Anda di halaman 1dari 25

REFERAT

FRAKTUR

Penyusun :

Fitriani Rahmawati

03014072

Pembimbing :

dr. Hawari, Sp.Rad

KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI

RUMAH SAKIT TNI ANGKATAN LAUT DR MINTOHARDJO

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

MARET 2018
BAB I

PENDAHULUAN

Fraktur adalah suatu diskontinuitas susunan tulang yang disebabkan karena


trauma atau keadaan patologis. Fraktur tidak selalu disebabkan oleh trauma yang
berat, kadang-kadang trauma ringan saja dapat menimbulkan fraktur bila tulangnya
sendiri terkena penyakit tertentu. Juga trauma ringan yang terus menerus dapat
menimbulkan fraktur. Kekuatan, sudut, tenaga, keadaan tulang, dan jaringan lunak di
sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi disebut lengkap atau tidak
lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan fraktur tidak
lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang. Di Indonesia angka kejadian
patah tulang atau insiden fraktur cukup tinggi, berdasarkan data dari Departemen
Kesehatan RI tahun 2013 didapatkan sekitar delapan juta orang mengalami kejadian
fraktur dengan jenis fraktur yang berbeda dan penyebab yang berbeda. Dari hasil
survey tim Departemen Kesehatan RI tahun 2013 didapatkan 25% penderita fraktur
yang mengalami kematian, 45% mengalami catat fisik, 15% mengalami stress
psikologis seperti cemas atau bahkan depresi, dan 10% mengalami kesembuhan
dengan baik. Sedangkan menurut World Hearth Oraganization (WHO) tahun 2013
menyebutkan bahwa kecelakaan lalu lintas mencapai 120.2226 kali atau 72% dalam
setahun.

Bila secara klinis ada atau diduga ada fraktur, maka harus dibuat 2 foto tulang
yang bersangkutan. Sebaiknya dibuat foto antero-posterior (AP) dan lateral. Bila
kedua proyeksi ini tidak dapat dapat dibuat karena keadaan pasien yang tidak
mengizinkan, maka dibuat 2 proyeksi yang tegak lurus satu sama lain.

Gejala klasik fraktur adalah adanya riwayat trauma, rasa nyeri


dan bengkak di bagian tulang yang patah, deformitas, putusnya kontinuitas tulang,
gangguan muskuloskeletal dan gangguan neurovaskuler. Namun tidak semua tanda
dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur. Maka dari itu penting bagi seorang
klinisi untuk mengetahui bagaimana gambaran radiologi pada fraktur untuk
menentukan suatu diagnosis.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Tulang

Tulang adalah jaringan hidup yang strukturnya dapat berubah apabila


mendapat tekanan. Seperti jaringan ikat lain, tulang terdiri atas sel-sel, serabut-
serabut, dan matriks. Tulang bersifat keras oleh karena matriks ekstraselularnya
mengalami kalsifikasi, dan mempunyai derajat elastisitas tertentu akibat adanya
serabut-serabut organik. Dapat dibedakan dua jenis tulang, yakni tulang kompakta
dan tulang spongiosa. Perbedaan antara kedua jenis tulang tadi ditentukan oleh
banyaknya bahan padat dan jumlah serta ukuran ruangan yang ada di dalamnya.
Semua tulang memiliki kulit luar dan lapisan substansia spongiosa di sebelah dalam,
kecuali apabila masa substansia spongiosa diubah menjadi cavitas medullaris (rongga
sumsum).

Fungsi Tulang antara lain adalah menopang tubuh, proteksi sistem kerangka
melindungi sebagian besar organ dalam tubuh yang sangan penting untuk
berlangsungnya kehidupan, seperti otak yang dilindungi oleh tulang cranial, vertebrae
yang melindungi sistem saraf dan tulang costa yang melindungi jantung dan paru-
paru, mendasari gerakan sebagian besar dari otot melekat pada tulang, dan ketika otot
berkontraksi, maka otot akan menarik tulang untuk melakukan pergerakan,
homeostasis mineral, memproduksi sel darah dimana sumsum tulang merah adalah
tempat dibentuknya sel darah merah, beberapa limfosit, sel darah putih granulosit dan
trombosit, penyimpanan trigliserid sumsum tulang kuning sebagian besar terdiri dari
sel adiposa yang menyimpan trigliserid (Tortora dan Derrickson, 2011).

