Anda di halaman 1dari 120

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan
rahmat, hidayah, sertainayah-nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Mata Kuliah Otomasi
Kelistrikan Industri untuk menyusun makalah”Transmisi” ini dengan baik.

Tidak lupa shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan untuk junjungan kita nabi
Muhammad SAW yang kita nantikan syafaatnya di hari akhir. Makalah mata kuliah Otomasi ini
saya susun untuk memenuhi tugas semester ganjil. Pada kesempatan ini kami juga ingin
mengucapkan terimakasih kepada :
1. Dosen pembimbing mata kuliah Otomasi Kendali Industri.
2. Teman-teman yang selalu memberikan dorongan setiap kali melakukan praktikum.
3. Orang tua saya yang selalu memberikan dukungan baik secara materi maupun nonmateri.
4. Serta semua pihak yang turut membantu melancarkan dalam pelaksanaan tugas saya ini

Apabila dalam penyusunan tugas ini terdapat kesalahan kata-kata kami mohon maaf yang
setulus-tulusnya karena terbatasnya pengetahuan dan waktu dalam penyusunan laporan ini. Kritik
dan salam juga sangat saya harapkan dari Pembina demi tercapainya laporan yang baik. Akhir
kata terimakasih.

Malang, 3 Oktober 2017

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

PLN merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang didirikan untuk mentransmisikan
tenaga listrik dari pusat-pusat pembangkit yang bertenaga air, diesel, tenaga uap berbahan bakar
batu bara maupun gas, ke pengguna akhir seperti kawasan industri, komersial, pemukiman
maupun sarana publik.
Untuk mentransmisikan tenaga listrik tersebut, Perseroan mengelola jaringan transmisi dan
distribusi di atas tanah maupun kabel bawah tanah, beserta serangkaian pusat trafo dan gardu
induk pengatur tegangan dan beban atau daya listrik untuk kemudian disalurkan ke terminal
instalasi listrik domestik di tempat pengguna.
Perkembangan ketenagalistrikan di Indonesia dimulai sejak awal abad ke-19, saat beberapa
perusahaan asal Belanda yang bergerak di industri gula dan teh mendirikan pembangkit listrik
untuk keperluan pabriknya sendiri. Melalui serangkaian peristiwa sejarah, kemudian seluruh pusat
pembangkit ini dikelola oleh perusahaan induk, yang kemudian dikenal sebagai PLN.
PLN kini mengelola jaringan listrik mulai dari pusat pembangkitan yang dikelola sendiri
maupun milik swasta, dengan daerah operasi melingkupi seluruh kawasan wilayah Indonesia,
mulai dari perkotaan hingga ke area terpencil.
Secara singkat, Sejarah yang telah dicapai PLN dapat digambarkan berikut ini.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah PLN


Berawal di akhir abad ke 19, perkembangan ketenagalistrikan di Indonesia mulai ditingkatkan
saat beberapa perusahaan asal Belanda yang bergerak di bidang pabrik gula dan pabrik teh
mendirikan pembangkit listrik untuk keperluan sendiri.

Antara tahun 1942-1945 terjadi peralihan pengelolaan perusahaan- perusahaan Belanda


tersebut oleh Jepang, setelah Belanda menyerah kepada pasukan tentara Jepang di awal Perang
Dunia II.

Proses peralihan kekuasaan kembali terjadi di akhir Perang Dunia II pada Agustus 1945, saat
Jepang menyerah kepada Sekutu. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para pemuda dan buruh
listrik melalui delegasi Buruh/Pegawai Listrik dan Gas yang bersama-sama dengan Pimpinan KNI
Pusat berinisiatif menghadap Presiden Soekarno untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan
tersebut kepada Pemerintah Republik Indonesia. Pada 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno
membentuk Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga dengan
kapasitas pembangkit tenaga listrik sebesar 157,5 MW.

Pada tanggal 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN (Badan
Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang listrik, gas dan kokas yang
dibubarkan pada tanggal 1 Januari 1965. Pada saat yang sama, 2 (dua) perusahaan negara yaitu
Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai pengelola tenaga listrik milik negara dan Perusahaan
Gas Negara (PGN) sebagai pengelola gas diresmikan.

Pada tahun 1972, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.17, status Perusahaan Listrik
Negara (PLN) ditetapkan sebagai Perusahaan Umum Listrik Negara dan sebagai Pemegang Kuasa
Usaha Ketenagalistrikan (PKUK) dengan tugas menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan
umum.

Seiring dengan kebijakan Pemerintah yang memberikan kesempatan kepada sektor swasta
untuk bergerak dalam bisnis penyediaan listrik, maka sejak tahun 1994 status PLN beralih dari
Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) dan juga sebagai PKUK dalam
menyediakan listrik bagi kepentingan umum hingga sekarang.
2.1.1 Sejarah berkembangnya listrik di Indonesia
2.1.1.1 Kapan Listrik Bersinar Di Indonesia
Untuk menyususn sejarah listrik yang tersebar dis seluruh wilayah Indonesia tidak
mudah. Penyusunan sejarah listrik yang bermutu hanya dimungkinkan apabila bisa ditemukan
arsip-arsip kelistrikan arsip Departemen Kehakiman dan arsip Departemen V & W (PUT). Sebagai
gambar singkat berdasarkan beberapa catatan yang bisa ditemukan sejarah listrik di Indonesia
dapat diuraikan sebagai berikut. Menurut berbagai keterangan yang ditemukan bahwa cahaya
listrik mulai bersinar di wilayah Indonesia mulai akhir abad ke-19, zaman pemerintahan Hindia-
Belanda. Perkembangan kelistrikan di wilayah Indonesia terjadi sebagai berikut:
a. Elektrifikasi di wilayah kota Batavia sekitar tahun 1893 merupakan stand Bedriji
yang dikelola oleh Pemerintah Daerah setempat dengan nama Electricileil Bedriji
Batavia
b. Elektrifikasi di wilayah kota Medan sekitar tahun 1903 sebagai stand Bedriji yang
dikelola oleh Pemerintah Daerah dengan nama Electricileil Bedriji Medan (Dall).
c. Elektrifikasi di wilayah kota Surabaya kira-kira tahun 1907 merupakan stand
Bedriji yang dikelola oleh Pemerintah Daerah dengan nama Electricileil Bedriji
Surabaya.

Tahun-tahun berikutnya menurut keterangan dari beberapa sumber yang kurang jelas,
kelistrikan antara lain dibangun di Palembang, dalam kaitannya dengan usaha pertambangan
minyak di Makasar dan Ambonuntuk kepentingan militer.

2.1.1.2 Perusahaan Listrik Pada Zaman Hindia-Belanda


Setelah perusahaan listrik yang berpusat di Negeri Belanda didirikan di beberapa
wilayah Indonesia (umumnya pembangkitan), maka pendistribusian tenaga listrik oleh Pemerintah
Daerah dialihkan kepada perusahaan-perusahaan listrik swasta.
Menurut catatan pendirian perusahaan-perusahaan listrik Belanda di Indonesia terjadi
sebagai berikut:
Perusahaan Listrik NV NIGM (yang kemudian namanya berubah menjadi
NV. OGM)
a. Izin beroperasi dikeluarkan dengan Surat Keputusan No.28 tanggal 27 Juni 1913
pemberian konsesi untuk melistriki wilayah kota Batavia.
b. Izin beroperasi dikeluarkan dengan Surat Keputusan no.29 tanggal 1 Nopember
1916 pemberian konsesi untuk melistriki wilayah kota Messlercornelis
(Jatinegara)
c. Izin beroperasi pemberian konsesi untuk melistriki wilayah kota Tangerang
d. Izin beroperasi dikeluarkan dengan Surat Keputusan no.6 bulan Nopember 1924
pemberian konsesi untuk melistriki wilayah kota Cirebon
e. Izin beroperasi dikeluarkan dengan Surat Keputusan no.20 tanggal 25
Nopember 1925 pemberian konsesi untuk melistriki wilayah kota Kebayoran
Lama
f. Izin beroperasi dikeluarkan dengan Surat Keputusan no.12 tanggal 16 Juni 1927
pemberian konsesi untuk melistriki wilayah Cirebon luar kota.

Pemberian izin beroperasi kepada NV. NIGM di luar jawa antara lain mulai
dikeluarkan untuk wilayah kota medan kemudian acara berturut-turut menyusul wilayah
Palembang, Makasar / Ujung Pandang, Tanjung Karang (Lampung) dan Manado.

Keterangan yang jelas mengenai ijin beroperasi kepada NV. NIGM konsesi diluar
Jawa tidak / belum ditemukan tetapi menurut berbagai pendapat dan keterangan yang diperoleh
untuk wilayah Palembang terjadi sebelum tahun 1920, misalnya: Medan, Tanjung Karang, Ujung
Pandang, Manado, dsb.

Perusahaan Listrik NV ANIEM


a. Izin beroperasi dikeluarkan dengan Surat Keputusan no.6 tanggal 8 Februari
1914 pemberian kosesi untuk elektrifikasi wilayah Surabaya, Semarang,
Jogjakarta.
b. Izin beroperasi dikeluarkan dengan Surat Keputusan no.25 tanggal 9 Mei 1927
pemberian konsesi untuk Elektrifikasi wilayah berbagai kota di Jawa Tengah
dan Jawa Timur diluar wilayah yang telah dikelola oleh OJEM, Electrian, EMR,
dan EAIB.
c. Pemberian izin beroperasi kepada NV. ANIEM untuk Electrifikasi wilayah
diluar Jawa antara lain Bukit Tinggi, Pontianak, Ambon, dsb.
Perusahaan Listrik NV. GEBEO
Perusahaan Listrik NV. GEBEO merupakan usaha bersama dimana Pemerintah
Jawa Barat ikut serta dengan keputusan yang dikeluarkan sebagai berikut:

a. Izin beroperasi dikeluarkan dengan Surat Keputusan no.24 tanggal 30 Januari


1923 / 1928 pemberian konsesi untuk Elektrifikasi wilayah Bandung dan
sekitarnya (sebelum lampu gas, listrik oleh militer)
b. Izin beroperasi dikeluarkan dengan Surat Keputusan no.24 tanggal 10 Maret
1923 / 1928 pemberian konsesi untuk kota Bogor dan sekitarnya (sebelum
lampu gas)
c. Izin beroperasi dikeluarkan dengan Surat Keputusan no.24 bulan Desember
1938, no.17 tanggal 21 Desember 1939, no.21 tanggal 20 Mei 1940, no.30
tanggal 13 Januari 1940 pemberian konsesi untuk Elektrisasi wilayah
Karesidenan dan Kabupaten seluruh Propinsi Jawa Barat kecuali Cirebon dan
Jakarta yang telah dikelola oleh NV. GIM

Perusahaan Listrik Electra


a. Izin beroperasi dikeluarkan kepada Perusahaan Listrik Electra dengan S.K.
no.37 tgl 7 Juni 1915 pemberian konsesi untuk elektrifikasi wilayah kota Tulung
Agung
b. Izin beroperasi dikeluarkan dengan S.K. no.33 tgl 30 Maret 1927 pemberian
konsesi untuk Elektrisasi wilayah diluar kota Tulung Agung

Perusahaan Listrik SEM


a. Izin beroperasi dikeluarkan kepada perusahaan listrik SEM dengan surat
keputusan No. 15 tanggal 21 Desember 1925 pemberian konsesi untuk
Elektrifikasi wilayah kota Kesunanan Surakarta
b. Izin beroperasi dikeluarkan dengan surat keputusan No. 8 tanggal 3 januari 1937
pemberian konsesi untuk Elektrifikasi wilayah Kabupaten dan sebagainya yang
termasuk dalam Kesunanan Surakarta.

Perusahaan Listrik OJEM


Izin beroperasi dikeluarkan kepada OJEM dengan surat keputusan No. 28 tanggal
24 februari 1925, No.8 tanggal 26 Desember 1925, No.61 dan 62 tanggal 29 Agustus 1927, No.16
tanggal 8 Juni 1920 untuk melistriki wilayah karesidenan Panarukan dan beberapa Kabupaten
disekitarnya.

Berdiri Dan Beroperasinya Perusahaan Listrik EMR


a. Izin beroperasi dikeluarkan kepada NV. EMR dengan surat keputusan No. 12
tanggal 25 juni 1927 pemberian konsesi untuk elektrifikasi kota Rembang.
b. Izin beroperasi dikeluarkan kepada NV.EMR dengan surat keputusan No.8,
No.9, No.10 tanggal 4 Maret 1929 untuk menambah konsesinya memperluas
elektrifikasi diwilayah Kabupaten Blora dan Kabupaten Bojonegoro.

Berdiri Dan Beroperasinya Perusahaan Listrik


Izin beroperasinya dikeluarkan kepada NV.EMB pemberian konsesinya untuk
elektrifikasi wilayah Karisidenan Banyumas dan beberapa Kabupaten sekitarnya (No.31 tanggal
27 september 1939).

 Perusahaan Listrik Di Zaman Jepang


Di dalam Perang Dunia Kedua semua Perusahaan listrik di wilayah Indonesia
dengan sendirinya berada dibawah pengawasan tentar Jepang, antara lain Perusahaan Listrik
Belanda yang berada di Jawa oleh Angkatan Darat Jepang, diajadikan Perusahaan Listrik Jepang
dengan nama sebagai berikut :
a. Jawa Denki Jogyokosho kantor pusat di Jakarta.
b. Seibu Jawa Denki Sha diwilayah Jawa Barat.
c. Chobu Jawa Denki Sha diwilayah Jawa Tengah.
d. Cabang-cabang Perusahaan Listrik tetap seperti semula.
Dengan menjadinya Perusahaan Listrik Jepang dibawah pengawasan Angkatan
Darat, maka pimpinan Perusahaan dipegang oleh tenaga yang didatangkan dari Jepang.

