Anda di halaman 1dari 14

Struktur Mulut dan Proses Pencernaan Makanan

dalam Tubuh Manusia


Rosinta simbolon*
102011395
Mahasiswa, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
Email:rosintasimbolonsinta@ymail.com

Pendahuluan
Makhluk hidup seperti manusia selalu membutuhkan suplai makanan untuk menjaga
kelangsungan hidupnya. Sebelum dapat digunakan tubuh, makanan dicerna dalam sistem
pencernaan. Sistem pencernaan manusia terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar
pencernaan. Saluran pencernaan terdiri dari organ-organ pencernaan seperti lidah,
kerongkongan, lambung, usus, sedangkan kelenjar pencernaan meliputi kelenjar ludah, hati,
kelenjar dinding lambung, dan kelenjar pankreas.
Sistem digestivus atau sistem gastroinstestin, adalah sistem organ dalam mahluk
hidup multisel yang menerima makanan, mencernanya menjadi energi dan nutrien, serta
mengeluarkan sisa proses tersebut. Sistem pencernaan antara satu hewan dengan yang lainnya
bisa sangat jauh berbeda. Pada dasarnya sistem pencernaan makanan dalam tubuh manusia
dibagi menjadi 3 bagian, yaitu proses penghancuran makanan yang terjadi dalam mulut
hingga lambung. Selanjutnya adalah proses penyerapan sari - sari makanan yang terjadi di
dalam usus. Kemudian proses pengeluaran sisa - sisa makanan melalui anu
Struktur Makroskopis Pencernaan
Cavum Oris

1
Mulai dari rima oris terakhir di isthmus faucium. Selain merupakan permulaan sistem
pencernaan, rongga mulut juga berfungsi sebagai rongga yang dilalui udara pernapasan dan
juga penting untuk pembentukan suara. Rongga mulut dibagi dalam vestibulum oris dan
cavum oris propium.
Daerah antara bibir (labium) dan pipi (bucca) di sebelah luar dan gigi geligi dan
prosesus alveolarisnya di sebelah dalam. Labium, disudut kanan-kiri saling berhubungan
pada angulus oris. Bucca, terdapat di daerah diantara angulus oris sampai tepi depan M.
masseter.Selaput lendir melapisi vestibulum oris disebelah dalam. Digaris tengah terdapat
suatu lipat yang menghubungkan bibir dengan processus alveolaris dan dinamakan frenulum
labii superioris et inferoris.
Gigi geligi
Terletak pada prosessus alveolaris yang dilapisi oleh selaput lendir (gingiva). Setiap orang
memiliki 16 gigi rahang atas maupun rahang bawah yang terdiri atas: 2 gigi seri (dens
incisivus), 1 gigi taring (dens caninus), 2 geraham depan (dens premolar), 3 geraham
belakang (dens molaris).
Pada gigi dapat dibedakan, corona (tajuk), collum (leher) dan radix (akar). Di dalam gigi
terdapat suatu rongga yang melalui canalis radicis berhubungan dengan dunia luar.
Permukaan gigi dinamakan sesuai arah yang dihadapinya:

 ke arah bibir : facies labialis


 ke arah lateral/pipi : facies buccalis
 ke arah lidah : facies lingualis
 gigi sebelah depannya/proximal : facies mesialis (contacta)
 gigi sebelah belakangnya/distal : facies distalis (contacta)
 gigi-geligi rahang berlawanan : facies masticatoria
Pendarahan:

 Pembuluh-pembuluh nadi
Gigi geligi atas: cabang-cabang A. facialis rr. Alveolaris superiores dan A. infra
orbitalis: ramus alveolaris superiorvanterioa. Gigi-geligi bawah a. alveolaris inferior,
cabang a. facialis. Gigi sisi lingual oleh a. palatini major, sedangkan sisi labial oleh
a. buccalis.
 Pembuluh balik:Rahang atas ke v. facialis atau plexus pterygoideus. Rahang bawah
melalui v. alveolaris inferior ke dalam v. maxillaris