2.2 Klasifikasi Tulang Berdasarkan Bentuk

a. Tulang Panjang

Pada tulang ini, panjangnya lebih besar daripada lebarnya. Tulang ini mempunyai
corpus berbentuk tubular, diafisis, dan biasanya dijumpai epifisis pada ujung-
ujungnya. Selama masa pertumbuhan, diafisis dipisahkan dari epifisis oleh kartilago
epifisis. Bagian diafisis yang terletak berdekatan dengan kartilago epifisis disebut
metafisis. Corpus mempunyai cavitas medullaris di bagian tengah yang berisi sumsum
tulang. Bagian luar corpus terdiri atas tulang kompakta yang diliputi oleh selubung
jaringan ikat yaitu periosteum. Ujung-ujung tulang panjang terdiri atas tulang
spongiosa yang dikelilingi oleh selapis tipis tulang kompakta. Facies artikularis
ujung-ujung tulang diliputi oleh kartilago hialin. Tulang-tulang panjang yang
ditemukan pada ekstremitas antara lain tulang humerus, femur, ossa metacarpi, ossa
metatarsal dan phalanges.

b. Tulang Pendek

Tulang-tulang pendek ditemukan pada tangan dan kaki. Contoh jenis tulang ini antara
lain os Schapoideum, os lunatum, dan talus. Tulang ini terdiri atas tulang spongiosa
yang dikelilingi oleh selaput tipis tulang kompakta. Tulang-tulang pendek diliputi
periosteum dan facies articularis diliputi oleh kartilago hialin.

c. Tulang Pipih

Bagian dalam dan luar tulang ini terdiri atas lapisan tipis tulang kompakta, disebut
tabula, yang dipisahkan oleh selaput tipis tulang spongiosa, disebut diploe. Scapula
termasuk di dalam kelompok tulang ini walaupun bentuknya iregular. Selain itu
tulang pipih ditemukan pada tempurung kepala seperti os frontale dan os parietale.

d. Tulang Iregular

Tulang-tulang iregular merupakan tulang yang tidak termasuk di dalam kelompok


yang telah disebutkan di atas (contoh, tulang tulang tengkorak, vertebrae, dan os
coxae). Tulang ini tersusun oleh selapis tipis tulang kompakta di bagian luarnya dan
bagian dalamnya dibentuk oleh tulang spongiosa.

e. Tulang Sesamoid

Tulang sesamoid merupakan tulang kecil yang ditemukan pada tendo-tendo tertentu,
tempat terdapat pergeseran tendo pada permukaan tulang. Sebagian besar tulang
sesamoid tertanam di dalam tendon dan permukaan bebasnya ditutupi oleh kartilago.
Tulang sesamoid yang terbesar adalah patella, yang terdapat pada tendo musculus
quadriceps femoris. Contoh lain dapat ditemukan pada tendo musculus flexor pollicis
brevis dan musculus flexor hallucis brevis, fungsi tulang sesamoid adalah mengurangi
friksi pada tendo, dan merubah arah tarikan tendo (Snell, 2012).

Gambar 2.1 Klasifikasi Tulang berdasarkan bentuk

2.3 Definisi Fraktur

Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang bersifat
total maupun sebagian. Fraktur dikenal dengan istilah patah tulang, biasanya
disebabkan oleh trauma berat atau trauma ringan yang dapat menimbulkan fraktur bila
tulangnya sendiri terkena penyakit tertentu. Kekuatan, sudut, tenaga, keadaan
tulang, dan jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang
terjadi disebut lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh
tulang patah, sedangkan fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan
tulang.
2.4 Epidemiologi

