Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRATIKUM ANTROPOMETRI

Antropometri adalah ilmu yang mempelajari berbagai ukuran tubuh manusia. Antropometri
dalam bidang ilmu gizi digunakan untuk menilai status gizi. Ukuran yang sering digunakan adalah
berat badan dan tinggi badan. Selain itu juga ukuran tubuh lainnya seperti lingkar lengan atas,
lapisan lemak bawah kulit, lingkaran pinggang, lingkaran pinggul dan lain-lain. (Sandjaja, dkk.,
2010).
Antropometri merupakan salah satu metode yang dapat dipakai secara universal, tidak mahal
dan metode yang non invasif untuk mengukur ukuran, bagian dan komposisi dari tubuh manusia.
Pertumbuhan anak-anak dan dimensi tubuh pada segala usia dapat mencerminkan kesehatan dan
kesejahteraan dari individu dan populasi, sehingga antropometri dapat juga digunakan untuk
memprediksi performa, kesehatan, dan daya tahan hidup. Selain itu, aplikasi antropometri
mencakup berbagai bidang karena dapat dipakai untuk menilai status pertumbuhan, status gizi dan
obesitas.
Berdasarkan tujuan penelitian pengukuran antropometri, setidaknya ada beberapa hal
penting yang mewakili tujuan pengukuran yaitu mengetahui kekekaran otot, kekekaran tualng,
ukuran tubuh secara umum, panjang tungkai dan lengan, serta kandungan lemak tubuh di
ekstremitas dan di torso. Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi, antropometri disajikan
dalam bentuk indeks, misalnya berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan atau panjang
badan menurut umur (TB/U atau PB/U) atau berat badan menurut tinggi badan atau panjang
badan (BB/TB atau BB/PB), lingkar lengan atas menurut umur (LLA/U), indeks massa tubuh
menurut umur (IMT/U) dan sebagainya (Barasi, 2008).

Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari percobaan ini adalah :
a. Untuk menentukan dan mengetahui status gizi perseorangan dengan perhitungan indeks BB/U
b. Untuk menentukan dan mengetahui status gizi perseorangan dengan perhitungan indeks BB/PB
atau BB/TB
c. Untuk menentukan dan mengetahui status gizi perseorangan dengan perhitungan indeks PB/U
atau TB/U
d. Untuk menentukan dan mengetahui status gizi perseorangan dengan pegukuran indeks LILA/U
e. Untuk menentukan dan mengetahui status gizi perseorangan dengan pegukuran indeks massa
tubuh menurut umur
f. Untuk menentukan dan mengetahui status gizi perseorangan dengan pegukuran tebal lemak
bawah kulit
g. Untuk menentukan dan mengetahui status gizi perseorangan dengan pegukuran indeks lingkar
pinggang
BAB II
METODOLOGI PRAKTIKUM

2.1 Alat Pengukuran

Alat Fungsi
Baby Scale Mengukur BB Bayi
Dacin Mengukur BB Balita
Timbangan injak Mengukur BB AUS, Remaja dan
Lansia
Infantometer Mengukut panjang badan
Microtoise Mengukur tinggi badan
Pita LiLa Mengukur lingkar lengan atas
Waist Meter Mengukur Lingkar pinggang
Metline Mengukur tinggi lutut
Skin Fold Caliper Mengukur tebal lemak bawah kulit

2.2 Prosedur Praktikum


1. Pengukuran Berat Badan dengan Baby Scale
a. Letakkan alat pada permukaan yang rata atau bidang datar
b. Pastikan jarum penunjuk pada timbangan menunjuk pada angka nol
c. Usahakan bayi menggunakan pakaian yang seminimal mungkin
d. Letakkan bayi dengan hati-hati di bagian tengah timbangan
e. Tunggu sampai bayi tenang dan jarum timbangan konstan menunjukkan angka tertentu
f. Catat hasil penimbangan dengan ketelitian sampai satu angka desimal dan angkat bayi dari
timbangan