2
Palatum
Palatum terdiri atas palatum durum (tulang) dan palatum molle (otot).

 Palatum Durum : adalah suatu sekat yang terbentuk oleh processus palatinus ossis
maxillae dan processus horizontalis ossis palati. Tulang – tulang ini dilapisi oleh selaput
lendir di sisi superior (cavum nasi) dan inferior (cavum oris)

 Palatum Molle : terdiri atas suatu aponeurosis yang merupakan tempat lekat bagi
beberapa otot. Pada palatum molle terdapat beberapa otot yaitu M. tensor veli palatini
yang berfungsi menegangkan palatum molle dan membuka tuba auditiva, M. levator veli
palatini berfungsi membuka tuba auditiva, Mm Uvulae berfungsi memendek uvula dan
mengangkatnya ke arah postero-kranial, M.palatoglossus berfungsi memperkecil isthmus
faucium (spincter), M. palatopharyngeus berfungsi memperkecil isthmus faucium dan
menarik larynx ke atas.

Diapragma Oris
Dasar mulut di bentuk oleh 3 otot : M. Digastricus venter anterior, M. mylohyoideus, M.
geniohyoideus, yang berfungsi membuka mulut

Isthmus Faucium
Adalah hubungan antara rongga mulut dan oropharynx, dengan batas-batasnya yaitu tepi
bebas palatum molle, arcus palatoglossus, dan dorsum linguae. Bila mulut dibuka akan
tampat dua lingkungan yaitu arcus palatoglossus didepan yang lebih ke lateral dan arcus
palatopharyngeus dibelakang yang lebih ke medial. Diantara ke dua arcus tersebut terdapat
sinus (fossa) tonsilaris, didalam mana terletak tonsila Palatina (amandel)

Lidah
Lidah adalah suatu organ yang sangat lentur, terutama berfungsi bila berbicara. Lidah
mengisi cavum oris hampir seluruhnya dan melekat pada dasar mulut. Padanya dapat
dibedakan bagian oral (apex dan corpus) dan pharyngeal (radix). Di antara corpus dan radix
linguae terdapat alur berbentuk V yang dinamakan sulcus terminalis. Pada ujung alur tersebut
di garis tengah terdapat suatu lekuk kecil yaitu foramen caecum linguae (morgagnii) yang
merupakan muara ductus thyreoglossus sewaktu embrional.
Dorsum linguae : di garis tengah terdapat silcus medianus yang letaknya sesuai dengan
septum lingue, suatu sekat di bawahnya yang vertikal. Dorsum linguae ini melengkung
konveks ke atas menyentuh palatum.

3
Bagian 2/3 depan (corpus): selaput lendir mengandung banyak tonjolan yaitu papillae
linguales yang bermacam-macam: filiformis, fungiformis, foliata, vallatae.
Bagian 1/3 belakang (radix): mengandung banyak kelenjar-kelenjar getah bening (tonsila
lingualis) yang bersama dengan tonsllae palatinee dan tonsila pharyngea (adenoid)
membentuk cincin waldayer.

Pada permukaan bawah lidah ditemukan suatu lipat di garis tengah ialah frenulum linguae. Di
samping kanan-kirinya tampak bayangan vv. Linguales. Lebih ke lateral ada plicae fimbriatae
yang melapisi aa. Profunda linguae bersama n. lingualis.

Lidah terutama terdiri atas otot-otot yang dibedakan menjadi otot ekstrinsik dan otot
instrinsik. Otot-otot ekstrinsik menggerakan lidah sebagai satu kesatuan. Otot-otot intrinsik
merubah-rubah bentuk lidah. Otot-oto ekstrinsik yaitu M. genioglossus yang berfungsi
menjulurkan lidah, M. hyoglossus berfungsi menarik (depresi lidah ke bawah), M.
styloglossus berfungsi mengangkat lidah ke arah postero- cranial, M. palatoglossus berfungsi
memperkecil isthmus faucium (sphincter). Otot-otot intrinsik yaitu M. verticalis, M
longitudinalis superior et inferior dan M transversalis.
a. Kelenjar – Kelanjar Ludah

 Glandula Parotis

Glandula parotis berbentuk piramida dan terletak di fossa retromandibulare antara os


mandibula dan m. sternocleidomastoideus. Di dalam kelenjar ini terletak (dari
lateral ke medial) N. facialis (VII), V facialis posterior dan A. carotis externa. Dari
pertengahan tepi depannya keluar saluran keluarnya ductus parotideus (stenoni),
yang menuju ke arah depan sejajar .

