Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Substansi obat jarang diberikan dalam keadaan murni, tetapi merupakan


kombinasi dalam formulasi dengan zat-zat yang bukan obat yang mempunyai fungsi
khusus seperti zat-zat pensuspensi, pengemulsi, pengisi, pengikat, penghancur, basis
salep, basis suposituria, zat pengawet, pewarna dan sebagainya. Maka itu obat dengan
zat tambahan dicampur dan menjadi suatu bentuk yang disebut bentuk sediaan
farmasi. Bentuk sediaaan farmasi diperlukan karena sering zat aktifnya itu sangat
kecil seperti Reserpin 0,1 mg. Etinilestradiol 0,05 mg, maka dibuat tablet yang cukup
besar. Memilih rute penggunaan obat tergantung dari tujuan terapi sifat obatnya serta
kondisi pasien.

Bentuk sediaan obat yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan efek
terapi/obat. Bentuk sediaan obat dapat memberi efek obat secara local atau sistemik.
Efek sistemik diperoleh jika obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran
darah,sedang efek local adalah efek obat yang hanya bekerja setempat misalnya salep.

Obat seringkali digunakan secara oral. Kebanyakan obat ditelan dan jarang
yang larut dalam mulut. Memberikan obat melalui mulut adalah cara pemberian obat
yang paling sering, tetapi juga yang paling bervariasi dan memerlukan jalan yang
paling rumit untuk mencapai jaringan. Cara lain dalam pemberian obat adalah dengan
cara sublingual yaitu adalah pemberian obat dengan cara meletakkannya dibawah
lidah sampai habis diabsorbsi ke dalam pembuluh darah. Pemberian obat dengan cara
meletakkannya di antara gusi dengan membrane mukosa pipi adalah salah satu cara
pemberian obat bukal.

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana cara pemberian obat secara oral ?


2. Bagaimana cara pemberian obat secara sublingual ?
3. Bagaimana cara pemberian obat secara bukal ?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui cara pemberian obat secara oral.


2. Untuk mengetahui cara pemberian obat secara sublingual.
3. Untuk mengetahui cara pemberian obat secara bukal.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hubungan Rute Penggunaan Obat Dengan Bentuk Sediaan Obat

Substansi obat jarang diberikan dalam keadaan murni, tetapi merupakan


kombinasi dalam formulasi dengan zat-zat yang bukan obat yang mempunyai fungsi
khusus seperti zat-zat pensuspensi, pengemulsi, pengisi, pengikat, penghancur, basis
salep, basis suposituria, zat pengawet, pewarna dan sebagainya. Maka itu obat dengan
zat tambahan dicampur dan menjadi suatu bentuk yang disebut bentuk sediaan
farmasi. Bentuk sediaaan farmasi diperlukan karena sering zat aktifnya itu sangat
kecil seperti Reserpin 0,1 mg. Etinilestradiol 0,05 mg, maka dibuat tablet yang cukup
besar. Disamping itu bentuk sediaan obat diperlukan untuk:

1. Melindungi obat dari kerusakan akibat pengaruh udara yaitu O2 atau


kelembapan seperti pada tablet salut dan sebagainya.
2. Lindungi obat terhadap pengaruh perusakan asam lambung setelah
digunakan melalui mulut seperti pada tablet salut enteric.
3. Memudahkan penggunaan obat untuk tujuan terapi, misalkan salep dipakai
untuk pengobatan kulit, supositoria untuk pengobatan rectum dan anus.
4. Membuat pelepasan obat yang teliti, tepat dan aman.
5. Menghilangkan atau menutupi rasa pahit atau rasa tak enak dari obatnya
misalnya kapsul, tablet bersalut, dan syrup dengan perencah.
6. Membuat serbuk yang tak larut atau tak stabil dalam larutan dibuat serbuk
yang tak larut dan terdispersi dalam air seperti suspensi.
7. Mencampur cairan seperti minyak agar terdispersi dalam larutan air
menjadi emulsi. Hal ini juga untuk melindungi rasa dan bau tak enak dari
minyak seperti minyak ikan.
8. Pengobatan setempat agar diperoleh efek obat yang optimal di tempat yang
diobati seperti salep, krim, obat tetes mata, hidung dan telinga.
9. Memudahkan obat dimasukkan dalam lubang badan misalkan rectum atau
vagina seperti supositoria dan ovula.
10. Mengatur pelepasan obat agar dapat berefek lama, seperti kapsul atau tablet
sustained release dan suspense.
11. Agar obat segera masuk dalam peredaran darah atau dalam jaringan badan
seperti injeksi intravena, intramuskuler.

