai pengaruh yang besar dalam


ketauhidan. Jika rasa sabar tidak ada, muncullah kekufuran, jika syukur

2
Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag, Akhlak Tasawuf, (Bamdumg, CV. Pustaka Setia, 2010), 216.
3
Selanjutnya, Drs. H. Mahfudz, M.Ag, Akhlak Tasawuf, 97.

AKHLAK TASAWUF 4
sedikit, lahirlah suatu bentuk kegelapan sebagai reaksi. Begitu juga ilmu
tauhid dapat memberi kontribusi pada ilmu tasawuf. Sebagai contoh, jika
cahaya tauhid telah lenyap, timbullah penyakit-penyakit kalbu, seperti ujub,
congkak, riya’, dengki, hasud, dan sombong.

Dalam hubungan ini, ilmu tasawuf mengemukakan bahasa-bahasa


tentang praktis untuk merasakan sifat-sifat dan kalam Allah tersebut. Ketika
ilmu kalam menjelaskan nbahwa Allah itu Esa, Maha Pengasih dan
Penyayang, maka ilmu tasawuf mengemukakan bagaimana merasakan
bagaimana ke-Esa-an dan kasih sayang Allah.

Tidak mungkin tasawuf ada tanpa tauhid, tiada guna pembersihan hati
jika tidak beriman, tasawuf yang sebenarnya adalah hasil dari akidah yang
murni dan kuat sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya. Sehingga
ketiga ini tidak sesat.4

Adapun manfaatnya, mendidik hati sehingga mengenal Dzat Allah,


sehingga berbuah kelapangan dada, kesucian hati dan berbudi pekerti yang
luhur menghadapi semua makhluk.

Abu Hasan Asy-Syadzili radiyallahu ‘anhu berkata. Pemgembaraan


kami terdiri diatas lima, 1. Taqwa kepada Allah lahir dan bathin dalam
kesendirian dan di depan publik, 2. Mengikuti sunnah Rasulullah SAW dalam
semua kata dan perbuatan, 3. Mengabaikan semua makhluk dalam kesukaan
ataupun dalam kebencian mereka (tidak menghiraukan apakah mereka suka
atau benci), 4. Rela (ridho) menurut hukum (takdir) Allah, baik yang ringan
maupun yang berat, 5. Kembali kepada Allah dalam suka dan duka.5

Dengan demikian, anatar ilmu kalam, tasawuf dan tauhid memiliki


hubungan yang komplementer saling melengkapi satu sama lain. Tauhid dari
upaya meng-Esa-kan Allah, kemudian ilmu dilengkapi dengan ilmu kalam
dan disempurnakan kekurangannya olrh ilmu tasawuf. Ilmu kalam menggali

4
Elmansyah. Kuliah Ilmu Kalam. (IAIN Pontianak Press, 2017). 57.
5
Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari. Kitab Al-Hikam (Jalan Kalbu para Perindu Allah).
(Shahih, 2015). 3.

AKHLAK TASAWUF 5
ke-Esa-an Allah melalui akal pikiran, ilmu tasawuf menjawab dengan rasa
bahwa Allah itu Esa. Karenanya, ketiga ilmu ini, pada dasarnya tidak dapat
dipisahkan.6

Sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam.


Penghayatan yang mendalam lewat hati terhadap ilmu kalam menjadikan
ilmu ini lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian,
ilmu Tasawuf merupakan penyempurna ilmu kalam.

1. Berfungsi sebagai pengendali ilmu Tasawuf. Oleh karena itu, jika


timbul suatu aliran yang bertentangan dengan akidah, atau lahir suatu
kepercayaan baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-
Sunnah, hal itu merupakan penyimpangan atau penyelewengan. Jika
bertentangan atau tidak pernah diriwayatkan dalam Al-Qur’an dan As-
Sunnah, atau belum pernah diriwayatkan oleh ulama-ulama salaf, hal
itu harus ditolak.

2. Berfungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan-


perdebatan kalam. Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam
dunia Islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang mengandung muatan
rasional disamping muatan naqliyah, ilmu kalam dapat bergerak kearah
yang lebih bebas. Disinilah ilmu Tasawuf berfungsi memberi muatan
rohaniah sehingga ilmu kalam terkesan sebagai dialektika keIslaman
belaka, yang kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan hati.

