Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Fraktur berarti deformasi atau diskontinuitas dari tulang oleh tenaga
yang melebihi kekuatan tulang. Fraktur dapat diklasifikasikan menurut garis
fraktur (transversal, spiral, oblik, segmental, komunitif), lokasi (diafise,
metafise, epifise) dan integritas dari kulit serta jaringan lunak yang mengelilingi
(terbuka atau compound dan tertutup). 1
Fraktur merupakan cedera yang sering terjadi pada kecelakaan baik itu
kecelakaan kerja, rumah tangga, maupun lalu lintas. Angka kecelakaan di
Indonesia bisa dikatakan cukup tinggi. Pada penelitian sebelumnya di
Indonesia, proporsi cedera patah tulang atau amputasi paling tinggi terjadi
karena kecelakaan lalu lintas. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),
kecelakaan lalu lintas menjadi pembunuh terbesar ketiga di Indonesia setelah
penyakit jantung koroner dan penyakit tuberculosis/TBC. Namun, seringkali
kejadian patah tulang tidak ditangani secara cepat dan tepat sehingga kondisi
korban kecelakaan pun menjadi semakin parah dan bahkan fatal.2,3
Berdasarkan penelitian di rumah sakit di Indonesia pada tahun 2013,
jumlah klien yang mengalami fraktur terutama pada regio kruris yaitu sebanyak
11.357 laki – laki dan 8.319 perempuan. Sedangkan insidennya pada laki-laki
yaitu 152 per 100.000 pasien laki-laki dan 120 per 100.000 untuk pasien
perempuan. Pada tahun 2014, insiden tertinggi dan faktor resiko yaitu pada usia
10 – 14 tahun untuk laki-laki dan diatas 85 tahun untuk perempuan. Insiden
fraktur di Indonesia pada usia 50 tahun keatas meningkat 81% dari tahun
sebelumnya.3
Fraktur Cruris merupakan fraktur tulang panjang yang sering terjadi.
Fraktur cruris merupakan suatu istilah untuk patah tulang tibia dan fibula yang
biasanya terjadi pada bagian proksimal, diafisis, atau persendian pergelangan
kaki. Fraktur pada lokasi ini sangat sering dijumpai pada kecelakaan lalu lintas.
Menurut data Depkes RI (2011), dari 45.987 orang dengan kasus fraktur
ekstremitas bawah akibat kecelakaan, 14.027 orang mengalami fraktur cruris,
3.775 orang mengalami fraktur tibia, 970 orang mengalami fraktur pada tulang-
tulang kecil di kaki dan 336 orang mengalami fraktur fibula.4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1
2.1 Anatomi Tibia dan Fibula
Os tibia merupakan os longum yang terletak di sisi medial region cruris.
Ini merupakan tulang terpanjang kedua setelah os femur. Tulang ini terbentang
ke proksimal untuk membentuk articulation genu dan ke distal terlihat semakin
mengecil. Os fibula atau calf bone terletak sebelah lateral dan lebih kecil dari
tibia. Extremitas proximalis fibula terletak agak posterior dari caput tibia,
dibawah articulation genus dan tulang ini tidak ikut membentuk articulation
genus.5

Gambar 1. Anatomi Tulang Tibia dan Fibula.6


Fascia cruris merupakan tempat perleketan musculus dan bersatu dengan
perosteum. Ke proximal akan melanjutkan diri ke fascia lata, dan akan melekat
di sekitar articulation genus ke os patella, ligamentum patellae, tuberositas
tibiae dan capitulum fibulae. Ke posterior membentuk fascis poplitea yang
menutupi fossa poplitea. Disini tersusun oleh serabut-serabut transversal yang
ditembus oleh vena saphena parva. Fascia ini menerima serabut-serabut tendo
m.biceps femoris femoris disebelah lateral dan tendo m. Sartorius, m. gracilis,
m. semitendinosus, dan m. semimembranosus disebelah medial. Ke anterior,
fascia ini bersatu dengan perosteum tibia serta perostenium capitulum fibulae
dan malleolus fibulae. Ke distal, faascia ini melanjutkan diri ke raetinaculum

2
mm.extensorum superior dan retinaculum mm. flexorum. Fascia ini menjadi
tebal dan kuat dibagian proximal dan anterior cruris, untuk perlekatan m.tibialis
anterior dan m.extensor digitorum longus. Tetapi, fascia ini tipis dibagian
posterior yang menutupi m.gastrocnemeus dan m.soleus. disisi lateral cruris,
fascia ini membentuk septum intermusculare anterius dan septum
intermusculare posterius. Musculus di region cruris dibedakan menjadi tiga
kelompok, yaitu (a) kelompok anterior, (b) kelompok posterior dan (c)
kelompok lateralis.5
A. Musculus di region anterior
1. M. tibialis anterior
2. M. extensor hallucis longus
3. M. extensor digitorum longus dan m.peroneus tertius
B. Musculus regio cruris posterior kelompok superficialis
1. M. gastrocnemius
2. M. soleus
3. M. plantaris
Musculus regio cruris posterior kelompok profunda
1. M. popliteus
2. M. flexor hallucis longus
3. M. flexor digitorum longsu
4. M. tibialis posterior
C. Musculus region cruris lateralis
1. M. peroneus longus
2. M. peroneus brevis