3
12. Memperoleh aksi obat yang optimal dalam saluran pernafasan seperti
inhalasi, aerosol dan semprot hidung.
13. Membuat sediaan obat yang berupa larutan dimana obatnya larut dalam zat
pembawa yang diinginkan.

2.1.1 Rute Penggunaan Obat

Memilih rute penggunaan obat tergantung dari tujuan terapi sifat obatnya serta
kondisi pasien. Oleh sebab itu perlu mempertimbangkan masalah-masalah seperti
berikut:

1. Tujuan terapi menghendaki efek local atau efek sistemik.


2. Apakah kerja awal obat yang dikehendki itu cepat atau masa kerjanya
lama.
3. Stabilitas obat di dalam lambung dan atau usus.
4. Keamanan relative dalam pengunaan melalui bermacam-macam rute.
5. Rute yang tepat dan menyenangkan bagi pasien dan dokter.
6. Kemampuan pasien menelan obat melalui oral.

Bentuk sediaan obat yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan efek
terapi/obat. Bentuk sediaan obat dapat memberi efek obat secara local atau sistemik.
Efek sistemik diperoleh jika obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran
darah,sedang efek local adalah efek obat yang hanya bekerja setempat misalnya salep.

Efek sistemik dapat di peroleh dengan cara:

1. Oral melalui saluran gastrointestinal atau rektal.


2. Parenteral dengan cara intravena, intramuskuler dan subkutan.
3. Inhalasi langsung ke dalam paru-paru.

Efek lokal dapat di peroleh dengan cara :

1. Intaokular, intranasal, aural dengan jalan diteteskan pada mata, hidung,


telinga.
2. Intra respiratoral, berupa gas masuk paru-paru.
3. Rektal, uretral dan vaginal dengan jalan di masukkan ke dalam dubur,
saluran kencing dan kemaluan wanita, obat meleleh atau larut pada
keringat badan atau larut dalam cairan badan.

4
Rute penggunaan obat dapat dengan cara:

1. Melalui rute oral.


2. Melalui rute parenteral.
3. Melalui rute inhalasi.
4. Melalui rute membrane mukosa seperti mata, hidung, telinga, vagina dan
sebagainya.
5. Melalui rute kulit.

2.1.2 Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pemberian Obat

1. Perawat harus lebih berhati-hati jika menyiapkan obat untuk dalam satu
waktu untuk jumlah klien yang banyak.

2. Bentuk tablet tidak direkomendasikan untuk anak dibawah 5 tahun.


Pertimbangkan kemampuan menelan dan mengunyah klien.

3. Jika klien mengalami kesulitan menelan, perawat dapat terlebih dahulu


menggerus obat yang akan diminum klien.

4. Pengukuran dosis tergantung dari banyak factor antara lain adalah umur,
berat badan, jenis kelamin, keadaan penyakit dan keadaan atau kondisi pasien
yang bersangkutan.

5. Mencegah kesalahan pemberian obat dengan cara :

a. Waspada terhadap nama obat yang hampir sama.


b. Waspada jika klien harus mengkonsumsi banyak tablet.
c. Waspada terhadap perubahan yang tiba-tiba dalam instruksi obat-obatan.
d. Selalu memastikan instruksi pemberian obat.
e. Lihat kembali nama generic obat bila tidak yakin sungguh-sungguh.
f. Jangan menginterpretasikan tulisan tangan yang tidak jelas, yakinkan
dengan dokter yang bersangkutan.
g. Berikan perhatian khusus terhadap pemberian obat-obatan yang banyak.
h. Periksa kembali bila pasien mengatakan “saya sudah minum pil saya”.