2. Pengukuran Berat Badan dengan Dacin


a. Gantungkan dacin pada penyangga kaki tiga (tripod)
b. Periksa kembali apakah dacin sudah tergantung kuat dengan cara menarik batang dacin ke bawah
kuat-kuat
c. Posisikan bandul geser pada angka nol
d. Berikan tali pengaman pada batang dacin agar tidak menciderai pengukur saat melakukan
penimbangan
e. Pasang sarung timbang pada dacin. Pastikan bandul geser berada pada angka nol
f. Timbang balita dengan pakaian yang seminimal mungkin dan seimbangkan dacin dengan
menggeser bandul
g. Catat hasil penimbangan dengan cara melihat ujung bandul geser
h. Pindahkan bandul geser ke angka nol kembali, kemudian angkat balita dari sarung timbang
i.
3. Pengukuran Berat Badan dengan Timbangan Injak
a. Responden mengenakan pakaian biasa (usahakan dengan pakaian yang minimal).
Responden tidak mengguakan alas kaki
b. Dipastikan timbangan berada pada penunjukan skala dengan angka 0
c. Responden diminta naik ke alat timbang dengan berat badan tersebar merata pada kedua
kaki dan posisi kaki tepat di tengah alat timbang.
d. Diperhatikan posisi kaki responden tepat di tengah alat timbang, usahakan agar responden
tetap tenang dan kepala tidak menunduk (memandang lurus kedepan)
e. Jarum akan bergeser dan menunjukkan berat badan responden pada angkat yang ada di
skala
f. Dibaca dan dicatat berat badan pada tampilan dengan skala 0 terdekat
g. Responden diminta turun dari alat timbang

4. Pengukuran Panjang Badan (PB)


a. Sebelum mengukur panjang bayi, letakannlah alat pada permukjaan yang rata dengan ketinggian
yang nyaman untuk mengukur dan cukup kuat.
b. Beri alas yang tidak terlalu tebal
c. Lepaskan penutup kepala bayi, topi, hiasan rambut dan kaos kaki bayi
d. Kemudian pengukur berdiri pada salah satu sisi, sebaiknya sisi yang paling dekat dengan skala
pengukur
e. Letakkan bayi pada kepala menempel pada bagian kepala atau head board
f. Posisikan kepala bayi sehingga sudut luar mata dan sudut atas liang telinga berada pada garis yang
tegak dengan bidang infantometer
g. Usahakan dapat mempertahankan kepala bayi pada posisi
h. Luruskan tubuh bayi sejajar dengan bidang infantometer
i. Luruskan tungkai bayi bila perlu salah satu tangan pengukur menahan agar lutut bayi lurus
j. Dengan tangan yang lain pengujkur mendorong atau menggerakkan bagian kaki atau foot board
sehingga menempel dengan tumit bayi
k. Posisi kaki bayi adalah jari kaki menunjuk ke atas
l. Baca dan catat hasil pengukuran panjang badan bayi

5. Pengukuran Tinggi Badan (TB)


a. Responden tidak mengenakan alas kaki (sandal/sepatu), penutup kepala seperti topi. Posisikan
responden tepat di bawah microtoice
b. Reponden diminta berdiri tegak, persis di bawah alat geser.
c. Posisi kepala dan bahu bagian belakang, lengan, pantat dan tumit menempel pada dinding tempat
microtoise di pasang.
d. Pandangan lurus ke depan
e. Gerakan alat geser sampai menyentuh bagian atas kepala responden. Pastikan alat geser berada
tepat di tengah kepala responden. Dalam keadaan ini bagian belakang alat geser harus tetap
menempel pada dinding.
f. Dibaca angka tinggi badan pada jendela baca ke arah angka yang lebih besar (ke bawah).
Pembacaan dilakukan tepat di depan angka (skala) pada garis merah, sejajar dengan mata petugas.
g. Catat tinggi badan dengan menambahkan 0,6 cm