B. Hubungan Tasawuf Dengan Filsafat7


Ilmu Tasawuf yang berkembang didunia Islam tidak dapat dilepaskan
dari sumbangan serta pengaruh pemikiran falsafi. Oleh karena itu, dalam
tasawuf dikenal adanya kecenderungan aliran tasawuf falsafi yang lebih
menitikberatkan pada pembicaraan tasawuf secara filosofis, teoritis, penuh

6
Selanjutnya, Elmansyah. Kuliah Ilmu Kalam. (IAIN Pontianak Press, 2017). 58.
7
Drs. H. Mahfudz, M.Ag, Akhlak Tasawuf, (Cirebon, Al-Tarbiyah Press. 2016), 97

AKHLAK TASAWUF 6
dengan uraian-uraian filsafat dan bersifat pemikiran spekulatif. Hal ini dapat
dilihat dari pembicaraan-pembicaraan kalangan tasawuf tentang hal ihwal
(konsep) jiwa. Harus diakui bahwa terminology jiwa dan ruh itu sendiri
sesungguhnya merupakan terminology yang banyak dikaji dalam pemikiran-
pemikiran filsafat. Banyak filosof muslim terkenal yang membahas persoalan
jiwa dan ruh, antara lain al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali, dsb.
Kajian-kajian mereka tentang jiwa dalam pendekatan kefilsafatan
ternyata telah banyak mmberikan sumbangan yang sangat berharga bagi
kesempurnaan kajian tasawuf dalam dunia Islam. Pemahaman tentang jiwa
dan roh itu sendiri menjadi hal yang esensial dalam tasawuf. Kajian-kajian
kefilsafatan tentang jiwa dan roh kemudian banyak dikembangkan dalam
tasawuf.

Hubungan antara Tasawuf dan filsafat, yaitu : 8

1. Bentuk hubungan yang paling luas antara Tasawuf dan filsafat tentu
saja adalah pertentangan satu sama lain, sebagaimana tampak dalam
karya-karya al-Ghazali bersaudara, Abu hamid dan Ahmad. Dan
penyair sufi besar seperti Sana’I, Athar, dan Rumi. Kelompok sufi ini
hanya memperhatikan aspek rasional dari filsafat, dan setiap kali
berbicara tentang intelek, mereka tidak mengartikan intelek dalam arti
mutlaknya, namun mengacu kepada aspek rasional intelek (akal). Athar
juga memahami filsafat hanya sebagai filsafat peripatetic yang
rasionalistik, dan menekankan bahwa hal itu tidak boleh dikelirukan
dengan misteri ilahiah dan pengetahuan ilahiah, yang merupakan usaha
puncak pensucian jiwa dibawah bimbingan spiritual para guru sufi.
Intelek tidak sama dengan hadist Nabi dan falsafah tidak sama dengan
teosofi (hikmah) dalam makna Qur’aninya. Matsnawi adalah sebuah
Masterpiece filsafat.

2. Hubungan antara Tasawuf dan filsafat tampak dalam munculnya


bentuk khusus yang terjalin erat dengan filsafat. Meskipun bentuk

8
Hawwa, Tarbiyatuna Ar-Ruhiyyah, Ilmu Tasawuf, (CV Pustaka Setia, T.th) hlm. 63-64

AKHLAK TASAWUF 7
tasawuf ini tidak menerima filsafat peripatetic dan mazhab-mazhab
filsafat lain yang seperti itu, namun ia sendiri tercampur dengan filsafat
atau teosofi (hikmah) dalam bentuknya yang paling luas. Dalam
mazhab Tasawuf itu, intelek sebagai alat untuk mencapai realitas
tentang yang mutlak dengan memperoleh kedudukan yang tinggi.
Dengan demikian, dalam tasawuf berkembang satu jenis teosofi (ilmu
ilahi) yang tidak hanya datang untuk menggantikan filsafat didunia
Arab, tapi di Persia ia juga amat mempengaruhi jika bukan
menggantikan filsafat dan kemudian secara amat
efektif menggabungkan filsafat dan Tasawuf, bahkan mengganti nama
Tasawuf menjadi Irfan (gnosis,makrifat) pada periode safawi.
Penentangan terhadap filsafat masih tetap tampak, tapi penentangan ini
sebenarnya muncul dalam kaitannya dengan istilah falsafah dan
rasionalisme. Hubungan Tasawuf dan filsafah berbeda dari apa yang
diamati dalam tasawuf yang didominasi cinta, seperti pada Athar dan
lainnya