 Perusahaan Listrik Setelah Masa Proklamasi Kemerdekaan


Perang Dunia Kedua diakhiri dengan pernyataan menyerahnya Jepang kepada
Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Dengan menyerahnya Jepang kepad Sekutu berarti pula
bahwa Tentara Sekutu akan memasuki dan menduduki wilaayah Indonesia yang dikuasai Tentara
Jepang untuk melucuti Tentara Jepang dan membebaskan warga negara Sekutu yang ditawan
Jepang.
Sebelum Tentara Sekutu mengambil alih kekuasaan dari penguasa Jepang,
Pemimpin-pemimpin Indonesia telah mendahului memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia
menjadi Republik Indonesia. Berkumandangnya Proklamasi Kemerdekaan Republik
Indonesiadan gagalnya srta tidak dapat berlangsungnya Bung Karno waktu itu menggembleng
rakyat dalam rapat raksasa dilapangan Ikada pada tanggal 19 September 1945, karena dihalangi
Tentara Jepang telah menimbulkan pengaruh dan rasa tidak puas, tidak saja dikalangan rakyat ,
tetapi juga telah menggugah hati dan mempertebal tekad para karyawan Perusahaan Listrik dan
pengusaha Jepang.
Pengambilalihan Pimpinan Perusahaan Listrik pertama-tama terjadi pada
tanggal 21 September 1945 di pusat ( Jawa Denki Jogyo Kosah ) Jakartaoleh kesatuan Aksi
Karyawan Listrik, setelah gagalnya rapat tanggal 19 September 1945 dan dalam hari berikutnya
pengambil alihan meluas kedaerah lainnya, seperti Perusahaan Listrik si Surabaya, Semarang,
Bandung, Jogyakarta dan berbagai kota lainnya di pulau Jawa maupun luar Jawa.
Keatuan Aksi para Karyawan Perusahaan Lisatrik si seluruh kawasan wilayah
indonesia berhasil mengambil alih pimpinan dari Perusahaan Listrik Penguasa Jepang secara
keseluruhan dapat diselesaikan pada pertengahan bulan Oktober 1945.
Perusahaan-perusahaan Listrik yang telah diambil alih dari Penguasa Jepang
kemudian oleh Kesatuan Aksi Karyawan Perusahaan Listrik diserahkan kepada Pemerintah
Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga di Jakarta.
Dengan penetapan Pemerintah No. 1 SD/ 1945 tanggal 27 Oktober 1945
merupakan hari dan tanggal yang sangat bersejarah bagi Karyawan Listrik Generasi 1945, karena
hari tersebut ditetapakan sebagai hari jadi Listrik yang telah diperolehnya melalui perjuangan
pengambil alihan yang cukup berat dan banyak meminta pengorbanan baik yang gugur maupun
yang cacat dan kehilangan harta terjadi diseluruh Indonesia sebagai manifestasi perjuangan
Karyawan Listrik ikut mengisi dan mempertahankan Proklamasikan Kemerdekaan Indonesia.
Dalam salah satu persetujuan hasil konferensi Meja Bundar Negeri Belanda
antara lain ditetapkan bahwa kecuali Perusahaan milik Pemerintah (Lands Waterkrache Bedrijiven
atau LWB), semua Perusahaan Listrik dikembalikan pada pemiliknya sebelum perang,
Perusahaan Listrik Belanda dan sebagainya. Setelah penyerahaan kedaulatan dari Pemerintah
Belanda kepada Republik Indonesia Serikat yang kemudian menjadi Kesatuan Republik
Indonesia, Perusahaan Listrik ayng beroperasi di Indonesia adalah Perusahaan Listrik asing /
Belanda antara lain : NV. ANEM, NV. GEBEO, NV. OGEM dan sebagainya kecuali
pembangkitan tenaga listrik yang semula LWB tetap dikuasi Pemerintah Indonesia dengan PLN.
Direksi, Pembangkitan yang bernaung dibawah Direktorat Jendral Ketenagaan Kementrian PUT.
 Nasionalisasi Perusahaan Listrik Indonesia
Tuntutan Nasionalisai Perushaan Listrik Belanda merupakan salah satu program
Organisasi Buruh (SBLGI) non Vaksentral. Dalam melaksanakan progaram perjuangannya
masalah Nasionalisasi Perusahaan Listrik oleh Ketua Umum PB. SBLGI Kobarsih dibawa ke
forum Dewan Perwakilan Rakyat dan dapat menjadi “Mosi Sidik Joyosukarto Cs” yang diterima
dengan aklamasi oleh sidang DPR pada tahun 1952 atas dasar habisnya masa konsesi yang
diberikan Perusahaan Listrik Belanda.
Pelaksanaan Nasionalisasi terhadap Perusahaan Listrik Belanda NV. OGEM
untuk Jakarta Cirebon terjadi pada tanggal 1 Januari 1954 dan terhadap NV. ANIEM, terjadi pada
tanggal 1 November 1954 untuk pelistrikan wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Setelah kedua
Perusahaan Listrik dinasionalisasi maka dibentuklah “PENUDITEL” sebagai pusatnya adalah
Direksi Distribusi dan Penupetel dengan pusatnya adalah Direksi Pembangkitan yang keduanya
dibawah Direktorat Jenderal Keterangan Kementerian PUT. Tahun 1967 karena tuntutan
kembalinya Irian Barat menjadi sengketa dan menimbulkan bentrokan senjata, maka semua
Perusahaan Listrik yang masih dikuasai Perusahaan asing diambil alih oleh para karyawan,
kemudian diserahkan kepada Pemerintah.
Untuk pengelolaan selanjutnya Pemerintah membentuk Dewan Direksi yang
anggotanya terdiri dari Direktur Penuditel, Direktur Penuputel, Direktur eks NV. GEBEO, Direksi
eks. NV. ANIEM dan Sekjan PUT yang bertindak sebagai ketua Dewan Direktur.

 Perkembangan Orgasnisasi Hingga Sekarang


Sebagai tindak lanjut setelah pembentukan Dewan Direktur, maka untuk
mempersatukan kelistrikan di seluruh wilayah Indonesia yang semula terdiri dari Penuditel.,
Penuputel dan eks. Perusahaan-perusahaan listrik yang diambil alih tahun 1957 oleh Pemerintah
kemudian dimasukkan dalam satu wadah Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik yang
dibentuk berlandaskan pada Undang-undang No. 19 tahun 1960 dengan keputusan menteri PUT
No.16/20 tanggal 20 Mei 1961. Pada tahun 1965, Struktur Organisasi Perusahaan Listrik Negara
diseluruh wilayah Indonesia ditetapkan menjadi 14 kesatuan wilayah dengan cabang-cabang yang
terdiri dari, 12 PLN Eksploitasi Distribusi, satu PLN Eksploitasi Pembangkitan, satu PLN gas.
Pada tahun 1965 dengan peraturan PUT No.9/PRT/1964 BPU PLN dibekukan dan dengan
peraturan No.1/PRT/1965 dua Perusahaan Listrik dan Gas dipecah menjadi dua yaitu Perusahaan
Listrik Negara (PLN), Perusahaan Gas Negara (PGN). Dalam Struktur Organisasi khusus PLN
yang baru, ditetapkan 15 buah keastuan wilayah eksploitasi dimana didalam masing-masing
eksploitasi termasuk sektor pembangkitannya.
Sebagai kelanjutan dari Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1972 maka
dengan keputusan PUTL No. 01/PRT/1973 Perusahaan Listrik Negara berubah menjadi
Perusahaan Umum Listrik Negara yang memiliki wewenang satu-satunya. Perusahaan Negara
yang dibentuk oleh Pemerintah untuk merencanakan, membangun, membangkitkan dan
mindistribusikan tenaga listrik di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia.

2.2 Visi, Misi, Moto, Maksud dan Tujuan


2.2.1 Visi

Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang Bertumbuh kembang, Unggul dan terpercaya
dengan bertumpu pada Potensi Insani.

2.2.2 Misi
1. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada
kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham.
2. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan
masyarakat.
3. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.
4. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.

2.2.3 Moto

Listrik untuk Kehidupan yang Lebih Baik (Electricity For a Better Life)

2.2.4 Maksud dan Tujuan Perseroan

Untuk menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga listrik bagi kepentingan umum dalam
jumlah dan mutu yang memadai serta memupuk keuntungan dan melaksanakan penugasan
Pemerintah di bidang ketenagalistrikan dalam rangka menunjang pembangunan dengan
menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas
2.3 Makna Logo PLN
2.3.1 Bentuk Lambang

Gambar Bentuk Lambang PLN


Bentuk warna dan makna lambang Perusahaan resmi yang digunakan adalah sesuai yang
tercantum pada Lampiran Surat Keputusan Direksi Perusahaan Umum Listrik Negara No. :
031/DIR/76 Tanggal : 1 Juni 1976, mengenai Pembakuan Lambang Perusahaan Umum Listrik
Negara.

2.3.2 Elemen – elemen Dasar Lambang


1. Bidang Persegi Panjang Vertikal

Gambar Bidang Persegi Panjang Vertikal

Menjadi bidang dasar bagi elemen - elemen lambang lainnya, melambangkan bahwa PT PLN
(Persero) merupakan wadah atau organisasi yang terorganisir dengan sempurna. Berwarna kuning
untuk menggambarkan pencerahan, seperti yang diharapkan PLN bahwa listrik mampu
menciptakan pencerahan bagi kehidupan masyarakat. Kuning juga melambangkan semangat yang
menyala - nyala yang dimiliki tiap insan yang berkarya di perusahaan ini.

2. Petir atau Kilat


Gambar Petir atau Kilat

Melambangkan tenaga listrik yang terkandung di dalamnya sebagai produk jasa


utama yang dihasilkan oleh perusahaan. Selain itu petir pun mengartikan kerja cepat dan tepat
para insan PT PLN (Persero) dalam memberikan solusi terbaik bagi para pelanggannya. Warnanya
yang merah melambangkan kedewasaan PLN sebagai perusahaan listrik pertama di Indonesia dan
kedinamisan gerak laju perusahaan beserta tiap insan perusahaan serta keberanian dalam
menghadapi tantangan perkembangan jaman.

3. Tiga Gelombang

Gambar Tiga Gelombang

Memiliki arti gaya rambat energi listrik yang dialirkan oteh tiga bidang usaha utama
yang digeluti perusahaan yaitu pembangkitan, penyaluran dan distribusi yang seiring sejalan
dengan kerja keras para insan PT PLN (Persero) guna memberikan layanan terbaik bagi
pelanggannya. Diberi warna biru untuk menampilkan kesan konstan (sesuatu yang tetap) seperti
halnya listrik yang tetap diperlukan dalam kehidupan manusia. Di samping itu biru juga
melambangkan keandalan yang dimiliki insan - insan perusahaan dalam memberikan layanan
terbaik bagi para pelanggannya.
Alamat PT PLN (Persero) :

Jl. Trunojoyo Blok M-I No. 135

Kebayoran Baru, Jakarta 12160, Indonesia

Tel. 021 7251234, 7261122

Fax. 021 7221330

2.4 Struktur Usaha dan Anak Perusahaan PLN


Sesuai Undang-undang RI no. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan dan berdasarkan
Anggaran Dasar Perusahaan, rangkaian kegiatan perusahaan adalah :
1. Menjalankan usaha penyediaan tenaga listrik yang mencakup:
 Pembangkitan tenaga listrik
 Penyaluran tenaga listrik
 Distribusi tenaga listrik
 Perencanaan dan pembangunan sarana penyediaan tenaga listrik
 Pengembangan penyediaan tenaga listrik
 Penjualan tenaga listrik

2. Menjalankan usaha penunjang listrik yang mencakup :


 Konsultasi ketenagalistrikan
 Pembangunan dan pemasangan peralatan ketenagalistrikan
 Pemeriksaan dan pengujian peralatan ketenagalistrikan
 Pengoperasian dan pemeliharaan peralatan ketenagalistrikan.
 Laboratorium pengujian peralatan dan pemanfaatan tenaga listrik
 Sertifikasi peralatan dan pemanfaatan tenaga listrik
 Sertifikasi kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan

3. Kegiatan-kegiatan lainnya mencakup :


 Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber energi lainnya untuk
tenaga listrik
 Jasa operasi dan pengaturan (dispatcher) pada pembangkitan, penyaluran, distribusi
dan retail tenaga listrik
 Industri perangkat keras, lunak dan lainnya di bidang ketenagalistrikan
 Kerja sama dengan pihak lain atau badan penyelenggara bidang ketenagalistrikan di
bidang pembangunan, operasional, telekomunikasi dan informasi terkait dengan
ketenagalistrikan
 Usaha jasa ketenagalistrikan

Fungsi PLN : Sebagai pendorong kegiatan ekonomi guna meningkatkan kualitas kehidupan
masyarakat.

2.5 Unit Bisnis PLN tersebar di Indonesia, terdiri dari :


a. PLN Wilayah & Distribusi
 Wilayah Aceh
 Wilayah Sumatera Utara
 Wilayah Sumatera Barat
 Wilayah Riau dan Kepulauan Riau
 Wilayah Bangka Belitung
 Wilayah Sumatra Selatan, Jambi, dan Bengkulu
 Wilayah Kalimantan Barat
 Wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah
 Wilayah Kalimantan Timur
 Wilayah Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo
 Wilayah Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat
 Wilayah Maluku dan Maluku Utara
 Wilayah Nusa Tenggara Barat
 Wilayah Nusa Tenggara Timur
 Wilayah Papua dan Papua Barat
 Distribusi DKI Jaya & Tangerang
 Distribusi Jawa Barat dan Banten
 Distribusi Jawa Timur
 Distribusi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta
 Distribusi Bali
 Distribusi Lampung

b. PLN Jasa
 Pusat Pendidikan dan Pelatihan
 Pusat Enjiniring Ketenagalistrikan
 Pusat Pemeliharaan Ketenagalistrikan
 Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagalistrikan
 Jasa Sertifikasi
 Jasa Manajemen Konstruksi

c. PLN Pembangkitan
 Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan
 Pembangktian Sumatera Bagian Utara
 Pembangkitan Lontar
 Pembangkitan Tanjung Jati B
 Unit Pembangkitan Jawa Bali
d. PLN Penyaluran & Pusat Pengatur Beban
 Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali (P3B Jawa Bali)
 Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Sumatera (P3B Sumatera)

e. PLN Unit Induk Proyek (UIP)


 UIP Pembangkitan Sumatera I (UIP I)
 UIP Pembangkitan Sumatera II (UIP I)
 UIP Jaringan Sumatera I (UIP II)
 UIP Jaringan Sumatera III (UIP III)
 UIP Transmisi Interkoneksi Sumatera Jawa (UIP IV)
 UIP Jaringan Jawa Bali I (UIP V)
 UIP Pembangkitan Hidro Jawa Bali (UIP VI)
 UIP Jaringan Jawa Bali II (UIP VII)
 UIP Pembangkitan Thermal Jawa Bali (UIP VIII)
 UIP Pembangkitan Kalimantan (UIP IX)
 UIP Jaringan Kalimantan (UIP X)
 UIP Pembangkitan & Jaringan Nusa Tenggara (UIP XI)
 UIP Pembangkitan Sulawesi Maluku Papua (UIP XII)
 UIP Jaringan Sulawesi Maluku Papua (UIP XIII)
 UIP Pembangkitan & Jaringan Sulawesi Maluku Papua (UIP XIV)

