Anda di halaman 1dari 60

Presentasi Kasus

SEORANG PEREMPUAN 52 TAHUN DENGAN SOP E.C SUSP


ASTROCYTOMA ANAPLASTIK DD BRAIN METASTASE

Periode 17 April 2017-15 Mei 2017


Anggota Kelompok:
Shinta Retno wulandari G99152051
Rafi Amanda G99152048
Farkhan Kuncoro G99152067
Dinda Carissa G99152064
Pratitha Nityasewaka G99152061
Astrid Astari Aulia G99152053
Naura Dhia Fadyla G99162023
Novi Arizha G99162022
Oktania Imas G99162021

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2017
BAB I
STATUS PASIEN

A. Identitas Pasien
Nama : Ny. M
Usia : 52 tahun
Jenis kelamin :P
Alamat : Sragen, Jawa Tengah
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Tanggal Masuk : 22 April 2017
Tanggal Periksa : 22 April 2017
No RM : 013769xx
B. Anamnesis
1. Keluhan Utama
Tidak bisa bicara
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan tidak bisa bicara sejak 10 jam
SMRS. Keluhan dirasakan mendadak, disertai kelemahan anggota gerak
kanan dan kiri. Nyeri kepala (-), muntah (+) 2 kali, kejang (-). Saat pasien
mengalami gangguan bicara, tidak ada anggota keluarga yang mengetahui
kejadian.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat trauma : disangkal
Riwayat tekanan darah tinggi: disangkal
Rwayat penyakit jantung : disangkal
Riwayat sakit gula : disangkal
Riwayat mondok : disangkal
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit dengan keluhan serupa : disangkal
Riwayat sakit gula : disangkal
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat sakit jantung : disangkal
5. Riwayat Gizi
Pasien makan sehari 3 kali dengan porsi sedang. Pasien makan dengan
nasi, sayur dan lauk-pauk bervariasi.
6. Riwayat Kebiasaan
Riwayat minum alkohol : disangkal
Riwayat pengobatan : disangkal
Riwayat olahraga : jarang berolahraga
7. Riwayat Sosial Ekonomi
8. Pasien di rumah tinggal bersama suami dan anaknya. Pasien berobat di
RSDM dengan menggunakan fasilitas BPJS kelas III.
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Generalis
Keadaan umum pasien tampak sakit sedang dengan status gizi kesan baik
(IMT=25)
2. Tanda vital
Tekanandarah : 95/70 mmHg
Nadi : 100 x/menit
Respirasi : 20 x/menit
Suhu : 36.2 C
VAS : sde
3. Anamnesis Sistemik
a. Sistem saraf pusat: kejang (-), nyeri kepala (+), pusing (+)
b. Sistem Indera:
Mata : berkunang-kunang (-), pandangan dobel (-), penglihatan kabur
(+)
Hidung : mimisan (-), pilek (-)
Telinga : pendengaran berkurang (-/-), berdenging (-/-), keluar cairan
(-), darah (-), nyeri (-)
c. Mulut : sariawan (-), gusi berdarah (-), mulut kering (-), gigi tanggal (-
), gigi goyang (-), mulut mencong (-)
d. Tenggorokan : nyeri saat menelan (-), suara serak (-), gatal (-)
e. Sistem respirasi : sesak nafas (-), batuk (-), batuk darah (-), mengi (-)
f. Sistem kardiovaskuler: sesak nafas saat beraktivitas (-), nyeri dada (-),
berdebar-debar (-)
g. Sistem gastrointestinal: mual (-), muntah (-), nyeri ulu hati (-), susah
BAB (-), perut sebah (-),kembung (-), nafsu makan berkurang (-)
h. Sistem muskuloskeletal: Nyeri otot (-), nyeri sendi (-), nyeri pinggang
(-), kaku leher (-), tremor (-), kesemutan (-)
i. Sistem genitourinaria: Mengompol (-), tidak bisa kencing (-)
j. Extremitas superior: luka (-), tremor (-), ujung jari terasa dingin (-),
kesemutan (-), kelemahan (-)
k. Extremitas inferior: luka (-), tremor (-), ujung jari terasa dingin (-),
kesemutan (-), kelemahan (-)
l. Sistem neurobehaviour : kejang (-), gelisah (-), mengigau (-), emosi
tidak stabil (-)
m. Sistem integumentum: kulit coklat sawo, pucat (-), kering (-)
4. Status Neurologis
a. GCS E4VxM5
b. Fungsi luhur : afasia global
c. Meningeal sign: Kaku kuduk (-), brudzinsky I - IV (-)
d. Nn cranialis :
N.I : tidak dilakukan
N. II, III : pupil isokhor (3mm/3mm), reflex cahaya (+/+)
N.III, IV, VI : doll’s eye intak
N. V : reflek kornea (+)
N.VII : sde
N. VIII : dbn
N. IX , X : dbn
N.XI : dbn
N.XII : sde
e. Fungsi Motorik
Kekuatan Tonus Refleks Fisiologis Refleks Patologis
555 555 n ↑ +3/+2 +2/+2 - -
555 555 n ↑ +2/+2 +2/+2 - -
Kesan : bihemiparese
f. Fungsi sensorik : sde
g. Fungsi koordinasi : sde
h. Fungsi otonom : BAK dan BAB dbn
i. Fungsi columna vertebralis : dbn
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Foto MSCT Brain Tanpa Kontras
Tampak lesi hipodens disertai kalsifikasi dan sebagian lesi densitas
vaskuler tidak tegas di corpus callosum
2. Foto MRI Brain Kontras
a. Lesi intra axial supratentorial pada white matter lobus frontalis dextra,
solid kistik, tepi ireguler, batas tegas ukuran 2,8 x 1,8 x 3,5 cm dengan
minimal perifocal oedem disertai perdarahan infra lesi minimal, yang
pada T1Wl hipointens, T2WI/T2FLAIR hiperintense, post kontras
tampak in-homogen kontras enhancement, yang pada MRS sentral lesi
(depresi NAA, peningkatan cholin minimal), tepi lesi (peningkatan
laktat) cenderung merupakan Anaplastik Astrocytoma
b. Hipertropi konka nasalis inferior bilateral
3. Foto Thorax AP
a. Pneumonia
b. Cardiomegali
E. DIAGNOSIS
K: afasia global, bihemiparese
T: subkorteks
E: suspek stroke infark emboli dd trombotik
F. Plan
1. O2 Nasal kanul 3 lpm
2. Inf asering 20 tpm
3. Inj citicholine 250 mg/12 jam
4. Inj mecobalamin 500 mg/12 jam
5. Inj ranitidin 50 mg/ 12 jam
6. Inj metocloporamide 10 mg/ 12 jam (k/p)
G. PROGNOSIS
Ad vitam : bonam (untuk astrocytoma low grade)
Ad sanam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
BAB II
FOLLOW UP

Tanggal Follow Up
23/04/2017 S : Tidak bisa berbicara
DPH 1
O:
Tekanan darah : 110/73 mmHg
Denyut nadi : 114x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 37 oC
VAS :2
Kesadaran : GCS E4VxM5
Fungsi luhur : kesan afasia global
Meningeal sign : (-)
Nn. Craniales
N.II, III : pupil isokor (3mm/3mm), refleks
cahaya (+/+)
N.III, IV, VI : dolls eye intak
N VII , XII : sde
Fungsi motorik :
Kekuatan Tonus R. Fisiologis R. Patologis
N N +2/+2 +2/+2 - -
555 555
555 555 N N +2/+2 +2/+2 - -

Kesan Lateralisasi : (-)


Fungsi sensorik : sulit dievaluasi
Fungsi koordinasi : sulit dievaluasi

A:
Klinis : Afasia global
Topis : Subcortex
Etiologi : SOP e.c susp astrocytoma high grade dd oligo
dendroglioma

P:
1. Bed rest tidak total
2. O2 Nasal kanul 3 lpm
3. Inf asering 20 tpm
4. Inj dexametasone 5 mg/6 jam
5. Inj mecobalamin 500 mg/12 jam
6. Inj ranitidin 50 mg/ 12 jam
7. Inj citicolin 250 mg/12 jam
8. Inj Ceftriaxone 2gr/24 jam
9. Curcuma tab 3x1

Plan :
Lacak hasil CT Scan Kepala
Cek Lab
Konsul Psikiatri

24/04/2017 S : Tidak bisa berbicara


DPH 2
O:
Tekanan darah : 110/73 mmHg
Denyut nadi : 96x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 37 oC
Kesadaran : GCS E4VxM6
Fungsi luhur : kesan afasia global
Meningeal sign : (-)
Nn. Craniales
N.II, III : pupil isokor (3mm/3mm), refleks
cahaya (+/+)
N.III, IV, VI : dolls eye intak
N VII , XII : sde
Fungsi motorik :
Kekuatan Tonus R. Fisiologis R. Patologis
N N +2/+2 +2/+2 - -
555 555
555 555 N N +2/+2 +2/+2 - -

Kesan Lateralisasi : (-)


Fungsi sensorik : sulit dievaluasi
Fungsi koordinasi : sulit dievaluasi

A:
Klinis : Afasia global
Topis : Subcortex
Etiologi : SOP e.c susp astrocytoma high grade dd oligo
dendroglioma

P:
1. Bed rest tidak total
2. O2 Nasal kanul 3 lpm
3. Inf asering 20 tpm
4. Inj dexametasone 5 mg/6 jam
5. Inj mecobalamin 500 mg/12 jam
6. Inj ranitidin 50 mg/ 12 jam
7. Inj citicolin 250 mg/12 jam
8. Inj Ceftriaxone 2gr/24 jam
9. Curcuma tab 3x1

Plan :
Lacak hasil CT Scan Kepala
Cek Lab
Konsul Psikiatri

25/04/2017 S : Sudah mulai bisa bicara


DPH 3
O:
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Denyut nadi : 76x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 36.5 oC
Kesadaran : GCS E4V4M6
Fungsi luhur : kesan gangguan atensi, gangguan
memori
Meningeal sign : (-)
Nn. Craniales
N.II, III : pupil isokor (3mm/3mm), refleks
cahaya (+/+)
N.III, IV, VI : dolls eye intak, gerak bola mata
kesan dalam batas normal
N VII , XII : kesan dalam batas normal
Fungsi motorik :
Kekuatan Tonus R. Fisiologis R. Patologis
N N +2/+2 +2/+2 - -
555 555
555 555 N N +2/+2 +2/+2 - -

Kesan Lateralisasi : (S)


Fungsi sensorik : sulit dievaluasi
Fungsi koordinasi : sulit dievaluasi

A:
Klinis : Gangguan fungsi luhur, Lat. (S)
Topis : Subcortex
Etiologi : SOP e.c susp astrocytoma high grade dd oligo
dendroglioma

P:
1. Bed rest tidak total
2. O2 Nasal kanul 3 lpm
3. Inf asering 20 tpm
4. Inj dexametasone 5 mg/6 jam
5. Inj mecobalamin 500 mg/12 jam
6. Inj ranitidin 50 mg/ 12 jam
7. Inj citicolin 250 mg/12 jam
8. Inj Ceftriaxone 2gr/24 jam
9. Curcuma tab 3x1

Plan :
Cek Lab
MRI Brain kontras

26/04/2017 S : (-)
DPH 4
O:
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Denyut nadi : 76x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 36.5 oC
Kesadaran : GCS E4V5M6
Fungsi luhur : kesan gangguan atensi, gangguan
memori
Meningeal sign : (-)
Nn. Craniales
N.II, III : pupil isokor (3mm/3mm), refleks
cahaya (+/+)
N.III, IV, VI : dolls eye intak, gerak bola mata
kesan dalam batas normal
N VII , XII : kesan dalam batas normal
Fungsi motorik :
Kekuatan Tonus R. Fisiologis R. Patologis
N N +2/+2 +2/+2 - -
555 555
555 555 N N +2/+2 +2/+2 - -