3
Gambar 2. Musculus Pada Regio Cruris.6
Tibia berada pada batas anteromedial dan terletak pada subkutaneus.
Pada daerah diafisis bagian distal menjadi lebih tipis sehingga rentan terjadi
cedera twisting.5
Cruris terbagi menjadi 4 kompatemen yang masing – masing diselubungi
oleh fascia. Kompartemen anterior terdiri dari 4 otot yaitu tibialis anterior,
extensor hallucis longus, extensor digitorum longus dan peroneus tertius. Dan
pada kompartemen ini terdapat arteri tibialis anterior, nervus peroneal deep.5
Kompartemen lateral terdiri dari 2 otot yaitu peroneus longus dan
peroneus brevis disertai nervus peroneal superficial. Kompartemen posterior
terdiri dari 2 yaitu kompartemen posterior deep dan kompartemen posterior
superficial. Pada kompartemen posterior superficial terdapat otot gastrocnemius,
plantaris dan soleus. Gastrocnemius dan soleus sangat penting untuk menutup
defek pada fraktur diafisis tubia proksimal.5
Kompartemen posterior deep sangat penting karena berhubungan dengan
kompartemen anterior dan biasanya terjadi sindrom kompartemen. Terdiri dari

4
flexor digitorum longus, flexor haliccis longus, dan tibialis posterior, disertai
arteri tibialis posterior dan nervus tibialis posterior. Dikarenakan nervus tibialis
posterior mensuplai motorik otot – otot cruris dan pedis maka adanya kerusakan
saraf ini perlu dipikirkan antara limb salvage ataupun amputasi.5
2.2 Definisi
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang
dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa.6
Fraktur kruris merupakan fraktur yang terjadi pada tibia dan fibula.
Fraktur tertutup adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan
dunia luar. Maka fraktur kruris tertutup adalah terputusnya kontinuitas jaringan
tulang, tulang rawan sendi maupun tulang rawan epifisis yang terjadi pada tibia
dan fibula yang tidak berhubungan dengan dunia luar.6
Fraktur kruris merupakan fraktur yang sering terjadi dibandingkan
dengan fraktur pada tulang panjang lainnya. Periosteum yang melapisi tibia
agak tipis terutama pada daerah depan yang hanya dilapisi kulit sehingga tulang
ini mudah patah dan biasanya fragmen frakturnya bergeser karena berada
langsung dibawah kulit sehingga sering juga ditemukan fraktur terbuka.6
2.3 Etiologi
Penyebab terjadinya fraktur yang diketahui adalah sebagai berikut :7,8
1. Langsung
Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan
terjadi fraktur pada daerah tekanan.
2. Tidak langsung
Fraktur yang bukan disebabkan oleh benturan langsung, tapi lebih
disebabkan oleh adanya beban yang berlebihan pada jaringan tulang atau otot .
Tekanan pada tulang dapat berupa:7
1. Tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat oblik atau spiral
2. Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal
3. Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur
impaksi, dislokasi, atau fraktur dislokasi
4. Kompresi vertikal yang dapat menyebabkan fraktur kominutif atau
memecah
5. Trauma oleh karena remuk
6. Trauma karena tarikan pada ligament atau tendon akan menarik sebagian.
3. Trauma patologis
Fraktur yang disebabkan oleh proses penyakit seperti osteomielitis,
osteosarkoma, osteomalacia, cushing syndrome, komplikasi kortison /ACTH,
osteogenesis imperfecta (gangguan congenital yang mempengaruhi
pembentukan osteoblast). Terjadi karena struktur tulang yang lemah dan
mudah patah.
5
2.4 Patofisiologi
Trauma langsung dan trauma tidak langsung serta kondisi patologis pada
tulang dapat menyebabkan fraktur pada tulang. Fraktur merupakan
diskontinuitas tulang atau pemisahan tulang. Pemisahan tulang ke dalam
beberapa fragmen tulang menyebabkan perubahan pada jaringan sekitar fraktur
meliputi laserasi kulit akibat perlukaan dari fragmen tulang tersebut. Perlukaan
kulit oleh fragmen tulang dapat menyebabkan terputusnya pembuluh darah vena
dan arteri di area fraktur sehingga menimbulkan perdarahan. Perdarahan pada
vena dan arteri yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu dan cukup lama
dapat menimbulkan penurunan volume darah serta cairan yang mengalir pada
pembuluh darah sehingga akan muncul komplikasi berupa syok hipovolemik
jika perdarahan tidak segera dihentikan. Pendarahan yang terakumulasi
menimbulkan pembengkakan jaringan sekitar daerah cidera yang apabila di
tekan atau di gerakan dapat timbulrasa nyeri yang hebat.2,3
Sedangkan kerusakan pada system persyarafan akan menimbulkan
kehilangan sensasi yang dapat berakibat paralysis yang menetap padafraktur
juga terjadi keterbatasan gerak oleh karena fungsi pada daerah cidera.
Perubahan jaringan sekitar akibat fragmen tulang dapat menimbulkan
deformitas pada area fraktur karena pergerakan dari fragmen tulang itu sendiri.
Deformitas pada area ekstremitas maupun bagian tubuh yang lain menyebabkan
seseorang memiliki keterbatasan untuk beraktivitas akibat perubahan dan
gangguan fungsi pada area deformitas tersebut.2,3
Beberapa waktu setelah fraktur terjadi, otot-otot pada area fraktur akan
melakukan mekanisme perlindungan pada area fraktur dengan melakukan
spasme otot. Spasme otot merupakan bidai alamiah yang mencegah pergeseran
fragmen tulang ke tingkat yang lebih parah. Spasme otot menyebabkan
peningkatan tekanan pembuluh darah kapiler dan merangsang tubuh untuk
melepaskan histamin yang mampu meningkatkan permeabilitas pembuluh darah
sehingga muncul perpindahan cairan intravaskuler ke interstitial. Perpindahan
cairan intravaskuler ke interstitial turut membawa protein plasma. Perpindahan
cairan intravaskuler ke interstitial yang berlangsung dalam beberapa waktu akan
menimbulkan edema pada jaringan sekitar atau interstitial oleh karena
penumpukan cairan sehingga menimbulkan kompresi atau penekanan pada

