Anda di halaman 1dari 6

NAMA : MAHYURIN FATIKA

NIM : 188530052

PRODI : ILMU KOMUNIKASI

Iban
Iban atau Dayak Iban (dalam Bahasa Iban Iban bermaksud orang atau manusia), adalah
salah satu rumpun Dayak yang terdapat di Sarawak, Kalimantan Barat, Brunei, Sabah dan Johor.
Mengikut sejarah lisan, pembentukan dan perkembangan budaya sosial kaum Iban khasnya atau
bangsa Dayak hanya terjadi semasa zaman kegemilangan Kerajaan Dayak di Tampun Juah, sebelum
kaum Iban dan bangsa Dayak berpecah kepada beberapa subsuku-subsuku yang ada sekarang.
Semasa zaman kolonial Inggris di Sarawak dan Belanda di Kalimantan Barat, kaum Iban sebelumnya
dikenal sebagai Dayak Laut dalam pengertian Bahasa Iban Laut bermaksud Melayu (merujuk
kepada kaum Melayu). Jika diistilah secara betul Dayak Laut dalam Bahasa Iban bermaksud Dayak
Melayu. Fakta ini juga didukung karena ada satu lagi rumpun bangsa Dayak Laut yaitu Dayak
Malayik atau Dayak Melayu yang tinggal di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Fakta ini
didukung karena bahasa Iban adalah bahasa yang paling dekat dengan Bahasa Melayu dan bahasa
Iban sendiri berasal dari rumpun Malayic dan berparas rupa serta bentuk fisik dari ras Malayoloid.
Asal-usul maksud Dayak Laut ditafsirkan dalam bahasa Melayu dan diterjemah kepada Bahasa
Inggris bermaksud Sea Dayak sebagai menggenapi maksud Land Dayak yang digunapakai oleh
kaum Bidayuh karena dalam bangsa Dayak dibagi dalam 4 subbangsa yaitu Dayak Laut, Dayak
Darat, Dayak Orang Ulu dan Dayak Barito. Karakteristik kebudayaan masyarakat Dayak Iban dapat
dilihat dalam ketujuh unsur kebudayaan menurut Koentjaraningrat yaitu :

a. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi


Sistem peralatan hidup dan teknologi masyarakat Dayak Iban pertama-tama terkait dengan
mata pencaharian mereka, yakni bercocok tanam, meramu dan mencari hasil hutan. Peralatan yang
mereka miliki terkait dengan mata pencaharian tersebut antara lain kapak yang berfungsi untuk
memotong dan membelah kayu, beliung untuk menebang kayu besar, parang untuk menebas, serta
sumpit dan senjata api untuk berburu.
Pola hidup bersama dalam rumah panjang sangat erat kaitannya dengan sumber-sumber
makanan yang disediakan oleh alam.1[19] Rumah panjang dalam tatanan masyarakat Iban
memperkuat kegiatan ekonomi. Sistem kerja secara bersama-sama atau gotong royong, atau beduruk
dan besaup dalam bahasa mereka, lebih mudah dilakukan karena mereka hidup dalam satu
atap.2[20] Beduruk adalah gotong royong untuk mempermudah suatu pekerjaan, misalnya salah
satu keluarga akan membuka ladang baru ia mengadakan kesepakatan dengan beberapa orang
untuk membentuk kelompok yang saling membantu. Saat melakukan beduruk, satuan tenaga kerja
pria dan wanita diperhitungkan dengan cermat dan sama. Sementara itu, besaup adalah gotong
royong yang dilakukan untuk membantu keluarga yang mendapat kemalangan.

