Anda di halaman 1dari 15

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian

Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif berupa

laporan keuangan per tahun pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia ( BEI ). Sumber data diperoleh dari Indonesia Stock Exchange (IDX)

periode tahun 2011-2014.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan tahunan

keuangan 30 perusahaan yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia (BEI) selama

periode tahun 2011-2014. Dalam penelitian ini terdapat 30 perusahaan yang

terpilih berdasarkan kriteria penyaringan sampel. Maka data pengamatan adalah

30 x 4 tahun sehingga jumlah data yang diamati adalah 120 data. Alasan

dipilihnya pengumpulan data dalam penelitian ini adalah untuk mengumpulkan

data berupa dividen payout ratio, laporan keuangan, dan laporan arus kas yang

terdapat dalam perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun

2011-2014 dalam bentuk dokumen. Teknik yang dipilih dalam penelitian ini

adalah teknik purposive sampling. Teknik purposive sampling adalah teknik yang

mengambil sampel dengan menentukan kriteria tertentu. Jumlah populasi dalam

penelitian ini ada 569 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia namun

tidak semua menjadi objek penelitian sehingga perlu dilakukan pengambilan

sampel.

4.2. Perkembangan Pertumbuhan Kebijakan Dividen Pada Perusahaan

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011-2014

Kebijakan dividen memiliki pengaruh besar kecilnya dividend payout ratio (DPR)

terhadap harga pasar saham. Kebijakan dividen berhubungan dengan penentuan


besarnya dividend payout ratio, yaitu besarnya persentase laba bersih setelah

pajak yang dibagikan sebagai dividen kepada pemegang saham. Keputusan

dividen merupakan bagian dari keputusan pembelanjaan perusahaan, khususnya

berkaitan dengan pembelanjaan internal perusahaan. Faktor-faktor yang diteliti

pengaruhnya terhadap rasio pembayaran dividen adalah laba bersih , arus kas

dan ukuran perusahaan. Faktor-faktor tersebut mempunyai hubungan dengan

kebijakan pemberian dividen berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan

sebelumnya. Data empiris berupa Perkembangan Dividend Payout Ratio pada

beberapa buah sampel perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Periode 2011-2014 dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.2
Tabel Perkembangan Dividend Payout Ratio
Periode 2011-2014
Nama Perusahaan 2011 2012 2013 2014
(%) (%) (%) (%)
Astra Agro Lestari Tbk 65.14 44.75 59.01 60.38
Adhi Karya Tbk 30.00 20.00 30.00 20.00
Adaro Energy Tbk 48.08 30.17 32.43 43.66
AKR Corporindo Tbk 37.50 62.28 68.84 62.80
Asuransi Multi Artha Guna Tbk 20.53 30.10 23.43 22.79
Astra International Tbk 45.07 45.03 45.04 45.59
Bank Central Asia Tbk 35.78 24.08 28.54 29.61
Bank Negara Indonesia Tbk 20.00 30.00 30.01 25.00
Bank Rakyat Indonesia Tbk 20.00 29.74 29.74 30.00
Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. 19.93 29.41 30.00 20.00
Bank Mandiri (Persero) Tbk. 20.00 30.00 30.00 25.00
Charoen Pokphand Indonesia Tbk. 29.24 28.10 29.80 16.90
Ciputra Development Tbk. 32.68 30.89 29.50 924.88
Gudang Garam Tbk. 39.31 38.35 35.56 35.56
Vale Indonesia Tbk. 55.61 74.61 63.15 57.42
Indofood Sukses Makmur Tbk. 49.93 49.81 49.80 49.72
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. 29.99 34.80 66.13 94.29
Indo Tambangraya Megah Tbk. 26.65 84.65 210.99 79.19
Kalbe Farma Tbk. 65.09 66.77 44.97 43.14
PP London Sumatra Indonesia Tbk. 40.10 40.34 40.79 39.45
Media Nusantara Citra Tbk. 130.82 46.32 50.02 51.04
Matahari Putra Prima Tbk. 31.85 470.30 224.83 34.95
Tambang Batubara Bukit Asam 60.03 57.26 58.29 37.09
(Persero) Tbk.
PP (Persero) Tbk. 30.00 30.01 30.00 20.00
Pakuwon Jati Tbk. 5.03 22.53 19.13 8.62
Surya Citra Media Tbk. 33.91 51.26 75,411.53 70.41
Semen Indonesia (Persero) Tbk. 50.00 45.00 45.00 40.00
United Tractors Tbk. 51.83 53.57 53.25 64.95
Unilever Indonesia Tbk. 100.06 99.96 99.93 44.67
Wijaya Karya (Persero) Tbk. 29.38 29.76 29.97 20.02
Sumber: IDX 2011-2014