2.6 Sekilas wilayah usaha PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur

Wilayah usaha PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur dibagi menjadi beberapa daerah
Pelayanan yang melayani wilayah administrasi propinsi Jawa Timur :
Area Pelayanan & Jaringan Surabaya Selatan, Area Pelayanan & Jaringan Surabaya Utara, Area
Pelayanan Surabaya Barat, Area Jaringan Surabaya Barat. Keempat Area pelayanan tersebut di
atas melayani Kota Surabaya.
 Area Pelayanan & Jaringan Malang melayani Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten
Malang.
 Area Pelayanan & Jaringan Pasuruan melayani Kota Pasuruan, Kota Probolinggo,
Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo.
 Area Pelayanan & Jaringan Kediri melayani Kota Kediri, Kota Blitar, Kabupaten Kediri,
Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Blitar.
 Area Pelayanan & Jaringan Mojokerto melayani Kota Mojokerto, Kabupaten Jombang,
Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Mojokerto.
 Area Pelayanan & Jaringan Madiun melayani Kota Madiun, Kabupaten Magetan,
Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Madiun.
 Area Pelayanan & Jaringan Jember melayani Kabupaten Jember dan Kabupaten
Lumajang.
 Area Pelayanan & Jaringan Bojonegoro melayani Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten
Lamongan dan Kabupaten Tuban.
 Area Pelayanan & Jaringan Banyuwangi melayani Kabupaten Banyuwangi.
 Area Pelayanan & Jaringan Pamekasan melayani Kabupaten Pamekasan, Kabupaten
Sampang, Kabupaten Sumenep dan Kabupaten Bangkalan.
 Area Pelayanan & Jaringan Situbondo melayani Kabupaten Situbondo dan Kabupaten
Bondowoso.
 Area Pelayanan & Jaringan Gresik melayani Kabupaten Gresik sampai Kecamatan
Bawean.
 Area Pelayanan & Jaringan Sidoarjo melayani Kabupaten Sidoarjo.
 Area Pelayanan & Jaringan Ponorogo melayani Kabupaten Ponorogo, Kabupaten
Trenggalek dan Kabupaten Pacitan
2.7 Proses Bisnis
2.7.1 Batasan dan Akad Jual Beli P3B

Batasan kerja Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban (P3B) mulai dari gardu induk setelah
trafo step up dari pembangkit atau PT. PJB hingga busbar menuju penyulang (wilayah kerja unit
Distribusi). Sehingga P3B mengatur beban dari pembangkit menuju konsumen. Bisa dilihat dari
single line diatas yang terbagi maenjadi 4 dari daerah yaitu pembangkit, transmisi, gardu induk,
dan distribusi. Daerah pembangkitan merupakan wewenang atau tanggungjawab PT.PJB
sepenuhnya. Daerah transmisi dan gardu induk merupakan wewenang atau tanggung jawab
PT.P3B sepenuhnya. Daerah distribusi merupakan wewenang atau tanggung jawab distribusi
sepenuhnya. Jka terjadi masalah atau kerusakan atau kejadian apapun pada pembangkitan
merupakan tanggungjawab dari PT.PJB. Begitu juga pada transmisi yang jadi tanggungjawab
P3B, maupun distribusi oleh distribusi sendiri.

Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban atau biasa disingkat dengan P3B merupakan salah
satu unit usaha dari PLN yang bertugas untuk menyalurkan energi listrik dari pembangkitan ke
distribusi, seperti yang sudah disebutkan di atas.

Batasan kerja unit usaha Pembangkit Jawa Bali, batasan kerja PJB hingga trafo step up,
sehingga tanggung jawab PJB memproduksi energy listrik yang di butuhkan konsumen dan diatur
oleh penyaluran dan pusat pengaturan beban.
2.7.2 Proses akad jual beli daya P3B

Pada setiap bulan diadakan rapat yang membahas tentang koordinasi antara P3B dan PJB,
koordinasi tersebut berhubungan tentang perjanjian kontrak. Karena P3B merupakan pengaturan
beban yang mengirim energy dari PT.PJB, maka dari itu terjadi akad jual beli antara P3B sebagai
konsumen dan PJB sebagai penjual. Jual beli tersebut berupa kontrak daya yang disepakati oleh
kedua belah pihak. Pihak P3B mengajukan permintaan daya dalam satuan Mega Watt (MW)
kepada pihak PJB (pada tiap pembangkit tenaga listrik). Jika salah satu pembangkit tidak mampu
memberikan tenaga listrik sebanyak yang diminta P3B, maka P3B meminta kekurangan energi
tersebut pada pembangkitan listrik yang lain sampai nilai daya yang dibutuhkan dan daya
cadangan terpenuhi semua.

Setiap bulan P3B melakukan melakukan analisa agar bulan selanjutnya dapat terpenuhi daya
yang di salurkan pada konsumen melalui distribusi. Semua pembangkit tidak harus
mengggunakan semua kapasitas daya dari generator, karena sistem kelistrikan di Indonesia
menggunakan sistem interkoneksi yang diatur oleh P3B. Rata – rata pembangkit seperti PLTGU,
PLTU, PLTG adalah pembangkit yang non stop menyalurkan energy listrik, tetapi daya yang
dikeluarkan hanya 80% dari kapasitas generator kecuali ada dari pembangkit tersebut melakukan
pemeliharaan atau shut down. Akan di back up oleh PLTA karena PLTA startingnya lebih cepat
daripada PLTGU, PLTU, PLTG karena startingnya butuh waktu yang lama sampai kurang lebih
12 jam. Jadi apabila untuk cadangan menggunakan pasokan energy listrik dari selain PLTA, beban
akan semakin meningkat dan frekuensi akan turun yang menyebabkan pembangkit akan lepas dari
sistem. Sedangkan P3B akan berkoordinasi dengan unit Distribusi untuk penyaluran energy.
Apabila di suatu sistem tidak dapat menyuplai energy, maka P3B berkoordinasi dengan unit
ditribusi agar melakukan pemadaman bergilir pada setiap penyulangnya. Pada P3B terdapat panel
yang menunjukkan kwh meter kirim dan terima di setiap gardu induk. Kwh meter tersebut
digunakan yang salah satunya untuk memperkirakan beban untuk selanjutnya.
2.7.3 Transaksi Daya

Berikut merupakan beberapa contoh surat permintaan daya listrik.


2.7.4 Struktur Organisasi dan penjelasannya
(Terlampir)
2.8 Sarana dan Prasarana

Tersedianya sarana dan fasilitas pelayanan merupakan suatu daya tarik tersendiri untuk para
pelanggan di PT PLN ( Persero ). Dengan adanya fasilitas dan sarana yang ada di PT. PLN
(Persero) diharapkan dapat menjadi penunjang pelayanan yang diberikan oleh PT. PLN kepada
para pelanggannya. Untuk mewujudkan pelayanan yang baik agar dapat memuaskan konsumen
atau pelanggannya, maka PT. PLN (Persero) berusaha memperhatikan dan memahami apa saja
kehendak para pelanggan yaitu adanya kenyamanan dalam memproses administrasi tentang
penyambungan listrik baru.
PT. PLN (Persero) dalam memberikan pelayanan kepada pelanggannya menggunakan
komputer sebagai perlatan kerja utamanya. Dengan komputer pekerjaan dikantor tersebut menjadi
mudah dan cepat. Adanya sarana & prasarana yang canggih seperti AMR, SIGO, serta customer
service yang akan memudahkan pelayanan pelanggan, adanya tim khusus PDKB, dan lokasi
kantor yang strategis. Selain itu ada juga seperti telepon berguna untuk berhubungan kerja baik
antar petugas atau karyawan ataupun dengan Rayon yang lain, lalu ada alat fotocopy dan scanner
yang sangat membantu pekerjaan karyawannya.
Jadi ketika membutuhkan penggandaan dokumen tidak perlu pergi dari kantor cukup
dikerjakan disitu juga supaya pelayanan pelangganya lebih cepat, begitu juga dengan scanner
berkas-berkas atau Arsip Informasi Langganan para konsumen harus discan jadi ketika terjadi
kebakaran PT. PLN (Persero) masih mempunyai data tentang pelanggannya. Lalu untuk Arsip
Informasi Langganan (AIL) di PT. PLN (Persero) sudah ada ruangannya sendiri untuk
menyimpannya dan tertata rapi sesuai nomer urut yang sudah ditentukan jadi ketika pelanggan
mau minta tambah daya atau keluhan yang lain pegawainya pun tidak usah minta data
pelanggannya lagi cukup mencari AIL tersebut kemudian langsung diproses.
BAB III
P2B dan APB

3.1 P2B (Pusat Pengatur Beban)


P2B (Pusat Pengatur Beban) merupakan organisasi dari PT. PLN (Persero) yang
menjalankan atau mengoperasikan proses penyaluran energi listrik, selain itu P2B juga
mengurusi masalah jual beli energi listrik.
Sebelumnya, P2B adalah P3B, yang mana P3B (Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban)
adalah unit induk PLN yang dibentuk melalui Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor
093.K/023/DIR/1995 tanggal 2 Oktober 1995, yang merupakan gabungan P2B dengan
Bidang Penyaluran dari PLN KJB dan PLN KJT. Sejalan dengan terjadinya perubahan‐
perubahan kebijakan dalam sistem ketenagalistrikan, antara lain pemberlakuan UU No. 20
tahun 2002 dan pembatalannya kembali pada tahun 2004, maka organisasi P3B JB pun
mengalami beberapa kali perubahan (restrukturisasi) sebagai bentuk penyesuaian,
penyempurnaan organisasi, dan tata kelola.
Unit induk PLN dengan pendapatan mencapai 6,6 Triliun pada tahun 2010 dan terus
meningkat ini memiliki asset sebanyak 808 unit Transformator yang tersebar di 435 Gardu
Induk di Pulau Jawa dan Bali serta telah mentransmisikan energi listrik sejauh 21.031km.
Pada awal pembentukkannya, P3B mengelola system tegangan ekstra tinggi 500 kV,
Tegangan Tinggi 150 kV, Tegangan Menengah 70 kV dan tegangan rendah 20 kV dan
dalam perjalanannya tegangan rendah pengelolalaannya dilimpatkan ke PLN Unit
Distribusi. Pengalihan asset tersebut terjadi di awal tahun 2000-an. Pengalihan termasuk
migrasi pegawai PLN P3B JB ke PLN Distribusi.
Dengan terbitnya Surat Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor
257.K/010/DIR/2000 tanggal 2 November 2000, tentang Pembentukan Organisasi dan Tata
Kerja Unit Bisnis Strategis Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali, maka PT PLN
(Persero) P3B Jawa Bali yang merupakan unit pusat laba (profit center) berubah menjadi
unit pusat investasi (investment center) dengan nama Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban
Jawa Bali (P3BJB).
2 November 2000: Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Unit Bisnis Strategis
Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali, maka PT PLN (Persero) P3B yang
merupakan unit pusat laba (profit center) berubah menjadi unit pusat investasi (investment
center) dengan nama Unit Bisnis Strategis Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali
(UBS P3B). Perubahan status tersebut dilakukan untuk menatisipasi jika UU nomor 20
tahun 2000 tentang ketenagalistrikan diberlakukan.
Tim Implementasi UBS P3B berdasarkan Keputusan Pemimpin P3B nomor:
001.K/021/PP3B/2001. Tim ini dibawah arahan langsung Basuki Prayitno dibantu EH
Gultom, Nandy Arsjad dan Bambang Waskito. Sebagai Ketua Muljo Adji AG.
Tim ini dibagi menjadi beberapa Bidang. Bidang Perencanaan ditunjuk Muljo Adji AG.
Tim II (Bidang Teknik) diketuai Suyono, Tim III Bidang Keuangan dan Niaga Parlidungan
Siagian, Tim IV
Bidang SDMO dikomandani Iwan Bachtiar, Tim V : Bidang Umum/General Affair
(Nazaruddin Said), Tim VI Bidang Audit Internal (Halomoan Sibarani), Tim VII Unit
Setelmen Ulysses R Simanjuntak, Tim VIII Unit Bidang Operasi Sistem diketuai Edy
Wahyudi. Bidang-bidang tersebut merupakan cikal bakal bidang-bidang yang ada sekarang
ini di Kantor Induk.
Tidak kalah pentingnya adalah Tim IX dan Tim X. Tim pertama bertugas melakukan
implementasi pelimpahan asset trafo distribusi. Tim ini diketua mantan Kepala Sektor
Jakarta Djoko Hastowo. Sedangkan Tim kedua ditugaskan untuk mempercepat
implementasi regionalisasi dan regrouping tragi. Jika sebelumnya terdapat banyak sektor
dan unit transmisi dan gardu induk (utragi), dengan terbentuknya UBS, dirampingkan
menjadi 4 regional. Keempatnya adalah Region Jakarta dan Banten (R1), Region Jawa Barat
(R2), Region Jawa Tengah dan DIY (R3) dan Region Jawa Timur dan Bali (R4). Ketua Tim
ini Muljo Adji AG untuk R1, Kikid Sukantomo Adibroto (R2), Edy Wahyudi (R3), dan
Djoko Hastowo (R4). Tim XI : Pengabungan Proyek ke UBS P3B yang dipimpin Djodi
Suprapto. Namun niat tersebut urung dilakukan karena hingga sekarang tidak bisa
dilaksanakan.
Pembentukan Unit Bidding dan Operasi Sistem dimaksudkan agar Kantor Induk UBS
P3B hanya terlibat dengan isu strategis dan tidak terlibat pada kegiatan operasional.
Sedangkan pembentukan Unit Setelmen selain dimaksudkan untuk memisahkan kegiatan
operasional metering dan setelmen dari Kantor Induk juga dimaksudkan untuk mempercepat
proses setelmen melalui pemberian wewenang yang lebih besar khususnya dalam
menangani perselisihan. Keuntungan lain adalah akuntabilitas yang lebih jelas sehingga
lebih mudah untuk mengidentifikasi biaya proses setelmen.
Hal yang juga baru pada organisasi UBS P3B adalah pembentukan Unit Pelayanan
Transmisi (UPT) dan Unit Jasa Teknik (UJT), yang merupakan bagian dari organisasi
Region. Pembentukan UPT dimaksudkan sebagai upaya untuk mengefisienkan pelaksanaan
proses bisnis operasi dan pemeliharaan sistem penyaluran sejalan dengan rencana
pengalihan kepemilikan aset trafo HV/MV dari UBS P3B kepada Distribusi. Dan,
Pembentukan UJT dilakukan sebagai langkah untuk pemisahan usaha di luar pokok (non-
core) dari usaha pokok (core) yang sifatnya monopoli. UJT didirikan untuk transisi menuju
pemisahan usaha core dan usaha non-core, mengoptimalkan utilisasi sumberdaya yang ada,
dan memungkinkan pengembangan usaha di luar usaha pokok menjadi lebih fokus dalam
menangkap peluang yang ada sehingga dapat memberikan kontribusi bagi laba usaha.
Namun pada bulan Oktober tahun 2015, P3B kembali dipecah, karena tugasnya yang
sebenarnya beda core business. Dimana Penyaluran sebenarnya bertugas memelihara asset
transmisi, sedangkan P2B bertugas mengatur system interkoneksi kelistrikan sejawa bali.
Daerah wewenang operasi dari P2B sendiri mulai dari sisi incoming GI pembangkitan
sampai sisi outgoing penyulang.