2.1.3 Pengkajian

1. Kaji informasi dari obat yang akan diberikan kepada klien, baik cara kerja
obat, tujuan, dosis dan rute obat yang dianjurkan, efek samping, lama
kerja dan implikasi keperawatan.

5
2. Kaji kemampuan menelan dan adanya mual dan muntah.
3. Kaji fungsi sensori klien seperti penglihatan, pendengaran dan koordinasi
anggota gerak tubuh. Adanya penurunan sensori klien dapat menjadi
pertimbangan cara memberikan pendidikan kesehatan tentang terapi obat.
Koordinasi anggota gerak dapat menjadi pertimbangan apakah klien
mampu membaca label obat, membuka botol obat.
4. Kaji riwayat medikasi klien, adanya alergi obat, riwayat diet, riwayat obat
yang pernah dikonsumsi.
5. Kaji tingkat pengetahuan klien yang berkaitan dengan penggunaan obat.
6. Kaji apakah klien membutuhkan air minum pada saat minum obat. Air
minum dapat memudahkan klien dalam menelan obat yang dikonsumsi
dan memfasilitasi absorpsi obat di saluran gastrointestinal. Hal ini juga
merupakan cara untuk meningkatkan intake cairan pada klien.
7. Kaji tingkat kepercayaan klien terhadap kebutuhan obat. Pertimbangkan
nilai-nilai kultural, nilai agama dan keyakinan, pengalaman minum obat.

2.1.4 Evaluasi formatif

1. Evaluasi apakah semua obat yang diresepkan sudah diminum klien atau
belum.
2. Evaluasi tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang terapi obat.

2.2 Pengunaan Obat Melalui Rute Oral

Obat seringkali digunakan secara oral. Kebanyakan obat ditelan dan jarang
yang larut dalam mulut. Tujuan penggunaan obat melalui oral terutama untuk
memperoleh efek sistemik, yaitu obat masuk dalam pembuluh darah dan beredar ke
seluruh tubuh setelah terjadi absorpsi obat dari bermacam-macam permukaan
sepanjang saluran gastrointestinal. Tetapi ada obat yang ditelan atau diminum yang
memberi efek local dalam usus dan lambung karena obat tidak larut atau tidak dapat
diabsorpsi dalam rute ini, misalkan obat yang digunakan untuk membunuh cacing dan
berefek dalam usus obat antasida yang digunakan untuk menetralkan kelebihan asam
dalam lambung.

Memberikan obat melalui mulut adalah cara pemberian obat yang paling
sering, tetapi juga yang paling bervariasi dan memerlukan jalan yang paling rumit
untuk mencapai jaringan. Beberapa obat diabsorbsi di lambung, namun duodenum
sering merupakan jalan masuk utama ke sirkulasi sistemik karena permukaan
absorbsinya yang lebih besar. Meminum obat bersama dengan makanan dapat

6
mempengaruhi absorsi. Keberadaan makanan dalam lambung sehingga obat yang
dihancurkan oleh asam, misalnya penisilin menjadi rusak dan tidak dapat diabsorbsi.
Dibanding melalui rute lain penggunaan obat melalui oral adalah yang paling
menyenangkan, murah dan paling aman. Kerugian melalui oral adalah memberi
respon yang lambat disbanding per injeksi dan kemungkinan terjadi absorpsi obat
yang tidak teratur karena tergantung beberapa factor misalnya:

1. Jumlah dan jenis makanan yang ada dalam saluran lambung.


2. Kemungkinn obat dirusak oleh reaksi asam dari perut atau enzim dari
gastrointestinal misalkan insulin harus diberikan per injeksi karena bila
per oral akan dirusak oleh enzim proteolitik dari saluran gastrointestinal.
3. Pada keadan pasien muntah-muntah dan koma.
4. Dikehendaki kerja awal yang cepat. Hal-hal tersebut tidak memungkinkan
penggunaan obat melalui rute oral.

Kecepatan absorpsi obat melalui oral tergantung ketersediaan obat terhadap


cairan bilogik yang disebut ketersediaan hayati. Ketersediaan hayati adalah
presentase obat yang absorpsi tubuh dari suatu dosis yang diberikan dan teredia untuk
memberi efek terapetiknya.