6
pembuluh darah sekitar dan perfusi sekitar jaringan tersebut mengalami
penurunan.2,3
2.5 Klasifikasi
Berikut klasifikasi fraktur tibia dan fibula Ortopaedics Trauma
Association (OTA);10
1. Fraktur Proksimal
A. Fraktur Extra artikular
A1 : Avulsi
A2 : Metaphyseal simple
A3 : Metaphyseal multifragmentary
B. Fraktur Parsial Artikular
B1 : Pure Split
B2 : Pure Depression
B3 : Split-Depression
C. Fraktur Komplit Artikular
C1 : Articular simple, metaphyseal simple
C2 : Articular simple, metaphyseal multifragmentary
C3 : Articular multifragmentary
2. Fraktur Diaphisis
A. Fraktur Sederhana
A1 : Spiral
A2 : Oblik (≥ 30o)
A3 : Transversal (<30o)
B. Fraktur Wedge (Baji)
B1 : Spiral
B2 : Bending Wedge
B3 : Fragmented Wedge
C. Fraktur Kompleks
C1 : Spiral
C2 : Segmental
C3 : Ireguler
3. Fraktur Distal
A. Fraktur Extra Artikular
A1 : Sederhana
A2 : Wedge (Baji)
A3 : Kompleks
B. Fraktur Parsial Artikular
B1 : Pure Split
B2 : Split-Depression
B3 : Multifragmentary Depression
C. Fraktur Kompleks
C1 : Articular simple, metaphyseal simple
C2 : Articular simple, metaphyseal multifragmentary
C3 : Articular multifragmentary
4. Fraktur Maleolar
A. Infrasyndesmotic Lesion
A1 : Isolated
A2 : With Fractured Medial Malleolus

7
A3 : With Posteromedial Fracture
B. Transsyndesmotic Fibular Fracture
B1 : Isolated
B2 : With Medial Lesion
B3 : With Medial Lesion and Volksmann’s Fracture
C. Suprasyndesmotic Lesion
C1 : Fibular Diaphyseal Fracture, Simple
C2 : Fibular Diaphyseal Fracture, Multifragmentary
C3 : Proximal Fibular Lesion

Gambar 3. Klasifikasi Fraktur Proksimal Tibia dan Fibula.10

Gambar 4. Klasifikasi Fraktur Diaphisis Tibia dan Fibula.10

Gambar 5. Klasifikasi Fraktur Distal Tibia dan Fibula.10

8
Gambar 6. Klasifikasi Fraktur Maleolar Tibia dan Fibula.10

2.6 Diagnosis
a. Anamnesis
Pada anamnesis perlu ditanyakan keluhan utama yang dirasakan
pasien. Lalu menanyakan tentang Mechanism of Injury dari pasien tersebut
untuk menentukan perkiraan lokasi, tipe dan derajat keparahan fraktur.
Identitas pasien harus digali untuk mencari faktor resiko seperti usia, jenis
kelamin, dan pekerjaan atau aktivitas sehari- hari. Riwayat penyakit dahulu
penting ditanyakan terutama riwayat trauma untuk mencari apakah ada
trauma berulang, riwayat operasi sebelumnya, dan riwayat penyakit yang
dapat mempengaruhi penyembuhan luka seperti diabetes mellitus dan
hipertensi.
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan awal terhadap pasien yang mungkin menderita fraktur
tulang sama dengan pemeriksaan pada pasien yang mengalami luka pada
jaringan lunak yang berhubungan dengan trauma. Penilaian berdasarkan
pada tanda dan gejala.11
Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:11

Syok, anemia atau perdarahan.

Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang
belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen.

Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis

Pada pemeriksaan fisik dilakukan11


1. Look
 Warna kulit dan perfusi
 Luka

9
 Deformitas: angulasi ( medial, lateral, posterior atau
anterior), diskrepensi (rotasi, perpendekan atau
perpanjangan)
 Pembengkakan atau memar
 Fungsio laesa (hilangnya fungsi gerak).
2. Feel
Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya
mengeluh sangat nyeri. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
 Temperatur
 Nyeri tekan; nyeri tekan yang superfisisal biasanya
disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat
fraktur pada tulang
 Sensibilitas
 Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus
dilakukan secara hati-hati.
 Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa
palpasi arteri radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis
posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena.
Refilling (pengisian) arteri pada kuku.
3. Movement
Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan
dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat
keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan lingkup gerak ini perlu,
agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. Gerakan
sendi dicatat dengan ukuran derajat, dari tiap arah pergerakan mulai
dari titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini
menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak.
Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif.

c. Pemeriksaan Penunjang
Rontgen sinar-x pada bagian yang sakit merupakan parangkat
diagnostik definitif yang digunakan untuk menentukan adanya fraktur.
Tujuan utama pemeriksaan ini adalah untuk mendiagnosis adanya fraktur

10
atau dislokasi meskipun jaringan lunak sekitarnya agak sulit untuk dinilai.
Foto rontgen juga penting untuk menilai posisi ujung tulang sebelum dan
sesudah terapi. Follow up ini dibutuhkan untuk melihat penyatuan tulang
dan komplikasi.11
Pada investigasi fraktur cruris dengan foto rontgen x-ray dilihat
adakah soft tissue swelling, kemudian dicari adakah fraktur pada os tibia
dan fibula dimanakah tempatnya, apakah di diafisis, metafisis, atau epifisis,
apakah komplit atau inkomplit, bagaimana konfigurasinya, apakah
transversal, oblik, spiral, atau kominutif, apakah hubungan antara
fragmennya displaced atau undisplaced, lalu adakah dislokasi pada
pertautan tulang-tulang tersebut.11
Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip:11
1. Dua posisi proyeksi; dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada antero-
posterior dan lateral
2. Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, di proximal dan
distal sendi yang mengalami fraktur
3. Dua anggota gerak. Pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto pada kedua
anggota gerak terutama pada fraktur epifisis.
4. Dua trauma, pada trauma yang hebat sering menyebabkan fraktur pada
dua daerah tulang. Misalnya pada fraktur kalkaneus atau femur, maka
perlu dilakukan foto pada panggul dan tulang belakang
5. Dua kali dilakukan foto. Pada fraktur tertentu misalnya fraktur tulang
skafoid foto pertama biasanya tidak jelas sehingga biasanya diperlukan
foto berikutnya 10-14 hari kemudian.

11
Gambar 7. Contoh Gambaran X-Ray Pada Fraktur Tibia dan Fibula.6

Laboratorium
Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui : Hemoglobin,
hematokrit sering rendah akibat perdarahan, laju endap darah (LED)
meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas.

2.7 Penatalaksanaan
Pengelolaan penderita trauma memerlukan penilaian yang cepat dan
pengelolaan yang tepat guna menghindari kematian. Pada penderita trauma,
waktu sangat penting, karena itu diperlukan adanya suatu cara yang mudah
dilaksanakan. Proses ini dikenal sebagai initial assessment yang secara garis
besar terdiri dari primary survey dan secondary survey.12
a. Primary survey12
 Airway
Pada evaluasi awal penderita trauma, yang pertama kali harus
dinilai adalah jalan nafas. Penilaian ini untuk mengetahui adanya
obstruksi saluran nafas seperti benda asing, adanya fraktur mandibula
atau kerusakan trakea yang dapat mengakibatkan obstruksi jalan nafas.
Tanda-tanda penting dari obstruksi termasuk mendengkur, stridor,
dan gerakan dada paradoks. Adanya benda asing harus dipertimbangkan
pada pasien tidak sadar. Lanjutan manajemen jalan napas (seperti
intubasi endotrakeal, cricothyrotomy, atau trakeostomi) diindikasikan
jika ada apnea, obstruksi terus-menerus, cedera kepala berat, trauma

12
maksilofasial, cedera leher dengan hematoma yang meluas, atau cedera
dada berat.
 Breathing
Perlu diperhatikan dan dilihat secara keseluruhan daerah thoraks
untuk menilai ventilasi. Jalan nafas yang bebas bukan berarti ventilasi
cukup. Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru, dinding
dada, dan diafragma. Dada penderita dibuka untuk melihat ekspansi
pernafasan. Perkusi untuk menilai adanya udara atau darah dalam rongga
dada. Auskultasi untuk memastikan masuknya udara ke dalam paru. Bila
ada gangguan atau instabilitas kardiovaskuler, respirasi, atau gangguan
neurologis, kita harus melakukan ventilasi dengan bantuan alat
pernafasan.
 Circulation
Kecukupan sirkulasi didasarkan pada denyut nadi, tekanan nadi,
tekanan darah, dan tanda-tanda perfusi perifer. Tanda-tanda sirkulasi
inadekuat meliputi takikardi, nadi perifer lemah atau tidak teraba,
hipotensi, dan ekstremitas pucat, dingin, atau sianotik. Prioritas pertama
dalam memulihkan sirkulasi yang adekuat adalah untuk menghentikan
pendarahan, prioritas kedua adalah untuk menggantikan volume
intravaskular.
 Disability
Disability merupakan evaluasi neurologis secara cepat setelah
satu survey awal. Dengan evaluasi ini kita dapat menilai tingkat
kesadaran, besar, dan reaksi pupil. Evaluasi ini dapat menggunakan
metode AVPU (Alert, Verbal, Pain, Unresponsive).
 Exposure
Untuk melakukan pemeriksaan secara teliti, pakaian penderita
harus dilepas, selain itu perlu dihindari terjadinya hipotermi.