Kesan Lateralisasi : (S)


Fungsi sensorik : sulit dievaluasi
Fungsi koordinasi : sulit dievaluasi

A:
Klinis : Gangguan fungsi luhur, Lat. (S)
Topis : Subcortex
Etiologi : SOP e.c susp astrocytoma high grade dd oligo
dendroglioma

P:
1. Bed rest tidak total
2. O2 Nasal kanul 3 lpm
3. Inf asering 20 tpm
4. Inj dexametasone 5 mg/6 jam
5. Inj mecobalamin 500 mg/12 jam
6. Inj ranitidin 50 mg/ 12 jam
7. Inj citicolin 250 mg/12 jam
8. Inj Ceftriaxone 2gr/24 jam
9. Curcuma tab 3x1

Plan :
Lacak hasil MRI Brain kontras

27/04/2017 S : Pasien terkadang sulit diajak komunikasi


DPH 5
O:
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Denyut nadi : 76x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 36.5 oC
Kesadaran : GCS E4V4M6
Fungsi luhur : kesan gangguan atensi
Meningeal sign : (-)
Nn. Craniales
N.II, III : pupil isokor (3mm/3mm), refleks
cahaya (+/+)
N.III, IV, VI : dolls eye intak, gerak bola mata
kesan dalam batas normal
N VII , XII : kesan dalam batas normal
Fungsi motorik :
Kekuatan Tonus R. Fisiologis R. Patologis
N N +2/+2 +2/+2 - -
555 555
555 555 N N +2/+2 +2/+2 - -

Kesan Lateralisasi : (-)


Fungsi sensorik : sulit dievaluasi
Fungsi koordinasi : sulit dievaluasi

A:
Klinis : Gangguan fungsi luhur
Topis : Subcortex
Etiologi : SOP e.c susp astrocytoma high grade dd oligo
dendroglioma

P:
1. Bed rest tidak total
2. O2 Nasal kanul 3 lpm
3. Inf asering 20 tpm
4. Inj dexametasone 5 mg/6 jam
5. Inj mecobalamin 500 mg/12 jam
6. Inj ranitidin 50 mg/ 12 jam
7. Inj citicolin 250 mg/12 jam
8. Inj Ceftriaxone 2gr/24 jam
9. Curcuma tab 3x1
10. Atorvastatin 1x40 mg
11. Lactulac syr 3x cI

Plan :
MRI Brain kontras

28/04/2017 S : Pasien terkadang sulit diajak komunikasi


DPH 6
O:
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Denyut nadi : 76x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 36.5 oC
Kesadaran : GCS E4V4M6
Fungsi luhur : kesan gangguan atensi
Meningeal sign : (-)
Nn. Craniales
N.II, III : pupil isokor (3mm/3mm), refleks
cahaya (+/+)
N.III, IV, VI : dolls eye intak, gerak bola mata
kesan dalam batas normal
N VII , XII : kesan dalam batas normal
Fungsi motorik :
Kekuatan Tonus R. Fisiologis R. Patologis
N N +2/+2 +2/+2 - -
555 555
555 555 N N +2/+2 +2/+2 - -

Kesan Lateralisasi : (-)


Fungsi sensorik : sulit dievaluasi
Fungsi koordinasi : sulit dievaluasi

A:
Klinis : Gangguan fungsi luhur
Topis : Subcortex
Etiologi : SOP e.c susp astrocytoma high grade dd oligo
dendroglioma
P:
1. Bed rest tidak total
2. O2 Nasal kanul 3 lpm
3. Inf asering 20 tpm
4. Inj dexametasone 5 mg/6 jam
5. Inj mecobalamin 500 mg/12 jam
6. Inj ranitidin 50 mg/ 12 jam
7. Inj citicolin 250 mg/12 jam
8. Inj Ceftriaxone 2gr/24 jam
9. Curcuma tab 3x1
10. Atorvastatin 1x40 mg
11. Lactulac syr 3x cI

Plan :
Cek SGOT& SGPT
MRI Brain kontras

29/04/2017 S : Pasien terkadang sulit diajak komunikasi


DPH 7
O:
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Denyut nadi : 76x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 36.5 oC
Kesadaran : GCS E4V4M6
Fungsi luhur : kesan gangguan atensi
Meningeal sign : (-)
Nn. Craniales
N.II, III : pupil isokor (3mm/3mm), refleks
cahaya (+/+)
N.III, IV, VI : dolls eye intak, gerak bola mata
kesan dalam batas normal
N VII , XII : kesan dalam batas normal
Fungsi motorik :
Kekuatan Tonus R. Fisiologis R. Patologis
N N +2/+2 +2/+2 - -
555 555
555 555 N N +2/+2 +2/+2 - -

Kesan Lateralisasi : (-)


Fungsi sensorik : sulit dievaluasi
Fungsi koordinasi : sulit dievaluasi

A:
Klinis : Gangguan fungsi luhur
Topis : Subcortex
Etiologi : SOP e.c susp astrocytoma high grade dd oligo
dendroglioma

P:
1. Bed rest tidak total
2. O2 Nasal kanul 3 lpm
3. Inf asering 20 tpm
4. Inj dexametasone 5 mg/6 jam
5. Inj mecobalamin 500 mg/12 jam
6. Inj ranitidin 50 mg/ 12 jam
7. Inj citicolin 250 mg/12 jam
8. Inj Ceftriaxone 2gr/24 jam
9. Curcuma tab 3x1
10. Atorvastatin 1x40 mg
11. Lactulac syr 3x cI

Plan :
Cek SGOT& SGPT
MRI Brain kontras

03004/2017 S : Pasien terkadang sulit diajak komunikasi


DPH 8
O:
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Denyut nadi : 76x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 36.5 oC
Kesadaran : GCS E4V4M6
Fungsi luhur : kesan gangguan atensi
Meningeal sign : (-)
Nn. Craniales
N.II, III : pupil isokor (3mm/3mm), refleks
cahaya (+/+)
N.III, IV, VI : dolls eye intak, gerak bola mata
kesan dalam batas normal
N VII , XII : kesan dalam batas normal
Fungsi motorik :
Kekuatan Tonus R. Fisiologis R. Patologis
N N +2/+2 +2/+2 - -
555 555
555 555 N N +2/+2 +2/+2 - -

Kesan Lateralisasi : (-)


Fungsi sensorik : sulit dievaluasi
Fungsi koordinasi : sulit dievaluasi
A:
Klinis : Gangguan fungsi luhur
Topis : Subcortex
Etiologi : SOP e.c susp astrocytoma high grade dd oligo
dendroglioma

P:
1. Bed rest tidak total
2. O2 Nasal kanul 3 lpm
3. Inf asering 20 tpm
4. Inj dexametasone 5 mg/6 jam
5. Inj mecobalamin 500 mg/12 jam
6. Inj ranitidin 50 mg/ 12 jam
7. Inj citicolin 250 mg/12 jam
8. Inj Ceftriaxone 2gr/24 jam
9. Curcuma tab 3x1
10. Atorvastatin 1x40 mg
11. Lactulac syr 3x cI

Plan :
Cek SGOT& SGPT
MRI Brain kontras

1/05/2017 S : Pasien terkadang sulit diajak komunikasi


DPH 9
O:
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Denyut nadi : 76x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 36.5 oC
Kesadaran : GCS E4V4M6
Fungsi luhur : kesan gangguan atensi
Meningeal sign : (-)
Nn. Craniales
N.II, III : pupil isokor (3mm/3mm), refleks
cahaya (+/+)
N.III, IV, VI : dolls eye intak, gerak bola mata
kesan dalam batas normal
N VII , XII : kesan dalam batas normal
Fungsi motorik :
Kekuatan Tonus R. Fisiologis R. Patologis
N N +2/+2 +2/+2 - -
555 555
555 555 N N +2/+2 +2/+2 - -

Kesan Lateralisasi : (-)


Fungsi sensorik : sulit dievaluasi
Fungsi koordinasi : sulit dievaluasi

A:
Klinis : Gangguan fungsi luhur
Topis : Subcortex
Etiologi : SOP e.c susp astrocytoma high grade dd oligo
dendroglioma

P:
1. Bed rest tidak total
2. O2 Nasal kanul 3 lpm
3. Inf asering 20 tpm
4. Inj dexametasone 5 mg/6 jam
5. Inj mecobalamin 500 mg/12 jam
6. Inj ranitidin 50 mg/ 12 jam
7. Inj citicolin 250 mg/12 jam
8. Inj Ceftriaxone 2gr/24 jam
9. Curcuma tab 3x1
10. Atorvastatin 1x40 mg
11. Lactulac syr 3x cI

Plan :
MRI Brain kontras

2/05/2017 S : (-)
DPH 10
O:
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Denyut nadi : 76x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 36.5 oC
Kesadaran : GCS E4V4M6
Fungsi luhur : kesan gangguan atensi
Meningeal sign : (-)
Nn. Craniales
N.II, III : pupil isokor (3mm/3mm), refleks
cahaya (+/+)
N.III, IV, VI : dolls eye intak, gerak bola mata
kesan dalam batas normal
N VII , XII : kesan dalam batas normal
Fungsi motorik :
Kekuatan Tonus R. Fisiologis R. Patologis
N N +2/+2 +2/+2 - -
555 555
555 555 N N +2/+2 +2/+2 - -
Kesan Lateralisasi : (-)
Fungsi sensorik : sulit dievaluasi
Fungsi koordinasi : sulit dievaluasi

A:
Klinis : Gangguan fungsi luhur
Topis : Subcortex
Etiologi : SOP e.c susp astrocytoma anaplastik dd brain
metastase
P:
1. Bed rest tidak total
2. O2 Nasal kanul 3 lpm
3. Inf asering 20 tpm
4. Inj dexametasone 5 mg/6 jam
5. Inj mecobalamin 500 mg/12 jam
6. Inj ranitidin 50 mg/ 12 jam
7. Inj citicolin 250 mg/12 jam
8. Inj Ceftriaxone 2gr/24 jam
9. Curcuma tab 3x1
10. Atorvastatin 1x40 mg
11. Lactulac syr 3x cI

Plan :
Lacak hasil MRI Brain kontras
USG thyroid dan abdomen
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi dan Fisiologi


Otak merupakan bagian dari susunan saraf pusat yang terletak di cavum
cranii, otak dibentuk oleh cavum neuralis yang membentuk 3 gelembung
embrionik primer, yaitu prosenchephalon, mesensephalon, rhombhencephalon,
untuk selanjutnya berkembang membentuk 5 gelombang embrionik sekunder,
yaitu telencephalon, dienchephalon, mesencephalon, metenchepalon, dan
myelencephalon. Telencephalon membentuk Hemispaherum cerebri, corteks
cerebri. Diencephalon membentuk epithalamus, thalamus, hipothalamus,
subthalamus, dan methatalamus. Didalam diencephalon terdapat rongga;
ventriculus tertius yang berhubungan dengan ventriculus lateralis melalui
foramen interventriculare (Monroi). Mesencephalon membentuk corpora
quadgemina dan crura cerebri, dalam mesencephalon terdapat kanal sempit
aquaductus sylvii yang menghubungkan ventriculus tertius dengan ventriculus
quartus. Metencephalon membentuk cerebellum dan pons, sedangkan
Myelencephalon membentuk medulla oblongata.3