Urutan besarnya ketersediaan hayati dari bentuk sediaan obat ialah: larutan-
suspensi oral-emulsi-kapsul-tablet-tablet bersalut.

Bentuk sediaan obat yang memberi aksi yang cepat tidak selalu
menguntungkan, sebab makin cepat obat diabsorpsi akan cepat pula mengalami
metabolisme dan eksresi. Sedang bentuk sediaan obat yang lambat diabsorpsi akan
memberi aktivitas obat yang lebih lama, maka itu pemilihan bentuk sediaan obat
perlu pertimbangan banyak factor.

2.2.1 Tujuan :

1. Menyediakan obat yang memiliki efek lokal atau sistemik melalui saluran
gastrointestinal.
2. Menghindari pemberian obat yang dapat menyebabkan kerusakan kulit dan
jaringan
3. Menghindari pemberian obat yang dapat menyebabkan nyeri

7
Fokus perhatian : Alergi terhadap obat, kemampuan klien untuk menelan obat,
adanya muntah dan diare yang dapat mengganggu absorbsi obat, efek samping obat,
interaksi obat, kebutuhan pembelajaran mengenai obat yang diberikan.

2.2.2 Indikasi

1. Klien yang membutuhkan terapi suplemen.

Catatan : klien harus mempunyai kemampuan menelan yang baik

2.2.3 Kontraindikasi

1. Klien yang tidak memliki kemampuan menelan.

2. Klien dengan penurunan kesadaran karena akan menyebabkan asfiksia jika tetap
diberikan

2.2.4 Persiapan alat :

1. Baki berisi obat-obatan atau kereta dorong obat (bergantung pada sarana
yang ada)
2. Kartu atau buku rencana pengobatan
3. Mangkuk sekali pakai untuk tempat obat
4. Pemotong obat (jika diperlukan)
5. Martil dan lumpang penggerus (jika diperlukan)
6. Gelas pengukur (jika diperlukan)
7. Gelas dan air minum
8. Sedotan
9. Sendok
10. Pipet
11. Spuit sesuai ukuran mulut anak-anak (jika diperlukan)

8
2.2.5 Prosedur pelaksanaan :

1. Siapkan peralatan dan cuci tangan


2. Jika kemampuan klien untuk dapat minum obat per oral (kemampuan
menelan, mual/muntah, adanya program NPO/tahan makan dan minum,
akan dilakukan pengisapan lambung, tidak terdapat bunyi usus).
3. Periksa kembali order pengobatan (nama klien, nama dan dosis obat, waktu
dan cara pemberian), periksa tanggal kadaluwarsa obat. Jika ada keraguan
pada order pengobatan, laporkan pada perawat berwenang atau dokter
sesuai dengan kebijakan masing-masing institusi.
4. Ambil obat sesuai keperluan (baca order pengobatan dan ambil obat di
almari, rak, atau lemari es sesuai yang diperlukan)
5. Siapkan obat-obatan yang akan diberikan. Siapkan jumlah obat yang sesuai
dengan dosis yang diperlukan tanpa mengontaminasi obat (gunakan teknik
aseptic untuk menjaga kebersihan obat).
a) Tablet atau kapsul
1. Tuangkan tablet atau kapsul dengan takaran sesuai kebutuhan ke
dalam mangkuk sekali pakai tanpa menyentuh obat.
2. Gunakan alat pemotong tablet (jika perlu) untuk membagi obat
sesuai dengan dosis yang diperlukan. Buang bagian tablet yang
tidak digunakan atau sesuai dengan kebijakan institusi masing-
masing.
3. Jika klien mengalami kesulitan untuk menelan, gerus obat menjadi
bubuk dengan menggunakan martil dan lumpang penggerus.
Setelah itu, campurkan dengan menggunakan air atau makanan.

Catatan : cek dengan bagian farmasi sebelum menggerus obat.


Beberapa obat tidak boleh digerus karena mempengaruhi daya
kerjanya.