b. Sistem Mata Pencaharian Hidup


Mata pencaharian hidup masyarakat Dayak Iban umumnya tergantung pada alam, terutama
hutan. Alam telah memberikan hasilnya kepada masyarakat dengan menyediakan kebutuhan pokok
hidup sehari-hari, seperti berbagai macam hasil hutan, ikan dari sungai, dan binatang buruan di
hutan.3[21] Hutan adalah “darah dan jiwa” (tanah tu darah enggau sepot kitai) bagi masyarakat
Dayak Iban.4[22] Hutan dijaga dan dilestarikan untuk keberlangsungan hidup sosial, ekonomi,
politik dan kebudayaan. Mereka dilarang menghancurkan sumber-sumber alam lainnya secara
serakah. Larangan tersebut telah diatur dalam hukum adat mereka.5[23] Dengan konsep semacam
itu, orang Dayak hidup menghormati hutan.
Mata pencaharian masyarakat Iban yang hidup di pedesaan sebagian besar adalah bertani
secara tradisional. Sistem pertanian mereka adalah sistem ladang berpindah (shifting cultivation)
dengan cara membuka hutan untuk dijadikan ladang kering (dry-rice field). Aktifitas seperti itu lazim
dilakukan masyarakat Iban di penghujung musim kemarau.6[24] Ada aturan yang mengikat mereka
dalam membuka dan mengolah hutan untuk dijadikan ladang.7[25] Aturan adat mewajibkan mereka
untuk menjaga dan memelihara hutan. Menebang pohon, misalnya, hanya boleh dilakukan untuk
keperluan tertentu seperti mendirikan rumah dan membuka ladang baru.
Sistem ladang berpindah dalam tradisi masyarakat Ibanik hampir sama. Perayaan
pembukaan lahan dimulai oleh seorang yang dituakan dalam komunitas yakni Tuai Rumah. Dalam
memilih lokasi dan menebas, peladang memulainya dengan ritus membuat patung (pentik),
pembersihan lahan (bekibau) dan pemberian makan (bedarak).8[26] Tujuan dari semua ritus ini
adalah untuk meminta izin kepada Penguasa Tanah (Puyang Gana) dan semua roh rimba raya agar
merestui ladang dan menjauhkan dari hama penyakit.
Akhir-akhir ini, ladang yang sudah dibuka tak lagi ditinggalkan dan dibiarkan menjadi hutan
lagi. Ladang tersebut dimanfaatkan untuk perkebunan terutama tanaman karet rakyat. Dewasa ini
menyadap karet untuk menambah penghasilan keluarga merupakan kegiatan sehari-hari
masyarakat petani Iban.9[27] Karet bukanlah jenis tanaman yang asing bagi masyarakat Dayak di
Kalimantan. Masyarakat Dayak sudah mengenal karet sejak dahulu. Menurut Koentjaraningrat
tanaman karet sudah mulai dibudidayakan dan menjadi bahan ekspor kira-kira sejak setengah abad
yang lalu tepatnya 1913.10[28] Karet mula-mula dikembangkan di Sumatera Timur kemudian pada
tahun 1915 menyebar dengan cepat ke daerah Kalimantan. Diperkirakan pada tahun itulah tanaman
karet mulai berkembang di Kalimantan. Di samping bertani, berburu binatang hutan merupakan
pilihan masyarakat Dayak Iban dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hasil buruan
biasanya dibagikan kepada sesama setelah terlebih dahulu dibagikan kepada rekan-rekan dalam
berburu.

c. Sistem Kemasyarakatan
Sistem kemasyarakatan mengatur hidup manusia dalam kelompok. Sistem kekerabatan,
misalnya, memiliki kaitan dengan sistem kesatuan hidup setempat berdasarkan aspek penghunian
rumah panjang yakni kebersamaan keluarga-keluarga inti. Keluarga-keluarga inti menempati satu
gugusan yang tidak terpisah satu sama lain dalam komunitas rumah panjang Iban.11[29] Sistem
kekerabatan dalam masyarakat Iban menekankan aspek kebersamaan dalam bilek. Bilek ialah
sebuah ruang untuk tempat tinggal keluarga-keluarga dalam rumah panjang Iban.
Masyarakat Iban juga dikenal sebagai masyarakat yang egaliter. Harus diakui, dalam
masyarakat Iban ada orang yang memiliki pengaruh yang lebih tinggi, seperti Tuai Rumah yakni
orang yang dianggap tua, fungsionaris adat, dan pimpinan dalam melaksanakan upacara adat dalam
komunitas rumah panjang, dan Temenggung, pemegang kekuasaan tertinggi dalam kepengurusan
adat yang membawahi beberapa Tuai Rumah. Namun demikian, otoritas mereka sebatas hanya pada
kepengurusan adat. Selebihnya dalam kenyataan hidup bersama sehari-hari tidak ada tingkatan
tinggi rendah.
Pada hakikatnya, rumah panjang (rumah panjae) Iban merupakan kesatuan sosial yang
terikat kesadaran wilayah dan genealogis.12[30] Kesadaran genealogis berarti keluarga Dayak yang
berwujud keluarga batih maupun keluarga luas yang hidup dalam satu rumah tangga memiliki rasa
kebersamaan hidup berdasarkan garis keluarga. Sementara kesadaran wilayah lebih mengarah pada
kesadaran akan kepemilikan tanah, air dan alam sekitar yang berada dalam satu kawasan adat.