b. Secondary survey12
Secondary survey baru dilakukan setelah primary survey selesai,
resusitasi dilakukan dan ABC penderita dipastikan membaik. Survey
sekunder adalah pemeriksaan kepala sampai kaki (head to toe examination),
termasuk re-evaluasi pemeriksaan tanda vital. Pada survey sekunder ini
dilakukan pemeriksaan neurologis lengkap termasuk mencatat skor GCS

13
bila belum dilakukan dalam primary survey. Prosedur khusus seperti
laboratorium dan radiologis dapat dilakukan.

Prinsip penanganan fraktur secara umum meliputi rekognisi,


reduksi/reposisi, retensi/imobilisasi dan pengembalian fungsi dan kekuatan
normal dengan rehabilitasi.9
A. Rekognisi (Pengenalan)
Rekognisi yaitu menyangkut diagnosis fraktur pada tempat
kecelakaan dan selanjutnya di rumah sakit dengan melakukan anamnesis
terhadap riwayat kecelakaan, derajat keparahan, jenis kekuatan yang
berperan pada pristiwa yang terjadi serta menentukan kemungkinan adanya
fraktur melalui pemeriksaan dan keluhan dari pasien.
B. Reduksi/Reposisi
Reduksi adalah usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen
fragmen tulang yang patah sedapat mungkin kembali lagi seperti letak
asalnya. Upaya untuk memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali
seperti semula secara optimal. Reduksi fraktur dapat dilakukan dengan
reduksi tertutup atau reduksi terbuka. Reduksi fraktur dilakukan sesegera
mungkin untuk mencegah jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat
infiltrasi karena edema dan perdarahan. Pada kebanyakan kasus, reduksi
fraktur menjadi semakin sulit bila cedera sudah mulai mengalami
penyembuhan. Reduksi terbuka yaitu dengan pembedahan, memasang alat
fiksasi interna (missal pen, kawat, sekrup, plat, paku dan batang logam).
C. Retensi/Fiksasi
Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga
kembali seperti semula secara optimun. Setelah fraktur direduksi, fragmen
tulang harus diimobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi kesejajaran
yang benar sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan
fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan,
gips, bidai, traksi kontinu, pin dan teknik gips, atau fiksator eksterna.
Implan logam dapat digunakan untuk fiksasi interna yang berperan sebagai
bidai interna untuk mengimobilisasi fraktur.
Fiksasi eksterna adalah alat yang diletakkan diluar kulit untuk
menstabilisasikan fragmen tulang dengan memasukkan dua atau tiga pin
metal perkutaneus menembus tulang pada bagian proksimal dan distal dari
tempat fraktur dan pin tersebut dihubungkan satu sama lain dengan
menggunakan eksternal bars. Teknik ini terutama atau kebanyakan
14
digunakan untuk fraktur pada tulang tibia, tetapi juga dapat dilakukan pada
tulang femur, humerus dan pelvis.
D. Rehabilitasi
Mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin untuk
menghindari atropi atau kontraktur. Bila keadaan mmeungkinkan, harus
segera dimulai melakukan latihan-latihan untuk mempertahankan kekuatan
anggota tubuh dan mobilisasi.

2.8 Komplikasi
Komplikasi fraktur dibagi menjadi komplikasi awal dan lanjutan.
Komplikasi tersebut antara lain:6
1. Komplikasi Awal
a. Syok
Syok hipovolemik atau traumatik, akibat perdarahan (banyak
kehilangan darah eksternal maupun yang tidak kelihatan yang bisa
menyebabkan penurunan oksigenasi) dan kehilangan cairan ekstra sel ke
jaringan yang rusak, dapat terjadi pada fraktur ekstrimitas, thoraks,
pelvis dan vertebra.
b. Sindroma Kompartemen
Merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot
kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Ini bisa
disebabkan karena penurunan ukuran kompartement otot karena fasia
yang membungkus otot terlalu ketat, penggunaan gibs atau balutan yang
menjerat ataupun peningkatan isi kompatement otot karena edema atau
perdarahan sehubungan dengan berbagai masalah (misalnya : iskemi,
dan cidera remuk).
c. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai denagan tidak ada
nadi, CRT menurun, syanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan
dingin pada ekstrimitas yang disbabkan oleh tindakan emergensi
splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan
pembedahan.
d. Infeksi
Infeksi luka pasca trauma sering menyebabkan osteitis kronik.
Osteitis tidak mencegah fraktur mengalami union, namun union akan
berjalan lambat dan kejadian fraktur berulang meningkat.