Pada tabel 4.2 diatas perkembangan dividend payout ratio dapat dilihat

perusahaan yang memiliki perkembangan tertinggi pada tahun 2011 adalah

perusahaan Media Nusantara Citra Tbk, yaitu mencapai 130.82 dan perusahaan

Pakuwon Jati Tbk adalah perusahaan yang perkembangannya terendah pada

tahun 2011. Pada tahun 2012 perusahaan yang perkembangan dividen payout

rationya tertinggi ada pada perusahaan Matahari Putra Prima Tbk mencapai

470.30 dan yang terendah dialami oleh perusahaan Adhi Karya Tbk hanya 20.00.

Tahun 2013 perusahaan yang perkembangannya tertinggi dicapai oleh

perusahaan Surya Citra Media Tbk yaitu mencapai 75,411.53 dan perusahaan

yang terendah adalah Asuransi Multi Artha Guna Tbk hanya mencapai 23.43.

Dan pada tahun 2014, perusahaan yang mengalami perkembangan adalah


perusahaan Ciputra Development Tbk mencapai 924.88 dan perusahaan yang

terendah adalah Charoen Pokphand Indonesia Tbk hanya 16.90.

4.3. Perkembangan Laba Bersih pada Perusahaan yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011-2014

Laba bersih adalah hasil dari pendapatan dikurangi dengan keseluruhan beban-

beban Laba bersih berfungsi untuk mencarinya laba operasi ditambah

pendapatan lain-lain dikurangi dengan beban yang lainnya. Untuk mengetahui

perkembangan Laba Bersih pada perusaan yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia (BEI) yang menjadi sampel penelitian, dapat dilihat pada gambar 4.3

Sumber: Lampiran, data diolah (2016)

Gambar 4.3. Perkembangan Laba bersih di Bursa Efek Indonesia Periode


2011-2014.

Selama empat tahun penelitian dapat terlihat bahwa sebagian besar

perusahaan yang menjadi sampel di Bursa Efek Indonesia mengalami

petumbuhan yang tidak stabil dari tahun 2011 hingga 2014. Laba bersih tertinggi

pada tahun penelitian antara 2011 sampai 2014, terjadi pada perusahaan BBCA

dan perusahaan KLBF pada tahun 2011 mencapai 4400. Sedangkan untuk Laba
bersih terendah selama periode penelitian terjadi pada perusahaan Indonesia

CTRA pada tahun 2011 tidak mencapai 100.

4.4. Perkembangan Arus Kas Pada Perusahaan yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia (BEI) periode 2011-2014

Arus kas adalah suatu laporan tentang aktivitas penerimaan dan

pengeluaran kas perusahaan di dalam periode tertentu, serta penjelasan tentang

sumber-sumber pengeluaran dan penerimaan kas tersebut. Setiap sumber

penerimaan dan pengeluaran kas harus dibuat rinciannya tentang berapa banyak

uang yang diperoleh dan berapa banyak uang yang dibutuhkan dari setiap

sumber tersebut. Keseimbangannya akan terlihat dari hasil selisih jumlah aliran

dana tersebut. Untuk mengetahui perkembangan arus kas pada perusaan yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menjadi sampel penelitian, dapat

dilihat pada gambar 4.4

. Sumber: Lampiran, data diolah (2016)

Gambar 4.4. Perkembangan Arus Kas di Bursa Efek Indonesia Periode


2011-2014.