d. Sistem Bahasa
Bahasa suatu suku bangsa yang besar, yang terdiri dari berjuta-juta penduduk, selalu
memiliki variasi akibat faktor perbedaan geografis, lapisan sosial, serta lingkungan sosial dalam
masyarakat suku bangsa tadi.13[31] Berdasarkan ciri-ciri kesamaan dialek, budaya dan lokasi, para
peneliti dalam bidang etnolinguistik, yakni Nothofer, James T. Collin, A. B. Hudson, dan Paul Kroeger;
mengelompokkan suku Dayak Iban ke dalam kelompok yang dikenal dengan sebutan Kelompok
Ibanik (Ibanic Group). Kelompok suku Dayak yang termasuk ke dalam kelompok Ibanik terdiri dari
sebelas suku kecil.14[32] Suku-suku kecil yang dimaksud antara lain Dayak Mualang, Kantu’, Desa,
Seberuang, Bugau dan Ketungau.
Hubungan di antara mereka ditandai oleh penggunaan bahasa yang hampir sama artinya,
misalnya dalam kata makan (makai), berjalan (bejalai). Meskipun demikian ada pula perbedaan-
perbedaan di antara mereka. Misalnya, untuk kata “kemana” dalam bahasa orang Iban dan Kantuk
dipakai kata kini sedangkan dalam bahasa orang Mualang digunakan kata kikai. Jika seorang dari
Suku Mualang berbicara menggunakan bahasanya, maka bahasa itu akan dimengerti pula oleh orang
lain dari Suku Iban, demikian pula sebaliknya. Berdasarkan penjelasan ini dapat dimengerti bahwa
hubungan penggunaan bahasa dalam rumpun Iban hampir sama.
Bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari bagi suku Dayak Iban adalah bahasa
benadai. Bahasa ini dituturkan oleh semua subsuku Iban. Benadai artinya diambil dari kata dasar
nadai yang berarti “tidak”. Tidak terlalu jelas mengapa orang biasa menggunakan istilah benadai
untuk mengelompokkan kesamaan bahasa pada rumpun Iban dan orang Iban sendiri. Ada
kemungkinan bahwa pengelompokan itu berdasarkan kesamaan pada akhir setiap kata dalam
rumpun Iban misalnya penggunaan akhiran ai pada setiap kata, contoh makai, nyumai, pulai, dan
lain-lain.

e. Sistem Kesenian Dalam Masyarakat Iban


Masyarakat Iban dan aktivitas sosial mereka yang berpusat pada rumah panjang
menghasilkan banyak ekspresi seni. Wujud fisik dari hasil kesenian misalnya seni tari, seni ukir yang
berupa relief, seni pahat dan anyam-anyaman. Seni menganyam dalam tradisi masyarakat Iban
merupakan hasil pengetahuan turun-temurun. Begitu juga dengan tari-tarian dan seni suara yang
berupa syair atau dalam bahasa lokal disebut kana.
Keharmonisan kehidupan komunal rumah panjang tercermin dalam kegiatan budaya dan
kesenian, yakni pesta rakyat atau gawai. Gawai merupakan acara tahunan yang diselenggarakan di
rumah panjang. Adapun berbagai jenis gawai antara lain: Gawai Kenyalang, Tuncung Taun, Gawai
Kelingkang dan Nike Ka Benih.15[33] Pada dasarnya upacara-upacara tersebut merupakan ucapan
syukur atas segala anugerah dan berkah yang telah mereka terima dari Penguasa Tertinggi mereka
(Petara). Upacara-upacara tersebut diadakan pada penghujung tahun, tepatnya saat setelah
menyelesaikan panenan. Kegiatan ini memerlukan banyak tenaga dan oleh karena itu dalam setiap
kegiatan tercermin kebersamaan yang harmonis.

f. Sistem Pengetahuan
Bagi masyarakat Iban, rumah panjang berfungsi bukan hanya sebagai tempat tinggal
bersama. Rumah panjang juga menjadi lembaga pendidikan non-formal bagi para penghuninya. Di
dalam rumah panjanglah adat istiadat, budaya, dan tradisi para leluhur diwariskan secara turun
temurun.
Khazanah pengetahuan dalam masyarakat Iban diterima dari para orang tua yang dianggap
banyak memiliki pengalaman hidup, pengetahuan dan keterampilan. Kaum laki-laki Iban dikenal
sebagai tukang besi yang handal (ngamboh). Selain itu mereka sangat terampil dalam mengukir dan
menganyam.16[34] Kaum wanita Iban terampil dalam menenun kain dan menganyam berbagai jenis
keranjang yang lebih halus dan indah. Contoh hasil anyaman dan tenunan dapat dilihat pada
lampiran.
Di sela rutinitas yang dilakukan di rumah panjang, para penghuninya dapat menggunakan
waktu senggang untuk bertukar pengalaman dan berbincang-bincang. Dalam istilah setempat, hal ini
disebut berandau. Dalam bahasa Indonesia istilah ini lebih dikenal dengan bertamu. Seperti yang
sudah kita ketahui, Dayak Iban dikenal sebagai masyarakat yang egaliter. Hal ini amat mendukung
mereka dalam kegiatan sehari-hari. Sikap terbuka dan mau berbagi ditunjukkan dengan cara saling
memberi petunjuk dan bimbingan dalam melakukan segala sesuatu. Menurut Ketua Umum Majelis
Adat Dayak Kalbar Bapak. Jacobus Frans Layang, BA, SH, masyarakat Dayak Iban memanfaatkan
rumah panjang mereka untuk melakukan aktivitas seperti menenun, memahat, mengukir, menari
dan melaksanakan upacara adat.17[35] Kegiatan seperti itu bisa dilakukan dengan mudah karena
kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun yang diwariskan dari para tetua dan mereka yang
berpengalaman. Ini membuktikan bahwa sistem pengetahuan pada masyarakat Dayak Iban
diperoleh secara turun temurun. Mereka yang tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan
dianggap pemalas.18[36] Ini berarti bahwa setiap mereka yang hidup dalam rumah panjang
selayaknya memiliki keterampilan hidup jika tidak ingin dicap pemalas.

