Anda di halaman 1dari 4

Agroforestri adalah suatu sistem penggunaan lahan dimana dalam

penggunaannya mengkombinasikan tanaman pepohonan dan tanaman pertanian


untuk meningkatkan keuntungan, dari segi ekonomi maupun lingkungan. Dalam
agroforestri terdapat keanekaragaman tanaman di satu luasan lahan. Dengan begitu,
maka dapat mengurangi adanya resiko kegagalan serta dapat melindungi tanah dari
erosi. Selain itu, kebutuhan pupuk dan zat hara dapat dipenuhi dari adanya daur
ulang sisa tanaman (Ruijter dkk, 2004). Menurut Anhar (2005) membudidayakan
kakao secara agroforestri akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan budidaya
kakao secara monokultur.

Menurut Mahrizal dkk (2013), Budidaya tanaman kakao dalam agroforestri


awalnya dilakukan perbanyakan tanaman dan pembibitan. Perbanyakan tanaman
kakao dapat dilakukan baik dengan cara vegetatif maupun generatif. Dalam teknik
vegetatif, petani dapat memilih jenis klon yang terbaik untuk diperbanyak. Hal
tersebut merupakan keunggulan dari teknik vegetatif. Selain itu, perlu beberapa hal
yang harus diperhatikan dalam pembibitan tanaman kakao. Antara lain, lokasi,
media tanam, naungan, serta pemeliharan. Lokasi pembibitan baiknya dilakukan di
dekat sumber air, di lahan yang datar, tidak berbatu, serta tidak tergenang air
(Roshetko et al, 2012).

Langkah selanjutnya dalam budidaya tanaman kakao agroforetsri adalah


persiapan lahan beserta teknis penanamanya. Pengaturan jarak tanam serta
tanaman pelindung adalah proses awal dalam budidaya. Lahan untuk kakao baiknya
dipersiapkan kurang lebih selama dua tahun sebelum penanaman. Hal ini dilakukan
untuk mempersiapkan pohon sebagai tanaman pelindungnya terutama di lahan yang
baru dibuka. Pohon pelindung contohnya gamal, lamtoro, pinang. Serta pohon
pelindung sementara misalnya pisang. Pohon pelindung ditanam dengan jarak tanam
6x3m, yang kemudian dikurangi menjadi 6x6m atau 9x9m seiring semakin besarnya
tanaman kakao (Pusat Penelitian Kakao dan Kopi Indonesia, n.da, 2013).

Sistem budidaya tanaman kakao dalam agroforestri tentu memiliki kelebihan


dan kekurangan jika dibandingkan dengan budidaya kakao secara monokultur.
Menurut Mahrizal et al (2013) kelebihan sistem monokultur adalah petani dapat
melakukan spesialisasi terhadap tanaman yang ditanamnya sehingga dapat
menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi. Sedangkan kelebihan dari sistem
agroforestri adalah petani akan memiliki keahlian yang lebih karena akan mengurus
lebih dari satu jenis tanaman. Sistem agroforestri akan dapat mengurangi banyak
rumput, ilalang, serta tanaman pengganggu. Selain itu pula, sistem agroforestri akan
memberikan keuntungan lebih karena petani tidak hanya akan mendapat satu jenis
panen saja, melainkan dari tanaman pelindung lainya juga. Hanya saja, pemilihan
tanamannya perlu diperhatikan dan dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan
rumah tangga serta kebutuhan lokal.

Pemeliharaan dan peremajaan tanaman kakao perlu dilakukan saat budidaya.


Pemeliharaan tanaman kakao dilakukan saat kakao berusia 1-3 tahun. Dilakukan
dengan cara pembuangan tunas, pengendalian gulma, pemupukan, penyulaman,
serta pemangkasan. Pemangkasan dilakukan untuk membentuk kerangka tanaman
yang kuat dan seimbang serta meningkatkan produksi. Pengendalian gulma yaitu
membersihkan minimal 50cm dari pangkal batang utama gulma. Gulma dapat
dicegah pertumbuhannya dengan cara menanam tanaman palawija pada lahan
seperti kacang, jagung, sayur, dll. Pemupukan tanaman kakao paling baik dilakukan
dengan cara membuat parit sedalam kurang lebih 10cm yang berjarak 1-1,5m dari
batang kakao dengan jalur melingkar (Mahrizal dkk, 2013).