Gambar 3.1 Daerah Wewenang Operasi P2B.

3.2 Visi, Misi, dan Tugas Utama


3.2.1 Visi
“Diakui sebagai pengelola transmisi, operasi sistem, dan transaksi tenaga listrik
dengan kualitas pelayanan setara kelas dunia, yang mampu memenuhi harapan stakeholders
dan memberikan kontribusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.”

3.2.2 Misi
1. Mengelola operasi sistem tenaga listrik secara andal.
2. Melakukan dan mengelola penyaluran tenaga listrik tegangan tinggi secara efisien,
handal dan akrab lingkungan.
3. Mengelola transaksi tenaga listrik secara kompetitif, transparan dan adil.
4. Melaksanakan pembangunan instalasi sistem transmisi tenaga listrik.
3.2.3 Tugas Utama
1. Mengoperasikan sistem tenaga listrik.
2. Memelihara instalasi sistem transmisi tenaga listrik.
3. Mengelola pelaksanaan jual beli tenaga listrik di sisi tegangan tinggi sistem.
4. Merencanakan pengembangan sistem tenaga listrik.
5. Menjaga kualitas tegangan dan frekuensi.

3.2.6 Struktur Organisasi


3.3 APB (Area Pengatur Beban)
Bertanggung jawab atas pelaksanaan pengoperasian sistem penyaluran di wilayah kerja
Area Pengatur Beban. APB berfungsi merencanakan dan evaluasi pengoperasian sistem
yang meliputi pengendalian operasi sistem, upervisioperasi, dan rencana operasi,
pemeliharaan SCADATEL dan otomasi.
Area Pengatur Beban adalah Sub-unit untuk melakukan pengaturan beban secara
keseluruhan dari Pembangkitan, Transmisi dan sampai ke konsumen dengan komunikasi
dengan APD dan Gardu Induk. Ada 5 wilayah dibawah P2B yaitu :
1. PLN Area Pengaturan Beban Jakarta dan Banten, berkedudukan di Cawang, Jakarta
(Region Control Center / RCC Cawang)
2. PLN Area Pengaturan Beban Jawa Barat, berkedudukan di Bandung (Region
Control Center / RCC Cigereleng)
3. PLN Area Pengaturan Beban Jawa Tengah dan DIY, berkedudukan di Semarang
(Region Control Center / RCC Ungaran)
4. PLN Area Pengaturan Beban Jawa Timur, berkedudukan di Sidoarjo (Region
Control Center / RCC Waru)
5. PLN Area Pengaturan Beban Bali, berkedudukan di Denpasar (Region Control
Center / RCC Bali)
Adapun batas wewenang operasi dari APB itu sendiri, yaitu sebagai berikut :

Gambar 3.3 Batas Wewenang Operasi


3.3.1 Tugas Utama

1. Merencanakan, dan mengendalikan operasi sistem tegangan tinggi di daerah


kerjanya serta membuat analisa dan evaluasi terhadap realisasi operasi sistem.
2. Menyusun Standar Operation Procedure ( SOP ) operasi sistem untuk mencapai
kondisi sistem yang andal, berkualitas dan efisien.
3. Melakukan koordinasi dengan Area Pelaksana Pemeliharaan saat pemeliharaan
instalasi.
4. Mengkoordinir proses niaga TSA, PSA dan MVA Available sesuai yang telah di
tetapkan P2B.
5. Melaksanakan pemeliharaan SCADATEL dan otomasi sesuai RKAP untuk
menjaga kesiapan operasi sistem.
6. Mengelola dan memelihara fasilitas operasi ( Master Station ) dan sarana
pendukung lainnya.
7. Melaksanakan kebijakan pada fungsi Administrasi dan Kepegawaian.
8. Mengelola anggaran dan keuangan sesuai dengan aturan yang berlaku untuk
mendukung kinerja Area Pengatur Beban.
9. Memonitor Pengelolaan sistem pengamanan instalasi, fungsi seketariat dan
hubungan masyarakat untuk meningkatkan keamanan dan pelayanan.

3.3.2 Struktur Organisasi


3.3.3 Tugas dan Tanggung Jawab :

 Manager
Bertanggung jawab atas pengelolaan usaha melalui optimalisasi seluruh sumber daya
secara efisien, efektif dan sinergis; menjamin terselenggaranya operasi dan penyaluran tenaga
listrik Jawa Bali yang andal dan akrab terhadap lingkungan; meningkatkan mutu dan keandalan
serta pelayanan dan memastikan terlaksananya Good Coorporate Govermance (GCG) di PT.
PLN P3B Jawa Bali. Adapun rincian tugas pokoknya sebagai berikut:
1. Memastikan perencanaan strategis sistem tenaga listrik Jawa Bali dilaksanakan
sesuai dengan road map yang telah ditetapkan Direksi.
2. Mengusulkan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) PT. PLN P3 B Jawa
Bali.
3. Memastikan RKAP dilaksanakan sesuai dengan penetapan Direksi.
4. Menetapkan kebijakan strategis terkait pengoperasian dan pemeliharaan instalasi
sistem transmisi tenaga listrik Jawa Bali.
5. Mengelola sistem manajemen kinerja unit dan manajemen mutu termasuk
menetapkan target kinerja unit-unit dibawah koordinasinya, memonitor dan
mengendalikan pelaksanaannya.
6. Memastikan pelaksanaan kebijakan pokok pengembangan mekanisme niaga dan
operasi yang telah ditetapkan oleh Direksi.
7. Menetapkan kebijakan strategis penyusunan dan pemantauan manajemen risiko PT.
PLN P3B Jawa Bali.
8. Mengembangkan dan memelihara kompetensi organisasi dan anggota organisasi.
9. Menetapkan laporan manajemen PT. PLN P3B Jawa Bali.

 Bidang Perencanaan
Bertanggung jawab menjamin tersedianya rencana pengembangan sistem tenaga listrik
Jawa Bali termasuk rencana sistem transmisi dan indikasi kebutuhan operasi sistem, rencana
pengembangan sistem SCADA dan telekomunikasi yang dilengkapi dengan analisis
keekonomian sistem dan kajian resiko dengan mengutamakan optimalisasi pemanfaatan
sumber daya perusahaan dan merencanakan, mengelola, memelihara dan mengembangkan
fasilitas teknologi informasi dan sistem informasi manajemen. Rincian tugas pokok sebagai
berikut:
1. Menyusun rencana sistem pengembangan tenaga listrik Jawa Bali yang mencakup
antara lain; rencana kebutuhan pembangkitan, transmisi, SCADA, dan
telekomunikasi termasuk untuk kebutuhan penyusunan RUPTL.
2. Menyusun usulan rencana kerja dan anggaran perusahaan disertai analisa
kelayakan finansial, investasi dan risikonya.
3. Merumuskan strategi jangka panjang.

 Bidang Operasi Sistem


Bertangggung jawab menjamin terlaksananya pengelolaan dan pengembangan proses
bidding energi; perencanaan dan analisa evaluasi operasi sistem; pengaturann dan pengendalian
sistem tenaga listrik; pengelolaan, pemeliharaan dan pengembangan SCADA TEL, fasilitas
operasi sistem transmisi 500 KV; pengelolaan proses pembacaan meter, proses setelmen,
penerbitan tagihan pembayaran serta penyelesaian permasalahan transaksi. Rincian tugas
pokok sebagai berikut:
1. Menyusun RKA terkait dengan kegiatan bidding dan operasi sistem.
2. Mengelola operasi sistem tenaga listrik untuk memperoleh sistem yang andal, aman,
bermutu dan ekonomis, dengan berbasis teknologi,sesuai dengan standar dan
peraturan yang berlaku.
3. Mengelola proses bidding dan melaksanakan koordinasi pelaksanaan operasi sistem
tenaga listrik dan perencanaan operasi tahunan hingga pelaksanaa operasi real time.

 Bidang Fasilitas Operasi


Bertanggung jawab menyusun kebijakan operasi dan pemeliharaan instalasi transmisi,
enjiniring transmisi dan proteksi; menyusun program pembinaan operasi dan pemeliharaan,
lingkungan dan keselamatan ketenagalistrikan, pengendalian aset transmisi dan logistik dengan
memperhatikan aspek tekno ekonomis dan strategi pengelolaan sistem transmisi untuk
menjamin keandalan dan ketersediaan transmisi. Rincian tugas sebagai berikut:
1. Menyusun RKA terkait operasi dan pemeliharaan instalasi transmisi, proteksi serta
lingkungan dan keselamatan ketenagalistrikan.
2. Menetapkan kebijakan enjiniring terkait operasi dan pemeliharaan transmisi,
proteksi untuk perbaikan dan peningkatan kinerja peralatan sistem transmisi PLN
P3B Jawa Bali.
3. Merekomendasikan penerapan pengembangan teknologi peralatan terkait operasi
dan pemeliharaan transmisi dan proteksi untuk meningkatkan keamanan, keandalan
dan efisiensi.

 Bidang Keuangan
Bertanggung jawab menyusun proyeksi keuangan, program pengelolaan anggaran
sesuai RKA PLN P3B Jawa Bali dan Unit-Unitnya; menjamin terselenggaranya pengelolaan
pendanaan dan pengelolaan arus kas secara akurat, pengelolaan pajak dan asuransi, pembinaan
dan pengembangan sistem manajemen keuangan dan akuntansi sesuai dengan prinsip-prinsip
manajemen keuangan dan akuntansi yang baik untuk memastikan akurasi dan ketepatan waktu
penyajian akuntansi dan pelaporan keuangan; menyusun, memantau dan mengevaluasi kinerja
keuangan PLN P3B Jawa Bali serta unit-unitnya. Rincian tugas pokok sebagai berikut:
1. Menyusun RKA PLN P3B Jawa Bali.
2. Menetapkan strategi dalam pengoptimalan sumber dan penggunaan dana PLN P3B.
3. Mengelola pendapatan dan pembayaran sesuai ketentuan yang berlaku.

 Bidang SDM dan Organisasi


Bertanggung jawab menjamin tersedianya SDM yang berkualitas serta memiliki
kompetensi sesuai bidang tugasnya meliputi penyelenggaraan rekruitmen dan seleksi,
penempatan pembinaan dan pengembagan SDM secara komprehensif dan terencana;
mengelola kegiatan administrasi kepegawaian berbasis sistem informasi kepegawaian yang
terpadu, menyelenggarakan hubungan industrial, serta pengembangan organisasi sesuai
kebutuhan dan penyempurnaan tata laksanannya termasuk penyelenggaraan analisa jabatan dan
evaluasi jabatan, perencanaan tenaga kerja, manajemen karir dan kinerja SDM. Rincian tugas
pokok sebagai berikut:
1. Merekomendasikan strategi pengembangan organisasi sesuai kebijakan perseroan.
2. Menyusun kebijakan sistem manajemen mutu.
3. Menetapkan rencana pengembangan kompetensi.

 Bidang Umum
Bertanggung jawab menyusun perencanaan dan melaksanakan pengelolaan
administrasi perkantoran, prasarana kantor beserta fasilitasnya dan transportasi serta keamanan
serta kebijakan dalam menghadapi masalah hukum yang timbul selama kegiatan perusahaan,
kebijakan dan strategi komunikasi, hubungan masyarakat dan program bina lingkungan serta
pengelolaan permasalahan sosial terkait Right of Way (ROW). Rincian tugas pokok sebagai
berikut:
1. Menyusun RKA Terkait dengan sarana dan fasilitas kerja, program bina lingkungan,
serta pengelolaan permasalahan sosial terkait ROW, kebijakan hukum, humas dan
komunikasi.
2. Menetapkan kebijakan yang terkait dengan sarana dan fasilitas kerja sesuai dengan
kewenangan yang telah ditetapkan.
3. Menentukan kebijakan penyelesaian permasalahan sosial, hukum serta masalah
intern yang terkait dengan rumah dinas/instansi untuk pedoman penyelesaian
permasalahan tersebut.

3.4 APB JAWA TENGAH


3.4.1 Hirarki APB P3B Jawa Bali

Gambar 3.4.1 Hirarki APB P3B Jawa Bali


3.4.2 Struktur Organisasi

Gambar 3.4.2 Struktur Organisasi

3.4.3 Wilayah Kerja

Gambar 3.4.3 Wilayah Kerja


3.4.4 Aliran Daya

Gambar 3.4.4 Aliran Daya

3.4.5 SCADA
3.4.5.1 Pengertian SCADA

SCADA kependekan dari Supervisory Control and Data Acquisition merupakan sebuah
sistem yang mengawasi dan mengendalikan peralatan proses yang tersebar secara geografis.
Alasan digunakannya SCADA adalah karena adanya kebutuhan untuk melakukan pengawasan
langsung dari penyaluran tenaga listrik, yaitu dengan melakukan pengumpulan informasi keadaan
peralatan atau perangkat di lapangan dan mengambil tindakan atas informasi tersebut secara
remote atau jarak jauh secara real time dan terpusat.