Dalam empat tahun penelitian dapat terlihat bahwa sebagian besar

perusahaan yang menjadi sampel di Bursa Efek Indonesia mengalami


perkembangan arus kas yang tidak stabil dan sedikit perusahaan yang

mengalami perkembangan tersebut. Perusahaan yang mengalami

perkembangan arus kas tertinggi pada tahun penelitian antara 2011 sampai

2014, terjadi pada perusahaan UNVR pada tahun 2013 mencapai 24.

Sedangkan untuk Arus kas terendah selama periode penelitian terjadi pada

perusahaan ADHI pada tahun 2014, yaitu -1.

4.5. Perkembangan Size Operasi Pada Perusahaan yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011-2014

Besar atau kecilnya (ukuran) perusahaan sangat memberikan

berpengaruh pada struktur modal dengan berdasarkan pada kenyataan

bahwa semakin besar suatu perusahaan, semakin besar pula tingkat

pertumbuhan penjualan yang tinggi sehingga perusahaan tersebut, dan akan

lebih berani mengeluarkan saham baru dan kecenderungan untuk

menggunakan jumlah pinjaman juga semakin besar pula. Untuk mengetahui

perkembangan size operasi pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia (BEI) yang menjadi sampel penelitian, dapat dilihat pada gambar 4.5

Sumber: Lampiran, data diolah (2016)


Gambar 4.5. Perkembangan Size Operasi di Bursa Efek Indonesia Periode
2011-2014.

Selama empat tahun penelitian dapat terlihat bahwa sebagian besar perusahaan

yang menjadi sampel di Bursa Efek Indonesia mengalami perkembangan yang

sangat stabil setiap tahunnya, meskipun perkembangannya tidak signifikan.

Selama tahun 2011-2014 perusahaan yang mengalami perkembangan size

operasi yang tinggi adalah perusahaan CTRA, yakni mencapai 30-31.

Sedangkan perusahaan yang terendah adalah perusahaan ASII yang hanya

mencapai 12-13 selama periode 2011 sampai 2014.

4.6. Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif berguna untuk melihat gambaran umum dari data yang

digunakan berupa jumlah data, nilai rata-rata, nilai maksimum dan minimum

serta standar deviasi dari masing-masing variabel. Variabel dalam penelitian ini

meliputi variabel Laba Bersih, Arus kas Koperasi, dan Size Perusahaan. Hasil

olah data deskriptif dalam penelitian ini terdapat pada tabel 4.2 sebagai berikut:

Tabel 4.6. Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Laba Bersih (X)


Arus Kas Koperasi (Y)
Size Perusahaan (Z)
Valid N (listwise)

Sumber: Data diolah menggunakan SPSS versi 23


4.7. Analisis dan Hasil Pembahasan Pengujian Hipotesis

4.7.1. Analisis Regresi Linier Berganda

Tabel 4.7.1.
Hasil Analisis Data (1)

Berdasarkan hasil perhitungan analisis regresi pada table diatas, dapat diperoleh
persamaan sebagai berikut:

Y = 102.957 + 0.140X1+0.088X2 + 0.360X3

Dari persamaan regresi di atas , maka dapat diketahui bahwa:

Konstanta a = 102.957. Hal ini menunjukkan bahwa pada variabel laba bersih,
arus kas, dan size perusahaan adalah nol (0), maka Kebijakan Dividen (Y)
nilainya adalah 102.957 yang akan berpengaruh terhadap perkembangan
perusahaan.

Konstanta variabel Laba bersih (x1) sebesar 0.140; artinya jika variabel X1
bernilai 1, maka nilai Y akan bernilai sebesar 102.957-0.140. Koefisien regresi
pada variabel ini bernilai negatif. Hal ini merupakan koefisien arah variabel yang
menunjukan bahwa variabel ini akan berpengaruh positif terhadap perusahaan.

Konstanta variabel arus kas (x2) sebesar 0.088; artinya jika variabel x2 bernilai 1,
maka nilai Y akan bernilai sebesar 102.957-0.88. Koefisien regresi pada variabel
ini bernilai negative. Hal ini merupakan koefisien arah variabel yang
menunjukkan bahwa variabel ini tidak mengalami perubahan pada perusahaan.

