Anda di halaman 1dari 17

Nilai :

LAPORAN PRAKTIKUM
KARAKTERISTIK BAHAN HASIL PERTANIAN
Karakteristik Termal Bahan Hasil Pertanian (Pengukuran Nilai Kapasitas Kalor
(Cp))

Oleh :
Nama : Sarah Aiman Fakhirah

NPM : 240110170090

Hari, Tanggal Praktikum : Rabu, 10 Oktober 2018

Waktu / Shif : 15.30-17.30 WIB

Co. Ass : 1. Agnes Klarasitadewi

2. Dina Aprilia

3. Intan Siti Sa’adah

4. Rini Nurul Fauziyah

LABORATORIUM PASCA PANEN DAN TEKNOLOGI PROSES


DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN DAN BIOSISTEM
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bahan hasil pertanian memiliki tiga karakteristik bahan utama, yaitu
karakteristik fisik, mekanik, dan juga termal. Karakteristik fisik berhubungan
dengan apa yang terlihat mulai dari bentuk, warna dan lainnya. Krakteristik
mekanik berhubungan dengan pergerakan yang dialami oleh bahan. Karakteristik
termal berhubungan dengan suhu dan panas yang dibrikan atau dikeluarkan oleh
bahan. Karakteristik termal yang terdapat pada bahan hasil pertanian ini perlu untuk
diketahui, karena dapat mempertimbangkan proses, peralatan yang digunakan
untuk bahan hasil pertanian, dan juga pengolahan pada bahan hasil pertanian.
Proses yang berhubungan dengan sifat termal bahan hasil pertanian diantaranya
proses pemanasan, pembekuan dan pendinginan. Karakteristik termal ini meliputi
kalor spesifik, difusivitas termal bahan dan kondukvitas termal dari bahan agar
bahan dapat diperlakukan dengan baik dan memiliki batasan-batasan pada saat
pemberian perlakukan, karena jika ada kesalahan perlakuan pada bahan akan
mempengaruhi kualitas dan daya simpan dari bahan hasil pertanian tersebut.
Pengetahuan ini sangat penting bagi orang – orang yang berada dalam ruang
lingkup teknik pertanian. Pengetahuan ini juga dapat digunakan dalam men-design
alat maupun mesin pengolah bahan hasil pertanian seperti contohnya mesin
pengering gabah, tempat penyimpanan bahan dan vacuum frying. Pengetahuan
tentang karakteristik termal bahan hasil pertanian ini juga akan berguna dalam
perhitungan pindah panas suatu bahan.

1.2 Tujuan Praktikum


Tujuan dari praktikum kali ini adalah:
1. Menentukan nilai panas spesifik (Cp) dari beberapa jenis bahan hasil
pertanian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Karakteristik Termal
Sifat termal sebuah material mengacu pada respon material tersebut terhadap
panas. Saat sebuah material mengabosrbsi energi dalam bentuk panas,
temperaturnya akan meningkat serta dimensinya akan bertambah. Sifat termal
sebuah material meliputi kapasitas panas, ekspansi termal atau pemuaian, dan
konduktivitas termal (Kristanto, 2014). Karakteristik termal yang biasa dilakukan
pengujian untuk mengetahui jumlah energi panas tertentu dari suatu bahan hasil
pertanian diantaranya adalah panas spesifik (specific heat), konduktivitas termal
(thermal conductivity), dan difusivitas termal (thermal diffusivity). Pengukuran
panas spesifik ini terjadi dalam suatu perubahan suhu, tanpa terjadi perubahan fasa
bahan (Singh, 1984).