6. Pengukuran Lingkar Pinggang


a. Responden menggunakan pakaian yang longgar (tidak menekan) sehingga alat ukur dapat
diletakkan dengan sempurna.
b. Responden berdiri tegak dengan perut dalam keadaan rileks
c. Pengukur menghadap ke responden dan meletakkan alat ukur melingkar pinggang secara
horizontal tepat diatas pusar responden
d. Hasil pengukuran pada pita dibaca dengan teliti dan dicatat

7. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA)


a. Penentuan Titik Mid Point Pada Lengan
1) Responden diminta berdiri tegak
2) Responden dminta untuk membuka lengan pakaian yang menutup lengan kiri atas (bagi yang kidal
gunakan lengan kanan)
3) Tekukan tangan responden membentuk 900 dengan telapak tangan menghadap ke atas. Pengukur
berdiri dibelakang dan menentukan titik tengah antara tulang rusuk atas pada bahu kiri dan siku
4) Ditandai titik tengah tersebut dengan pena
b. Mengukur Lingkar Lengan Atas (LILA)
1) Dengan tangan tergantung lepas dan siku lurus di samping badan, telapak tangan menghadap ke
bawah
2) Diukur lingar lengan atas pada posisi mid point dengan pita LILA menempel pada kulit dan
dilingkarkan secara hotizontal pada lengan. Perhatikan jangan sampai pita menekan kulit atau ada
rongga antara kulit dan pita
3) Hasil penukuran lingkar lengan atas dibaca dan dicatat

8. Pengukuran Tinggi Lutut


a. Responden yang akan diukur tinggi lututnya duduk pada kursi
b. Posisi duduk sempurna dalam kondisi duduk siap (badan tegak, tangan bebas kebawah dan wajah
menghadap ke depan
c. Lutut kaki membentuk suduk siku-siku atau 90o
d. Telapak kaki kiri yang diukur juga membentuk sudut 90o
e. Pasang alat pengukur tepat pada telapak kaki kiri bagian tumit dan lutut
f. Baca dan catat hasil pengukuran
9. Pengukuran Tebal Lemak Bawah Kulit (TLBK)
Biceps Skinfold
a. Responden berdiri tegak dengan kedua lengan tergantung bebas pada kedua sisi tubuh
b. Pengukuran dilakukan pada bisep atau bagian lengan yang paling putih
c. Pada sekitar 1 cm diatas titik yang telah ditandai tersebut, tarik lipatan kulit dan jaringan lemak
dibawahnya secara vertical, dan pasang penjepit caliper dan biarkan 2 asmpai 3 detik setelah
penahan / pegas penjepit caliper dilepas
d. Biceps skinfold diukur dengan mendekati 0,1 mm
e. Baca dan catat hasil

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengukuran
Tabel Hasil Pengukuran Parameter Antropometri Berdasarkan Kelompok Umur
Kelompok BB PB TB IMT LiLa Tinggi LiPi Tlbk
No Umur (tahun)
Umur (kg) (cm) (cm) (cm) Lutut (cm) (cm) (mm)
1 Bayi
a. Laki-Laki 8,9 74 2 Juni 2016 16,25
b. Perempuan 8,2 70 16 Mei 2016 16,73
2 Balita
a. Laki-Laki 13,4 87 9 Juli 2014
b. Perempuan 16,7 104,5 12 April 2012
3 Usia Sekolah
a. Laki-Laki 48,9 145,6 4 September 23,07
b. Perempuan 25,5 124,5 2007 16,45
1 Agustus 2007
4 Remaja
a. Laki-Laki 47 160,3 1 Februari 2001 18,29
b. Perempuan 57 154 20 November 24,03 26
1999
5 Lansia
a. Laki-Laki 73,9 163 6 Juli 1967 27,81 46 94 20
b. Perempuan 45 149,3 21 Mei 1956 20,18 23,5 41,5 77 10