SCADA sudah ada di PLN Distribusi Jatim sejak tahun 1987 tepatnya di APD Jatim. Awal
berdirinya SCADA di APD Jatim adalah untuk memonitor Gardu Induk (GI) di wilayah
Metropolis (Surabaya Selatan, Surabaya Barat, Sidoarjo, Gresik). Dalam perkembangannya
dibangun juga SCADA untuk wilayah Pasuruan (tahun 1998) dan Malang (tahun 2002). Sehingga
sampai saat ini APD Jatim bisa memantau 34 GI yang berada di wilayah tengah, 32 GI di wilayah
barat, dan 29 GI di area timur. Dengan total penyulang yang terus bertambah yang pada saat ini
mencapai lebih dari 980 penyulang yang ada di Jawa Tmur.

Adanya sistem SCADA memudahkan operator untuk memantau keseluruhan jaringan


tanpa harus melihat langsung ke lapangan. Ketidakadaan SCADA dapat diibaratkan seseorang
yang berjalan tanpa dapat melihat. Sistem SCADA sangat dirasakan manfaatnya terutama pada
saat pemeliharaan dan saat penormalan bila terjadi gangguan. Sistem SCADA tidak dapat berdiri
sendiri, namun harus didukung oleh berbagai macam infrastruktur, yaitu:

1. Telekomunikasi
2. Master Station
3. Remote Terminal Unit
4. Protokol Komunikasi

Gambar 3.4.5.1a Master Station

Dalam operasi sistem tenaga listrik diperlukan media komunikasi yang berfungsi pula
sebagai media komunikasi yang digunakan pada system SCADA antara lain :
1. Radio data : peralatan ardio yang digunakan adalah radio modem dengan system
MARS (Multiple Access radio Sistem)
2. Pilot Calbe
3. Fiber Optic
4. PLC (Power Line Carrier)
5. Wifi
Konfigurasi Media komunikasi sebagai media transmisi data antara master station di
control center dengan RTU seperti gambar dibawah ini:

Gambar 3.4.5.1b Konfigurasi Media Komunikasi

Sistem telekomunikasi data yang dipilih haruslah menjamin keamanan dan mempunyai
distorsi rendah sehingga data yang diterima dapat diproses lebih lanjut. Komunikasi data antara
RTU dan Master Station dapat dilakukan secara komunikasi langsung (slave) atau melalui
proses pengumpulan data pada RTU tertentu (RTU data concentrator) yang kemudian, setelah
melalui seleksi maka data yang penting saja yang dikirimkan ke master station. Dengan
demikian, pemakaian kanal komunikasi data dapat di optimumkan

3.4.5.2 Fungsi Dasar SCADA


a. Telemetering (TM)
Mengirimkan informasi berupa pengukuran dari besaran-besaran listrik pada suatu saat
tertentu, seperti : tegangan, arus, frekuensi. Pemantauan yang dilakukan oleh dispatcher
diantaranya menampilkan daya nyata dalam MW, daya reaktif dalam Mvar, tegangan dalam KV,
dan arus dalam A. Dengan demikian dispatcher dapat memantau keseluruhan informasi yang
dibutuhkan secara terpusat.
b. Telesinyal (TS)
Mengirimkan sinyal yang menyatakan status suatu peralatan atau perangkat. Informasi
yang dikirimkan berupa status pemutus tegangan, pemisah, ada tidaknya alarm, dan sinyal-sinyal
lainnya. Telesinyal dapat berupa kondisi suatu peralatan tunggal, dapat pula berupa
pengelompokan dari sejumlah kondisi. Telesinyal dapat dinyatakan secara tunggal (single
indication) atau ganda (double indication). Status peralatan dinyatakan dengan cara indikasi
ganda. Indikasi tunggal untuk menyatakan alarm.

c. Telekontrol (TC)
Perintah untuk membuka atau menutup peralatan sistem tenaga listrik dapat dilakukan
oleh dispatcher secara remote, yaitu hanya dengan menekan salah satu tombol perintah buka/tutup
yang ada di dispatcher.

3.4.5.3 Fungsi Utama SCADA


Untuk dapat menjalankan tugasnya, dispatcher dibantu oleh sistem SCADA yang
terintegrasi yang berada di dalam suatu ruangan khusus yang disebut Control Center. Ruangan
tersebut adalah ruangan dimana ditempatkannya perangkat-perangkat komputer yang disebut
Master Station. Sedangkan fungsi utama dari sistem SCADA adalah sebagai berikut:

a. Akuisisi Data
Informasi pengukuran dari sistem tenaga listrik seperti tegangan, daya aktif, dan
frekuensi disimpan dan diproses secara real time, sehingga setiap ada perubahan nilai dari
pengukuran dapat langsung dikirim ke master station.

b. Konversi Data

Data pengukuran dari sistem tenaga listrik seperti tegangan, daya aktif, dan frekuensi
yang diperoleh tranducer awalnya berupa data analog untuk kemudian data tersebut dikirim oleh
tranduser ke RTU. Oleh RTU data yang awalnya berupa data analog diubah menjadi data digital.
Sehingga data yang dikirimkan ke master station berupa data digital.
c. Pemrosesan Data

Setiap data yang dikirim oleh RTU akan diolah di master station, sehingga data tersebut
bisa langsung ditampilkan ke layar monitor dan dispatcher bisa membaca data-data tersebut.

d. Supervisory Data
Dispatcher dapat mengawasi dan mengontrol peralatan sistem tenaga listrik.
Supervisory control selau menggunakan operasi dua tahap untuk meyakinkan keamanan operasi,
yaitu pilihan dan tahap eksekusi.

e. Pemrosesan Event dan Alarm

Event adalah setiap kejadian dari kerja suatu peralatan listrik yang dicatat oleh SCADA.
Misalnya, kondisi normally close (N/C) dan kondisi normally open (N/O). Sedangkan alarm
adalah indikasi yang menunjukkan adanya perubahan status di SCADA. Semua status dan alarm
pada telesinyal harus diproses untuk mendeteksi setiap perubahan status lebih lanjut untuk event
yang terjadi secara spontan atau setelah permintaan remote control yang dikirim dari control
center.

f. Tagging (Penandaan)

Tagging adalah indikator pemberi tanda, seperti tanda masuk atau keluar. Tagging
sangat bermanfaat untuk dispatcher di control center. Tagging digunakan untuk menghindari
beroperasinya peralatan yang diberi tanda khusus, juga untuk memberi peringatan pada kondisi
yang diberi tanda khusus.

g. Post Mortem Review


Melakukan rekonstruksi bagian dari sistem yang dipantau setiap saat yang akan
digunakan untuk menganalisa setelah kejadian. Untuk melakukan hal ini, control center mencatat
terus menerus dan otomatis pada bagian yang telah didefinisikan dari data yang diperoleh. Post
mortem review mencakup dua fungsi, yaitu pencatatan dan pemeriksaan.
3.4.5.4 Power Line Carrier
Power Line carrier merupakan system komunikasi yang paling banyak ditemukan pada
system tenaga listrik. Penggunaan PLC banyak digunakan untuk keperluan SCADA,
komunikasi suara, teleproteksi dan pembacaan-pembacaan meter-meter secara remote. Lebar
bidang frekuensi yang umum dipergunakan berkisar mulai dari 30 kHz sampai dengan 500
kHz. Pembatasan lebar bidang tersebut tergantung pada :
 Konstruksi dari filter frekuensi tinggi dan rendah.
 Pengaruhnya pada radio-radio broadcasting.
 Pengaruhnya pada radi pelayanan system navigasi udara.
 Menghindari interferensi diantara sesama jalur transmisi yang berdekatan perlu
membuat isolasi sedemikian rupa untuk menghindari penggunaan frekuensi yang sama
tidak saling mengganggu.
Sinyal telekomunikasi yang disalurkan harus ada peralatan khusus yang berfungsi
memasukkan (mencampur) dan mengeluarkan (memisahkan) sinyal telekomunikasi di ujung-
ujung SUTT dari frekuensi 50 Hz atau frekuensi enegi listrik yang disalurkan melalui SUTT.
Secara konfigurasi sistem PLC dapat digambar seperti dibawah ini.

Gambar 3.4.5.4 Konfigurasi Sistem PLC

3.4.5.5 Fiber Optic


Saat ini serat optik merupakan sarana komunikasi mulai dari jaringan komunikasi yang
sederhana sampai yang komplek. Dalam sistem tenaga listrik penggunaan fiber optik sebagai
sarana komunikasi juga ikut berkembang. Transmisi-transmisi baru dirancang dengan
menggunakan fiber optic yang diletakkan di dalam ground wire. Macam-macam fiber optic
yang dipergunakan di dalamsistem tenaga listrik terbagi dalam beberapa macam yaitu :
 OPGW (Optical Fiber Ground Wire)
Jenis Fiber Optic yang ditanam ditengah-tengah kawat tanah.
 ADSS (All Dielectric Self Supporting)
Jenis Fiber Optic yang dipasang dan ditarik antara tiang transmisi atau distribusi.
Pemasangan fiber optic ini dipasang pada kuat medan yang paling rendah untuk
menghindari efek gap tegangan pada permukaan fiber optic yang dapat merusak kabel.
 GWWOP (Ground Wire Wrap Optical Fiber)
Jenis fiber optic ini dililitkan pada kawat tanah dan dipasang untuk saluran transmisi
yang sudah ada.
Beberapa kelebihan dan keuntungan penggunaannya adalah sebagai berikut :
 Mempunyai lebar bidang frekuensi yang sangat tinggi hingga mencapai 2,5 GBps.
Dengan demikian satu serat optic dapat dipergunakan untuk menampung ratusan
saluran komunikasi, jauh lebih besar dibandingkan dengan pilot kabel atau radio
gelombang mikro.
 Relatif lebih kecil dan ringan dibandingkan pilot kabel, sehingga pemasangannya
jauh lebih mudah.
 Bebas dari gangguan interferensi gelombang elektromagnetik.
 Dari segi security sangat aman.
 Mempunyai rugi-rugi transmisi yang kecil.
 Kemampuan mekanis yang baik sehingga mampu self supporting.
 Biaya per bit informasi lebih murah.
 Keandalan yang tinggi dan pemeliharaan yang murah.
 Life time dapat mencapai 30 tahun.

3.4.5.6 Wifi (Wireless Fidelity)


Wireless Fidelity adalah radio dengan menggunakan gelombang mikro pada frekuensi
2,4 GHz dan 5,5 GHz. Radio gelombang mikro bekerja berdasarkan hubungan langsung
berhadap-hadapan antara antenna parabola pada jarak line of sight.
Wifi pada dasarnya berbasis peralatan Wireless LAN, yang sesuai dengan standar
802.11b atau IEEE 802.11a dan berjalan pada kecepatan 11 Mbps yang jauh lebih tinggi bila
dibandingkan dengan koneksi yang lain seperti line telepon. Peralatan ini banyak disuport oleh
vendor.
Sistem komunikasi ini berbasis Internet Protokol (IP Based) dan banyak dipergunakan
sebagai infrastruktur internet karena :
 Dapat menekan cost biaya line telepone.
 Mudah instalasinya dan jangka panjang biaya lebih rendah dibandingkan line telepon.
 Kecepatan bit mencapai 1 – 11 Mbps jika mengacu standard IEEE 802.11b.
 Merupakan standard yang open peralatan banyak tersedia di pasaran.

Media telekomunikasi yang umum digunakan adalah PLC (Power Line Communication),
Fiber Optik, dan Radio link. Pada awalnya penggunaan radio link dan PLC banyak digunakan,
terutama karena penggunaan PLC yang tidak memerlukan jaringan khusus namun cukup
menggunakan saluran transmisi tenaga listrik yang ada. Namun pada perkembangannya
penggunaan PLC mulai beralih ke Fiber Optik dikarenakan kecepatan bit per second yang jauh
di atas PLC. Pada kenyataannya ketiga media tersebut di atas digunakan secara bersama-sama,
sebagai main dan backup. Master station merupakan kumpulan perangkat keras dan lunak yang
ada di control center. Biasanya desain untuk sebuah master station tidak akan sama, namun
secara garis besar desain dari sebuah master station terdiri atas:
1. Server
1. Workstation
2. Historikal data
3. Projection mimic, dahulu masih menggunakan mimic board
4. Peripheral pendukung, seperti printer, logger
5. Recorder
6. Global Positioning System untuk referensi waktu, dahulu masih menggunakan master
clock
7. Dispatcher training simulator
8. Aplikasi SCADA dan Energy Management System
a. 10.Uninterruptable Power Supply (UPS) untuk menjaga ketersediaan daya
listrik
b. 11. Automatic Transfer Switch (ATS) dan Static Transfer Switch (STS) untuk
mengendalikan aliran daya listrik menuju master station.
Gambar 3.4.5.6 Aplikasi SCADA

Agar dapat melakukan akuisisi data maupun pengontrolan sebuah Gardu Induk maka
dibutuhkan suatu terminal yang dapat memenuhi persyaratan tersebut, yaitu Remote Terminal
Unit (RTU). Penggunaan RTU berawal dari RTU dengan 8 bit, hingga sekarang telah
dikembangkan RTU dengan 16 bit, bahkan sudah hamper menyerupai sebuah komputer. RTU
tersebut harus dilengkapi dengan panel, transducer, dan wiring.
Pada masa lampau, RTU dikembangkan oleh pabrikan secara sendiri-sendiri, juga
dengan protokol komunikasi yang tersendiri sehingga tidak ada standarisasi. Sebagai contoh
ada RTU dengan protokol komunikasi HNZ, Indactic, dan sebagainya. Penggunaan protokol
yang berbeda-beda ternyata menimbulkan masalah di kemudian hari ketika akan dilakukan
penggantian. Hal ini dikarenakan produk lama sudah tidak diproduksi lagi, sedangkan produk
baru sudah mengikuti standarisasi. Oleh karena itu dalam pembuatan maupun pengembangan
sistem SCADA harus mengacu pada standarisasi tersebut.
SCADA sendiri mempunyai fungsi pokok seperti Telecontrolling, Telesignalling, dan
Telemetering

3.4.5.7 Fungsi Tele Control Control,Tele Signal, Tele Metering

Untuk fungsi Distribusi fungsional RTU yang terpasang lokasi ditentukan sebagai
berikut:

1. Gardu Induk
 Telecontrol : pemutus beban, pemisah, pengaturan posisi tap changer trafo.
 Telemeasurement : tegangan. arus, kwh, power factor, kvarh untuk masing-masing
penyulang masuk dan keluar, busbar dan trafo.
 Telesignalling : peralatan pemutus, posisi tap changer, dan pengaman (ground
fault, over current, DC source fault, buchholz, transformator
temperature trip/alarm atau peralatan pengaman lain).