2.2 Kalor Spesifik


Kalor spesifik adalah ukuran panas untuk diperoleh atau dilepaskan oleh unit
massa dalam suatu perubahan suhu tanpa terjadi perubahan fase pada bahan. (Singh,
1984). Panas spesifik adalah jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan suhu
1 kg bahan sebesar 1◦C.Pengetahuan tentang panas spesifik sangat diperlukan untuk
perhitungan proses-proses pemanasan atau pendinginan (Kartasapoetra, 1994).
Persamaan untuk kalor spesifik adalah:
𝑄
𝐶𝑃 = ..............(1)
𝑀𝑥∆𝑇
dimana:
Cp = panas spesifik (kJ/kg.K) m = massa bahan (kg)
Q = energi panas (Joule) ∆T = perbedaan suhu (K)
Kalor spesifik merupakan hal yang sangat penting dalam menganalisis proses
dan peralatan yang digunakan dalam pemanasan atau pendinginan bahan makanan.
Faktor yang mempengaruhi kalor spesifik adalah kelembaban, suhu, dan tekanan
(Singh, 1984).
Informasi tentang panas spesifik sangat penting, apabila wujud dari bahan
pangan mengalami perubahan, maka nilai dari variabel panas spesifik harus
dimasukan dalam penghitungan beban panas. Konduktivitas termal bahan juga
dapat diprediksi dengan menggunakan model empiris. Hubungan teoritis dan
empiris yang digunakan dalam merancang proses panas menggunakan sifat-sifat
thermal dari bahan yang digunakan harus diketahui, namun informasi sifat-sifat ini
masih terbatas, dan yang tersedia diperoleh dengan berbagai teknik yang berbeda,
serta nilai ini tidak selalu tersedia. (Kristanto, 2014).
Panas spesifik bahan hasil pertanian dapat diukur secara langsung dengan
menggunakan bomb calorimeter atau dengan pendekatan menggunakan
persamaan-persamaan Siebel dan Persamaan Choi. Persamaan Siebel menyatakan
bahwa panas spesifik untuk buah-buahan, sayuran, dan konsentrat yang berasal dari
tumbuhan yang tidak mengandung lemak memiliki nilai yang bervariasi sesuai
dengan kadar airnya sehingga dengan demikian panas spesifik bahan merupakan
rata-rata dari panas spesifik air dan panas spesifik padatannya. Persamaan panas
spesifik bahan jika suhu bahan diatas titik beku adalah sebagai berikut.
Cp = 3349 M + 837,36.............(2)
Sedangkan jika suhu bahan dibawah titik beku, persamaannya adalah:
Cp =1256 M + 837,36.............(3)
Keterangan:
Cp = panas spesifik bahan (J/kg K)
M = fraksi massa air

2.3 Perpindahan Kalor


Perpindahan panas merupakan ilmu untuk meramalkan perpindahan energi
dalam bentuk panas yang terjadi karena adanya perbedaan suhu di antara benda atau
material. Ada tiga bentuk mekanisme perpindahan panas yang diketahui, yaitu
konduksi, konveksi, dan radiasi. (Kopelman, 1966)
Perpindahan kalor secara konduksi adalah proses perpindahan kalor dimana
kalor mengalir dari daerah yang bertemperatur tinggi ke daerah yang bertemperatur
rendah dalam suatu medium (padat, cair atau gas) atau antara medium-medium
yang berlainan yang bersinggungan secara langsung sehingga terjadi pertukaran
energi dan momentum. Konveksi adalah perpindahan panas karena adanya
gerakan/aliran/ pencampuran dari bagian panas ke bagian yang dingin. Perpindahan
panas radiasi adalah proses di mana panas mengalir dari benda yang bersuhu tinggi
ke benda yang bersuhu rendah bila benda-benda itu terpisah di dalam ruang, bahkan
jika terdapat ruang hampa di antara benda-benda tersebut (Kopelman,1996).

2.4 Timbangan Analitik


Neraca analitis (timbangan) digunakan untuk menimbang berat suatu bahan.
Hal yang paling penting diketahui adalah kapasitas dan ketelitian neraca. Neraca
halus mempunyai ketelitian 0,1 mg bahkan ada yang µg. Jenis neraca yang dipakai
tergantung dari tujuan penimbangan misalnya untuk menentukan kadar air dan abu
digunakan neraca analitik dengan ketelitian 0,1 mg, supaya penimbangan bahan
bisa tepat maka harus dilakukan pada kelembaban udara yang terkontrol (tetap)
serta suhu kamar, untuk hal tersebut pada ruang timbang dilengkapi dengan silika
gel dan bahan harus dalam suhu ruang, bila perlu bahan dimasukkan dulu dalam
eksikator sebelum penimbangan dilakukan agar mencapai kondisi serba sama.
Untuk bahan yang bersifat mudah menyerap air (higroskopis) harus ditimbang
dalam botol timbang yang tertutup dan penimbangan dilakukan secepat mungkin
(Kopelman, 1996).
BAB III
PENGAMATAN DAN PENGUKURAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
Berikut merupakan alat-alat yang digunakan pada saat praktikum:
1. Beaker glass;
2. Gelas ukur;
3. Stopwatch;
4. Termometer;
5. Termos;
6. Timbangan Analitik; dan
7. Water heater.