g. Sistem Religi
Masyarakat yang hidup dalam alam kebudayaan tradisional, memiliki kepercayaan yang
penuh magis.19[37] Kepercayaan terhadap hal-hal magis dan sakral itu timbul karena manusia tidak
mampu memenuhi tuntutan jawaban akan adanya kekuatan supranatural di luar jangkauan
manusia. Melalui praktik-praktik magis dan ritual mereka berupaya menjalin hubungan dengan
kekuatan yang lebih tinggi itu.20[38] Selain itu ada beberapa teori yang mengatakan bahwa manusia
itu kagum akan hal-hal yang luar biasa dalam hidupnya. Ada pula teori yang lebih subjektif yaitu
adanya suatu getaran atau emosi dalam diri manusia akibat pengaruh rasa kesatuan sebagai
masyarakat.21[39]
Alam pikir masyarakat Dayak Iban bersifat religius-magis. Mereka mempercayai adanya roh-
roh baik dan roh halus atau hantu. Sebelum masyarakat Dayak menganut agama Kristen, mereka
adalah penganut animisme. Animisme berarti percaya pada adanya roh yang mendiami suatu
tempat tertentu atau sebatang pohon yang dianggap keramat.22[40]
Meskipun hingga saat ini banyak suku Dayak Iban menganut agama Kristen, mereka tetap
berpegang teguh pada adat dan tradisi leluhur mereka. Adat istiadat tetap dipertahankan karena
dengan demikian mereka seperti memiliki pedoman hidup yang mengatur mereka dengan segala
unsur kehidupannya. Adat istiadat amat penting bagi keamanan dan ketertiban mereka.23[41]
Masyarakat Iban yang masih hidup di rumah panjang mengatur hidup mereka berdasarkan
keyakinan akan adanya kekuatan di luar diri mereka.
Jean-Francois Blehaut memberi penjelasan berikut tentang sistem religi masyarakat Iban:
The Iban religion, centred on the rice cult and characterised by the exaltation of their own social
virtues, is a shopisticated animism in which a complex phanteon of gods is dominated by two beings:
Lang or Singalang Burong, syimbolised by the Brahminy Kite who rules over the sky and war, and
Puyang Gana, god of earth and rice.......24[42]

Dalam sistem religi masyarakat Iban dikenal apa yang dinamakan dengan Singalang Burong,
penguasa langit, dan Puyang Gana, penguasa tanah dan padi. Konsep keyakinan ini tertanam kuat
dalam masyarakat Iban hingga kini meskipun sudah memeluk agama Kristen. Keyakinan akan
adanya Dewa tersebut, memberi rasa aman akan hidup dan keberlangsungannya.
Tingkah laku masyarakat Dayak pada umumnya selalu dibimbing oleh perasaan takut akan
kekuatan gaib yang ada di alam semesta ini. Alam semesta dalam tataran pemikiran orang Dayak
dipenuhi dengan makhluk-makhluk yang tidak kelihatan, sakti dan memiliki kekuatan.25[43]
Pendek kata sikap hidup orang Dayak selalu diwarnai akan perasaan takut dan berhati-hati terhadap
alam. Perasaan takut sekaligus bersatu dengan rasa hormat akan adanya kekuatan yang lebih tinggi
itu.
Kepercayaan timbul dalam kelompok masyarakat Dayak sebagai pendukung kebudayaan
karena manusia dianggap tidak dapat menjawab adanya kekuatan supranatural di luar jangkauan
akal mereka.26[44] Kekuatan ini menimbulkan pertanyaan bagi manusia sehingga manusia
melakukan berbagai macam cara untuk mencari hubungan dengan kekuatan yang lebih tinggi itu.
Agama tradisional mereka telah mengajarkan bagaimana harus bersikap terhadap alam.
Sikap tersebut masih mereka pelihara hingga kini. Alam telah memberi mereka berbagai macam
hasilnya. Alam telah menyediakan berbagai keperluan hidup masyarakat Dayak.