Gambar 1. Anatomi Otak Manusia1

Berat otak saat lahir 350 gram, dan berkembang hingga saat dewasa
seberat 1400-1500 gram.. Otak di bungkus oleh meninges yang terdiri dari 3 lapis.
Di dalam otak terdapat rongga : systerna ventricularis yang berisi liquors
erebrospinalis yang lanjut ke rongga antar meninges, cavum subarachnoidea.
Fungsi utama liquorserebrospinalis yaitu melindungi dan mendukung otak dari
benturan.3
Hemisphaerum cerebri jumlahnya sepasang, dipisah secara tidak sempurna
oleh fissura longitudinalis superior dan falx serebri, belahan kiri dan kanan
dihubungkan oleh corpus callosum. Hemisphaerum cerebri dibentuk oleh cortex
cerebri, substantia alba, ganglia basalis, dan serabut saraf penghubung yang
dibentuk oleh axon dan dendrit setiap sel saraf. Cortex cerebri terdiri dari selapis
tipis substantia grissea yang melapisis permukaan hemisphaerum cerebri.
Permukaannya memiliki banyak sulci dan gyri, sehingga memperbanyak jumlah
selnya.diperkirakan terdapat 10 milyar sel saraf yang ada pada kortek cerebri.3
Hemispaerum cerebri memiliki 6 lobus; lobus frontalis, lobus parietalis,
lobus temporalis, lobus occipitalis, lobus insularis dan lobus limbik. Lobus
frontalis, mulai dari sulcus sentralis sampai kapolus centralis, terdiri dari gyrus
precentralis, girus frontalis superior, girus frontalis media, girus frontalis
inferior,girus recrus, dirus orbitalis, dan lobulus paracentralis superior. Lobus
parietalis, mulai dari sulcus centralis menuju lobus occipitalis dan cranialis dari
lobus temporalis, terdiri dari girus post centralis, lobulus parietalis superior,dan
lobulus parietalis inferior-inferior-posterior. Lobus temporalis, terletak antara
polus temporalis dan polus occipitalis dibawah sulcus lateralis. Lobus occipitalis
terletak antara sulcus parieto occipital dengan sulcus preoccipitalis, memiliki dua
bangunan, cuneus dan girus lingualis. Lobus insularis, tertanam dalam sulcus
lateralis. Lobus limbik, berbentuk huruf C dab terletak pada dataran medial
hemisfer cerebri.
Lobus oksipitalis yang terletak di sebelah posterior (di belakang kepala)
bertanggungjawab untuk pengolahan awal masukan penglihatan. Sensasi suara
mula-mula diterima oleh lobus temporalis, yang terletak di sebelah lateral (di sisi
kepala).3
Lobus parietalis terutama bertanggung jawab untuk menerima dan
mengolah masukan sensorik seperti sentuhan, tekanan, panas, dingin, dan nyeri
dari permukaan tubuh. Sensasi-sensasi ini secara kolektif dikenal sebagai sensasi
somestetik (perasaan tubuh). Lobus parietal juga merasakan kesadaran megenai
posisi tubuh, suatu fenomena yang disebut propriosepsi.3
Kesadaran sederhana mengenai sentuhan, tekanan, atau suhu dideteksi
oleh thalamus, tingkat otak yang lebih rendah. Thalamus membuat anda sadar
bahwa sesuatu yang panas versus sesuatu yang dingin sedang menyentuh badan
anda, tetapi tidak memberitahu dimana atau seberapa besar intentitasnya.3
Lobus frontalis bertanggungjawab terhadap tiga fungsi utama: (1) aktivitas
motorik volunteer (2) kemampuan berbicara (3) elaborasi pikiran. Daerah di lobus
frontalis belakang tepat di depan sulkus sentralis akhir di neuron-neuron motorik
eferen yang mencetuskan kontraksi otot rangka.3
Area Broca yang betanggung jawab untuk kemampuan berbicara, terletak
di lobus frontalis kiri dan berkaitan erat dengan daerah motorik korteks yang
mengontrol otot-otot penting untuk artikulasi.3
Daerah Wernicke yang terletak di korteks kiri pada pertemuan lobus-lobus
parietalis, temporalis, dan oksipitalis berhubungan dengan pemahaman bahasa.
Daerah ini berperan penting dalam pemahaman bahasa baik tertulis maupun lisan.
Selain itu, daerah ini bertanggung jawab untuk memformulasikan pola
pembicaraan koheren yang disalurkan melalui seberkas saraf ke daerah Broca,
kemudian mengontrol artikulasi pembicaraan.
Daerah motorik, sensorik, dan bahasa menyusun hanya sekitar separuh
dari luas korteks serebrum keseluruhan. Daerah sisanya, yang disebut daerah
asosiasi berperan dalam fungsi yang lebih tinggi (fungsi luhur).3
Korteks asosiasi prafrontalis adalah bagian depan dari lobus frontalis tepat
di anterior korteks motorik. Peran sebagai: (1) perencanaan aktivitas volunteer (2)
pertimbangan konsekuensi-konsekuensi tindakan mendatang dan penentuan
pilihan (3) sifat-sifat kepribadian.3
Korteks asosiasi parietalis-temporalis-oksipitalis dijumpai pada peetemuan
ketiga lobus. Di lokasi ini dikumpulkan dan diintegrasikan sensasi-sensasi
somatic, auditorik, dan visual yang berasal dari ketiga lobus untuk pengolahan
persepsi yang kompleks.3
Korteks asosiasi limbic di bawah dan dalam antara kedua lobus temporal.
Daerah ini berkaitan dengan motivasi dan emosi. 3
Pembentuk susunan saraf pusat adalah neuron yang jumlahnya mencapai 100
milyar, didukung oleh sel glia yang jumlahnya 10 kali lipat dari neuron. Setiap
neuron memiliki tonjolan panjang , akson yang berfungsi membawa informasi
keluar dari neuron (serabut eferen). Selain itu terdapat tonjolan pendek, dendrit
yang berfungsi membawa informasi menuju neuron (serabut aferen).
Sel glia, atau neoroglia (hanya berada pada susunan saraf pusat) berfungsi
untuk menyangga dan dukungan metabolik terhadap neuron. Ada 2 macam sel
glia; makroglia dan microglia. Mikroglia berfungsi sebagai sel fagosit yang sangat
besar jika terjadi infeksi atau kerusakan pada susunan saraf, sedangkan makroglia
berfungsi sebagai penyangga dan fungsi nutritif. Mikroglia ada 4 macam, yaitu
Oligodendroglia, sel schwann, sel astrosit, dan sel ependyma. Bersama-sama
mereka dipandang sebagai suatu sistem yang dinamik bermakna fungsional dalam
pertukaran metabolik antara neuron sistem saraf pusat lingkungannya. Terdapat
tiga jenis sel glia, mikroglia, oligodendroglia, dan astrosit. Mikroglia secara
embriologis berasal dari lapisan mesodermal sehingga pada umumnya tidak
diklasifikasikan sebagi sel glia sejati. Mikroglia memasuki SSP melalui sistem
pembuluh darah dan berfungsi sebagai fagosit, membersihkan debris dan melawan
infeksi.
Astrosit
Astrosit merupakan neuroglia terbesar, berbentuk bintang , berinti besar,
bulat atau lonjong, sitoplasmanya mengandung banyak ribosom dan nukleoli tidak
jelas. Astrosit protoplasma terutama terdapat dalam substantia grissea otak dan
medulla spinalis, sedangkan astrosit fibrosa terutama dalam substantia alba.
Karena banyaknya prosesproses sitoplasma yang luar, astrosit penting sebagai
struktur penyokong dan struktural dalam SSP. Fungsi astrosit masih diteliti;bukti-
bukti memperlihatkan bahwa sel-sel ini mungkin berperan dalam menghantarkan
impuls dan transmisi sinaptik dari neuron dan bertindak sebagai saluran
penghubung antara pembuluh darah dan neuron3
Oligodendrosit
Disebut juga oligodendroglia, lebih kecil dari astrosit dengan cabang-
cabang yang lebih pendek dan jumlahnya lebih sedikit. Intinya kecil, lonjong,
sitoplasma lebih padat dengan ribosom bebas dan terikat dalam jumlah besar.
Oligodendrosit terutama terdapat dalam 2 lokasi, di dalam substansia grissea dan
di antara berkas-berkas akson di dalam substantia alba. Lainnya terletak dalam
posisi perivascular sekitar pembuluh darah. Oligodendroglia dan astrosit
merupakan neuroglia sejati dan berasal dari lapisan embrional ektodermal (sama
seperti neuron). Oligodendroglia berperan dalam pembentukan myelin.3