 Glandula Submandibularis

Pada glandula submandibulari dapat dibedakan 2 bagian: yang dangkal dan yang
dalam. Bagian yang dangkal terletak di bawah M. mylohyoideus, antara M.
stylohioideus, M. digastricus dan mandibula. Pada permukaannya terdapat beberapa
nodi lymphatici submandibulares. Saluran keluarnya adalah ductus submandibularis
whartoni, yang menuju ke depan melalui sisi medial glandula sublingualis dan
bermuara bersama saluran keluar kelenjar sisi yang lain di carancula sublingualis s.
papilla salivalis inferior, yang terletak di belakang gigi seri rahang bawah.

4
 Glandula Sublingualis

Glandula sublingualis berbentuk memanjang dan terletak di dasar rongga mulut


dekat frenulum linguae, diantara M. geniohyoideus dan M. genioglossus sebelah
medial dan M. hyoglossus sebelah lateral. Glandula sublingualis menimbulkan
suatu lipat pada selaput lendir di atasnya, yang disebut plica sublingualis. Bagian
depannya terletak di fossa sublingualis, bagian belakangnya menyentuh glandulla
submandibularis dan dialalui oleh n. lingualis dan n. hypoglossus. Di sisi medial
berlalu ductus submandibularis. Saluran keluar dari bagian depan ductus (ductus
sublingualis major) bermuara ke dalam ductus submandibularis. Bagian belakang
memiliki beberapa saluran keluar (ductuli sublinguales minores dari Ruvini) yang
bermuara ke dalam rongga mulut pada plica sublingualis.

Otot-Otot Pengunyah
Terdapat 4 otot penguyah yang melekatkan mandibula pada basis cranii, ialah :

 Otot-otot yang dangkal : M. masseter menutupi ramus ascendens mandibulae dan


terdiri atas 2 bagian pars superficialis dan pars profunda. M masseter menutupi M.
buccinator dan untuk sebagian ditutup oleh glandula parotis . Fascia parotidea-
messeterica menutupi kedua-duanya.M. Temporalis, berbentuk kipas terdiri atas dua
bagian, yaitu pars anterior dan pars horizontalis.

 Otot-otot yang dalam : M. pterygoideus lateralis/ externus dan M. pterygoideus


medialis/internus.

Persarafan otot-otot ini : n. mandibularis. Terdapat ikhtisar gerak otot-otot


penguyah, yaitu :

 Membuka mulut : gaya berat bumi, M. pterygoideus lateralis, M. digastricus venter


anterior, M. mylohyoideus, M. geniohyoideus, M. genioglossus, dan otot-otot
infrahyoideus.

 Menutup mulut : M.masseter, M. temporalis (serabut-serabut vertikal), M.


pterygoideus mediales kedua sisi bersama-sama

 Proctatile mandibula : Mm. pterygoideus laterales (kedua sisi) bersama-sama, M.


pterygoideus mediales + laterales bersama-sama.