World Hearth Oraganization (WHO) mencatat pada tahun 2011-2012 terdapat


5,6 juta orang meninggal dunia dan 1,3 juta orang menderita fraktur akibat kecelakaan
lalu lintas. Fraktur merupakan suatu kondisi dimana terjadi diintegritas tulang.
Penyebab terbanyak fraktur adalah kecelakaan, baik itu kecelakaan kerja, kecelakaan
lalu lintas dan sebagainya. Tetapi fraktur juga bisa terjadi akibat faktor lain seperti
proses degeneratif dan patologi. Menurut Departemen Kesehatan RI tahun 2013, dari
sekian banyak kasus fraktur di Indonesia, fraktur pada ekstremitas bawah akibat
kecelakaan memiliki prevalensi yang paling tinggi diantara fraktur lainnya yaitu
sekitar 46,2%. Dari 45.987 orang dengan kasus fraktur ekstremitas bawah akibat
kecelakaan, 19.629 orang mengalami fraktur pada tulang femur, 14.027 orang
mengalami fraktur cruris, 3.775 orang mengalami fraktur tibia, 970 orang mengalami
fraktur pada tulang-tulang kecil di kaki dan 336 orang mengalami fraktur fibula.
Walaupun peran fibula dalam pergerakan ektremitas bawah sangat sedikit, tetapi
terjadinya fraktur pada fibula tetap saja dapat menimbulkan adanya gangguan aktifitas
fungsional tungkai dan kaki.

2.5 Etiologi

Fraktur terjadi bila ada suatu trauma yang mengenai tulang, dimana trauma
tersebut kekuatannya melebihi kekuatan tulang. Dua faktor mempengaruhi terjadinya
fraktur :
 Ekstrinsik  meliputi kecepatan dan durasi trauma yang mengenai
tulang, arah dan kekuatan trauma.
 Intrinsik  meliputi kapasitas tulang mengasorbsi energi trauma,
kelenturan, kekuatan, dan densitas tulang.
Tulang cukup mudah patah, namun mempunyai kekuatan dan ketahanan untuk
menghadapi stress dengan kekuatan tertentu. Fraktur berasal dari cedera, stress
berulang, serta fraktur patologis.
a. Fraktur yang disebabkan oleh cedera
Sebagian besar fraktur disebabkan oeh tenaga berlebihan yang tiba-tiba, dapat
secara langsung ataupun tidak langsung. Dengan tenaga langsung tulang patah
pada titik kejadian; jaringan lunak juga rusak. Pukulan langsung biasanya
mematahkan tulang secara transversal atau membengkokkan tulang melebihi
titik tumpunya sehingga terjadi patahan dengan fragmen “butterfly”.
Kerusakan pada kulit diluarnya sering terjadi; jika crush injury terjadi, pola
faktur dapat kominutif dengan kerusakan jaringan lunak ekstensif. Dengan
tenaga tidak langsung, tulang patah jauh dari dimana tenaga diberikan;
kerusakan jaringan lunak pada tempat fraktur jarang terjadi.

b. Fatigue atau stress fracture


Fraktur ini terjadi pada tulang normal yang menjadi subjek tumpuan berat
berulang, seperti pada atlet, penari, atau anggota militer yang menjalani
program berat. Beban ini menciptakan perubahan bentuk yang memicu proses
normal remodeling kombinasi dari esorpsi tulang dan pembentukan tulang
baru menurut hukum Wolff. Ketika pajanan terjadap stress dan perubahan
bentuk terjadi berulang dan dalam jangka panjang, resorpsi terjadi lebih cepat
dari pergantian tulang, mengakibatkan daerah tersebut rentan terjadi fraktur.
Masalah yang sama terjadi pada individu dengan pengobatan yang
mengganggu keseimbangan normal resorpsi dan pergantian tulang; stress
fracture meningkat pada penyakit inflamasi kronik dan pasien dengan
pengobatan steroid atau methotrexate.
c. Fraktur Patologis
Fraktur dapat terjadi pada tekanan normal jika tulang telah lemah karena
perubahan strukturnya (seperti pada osteoporosis, osteogenesis imperfekta,
atau Paget’s disease) atau melalui lesi litik (contoh: kista tulang, atau
metastasis).