9
b) Obat dalam bentuk cair/syrup
Bentuk obat dalam syrup biasanya lebih cepat diserap oleh badan
daripada bentuk sediaan suspensi karna tidak memerlukan syarat proses
disolusi.
1. Putar atau bolak balik obat agar tercampur rata sebelum di
tuangkan. Buang obat jika telah berubah warna atau menjadi lebih
keruh.
2. Buka penutup botol dan letakkan menghadap ke atas (menghindari
kontaminasi pada tutup botol bagian dalam).
3. Pegang botol obat sehingga sisi labelnya akan berada pada telapak
tanggan anda kemudian tuangkan obat jauh dari label (mencegah
label menjadi rusak akibat tumpahan cairan obat sehingga label
tidak dapat dibaca dengan tepat).
4. Tuangkan obat dengan takaran sesuai kebutuhan kedalam mangkuk
obat berskala.
5. Sebelum menutup botol, usap bagian bibir botol dengan kertas tisu
(mencegah tutup botol sulit dibuka kembali akibat cairan obat yang
mengering pada tutup botol).
6. Jika jumlah obat yang diberikan hanya sedikit (kurang dari 5 ml),
gunakan spuit steril tanpa jarum untuk mengambilnya dari botol.

6. Berikan obat pada waktu dan dengan cara yang benar :

a. Identifikasi klien dengan tepat.


b. Jelaskan tujuan dan daya kerja obat dengan bahasa yang dapat
dipahami oleh klien.
c. Atur pada posisi duduk. Jika tidak memungkinkan, atur posisi
lateral (posisi ini membantu mempermudah untuk menelan dan
mencegah aspirasi).

10
d. Kaji tanda-tanda vital jika diperlukan (pada obat-obat tertentu) :
1) Ukur nadi sebelum pemberian digitalis, ukur tensi sebelum
pemberian obat penurun tensi, ukur frekuensi pernafasan
sebelum pemberian narkotik.
2) Jika hasilnya diatas atau dibawah normal laporkan kepada
dokter yang bersangkutan.
e. Beri klien air yang cukup untuk menelan obat. Jika sulit menelan,
anjurkan klien meletakkan obat di lidah bagian belakang kemudian
anjurkan minum (simulasi lidah bagian belakang akan
menimbulkan reflek menelan).
f. Jika rasa obat tidak enak, minta klien untuk menghisap beberapa
butir es batu sebelum minum obat atau berikan obat dengan di
campur jus apel, pisang, atau air gula.
g. Jika klien mengatakan obat yang anda berikan berbeda dengan obat
yang diberikan pada hari-hari sebelumnya, obat jangan anda berikan
terlebih dahulu sebelum anda mengecek ulang pada buku catatan
obat.
h. Tetap bersama klien sampai obat di telan habis.
7. Catat obat yang telah diberikan, meliputi nama dan dosis obat, setiap
keluhan, dan tanda tangan anda. Jika obat tidak dapat masuk atau di
muntahkan, catat secara jelas alasannya dan tindakan perawat yang sudah
di lakukan sesuai ketentuan institusi.
8. Kembalikan peralatan yang di pakai dengan tepat dan benar. Buang alat-
alat sekali pakai kemudian cuci tangan.
9. Lakukan evaluasi mengenai efek obat pada klien (biasanya 30 menit
setelah pemberian obat).

11
2.2.6 Pemberian obat kepada bayi dan anak-anak

1. Pilih sarana yang tepat untuk mengukur dan memberikan obat pada bayi
dan anak-anak. (mangkuk plastik sekali pakai, pipet tetes, sendok, spuit
plastik tanpa jarum, atau spuit tuberkulin).
2. Cairkan obat oral dengan sedikit air agar mudah di telan. Jika
menggunakan air yang banyak, anak mungkin akan menolak untuk
meminum seluruh obat yang diberikan dan meminum hanya sebagian.
3. Gerus obat yang berbentuk padat/tablet dan campurkan dengan zat lain
yang dapat mengubah rasa pahit, misalnya madu, pemanis buatan.
4. Posisikan bayi setengah duduk dan berikan obat pelan-pelan.
5. Jika menggunakan spuit, letakkan spuit sepanjang sisi lidah bayi. Posisi ini
mencegah gagging (reflek muntah) dan pengeluaran kembali obat yang
diberikan.
6. Dapatkan informasi yang bermanfaat dari orang tua anak mengenai
bagaimana memberikan obat yang paling baik pada anak yang
bersangkutan.
7. Jika anak tidak kooperatif selama pemberian obat, lakukan langkah-
langkah berikut:
a. Letakkan anak di atas pangkuan anda dengan tangan kanan di
belakang tubuh anda
b. Pegang erat tangan kiri anak dengan tangan kiri anda
c. Amankan kepala anak dengan lengan kiri dan tubuh anda
8. Setelah obat diminum, ikuti dengan memberikan minum air atau
minuman lain yang dapat menghilangkan rasa obat yang tersisa.
9. Lakukan hygiene oral setelah anak-anak minum obat disertai pemanis.
Pemanis yang tersisa di mulut dapat menyebabkan anak beresiko tinggi
mengalami karies dentis.