5
 Gerak ke sisi kontralateral : mm. pterygoideus mediales et laterales satu sisi.

Struktur Mikroskopis Sistem Pencernaan


A. Bibir / Labia
Terdiri dari susunan otot kerangka dibagian luar dibungkus oleh kulit dan dibagian
dalam selaput lendir kutan. Bagian luar / kulit ditandai dengan adanya rambut, kelenjar
lemak, kelenjar keringat dan epidermis yang bertanduk. Bagian tengah terdiri dari bagian otot
kerangka. Bagian dalam berbatasan dengan rongga mulut terdiri dari selaput lendir kutan
yang pada submukosa terdapat kelenjar. Integumentum labialis memiliki ujung-ujung saraf di
samping rambut peraba (tactile hairs).2
B. Pipi / Buccae
Pipi memiliki lapis pokok, yakni :
 Lapis luar (Intergumentum buccales) terdiri dari otot kerangka dan kelenjar (glandula
buccales), terletak pada submukosa bahkan diantara otot.
 Lapis dalam, terdiri dari selaput lendir kutan yang berperan membantu pencernaan
makanan.2
C. Langit-Langit / Palatum
Ada dua yaitu : palatum molle dan palatum durum. Palatum molle terdiri dari otot
kerangka di bagian tengahnya, bagian oral dibalut oleh selaput lendir kutan dan bagian aboral
oleh selaput lendir berkelenjar dengan epitel silindris banyak baris bersilia.Jaringan limfoid
terdapat pada kedua bagian. Sedangkan palatum durum menunjukkan rigi-rigi, karena
penebalan mukosa,submukosa mengandung pleksus venosus.2
D. Lidah / Linguae
Lidah merupakan organ muskular yang ditutupi oleh membrana mukosa. Berperan
dalam prehensi, mastikasi, dan perasa. Terdiri dari epitel squamosum kompleks dan otot
kerangka dengan jaringan ikat penunjang yang banyak mengandung lemak dan pada bagian
tertentu terdapat kelenjar ebner.2
Pada lidah terdapat empat (4) macam papil (papillae linguales) yakni :3
1. Papillae filiformis
Berupa penonjolan jaringan ikat dari lamina propria dengan epitel berkeratinosasi.
Bagian yang mengarah ke depan terdapat papil penunjang, yang memanjang papil
primer di belakangnya.Ciri khas papil ini tidak memiliki putik pengecap dan kelenjar
pada submukosa. Fungsi papil ini adalah mendorong makanan kedalam rongga mulut.
2. Papillae fungiformis