3.1.2 Bahan
Berikut merupakan bahan-bahan yang digunakan pada saat praktikum:
1. Air;
2. Jeruk limau; dan
3. Tomat ceri.

3.2 Prosedur Percobaan


Prosedur yang dilakukan dalam praktikum ini adalaj:
1. Memanaskan air dengan menggunakan water heater;
2. Menimbang bahan dengan menggunakan timbangan analitik (mb);
3. Mengukur suhu awal bahan (Tb1) dengan asumsi Tb1 = T ruangan;
4. Menimbang air panas dengan menggunakan timbangan analitik (ma);
5. Memasukkan air panas ke dalam termos;
6. Mengukur suhu air panas (Ta1);
7. Memasukkan bahan ke dalam termos;
8. Menutup termos dan membiarkannya selama 15 menit;
9. Membuka tutup termos setelah 15 menit;
10. Mengukur kembali suhu air (Ta2) dan suhu bahan (Tb2); dan
11. Menghitung Cp bahan dengan menggunakan persamaan (1).
BAB IV
HASIL

4.1 Hasil
4.1.1 Tabel 1. Data Hasil Pengukuran Kelompok 1
Parameter Tomat Ceri Jeruk Limau

Mb (kg) 0,006719 kg 0,00716 kg

Tb1 (K) 298,65 K 298,65 K

Tb2 (K) 340,95 K 339,35 K

∆Tb (K) 42,3 K 40,7 K

Ta1 (K) 356,85 K 352,85 K

Ta2 (K) 351,65 K 346,85 K

∆Ta (kg) 5,2 K 6K

Ma (kg) 0,197259 kg 0,191919 kg

4.1.2 Tabel 2. Data Hasil Pengukuran Kelompok 2


Parameter Tomat Cerry Jeruk Limau

Mb ( Kg ) 8,98x10-3 kg 6,39x10-3 kg

TB 1 ( K ) 298,65 K 298,65 K

TB 2 ( K ) 338,95 K 339,25 K

∆𝑇𝐵 ( K ) 40,3 K 40,6 K

T a1 ( K ) 355,05 K 351,25 K

T a2 ( K ) 340,05 K 340,85 K

∆𝑇𝑎 ( K ) 15 K 10,4 K

Ma ( Kg ) 1,87x10-1 Kg 1,89x10-1 Kg
4.1.3 Tabel 3. Data Hasil Pengukuran Kelompok 3
Parameter Tomat Ceri JerukLimau

Mb (kg) 7,45 x 10 -3 7,85 x 10-3

Tb1 (K) 298,65 298,65

Tb2 (K) 340,65 341,85

∆Tb (K) 42 43,2

Ta1 (K) 353,75 353,45

Ta2 (K) 347,05 347,15

∆Ta (K) 6,7 6,3

Ma (kg) 191,43 x 10-3 193,42 x 10-3

4.1.4 Tabel 4. Data Hasil Pengukuran Kelompok 4


Parameter Tomat Ceri Jeruk Limau

Mb (kg) 0,00242 kg 6,03 × 10-3 kg

Tb1 (K) 298,65 K 299,45 K

Tb2 (K) 323,85 K 341,15 K

∆Tb (K) 25,2 K 41,7 K

Ta1 (K) 351,55 K 355,85 K

Ta2 (K) 347,45 K 349,45 K

∆Ta (K) 4,1 K 6,4 K

Ma (kg) 0,19095 kg 0,17463 kg


4.1.5 Tabel 5. Data Hasil Pengukuran Kelompok 5
Parameter Tomat Ceri Jeruk Limau

mb (kg) 3,14 × 10−3 kg 7,80 × 10−3 kg

Tb1 (K) 298.65 K 298.65 K

Tb2 (K) 339.95 K 34435 K

∆Tb (K) 41,3 K 45,7 K

Ta1 (K) 352,85 K 355,15 K

Ta2 (K) 347,35 K 349,65 K

∆Ta (K) 5,5 K 5,5 K

ma (kg) 186,98 × 10−3 kg 191,71 × 10−3 kg

4.1.6 Tabel 6. Hasil Perhitungan


Kelompok Panas Spesifik (Cp)

Tomat Ceri Jeruk Limau

1 15,105 16,976

2 32,4680 31,6831478

3 17,1338 15,0198

4 53,6616342 13.14485

5 33,14778 12,364396

4.2 Perhitungan
Qa = Qb
ma . Cpa . ∆Ta = mb . Cpb . ∆Tb
ma . Cpa . ∆Ta
Cpb =
mb . ∆Tb
Cpa = 4.18 kJ⁄kg. K
4.2.1 Perhitungan kelompok 1
1. Perhitungan Cp Tomat Ceri
ma × Cpa × ∆Ta
Cpb =
mb × ∆Tb
0,19725 × 4,18 × 5,2
Cpb =
0,00671 × 42,3
Cpb = 15,105(kJ/kg.K)
2. Perhitungan Cp Jeruk Limau
ma × Cpa × ∆Ta
Cpb =
mb × ∆Tb
0,191919 × 4,18 × 6
Cpb =
0,00716 × 40,7
Cpb = 16,51726 (kJ/kg.K)