2.6 Tipe Fraktur

Setiap fraktur perlu diperhatikan garis fraktur. Berikut adalah beberapa tipe
fraktur ;

- Fraktur transversal
- Fraktur spiral atau oblik
- Fraktur komunitif : lebih dan 2 fragmen
- Fraktur avulsi
- Fraktur greenstick pada anak-anak
- Fraktur epifisis dengan separasi
- Fraktur kompresi pada vertebra
- Fraktur impresi : pada tengkorak

Fraktur simpel (simple fracture) adalah fraktur dengan garis fraktur


transversal, oblik atau spiral. Garis fraktur transversal bila sudut garis fraktur terhadap
aksis panjang tulang tersebut kurang dari 30°, bila sudut tersebut 30° atau lebih
disebut garis fraktur oblik. Pada garis fraktur oblik akan mengakibatkan fraktur
tresebut tidak stabil dan menghasilkan pemendekan (shortening) dan pergeseran
ujung-ujung fragmen bahkan kontak ujung -ujung tersebut tidak terjadi bila dilakukan
tindakan konservatif. Kata simpel yang dimaksud adalah garis patah yang
sirkumferensial sehingga tulang tersebut menjadi dua fragmen. Adapun fraktur spiral
adalah garis fraktur yang melingkar pada tulang tersebut sebagai akibat gaya
memutar.

Gambar 2.2 Beberapa tipe fraktur

Fraktur kominutif (comminuted multifragmented) adalah fraktur dengan


jumlah fragmen lebih dari dua. Fraktur kominutif dapat berupa spiral wedge fracture
akibat gaya memutar atau akibat trauma langsung maupun tidak langsung.
Berdasarkan bentuk disebut butterfly fragment.

Fraktur kompresi sering terjadi pada korpus vertebra akibat gaya trauma fleksi
atau pada kalkaneus akibat jatuh dan ketinggian.
Gambar 2.3 Fraktur Kompresi Vertebra Lumbal

Fraktur avulsi dapat diakibatkan oleh kontraksi otot yang mendadak sehingga
tempat perlekatan otot tersebut tertepas dan membawa fragmen tulang daerah
tersebut. Fraktur avulsi sering terjadi pada perlekatan ligament atau kapsul sendi dan
sering berhubungan dengan kejadian dislokasi sendi.

Gambar 2.4 Fraktur avulsi

Menurut hubungan dengan keadaan sekitarnya fraktur dapat dibagi menjadi:


a. Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar.
b. Fraktur terbuka (open/ compound), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar karena adanya perlukaan dikulit.
Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat (menurut R. Gustillo), yaitu :
Tabel 2.1 Derajat fraktur terbuka
Derajat I Derajat II Derajat III
Luka <1 cm Laserasi >1 cm Terjadi kerusakan
jaringan lunak yang luas
Kerusakan jaringan lunak Kerusakan jaringan lunak Meliputi struktur kulit,
sedikit tidak luas otot, dan neurovaskular

Tidak ada luka remuk Flap / avulsi

Fraktur sederhana Fraktur kominutif sedang


transversal, oblig, atau
kominutif ringan
Kontaminasi minimal Kontaminasi sedang Kontaminasi maksimal

Fraktur derajat III terbagi atas :


a) Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun
terdapatlaserasi luas / flap / avulsi, atau fraktur segmental / sangat kominutif
yangdisebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran
luka.
b) Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau
kontaminasi massif.
c) Luka pada pembuluh arteri / saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat
kerusakan jaringan lunak.

