Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan wilayah yang rawan terhadap bencana, baik bencana alam maupun
karena ulah manusia. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya bencana ini adalah kondisi
geografis, iklim, geologis dan faktor-faktor lain seperti keragaman sosial budaya dan politik.
Wilayah Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Secara geografis merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat
lempeng tektonik yaitu lempeng benua Asia dan benua Australia serta lempeng samudera
Hindia dan samudera Pasifik. 2. Terdapat 130 gunung api aktif di Indonesia yang terbagi dalam
Tipe A, Tipe B, dan Tipe C. Gunung api yang pernah meletus sekurang-kurangnya satu kali
sesudah tahun 1600 dan masih aktif digolongkan sebagai gunung api tipe A, tipe B adalah
gunung api yang masih aktif tetapi belum pernah meletus dan tipe C adalah gunung api yang
masih di indikasikan sebagai gunung api aktif. 3. Terdapat lebih dari 5.000 sungai besar dan
kecil yang 30% di antaranya melewati kawasan padat penduduk dan berpotensi terjadinya
banjir, banjir bandang dan tanah longsor pada saat musim penghujan.

Beberapa kejadian bencana besar di Indonesia antara lain:

1. Gempa bumi dan tsunami yang terbesar terjadi pada akhir tahun 2004 yang melanda Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam dan sebagian Provinsi Sumatera Utara telah menelan korban yang
sangat besar yaitu 120.000 orang meninggal, 93.088 orang hilang, 4.632 orang luka-luka.

BAB I

2. Gempa bumi Nias, Sumatera Utara terjadi pada awal tahun 2005 mengakibatkan 128 orang
meninggal, 25 orang hilang dan 1.987 orang luka-luka. 3. Gempa bumi DI Yogyakarta dan Jawa
Tengah terjadi tanggal 27 Mei 2006 mengakibatkan 5.778 orang meninggal, 26.013 orang luka
di rawat inap dan 125.195 orang rawat jalan. 4. Gempa bumi dan tsunami terjadi pada tangal
17 Juli 2006 di pantai Selatan Jawa (Pangandaran, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Banjar, Cilacap,
Kebumen, Gunung Kidul dan Tulung Agung) telah menelan korban meninggal dunia 684 orang,
korban hilang sebanyak 82 orang dan korban dirawat inap sebanyak 477 orang dari 11.021
orang yang luka-luka. 5. Tanah longsor sampai pertengahan tahun 2006 terjadi di Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa
Timur, Bali dan Papua dengan jumlah korban 135 orang meninggal dunia. 6. Banjir bandang
seperti yang terjadi secara beruntun pada pertengahan tahun 2006 di Kab. Sinjai (Sulsel), banjir
di Kab. Bolaang 7. Mongondow (Sulut), Kota Gorontalo (Gorontalo) Kab. Tanah Bumbu dan
Banjar (Kalsel), Kab. Katingan (Kalteng). 8. Gunung Merapi di Jawa Tengah sepanjang tahun
2006 menunjukkan peningkatan aktivitas yang mengakibatkan 4 orang meninggal, 5.674 orang
pengungsian dengan permasalahan kesehatannya. 9. Sejak awal tahun 1999 telah terjadi
konflik vertikal dan konflik horizontal di Indonesia yang ditandai dengan timbullnya kerusuhan
sosial, misalnya di Sampit, Sambas Kalimantan Barat, Maluku, Aceh, Poso, Sulawesi, Nusa
Tenggara Timur, Papua dan berbagai daerah lainnya yang berdampak pada terjadinya
pengungsian penduduk secara besar-besaran.

10. Ledakan bom Bali I dan II serta ledakan bom di wilayah Jakarta mengakibatkan
permasalahan kesehatan yang juga berdampak kepada aspek sosial, politik, ekonomi, hukum
dan budaya di Indonesia. 10.Kegagalan teknologi seperti kasus Petro Widada Gresik.
11.Semburan lumpur panas Sidoarjo Jawa Timur.

Semua kejadian tersebut di atas menimbulkan krisis kesehatan antara lain lumpuhnya
pelayanan kesehatan, korban mati, korban luka, pengungsi, masalah gizi, masalah ketersediaan
air bersih, masalah sanitasi lingkungan, penyakit menular dan stres/gangguan kejiwaan.

Permasalahan yang dihadapi dalam penanganan krisis kesehatan akibat bencana, antara lain:
1. Sistem informasi yang belum berjalan dengan baik 2. Mekanisme koordinasi belum berfungsi
dengan baik 3. Mobilisasi bantuan dari luar lokasi bencana masih terhambat akibat masalah
transportasi 4. Sistem pembiayaan belum mendukung 5. Sistem kewaspadaan dini belum
berjalan dengan baik 6. Keterbatasan logistik

Dalam penanganan krisis kesehatan akibat bencana, banyak bantuan kesehatan dari LSM/NGO
lokal mapun internasional yang terlibat secara aktif dalam penanganan bencana di Indonesia.
Oleh karena itu perlu adanya standar bagi petugas kesehatan di Indonesia, LSM/NGO nasional
maupun internasional, lembaga donor dan masyarakat yang bekerja atau berkaitan dalam
penanganan krisis kesehatan akibat bencana.