Gambar 2. Sel Glia Otak3

Sel Ependim
Sel ependim berasal dari lapisan dalam tabung neuralis dan
mempertahankan susunan epitel mereka . sel ependim melapisi rongga otak dan
medulla spinalis dan terendam dalam cairan serebrospinal uang mengisi rongga-
rongga ini. Meskipin ujung apikal sel ependim melapisi rongga tersebut, namun
dasarnya tidak seragam dan terdiri dari procesus panjang yang meluas dari pusat
otak ke jaringan penyambung perifer, akibatnya procesus sel ependim berjalan di
antara unsur saraf dan merupakan matriks penyokong yang mirip dengan sel glia
lainnya.3
Sel schwann
Sel schwann membungkus semua serat saraf dari susunan saraf perifer,
dan meluas sampai perlekatannya masuk atau keluar dari perlekatannya di
medulla spinalis dan batang otak sampai ke ujungnya. Sel swhann
memperlihatkan inti yang heterochromatik, biasanya gepeng, dan terdapar di
tengah sel dengan banyak mitokondria, mikrotubul dan mikrofilamen.3
Pembuluh darah yang mendarahi otak terdiri dari :
a. Sepasang pembuluh darah karotis : denyut pembuluh darah besar ini dapat
kita raba dileher depan, sebelah kiri dan kanan dibawah mandibula,
sepasang pambuluh darah ini setelah masuk ke rongga tengkorak akan
bercabang menjadi tiga :
1. Sebagian menuju ke otak depan (arteri serebri anterior)
2. Sebagian menuju ke otak belakang (arteri serebri posterior)
3. Sebagian menuju otak bagian dalam (arteri serebri interior)
Ketiganya akan saling berhubungan melalui pembuluh darah yang disebut
arteri komunikan posterior.
b. Sepasang pembuluh darah vertebralis : denyut pembuluh darah ini tidak
dapat diraba oleh karena kedua pembuluh darah ini menyusup ke bagian
samping tulang leher, pembuluh darah ini mendarahi batang otak dan
kedua otak kecil, kedua pembuluh darah tersebut akan saling berhubungan
pada permukaan otak pembuluh darah yang disebut anastomosis.
Histologi
SISTEM SARAF PUSAT
Sistem saraf pusat, selanjutnya disebut SSP, terdiri atas otak dan medula
spinalis. Keduanya tersusun atas substansi putih (substansia alba) dan substansi
abu-abu (substansia grisea). Perbedaan ini terjadi akibat komposisi penyusun
substansia alba yakni akson bermielin; dan substansia grisea yakni perikarion
(soma, badan) sel saraf, dendrit, serta akson tak bermielin.
Otak
Secara keseluruhan otak terbagi atas:
1. Otak besar, atau cerebrum;
2. Otak kecil, atau cerebellum;
3. dan Batang otak, yang tersusun atas otak tengah (midbrain,
mesencephalon), pons, dan medula oblongata.
Struktur di atas akan dibahas secara lebih rinci.
Otak besar tersusun atas dua belahan (cerebral hemisphere) kiri dan kanan.
Di bagian tepi luar (korteks) terdapat substansia grisea, lalu semakin ke dalam
dibatasi dengan substansia alba, dan di bagian paling dalam terdapat nukelus yang
merupakan substansia grisea. Lapisan yang menyusun otak besar berlekuk-lekuk,
membentuk struktur sulkus dan girus. Lapisan ini jika ditinjau secara mikroskopik
akan terlihat bahwa tersusun atas enam lapisan, yakni:
1. Lapisan molekular, merupakan lapisan terluar dan terletak tepat di bawah
lapisan pia. Terdapat sel horizontal (cajal) yang pipih dengan denrit dan
akson yang berkontak dengan sel-sel di lapisan bawahnya (sel piramid, sel
stelatte).
2. Lapisan granular luar, sebagian besar terdiri atas sel saraf kecil
segitiga(piramid) yang dendritnya mengarah ke lapisan molekular dan
aksonnya ke lapisan di bawahnya; sel granula (stelatte) dan sel-sel
neuroglia.
3. Lapisan piramid luar, terdapat sel piramid yang berukuran besar (semakin
besar dari luar ke dalam). Dendrit mengarah ke lapisan molekular; akson
mengarah ke substansia alba.
4. Lapisan granular dalam, merupakan lapisan tipis yang banyak mengandung
sel-sel granul (stellate), piramidal, dan neuroglia. Lapisan ini merupakan
lapisan yang paling padat.
5. Lapisan piramidal dalam, suatu lapisan yang paling jarang, banyak
mengandung sel-sel piramid besar dan sedang, selain sel stelatte dan
Martinotti. Sel Martinotti adalah sel saraf multipolar yang kecil,
dendritnya mengarah ke lapisan atas dan aksonnya ke lateral.
6. Lapisan sel multiform, adalah lapis terdalam dan berbatasan dengan
substansia alba, dengan varian sel yang banyak (termasuk terdapat sel
Martinotti) dan sel fusiform.
Otak besar merupakan pusat belajar, ingatan, analissi informasi, inisiasi gerakan
motorik, dan merupakan pusat integrasi informasi yang diterima.
Gambar3. Lapis-lapis korteks serebrum
Nukelus (nucleus; nuclei: jamak) merupakan kumpulan dari perikarion
neuron yang terdapat di dalam SSP (bdk: ganglion di SST). Misal: basal nuclei.
Di substansia alba cerebrum terdapat banyak serat-serat yang
menghubungkan berbagai daerah korteks dalam hemisfer yang sama (asosiasi);
menghubungkan antarhemisfer (komisura); dan menghubungkan ke nukleus di
bawahnya (proyeksi).
Serebelum juga tersusun atas substansia grisea yang terletak di tepi
(dinamakan korteks serebeli). Korteks serebeli tersusun atas tiga lapisan:
1. Lapisan molekular, lapisan terluar dan langsung terletak di bawah lapisan
pia dan sedikit mengandung sel saraf kecil, serat saraf tak bermielin, sel
stelata, dan dendrit sel Purkinje dari lapisan di bawahnya.
2. Lapisan Purkinje, disebut lapisan ganglioner, banyak sel-sel Purkinje yang
besar dan berbentuk seperti botol dan khas untuk serebelum. Dendritnya
bercabang dan memasuki lapisan molekular, sementara akson termielinasi
menembus substansia alba.
3. Lapisan granular, lapisan terdalam dan tersusun atas sel-sel kecil dengan 3-
6 dendrit naik ke lapisan molekular dan terbagi atas 2 cabang lateral.
Gambar4. Lapis-lapis korteks serebelum
Medula Spinalis
Bagian luar medula spinalis merupakan substansia alba, sementara bagian
dalamnya merupakan substansia grisea, dengan bentuk menyerupai huruf H atau
kupu-kupu. Di bagian tengah substansia grisea terdapat kanal yang dinamakan
kanalis sentralis.
Substansia alba berisi akson-akson yang merupakan jaras-jaras baik
sensorik maupun motorik yang meneruskan impuls saraf dari/atau otak dan organ-
organ perifer. Fasikulus-fasikulus jaras sensorik dan motorik terkelompokkan
menjadi funikulus. Di medula spinalis dapat ditemukan funikulus dorsal, ventral,
dan lateral.
Substansia grisea mengandung perikarion dan banyak ditemukan sinaps
neuron. Wilayah ini dapat dikelompokkan menjadi tiga. Kornu anterior (ventral)
adalah bagian sayap yang gemuk dan banyak mengandung sel-sel motorik
multipolar yang berbentuk poligonal. Kornu posterior (dorsal) adalah bagian
sayap yang lebih kecil dan banyak ditemui sinaps dari saraf aferen, serta
interneuron.
Kanalis sentralis merupakan saluran yang berhubungan dengan ventrikel
keempat otak, yang dilapisi oleh sel-sel ependimal.
Meninges
Otak dilindungi oleh kulit dan tengkorak, serta dengan meninges, yakni
selaput pelindung otak dan terdiri atas tiga lapisan. Sementara itu, medula spinalis
juga dilindungi oleh meninges.
Duramater, lapisan terluar meninges, merupakan lapisan yang tebal dengan
kolagen yang tinggi. Tersusun lagi atas dua lapis, yakni periosteal duramater,
lapisan lebih luar, terususun atas sel-sel progenitor, fibroblas. Lapisan ini
menempel dengan permukaan dalam tengkorak. Pembuluh darah ditemui dengan
mudah di lapisan ini. Meningeal duramater, sedikit mengandung pembuluh darah
kecil dan dilapisi epitel selapis gepeng yang berasal dari mesoderm pada
permukaan dalamnya.
Kedua lapis duramater otak menyatu, namun memisah pada bagian-bagian
tertentu, membentuk sinus venosus.
Arachnoid adalah suatu lapisan tanpa pembuluh darah, tipis, serta halus.
Lapis ini mengandung fibroblas, kolagen, dan serat elastis.

Gambar 5. Meninges
Sawar Darah Otak (Blood Brain Barrier)
Struktur yang membentuk lapisan “penyeleksi” zat-zat yang dapat berada di
dalam jaringan parenkim otak. Mekanisme ini sangat penting untuk menjaga
kinerja otak dengan optimal, mengingat perubahan sedikit saja pada lingkungan
sekitar otak dapat mengakibatkan gangguan, semisal konduksi saraf yang tidak
berjalan dengan baik.
Sawar darah otak tersusun atas tiga komponen, yakni dinding sel endotel, di
mana terdapat tight junction (taut sekap) antarsel sehingga menghalangi lewatnya
zat melalui celah ini. Basal lamina sel endotel dan Kaki-kaki perivaskular astrosit
juga mencegah masuknya zat-zat tak diinginkan. Astrosit dapat membuang
kelebihan ion K+ dan neurotransmiter dari lingkungan sekitar neuron. Fungsi ini
dapat mempertahankan keseimbangan komposisi zat dan ion di ruang interselular
SSP.

SISTEM SARAF TEPI


Saraf-saraf tepi terdiri atas serabut-serabut saraf (akson) yang saling
berkumpul bersama, dan disatukan melalui jaringan penyambung, sehingga
menghasilkan kumpulan serabut saraf, disebut dengan fasikulus. Dalam satu
fasikel pada umumnya mengandung persarafan baik sensorik maupun motorik.
Beberapa fasikulus membentuk bundel berkas serat saraf. Bundel berkas serat
saraf ini diikat oleh Epineurium, yakni suatu jaringan ikat yang padat, tidak
beraturan, tersusun mayoritas oleh kolagen dan sel-sel fibroblas. Epineurium
menyelimuti beberapa fasikulus yang bersatu membentuk saraf. Di epineurium
pula bisa ditemukan pembuluh darah. Ketebalan epineurium bervariasi, paling
tebal di daerah dura yang dekat dengan SSP, makin tipis hingga percabangan
saraf-saraf ke arah distal.
Perineurium adalah selaput pembungkus satu fasikulus yang tersusun atas
jaringan ikat padat kolagen yang tersusun secara kosentris, serta sel-sel fibroblas.
Di bagian dalam perineurium terdapat pula lapisan sel-sel epiteloid yang
direkatkan melalui zonula okludens; serta dikelilingi oleh lamina basal yang
menjadikan suatu barrier (sawar) materi bagi fasikulus.
Endoneurium adalah lapisan terdalam yang mengelilingi satu akson.
Lapisan ini tersusun ats jaringan ikat longgar (berupa serat retikuler yang
dihasilkan oleh sel Schwann yang bertanggung jawab untuk akson tersebut),
sedikit fibroblas, dan serat kolagen. Di daerah distal akson, endoneurium hampir
tidak ada lagi, hanya menyisakan sedikit serat retikuler yang menyertai basal
lamina sel Schwann.

Gambar 6. Organisasi dari akson hingga terbentuknya saraf

Gambar 7. Menggambarkan Sel Schwann dan RF menggambarkan serat retikuler


Ganglia
Ganglion merupakan kumpulan soma neuron (badan sel saraf) yang terletak
di luar SSP. (Disebut nukelus/nuklei jika terletak di SSP), Dikarenakan soma
neuron motorik berada di dalam SSP, hanya dikenal 2 macam ganglion, yakni
ganglion otonom (kumpulan soma neuron eferen viseral), dan ganglion sensorik
(kumpulan soma neuron aferen).
Ganglion otonom merupakan “penghubung” antara saraf eferen
praganglion yang berasal dari SSP (dapat berasal dari kranial; ataupun spinal)
dengan saraf eferen pascaganglion yang akan menginervasi organ efektor viseral.
Perlu diingat bahwa saraf praganglion umumnya termielinasi, dan tidak untuk
saraf pascaganglion (namun tetap terlingkupi oleh envelope sel Schwann).
Dalam persarafan simpatis, saraf preganglion bersinaps dengan saraf
postganglion di: (1) ganglia yang berada di dekat medula spinalis, membentuk
seperti suatu ranting pohon, yang disebut dengan sympathetyic chain ganglia; atau
(2) ganglia kolateral, yang terletak di sepanjang aorta abdominal.
Persarafan parasimpatis memiliki ganglia yang terletak di dekat dengan
efektor, dikenal dengan sebutan ganglia terminal.
Ganglia (ganglion, tunggal) sensorik adalah kumpulan soma neuron aferen.
Neuron aferen ini terdiri atas saraf kranial V, VII, IX, X; serta setiap saraf spinal
yang berasal dari medula spinalis. Ganglia sensorik saraf spinal diberi nama
dorsal root ganglia; sementara ganglia sensorik kranial diberi nama sesuai dengan
lokasi dan efektor. Ganglia sensorik mengandung sel saraf unipolar (atau sering
disebut pseudounipolar). Sel saraf demikian mengandung cabang sentral yang
masuk menuju SSP; dan cabang perifer yang pergi menuju organ yang diinervasi.
Sel kapsul berbentuk kubus melingkupi soma, dan sel-sel kapsul ini dikelilingi
jaringan penghubung yang tersusun atas sel-sel satelit dan serat kolagen.
Duramater, sedikit mengandung pembuluh darah kecil dan dilapisi epitel
selapis gepeng yang berasal dari mesoderm pada permukaan dalamnya.
Kedua lapis duramater otak menyatu, namun memisah pada bagian-bagian
tertentu, membentuk sinus venosus.
Arachnoid adalah suatu lapisan tanpa pembuluh darah, tipis, serta halus.
Lapis ini mengandung fibroblas, kolagen, dan serat elastis.
Gambar 8. Meninges

Sawar Darah Otak (Blood Brain Barrier)


Struktur yang membentuk lapisan “penyeleksi” zat-zat yang dapat berada di
dalam jaringan parenkim otak. Mekanisme ini sangat penting untuk menjaga
kinerja otak dengan optimal, mengingat perubahan sedikit saja pada lingkungan
sekitar otak dapat mengakibatkan gangguan, semisal konduksi saraf yang tidak
berjalan dengan baik.
Sawar darah otak tersusun atas tiga komponen, yakni dinding sel endotel, di
mana terdapat tight junction (taut sekap) antarsel sehingga menghalangi lewatnya
zat melalui celah ini. Basal lamina sel endotel dan Kaki-kaki perivaskular astrosit
juga mencegah masuknya zat-zat tak diinginkan. Astrosit dapat membuang
kelebihan ion K+ dan neurotransmiter dari lingkungan sekitar neuron. Fungsi ini
dapat mempertahankan keseimbangan komposisi zat dan ion di ruang interselular
SSP.