Konstanta variabel size perusahaan (x3) sebesar 0.360; artinya jika variabel x3
bernilai 1, maka nilai Y akan bernilai sebesar 102.957-0.360. Koefisien regresi
pada variabel ini bernilai negatif. Hal ini merupakan koefisien arah variabel yang
menunjukkan bahwa variabel ini tidak mengalami perubahan pada perusahaan.
4.7.2. Uji Normalitas Data

Uji normalitas bertujuan untuk menguji dalam model regresi, variabel dependen

dan independen keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak (Ghozali,

2006). Data yang baik adalah yang memiliki distribusi data normal dan mendekati

normal. Untuk mendeteksi normalitas data dapat diuji dengan kolmogorov-

Smirnov. Berikut adalah hasil gambar uji normalitas data yang digunakan dalam

penelitian ini:

Berdasarkan uji normalitas sub-struktural 2 dengan Kolmogorov-Smirnov Test

diperoleh nilai KSZ sebesar 0,074 dan Asymp.sig sebesar 0,200 lebih besar dari

0,05 maka dapat disimpulkan data berdistribusi normal.


4.7.3. Uji Multikolinearitas

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan

adanya korelasi antar variabel bebas atau tidak. Multikolinearitas dapat dilihat

dari perhitungan nilai tolerance serta Varian Inflation Factor (VIF). Suatu

model regresi dikatakan tidak memiliki kecenderungan adanya gejala

multikolinearitas adalah apabila memiliki nilai VIF yang lebih kecil dari 10.

Hasil pengujian regresi diperoleh nilai-nilai VIF untuk masing-masing variabel

ini dapat dilihat dari tabel 4.7.3 berikut:

a. Uji multikolinieritas

Cek tabel tolerance dan VIF..hasil tdk trjadi multikol

Dari data pada table 4.7.3 di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai VIF dari seluruh
variabel berada dari angka 1. Nilai tolerance seluruh variabel 0,820. Nilai VIF
pada variabel independen memiliki nilai VIF yang lebih kecil dari 10. Nilai VIF
pada ketiga variabel sebesar 1,219. Berdasarkan nilai diatas dapat disimpulkan
bahwa tidak terjadi multikolinearitas.

4.7.4. Uji Heteroskedastisitas

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi

ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang

lain tetap Model regresu yang baik adalah yang homoskedastisitas,

Heteroskedastisitas ditandai dengan ada pola tertentu pada grafik scatterplot.

Jika titik yang ada membentuk pola yang teratur (bergelombang), maka

terjadi heteroskedastisitas. Dari berdasarkan data, diperoleh hasil uji sebagai

berikut:
Dari hasil uji diatas, dapat dilihat pola yang terbentuk tidak teratur, tidak

berbentuk gelombang, titik-titiknya menyebar di bawah dan di atas 0 (nol)

pada sumbu Y. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi

heteroskedastisitas.

4.7.5. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidak penyimpangan

asumsi yang terjadi antara pengataman dengan pengamatan lain pada model

regresi. Berikut adalah hasil data uji autokorelasi yang di dapat:

Nilai lihat tabel durbin watson

Dari hasil di atas didapat nilai Durbin Watson yang dihasilkan adalah 2,163. Dari

table DW dengan signifikansi 0,20 danumlah data (n) = 26, seta k = 3 (k adalah
jumlah variabel independen) diperoleh nilai dL sebesar 310 dan dU sebesar

3901. Karena nilai DW adalah 2163 yang artinya berada di antara dL dan dU,

maka tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti.