Berdasarkan letak anatomis tubuh, fraktur dibagi menjadi beberapa bagian :

Ekstremitas atas
a. Regio gelang bahu
1) Fraktur klavikula
2) Fraktur skapula
3) Fraktur humerus subkapital
b. Regio humerus
1) Fraktur suprakondiler humerus
2) Fraktur humerus kondiler
3) Fraktur olecranon
4) Fraktur kapitulum radius
c. Regio siku
1) Fraktur suprakondiler humerus
2) Fraktur humerus kondiler
3) Fraktur olecranon
4) Fraktur kapitulum radius
d. Regio lengan bawah
1) Fraktur radius
2) Fraktur ulna
3) Fraktur antebrakii
4) Fraktur monteggia
5) Fraktur galeazzi
e. Regio pergelangan bawah
1) Fraktur radius distal
2) Fraktur tulang karpal
f. Regio tangan

Tulang belakang
a) Regio vertebra servikal
1) Fraktur tulang atlas
2) Fraktur tulang odontoid
3) Fraktur tulang vertebra servikal bawah
b) Regio vertebra torakolumbal

Ekstremitas bawah
c) Regio tulang panggul
d) Regio sendi panggul
1) Fraktur leher femur
2) Fraktur tulang trokanter femur
e) Regio femur
1) Fraktur batang femur pada anak
2) Fraktur batang femur pada dewasa
f) Regio lutut
1) Fraktur emur interkondiler
2) Fraktur patella
3) Fraktur plato tibia
g) Regio tungkai bawah
1) Fraktur batang tibia dan fibula
2) Fraktur tibia
3) Fraktur fibula

h) Regio pergelangan kaki


1) Fraktur pergelangan kaki
2) Fraktur malleolus medialis
3) Fraktur malleolus lateral
4) Fraktur bimaleolaris
5) Fraktur kompresi pada tibia
i) Regio pedis
1) Fraktur talus
2) Fraktur kalkaneus
3) Fraktur metatarsal
4) Fraktur jari kaki

2.7 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis fraktur yaitu munculnya nyeri yang diikuti oleh adanya
pembengkakan. Tanda-tanda yang umum terjadi meliputi, nyeri terus menerus dan
bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi, deformitas ekstremitas
akibat pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai, fungsiolesa pada area
fraktur, pemendekan tulang akibat kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah
tempat fraktur, krepitasi, pembengkakan, dan perubahan warna lokal. Gejala yang
muncul berbeda-beda tergantung pada area dimana letak tulang yang patah. (Garner,
2008; Smeltzer & Bare, 2006).

Pada fraktur tulang panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya


karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur. Fragmen
sering melingkupi satu dan lainnya sampai 2,5 – 5 cm (1-2 inchi). Pembengkakan dan
perubahan warna daerah lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan
yang menyertai fraktur. Tanda ini bisa terjadi beberapa jam atau beberapa hari setelah
terjadinya cidera. Saat ekstrimitas dperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
(krepitasi) yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya. Uji
krepitasi dapat mengakibatkan kerusakan pada jaringan lunak yang lebih berat
(Lukman & Ningsih, 2009).
2.8 Fase Penyembuhan Tulang

Proses penyembuhan fraktur terdiri atas lima stadium yaitu :

a. Pembentukan hematom : Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma di


sekitar dan di dalam frakur. Tulang pada permukaan fraktur, yang tidak
mendapat persediaan darah, akan mati sepanjang satu atau dua milimeter.
b. Radang dan proliferasi selluler : Dalam 8 jam setelah fraktur terdapat reaksi
radang akut distertai poliferasi sel di bawah periosteum dan di dalam saluran
medulla yang tertembus. Ujung fragmen dikelilingi oleh jaringan sel, yang
menghubungkan tempat fraktur. Hematoma yang membeku perlahan-lahan di
absorbs dan kapiler baru yang halus berkembang ke dalam daerah itu.
c. Pembentukan kalus : Sel yang berkembangbiak memilki potensi krondrogenik
dan osteogenik: bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai
membentuk tulang dan dalam beberapa keadaan, juga kartilago. Populaso sel
sekarang juga mencakup osteoklas (mungkin dihasilkan dari pembuluh darah
baru) yang mulai membersihkan tulang yang mati.Massa sel yang tebal,
dengan pulau-pulau tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kalus atau
bebat pada permukaan periosteal dan endosteal.Sementara tulang fibrosa yang
imatur (atau anyaman tulang) menjadi lebih paday, gerakan pada tempat
fraktur semakin berkurang dan pada empat minggu setelah cedera fraktur
menyatu.