3.2 Hasil Penghitungan


Tabel Index Antropometri
No Kelompok BB/U BB/PB PB/U BB/TB TB/U IMT/U LiLa/U LP TLBK
Umur (mm)
Bayi
1 c. Laki-Laki 0,85 -0,53 2,61 - - -0,80 - - -
d. Perempuan 0,57 0,05 1,15 - - -0,11 - - -
Balita
2 c. Laki-Laki 0,15 - - 1,18 -1,30 1,40 - - -
d. Perempuan -0,34 - - 0,06 -0,62 0,02 - - -
Usia Sekolah
3 c. Laki-Laki - - - - - 2 - - -
d. Perempuan - - - - - Median - - -
Remaja
c. Laki-Laki - - - - - -1 - - -
4
d. Perempuan - - - - - Median Tidak - -
KEK
Lansia
c. Laki-Laki - - - - - Obes 1 - Berisiko average
5
d. Perempuan - - - - - Normal Tidak Tidak berisiko lean
KEK

3.3 Pembahasan
1. Bayi
Pengukuran pada responden bayi laki-laki didapatkan hasil perhitungan
BB/U yaitu 0,85 SD dengan kategori status gizi baik, BB/PB yaitu -0,53 SD dengan kategori staus
gizi normal, PB/U 2,61 SD dengan kategori status gizitinggi dan IMT/U -0,11 SD dengan kategori
status gizi normal. Sedangkan untuk responden bayi perempuandidapatkan hasil perhitungan
BB/U yaitu 0,57 SD dengan kategori status gizi baik, BB/PB yaitu 0,05 SD dengan kategori staus
gizi normal, PB/U 1,15 SD dengan kategori status gizi normal dan IMT/U -0,11 SD dengan
kategori status gizi normal.
2. Balita
Pengukuran pada responden balita laki-laki didapatkan hasil perhitungan BB/U yaitu 0,15
SD dengan kategori status gizi baik, BB/TB yaitu 1,18 SD dengan kategori staus gizi normal,
TB/U -1,30 SD dengan kategori status gizi normal, dan IMT/U 1,4 SD dengan kategori status gizi
normal. Sedangkan responden balita perempuan didapatkan hasil perhitungan BB/U, yaitu -0,34
SD dengan kategori status gizi baik, BB/TB yaitu 0,06 SD dengan kategori staus
gizi normal, TB/U yaitu -0,62 SD dengan kategori status gizi normal dan IMT/U yaitu 0,02
SD dengan kategori status gizi normal.
3. Anak usia sekolah
Pengukuran pada responden anak usia sekolah laki-laki didapatkan IMT/U yaitu 2 SD
dengan kategori status gizi gemuk. Sedangkan responden anak usia sekolah
perempuan didapatkan IMT/U yaitu median dengan kategori status gizi dalam median atau nilai
tengah.
4. Remaja
Pengukuran pada responden remaja laki-laki didapatkan IMT/U -1 SD dengan kategori
status gizi normal. Sedangkan responden remaja perempuan didapatkan
IMT/U medium dengan kategori status gizi normal dan Lila/Udidapatkan hasil 26
cm menunjukkan bahwa klasifikasi status gizi normal atau tidak mengalami kondisi kekurangan
energi kronik.
5. Lanjut usia
Pengukuran pada responden lanjut usia laki-laki didapatkan LIPI yaitu sebesar 94 cm berarti
responden tersebut beresiko terkena penyakit degeneratif dan obesitas, dengan tebal lemak bawah
kulit sebesar 20 dan dalam kategoriaverage, untuk IMT sebesar 27,81 kg/m2 dan dalam kategori
obes 1 dan didapatkan hasil pengukuran tinggi lutut 46 cm dari tinggi badan 163 cm dan dilakukan
penghitungan prediksi tinggi badan dengan menggunakan rumus hasilnya 155,15 cm dengan
selisih 7,85 cm dari tinggi badan. Sedangkan Untuk responden lanjut usia perempuan didapatkan
LIPI yaitu sebesar 77 cm berarti responden tersebut tidak beresiko terkena penyakit degeneratif,
dengan tebal lemak bawah kulit sebesar 10 dan dalam kategori lean, untuk IMT
sebesar 20,18 kg/m2 berarti dalam kategori normal danLila/U didapatkan hasil 23,5
cm menunjukkan bahwa klasifikasi status gizi normal atau tidak mengalami kondisi kekurangan
energi kronik dan didapatkan hasil pengukuran tinggi lutut 41,5 cm dari tinggi badan 149,3 cm
dan dilakukan penghitungan prediksi tinggi badan dengan menggunakan rumus hasilnya 146,38
cm dengan selisih 2,92 cm dari tinggi badan