4.7.6. Koefisien Korelasi

Uji ini bertujuan untuk menguji tentang derahat keeratan hubungan antar variabel

yang dinyatakan dengan koefisien korelasi. Hubungan ini menghasilkan variabel

bebas (x) naik, variabel terikat (y) turun dan variabel bebas (x) turun, variabel

terikat (y) turun. Koefisien korelasi paling kecil bernilai -1 dan nilai yang paling

besar adalah 1. Berikut data yang didapat dari hasil uji koefisien korelasi:

Dari data diatas didapat hasil:

1. Berdasarkan nilai signifikansi: diketahui antara Laba bersih dengan

Aruskas nilai signifikansi 0.044<0.05 yang berarti terdapat korelasi yang

signifikan. Dan antara Laba bersih dengan Size perusahaan nilai

signifikansinya 0.263<0.05 yang artinya terdapat korelasi yang

signifikan. Dan terakhir, antara Aruskas dan Size perusahaan nilai

signifikansi yang didapat 0.954<0.05 yang berarti terjadi korelasi yang

signifikan.
2. Berdasarkan tanda bintang: Jika dilihat dari nilai pearson correlation

yang dihubungkan antara masing-masing variabel mempunyai tanda

bintang. Tanda itu mempunyai arti bahwa setiap variabel yang

dihubungkan terdapat korelasi yang signifikan.

4.8. Pengujian Hipotesis

4.8.1. Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi digunakan untuk mencari seberapa besar variasi variabel

independendapat menjelaskan secara keseluruhan variasi variabel

independen. Koefisien determinasimengukur seberapa besar pengaruh variabel

independen secara keseluruhan terhadap naik turunnya variasi nilai variabel

dependen. Pengukuran koefisien determinasi total penelitian ini menggunakan

pengukuran koefisien determinasi total.

Dari gambar diatas maka diketahui nilai R2 adalah sebesar 0,310. Dari nilai

tersebut dapat dilihat bahwa kepuasan nasabah dipengaruhi oleh sistem

informasi berbasis web dan kualitas layanan sebesar 0,310, artinya adalah

Kebijakan Dividen dipengaruhi oleh Size perusahaan, Aruskas dan Laba Bersih

sebesar 66,5% dan sisanya 33,5% dipengaruhi oleh hal-hal lain yang tidak

diteliti.
4.8.2. Uji Statistik F

Uji F digunakan untuk menguji untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel

independen secara simultan (bersama) terhadap variabel dependent. Uji F dapat

menggunakan uji distribusi Fhitung. Di bawah ini adalah hasil pengujian Uji F.

Dari tabel diatas, diperoleh nilai F hitung sebesar 3.901 menunjukkan bahwa

variabel-variabel bebas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel

Pertumbuhan Kredit yang ditunjukkan dari nilai tabel F dengan nilai probabilitas

signifikan 0,020 < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya signifikan.

Dari hasil-hasil uji F diatas dapat dikatakan bahwa regresi atau path

model ini layak untuk diteliti. Variabel Laba bersih dan Arus kas berpengaruh

signifikan terhadap Size Perusahaan dengan Pertumbuhan Kredit sebagai

variabel intervening.

4.8.2. Uji t-Statistik

Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh yang

signifikan antara variabel bebas Laba Bersih, Arus Kas terhadap Size

perusahaan yang dimediasi oleh Kebijakan Dividen.


Berdasarkan tabel diatas, dapat diartikan bahwa variabel Laba bersih diperoleh

hasil signifikansi sebesar 0,271 > 0,05 dan nilai t = 0,945. Ini berarti bahwa Laba

bersih tidak memberikan pengaruh yang positif signifikan terhadap Kebijakan

Dividen. Nilai Arus kas diperoleh hasil signifikansi 0,528 < 0,05 dan nilai t =

0,640. Ini berarti bahwa Arus kas berpengaruh negatif dan tidak signifikan

terhadap Kebijakan Dividen. Dan nilai Size Perusahaan diperoleh hasil

signifikansi 0,006 > 0,05 dan nilai t = 2.984. Ini berarti bahwa Size Perusahaan

memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Kebijakan Dividen.

4.9. Pembahasan

4.9.1. Pengaruh Laba Bersih Terhadap Kebijakan Dividen

Hasil analisis data membuktikan bahwa Laba Bersih berpengaruh positif

signifikan terhadap Kebijakan Dividen Perusahaan di Bursa Efek Indonesia.

Hubungan antara Laba bersih terhadap Kebijakan Dividen adalah positif. Hasil

positif menunjukkan bahwa semakin besar