Gambar 2.5 Pembentukan Kalus


d. Konsolidasi : Bila aktivitas osteoklastik dan osteoblastik berlanjut, anyaman
tulang berubah menjadi tulang lamelar.Sistem itu sekarang cukup kaku untuk
memungkinakan osteoklas menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur,
dan dekat di belakangnya osteoblast mengisi celah-celah yang tersisa di antara
fragmen dengan tulang yang baru. Ini adakah proses yang lambat dan
mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang cukup kuat untuk membawa
bebang yang normal.
e. Remodeling : Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat.
Selama beberapa tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses
resorpsi dan pembentukan anak, tulang akan memperoleh bentuk yang mirip
bentuk normalnya. Kontur normal dari tulang disusun kembali melalui proses
remodeling akibat pembentukan tulang osteoblastik maupun resorpsi
osteoklastik. Keadaaan terjadi secara relatif lambat dalam periode waktu yang
berbeda tetapi akhirnya semua kalus yang berlebihan dipindahkan, dan
gambaran serta struktur semula dari tulang tersusun kembali.

Gambar 2.6 Fase Penyembuhan Tulang

2.9 Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan radiologi telah terbukti merupakan modalitas yang berguna dalam


melakukan evaluasi terhadap tulang, sendi, dan jaringan lunak ekstremitas. Selain itu,
pemeriksaan radiologi sering menjadi pemeriksaan pertama yang dilakukan untuk
mengevaluasi patologi yang terjadi pada tulang, walaupun tetap diperlukan
pemeriksaan tambahan yang sesuai untuk menyelesaikan penilaian. Pemeriksaan
radiologi harus dilakukan sesuai indikasi dan menggunakan dosis minimal.

Indikasi untuk dilakukannya pengambilan gambar pada tulang diantara adalah:

- Trauma
- Nyeri
- Instabilitas
- Impingement
- Suspek kekerasan fisik yang terjadi pada bayi dan anak-anak
- Penyakit metabolik, defisiensi nutrisi, dan perebuhan skeletal akibat
penyakit sistemik
- Neoplasma
- Patologi tulang primer
- Artropati
- Infeksi
- Evaluasi pre/post operasi
- Sindroma kongenital dan kelainan perkembangan.
- Lesi pembuluh darah
- Evaluasi jaringan lunak(contoh: benda asing)
- Korelasi mengenai penemuan abnormal

Berikut merupakan rekomendasi mengenai area anatomis dan saran posisi


pengambilan gambar menurut American College of Radiology:

Tabel 2.2 Area Anatomis dan Saran Posisi Pengambilan Gambar

Anatomic Area Views


Scapula Anteroposterior (AP) and lateral
Clavicle AP and AP angulated view
Acromioclavicular Upright AP and outlet (lateral) view collimated
(AC) joints to the AC joint
Shoulder Two views, one of which should be AP or
Grashey; and additional view(s) as indicated by
Humerus clinical
AP and circumstances
lateral
Elbow AP and lateral
AP and lateral [1]
Forearm AP and lateral
Wrist Posteroanterior (PA), oblique, and lateral
Hand PA, oblique, and lateral (fanned fingers)
Hand bone age PA, left hand and wrist
Fingers PA, oblique, and lateral
Hip AP and lateral (frog-leg, cross-table, or other
lateral options)
Pelvis AP
Femur AP and lateral
Patella Lateral and patellar/axial
Knee AP and lateral
Tibia-fibula AP and lateral
Ankle AP, oblique (mortise), and lateral
Calcaneus Lateral and axial
Foot AP, oblique, and lateral
Toes AP, oblique, and lateral

Hal yang perlu dievaluasi saat mendapatkan foto tulang diantaranya:

- Perkembangan tulang (osifikasi intramembran dan enkondral)


- Struktur tulang (Epifisis – fisis – ZPC – Metafisis – Diafisis, Kortex –
Medulla – Periosteum – Endosteum)
- Metabolisme tulang (kepadatan tulang)