Daftar Pustaka

Susilowati. 2013. Modul Perkuliahan Penilaian Status Gizi

Susilowati, Kuspriyanto. 2016. Gizi dalam Daur Kehidupan. Bandung: PT. Refika Aditama

Supariasa, nyoman. dkk. 2016. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC

Sirajuddin, Saifuddin. 2012. Penuntun Praktikum Penilaian Status Gizi Secara Biokimia dan
Antropometri.

Buku-SK-Antropometri-2010
LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN CAIRAN PADA ANAK

Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh merupakan salah satu bagian dari fisiologi
homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan
berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air ( pelarut) dan zat tertentu
(zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik
yang disebut ion jika berada dalam larutan. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya
distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh.
Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya.

 Kebutuhan Nutrien Air pada Anak

UMUR BB ( AIR TOTAL 24 Jam( ml NUTRIEN 24 Jam( ml


Kg ) ) )
1 Tahun 9,5 1350 – 1500 120 – 135
2 Tahun 11,8 1600 – 1800 115 – 125
4 Tahun 16,2 1800 – 2000 100 – 110
6 Tahun 20,0 2000 – 2500 90 – 100
10 Tahun 28,7 2200 – 2700 70 – 85
14 Tahun 45,0 2200 – 2700 50 – 60

Kebutuhan air pada anak:

BERAT BADAN KEBUTUHAN AIR/ HARI


1- 10 KG 100 ML/ KG BB
11- 20 KG 1000 ML + 50 ML / KG DIATAS BB 10 KG
> 20 KG 1500 ML + 20 ML / KG DIATAS BB 20 KG

Kebutuhan cairan pada tubuh data dihitung sebagai berikut:

· Pada anak < 10 Kg , maka 10 Kg dihitung 100 ml/ BB. Missal BB 8 kg maka kebutuhan
cairan adalah 8 x 100 = 800 ml/hari.

· Pada anak dengan BB 10 – 20 Kg, maka 1000 ml pada 10 kg pertama dan ditambah 50 ml
per Kg penambahan berat badannya. Missal BB = 15 kg, maka 1000 ml ditambah 5 x 50 ml
maka menjadi 1250 ml/ hari kebutuhan cairannya
· Pada seorang dengan berat badan > 20 Kg maka rumusnya adalah 1500 ml pada 20 kg
pertama dan ditambah 20 ml/Kg sisanya, misal seseorang dengan BB 40 Kg, maka 20 kg
pertama adalah 1500 ml, sedangkan 20 kg sisanya x 20 ml = 400 ml sehingga kebutuhan cairan
seseorang dengan berat 40 kg adalah 1500 + 400 ml = 1900 ml/hari
Contoh soal:
1. Berapa kebutuhan cairan normal per hari untuk anak dengan berat 7 kg?
Diketahui: kebutuhan air/hari untuk BB 1-10 kg = 100 ml/kg BB
Jawab : 7 kg x 100 ml/kg = 700 ml/hari
2. Berapa kebutuhan cairan normal per hari untuk anak dengan berat 12 kg?
Diketahui:
· Kebutuhan air/hari untuk BB 11-20 kg = 1000 ml + 50 ml/ kg
· 12 kg = 10 kg + 2 kg = 1000 ml + 2 kg
Jawab : 1000 ml + (2 kg x 50 ml) = 1000 + 100 = 1100 ml/hari
3. Berapa kebutuhan cairan normal per hari untuk anak dengan berat 50 kg?
Diketahui:
· Kebutuhan air/hari untuk BB > 20 kg = 1500 ml + 10 ml/kg
· 50 kg = 20 kg + 30 kg = 1500 ml + 30 kg
Jawab: 1500 ml + (30 kg x 20 ml) = 1500 + 600 = 2100 ml/hari

