Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM

PERCOBAAAN FARADAY

Mata Pelajaran : Fisika

KELOMPOK 1
AMELIA PUTRI (02)
ERINA SEVIYANTI DEWI (05)
NUR ALFI LAYLI HIDAYATI (21)
RAHAMAWATI ISTIANNG RAHAYU (25)
SA’DIYATUL RIZQIE A. F (30)
VEDYA GRIESA A. (32)

SMA NEGERI 2 JOMBANG


2016/2017
A. Landasan Teori

Melalui berbagai percobaan, Michael Faraday (1791-1867), seorang ilmuwan jenius


dari Inggris akhirnya berhasil membuktikan bahwa arus listrik memang dapat dihasilkan dari
perubahan medan magnetik. Peristiwa dihasilkannya arus listrik akibat adanya perubahan
medan magnetik dinamakan induksi elektromagnetik, sedangkan arus yang dihasilkan dari
induksi elektromagnetik dinamakan arus induksi. Penemuan ini dikenal dengan “Hukum
Faraday”. Penemuan ini dianggap sebagai penemuan monumental. Mengapa? Pertama,
“Hukum Faraday” memiliki arti penting dalam hubungan dengan pengertian teoretis tentang
elektromagnetik. Kedua, elektromagnetik dapat dipergunakan sebagai penggerak secara terus-
menerus arus aliran listrik seperti yang digunakan oleh Faraday dalam pembuatan dinamo listrik
pertama.

Di dalam kumparan timbul suatu beda potensial (atau gaya gerak listrik , GGL). Timbulnya
GGL dengan cara ini disebut induksi elektromagnetik. Batang magnet memiliki medan
magnet di sekitarnya. Medan magnet divisualkan dalam bentuk garis-garis medan. Sebuah
batang magnet mempunyai bentuk garis-garis medan magnet. Sekumpulan garis-garis medan
disebut fluks magnet. Bentuk garis-garis medan magnet pada sebuah batang magnet. GGL
yang diinduksi oleh fluks magnet yang berubah dapat dianggap terdistribusi di seluruh
rangkaiannya.

RUMUS

Tampak dari persamaan di atas, besarnya GGL yang dihasilkan bergantung pada
berapa cepat perubahan fluks berlangsung, bukan bergantung pada beberapa nilai fluks saat
itu. Juga makin banyak lilitan pada kumparan makin besar GGL induksi yang dihasilkan.

Indikator : Memformulasikan konsep induksi Faraday

Tujuan : Menentukan hubungan antara GGL induksi dengan jumlah lilitan dan
perubahan fluks magnet tiap detik.

Hipotesa : hubungan antara GGL induksi dengan jumlah lilitan dan perubahan fluks
magnet tiap detik.
Alat dan Bahan :
1. 3 Magnet Batang
2. 1 Set Trafo/Transformator
3. Busur
4. Galvanometer
5. Kabel Penghubung
B. Langkah-Langkah :
1. Merangkaikan alat seperti gambar.
2. Sambungkanlah kumparan pada galvanometer. Kemudian, jatuhkan magnet batang
sesuai dengan kecepatan yang diinginkan.
3. Amatilah simpangan yang terjadi pada galvanometer pada saat magnet dijatuhkan.
4. Gantilah kumparan dengan jumlah lilitan yang berbeda.
5.

C. Data Percobaan
Sumber Besar Arah (i) Jarak a dari kawat Sudut Penyimpangan Kompas
(volt) (i)
1,5 V 1,5 A u-s 8 mm 400
1,5 V 1,5 A u-s 15 mm 250
1,5 V 1,5 A u-s 20 mm 200
Tabel 1.1 Tabel Perbedaan Jarak dengan Kompas Jarum di atas kawat

Sumber Besar Arah (i) Jarak a dari kawat Sudut Penyimpangan Kompas
(volt) (i)
1,5 V 1,5 A s-u 8 mm 400
1,5 V 1,5 A s-u 15 mm 250
1,5 V 1,5 A s-u 20 mm 200
Tabel 1.2 Tabel Perbedaan Jarak dengan Kompas Jarum di bawah kawat

Dengan sumber tegangan dan arah arus (i) yang sama, yaitu tegangan 1,5 volt dan arah
(i) dari utara ke selatan diperlakukan jarak antara kawat dan kompas yang berbeda yaitu 8 mm,
15 mm, 20 mm. Hasil yang didapat yaitu sudut penyimpangan kompas menjadi 400, 250, dan
200 . Tapi, untuk kompas jarum yang dilakukan di atas kawat, arah jarum menunjukkan arah (i)
dari selatan ke utara.