15
Jika ada tanda-tanda infeksi akut dan pembentukan pus, jaringan
lunak disekitar fraktur harus dibuka dan didrainase. Pilihan antibiotik
harus disesuaikan dengan hasil sensitivitas bakteri.
2. Komplikasi Lanjut
a. Mal Union
Malunion dalam suatu keadaan dimana tulang yang patah
telah sembuh dalam posisi yang tidak seharusnya. Malunion
merupaka penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya
tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion
dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik.
b. Delayed Union
Delayed union adalah proses penyembuhan yang terus
berjalan dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
Delayed union merupakankegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai
dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini
disebabkan karena penurunan suplai darah ke tulang.
c. Non-Union
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan
memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9
bulan. Nonunion di tandai dengan adanya pergerakan yang berlebih
pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau
pseuardoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang
kurang.

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1 Identitas Pasien

Nama : An. IKAYP


Umur : 13 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Sidemen, Karangasem
Tanggal Masuk MRS : 09/10/2018

3.2 Anamnesis Pasien

Keluhan Utama :
Nyeri pada kaki kanan
Riwayat Penyakit Sekarang :

16
Pasien datang dalam keadaan sadar diantar keluarganya ke IGD RSU Klungkung
pada tanggal 09/10/2018 dengan keluhan nyeri pada kaki kanan. Nyeri dirasakan
setelah pasien mengalami kecelakaan lalu lintas sekitar 5 menit yang lalu sebelum
masuk rumah sakit. Pasien terjatuh ke arah kanan dengan posisi kaki kanan jatuh
terlebih dahulu. Nyeri dirasakan terutama saat digerakkan. Kaki kanan dirasa
bertambah bengkak dan sulit digerakkan. Pasien tidak mengeluh mual (-), muntah
(-) dan nyeri kepala (-) dan pingsan (-). Saat mengendarai sepeda motor pasien
tidak menggunakan helm.
Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi, penyakit
jantung, diabetes melitus, asma, stroke, dan tidak ada riwayat alergi, trauma
sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Dalam keluarga pasien tidak ada yang memiliki riwayat penyakit tekanan darah
tinggi, penyakit jantung, asma, diabetes mellitus, dan penyakit lainnya.
Riwayat penyakit sosial :

Pasien merupakan seorang pelajar. Riwayat mengkonsumsi alkohol dan merokok


disangkal oleh pasien.
3.3 Pemeriksaan Fisik
Primary Survey
Airway : Bebas
Breathing : Spontan
Circulation : Nadi kuat, CRT < 2 detik, warna kulit normal, perdarahan (-),
turgor kulit baik
Disability : Alert, GCS = E4V5M6

Secondary Survey
Status Generalis
- Keadaan umum : Sedang
- Kesadaran : Compos Mentis
- Tanda vital : Tekanan darah = 110/70 mmHg
Nadi = 88x/ menit, irama reguler, isi dan
tegangan cukup
RR = 18x/ menit, reguler
Suhu = 36,50C, axiller
TB = 145 cm
BB = 45 kg
BMI = 21,40 kg/m2,
- Kepala : Deformitas (-), Normochepali
- Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-,

17
Reflek Pupil +/+ 3mm, Isokor
- Hidung
Bagian luar : Normal, tidak terdapat deformitas, jejas (-)
Septum : Terletak ditengah dan simetris
Mukosa hidung : Merah muda
Cavum nasi : Tidak ada tanda perdarahan
- Telinga
Daun telinga : Normal, jejas (-)
Liang telinga : Lapang, perdarahan (-)
Membrana timpani : Intake
Nyeri tekan mastoid : Tidak nyeri tekan
Serumen : Tidak ada
Sekret : Tidak ada
- Mulut dan tenggorokan
Bibir : Tidak pucat dan tidak sianosis
Gigi geligi : Lengkap
Lidah : normoglosia
Tonsil : T1/T1 tenang
Faring : Tidak hiperemis
- Leher
Kelenjar getah bening :Tidak teraba membesar
Kelenjar tiroid : Tidak teraba membesar
- Trakea : Letak di tengah
- Thoraks :

Jantung
Inspeksi ictus cordis tidak tampak

Palpasi Ictus cordis teraba pada ICS IV 1-2 cm ke arah medial


linea midclavikula sinistra, thrill (-), pulsus epigastrium
(-), pulsus parasternal (-), sternal lift (-)

Perkusi Batas atas jantung : ICS II linea parasternal sinistra


Pinggang jantung : ICS III linea parasternal sinsitra
Batas kanan bawah : ICS V linea sternalis dextra

Batas kiri bawah : ICS V linea midclavikula sinistra


Kesan
1-2 cm ke arah medial
Konfigurasi jantung (dalam batas normal)

Auskultasi Suara jantung murni: SI,SII (normal) reguler, suara


jantung tambahan (-)