3. Hubungan antara Tasawuf dan filsafat ditemukan dalam karya-karya


para sufi yang sekaligus juga filosof, Yang telah berusaha untuk
merujuk tasawuf dan filsafat. Afdhaluddin kasyani, Quthbuddin syirazi,
Ibd Turkah al-Isfahani, dan Mir Abul Qosim findiriski, orang-orang ini
seluruhnya adalah sufi yang berjalan pada jalan spiritual dan telah
mencapai maqam spiritual, dan beberapa diantara mereka terdapat para
wali, tetapi pada saat yang sama secara mendalam memahami filsafat
dan cukup mengherankan, beberapa diantara mereka lebih tertarik
pada filsafat peripatetic dan rasionalistik daripada filsafat intuitif
(dzawqi), sebagaimana dapat diamati dalam kasus Mir Findiriski yang
amat mendalami As-Syifanya Ibnu Sina. Diantara kelompok ini,
Afdhaluddin Kasyani memegang kedudukan yang unik. Ia tidak hanya
salah satu sufi terbesar yang hingga hari ini mouseleumnya di Maqam
Kasyani menjadi tempat Ziarah, baik orang-orang yang awam maupun
orang-orang terpelajar, tetapi ia juga dianggap sebagai salah satu filosof
Persia terbesar yang sumbangannya bagi pengembangan bahasa filsafat

AKHLAK TASAWUF 8
Persia tak tertandingi. Karya-karya filsafatnya dalam logika, teologi,
ataupun dalam ilmu-ilmu alam ditulis dalam bahasa Persia yang jelas
dan fasih, dan merupakan Masterpiece dalam bahasa ini. Ia tidak hanya
menunjukkan dengan jelas wawasan tasawuf dalam syair-syairnya,
namun dalam hal logika dan filsafat yang paling ketat sekalipun. Figur
besar lain seperti Quthbuddin al-Syirazi, yang dalam masa remajanya
bergabung dengan para sufi dan juga menulis karya besar dalam filsafat
peripatetic dalam bahasa Persia, Durrat al-Tajj, lalu bin Turkah
Isfahani, yang Tamhid al-Qawaidnya merupakan Masterpiece filsafat
sekaligus Tasawuf, dan Mir Abul Qosim Findiriski, yang menjadi
komentator karya metafisika Hindu penting, Yoga Vaisithsa adalah sufi
dan ahli makrifat yang kepadanya banyak mukjizat dinisbatkan.
Mereka semua sesungguhnya adalah para pengikut mazhab Afdhluddin
Kasyani, sejauh menyangkut upaya pemantapan hubungan antara
Tasawuf dan Filsafat.

4. Kategorisasi umum kita mengenai hubungan Tasawuf dengan filsafat,


mencakup para filosof yang mempelajari atau mempraktekan Tasawuf.
Yang pertama dari kelompok ini adalah Al-Farabi, yang mempraktekan
Tasawuf dan bahkan telah mengubah musik yang dimainkan dalam
pertemuan Sama’ pada sufi, mutiara hikmah yang dinisbatkan
kepadanya sangatlah penting. Karena, pada dasarnya, inilah buku
mengenai filsafat maupun makrifat dan hingga kini diajarkan di Persia
bersama komentar-komentar makrifati.

C. Keterkaitan Ilmu Tasawuf dengan Ilmu Fiqih

Lazimnya, pembahasan kitab-kitab fiqih selalu dimulai dari thaharah


(tata cara bersuci), kemudian persoalan-persoalan fiqhiyyah lainnya. Namun,
pembahasan ilmu fiqih tentang thaharah atau lainnya tidak secara langsung
terkait dengan pembicaraan nilai-nilai rohaniahnya. Padahal thaharah akan
terasa lebih bermakna jika disertai pemahaman rohaniahnya.

AKHLAK TASAWUF 9
Dalam kaitannya, ilmu tasawuf merupakan pelengkap dan jawaban
paling tepat terhadap kekeringan spiritual yang dialami ilmu fiqih. Karena
ilmu tasawuf berhasil memberikan corak batini terhadap ilmu fiqih. Corak
batin yang dimaksud adalah seperti dalam ilmu fiqih secara panjang lebar
membahas tentang tata cara sholat, rukun dan syarat-syaratnya; tetapi ilmu
ini tidak membahas bagaimana melaksanakan sholat yang baik, yang
dilakukan dengan ikhlas, khusyuk, dan penuh penghayatan. Didalam ilmu
fiqih juga tidak membahas hikmah yang dikandung dalam sholat, serta fungsi
spiritualnya maupun sosialnya. Semua itu akan ditemukan pembahasannya
dalam ilmu tasawuf.9 Bahkan, ilmu tasawuf mampu menumbuhkan kesiapan
manusia untuk melaksanakan hukum-hukum fiqih. Alasannya, pelaksanaan
kewajiban manusia tidak akan sempurna tanpa perjalanan rohaniah.