SISTEM SARAF TEPI


Saraf-saraf tepi terdiri atas serabut-serabut saraf (akson) yang saling
berkumpul bersama, dan disatukan melalui jaringan penyambung, sehingga
menghasilkan kumpulan serabut saraf, disebut dengan fasikulus. Dalam satu
fasikel pada umumnya mengandung persarafan baik sensorik maupun motorik.
Beberapa fasikulus membentuk bundel berkas serat saraf. Bundel berkas serat
saraf ini diikat oleh Epineurium, yakni suatu jaringan ikat yang padat, tidak
beraturan, tersusun mayoritas oleh kolagen dan sel-sel fibroblas. Epineurium
menyelimuti beberapa fasikulus yang bersatu membentuk saraf. Di epineurium
pula bisa ditemukan pembuluh darah. Ketebalan epineurium bervariasi, paling
tebal di daerah dura yang dekat dengan SSP, makin tipis hingga percabangan
saraf-saraf ke arah distal.
Perineurium adalah selaput pembungkus satu fasikulus yang tersusun atas
jaringan ikat padat kolagen yang tersusun secara kosentris, serta sel-sel fibroblas.
Di bagian dalam perineurium terdapat pula lapisan sel-sel epiteloid yang
direkatkan melalui zonula okludens; serta dikelilingi oleh lamina basal yang
menjadikan suatu barrier (sawar) materi bagi fasikulus.
Endoneurium adalah lapisan terdalam yang mengelilingi satu akson.
Lapisan ini tersusun ats jaringan ikat longgar (berupa serat retikuler yang
dihasilkan oleh sel Schwann yang bertanggung jawab untuk akson tersebut),
sedikit fibroblas, dan serat kolagen. Di daerah distal akson, endoneurium hampir
tidak ada lagi, hanya menyisakan sedikit serat retikuler yang menyertai basal
lamina sel Schwann.

Gambar 9. Organisasi dari akson hingga terbentuknya saraf


Gambar 10. SC menggambarkan Sel Schwann dan RF menggambarkan serat
retikuler

Ganglia
Ganglion merupakan kumpulan soma neuron (badan sel saraf) yang terletak
di luar SSP. (Disebut nukelus/nuklei jika terletak di SSP), Dikarenakan soma
neuron motorik berada di dalam SSP, hanya dikenal 2 macam ganglion, yakni
ganglion otonom (kumpulan soma neuron eferen viseral), dan ganglion sensorik
(kumpulan soma neuron aferen).
Ganglion otonom merupakan “penghubung” antara saraf eferen
praganglion yang berasal dari SSP (dapat berasal dari kranial; ataupun spinal)
dengan saraf eferen pascaganglion yang akan menginervasi organ efektor viseral.
Perlu diingat bahwa saraf praganglion umumnya termielinasi, dan tidak untuk
saraf pascaganglion (namun tetap terlingkupi oleh envelope sel Schwann).
Dalam persarafan simpatis, saraf preganglion bersinaps dengan saraf
postganglion di: (1) ganglia yang berada di dekat medula spinalis, membentuk
seperti suatu ranting pohon, yang disebut dengan sympathetyic chain ganglia; atau
(2) ganglia kolateral, yang terletak di sepanjang aorta abdominal.
Persarafan parasimpatis memiliki ganglia yang terletak di dekat dengan
efektor, dikenal dengan sebutan ganglia terminal.
Ganglia (ganglion, tunggal) sensorik adalah kumpulan soma neuron aferen.
Neuron aferen ini terdiri atas saraf kranial V, VII, IX, X; serta setiap saraf spinal
yang berasal dari medula spinalis. Ganglia sensorik saraf spinal diberi nama
dorsal root ganglia; sementara ganglia sensorik kranial diberi nama sesuai dengan
lokasi dan efektor. Ganglia sensorik mengandung sel saraf unipolar (atau sering
disebut pseudounipolar). Sel saraf demikian mengandung cabang sentral yang
masuk menuju SSP; dan cabang perifer yang pergi menuju organ yang diinervasi.
Sel kapsul berbentuk kubus melingkupi soma, dan sel-sel kapsul ini dikelilingi
jaringan penghubung yang tersusun atas sel-sel satelit dan serat kolagen.

3.2 Epidemiologi Tumor Otak

Tumor primer biasanya timbul dari jaringan otak, meningen, hipofisis dan
selaput myelin. Tumor sekunder berasal adalah tumor metastasis yang biasa
berasal dari hampir semua tumor pada tubuh. Tumor metastasis SSP yang melalui
perderan darah yaitu yang paling sering adalah tumor paru-paru dan prostat,
ginjal, tiroid, atau traktus digestivus, sedangkan secara perkontinuitatum masuk ke
ruang tengkorak melalui foramina basis kranii yaitu infiltrasi karsinoma
anaplastik nasofaring.5
Pada umumnya tumor otak primer tidak memiliki kecenderungan bermetastasis,
hanya satu yaitu meduloblastoma yang dapat bermetastasis ke medulla spinalis
dan kepermukaan otak melalui peredaran likuor serebrospinalis. Perbandingan
tumor otak primer dan metastasis adalah 4 : 1.

Tumor otak primer (80 %), sekunder (20 %). Tumor primer kira-kira
50% adalah glioma, 20 % meningioma, 15 % adenoma dan 7 % neurinoma. Pada
orang dewasa 60 % terletak di supratentorial, sedangkan pada anak-anak 70 %
terletak di infratentorial. Tumor yang paling banyak ditemukan pada anak adalah
tumor serebellum yaitu meduloblastoma dan astrositoma.Statistik primer adalah
10 % dari semua proses neoplasma dan terdapat 3 – 7 penderita dari 100.000
orang penduduk.

Glioma Jumlah ½ tumor otak Tumbuh pada tiap jaringan dari otak.
Infiltrasi dari terutama ke jaringan hemisfer cerebral.Tumbuh sangat cepat,
sebagian orang bias hidup beberapa bulan sampai tahun. Meningoma 13 % sampai
18 % tumor primer intrakranial Tumbuh dari selaput meningeal otak. Biasanya
jinak tapi bisa berubah menjadi maligna. Biasanya berkapsul dan penyembuhan
melaui bedah sangat mungkin dan pertumbuhan kembali mungkin terjadi.

Tumor Pituitari merupakan tumor pada semua kelompok umur, tapi lebih
sering pada wanita. Tumbuh dari berbagai jenis jaringan. Tumor otak mewakili
sebanyak 20% dari semua kanker pada anak-anak. Pada kelompok usia ini 70%
tumor primer tumbuh di daerah fosa posterior, sementara pada orang dewasa,
proporsi yang sama tumbuh di atas tentorium. Pada orang dewasa terdapat insiden
tumor primer dan metastatik yang hampir sama.

3.3 Klasifikasi Tumor Otak


1. Berdasarkan jenis tumor
 Jinak
a. Acoustic neuroma
b. Meningioma
c. Pituitary adenoma
d. Astrocytoma (grade I)
 Malignant
a. Astrocytoma (grade 2,3,4)
b. Oligodendroglioma
c. Apendymoma

2. Berdasarkan lokasi
 Tumor intradural
a. Ekstramedular
b. Cleurofibroma
c. Meningioma
d. Intramedular
e. Apendymoma
f. Astrocytoma
g. Oligodendroglioma
h. Hemangioblastoma
 Tumor ekstradural
Merupakan metastase dari lesi primer, biasanya pada payudara,
prostal, tiroid, paru – paru, ginjal dan lambung.
Tumor otak primer dapat dimulai pada satu jenis jaringan atau sel-
sel di dalam otak ataupun sumsum tulang belakang. Beberapa tumor
mengandung campuran jenis sel. Tumor di daerah yang berbeda dari
sistem saraf pusat dapat diobati secara berbeda dan memiliki prognosis
yang berbeda.
 Glioma
Jumlah glioma adalah sekitar 40-50% dari tumor otak. Glioma
dikelompokkan berdasarkan asal embriologis. Pada orang dewasa sel
neuroglia sistem saraf pusat berfungsi untuk memperbaiki, menyokong
dan melindungi sel-sel saraf yang lunak. Glioma terdiri dari jaringan
penyambung dan sel-sel penyokong. Neuroglia mempunyai kemampuan
untuk terus membelah selama hidup. Sel-sel glia berkumpul membentuk
parut sikatriks padat dibagian otak dimana neuron menghilang oleh karena
cedera atau penyakit. Tumor glia merupakan penyebab dari hampir
separuh tumor otak pada anak. Sebagian besar tumor glia pediatrik
merupakan tumor derajat rendah yang paling sering terletak di fossa
posterior dan regio diensefalon.
 Astrositoma
Astrositoma sering menginfiltrasi otak dan sering berkaitan dengan
kista dalam berbagai ukuran.walaupun menginfiltrasi bagian otak namun
efeknya pada fungsi otak hanya sedikit sekali pada permulaan penyakit.
Pada umumnya astrositoma tidak bersifat ganas, walaupun dapat
mengalami perubahan keganasan berupa glioblastoma, yaitu suatu
astrositoma yang sangat ganas.tumor-tumor ini pada umumnya tumbuh
lambat. Oleh karena itu penderita sering tidak datang berobat walaupun
tumor sudah berjalan bertahun-tahun. Astrositoma derajat I
memperlihatkan gambaran astrosit yang tidak banyak berbeda dengan
astrosit normal, hanya saja jumlahnya berbeda, sehingga kepadatannya
dalam suatu daerah menonjol.