Jika mendapatkan kelainan pada foto tulang maka, kelainan tersebut harus dievaluasi
sebagai berikut:
- Lokasi
- Posisi pada tulang
- Batas
- Bentuk
- Ukuran
- Integritas korteks
- Karakteristik lesi
- Matriks tulang
- Respon membran periosteum
- Perubahan jaringan lunak
Pemeriksaan radiologi selanjutnya adalah untuk kontrol :

a. Segera setelah reposisi untuk menilai kedudukan fragmen. Bila dilakukan


reposisi terbuka perlu diperhatikan kedudukan penintramedular (kadang-
kadang menembus tulang), plate dan screw (kadang-kadang screw lepas).
b. Pemeriksaan periodik untuk menilai penyembuhan fraktur

Komplikasi pada fraktur yang dapat dilihat pada foto radiologi yaitu :

a. Osteomyelitis : terutama pada fraktur terbuka

Gambar 2.7 Osteomyelitis


A. Infeksi awal pada metaphyseal, terdapat destruksi fokal yangminimal padadistal
medialmetaphysic.
B. destruksi tulang lanjut jelas kelihatanpada metaphyseal

b. Nekrosis avaskular : hilangnya supply darah pada suatu bagian tulang


sehingga menyebabkan kematian tulang tersebut
c. Non-union : radiologis terlihat adanya sklerosis pada ujung fragmen
sekitar fraktur dan garis patah menetap, pembentukan kalus terjadi tetapi
garis patah menetap
Gambar 2.8 : Non-Union

Non-union pada tibia. Terdapat Interosseous bone grafting dan


surgical wiring. Terdapat sklerosis sekitar garis fraktur tanpa adanya
bridging tulang, 1 tahun setelah fraktur

d. Delayed-union : umumnya terjadi pada orang tua, distraksi fragmen tulang


karena reposisi kurang baik, defisiensi vitamin C dan D, fraktur patologik,
dan adanya infeksi
e. Mal-union : disebabkan reposisi fraktur yang kurang baik, timbul
deformitas tulang

Gambar 2.9 Mal-Union

Malunion pada fraktur tibia dimana telah terjadi penyembuhan tapi terdapat
angulasi padalateral dari fragmen distal
f. Atrofi sudeck : adanya difuse osteoporosis yang berat pada tulang distal
dan fraktur disertai pembengkakan jaringan lunak dan rasa nyeri

Fraktur Pada Anak-Anak

Ada beberapa perbedaan antara fraktur pada anak-anak dan orang dewasa yang
disebabkan oleh:

- Sifat trauma yang berbeda


- Pada anak-anak tulang berada dalam fase pertumbuhan

Pada anak-anak fraktur di lengan bawah dan sekitar siku lebih banyak
pada orang dewasa. Yang juga sering mengalami fraktur adalah tungkai bawah.
Banyak dari fraktur tidak lengkap dan kadang-kadang hanya menunjukkan
tekukan pada korteks yang dikenal sebagai fraktur greenstick.

Pada anak-anak penyembuhan fraktur lebih cepat daripada orang dewasa


dan pembentukan kalus sudah dapat dilihat dalam beberapa hari. Juga pada anak-
anak remodeling sangat baik. Ternyata remodeling lebih baik bila fraktur dekat
ujung tulang daripada diafisis. Jenis fraktur lain pada anak-anak selain greenstick
antara lain yaitu fraktur epifisis dengan separasi.

Klasifikasi fraktur epifisis dengan separasi menurut Salter dan Harris :

- Remodeling setelah fraktur


- Penyembuhan fraktur

Gambar 3.0 Klasifikasi fraktur epifisis dengan separasi menurut Salter dan Harris
Fraktur Skeletal Regional

1. Fraktur radius bagian distal

Terbagi menjadi tiga , yaitu : fraktur colles, fraktur smith dan fraktur epifisis
degan separasi pada anak-anak.