Pulmo

18
Paru depan Paru belakang

Inspeksi
Statis Normochest, simetris, kelainan Normochest, simetris, kelainan
kulit (-/-), jejas (-/-), sudut kulit (-/-)
arcus costa dalam batas
normal, ICS dalam batas Pengembangan pernapasan
Dinamis
normal paru normal
Pengembangan pernafasan
paru Normal

Palpasi Simetris (N/N), Nyeri tekan Simetris (N/N), Nyeri


(-/-), ICS dalam batas normal, tekan (-/-), ICS dalam batas
taktil fremitus dalam batas normal, taktil fremitus
normal dalam batas normal

Perkusi
Sonor seluruh lapang paru Sonor seluruh lapang paru
Kanan Batas paru-hati Peranjakan paru
Sonor seluruh lapang paru. Sonor seluruh lapang paru
Peranjakan paru

Kiri

Auskultasi
Vesicular Vesicular
Suara dasar Ronki (-/-), Wheezing (-/-) Ronki (-/-), Wheezing (-/-)
Suara
Tambahan

- Abdomen
Inspeksi : Distensi (-), Hiperemis (-), Jejas (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : Nyeri tekan (-)
Perkusi : Timpani seluruh lapang abdomen

- Ekstremitas atas
Regio kanan : Akral hangat, tidak terdapat oedem
Regio kiri : Akral hangat, tidak terdapat oedem

- Ekstremitas bawah
Regio kanan : Akral hangat, tidak terdapat oedem

19
Regio kir : Akral hangat, tidak terdapat oedem

Status Lokalis Regio Cruris Dextra


Look : Deformitas (+), Edema (+), Hiperemis (-), Perdarahan (-)
Feel : Hangat (+), Nyeri Tekan (+), Krepitasi (+), Parethesia (-), Pulsasi (+)
Movement : ROM terbatas, Nyeri saat digerakkan

3.4 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan Darah Lengkap (Tanggal 09/10/2018)
a. Hb : 14,7 g/dl
b. Leukosit : 11.600 /mm3
c. Eritrosit : 5,63 /mm3
d. LED : 32 mm/jam
e. Hematokrit : 44,4 %
f. Trombosit : 278.000 /mm3
g. Waktu Perdarahan : 2’00” menit
h. Waktu Pembekuan : 5’00” menit

Foto Regio Cruris Dextra AP/Lateral (Tanggal 09/10/2018)

Gambar 8. Foto Cruris Dextra Proyeksi AP/Lateral


Kesan

20
 Tampak diskontinuitas Os. Tibia dan fibula dextra 1/3 Medial
 Struktur tulang baik
 Soft Tissue tampak normal
Kesimpulan : Fraktur 1/3 tengah tibia dan fibula dextra
3.5 Diagnosa
Fraktur tibia fibula dextra 1/3 tengah
3.6 Planning terapi
a. Terapi Non farmakologi :
Rencana reposisi dan pasang gips (09/10/2018)
b. Terapi Farmakologi :
- Infus RL 12 tpm
- Ketorolac 3 x 1 ampul
c. Monitoring :
- Keadaan umum
- Vital sign
- Keluhan pasien
d. Edukasi
- Memberikan penjelasan mengenai penyakit yang diderita oleh pasien
- Istirahat cukup
- Membatasi gerak bagian yang sakit
- Minum obat teratur

3.7 Prognosis
Quo ad vitam : Ad bonam
Quo ad fungsional : Ad bonam

3.8 Follow Up Ruangan


10 Oktober 2018
S : Nyeri kaki kanan (+)
O : Status present
KU : Baik Kesadaran : Compos mentis TD : 120/80 mmHg
RR : 18x/ menit Nadi : 86 x/ menit Tax : 36,2 C
Vas : 3
Status generalis
Mata : Anemis (-/-), Ikterus (-/-)
THT : Tenang
Thorax : Cor : S1S2 tunggal reguler, murmur (-)
Pulmo : Vesikular (+/+), Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)
Abdomen : distensi (-), BU (+) menurun
Ekstremitas : Akral hangat : ekstremitas atas +/+
ekstremitas bawah +/+
Edema : ekstremitas atas -/-
ekstremitas bawah -/-
Status lokalis:
Regio Tungkai Bawah Dextra
L : Tampak terpasang GIPS. Edema ujung jari (-), hiperemis (-), hematom
(-)

21
F : Nyeri tekan (+), hangat (+), paresthesia (-)
M : ROM terbatas
A : Close Fracture Cruris Post Reposisi + GIPS Hari I
P : BPL
Paracetamol 3 x 500 mg tablet
Mobilisasi dengan berjalan menggunakan 2 tongkat