Gambar 11. Astrositoma


Astrositoma derajat II,III, dan IV secara berturut-turut
memperlihatkan segi-segi keganasan yang meningkat. Astrositoma derajat
III menggambarkan gambaran histologik yang sudah mitotik, infiltratif
dan ekspansif sehingga banyak necrosis dan hemoragik terjadi. Apalagi
astrositoma derajat IV, berbagai jenis sel dalam tahap mitosis dijumpai
baik dalam formasi yang khas, maupun yang tersebar secara tidak teratur
dengan banyak nekrosis dan hemoragi.maka astrositoma derajat III dan IV
diberi nama tersendiri yaitu Glioblastoma multiform. Sampai timbul gejala
(misal: serangan epilepsi maupun nyeri kepala). Eksisi bedah lengkap
pada umumnya tidak dapat dilakukan karena tumor bersifat invasif, tapi
bersifat residif terhadap radiasi.
 Glioblastoma multiform
Glioblastoma multiform adalah jenis glioma yang paling ganas.
Tumor ini memiliki kecepatan pertumbuhan yang sangat tinggi. Dan
eksisi bedah yang lengkap tidak mungkin dilakukan. Harapan hidup pada
umumnya sekitar 12 bulan. Tumor ini dapat timbul dimana saja tetapi
predileksi utamanya adalah lobus frontalis. dan sering menyebar ke sisi
kontralateral melalui korpus kalosum.
Gambar 12. Glioblastoma Multiforme
 Oligodendroglioma
Oligodendroglioma merupakan lesi yang tumbuh lambat
menyerupai astrositoma, tetapi terdiri dari sel-sel oligodendroglia. Tumor
relatif avaskular dan cenderung mengalami kalsifikasi; biasanya dijumpai
pada hemisfer otak dewasa muda. Tumor ini dapat timbul sebagai
gangguan kejang parsial yang timbul hingga 10 tahun, secara klinis
bersifat agresif, dan menyebabkan simptomatologi bermakna akibat
peningkatan intrakranial.di dalam daerahnya terdapat kista, perkapuran
dan hemoragi.
Oligodendroglioma merupakan pada manusia yang paling bersifat
kemosensitif. Regimen kemoterapi yang paling sering digunakan adalah
melfalan, thiotep, temozolomide, paklitaksel ( taxol) dan regimen
berdasar platinum. Diyakini bahwa sel neoplasma dari oligodendroglia
rentan terhadap efek alkilasi dari kemoterapi sitotoksik. Penjelasan yang
lebih lengkap masih menunggu hasil dari penelitian genetik lebih lanjut.
Gambar 13. Oligodendroglioma
 Ependimoma
Ependimoma adalah tumor ganas yang jarang terjadi dan berasal
dari hubungan erat pada ependim yang menutupi ventrikel, paling sering
terjadi pada fossa posterior, tetapi dapat terjadi dari setiap bagian fossa
ventrikularis. Tumor ini lebih sering terjadi ada anak maupun orang
dewasa. Dua faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan reseksi
tumor dan kemampuan bertahan hidup jangka panjang adalah usia dan
letak anatomis tumor. Makin muda usia pasien maka makin buruk
prognosisnya (biasanya terlihat pada usia anak kurang dari 7 tahun) alasan
prognosis yang buruk masih belum diketahui.
Gambar 14. Ependimoma
Diyakini bahwa tumor embrional pada anak berbeda dari tumor pada
dewasa dan semakin imatur jaringan tumor pada anak menyebabkan makin
agresifnya sifat tumor yang memperburuk prognosisnya. Penderita tumor
yang terletak pada dasar dan atap ventrikel dapat direseksi secara sempurna
daripada penderita tumor di processus lateralis. Perbedaan ini darena dasar dan
atap tumor cenderung menginfiltrasi struktur pedunculus cerebri dan pons
sehingga menyebabkan tidak mungkin dilakukan pengangkatan
sempurna.pengobatan radiasi dilakukan pasca operasi, kecuali pada anak usia
kurang dari 3 tahun yang menjalani kemoterapi.
 Meningioma
Meningioma timbul dari meninges, lapisan jaringan yang mengelilingi
bagian luar dari otak dan sumsum tulang belakang. Meningioma berkontribusi
pada sekitar 1 dari 3 tumor otak primer dan tumor sumsum tulang belakang.
Mereka adalah tumor otak yang paling umum pada orang dewasa.
Risiko tumor ini meningkat sejalan dengan usia. Mereka sekitar dua
kali lebih umum terjadi pada wanita. Dalam beberapa kasus tumor ini bersifat
genetic (diturunkan), terutama pada mereka dengan neurofibromatosis
(sindrom tumor jinak pada jaringan syaraf).
Meningioma menyebabkan gejala dengan menekan otak atau syaraf
tulang belakang. Sekitar 4 dari 5 meningioma bersifat jinak, dan sebagian
besar dapat disembuhkan dengan operasi. Tetapi beberapa meningioma
tumbuh sangat dekat dengan struktur vital dalam otak dan tidak bisa
disembuhkan dengan pembedahan saja. Sejumlah kecil meningioma bersifat
ganas dan mungkin kembali berkali-kali setelah operasi atau bahkan menyebar
ke bagian lain dari tubuh.

Gambar 15. Meningioma


 Medulloblastomas
Medulloblastomas adalah tumor yang berkembang dari sel
neuroectodermal (sel saraf primitif) di otak kecil. Mereka adalah tumor yang
tumbuh cepat dan sering menyebar ke seluruh jalur cairan serebrospinal, tetapi
mereka dapat diobati dengan terapi radiasi dan kemoterapi. Medulloblastomas
terjadi lebih sering pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Mereka adalah
bagian dari kelas tumor disebut tumor neuroectodermal primitif (PNETs) yang
dapat terjadi pada otak besar dan di tempat lain dalam sistem saraf pusat.

Gambar 16. Medulloblastoma12

3.4 Etiologi dan Faktor Risiko Tumor Otak


Penyebab tumor otak hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti,
walaupun telah banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang
perlu ditinjau sebagai penyebab tumor otak, sebagai berikut:
Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali
pada meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-
anggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat
dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial
yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-bukti yang kuat
untuk memikirkan adanya faktor-faktor herediter yang kuat pada neoplasma.
Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan
yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada
kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas
dan merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi
pada kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan kordoma.
Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat
mengalami perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu
terjadinya suatu glioma. Pernah dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah
timbulnya suatu radiasi.
Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar
yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam
proses terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan
antara infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem saraf pusat. EBV,
adenovirus tipe 12, papovavirus, dan retrovirus.
Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan.
Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti
methylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang
dilakukan pada hewan.

3.5 Patogenesis Tumor Otak


Patogenesis tumor sistem saraf pusat pada dasarnya melibatkan gen-gen
yang menyebabkan inisiasi, diferensiasi, dan proliferasi sel-sel tumor. Gen ini
mengkode faktor pertumbuhan dan reseptornya, protein second messenger, yang
mempengaruhi kontrol siklus sel, apoptosis dan nekrosis. Gen tersebut juga
mengkode faktor transkripsi dan protein yang memediasi angiogenesis dan
interaksi antara tumor dan matriks ekstraseluler. Keterlibatan onkogen
(overekspresi) dan inaktivasi tumor suppressor genes berperan dalam patogenesis
pertumbuhan sel tumor.
3.6 Penegakan Diagnosis Tumor Otak
1. Anamnesis
Biasanya wawancara dengan pasien dimulai dengan menanyakan data-data
statistik seperti nama, umur, pekerjaan, alamat, status perkawinan, agama, suku
bangsa,. Kemudian ditanyakan keluhan utamanya, yaitu keluhan yang
mendorong pasien datang berobat ke dokter. Pada tiap keluhan atau kelainan
perlu ditelusuri dan dicatat :
1. Sejak kapan dimulai
2. Sifat serta beratnya
3. Lokasi serta penjalarannya
4. Hubungan dengan waktu (pagi, siang, malam, sedang tidur, waktu haid,
sehabis makan dan lain sebagainya)
5. Keluhan lain yang ada hubungannya dengan keluhan tersebut
6. Pengobatan sebelumnya dan bagaimana hasilnya
7. Faktor yang membuat keluhan lebih berat atau lebih ringan
8. Perjalanan keluhan, apakah menetap, bertambah berat, bertambah ringan,
datang dalam bentuk serangan, dan lain sebagainya)
9. Riwayat penyakit terdahulu : keadaan atau kejadian yang lalu hubungannya
dengan keluhan sekarang, misalnya penyakit infeksi atau trauma.
10. Riwayat penyakit dalam keluarga : bila penyakit diduga bersifat herediter
11. Riwayat Sosial : perkembangan kepribadian, sikap terhadap orang tua dan
saudara, reaksinya terhadap lingkungan, pendidikan.
12. Kebiasaan / Gizi : merokok, minum alkohol, nilai gizi makanan

Gejala yang timbul pada pasien dengan kanker otak tergantung dari lokasi
dan tingkat pertumbuhan tumor. Kombinasi gejala yang sering ditemukan
adalah peningkatan tekanan intrakranial (sakit kepala hebat disertai muntah
proyektil), defisit neurologis yang progresif, kejang, penurunan fungsi kognitif.
Pada glioma derajat rendah gejala yang biasa ditemui adalah kejang, sementara
glioma derajat tinggi lebih sering menimbulkan gejala defisit neurologis
progresif dan tekanan intrakranial meningkat. Keluhan yang timbul dapat
berupa sakit kepala, mual, penurunan nafsu makan, muntah proyektil, kejang,
defisit neurologik (penglihatan dobel, strabismus, gangguan keseimbangan,
kelumpuhan ekstremitas gerak, dsb), perubahan kepribadian, mood, mental,
atau penurunan fungsi kognitif.

2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik meliputi status generalis dan status neurologis.
Pemeriksaan Neurologis
1. Kesadaran
2. Fungsi Luhur
3. Tanda perangsangan selaput otak (meningeal signs)
4. Nn. craniales
5. Motorik
6. Sensorik
7. Susunan saraf otonom
8. Fungsi koordinasi
9. Fungsi Columna Dorsalis
Pada kasus tumor otak yang harus diperhatikan antara lain :
a. Pemeriksaan Neurooftalmologi
Kanker otak melibatkan struktur yang dapat mendestruksi jaras
pengllihatan dan gerakan bola mata, baik secara langsung maupun tidak
langsung, sehingga beberapa kanker otak dapat memiliki manifestasi
neurooftalmologi yang khas seperti tumor regio sella, tumor regio pineal,
tumor fossa posterior, dan tumor basis kranii. Oleh karena itu perlu
dilakukan pemeriksaan neurooftalmologi terutama untuk menjelaskan
kesesuaian gangguan klinis dengan fungsional kanker otak. Pemeriksaan ini
juga berguna untukmengevaluasi pre- dan post tindakan (operasi,
radioterapi dan kemoterapi) pada tumor-tumor tersebut.
b. Pemeriksaan Fungsi Luhur
Gangguan kognitif dapat merupakan soft sign, gejala awal pada kanker
otak, khususnya pada tumor glioma derajat rendah, limfoma, atau
metastasis. Fungsi kognitif juga dapat mengalami gangguan baik melalui
mekanisme langsung akibat destruksi jaras kognitif oleh kanker otak,
maupun mekanisme tidak langsung akibat terapi, seperti operasi,
kemoterapi, atau radioterapi. Oleh karena itu, pemeriksaan fungsi luhur
berguna untuk menjelaskan kesesuaian gangguan klinis dengan fungsional
kanker otak, serta mengevaluasi pre- dan post tindakan (operasi, radioterapi
dan kemoterapi).