6
Bentuknya mirip jamur dengan jaringan ikat mengandung pembuluh darah dan saraf.
Epitelnya non keratinisasi dan jarang mengandung putik pengecap.
3. Papillae circumvallate/papillae vallatae
Bentuknya mirip papillae filiformis tetapi lebih besar. Bersifat soliter dan memiliki
alur samping cukup dalam. Oleh karenanya sering disebut alur pengecap. Lamina
propria membentuk papil-papil mikroskopik dan banyak mengandung saraf serta
limfosit. Pada submukosa dan bahkan diantara otot lidah terdapat gugus kelenjar
sereus dengan saluran bermuara pada dasar alur pengecap. Kelenjar lidah ini dikenal
sebagai Von ebner. Papila ini umumnya memiliki putik pengecap cukup banyak.
4. Papillae foliatae
Bentuknya seperti daun yang tersusun paralel dan diantaranya terdapat alur pengecap.
Pada submukosa dan diantara otot lidah terdapat banyak kelenjar serosa yang
bermuara pada alur pengecap. Pada manusia tidak terdapat papilla foliatae. Jadi dapat
ditarik kesimpulan bahwa semakin banyak putik pengecap pada papil semakin banyak
pula kelenjar terdapat pada submukosa. Dengan demikian semakin jelas peranan
kelenjar ebner dalam membantu putik pengecap pada proses mengecap makanan.
E. Kelenjar air liur / glandula salivares
Fungsi kelenjar air liur adalah membasahi dan melumasi rongga mulut dan usus,
memulai pencernaan makanan, menyelenggarakan ekskresi zat-zat tertentu. Pada dinding
rongga mulut terdapat 3 kelenjar air liur utama yaitu :3
1. Kelenjar parotis / glandulae parotis
Kelenjar yang tergolong paling besar bersifat serosa murni. Dalam tiap lobulus selain
terdapat ujung kelenjar serosa ditemukan pula 2 bentuk alat penyalur yaitu ductus
intercalatus dan ductus spreatus (intralobularis). Diantara ujung kelenjar terdapat
jaringan ikat interstitial. Pada jaringan ikat interlobularis dan pembuluh darah. Ductus
ini dan ductus parotideus memiliki epitel silindris banyak lapis dan sering terlihat
adanya sel goblet. Sekreta kelenjar parotis bersifat encer, mengandung protein tanpa
musin.
2. Kelenjar submandibularis
Umumnya mirip kelenjar parotis, hanya saja ujung kelenjar bersifat seromukosa.
3. Kelenjar sublingualis
Kelenjar ini tergolong kelenjar campuran, tetapi sel-sel mukosa relatif lebih banyak
daripada sel-sel serosa. Disamping kelenjar utama terdapat pula kelenjar yang lebih
kecil yang disebar pada dinding rongga mulut.
7
F. Faring
Berupa rongga dimana tujuh saluran bermuara kedalamnya. Secara histologik
dibedakan atas nasofaring dan orofaring.2
 Nasofaring
Selaput lendirnya adalah selaput lendir berkelenjar, dengan epitel silindris banyak
baris bersilia, dan diantaranya terdapat sel goblet. Pada propria mukosa terebar kelenjar
seromukosa dan jaringan limfoid berupa tonsilla faringea. Tonsilla faringea merupakan
jaringan limfoepitelial berbentuk triangular terletakpada aspek posterior. Adenoid berbatasan
dengankavum nasi dan sinus paranasalis pada bagiananterior, kompleks tuba eustachius-
telinga tengah-kavum mastoid pada bagian lateral. Ujung kelenjar seromukosa lebih banyak
memiliki sel yang bersifat serosa.
 Orofaring
Selaput lendirnya adalah selaput lendir kutan dengan banyak papil mikroskopik. Pada
tunika propria terdapat kelenjar mukosa dan jaringan limfoid yang membentuk tonsilla
palatina. Tonsilla palatine adalah dua massa jaringan limfoid berbentuk ovoid terletak
didinding lateral orofaring dalam fossa tonsillaris.Ditutupi membran mukosa dan permukaan
medialnyayang bebas menonjol kedalam faring. Permukaan berlubang-lubang kecil berjalan
ke dalam “Cryptae Tonsillares” berjumlah 6-20 kripta.Tonsilla iniberfungsi sebagai sistem
kekebalan yang menjaga tubuh manusia dari infeksi, khususnya infeksi saluran nafas atas dan
faring.
Fascia bagian dalam merupakan batas dengan selaput lendir yang terdiri dari serabut
elastis.Dibawahnya terdapat lapis otot kerangka yang tersusun secara memanjang dan
melintang. Fascia bagian luar terdiri dari serabut kolagen dengan sedikit serabut elastis, dan
langsung berbatasan dengan adventisia yang banyak mengandung pembuluh darah, limfe,
saraf, dan folikel getah bening.
G. Esophagus
Berupa saluran yang cukup panjang yang menghubungkan faring dengan lambung.
Terbagi atas tiga daerah antara lain : pars cervicalis, pars thoracis, dan pars abdominis.
Esophagus memiliki lapis umum saluran pencernaan secara lengkap yaitu:2
 Tunika Mukosa
 Selaput lendir kutan membentuk lipatan-lipatan memanjang.
 Tunika propria tidak tampak kelenjar dan terdiri dari jaringan ikat yang banyak
mengandung sel.

8
 Muskularis mukosa, terdiri dari otot polos tersusun memanjang. Pada manusia
merupakan lapisan yang utuh.
 Submukosa
Terdiri dari jaringan ikat longgar yang mengandung sel lemak, pembuluh darah,
jaringan limfoid dan kelenjar (glandula esophageae).
 Tunika Muskularis
Terdiri dari otot kerangka dan otot polos tergantung pada daerahnya. Sebagian besar
terdiri dari otot kerangka, kecuali daerah sepertiga bagian belakang terdiri dari otot
polos. Tunika muskularis membentuk lapis melingkar (dalam), dan memanjang (luar)
dan dipisah oleh jaringan ikat.
 Tunika Adventisia
Di daerah leher esophagus dibalut oleh adventisia tetapi di daerah dada dan perut
dibalut oleh serosa.