4.2.2 Perhitungan kelompok 2


1. Perhitungan Cp Tomat Ceri
ma × Cpa × ∆Ta
Cpb =
mb × ∆Tb
0,1874 × 4,18 × 15
Cpb =
0,00898 × 40,3
Cpb = 32,46801 (KJ/KgK)
2. Perhitungan Cp Jeruk Limau
ma × Cpa × ∆Ta
Cpb =
mb × ∆Tb
0,18908 × 4,18 × 10,4
Cpb =
0,00639 × 40,6
Cpb = 31,6831 (KJ/KgK)

4.2.3 Perhitungan kelompok 3


1. Perhitungan Cp Tomat Ceri
ma × Cpa × ∆Ta
Cpb =
mb × ∆Tb
0,19143 × 4,18 × 6,7
Cpb =
0,00754 × 42
Cpb = 17,1338 (kJ/kg.K)
2. Perhitungan Cp Jeruk Limau
ma × Cpa × ∆Ta
Cpb =
mb × ∆Tb
0,19342 × 4,18 × 6,3
Cpb =
0,00785 × 43,2
Cpb = 15,0198 (kJ/kg.K)

4.2.4 Perhitungan kelompok 4


1. Perhitungan Cp Tomat Ceri
ma × Cpa × ∆Ta
Cpb =
mb × ∆Tb
0,19095 × 4,18 × 4,1
Cpb =
0,00242 × 25,2
Cpb = 53,6616342(kJ/kg.K)
2. Perhitungan Cp Jeruk Limau
ma × Cpa × ∆Ta
Cpb =
mb × ∆Tb
0,71630 × 4,18 × 6,4
Cpb =
0,00603 × 41,7
Cpb = 18,57897467 (kJ/kg.K)

4.2.5 Perhitungan kelompok 5


1. Perhitungan Cp Tomat Ceri
ma × Cpa × ∆Ta
Cpb =
mb × ∆Tb
0,18698 × 4,18 × 5,5
Cpb =
0,00314 × 41,3
Cpb = 33,14778 (kJ/kg.K)
2. Perhitungan Cp Jeruk Limau
ma × Cpa × ∆Ta
Cpb =
mb × ∆Tb
0,19171 × 4,18 × 5,5
Cpb =
0,00078 × 45,7
Cpb = 12,364396 (kJ/kg.K)
BAB V
PEMBAHASAN