Makrifat secara rasa (al-ma’rifat al-dzauqiyyah) terhadap Allah


melahirkan pelaksanaan hukum-hukum-Nya secara sempurna. Dari sinilah
dapat diketahui kekeliruan pendapat yang menuduh perjalanan menuju Allah
(dalam tasawuf) sebagai tindakan melepaskan diri dari hukum-hukum Allah.
Allah SWT berfirman:

َ‫ث ُ َّم َج َع ْلنَاك َ َعلَى ش َِر ْي َع ٍة ِمنَ ْاْلَ ْم ِر فَات َّ ِب ْع َها َو َْلتَتَّ ِب ْع ا َ ْه َوآ َءالَّ ِذيْنَ َْل َي ْع َل ُم ْون‬

“Kemudian Kami jadikan kamu berada diatas suatu syariat (peraturan)


dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti
hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (QS. Al-Jatsiyah: 18).

Berkaitan dengan persoalan ini, Al-Junaid seperti dikutip Sa’id


Hawwa- menuduh sesat golongan yang menjadikan wushul (mencapai) Allah
sebagai tindakan untuk melepaskan diri dari hukum-hukum syariat. Lebih
tegas, ia mengatakan, “Betul mereka sampai, tetapi ke neraka saqar.”

Seorang faqih (ahli fiqih) sekaligus juga sufi (ahli tasawuf), Imam Al-
Ghazali menyatakan, “Barang siapa mendalami fiqih, tetapi tidak bertasawuf,
berarti ia fasik; barang siapa bertasawuf, tetapi tidak mendalami fiqih, berarti
ia zindiq; Dan barang siapa melakukan keduanya, berati ia bertahaqquq

9
Mahfud, Akhlak Tasawuf, (Cirebon: Al-Tarbiyah Press, 2016), hlm. 99.

AKHLAK TASAWUF 10
(melakukan kebenaran). Tasawuf dan fiqih adalah dua disiplin ilmu yang
saling menyempurnakan. Jika terjadi pertentangan antara keduanya, berarti
disitu terjadi kesalahan dan penyimpangan. Maksudnya, boleh jadi seorang
sufi berjalan tanpa fiqih atau menjauhi fiqih, atau seorang ahli fiqih tidak
mengamalkan ilmunya.

Jadi, seorang ahli fiqih harus bertasawuf. Sebaliknya, seorang ahli


tasawuf (sufi) pun harus mendalami dan mengikuti aturan fiqih. Tegasnya,
seorang faqih harus mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan hukum
dan yang berkaitan dengan tata cara pengamalannya. Seorang sufi pun harus
mengetahui aturan-aturan hukum dan sekaligus mengamalkannya.

Para pengamat ilmu tasawuf mengakui bahwa orang yang telah berhasil
menyatukan tasawuf dengan fiqih adalah Al-Ghazali. Kitab Ihya Ulumuddin
dapat dipandang sebagai kitab yang mewakili dua disiplin ini, disamping ilmu
lainnya seperti ilmu kalam dan filsafat.10

Paparan diatas telah menjelaskan bahwa ilmu tasawuf dan ilmu fiqih
adalah dua disiplin ilmu yang saling melengkapi. Setiap orang harus
menempuh keduanya, dengan catatan bahwa kebutuhan perseorangan
terhadap kedua disiplin ilmu ini sangat beragam sesuai dengan kadar kualitas
ilmunya. Dari sini dapat dipahami bahwa ilmu fiqih, yang terkesan sangat
formalistik lahiriah, menjadi “sangat kering”, “kaku” dan tidak mempunyai
makna yang berarti bagi penghambaan seseorang jika tidak diisi dengan
muatan kesadaran rohaniah yang dimiliki oleh tasawuf. Begitu juga,
sebaliknya tasawuf akan terhindar dari sikap-sikap “merasa suci” sehingga
tidak perlu lagi memerhatikan kesucian lahir yang diatur dalam fiqih.

Dahulu para ahli fiqih mengatakan “Barang siapa mendalami fiqih,


tetapi belum bertasawuf, berarti ia fasik. Barang siapa bertasawuf, tetapi
belum mendalami fiqih, berarti ia zindiq. Dan Barang siapa melakukan ke-2
nya, berarti ia melakukan kebenaran”. Tasawuf dan fiqih adalah 2 disiplin
ilmu yang saling menyempurnakan. Jika terjadi pertentangan antara ke-2 nya,

10
Solihin dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 103.

AKHLAK TASAWUF 11
berarti disitu terjadi kesalahan dan penyimpangan. Maksudnya, boleh jadi
seorang sufi berjalan tanpa fiqih, atau seorang ahli tidak mengamalkan
ilmunya. Jadi, seorang ahli sufi harus bertasawuf (sufi), harus memahami dan
mengikuti aturan fiqih. Tegasnya, seorang fiqih harus mengetahui hal-hal
yang berhubungan dengan hukum dan yang berkaitan dengan tata cara
pengamalannya. Seorang sufi pun harus mengetahui aturan-aturan hukum dan
sekaligus mengamalkannya. Ini menjelaskan bahwa ilmu Tasawuf dan ilmu
Fiqih adalah 2 disiplin ilmu yang saling melengkapi.