Mekanisme Pencernaan
 Proses Mengunyah Makanan (mastikasi)
Ini merupakan langkah awal dari pencernaan. Tujuan mengunyah adalah:4
a. Menggiling dan memecah makanan menjadi potongan-potongan yang lebih kecil
untuk mempermudah menelan dan mempermudah kerja enzim pencernaan (yang
bekerja hanya pada permukaan partikel makanan), serta mencegah terjadinya
ekskoriasi traktus GI.
b. Mencampur makanan dengan saliva liur yang mengandung enzim ptyalin.
Karbohidrat yang masih berupa polisakarida dipecah menjadi disakarida yaitu maltosa
dan polimer glukosa kecil lainnya. Proses ini hanya sebagian kecil saja karena
makanan akan ditelan dan dalam lambung enzim ini menjadi tidak aktif.
c. Merangsang papil pengecap. Ini tidak hanya berperan dalam menimbulkan sensasi
rasa, tetapi juga secara refleks memicu sekresi saliva, lambung, pankreas, dan empedu
sebagai persiapan untuk menyambut kedatangan makanan.
Prosesnya:Gigi anterior (incisivus) bekerja dalam memotong makanan, gigi taring
merobek makanan, dan gigi posterior yang akan menggiling. Gigi atas dan bawah biasanya
tepat satu sama lain saat kedua rahang dikatupkan. Oklusi tersebut memungkinkan hancurnya
makanan di antaa kedua permukaan. Semua otot rahang bawah bekerja bersama-sama dalam
mengatupkan gigi. Lidah berperan dalam mencampur makanan dengan saliva agar lebih
lunak dan mudah dihancurkan oleh gigi.
9
Pada umumnya otot pengunyah dipersarafi oleh cabang motorik dari saraf kranial ke
V, dan proses mengunyah dikontrol oleh nukleus dalam batang otak. Perangsangan daerah
retikularis spesifik pada pusat pengecapan batang otak akan menimbulkan pergerakan
mengunyah yang ritmis. Demikian pula, perangsangan area di hipotalamus, amigdala, dan
bahkan di korteks serebri dekat area sensoris untuk pengecapan dan penghidu, seringkali
dapat menimbulkan gerakan mengunyah.
Sebagian besar proses mengunyah terjadi karena refleks mengunyah. Adanya bolus
makanan menimbulkan penghambatan otot untuk mengunyah (menarik rahang ke bawah).
Akibat penurunan rahang ini timbul refleks regang pada otot rahang bawah menimbulkan
rebound →mengangkat rahang bawah → mengatupkan gigi dan menekan bolus ke dinding
mulut → menghambat otot rahang bawah → rebound, dan terjadi berulang-ulang.
Fungsi saliva:4
 Melembutkan makanan
 Lubricate makanan dan mulut
 Dissolves makanan sehingga kita bisa merasakannya (taste it)
 Menjaga pH mulut
 Proteksi, lisozim sebagai antibakteri
 Mencuci mulut dan menjaga agar lidah bebas dari partikel makanan.
Saliva disekresi ± 1500/hari. Komposisinya terdiri dari 99,5% air dan 0,5% elektrolit
dan protein. Proteinnya terdiri dari enzim (lipase lingual dan ptyalin/amylase saliva), mucus
(musin), dan lisozim. Bahan anorganiknya antara lain: ion Na, K, Cl, dan bikarbonat.

 Proses Menelan Makanan (deglutisi)


Tahap menelan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu tahap volunter, tahap faringeal, dan
tahap esofageal.
a. Tahap volunteer
Saat bolus sudah siap ditelan, lidah akan terangkat dan menekan palatum untuk
mendorong bolus kedalam faring, dan proses penelanan secara involunter dimulai.
b. Tahap faringeal
Sewaktu bolus makanan memasuki bagian posterior mulut dan faring, bolus
merangsang daerah epitel reseptor menelan di sekeliling pintu faring (pada tiang
tonsil), dan sinyal-sinyal dari sini berjalan ke batang otak untuk mencetuskan
serangkaian kontraksi otot faringeal secara otomatis sebagai berikut:

10
 Palatum molle tertarik keatas untuk menutupi nares posterior→ cegah refluks
makanan ke hidung.
 Lipatan palatofaringeal pada setiap sisi faring tertarik ke arah medial untuk saling
mendekat sehingga membentuk celah sagital yang harus dilewati oleh makanan
yang masuk. Celah ini selektif, hanya makanan yang cukup dikunyah yang dapat
masuk.
 Pita suara laring mendekat, dan laring tertarik ke atas dan anterior oleh otot-otot
leher. Selain itu, ada ligamen yang mencegah pergerakan epiglotis ke atas dan
menyebabkan epiglotis bergerak ke belakang di atas pembukaan laring. Seluruh
efek ini bersama-sama mencegah masuknya makanan ke saluran pernapasan.
 Gerakan laring ke atas akan melebarkan pembukaan ke esofagus yang disertai
relaksasinya sfingter faringoesofageal sehingga makanan dapat bergerak masuk ke
esofagus. Di antara tahap penelanan, sfingter ini selalu berkontraksi untuk
mencegah udara masuk ke esofagus selama respirasi.
 Setelah laring terangkat dan sfingter faringoesofageal relaksasi, seluruh otot
dinding faring berkontraksi, mulai dari bagian superior faring, lalu menyebar ke
bawah melintasi daerah faring media dan inferior, yang mendoorng makanan ke
dalam esofagus melalui gerakan peristaltik.
Seluruh proses tersebut terjadi dalam waktu kurang dari 2 detik.
c. Tahap esophageal
Tidak ada proses khusus pencernaan makanan disini. Dinding saluran esofagus sangat licin
karena mengandung cairan mucus yang dihasilkan sel-sel yang terdapat di dindingnya.Ada 2
gerakan yang dilakukan oleh esofagus, yaitu gerakan peristaltik primer dan sekunder.
Peristaltik primer merupakan kelanjutan dari gelombang peristaltik yang dimulai di faring
dan menyebar ke esofagus selama tahap faringeal. Gelombang peristaltik di esofagus berjalan
sekitar 8-10 detik. Jika gelombang peristaltik primer gagal mendorong semua makanan ke
dalam lambung, terjadi gelombang peristaltik sekunder yang dihasilkan dari peregangan
esofagus oleh makanan yang tertahan. Gelombang ini terus berlanjut sampai semua makanan
masuk lambung. Gelombang peristaltik sekunder ini sebagian dimulai oleh sirkuit saraf
intrinsik dalam sistem saraf mienterikus dan sebagian oleh refleks-refleks yang dimulai pada
faring lalu dihantarkan ke atas melalui serabut-serabut aferen vagus ke medula dan kembali
ke esofagus melalui serabut-serabut saraf eferen glosofaringeal dan vagus.5
Enzim Pencernaan

11
Secara umum enzim memiliki sifat bekerja pada substrat tertentu, memerlukan suhu
tertentu dan keasaman (pH) tertentu pula. Suatu enzim tidak dapat bekerja pada substrat lain.
Molekul enzim juga akan rusak oleh suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Demikian
pula enzim yang bekerja pada keadaan asam tidak akan bekerja pada suasana basa dan
sebaliknya. Macam-macam enzim pencernaan yaitu :7
1. Enzim ptyalin
Enzim ptialin terdapat di dalam air ludah, dihasilkan oleh kelenjar ludah. Fungsi
enzim ptialin untuk mengubah amilum (zat tepung) menjadi glukosa.
2. Enzim amylase
Enzim amilase dihasilkan oleh kelenjar ludah (parotis) di mulut dan kelenjar
pankreas. Kerja enzim amilase, yaitu amilum sering dikenal dengan sebutan zat
tepung atau pati. Amilum merupakan karbohidrat atau sakarida yang memiliki
molekul kompleks. Enzim amilase memecah molekul amilum ini menjadi sakarida
dengan molekul yang lebih sederhana yaitu maltosa.
3. Enzim maltase
Enzim maltase terdapat di usus dua belas jari, berfungsi memecah molekul maltosa
menjadi molekul glukosa. Glukosa merupakan sakarida sederhana (monosakarida).
Molekul glukosa berukuran kecil dan lebih ringan dari pada maltosa, sehingga darah
dapat mengangkut glukosa untuk dibawa ke seluruh sel yang membutuhkan.
4. Enzim pepsin
Enzim pepsin dihasilkan oleh kelenjar di lambung berupa pepsinogen. Selanjutnya
pepsinogen bereaksi dengan asam lambung menjadi pepsin. Cara kerja enzim pepsin
yaitu : enzim pepsin memecah molekul protein yang kompleks menjadi molekul yang
lebih sederhana yaitu pepton. Molekul pepton perlu dipecah lagi agar dapat diangkut
oleh darah.
5. Enzim tripsin
Enzim tripsin dihasilkan oleh kelenjar pancreas dan dialirkan ke dalam usus dua belas
jari (duodenum). Cara kerja enzim tripsin yaitu : asam amino memiliki molekul yang
lebih sederhana jika dibanding molekul pepton. Molekul asam amino inilah yang
diangkut darah dan dibawa ke seluruh sel yang membutuhkan. Selanjutnya sel akan
merakit kembali asam amino-asam amino membentuk protein untuk berbagai
kebutuhan sel.