2. Gardu Trafo Distribusi (Key Point).


 Telecontrol : pemutus beban, pemisah
 Telemeasurement : tegangan. arus, kwh, power factor, kvArh untuk penyulang trafo.
 Telesignalling : peralatan pemutus, pengaman (ground fault, over current, DC
fault atau peralatan lain).

3. Pole Mounted Swithes (recloser, loadbreak switch dll.)


 Telecontrol : pemutus beban, pemisah
 Telesignalling : peralatan pemutus dan pengaman (ground fault, over current, DC
fault, atau peralatan lain).

4. Pole Mounted Capasitor Bank


 Telemetering : capasitive current, power factor, daya reaktif, tegangan.
 Telesignalling : open close status.
Sedangkan untuk fungsi Penyaluran fungsional RTU adalah sebagai berikut :

 Telecontrol : pemutus beban, tap changer Trafo


 Telemeasurement : KV, A, MW,MVAR, Cos Phi,.
 Telesignalling : status peralatan pemutus, peralatan pengaman (ground fault, over
current, DC fault atau peralatan lain).
 Load Frequency Control
3.5 TELEMETERING
Telemetering adalah suatu proses pengiriman besaran ukur jarak jauh melalui media
komunikasi data. Pada sistem scada, RTU memiliki fungsi sebagai telemetering. Telemetering
pada RTU adalah RTU mengirimkan data hasil pengukuran pada CT (Current Transformator) dan
PT (Potential Transformator). Pada proses ini data hasil pengukuran oleh transducer pada RTU
akan dikirimkan ke master station pada SCADA.
Salah satu fungsi RTU (Remote Terminal Unit) untuk mengakuisisi data analog dan
meneruskan hasil-hasil pengukuran ke master station. Diagram alur data SCADA untuk
telemetering dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

busbar

modem

Gambar 3.5 Alur SCADA pada proses Telemetering

 Transducer
Mengubah satuan besaran ke besaran lain yang dibutuhkan agar dapat diproses untuk
berbagai keperluan, contohnya dari suhu ke tegangan).

 CT/PT
Menkorversi arus dan tegangan dari sisi tegangan tinggi menjadi tegangan dan arus yang
dibutuhkan oleh transduser.

 RTU
RTU (Remote Terminal Unit) merupakan microposessor yang bertugas melakukan
scanning, pengolahan dan penyimpanan data sementara sebelum diminta oleh pusat control dan
melakukan kendali sesuai perintah.

Namun pada Gardu Induk di Kebonagung, kWh meter yang digunakan adalah yang tipe
PM, maka untuk mengirim data ke RTU, tidak diperlukan adanya transducer, karena data yang
dihasilkan sudah digital dan sudah dapat diproses oleh RTU. Sehingga gambar diagramnya
menjadi seperti berikut :

busbar kWh meter

modem

modem

Dispatcher memanfaatkan Telemetering untuk kebutuhan pemantauan meter, baik daya


nyata dalam MW, daya reaktif dalam MVAR, tegangan dalam kV, dan arus dalam A. Dengan
demikian dispatcher dapat memantau meter dari keseluruhan jaringan hanya dengan duduk di
tempatnya, tentu saja dengan bantuan peralatan pendukung lainnya seperti telepon. Data
pengukuran yang ada di GI sendiri didapat dari CT dan PT yang mana berfungsi sebagai sensor.
CT dan PT tersebut dipasang di busbar (primary technology). CT dan PT tersebut dipasang pada
sisi incoming kubikel dari sekunder trafo (cara pemasangan CT dan PT tersebut dibaut pada
busbar). Setelah itu hasil sensing dengan CT dan PT akan dikirimkan ke kWh meter 3 fasa, kWh
meter (disini berfungsi sebagai IED /Intelligent Electronic Device) .Setelah data sampai di kWh
meter 3 fasa, RTU akan meneruskan data tersebut ke modem, kemudian modem akan mengirim
data melalui media komunikasi yang dapat berupa radio, kabel control, serat optic, dll.
Pada single line diagram di GI, kWh meter pembangkit-transmisi berada pada sisi
incoming kubikel 20 kV , sedangkan kWh meter transmisi-distribusi berada di sisi outgoing
kubikel 20 kV. Pada realnya di lapangan, kWh meter berada di control room seperti yang
terlihat pada gambar di bawah ini (GI Kebonagung) :


Gambar kWh meter pembangkit-transmisi.

Gambar kWh meter pembangkit-transmisi. SUTAMI 1.


Gambar kWh meter pembangkit-transmisi. SUTAMI 2.

Gambar kWh meter transmisi-distribusi penyulang Bumiayu, MOG, Wagir.


Gambar kWh meter transmisi-distribusi penyulang MOG

Gambar kWh meter IBT.


Gambar kWh meter IBT.
3.6 TELESIGNALLING
Dispatcher dapat memanfaatkan TS untuk mendapatkan indikasi dari semua alarm dan status
peralatan tertentu yang bisa dibuka (open) dan ditutup (close). Prinsip kerjanya sama seperti pada
telemetering, hanya saja sensor yang digunakan beda, pada kali ini sensor yang digunakan adalah
relay, relay tersebut akan memberikan status on/off nya suatu peralatan kepada RTU untuk
diteruskan ke modem dan kemudian dikirim ke master station. Data yang dihasilkan dari relay
sudah berbentuk digita, sehingga bias langsung diproses oleh RTU.
Telesignaling adalah pengambilan status peralatan tenaga listrik di Gardu Induk atau Pusat
Pembangkit untuk dapat dimonitor di Pusat Pengatur, berupa sinyal Alarm dan Indikasi yang
terhubung ke modul digital input pada RTU (Remote Terminal Unit). Sinyal Alarm memiliki satu
keadaan , yaitu keadaan ON atau OFF. Sedangkan Indikasi memiliki dua keadaan, dimana satu
keadaan tertutup (close) dan terbuka (open), seperti pada PMT, PMS rel, PMS line, dan PMS
tanah
Fungsi Telesignaling pada RTU yaitu untuk mengumpulkan status-status peralatan misal
PMT/PMS ataupun alarm peralatan dan kemudian mengirimkannya ke master station. Bagian
RTU yang menerima input signal ini adalah card DI (Digital Input). Signal yang berupa status
memakai
TeleSignal Double (TSS), sedangkan berupa alarm memakai TeleSignal Single (TSS).
Adapun alur data TS SCADA dapat digambarkan sebagai berikut:
Telesignaling juga mengumpulkan informasi mengenai kondisi sistem dan indikasi operasi,
kemudian menampilkannya pada pusat kontrol (JCC maupun RCC)

Indikasi-indikasi yang dapat dipantau dari pusat kontrol yaitu :

1. Status PMT/PMS.
2. Alarm-alarm seperti proteksi dan peralatan lain.
3. Posisi kontrol jarah jauh.
4. Posisi perubahan tap transformator.
5. Titik pengesetan unit pembangkit tertentu

Cara pengambilan data tersebut pada awalnya dilakukan oleh CT dan PT sebagai sensing,
yang dipasang pada Bay (busbar). Pada hal ini, spesifikasi CT yang digunakan sangatlah
penting, terutama pada Burdennya, Burden sendiri adalah batasan max CT ke alat ukur.

Contoh spesifikasi kelas akurasi dan burden berdasarkan ANSI/IEEE untuk trafo pengukuran :
B0.2 adalah burden untuk trafo pengukuran dengan nilai impedansi nya 0.2 Ohm dan nilai VA
maxnya adalah 5 VA, maka dengan begitu pemasangan CT dengan alat ukur jaraknya tidak
boleh sampai mengakibatkan rugi sebesar 5 VA, Karena efeknya akan menyebabkan terjadinya
drop tegangan yang mana akan mempengaruhi keakuratan dari alat ukur tersebut.

3.7 TELECONTROLLING

Telecontroling adalah pengendalian atau pengoperasian peralatan switching pada Gardu


Induk yang jauh dari pusat kontrol. Telekontrol yang dapat dilakukan adalah open-close
PMT/PMS, start-stop PLTD, perubahan tap transformator, dan sebagainya.

Fungsi kontrol sistem tenaga listrik terbagi menjadi 4 bagian, yaitu kontrol individu,
kontrol perintah untuk pengaturan peralatan, pola kontrol otomatis dan pola kontrol berurutan.
Kontrol individu merupakan perintah langsung peralalatan sistem tenaga listrik, seperti perintah
buka/tutup PMT atau PMS, dan perintah start/stop unit pembangkit. Sedangkan kontrol perintah
untuk pengaturan peralatan merupakan fungsi kontrol yang berhubungan dengan pusat
pembangkit untuk menaikkan atau menurunkan daya pembangkitan. Kontrol otomatis adalah
perintah kontrol dari substation automation misalnya untuk load shading. Kontrol berurutan
adalah kontrol otomatis dengan menggunakan aplikasi distribusi Managemen System (DMS).

Cara kerjanya adalah CT dan PT akan menyensing arus pada Bay di GI, hasil sensing
tersebut diteruskan relay bantu yang berada di control panel, relay bantu inilah yang nantinya
akan memberikan status on off peralatan PMT/PMS. Setelah itu data yang dihasilkan dari relay
bantu tersebut dimasukkan terlebih dahulu ke transducer untuk diolah agar dapat di proses oleh
RTU. Setelah itu RTU akan mengirimkan data tersebut ke master station. Dispatcher dapat
melakukan kontrol secara remote, hanya dengan menekan satu tombol, untuk membuka atau
menutup peralatan sistem tenaga listrik. Dispatcher tinggal menekan tombol pada simbol PMT
di single line diagram suatu GI, kemudian master station mengirim sinyal perintah tersebut ke
RTU. RTU meneruskan perintah tersebut melalui card DO (Digital Output) ke PMT. Hal ini
bisa dilakukan dengan bantuan Telesinyal yang memberikan status on/off nya suatu peralatan
di pembangkit, proses pengontrollannya pun juga menggunakan relay yang memberikan status
dari peralatan itu sendiri.

3.8 PERALATAN SISTEM SCADA

Peralatan system SCADA PLN telah diatur pada POLA SCADA, yang merupakan
standardisasi peralatan baku .Kompleksitas peralatan SCADA ditentukan oleh pada level
organisasi operasi sistem tenaga listrik mana akan dioperasikan, sehingga akan didapat
keseragaman pola peralatan SCADA di PLN. Dengan adanya Philosophy ini maka tahap
selanjutnya yaitu penyusunan Functional Requirement akan lebih terarah dan lebih pasti,
mengacu kepada kebutuhan operasional sistem yang akan dioperasikan antara lain :

1. Melengkapi alat operasional jaringan tegangan menengah serta meningkatkan


kemampuan manjemen operasi sistem tenaga listrik.
2. Meningkatkan reliabilitas sistem tenaga listrik.
3. Memperbaiki kualitas jaringan tenaga listrik.
4. Menyediakan data yang akurat/tepat untuk proses lanjutan, seperti: optimisasi
operasi jaringan, perencanaan dan perawatan jaringan; maupun untuk pelayanan
pelanggan serta peningkatan kinerja manajemen operasi sistem tenaga listrik..

Dengan memperhatikan tujuan dan sasaran tersebut maka peralatan SCADA-meliputi:

 Remote Terminal Units (RTUs)


 Sistem Komunikasi.
 Master Station (Ruang Kontrol)
 Peralatan Interfacing dengan peralatan jaringan .
3.8.1 Master Station

Master Station merupakan kumpulan perangkat keras dan lunak yang ada di control
center, pada umumnya konfigurasi sebuah master station tidak akan sama, disesuaikan dengan
kebutuhan system scadanya.Namun secara garis besar konfigurasi dari sbuah master station
terdiri dari:

 Komputer Front End


 Komputer Server
 Komputer Human Machine Interface
 Komputer Database server
 Komputer Engineering
 Swicth atau HUB LAN
 Radio Master
 Recorder
 Global Position Sistem untuk referensi waktu
 DTS ( Dipatcher Training Simulator)
 UPS
 Projector
 Wall Display.
 Peripheral pendukung seperti Printer, logger
 Sofware Aplikasi SCADA untuk Server maupun HMI

3.8.2 Front End

Front End adalah peralatan komputer yang berfungsi sebagai peralatan komunikasi /
menghubungkan antara Master Terminal Unit dengan Remote Terminal unit, dimana fungsi
dari Front end adalah sebagai pengolah komunikasi dan menyimpan data sementara diantaranya
:Pengambilan Data dari RTU, yaitu pengambilan status dan pengukuran dapat diambil secara
polling, untuk mempercepat pengambilan data maka hanya data yang berubah yang saja yang
diambil.Penyimpan data, yaitu data status dan pengukuran yang telah di proses, disimpan di file
server, atau dikirim ke HMI. Pengiriman data, yaitu sebagai alat mengirim data dari server ke
RTU atau sebaliknya. Pengiriman data ke HMI yaitu ketika permintaan data status RTU
diterima Front End dari HMI, maka seluruh data RTU tersebut akan dikirim ke HMI dan data
ini diambil dari file Server.

Penyesuaian Waktu dari setiap RTU yaitu mempunyai fungsi agar setiap RTU
mempunyai waktu yang sama dengan Master Terminal Unit, maka secara priodik mengirim
data waktu yang diterima dari MTU ke setiap RTU yang dikelolanya.

Diagnosa RTU yaitu untuk memeriksa apabila setiap RTU masih bekerja atau tidak, maka
secara periodik dikirim data khusus ke setiap RTU. Bila RTU tidak memberikan jawaban
setelah beberapa kali pengulangan, maka Front End akan mengirimkan berita ke Master bahwa
RTU tersebut tidak berfungsi.

3.8.3 HMI (Human Machine Interface)

Human Machine Interface atau Man Machine Interface merupakan sarana atau perangkat
yang sangat penting dalam Pusat Pengatur Beban sebagai media komunikasi antara
Operator/Dispatcher dengan komputer, dimana operator dapat langsung memantau dan
mengomando elemen-elemen yang berada di gardu Induk k yang masuk dalam system SCADA.
Selain itu dapat juga menyimpan data data dan informasi system secara real time untuk
dijadikan bahan analisa selanjutnya.Banyaknya operator yang bekerja dalam ruangan pusat
pengatur menentukan banyaknya workstation/terminal yang diperlukan.

Sistem HMI meliputi semua peralatan yang dipergunakan untuk menyampaikan


informasi kepada operator/dispatcher dan dapat dipakai oleh operator/dispatcher untuk
mengoperasikan sistem.