Gambar 3.1 Fraktur Colles dan Fraktur Smith

2. Fraktur tulang naviculare manus

Fraktur tulang naviculare sering sekali sukar dilihat bila masih baru karena garis
fraktur yang sangat tipis dan biasanya lebih mudah dilihat setelah beberapa hari.
Hal ini disebabkan karena trabekula yang letaknya dekat garis fraktur diabsorpsi
sehingga jarak antara kedua fragmen tulang lebih lebar.

3. Fraktur metakarpal

Sering sekali terjadi terutama setelah meninju , terjadi fraktur distal metakarpal V.

4. Fraktur Bennett

Fraktur dislokasi pada basis metakarpal I. Bila diduga ada fraktur atau dislokasi
pada tulang tangan harus dibuat foto PA, lateral, oblik. Dan bila meragukan dibuat
foto tangan yang sehat untuk perbandingan.
Gambar 3.2 Fraktur Bennett

5. Fraktur dislokasi siku

Disebabkan oleh karena trauma berat dan fraktur salah satu atau lebih tulang
sekitar sendi siku dengan dislokasi sendi siku.

Gambar 3.3 Fraktur dislokasi siku


6. Fraktur suprakondiler humerus

Fraktur ini merupakan jenis fraktur siku yang paling sering terjadi pada anak-anak
berusia 3-10 tahun.Sebgian besar fraktur akibat terjatuh pada tangan terentang
dengan hiperekstensi siku.Fragmen distal bergeser ke posterior.

Gambar 3.4 Fraktur suprakondiler humerus

7. Fraktur caput radii

Ada beberapa tipe fraktur caput radii, pada anak-anak paling sering pada kolumna
radii. Pada orang dewasa paling sering fraktur caput radii.

8. Fraktur radius dan ulna

Terbagi dalam fraktur monteggia dan fraktur galeazzi. Fraktur galeazzi ini akibat
terjatuh dengan terentang dan lengan bawah dalam keadaan pronasi, atau terjadi
karena pukulan langsung pada pergelangan tangan bagian dorsolateral.Fraktur ini
merupakan fraktur sepertiga distal radius dengan dislokasi sendi radioulna distal.
Fragmen distal mengalami pergeseran dang angulasi ke arah dorsal. Dislokasi
mengenai ulna ke arah dorsal dan medial. Sedangkan fraktur monteggia Fraktur
jenis ini disebabkan oleh pronasi lengan bawah yang dipaksakan saat jatuh atau
pukulan secara langsung pada bagian dorsal sepertiga proksimal lengan bawah.
Fraktur ini terdiri dari fraktur ulna proksimal dengan angulasi anterior yang
disertai dengan dislokasi anterior kaput radius.

Gambar 3.5 Fraktur Monteggia dan Galeazzi


1. David I. P. 2008. Orthopedic Traumathology – A Residents Guide 2nd
editon ,Leipzig, Germany.

2. http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-
kesehatan-indonesia/profil-kesehatan-indonesia-2013.pdf

3. Radiologi diagnostik sjahriar rasad edisi kedua

4. Sjamsuhidayat, De Jong. 2011. Buku Ajar Ilmu Bedah (Edisi 3).


Jakarta:EGC.
5. Solomon L, et al (eds). Apley’s system of orthopaedics and fractures.
9th ed. London: Hodder Arnold; 2010.
6. Mansyur, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Penerbit
FKUI.
7. Price, Sylvia A. 2005. Patofisiologi, jilid 2. Jakarta : EGC.
8. Rasjad C. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: PT. Yarsif
Watampone.
9. Bone scan | Radiology Reference Article | Radiopaedia.org [Internet].
Radiopaedia. [cited 2015 Nov 5]. Available from:
http://radiopaedia.org/articles/bone-scan
10. Microsoft Word - BNMS Bone Scintigraphy Guideline v1 -
BNMS_Bone_Scintigraphy_Guideline_v1.pdf [Internet]. [cited 2015
Nov 5]. Available from:
http://www.bnms.org.uk/images/stories/Procedures_and_Guidelines/B
NMS_Bone_Scintigraphy_Guideline_v1.pdf
11.