3.9 Resume
An. IKAYP, 13 tahun, datang dalam keadaan sadar diantar keluarganya
ke IGD RSU Klungkung pada tanggal 09/10/2018 dengan keluhan nyeri pada
kaki kanan. Nyeri dirasakan setelah pasien mengalami kecelakaan lalu lintas
sekitar 5 menit yang lalu sebelum masuk rumah sakit. Pasien terjatuh ke arah
kanan dengan posisi kaki kanan jatuh terlebih dahulu. Nyeri dirasakan terutama
saat digerakkan. Kaki kanan dirasa bertambah bengkak dan sulit digerakkan.
Pasien tidak mengeluh mual (-), muntah (-) dan nyeri kepala (-) dan pingsan (-).
Saat mengendarai sepeda motor pasien tidak menggunakan helm.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 110/70 mmHg, nadi
88x/ menit, frekuensi napas 18 x/menit dan suhu 36,50C. Pada pemeriksaan
ekstremitas inferior dextra didapatkan adanya deformitas (+) pada regio cruris
dextra, edema (+), hangat (+), nyeri tekan (+), krepitasi (+), dan ROM terbatas.
Pada pemeriksaan X Ray Foto AP dan Lateral regio cruris dextra
didapatkan gambaran diskontinuitas Os. Tibia dan Fibula 1/3 medial, aposisi dan
aligment tak baik, struktur tulang baik. Pada pemeriksaan darah rutin dalam batas
normal.
Dalam kasus ini pasien dilakukan pemeriksaan foto AP dan Lateral
Regio Cruris. Pada proyeksi AP (Antero Posterior) bertujuan untuk
memperlihatkan anatomi normal dari Os. Tibia dan Fibula dan untuk
menampakkan fraktur yang ada dari arah depan atau pada posisi AP. Sedangkan
proyeksi Lateral bertujuan untuk memperlihatkan Os. Tibia dan Fibula dari arah
samping serta memperlihatkan fraktur yang ada pada posisi lateral sehingga dapat
melengkapi diagnosa fraktur yang ada dari posisi AP. Informasi diagnostik yang
diperoleh pada penggunaan proyeksi AP dan Lateral sudah optimal dalam
mendukung pada penegakkan diagnosa fraktur tibia dan fibula pada pasien
tersebut.

BAB IV
PENUTUP

22
4.1 Kesimpulan
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang
dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa.Fraktur kruris
merupakan fraktur yang terjadi pada tibia dan fibula. Etiologi dari fraktur
adalah cedera traumatik langsung dan tidak langsung serta trauma patologis.
Penegakan diagnosis fraktur kruris didapatkan dari anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis dapat
didapatkan manifestasi klinis dari fraktur kruris berupa nyeri dan juga
didapatkan mekanisme of injury. Pemeriksaan fisik pada fraktur kruris penting
untuk menegakkan diagnosis dimana akan ditemukan adanya bengkak,
keterbatasan ROM, nyeri saat gerak, suhu yang meningkat dan juga memeriksa
perabaan arteri pada yang berada di distal untuk mengetahui apakah ada
pembuluh darah yang terputus. Selain itu juga bisa dilihat deformitas dan
krepitasi.
Pemeriksaan penunjang untuk kasus fraktur kruris adalah pemeriksaan
radiologis. Pemeriksaan radiologis yang dapat membantu mengevaluasi pasien
dengan kecurigaan fraktur kruris meliputi X-fotokruris AP/lat.
Tatalaksana yang dilakukan dalam menangani fraktur kruris bisa
bermacam – macam. Tergantung dari tipe, klasifikasi dan derajat serta keluhan
lain yang menyertai. Namun dalam prinsip penanganan fraktur tatalaksana yang
harus dialakukan yaitu: Rekognisi, Reduksi, Retensi dan Rehabilitasi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Rasjad, Chairuddin. 2012. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta : Yarsif


Watampone.
2. Smeltzer Suzanne, C.2002. Buku Ajar Medikal Bedah. Edisi 8. Vol 3. Jakarta:
EGC

23
3. Price, Sylvia A & Wilson, Lorraine M. 2013. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. Vol 2 Edisi 4. EGC: Jakarta
4. Adam, James G. 2013. Emergency Medicine Clinical Essentials. Second
Edition. Philadelphia : Elsevier.
5. Depkes RI. 2011. Profil Kesehatan Indonesia 2011. Jakarta: Depkes RI.
6. Snell, Richard S. 2012. Anatomi Klinik Edisi 9. Jakarta : EGC.
7. Alan Graham Appley. 2010. Appley’s System Of Orthopedics And Fracture 9th
Edition. Butterworths Medical Publications. p687-90, 870-2.
8. Welch Fossum, Theressa. Femoral Diaphyseal And Supracondylar Fractures.
http://veterinarymedicine.dvm360.com. [Diakses 16 Oktober 2018].
9. Mansjoer, Arief., Triyanti, Kuspuji., Savitri Rakhimi., Wardhani, Wahyu Ika &
Setiowulan, Wiwiek., 2004. Kapita Selekta Kedokteran. EGC: Jakarta
10. Muller AO Classification of Fracture – Long Bone ; Tibia / Fibula ; Copyright
© 2010 by AO Foundation, Switzerland.
11. Sjamsuhidajat R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-3.
Jakarta: EGC.
12. Norvell J. G. 2013. Tibia and Fibula Fracture. http://
emedicine.medscape.com/article/82630. [Diakses 16 Oktober 2018].

24