Sumber Besar Arah (i) Jarak a dari kawat Sudut Penyimpangan Kompas
(volt) (i)
1,5 V 1,5 A u-s 20 mm 200
3V 2,3 A u-s 20 mm 400
4,5 V 2,65 A u-s 20 mm 450
6V 3,2 A u-s 20 mm 500
Tabel 1.3 Tabel Perbedaan Sumber Tegangan dengan Kompas Jarum di bawah kawat

Dengan arah arus (i) dan jarak kawat terhadap a yang sama, yaitu arah dari utara ke selatan
dan jarak a dari kawat 20 mm diperlakukan sumber tegangan yang berbeda, yaitu 1,5 V (1
baterai), 3 V(2 baterai), 4,5 V (3 baterai), dan 6 V(4 baterai). Hasil yang didapat yaitu sudut
penyimpangan kompas menjadi 20°, 40°, 45°, dan 50°.

D. Analisis Data
1. Berdasarkan pada percobaan pertama, gaya tarik magnet yang paling kuat terletak di bagian
ujung-ujung magnet.
2. Berdasarkan pada percobaan kedua, semakin besar arus yang mengalir, maka semakin besar
pula penyimpangan jarum kompas yang terjadi.

𝐼∼𝛂
3. Berdasarkan percobaan nomor 3 dan nomor 4, semakin besar tegangan yang diberikan,
maka semakin besar pula penyimpangan jarum kompas yang terjadi.

𝑉∼𝐼∼𝛂
4. Berdasarkan percobaan nomor 5 dan nomor 6, jika jarak antara kawat dan jarum kompas
diperbesar maka penyimpangan jarum kompas yang terjadi semakin kecil.
1
𝑎 ∼
𝛂
5. Berdasarkan percobaan nomor 3, 4, 5, dan nomor 6, dapat dinyatakan bahwa tegangan (V)
berbanding lurus dengan (I) dan berbanding lurus dengan penyimpangan jarum kompas (α),
dan jarak (𝑎) berbanding terbalik dengan penyimpangan jarum kompas (α).
1
𝐼∼𝛂∼
𝑎
6. Berdasarkan percobaan nomor 7 dan nomor 8, pada posisi awal ketika kompas dan kawat
sejajar tetapi belum dialiri arus, jarum kompas tidak berubah dan saat kawat dialiri arus,
jarum kompas bergerak menyimpang sesuai arah medan magnetnya. Jika arus dari Utara ke
Selatan maka jarum menyimpang ke arah Barat, dan jika arus dari arah Selatan ke Utara
maka jarum menyimpang ke arah Timur.
E. Kesimpulan

Dari analisis diatas menunjukkan bahwa α ~ 𝒊⁄𝒂 . α menunjukkan besarnya induksi


magnet listrik disekitar kawat lurus berarus listrik (B) berarti,

B ~ 𝒊⁄𝒂

Konstanta 𝒊⁄𝒂 = B

Dan berdasarkan teori :

𝝁𝝄. 𝒊
𝑩=
𝟐𝝅. 𝒂

Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kelistrikan dan kemagnetan yaitu,
disekitar kawat berarus listrik terdapat medan magnet yang ditandai dengan
menyimpangnya jarum kompas. Menyimpangnya jarum kompas ini dipengaruhi oleh kuat
arus yang mengalir dan jarak antara kawat berarus dengan kompas. Penyimpangan jarum
kompas dipengaruhi oleh besar dan arah arus listrik, serta jarak antara kawat berarus dengan
kompas. Untuk mendapakan data yang akurat, dibutuhkan ketelitian, kecermatan, dan
kesabaran dalam melakukan percobaan oersted ini.