AKHLAK TASAWUF 12
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Ilmu tasawuf adalah suatu ilmu yang sangat penting dimiliki manusia
karena dengan ilmu tasawuf jiwa kita lebih tenang dan damai. Dan bertasawuf
bukanlah harus dengan bertarikat tapi hakikat ilmu tasawuf adalah pembinaan jiwa
kerohanian sehingga bisa berhubungan dengan Allah sedekat mungkin.Tasawuf
tidak dapat lepas dari keterkaitannya dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti
ilmu kalam, ilmu fiqh, filsafat, dan ilmu jiwa.
a. Hubungan Ilmu Tasawuf dengan ilmu kalam adalah Kebenaran dalam
Tasawuf berupa tersingkapnya (kasyaf) Kebenaran Sejati (Allah) melalui
mata hati. Tasawuf menemukan kebenaran dengan melewati beberapa jalan
yaitu: maqom/at, hal (state) kemudian fana'. Sedangkan kebenaran dalam
Ilmu Kalam berupa diketahuinya kebenaran ajaran agama melalui penalaran
rasio lalu dirujukkan kepada nash (al-Qur'an & Hadis).
Pada ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan definisinya,
kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Sementara
pada ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk
merasakan keyakinan dan ketentraman. Sebagaimana dijelaskan juga tentang
menyelamatkan diri dari kemunafikan. Semua itu tidak cukup hanya
diketahui batasan-batasannya oleh seseorang. Sebab terkadang seseorang
sudah tahu batasan-batasan kemunafikan, tetapi tetap saja melaksanakannya.
Fungsi kaitan ilmu kalam dengan ilmu tasawuf :
Sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam. Penghayatan
yang mendalam lewat hati terhadap ilmu kalam menjadikan ilmu ini lebih
terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian, ilmu Tasawuf
merupakan penyempurna ilmu kalam.

b. Hubungan Ilmu Tasawuf dengan ilmu filsafat, Tasawuf adalah pencarian


jalan ruhani, kebersatuan dengan kebenaran mutlak dan pengetahuan mistik
menurut jalan dan sunnah. Sedangkan filsafah tidak dimaksudkan hanya

AKHLAK TASAWUF 13
filsafah peripatetic yang rasionalistik, tetapi seluruh mazhab intelektual
dalam kultur Islam yang telah berusaha mencapai pengetahuan mengenai
sebab awal melalui daya intelek. Filsafat terdiri dari filsafat diskursif (bahtsi)
maupun intelek intuitif (dzawqi)..

c. Hubungan Ilmu Tasawuf dengan Ilmu Fiqih adalah dua disiplin ilmu yang
saling melengkapi. Setiap orang harus menempuh keduanya, dengan catatan
bahwa kebutuhan perseorangan terhadap kedua disiplin ilmu ini sangat
beragam, sesuai dengan kadar kualitas ilmunya. Dari sini dapat dipahami
bahwa ilmu fikih, yang terkesan sangat formalistik – lahiriyah, menjadi
sangat kering, kaku, dan tidak mempunyai makna bagi penghambaan
seseorang jika tidak diisi dengan muatan kesadaran rohaniyah yang dimiliki
ilmu tsawuf. Begitu juga sebaliknya, tasawuf akan terhindar dari sikap-sikap
“merasa suci” sehingga tidak perlu lagi memperhatikan kesucian lahir yang
diatur dalam ilmu fikih.

AKHLAK TASAWUF 14
DAFTAR PUSTAKA

Mahfudz. 2016. Akhlak Tasawuf. Cirebon: Al-Tarbiyah Press.

Anwar, Rosihon. 2010. Akhlak Tasawuf. Bandumg: CV. Pustaka Setia.

Elmansyah. 2017. Kuliah Ilmu Kalam. Pontianak: IAIN Pontianak Press.

Syekh Atha’illah As-Sakandari, Ibnu. 2015. Kitab Al-Hikam. Jalan Kalbu


para Perindu Allah.

Hawwa, Tarbiyatuna Ar-Ruhiyyah. Ilmu Tasawuf. Bandung: CV Pustaka


Setia.

Solihin dan Anwar, Rosihon. 2008. Ilmu Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia.

AKHLAK TASAWUF 15