12
6. Enzim rennin
Enzim renin dihasilkan oleh kelenjar di dinding lambung. Fungsi enzim renin untuk
mengendapkan kasein dari air susu. Kasein merupakan protein susu, sering disebut
keju. Setelah kasein diendapkan dari air susu maka zat dalam air susu dapat dicerna.
7. Asam klorida (HCl)
Asam klorida (HCl) sering dikenal dengan sebutan asam lambung, dihasilkan oleh
kelenjar didalam dinding lambung. Asam klorida berfungsi untuk membunuh
mikroorganisme tertentu yang masuk bersama-sama makanan. Produksi asam klorida
yang tidak stabil dan cenderung berlebih, dapat menyebabkan radang lambung yang
sering disebut penyakit ”maag”.
8. Cairan empedu
Cairan empedu dihasilkan oleh hati dan ditampung dalam kantong empedu. Empedu
mengandung zat warna bilirubin dan biliverdin yang menyebabkan kotoran sisa
pencernaan berwarna kekuningan. Empedu berasal dari rombakan sel darah merah
(eritrosit) yang tua atau telah rusak dan tidak digunakan untuk membentuk sel darah
merah yang baru. Fungsi empedu yaitu memecah molekul lemak menjadi butiran-
butiran yang lebih halus sehingga membentuk suatu emulsi. Lemak yang sudah
berwujud emulsi ini selanjutnya akan dicerna menjadi molekul-molekul yang lebih
sederhana lagi.
9. Enzim lipase
Enzim lipase dihasilkan oleh kelenjar pankreas dan kemudian dialirkan ke dalam usus
dua belas jari (duodenum). Enzim lipase juga dihasilkan oleh lambung, tetapi
jumlahnya sangat sedikit. Cara kerja enzim lipase yaitu : Lipid (seperti lemak dan
minyak) merupakan senyawa dengan molekul kompleks yang berukuran besar.
Molekul lipid tidak dapat diangkut oleh cairan getah bening, sehingga perlu dipecah
lebih dahulu menjadi molekul yang lebih kecil. Enzim lipase memecah molekul lipid
menjadi asam lemak dan gliserol yang memiliki molekul lebih sederhana dan lebih
kecil. Asam lemak dan gliserol tidak larut dalam air, maka pengangkutannya
dilakukan oleh cairan getah bening (limfe).

13
Kesimpulan
Gangguan pada sistem pencernaan ataupun organ-organ yang bersangkutan, dapat
mengakibatkan gangguan pada proses pencernaan makanan karena kesulitan mengunyah
yang menyebabkan sakit gigi, dan hipotesis di terima

Daftar Pustaka
1. Snell RS; editor bahasa Indonesia: Huriawati Hartanto(et al.). Anatomi klinik untuk
mahasiswa kedokteran. Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2006.
2. Eroschenko VP. Atlas histologi di fiore. Edisi ke-9. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2003.h.173-215.
3. Fawcett DW.Buku ajar histologi.Jakarta: EGC; 2002.h.98-117.
4. Sherwood L. Human Physiology : from cells to systems. 5th Ed. Belmont:
Brooks/Cole Cengange Learning; 2004.
5. Widmaier E, Raff H, Vander SK. Sherman & Luciano’s Human physiology: the
mechanisms of body function. 9th Ed. Boston: Mc Graw-Hill; 2004.
6. Ganong W. Review of medical physiology. 21st Ed. New York: Lange Medical
Books; 2003.
7. Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. Biokimia harper. Edisi ke-27. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009.

14