Secara garis besar fungsi HMI adalah sebagai berikut :

 Melihat/memantau kondisi sistem distribusi.


 Memasukkan atau merubah data.
 Melakukan navigasi diantara fungsi-fungsi SCADA.
 Memonitor dan mengendalikan peralatan Sistem Jaringan Distribusi.
 Memonitor dan Mengendalikan konfigurasi sistem jaringan distribusi.
3.8.4 Media Komunikasi

Kebutuhan media komunikasi dipertimbangkan berdasarkan konfigurasi antara master


computer yang berada di pusat pengendali dengan RTU. Konfigurasi yang diperlukan antara
Master Komputer dengan RTU berbentuk star atau gabungan bentuk pohon bintang .

Dengan spesifikasi media komunikasi sebagai berikut :

Low Data Speed (300 s/d 9600 bps)

Mode transmisi sinkronus atau asinkronus

Prosedur Transmisi Master-Slave

Untuk keandalan diperlukan duplikasi link komunikasi.

Media komunikasi yang dipergunakan dapat bermacam-macam diantaranya Radio Data, Pilot
Calbe, Fiber Optic, PLC (Power Line Carrier), Microwave atau Saluran Telepon ( Leased Line).

3.8.5 RTU

RTU adalah suatu peralatan yang terpasang pada gardu yang mana didalamnya terdapat
processor yang berfungsi untuk mengambil data baik status maupun data pengukuran secara
scanning ( polling), serta fungsi lainnya adalah melaksanakan perintah-perintah dari HMI yaitu
seperti Buka tutup CB, melaporkan realisasi apa yang diperintahkan HMI lengkap dengan
keadaan RTU saat itu (real time).

Semua rangkaian proses di sisi site atau gardu baik metering maupun status cb yang
diproses oleh RTU , selajutnya data tersebut disimpan dalam data memory (RAM) sebelum
diminta oleh Front End pada control center, selain itu juga Rtu berfungsi untuk melaksanakan
komando ( Buka Tutup CB) dengan permintaan dari HMI .

3.8.6 Adaptation Work/Interfacing

Interfacing adalah sebuah Panel yang berisi rele-rele bantu /AUX dan terminal terminal
antara RTU dengan peralatan yang akan di kontrol oleh system SCADA.
3.8.7 Tele informasi Data

Besar kecilnya sistem SCADA ditentukan dari jumlah teleinformasi yang direncanakan.
Analisa kebutuhan Sistem SCADA juga mengacu pada besar kecilnya teleinformasi, karena
akan menentukan kapasitas dari master komputer yang ada.

Macam-macam teleinformasi ditinjau dari bentuknya adalah :

1. Digital Output, merupakan sinyal digital yang dikirim dari master komputer dan
berupa sinyal perintah seperti telekontrol.
2. Digital Input, merupakan sinyal digital yang dikirim dari peralatan remote ke
master komputer setelah melalui RTU yang berupa sinyal indikasi. Sinyal ini
terbagi dalam 2 (dua) macam yaitu single signalling dan double signalling yang
membedakan keduanya adalah penggunaannya misalnya untuk keakuratan
posisi PMT diperlukan double signalling.
3. Analog Input, merupakan sinyal analog yang dikirim dari meter-meter analog
yang mangalami proses Analog to Digital Converter di RTU sebelum dikirim ke
master komputer untuk diproses lebih lanjut.

Tele informasi data dituangkan pada tele information plan untuk dapat menyusun data
basenya. Tele informaton plan di bedakan antara Tele information plan untuk SCADA, dan
tele information plan untuk pemeliharaan. Contoh Tele information plan untuk sistem
Distribusi untuk SCADA Gardu Induk.

3.8.8 Perangkat Lunak Sistem SCADA

Perangkat lunak Sistem SCADA sesuai dengan kebutuhan dapat dibagi dalam dua
kelompok yaitu :

1. Data Base

Seluruh informasi yang digunakan fungsi SCADA, program aplikasi sistem distribusi
dan tampilan diagram jaringan distribusi harus disimpan dalam sistem manajemen database.
Untuk keperluan khusus dapat digunakan penyimpanan berupa tabel dan flat-file di program
aplikasi.

Data harus diduplikasi pada dua file server di Master Station untuk mencapai derajat
ketersediaan sistem yang tinggi. Database teleinformasi harus dapat didefinisikan dan
dimodifikasi dengan cara yang inter-aktif tetapi cukup sederhana. Sistem harus dapat
melakukan verifikasi terhadap konsistensi database RTU untuk mencegah kesalahan operasi
atau alarm yang salah.

2. Antarmuka Pemakai Grafik.

Antarmuka dengan pemakai harus berbasis grafik bit-map, interaksi dilakukan melalui
alat penunjuk.Antarmuka ini harus berupa WIMPS (Windows, Icons, Mouse and Pointer
System).Perangkat lunak antarmuka pemakai harus dapat dijalankan dalam workstation berdiri
sendiri atau bagian dari jaringan client-server. Antarmuka pemakai harus menyediakan fungsi-
fungsi untuk pemakai maupun pengembangan aplikasi sebagai berikut :

 Fasilitas untuk mendesain diagram secara dinamis.


 Fasilitas untuk me-link objek grafis dengan item database.
 Fasilitas untuk mengambil diagram secara dinamis dan untuk mengalihkan diagram ke
 layar lain atau ke workstation lain dalam jaringan.
 Fasilitas untuk menghubungkan objek grafis dengan perintah sistem.

Tampilan harus dapat berupa diagram skematik atau diagram layout geografis yang
terdiri dari objek statik dan dinamik. Diagram harus dapat didesain berdasarkan primitif (busur,
lingkaran, elips, garis, marker, poligon, polyline, persegi panjang, bujursangkar, kotak text, dan
text), warna, dan atribut (jenis garis, tebal garis, visibilitas, font, blockfill). Harus ada fasilitas
decluterring untuk diagram yaitu pengurangan detail yang berlebihan untuk layer yang berbeda.

3.8.9 Aplikasi SCADA

Fasilitas dasar fungsi SCADA memiliki software yang mampu berintegrasi untuk
melakukan fungsi :
1. Pengendalian dan Akuisisi.

Akuisisi data dilaksanakan oleh subsistem akuisisi yang berinter-aksi dengan server
SCADA. Fungsi akuisisi data meliputi : pengukuran analog (tegangan, arus, MVAR, MW dan
tap trafo), input/status digital, dan pulsa dari RTU dan sistem komputer eksternal.Pengendalian
harus dilengkapi mekanisme sekuriti sekuen pengendalian meliputi keadaan awal, antara, dan
keadaan final.

2. Manajemen Event dan Alarm.

Perangkat lunak memproses seluruh perubahan data untuk mendeteksi alarm, kemudian
memberikan tanda kepada operator bila batas-batas alarm dilampaui. Perangkat lunak harus
dilengkapi daftar alarm dengan prioritas yang teratur dan fasilitas acknowledge alarm secara
interaktif. Perangkat lunak penanganan alarm harus berintegrasi dengan database relasional
sehingga memungkinkan pengambilan histori alarm dan event secara fleksibel

3. Perhitungan.

Perhitungan dilakukan atas data-data yang diperoleh dari fungsi akuisisi data.
Perhitungan meliputi fungsi-fungsi aritmetik dan logika untuk mendapatkan 'derived data'.

4. Pembagian Wilayah Kerja Operator.

Pembagian wilayah kerja operator secara geografis atau topologis harus dapat dilakukan
secara fleksibel melalui 'operator workstation'. Wilayah dan kewenangan operator harus dapat
ditentukan secara dinamis bila perubahan kondisi operasi menuntut perubah

5. Trend dan Peng-arsipan.

Perangkat lunak pengarsipan harus memungkinkan untuk memilih pengukuran diambil


dan disimpan dalam interval waktu tertentu yang bisa diubah sesuai kebutuhan.Data arsip
melalui database relasional harus dapat diambil dan diproses untuk membuat laporan
menggunakan alat/perangkat lunak standard.Harus ada juga fasilitas untuk mem-plot data arsip
untuk mengetahui trend perubahan data yang disample secara grafis.
6. Antarmuka Client (dalam 'Client-Server' SCADA).

Perangkat lunak SCADA harus diimplementasikan menggunakan teknik 'object


oriented program'. Fungsi SCADA dan element data merupakan objek. Objek ini dengan atribut
fungsi antarmuka client memberikan Application Program Interface (API) SCADA. Antarmuka
'client' memungkinkan integrasi aplikasi yang terdistribusi dengan fungsi dasar SCADA.

7. Program Aplikasi

Untuk sistem Distribusi program Aplikasi yang di implementasikan untuk pengelolaan


jaringan Distribusi adalah Distribution Management System (DMS ) . Sedangkan untuk Sistem
Penyaluran program aplikasi pengelolaan jaringan sistem tenaga listrik dengan SCADA adalah
Energy Managemen System ( EMS ) . Agar program Aplikasi dapat berfungsi dengan sempurna
maka kedisiplinan dalam menjaga kelengkapan peralatan SCADA khususnya pada saat ada
penambahan perlatan di lapangan ( Penyulang, trafo,kapasitor dll ) harus konsisten. Demikian
pula penyesuaian data base di Master Station.

3.8.10 Sistem Scada Jawa Bali

Data Sistem scada MASTER STATION terdiri dari 6 Control Center :

 JCC GANDUL (Gandul, Depok) Tugas switching 500 Kv Jawa Bali.


 RCC CAWANG (APB DKI JAKARTA dan BANTEN) Tugas pengaturan sistem
150/70kV DKI Jakarta dan Banten.
 RCC CIGELENG (APB Jawa Barat) Pengaturan sistem 150/70KV Jawa Barat
 RCC UNGARAN (APB Jawa Tengah dan DIY) Pengaturan sistem 150/70kV Jawa
Tengah dan DIY
 RCC WARU (APB Jawa Timur) Pengaturan 150/70kV Jawa Timur
 RCC BALI (APB Bali) Pengaturan sistem 150/70kV Bali.
REMOTE STATION

3.8.11 Link Komunikasi SCADA

Media komunikasi yang digunakan untuk SCADA Jawa Bali adalah :

 Fiber Optic
 PLC
 Pilot Cable
 Radio Microwave
KONFIGURASI LINK KOMUNIKASI UNTUK SISTEM SCADA 500 KV
KONFIGURASI SCADA JAWA TIMUR
3.8.12 Remote Terminal Unit (RTU)
RTU (Remote Terminal Unit) adalah salah satu komponen dari suatu sistem pengendali
tenaga listrik yang merupakan perangkat elektronik yang dapat diklasifikasikan sebagai
perangkat pintar. RTU biasanya ditempatkan di gardu induk, gardu hubung, gardu distribusi,
maupun pusat – pusat pembangkit sebagai perangkat yang diperlukan oleh Control Centre
untuk mengakuisisi data-data rangkaian proses dalam melakukan telecontrol, telesignal dan
telemetering. RTU merupakan komponen yang sangat penting dalam sistem pengendalian,
sehingga RTU ini harus mempunyai tingkat keandalan dan ketepatan (akurasi) yang tinggi, dan
tidak boleh terpengaruh oleh gangguan-gangguan, misalnya noise, guncangan tegangan catu,
dsb.
Remote Terminal Unit atau RTU mempunyai fungsi yang sangat penting bagi
komunikasi SCADA di gardu induk, umumnya untuk mengontrol peralatan dan memantau
status peralatan. RTU mengumpulkan data pada kubikel dan mengirimkan data tersebut ke
master station menggunakan komunikasi data DNP 3.0 Serial melalui Cloud Icon +. Cloud
Icon+ adalah jaringan yang digunakan pada sistem SCADA di PT PLN (Persero) sebagai jalur
komunikasi antara RTU dengan master station. RTU juga mengolah kontrol dari master station
kepada peralatan di kubikel seperti kontrol open/close PMT, reset relay, reset
panel/annunciator, dll. Protokol yang digunakan untuk komunikasi RTU ke IED biasanya
adalah Modbus.
Gambar Skema RTU di Gardu Induk

Tugas pokok RTU adalah :

 Mengumpulkan data Status/Alarm dan Pengukuran kemudian mengirimkannya ke


Control Center.
 Meneruskan perintah Control Center.

Pada prinsipnya RTU mempunyai fungsi dasar sebagai berikut :

 Mengakuisisi data analog maupun sinyal digital.


 Melakukan kontrol buka/tutup kontak, naik/turun start/stop setting atau fungsi-fungsi
set point lainnya.
 Meneruskan hasil-hasil pengukuran (daya aktif, daya reaktif, frekuensi, arus, tegangan,
energi) dan sebagainya ke pusat pengendali/Control Centre.
 Sebagai data logging, RTU berfungsi untuk merekam semua kejadian, termasuk apabila
terdapat kelainan dari sistem maupun sinyal yang sedang dipantau. Data logging disini dapat
bersifat pengarsipan. Laporan dapat diperoleh dari layar monitor atau dari printer, dalam
bentuk kumpulan data berdasarkan tanggal/bulan sesuai yang diminta untuk keperluan
pengecekkan atau perbaikan.
 Sebagai Event recording. Agak berbeda dengan data logging, Event recording
merekam setiap kejadian sesuai dengan prosedur yang ada atau sesuai dengan yang
diperintahkan/diprogram dari pusat pengendali, misalnya perintah buka/tutup pemutus
hubungan beserta reaksinya (sudah dilaksanakan, gagal dsb), hasil – hasil pengukuran beserta
komentarnya (nilai pengukuran atau berita khusus bila batas terlampaui, dsb).
 Berkomunikasi dengan lokal personal komputer untuk keperluan supervisi dan
pengendalian secara lokal serta untuk keperluan pemeliharaan (commisioning).