Manifestasi Klinis Tumor Otak Pada Anamnesis Dan Pemeriksaan


Fisik
1) Meningioma
Gambaran yang diberikan oleh meningioma adalah berupa kelainan
yang
disebabkan oleh lesi desak ruang :
 Kejang, baik berupa kejang fokal maupun kejang umum.
 Gejala peningkatan tekanan intrakranial, seperti hidrosefalus
obstruktif dengan sakit kepala.
 Efek neuropsikologi, seperti perubahan kepribadian dan disinhibisi
yang dapat ditemukan pada meningioma yang berada di frontal.
 Transient ischemic attack dan perdarahan intrakranial juga dapat
ditemui.
 Meningioma yang menekan jalur visual dapat menyebabkan
gangguan lapangan pandangan.
 Meningioma pada daerah sella dapat memberikan gejala
panhipopituarisme.
 Spinal meningioma dapat memberikan sindrom Brown-Sequard.
2) Schwannoma (Neuroma Akustik / AN)
Setiap gangguan pendengaran unilateral sensorineural yang disebabkan
oleh
AN sudah terbukti.
Pertimbangan diagnosis pasien AN dengan :
 Kehilangan pendengaran unilateral/tinnitus dalam onset progresif
atau akut.
 Gangguan sensasi wajah.
 Gangguan keseimbangan dengan penjelasan lainnya.
 Gambaran klinis klasik dari AN terbatas pada kanalis auditoris,
melibatkan kehilangan pendengaran unilateral secara progresif,
disfungsi vestibuler dan tinnitus.
- 90% kasus kehilangan pendengaran dan tinnitus.
- Sekitar 5% kasus menunjukkan onset mendadak dan disertai
kehilangan pendengaran unilateral.
- Pendengaran bisa juga berubah-ubah.
- 3% menunjukkan pendengaran yang normal.
- Kebanyakan pasien menunjukkan gangguan keseimbangan.
 Oleh karena penyebaran tumor, gangguan pendengaran dan
keseimbangan memburuk dan gejala yang mengarah pada kompresi
struktur lain dapat
timbul :
- Nyeri fasial atau baal pada trigeminal neuralgia.
- Sakit telinga.
- Kelemahan otot wajah akibat tekanan pada N.VII (fasialis).
- Ataksia
- Kompresi pada batang otak dapat menyebabkan hidrosefalus
dengan gangguan penglihatan dan nyeri kepala persisten.
3) Tumor Hipofisis
Massa yang membesar dalam fossa hipofisis dapat menimbulkan sakit
kepala, defek neurooftalmologi atau nyeri trigeminal tergantung pada
ukuran dan arah pembesaran.
 Sakit kepala; biasanya retroorbita atau bitemporal. Cenderung
memburuk ketika bangun. Sakit kepala katastropik mendadak bisa
disebabkan oleh apopleksi hipofisis. Tumor hipofisis yang sangat
besar dapat mengakibatkan obstruksi cairan otak, menyebabkan
hidrosefalus.
 Defek lapangan pandang : umum namun seringkali asimptomatik.
Hemianopia bitemporal adalah kelainan klasik namun dapat juga
timbul defek lapangan pandang bilateral atau unilateral.
 Pembesaran ekstensif ke hipotalamus dapat mengakibatkan
gangguan selera makan, haus, dan gangguan regulasi suhu serta
kesadaran.
4) Meduloblastoma
 Pada Anamnesis umumnya berupa gejala yang berhubungan dengan
massa di fossa posterior yang menyebabkan peningkatan tekanan
intrakranial karena hidrocephalus akibat penekanan ventrikel IV.
Gejala peningkatan TIK bisa berupa nyeri kepala, mual, muntah,
ataksia. Pada bayi dengan hidrocephalus biasanya rewel,
pembesaran lingkar kepala, dan letargi. Metastase ke spinal dapat
menyebabkan nyeri punggung, retensi urine atau gangguan motorik
tungkai bawah
 Pemeriksaan Fisis:
1. Papil edema
2. Diplopia
3. Penurunan visus
4. Penurunan kesadaran
5. Pembesaran lingkar kepala pada bayi akibat hidrocephalus
6. Nistagmus
7. Ataxia
5) Tumor Otak Sekunder / Metastasis
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, dapat dijumpai ttanda dan gejala
seperti pada tumor otak primer, yang dapat berupa:
a. Tanda peningkatan tekanan intrakranial
1. Sakit kepala
2. Mual/muntah
b. Gejala fokal
1. Kelumpuhan/paresis tanpa gangguan sensorik
2. Penekanan saraf kranialis
c. Kejang
d. Perubahan perilaku, letargi, penurunan kesadaran

3. Pemeriksaan Penunjang
A. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mengetahui keadaan umum pasien
dan kondisi pasien dalam kesiapan terapi yang akan dijalani seperti pembedahan,
radiasi, atau kemoterapi. Pemeriksaan laboratorium meliputi darah lengkap,
hemostasis, LDH, fungsi hati, ginjal dan gula darah, serologi hepatitis B dan C,
dan elektrollit lengkap.
B. Pemeriksaan Radiologis
Deferensial diagnosis tumor otak pada dewasa memiliki tanda dan gejala
yang sama dalam menggambarkan kondisi antara tumor neoplastik atau tidak.
Neuroradiologic imaging adalah modalitas diagnosis utama utuk mengevaluasi
tumor otak. Studi ini penting untuk perencanaan pra operasi dan juga sering
memberikan informasi tentang etiologi lesi massa. Meskipun neuroimaging tidak
dapat secara definitif menetapkan histologi spesifik, namun gambaran
karakteristik meningioma berbasis dural seringkali dapat menjadi diagnosis
tentatif. Pengobatan meningioma tanpa diagnosis histologis dapat dilakukan pada
lesi di lokasi pembedahan yang tak terakses.

a. MRI (Magnetic Resonance Imaging)


Magnetic resonance imaging (MRI) menjadi satu-satunya tes yang
dibutuhkan untuk mendiagnosis tumor otak. MRI dapat memberikan
Informasi yang menunjukkan tipe tumor secara spesifik seperti:
- Glioma ganas biasanya bersifat hipointens pada gambar T1 , dan
meningkat secara heterogen mengikuti kontras. Tumor yang
berkembang bisa dibedakan dari edema di sekitar hipointens pada
sekuens T1.
- Terlepas dari tingkat histologis, astrositoma umumnya menunjukkan
peningkatan T2 dan Intensitas sinyal FLAIR; Namun, beberapa
astrositoma tidak menunjukkan penambahan kontras
- Glioma tingkat rendah umumnya terlihat sebagai lesi infiltrasi
hemisferis yang menghasilkan sedikit efek massa.
Selain memungkinkan visualisasi tumor dan hubungannya dengan
parenkim normal sekitarnya, MRI juga lebih unggul dari computed
tomography (CT-Scan) dalam mengevaluasi meninges, ruang
subarachnoid, dan fossa posterior, serta untuk menentukan kelainan
distribusi vaskular. MRI dapat melihat gambaran jaringan lunak dengan
lebih jelas dan sangat baik untuk tumor infratentorial, namun mempunyai
keterbatasan dalam hal menilai kalsifikasi.
b. MRS (Magnetic Resonance Spectroscopy)
MRS sangat baik untuk menentukan daerah nekrosis dengan tumor yang
masih viabel sehingga baik digunakan sebagai penuntun biopsi dan
digunakan untuk menyingkirkan diagnosis banding. MRS semakin
banyak digunakan sebagai teknik diagnostik pada pasien dengan dugaan
otak tumor. Teknik ini dapat menunjukkan perbedaan infiltratif lokal
tumor otak dari jenis lesi intrakranial dengan menganalisa komposisi
kimia di area yang dicurigai.
Tiga Sinyal spektroskopi penting yang digunakan adalah N-
acetylaspartate, choline, dan lactat. N-acetylasparate adalah produk
sampingan dari glutamat neurotransmiter, memberikan tanda adanya
neuron sejak neuron melokalisasi ke terminal sinaptik, menurun di glioma.
Choline adalah komponen membran sel yang meningkat jika terdapat
tumor. Lalu lactate adalah hasil pernafasan anaerob yang dapat
menunjukkan nekrosis pada tumor, adanya infeksi maupun stroke.
MRS tidak dapat membedakan jenis lesi infiltratif atau sirkum, dan tidak
dapat mengdiagnosis suatu histologis keganasan. Namun MRS bisa
membantu membedakan antara neoplasma dan proses sistem saraf pusat
lainnya. Sinyal spektroskopi MRS terdegradasi oleh cairan tulang dan
serebrospinal. Akibatnya, MRS kurang bermanfaat untuk tengkorak dan
lesi periventrikular.
C. CT Scan (Computed Tomography Scan)
Saat ini, CT Scan sebagian besar telah digantikan dengan MRI kranial
sebagai pencitraan modalitas pilihan untuk tumor otak. CT- Scan dengan
kontras merupakan gold standart untuk membedakan dengan stroke
hemoragik, karena sama sama tampak hiperdense jika tanpa kontras.
Namun, CT Scan tetap unggul dalam beberapa hal situasi seperti :
- Untuk mendeteksi keterlibatan tulang atau pembuluh darah
- Untuk mendeteksi metastase ke dasar tengkorak, clivus, atau daerah di
dekat foramen Magnum
- Dalam situasi darurat (misalnya, pasien yang tidak stabil dengan dugaan
intratumor Perdarahan), CT bisa lebih cepat bekerja daripada MRI
- Pada pasien yang MRI dikontraindikasikan, entah karena implan zat besi
atau karena klaustrofobia, maka CT Scan berguna untuk melihat adanya
tumor dalam langkah awal menegakkan diagnosis
- CT Scan sangat baik untuk melihat kalsifikasi, lesi erosi atau destruksi
pada tulang tengkorak.
D. PET (Positron Emission Tomography)
PET digunakan pada pasien pascaterapi untuk membedakan antara tumor
yang rekuren dan jaringan nekrosis akibat radiasi. Positron emission
tomography (PET) dengan fluorodeoxyglucose (FDG) digunakan untuk
mendeteksi tumor ganas dengan tingkat metabolisme tinggi. Lesi semacam
itu meningkat lebih besar jumlah glukosa daripada jaringan atau tumor di
sekitarnya dengan tingkat metabolisme yang lebih lambat.
PET berguna dalam situasi berikut:
- Melokalisasi area yang menggunakan glukosa maksimum dalam tumor.
Hal ini dapat memandu dan menunjukkan ahli bedah saraf ke lokasi tumor
biopsi yang paling banyak
perilaku biologis agresif.
- Untuk memungkinkan pemetaan area fungsional otak sebelum operasi atau
radiasi, serta untuk meminimalkan cedera.
- Membedakan tumor rekuren dari radiasi atau nekrosis.
- Membantu membedakan antar grade tinggi (glucose hypermetabolizing)
dengan kelas rendah
(Glukosa hypometabolizing) tumor otak. Pada pasien dengan kadar rendah
Glioma, gambar FDG-PET yang menunjukkan hipometabolisme yang
menyebar dapat mendukung perlakuan untuk menunda perawatan,
sementara daerah hiperabolik yang menunjukkan tumor berpotensi tinggi
akan memberi tanda untuk dilakukan biopsi atau pengobatan.
E. LCS (Pemeriksaan Cairan Serebrospinal)
Pemeriksaan LCS dapat dilakukan pemeriksaan sitologi dan
flowcytometry untuk menegakkan diagnosis limfoma pada susunan saraf
pusat atau kecurigaan metastasis leptomeningeal atau penyebaran
kraniospinal, seperti ependimoma.
F. SPECT-CT Foton Tunggal
Pencitraan SPECT - CT foton foton tunggal (SPECT) menggunakan
berbagai isotop untuk mendeteksi kelainan pada sawar darah otak. SPECT
pra operasi menggunakan thallium-201 yang berguna untuk membedakan
lesi jinak dan lesi otak ganas, digunakan untuk memprediksi tingkat
histologis otak tumor, dan area terpilih untuk biopsi. Serapan 201-Tl tidak
terpengaruh oleh pengobatan steroid yang diberikan.