Praktikum kali ini mempelajari tentang pengukuran panas spesiifik dari suatu
bahan hasil pertanian. Bahan hasil pertanian yang diamati aala tomat ceri dan jeruk
limau. Hasil yang kelompok kami dapatkan adalah tomat ceri dengan massa
0,00745 kg yang dihitung dengan keadaan awal 298,65 K, suhu air 353,75 K serta
massa air 0,19143 kg memiliki nilai kalor spesifik sebesar 17,1338 kJ/kg.K pada
suhu air akhir 347,05 K dan suhu lingkungan 340,65 K. Selisih suhu lingkungan
yang didapat sebesar 42 K dan perbedaan suhu air sebesar 6,7 K. Hasil perngamatan
dari jeruk limau massa 0,00745 kg yang dihitung dengan keadaan awal 298,65 K,
suhu air 347,15 K serta massa air 0,19342 kg memiliki nilai kalor spesifik sebesar
15,0198 kJ/kg.K pada suhu air akhir 353,45 K dan suhu lingkungan 341,85 K.
Selisih suhu lingkungan yang didapat sebesar 43,2 K dan perbedaan suhu air
sebesar 6,3 K.
Hasil pengamatan kalor spesifik yang didapatkan dari setiap kelompok yang
melakukan pengukuran berbeda – beda. Hasil yang kelompok satu dapatkan adalah
tomat ceri dengan massa 0,006719 kg yang dihitung dengan keadaan awal yang
sama memiliki panas spesifik sebesar 15,105 kJ/kg.K. Hasil yang kelompok dua
dapatkan adalah tomat ceri dengan massa 0,00898 kg yang dihitung dengan
keadaan awal yang sama memiliki panas spesifik sebesar 32,46801 kJ/kg.K. Hasil
yang kelompok empat dapatkan adalah tomat ceri dengan massa 0,00242 kg yang
dihitung dengan keadaan awal yang sama memiliki panas spesifik sebesar 53,66134
kJ/kg.K. Hasil yang kelompok lima dapatkan adalah tomat ceri dengan massa
0,00314 kg yang dihitung dengan keadaan awal yang sama memiliki panas spesifik
sebesar 33.14778 kJ/kg.K.
Hasil untuk pengamatan kalor spesifik jeruk limau juga mendapatkan hasil
yang berbeda – beda. Hasil yang kelompok satu dapatkan adalah jeruk limau
dengan massa 0,006719 kg yang dihitung dengan keadaan awal yang sama
memiliki panas spesifik sebesar 16,51726 kJ/kg.K. Hasil yang kelompok dua
dapatkan adalah jeruk limau dengan massa 0,00898 kg yang dihitung dengan
keadaan awal yang sama memiliki panas spesifik sebesar 31,6831 kJ/kg.K. Hasil
yang kelompok empat dapatkan adalah tomat ceri dengan massa 0,00242 kg yang
dihitung dengan keadaan awal yang sama memiliki panas spesifik sebesar 18,57897
kJ/kg.K. Hasil yang kelompok lima dapatkan adalah tomat ceri dengan massa
0,00314 kg yang dihitung dengan keadaan awal yang sama memiliki panas spesifik
sebesar 12,3643 kJ/kg.K.
Nilai kalor spesifik dari tomat ceri yang terdapat pada literatur adalah 3,98
kJ/kg.K. Hasil yang didapat memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Perbedaan
nilai terbesar antara hasil pengamatan dan nilai literatur adalah 49,68134. Nilai
kalor spesifik dari jeruk limau adalah 3,77 kJ/kg.K. Selisih nilai yang paling besar
adalah 27,9131 kJ/kg.K. Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan waktu
pengamatan, dimana bahan yang satu tidak tepat diukur setelah dua puluh menit
setelah dimasukan kedalam air. Faktor lainnya adalah perebedaan bahan yang
digunakan dalam pengamatan. Bahan yang diamati kelompok satu berbeda dengan
bahan yang diamati oleh kelompok lainnya meskipun masih didalam satu jenis yang
sama. Perbedaan ini terjadi karena sifat bahan hasil pertanian yang tidak seragam,
tidak sama percis bahan yang satu dengan bahan lainnya. Faktor lainnya adalah
kemungkinan kehilangan panas saat air masih berada dalam termos.
Praktikum kali ini juga mendapatkan nilai titik didih air dibawah 100˚C. hasil
ini didapatkan karena nilai titik didih air sebesar 100˚C akan terjadi jika dilakukan
pada tekanan 1 atm yaitu pada ketinggian nol meter dari permukaan laut.
Pengaplikasian pengetahuan tentang panas spesifik ini sangat penting bagi orang –
orang yang berada diruang lingkup teknik pertanian. Pengetahuan ini dapat dipakai
dalam proses, pen-design-an alat dan mesin, serta penanganan lebih jauh dari bahan
hasil pertanian. Dengan perlakuan yang baik,maka bahan hasil pertanian dapat
terjadi kualitasnya dan tahan lama.
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum yang telah dilakukan diantaranya:
1. Karaketristik termal bahan terdiri dari kalor spesifik, difusivitas termal,
dan konduktivitas termal;
2. Kalor spesifik tomat ceri adalah 17,1338 kJ/kg.K dan jeruk limau adalah
15,0198 kJ/kg.K.;
3. Suhu dan massa merupakan faktor yang mempengaruhi perhitungan kalor
pesifik; dan
4. Karakteristik termal bahan diperlukan untuk menentukan pengolahan,
operasi, dan pengendalian pada saat memberikan perlakuan terhadap
bahan yang berhubungan dengan penggunaan termal

6.2 Saran
Saran untuk praktikum kali ini adalah:
1. Mengecek bahan dan alat sebelum praktikum berlangsung; dan
2. Pengukuran waktu harus sama dan tepat untuk setiap kali melakukan
pengukuran.
DAFTAR PUSAKA

Brecht, Jeff. 2008. Tomatoes and Tomate Product.Institute of Food and


Agricultural Science University of Florida.
Kartasapoetra, A. G. Ir. 1994. Teknologi Penanganan Pasca Panen. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Kopelman, I.J. 1966. Transient Heat Transfer and Thermal Properties in Food
Systems. Ph.D Thesis, Michigan State University.
Kristanto, Dionisius. 2014. Sifat Termal Material. Semarang: Universitas
Diponegoro.
Singh, R.P. and D.R. Heldman. 1984. Introduction to Food Engineering. San
Diego California: Academic Press Inc.
LAMPIRAN

Dokumentasi Praktikum

Gambar 1. Perhitungan waktu Gambar 2. Pengukuran massa air

Gambar 3. Pengukuran suhu bahan Gambar 4. Pengukuran massa bahan