Bagian utama pada RTU adalah :

 Modul CPU
Fungsi Modul Mikroprosessor adalah organisasi aliran data. Sinkronisasi waktu dengan GPS
lokal atau GPS di Control Centre, Sinkronisasi komunikasi serial atau field bus.
 Modul I/O
Fungsi utama dari I/O adalah sebagai media masukan besaran analog, sinyal digital, transduser,
akumulator, dan sumber sinyal lainnya dari rangkaian proses. Disamping itu, I/O juga
merupakan perangkat-perangkat yang melakukan dan meneruskan perintah kendali seperti
untuk pegoperasian relay, pemutus daya, motor start/stop unit dan lain sebagainya termasuk
kendali set point. Modul I/O harus dapat berfungsi sebagai :
1. Restitusi Logic
Sinyal dengan restitusi logic digunakan untuk pengendalian jarak jauh. Seperti
peralatan pemutus rangkaian, switchgear, isolators dll. Peralatan yang dituju dapat diaktifkan
dengan mengirimkan perintah tutup/buka dari pusat kendali. Pengendalian satu atau lebih
peralatan (tergantung dari kemampuan modul) dapat dilakukan serempak untuk sebuah
perintah open/close.
2. Restitusi Analog
Pusat kendali (Control Centre) memberikan besaran analog tertentu yang dikirimkan ke
Control Unit dalam bentuk digital. Kemudian oleh modul khusus untuk restitusi analog ini,
data digital yang dikirimkan dari Central Unit dikembalikan kedalam bentuk analog, yang
dipakai sebagai besaran referensi pada peralatan yang dikendalikan.
3. Keluaran Logic untuk Animasi Diagram Mimic
Diagram mimic bermanfaat untuk melihat secara visual keadaan kerja sistem jaringan listrik
yang dikontrol dan ditandai dengan indikator lampu menyala (steady/flashing) atau mati.
Modul I/O memberikan keluaran logic yang urutan operasi indikatornya dikontrol oleh
software yang ada pada Central Unit. Sinyal ini biasanya digunakan untuk pengendali animasi
diagram mimic yang terletak di Control Centre atau Substation.
4. Akuisisi Counting
Modul dengan fungsi akuisisi Counting ini digunakan untuk menerima data yang dihasilkan
oleh pengukur daya (misalnya: KwH, dsb), ini dipergunakan untuk bukti transaksi jumlah daya
yang dipergunakan.
 Modul Komunikasi
Fungsi modul komunikasi yaitu dapat berkomunikasi menggunakan protokol sesuai dengan
standar, memiliki fungsi http dan ftp (opsional), dapat melakukan switch secara otomatis.
 Modul Power Supply (Catu Daya)
Power Supply Unit adalah modul yang menyediakan catu daya untuk keperluan operasi.
Lampiran
TRANSMISI
\\\\\\\\\\\\\\\\\
3.9 Automation Hierarchy of Transmisi

3.9.1 Gambar Diagram Automation hierarchy of transmisi

Gambar 3.10.1 Diagram Automation hierarchy of transmisi

3.9.2 Primary Technology

Primary Technology dapat didefinisikan sebagai obyek paling awal. Pada kasus
telemetering SCADA, primary technology disini adalah busbar pada GI.

3.9.3 Field

Field dalam hal metering berhubungan dengan sensor. Sensor yang berhubungan
dengan pengukuran disini adalah CT (Current Transformer) dan PT (Potential Transformer).
CT dalam hal ini berfungsi sebagai sensing arus yang berada pada busbar tersebut, sedangkan
PT berfungsi sebagai sensing tegangan yang melewati busbar tersebut. CT dan PT di Gardu
Induk sendiri dia berada di ruang control, lebih tepatnya pada busbar di kubikel, dan
pemasangannya di mur baut.

Gambar di atas adalah salah satu contoh trafo tenaga yang ada di gardu induk
kebonagung. Dengan spesifikasi sebagai berikut :

S = 60 MVA

V incoming = 150 KV

V outgoing = 20 KV

Penentuan CT

Dari data di atas maka dapat kita cari nilai arus nominal sisi outgoing.

60
In = 1.73 x 20 =1734 A

Maka dipilih ratio CT pada sisi primer sebesar 20 A, bila CT dipergunakan untuk
pengukuran dan proteksi dipilih ratio 2000/5-5.
Penentuan PT

Tegangan 20.000 volt, karena pada meter transaksi jual beli tenaga listrik
mempergunakan tegangan rendah, dibutuhkan trafo tegangan sebagai berikut:
 Tegangan : 20.000/3 / 100/3 , sisi sekunder disesuaikan dengan tegangan alat ukur.
kWh METER
Pada single line diagram, kWh meter diletakkan pada busbar incoming 20 kV dan pada
busbar transmisi. Sedangkan di lapangan, kWh berada di control room seperti yang terlihat
pada gambar di bawah ini :
1

5
Gambar 1.1 kWh Meter

Keterangan Gambar :
o Alat Ukur
 Ampere Meter
Untuk mengukur besaran arus dengan satuan ampere.

 KV Meter
untuk mengukur besaran tegangan dengan satuan kilo volt.
 MW Meter
untuk mengukur besaran daya aktif dengan satuan mega watt.
 MVAR Meter
untuk mengukur besaran daya reaktif dengan satuan mega var.
 KWh Meter Terima
untuk mengukur besarnya KWh yang diterima.
 KWh Meter Kirim
untuk mengukur besarnya KWH yang dikirim.

o Announciator atau Papan Indikasi


 Papan Indikasi
untuk mengetahui indikasi peralatan apa yang kerja atau mengalami
kelainan.
 Reset lock-out ry 79
untuk mereset relay recloser yg kerja.
 Reset indikasi ry 79
untuk mereset indikasi relay recloser.
 Lamp Test
untuk menguji lampu indikasi.
 Stop Alarm
untuk mematikan / mereset alarm.
 Stop Flicker
untuk menghentikan sinyal flicker.
 Reset
untuk menghilangkan / mereset indikasi.
 Stop Buzzer
untuk mematikan / mereset alarm apabila MCB DC trip.
 Lampu indikasi MCB DC trip
untuk indikasi apabila MCB DC trip.
o Tombol Selector Switch
 Switch Voltmeter
untuk mengetahui tegangan pada tiap phase (R, S, T).
 Switch 43 RL (Lokal-Remote)
Lokal berarti pembukaan dan penutupan PMS Bus dilakukan / dikerjakan
oleh petugas JARGI dikontrol panel GI.
Remote berarti pembukaan dan penutupan PMS Bus dilakukan /
dikerjakan oleh petugas Dispatcher Region melalui SCADA.
 Switch 43 RL (Lokal-Remote)
Lokal berarti pembukaan dan penutupan PMS Bus dilakukan / dikerjakan
oleh petugas JARGI dikontrol panel GI.
Remote berarti pembukaan dan penutupan PMS Bus dilakukan /
dikerjakan oleh petugas Dispatcher Region melalui SCADA.
Synchronism berfungsi untuk mensinkronkan tegangan Line dan Bus.

o Control Switch
 Control Switch PMS BUS A
untuk pembukaan dan penutupan PMS BUS A 150 kV Remote dari panel
kontrol.
 Control Switch PMS BUS B
untuk pembukaan dan penutupan PMS BUS B 150 kV Remote dari panel
kontrol.
 Control Switch PMT
untuk pembukaan dan penutupan PMT 150 kV Remote dari Panel
Kontrol.
 Control Switch PMS LINE
untuk pembukaan dan penutupan PMS LINE Remote dari Panel Kontrol.
Catatan : Untuk fasilitas control switch PMS Tanah tidak ada jadi untuk
memasukkannya dilakukan di switchyard.

o Test Block
sebagai fasilitas untuk pengujian Meter (Besaran arus dan tegangan).

3.9.4 Unit Control


Unit control yang saya ambil adalah sesuai dengan sensor dan aktuator yang telah
dijelaskan di point 2. Oleh karena itu saya memilih over current relay sebagai unit controlnya.

Gambar 3.9.4 Blok diagram utama rele proteksi

Masing-masing elemen/bagian mempunyai fungsi sebagai berikut :


 Elemen pengindera

Elemen ini berfungsi untuk merasakan besaran-besaran listrik, seperti arus, tegangan,
frekuensi, dan sebagainya tergantung relay yang dipergunakan.
Pada bagian ini besaran yang masuk akan dirasakan keadaannya, apakah keadaan
yang diproteksi itu mendapatkan gangguan atau dalam keadaan normal, untuk selanjutnya
besaran tersebut dikirimkan ke elemen pembanding.

 Elemen pembanding.

Elemen ini berfungsi menerima besaran setelah terlebih dahulu besaran itu diterima oleh
elemen oleh elemen pengindera untuk membandingkan besaran listrik pada saat keadaan
normal dengan besaran arus kerja relay.

 Elemen pengukur/penentu.

Elemen ini berfungsi untuk mengadakan perubahan secara cepet pada besaran
ukurnya dan akan segera memberikan isyarat untuk membuka PMT atau memberikan
sinyal.
Gambar 3.9.4a Rangkaian rele proteksi sekunder

Transformator arus (CT) berfungsi sebagai alat pengindera yang merasakan apakah keadaan
yang diproteksi dalam keadaan normal atau mendapat gangguan.
Sebagai alat pembanding sekaligus alat pengukur adalah relay, yang bekerja setelah
mendapatkan besaran dari alat pengindera dan membandingkan dengan besar arus penyetelan
dari kerja relay.
Apabila besaran tersebut tidak setimbang atau melebihi besar arus penyetelannya, maka
kumparan relay akan bekerja menarik kontak dengan cepat atau dengan waktu tunda dan
memberikan perintah pada kumparan penjatuh (trip-coil) untuk bekerja melepas PMT. Sebagai
sumber energi/[enggerak adalah sumber arus searah atau batere.

Fungsi dan Peranan Rele Proteksi


Maksud dan tujuan pemasangan relay proteksi adalah untuk mengidentifikasi gangguan dan
memisahkan bagian jaringan yang terganggu dari bagian lain yang masih sehat serta sekaligus
mengamankan bagian yang masih sehat dari kerusakan atau kerugian yang lebih besar, dengan
cara :

1. Mendeteksi adanya gangguan atau keadaan abnormal lainnya yang dapat membahayakan
peralatan atau sistem.
2. Melepaskan (memisahkan) bagian sistem yang terganggu atau yang mengalami keadaan
abnormal lainnya secepat mungkin sehingga kerusakan instalasi yang terganggu atau
yang dilalui arus gangguan dapat dihindari atau dibatasi seminimum mungkin dan bagian
sistem lainnya tetap dapat beroperasi.
3. Memberikan pengamanan cadangan bagi instalasi lainnya.
4. Memberikan pelayanan keandalan dan mutu listrik yang tbaik kepada konsumen.
5. Mengamankan manusia terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh listrik.

Gambar 3.9.4b Schmatic Diagram proses akuisis data pada GI

3.9.5 Group of Control

Pada gambar 1.4 dapat dijelaskan bahwa data dari field merupakan sinyal. Ada sinyal
berupa data digital ada pula data analog. Contoh data analog berupa besaran-besaran yang
diukur oleh alat ukur listrik. Seperti daya nyata MW, tegangan, arus, frekuensi dll. Data analog
tersebut harus di konvert terlebih dahulu oleh alat yang bernama konverter.

Setelah melalui proses pengkonversian data, data lalu dikirim menuju Remote Terminal Unit
(RTU).

3.9.5a Hubungan antara RTU dengan Control Center

Dari gambar 3.10.5a dapat dijelaskan bahwa RTU dapat menerima data yang pada akhirnya
diteruskan menunuju control center. Berikut ini adalah fungsi RTU secara garis besar.
a. Mengumpulkan data Status / Alarm dan Pengukuran kemudian mengirimkannya ke
Control Center.

b. Meneruskan perintah Control Center.

3.9.5b Remote Terminal Unit

Dalam suatu GI, grup kontrol berupa master station. Master station ini membawahi beberapa
Remote Terminal Unit. Master station ini dapat melaukan beberapa perintah / command
diantaranya adalah telemetering, telecontrolling dan telesignalling.

Gambar 3.9.5c Komunikasi Control Centre dengan RTU

Proses pengiriman data dari RTU menuju control center pasti melalui media telekomunikasi.
Seperti halnya Fiber Optic, Power Line Carrier, Radio. Dalam sistem scada di PLN, media
telekomunikasi yang digunakan adalah Power Line Carrier dan fiber optic. Fiber optic memiliki
keunggulan dibandingkan dengan PLC yakni kecepatan transfer data.

Pada gambar diatas ada beberapa komponen pendukung diantaranya :

a) Modem
b) Komputer Front End
c) Komputer Slave
d) Komputer Master

3.9.6 Supervision

Supervisi dalam hal ini SCADA, merupakan suatu sistem yang bertugas untuk
mengendalikan dan memperoleh data secara real time. Setiap data yang diterima akan diolah
di master station. Dengandemikian, data langsung ditampilkan ke layar monitor dan Dispatcher
dapat membaca data–data tersebut.Setiap data yang berupabesaran analog di database
ditampilkandalambesarandesimal.

Gambar 3.9.6a Tampilan SCADA pada workstation


Gambar 3,9.6b Komunikasi Data dari RTU ke Master Station

Master Station merupakan bagian dari sistem SCADA yang terdiri dari kumpulan perangkat
keras dan lunak yang ada di control centeryang bertanggung jawab untuk melaksanakan
telekontrol (telemetering, telesignal, dan remote control) terhadap remote station.Perangkat
master station terdiri dari 4 bagian utama, yaitu main computer, front-end, off line computer,
dan modem. Seluruh perangkat master station ini terhubung dalam jaringan ethernet. Selain itu
juga terdapat peralatan tambahan guna mendukung fungsi-fungsi dari peralatan utama.
Peralatan tambahan tersebut meliputi uninterruptible power supply (UPS), power supply, dan
master clock.

3.9.7 MANUFACTURING EXECUTION


Manufacturing execution bertugas untuk mengatur atau memanage agar produktivitas
perusahaan menjadi efektif dan efesien setelah memiliki data yang lengkap dari lapangan
biasanya berupa manager dalam perusahaan. Sehingga pada hirarki otomasi bidang transmisi
yang berperan sebagai manufacturing execution adalah APB (Area Pengatur Beban).
Gambar 3.9.7 Strukutur Organisasi pada APB

3.9.8 ENTERPRISE
Enterprise yang dimaksud adalah kondisi perusahaan sebagai puncak dari hirarki otomasi
bidang transmisi. Sehingga enterprise yang dimaksud adalah P2B. Dimana setelah dilakukan
manajerial secara menyeluruh di tingkat manufacturing execution agar energy listrik dapat
ditransmisikan ke pelanggan tegangan menengah maupun tegangan rendah sesuai standart
yang ada, maka akan menghasilkan keuntungan bagi perusahan dan mendukung system yang
ada di P2B tersebut.

Gambar 3.9.8 Strukutur Organisasi pada P2B


3.10 Gardu Induk Kebonagung
(Terlampir)