3.7 Tatalaksana Tumor Otak


1. Penurunan tekanan intrakranial
Pasien dengan kanker otak sering datang dalam keadaan
neuroemergency akibat peningkatan tekanan intrakranial. Hal ini
terutama diakibatkan oleh efek desak ruang dari edema peritumoral
atau edema difus, selain oleh ukuran massa yang besar atau
ventrikulomegali karena obstruksi oleh massa tersebut. Gejala yang
muncul dapat berupa nyeri kepala, mual dan muntah, perburukan
gejala neurologis, dan penurunan kesadaran. Pemberian kortikosteroid
sangat efektif untuk mengurangi edema serebri dan memperbaiki
gejala yang disebabkan oleh edema serebri. Agen yang
direkomendasikan adalah deksametason dengan dosis bolus intravena
10 mg dilanjutkan dosis rumatan 16-20mg/hari intravena lalu
tappering off 2-16 mg (dalam dosis terbagi) bergantung pada klinis.
Mannitol tidak dianjurkan diberikan karena dapat memperburuk
edema, kecuali bersamaan dengan deksamethason pada situasi yang
berat, seperti pascaoperasi. Pemberian deksametason dapat diturunkan
secara bertahap, sebesar 25-50 dari dosis awal tiap 3-5 hari,
tergantung dari klinis pasien. Pada pasien kanker otak metastasis yang
sedang menjalani radioterapi, pemberian deksametason bisa
diperpanjang hingga 7 hari.
2. Pembedahan
Operasi pada kanker otak dapat bertujuan untuk menegakkan
diagnosis yang tepat, menurunkan tekanan intrakranial, mengurangi
kecacatan, dan meningkatkan efektifitas terapi lain. Reseksi tumor
pada umumnya direkomendasikan untuk hampir seluruh jenis kanker
otak yang operabel. Kanker otak yang terletak jauh di dalam dapat
diterapi dengan tindakan bedah kecuali apabila tindakan bedah tidak
memungkinkan (keadaan umum buruk, toleransi operasi rendah).
Teknik operasi meliputi membuka sebagian tulang tengkorak dan
selaput otak pada lokasi tumor. Tumor diangkat sebanyak mungkin
dan sampel jaringan dikirim ke ahli patologi anatomi untuk diperiksa
jenis tumor. Pada keadaan peningkatan tekanan intrakranial akibat
sumbatan cairan otak, dapat dilakukan pemasangan pirau
ventrikuloperitoneal (VP shunt).
Biopsi stereotaktik dapat dikerjakan pada lesi yang letak dalam. Pada
operasi biopsi stereotaktik dilakukan penentuan lokasi target dengan
komputer dan secara tiga dimensi (3D scanning). Pasien akan
dipasang frame stereotaktik di kepala kemudian dilakukan CT scan.
Hasil CT scan diolah dengan software planning untuk ditentukan
koordinat target. Berdasarkan data ini, pada saat operasi akan dibuat
sayatan kecil pada kulit kepala dan dibuat satu lubang (burrhole) pada
tulang tengkorak. Kemudian jarum biopsi akan dimasukkan ke arah
tumor sesuai koordinat.
Pada glioma derajat rendah dilakukan reseksi tumor secara maksimal.
Pada pasien dengan total reseksi dan subtotal reseksi tanpa gejala yang
mengganggu, maka cukup dilakukan follow up MRI setiap 3 – 6 bulan
selama 5 tahun dan selanjutnya setiap tahun. Bila operasi tetap
menimbulkan gejala yang tidak dapat dikontrol dengan obat
simtomatik, maka radioterapi dan kemoterapi merupakan pilihan
selanjutnya.
Pada glioma derajat tinggi maka operasi dilanjutkan dengan
radioterapi dan kemoterapi.
3. Radioterapi
Radioterapi diberikan pada pasien dengan keadaan inoperabel, sebagai
adjuvant pasca operasi, atau pada kasus rekuren yang sebelumnya
telah dilakukan tindakan operasi Pada dasarnya teknik radioterapi
yang dipakai adalah 3D conformal radiotherapy, namun teknik lain
dapat juga digunakan untuk pasien tertentu seperti stereotactic
radiosurgery / radiotherapy, dan IMRT.
4. Kemoterapi
Kemoterapi pada kasus kanker otak saat ini sudah banyak digunakan
karena diketahui dapat memperpanjang survival rate dari pasien
terutama pada kasus astrositoma derajat ganas. Glioblastoma
merupakan tipe yang bersifat kemoresisten, namun 2 tahun terakhir ini
sedang berkembang penelitian mengenai kegunaan temozolomid dan
nimotuzumab pada glioblastoma. Kemoterapi bertujuan untuk
menghambat pertumbuhan tumor dan meningkatkan kualitas hidup
(quality of life) pasien semaksimal mungkin. Kemoterapi biasa
digunakan sebagai kombinasi dengan operasi dan/atau radioterapi.
Tatalaksana kanker otak dengan menggunakan kemoterapi seringkali
terhambat akibat penetrasi kemoterapi sistemik yang rendah untuk
menembus sawar darah otak. Pemberian kemoterapi intratekal
merupakan salah satu upaya untuk memberikan agen antikanker
langsung pada susunan saraf pusat.
5. Tatalaksana nyeri
Pada kanker otak, nyeri yang muncul biasanya adalah nyeri kepala.
Nyeri kepala akibat kanker otak bisa disebabkan akibat traksi
langsung tumor terhadap reseptor nyeri di sekitarnya. Gejala klinis
nyeri biasanya bersifat lokal atau radikular ke sekitarnya, yang disebut
nyeri neuropatik. Pada kasus ini pilihan obat nyeri adalah analgesik
yang tidak menimbulkan efek sedasi atau muntah karena dapat mirip
dengan gejala kanker otak pada umumnya. Oleh karena itu dapat
diberikan parasetamol dengan dosis 20mg/berat badan perkali dengan
dosis maksimal 4000 mg/hari, baik secara oral maupun intravena
sesuai dengan beratnya nyeri. Jika komponen nyeri neuropatik yang
lebih dominan, maka golongan antikonvulsan menjadi pilihan utama,
seperti gabapentin 100-1200mg/hari, maksimal 3600mg/hari.
Nyeri kepala tersering adalah akibat peningkatan tekanan intrakranial,
yang jika bersifat akut terutama akibat edema peritumoral. Oleh
karena itu tatalaksana utama bukanlah obat golongan analgesik,
namun golongan glukokortikoid seperti deksamethason atau
metilprednisolon intravena atau oral sesuai dengan derajat nyerinya.
6. Tatalaksana Kejang
Bentuk bangkitan yang paling sering pada pasien kanker otak adalah
bangkitan fokal dengan atau tanpa perubahan menjadi umum
sekunder. Oleh karena tingginya tingkat rekurensi, maka seluruh
pasien kanker otak yang mengalami kejang harus diberikan
antikonvulsan. Obat antikonvulsan yang sering diberikan seperti
fenitoin dan karbamazepin kurang dianjurkan karena dapat
berinteraksi dengan obat-obatan, seperti deksamethason dan
kemoterapi. Alternatif lain mencakup levetiracetam, sodium valproat,
lamotrigin, klobazam, topiramat, atau okskarbazepin. Levetiracetam
lebih dianjurkan (Level A) dan memiliki profil efek samping yang
lebih baik dengan dosis antara 20-40 mg/kgBB, serta dapat digunakan
pasca operasi kraniotomi.
7. Psikiatri
Pasien dengan kanker otak dapat mengalami gangguan psikiatri
hingga 78%, baik bersifat organik akibat tumornya atau fungsional
yang berupa gangguan penyesuaian, depresi, dan ansietas. Hal ini
dapat menghambat proses tatalaksana terhadap pasien. Oleh karena
itu, diperlukan pendampingan mulai dari menyampaikan informasi
tentang diagnosis dan keadaan pasien (breaking the bad news) melalui
pertemuan keluarga (family meeting) dan pada tahap-tahap
pengobatan selanjutnya. Pasien juga dapat diberikan psikoterapi
suportif dan relaksasi yang akan membantu pasien dan keluarga,
terutama pada perawatan paliatif.

3.8 Komplikasi Tumor Otak


 Edema Serebral
Hal ini terjadi karena adanya suatu peningkatan yang terjadi pada
cairan otak dengan berlebihan yang kemudian mengalami
penumpukan pada sekitar lesi sehingga menyebabkan efek massa
menambah dan mendesak atau space occupying. Edema serebri bisa
terjadi eksrasel atau vasogenik atau juga intrasel
 Hidrosefalus
Gangguan ini terjadi dengan meningkatnya intracranial yang
disebabkan oleh adanya obstruksi aliran cairan serebrospinal dan
peningkatan produksi cairan serebrospinal.
 Herniasi Otak
Komplikasi ini ditandai dengan meningkatnya cairan intrakranial yang
terdiri dari herniasi sentra, singuli dan unkus.
 Epilepsi
 Metastase ketempat yang lainnya
3.9 Prognosis
Meskipun diobati, hanya sekitar 25% penderita kanker otak yang
bertahan hidup setelah 2 tahun. Prognosis yang lebih baik ditemukan pada
astrositoma dan oligodendroglioma, dimana kanker biasanya tidak
kambuh. Sekitar 50% penderita meduloblastoma yang diobati bertahan
hidup lebih dari 5 tahun.
Pengobatan untuk kanker otak lebih efektif dilakukan pada:
 penderita yang berusia dibawah 45 tahun
 penderita astrositoma anaplastik
 penderita yang sebagian atau hampir seluruh tumornya telah diangkat
melalui pembedahan.
Berdasarkan data di Negara-negara maju, dengan diagnosis dini dan
juga penanganan yang tepat melalui pembedahan dilanjutkan dengan
radioterapi, angka ketahanan hidup 5 tahun (5 years survival) berkisar 50-
60% dan angka ketahanan hidup 10 tahaun (10 years survival) berkisar 30-
40%. Terapi tumor otak di Indonesia secara umum prognosisnya masih
buruk, berdasarkan tindakan operatif yang dilakukan pada beberapa rumah
sakit di Jakarta.
DAFTAR PUSTAKA
1. Harsono, Tumor Otak dalam Buku Ajar Neurologi Klinis edisi I, Gajah
Mada University Press, Yogyakarta, 1999 : 201 – 207
2. Uddin,Jurnalis. Kerangka Umum Anatomi Susunan Saraf dalam Anatomi
susunan saraf manusia. Langgeng sejati. Jakarta; 2001: 3-13
3. Price,Sylvia A.Tumor Sistem Saraf Pusat dalam Patofisiolosi edisi 6,
EGC. Jakarta.2005. 1183-1189
4. Gartner LP, Hiatt JL. Color textbook of histology: 3rd edition.
Philadelphia: Saunders Elsevier; 2007
5. Junqueira LC, Carneiro J. Basic histology text and atlas: 11th edition. New
York: McGraw-Hill Medical; 2005
6. Jusuf AA. Catatan kuliah: aspek histologis dalam neurosains. Jakarta:
Departemen Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010
7. Mardjono, Mahar. Proses neoplasmatik di susunan saraf. Dalam: neurologi
klinis dasar. Jakarta: PT. Dian Rakyat; 2008. hal. 390 – 402.
8. Kaye, AH, Laws, ER, Brain Tumor: An Encyclopedic Approach Third
Edition. Philadelphia: Saunders Elsevier: 2012.
9. DEPKES. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tumor Otak.
kanker.kemkes.go.id/guidelines/PNPKOtak.pdf, Diakses pada Mei 2017
10. Eric T Wong, Julian K W. Clinical presentation and diagnosis of brain
tumors. 2011. Diakses dari : www.uptodate.com
11. Jeffrey N Bruce. Brain Cancer Treatment Protocols. 2016. Diakses dari:
www.emedicine.medscape.com