12
2.3 Pemberian Obat Secara Sublingual

Pengertian : Pemberian obat dengan cara meletakkannya dibawah lidah sampai habis
diabsorbsi ke dalam pembuluh darah.

2.3.1 Tujuan :

1. Memperoleh efek lokal dan sistemik.


2. Memperoleh aksi kerja obat yang lebih cepat dibandingkan secara oral.
3. Menghindari kerusakan obat oleh hepar.

2.3.2 Prosedur Pelaksanaan

Secara umum persiapan dan langkah langkahnya sama dengan pemberian obat secara
oral. Hal yang perlu diperhatikan adalah klien perlu diberi penjelasan untuk
meletakkan obat dibawah lidah, obat tidak boleh ditelan, dan biarkan berada dibawah
lidah sampai habis diabsorbsi seluruhnya.

2.4 Pemberian Obat Secara Bukal

Pengertian : Pemberian obat dengan cara meletakkannya di antara gusi dengan


membrane mukosa pipi.

2.4.1 Tujuan

1. Memperoleh efek lokal dan sistemik.


2. Memperoleh aksi kerja obat yang lebih cepat dbandingkan secara oral.
3. Menghindari kerusakan obat oleh hepar

2.4.2 Prosedur pelaksanaan

Secara umum sama dengan pemberian dengan cara oral. Akan tetapi, klien perlu
diberi penjelasan bahwa obat harus diletakkan diantara gusi dan selaput mukosa pipi
sampai seluruh obat habis diabsorbsi.

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Memilih rute penggunaan obat tergantung dari tujuan terapi sifat obatnya serta
kondisi pasien. Memberikan obat melalui mulut adalah cara pemberian obat yang
paling sering, tetapi juga yang paling bervariasi dan memerlukan jalan yang paling
rumit untuk mencapai jaringan. Beberapa obat diabsorbsi di lambung, namun
duodenum sering merupakan jalan masuk utama ke sirkulasi sistemik karena
permukaan absorbsinya yang lebih besar. Obat-obat oral tersedia dalam berbagai
bentuk cair dan padat. Bila pasien batuk saat minum obat maka segera hentikan
tindakan membarikan obat per oral yang sedang anda lakukan. Pendidikan kesehatan
yang harus diberikan kepada pasien adalah mengenai tujuan pemberian obat, kerja
obat dalam tubuh, efek samping obat, waktu dan frekuensi pemberian obat.
Pemberian obat oral pada anak-anak bila perlu diberikan dengan campuran jus, sirop
atau madu untuk menimbulkan rasa enak. Pemberian obat per oral pada lanjut usia
harus diperhatikan jumlah dan jenis obatnya termasuk efek obat yang dapat
memperberat kondisi penurunan status kesehatannya.

14
Daftar Pustaka

Anief, Moh. 2007. Farmasetika. Yogyakarta : Gadjah Mada Univerity Press

Kusyati, Eni. 2006. Keterampilan dan Prosedur Laboratorium. Jakarta : Penerbit


Buku Kedokteran EGC

Mycek, Mary J. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2. Jakarta : Widya


Medika

Aryani, Ratna. 2011. Prosedur Klinik Keperawatan Pada Mata Ajar Kebutuhan
Dasar Manusia. Jakarta Timur : CV. Trans Info Media

15