Tanaman kakao membutuhkan pupuk organik maupun pupuk buatan. Semua


diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kesuburannya.
Berikut adalah dosis pupuk tanaman kakao per tahun menurut Pusat Penelitian
Kakao dan Kopi Indonesia n,da. (2013)

Umur Urea SP 36 KCL Kiserite

0-1 tahun 25 gram 25 gram 20 gram 10 gram

1-2 tahun 45 gram 45 gram 35 gram 40 gram

2-3 tahun 90 gram 90 gram 70 gram 60 gram

3-4 tahun 180 gram 180 gram 125 gram 75 gram

>4 tahun 220 gram 180 gram 170 gram 120 gram
Langkah selanjurnya adalah pengendalian hama dan penyakit tanaman kakao.
Kakao termasuk dalam tanaman yang rentan terhadap hama dan penyakit. Kepik pen
ghisap buah kakao menyerang dengan cara menusukkan mulutnya kedalam buah
dan menghisap air buah hingga buah kering dan mati. Apabila hal tersebut terjadi
pada ranting atau pucuk pohon, maka pucuk akan layu dan ranting akan mengering.
Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan memangkas pucuk secara teratur
sehingga tidak menular ke keseluruhan. Banyak penyakit yang dialami kakao seperti
busuk buah, serta VSD atau bercak pada daun (Mahrizal dkk, 2013).

Langkah terakhir adalah penanganan panen serta pasca panen tanaman kakao.
Pemanenan buah kakao dilakukan ketika buah telah masak. Ditandai dengan
perubahan kulit kakao yang semula berwarna hijau atau merah menjadi kuning atau
merah muda. Panen dilakukan dengan periode antara 7-14 hari tergantung pada
jumlah buah yang masak. Proses pemanenan dilakukan dengan cara memotong
tangkai buah menggunakan gunting atau pisau yang tajam. Selanjutnya adalah
proses pasca panen dilakukan secara fermentasi. Fermentasi dilakukan untuk
membentuk cita rasa dan aroma kakao serta mengurangi rasa pahitnya. Langkah
awal fermentasi adalah meletakkan biji kakao yang telah dibungkus daun pisang
kedalam peti kayu yang belubang atau karung. Setelah tiga hari fermentasi, biji
kakao selanjutnya diaduk dan sebaiknya juga dilakukan pembalikan. Setelah
fermentasi, dilakukan penjemuran biji kakao dibawah sinar matahari langsung
selama 4-8 hari. Pastikan keadaan kakao baik dan tidak rusak sehingga biji kakao siap
dijual (Mahrizal dkk, 2013).
Daftar Pustaka

Anhar, Ashabul. 2005. The Role of Biological Nitrogen Fixation in the Cacao
Agroforestry System in Central Sulawesi Indonesia. Gottingen: Cuvillier
Verlag Gottingen.

Mahrizal., M, Syahrir., Suharman., P, Purnomosidhi., Roshetko. 2013. Panduan


Budidaya Tanaman Kakao untuk Petani Skala Kecil. Bogor: Indonesia World
Agroforestry Centre (ICRAF).

Pusat Penelitian Kakao dan Kopi Indonesia n,da. 2013. Teknik Budidaya Kakao.
(online: http://iccri.net/) (diakses 9 September 2018).

Ruijter, J., Agus, F. 2004. Sistem Agroforestri. (online:


http://www.worldagroforestry.org) (diakses 9 September 2018).

Roshetko JM., Suyanto., S. Dewi., Sunderland., Purwanto., Perdana., Moeliono.,


Umar., Millang., Purnomosidhi., Mahrizal., Martini., Paramita., Yuliani.,
Finlayson., Dahlia. 2013. Agroforestry and Forestry in Sulawersi. Bogor:
World Agroforestry Center (ICRAF).