Kebutuhan intake cairan berdasarkan umur dan berat badan

No. Umur BB (kg) Kebutuhan Cairan (ml)

2. 1 tahun 9,5 1150 – 1300


3. 2 tahun 11,8 1350 – 1500
4. 6 tahun 20 1800 – 2000
5. 10 tahun 28,7 2000 – 2500
6. 14 tahun 45 2200 – 2700

2. Output Cairan
Kehilangan cairan tubuh melalui empat rute (proses) yaitu :
a. Urine

Proses pembentukan urine oleh ginjal dan ekskresi melalui traktus urinarius merupakan proses
output cairan tubuh yang utama. Dalam kondisi normal output urine sekitar 1400-1500 ml per 24
jam, atau sekitar 30-50 ml per jam pada orang dewasa. Pada orang yang sehat kemungkinan
produksi urine bervariasi dalam setiap harinya, bila aktivitas kelenjar keringat meningkat maka
produksi urine akan menurun sebagai upaya tetap mempertahankan keseimbangan dalam tubuh.
b. IWL (Insesible Water Loss)

IWL terjadi melalui paru-paru dan kulit. Melalui kulit dengan mekanisme diffusi. Pada orang
dewasa normal kehilangan cairan tubuh melalui proses ini adalah berkisar 300-400 ml per hari,
tetapi bila proses respirasi atau suhu tubuh meningkat maka IWL dapat meningkat. IWL Dewasa
: 15 cc/kg BB/hari. Sedangkan IWL Anak : (30-usia{tahun}cc/kgBB/hari
Tabel 4. Besar IWL menurut usia.

Usia Besar IWL (mg/kg BB/hari)


Baru lahir 30
Bayi 50-60
Anak-anak 40
Remaja 30
Dewasa 20

c. Keringat

Berkeringat terjadi sebagai respon terhadap kondisi tubuh yang panas, respon ini berasal dari
anterior hypotalamus, sedangkan impulsnya ditransfer melalui sumsum tulang belakang yang
dirangsang oleh susunan syaraf simpatis pada kulit.
d. Feses

Pengeluaran air melalui feses berkisar antara 100-200 ml per hari, yang diatur melalui
mekanisme reabsorbsi di dalam mukosa usus besar (kolon).
Hal hal yang perlu di perhatikan:
1) Rata-rata cairan per hari
a) Air minum : 1500-2500 ml
b) Air dari makanan :750 ml
c) Air dari hasil oksidasi atau metabolisme :200 ml
2) Rata- rata haluaran cairan per hari
a) Urin : 1400 -1500 ml
b) Iwl
c) Paru : 350 -400 ml
d) Kulit : 350 400 ml
e) Keringat : 100 ml
f) Feses : 100 -200 ml
Perkiraan kebutuhan cairan tubuh berdasarkan usia.

Usia Berat badan (kg) Kebutuhan (ml)/24 jam


3 hari 3,0 250-300
1 tahun 9,5 1150-1300
2 tahun 11,8 1350-1500
6 tahun 20,0 1800-2000
10 tahun 18,7 2000-2500
14 tahun 45,0 2200-2700
18 tahun 54,0 2200-2700

Tindakan Untuk Mengatasi Masalah/Gangguan dalam Pemenuhan Kebutuhan Cairan dan


elektrolit
1. Pemberian cairan melalui infuse

Pemberian cairan melalui infus merupakan tindakan memasukkan cairan melalui intravena yang
dilakukan pada pasien dengan bantuan perangkat infuse. Tindakan ini dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit, serta sebagai tindakan pengobatan dan pemberian
makanan.
a. Persiapan Bahan dan Alat :

 Standar infuse

 Perangkat infuse

 Cairan sesuai dengan kebutuhan pasien.

 Jarum infus/ abocath atau sejenisnya sesuai dengan ukuran

 Pengalas

 Tourniquet/pembendung

 Kapas alkohol 70%

 Plester
 Gunting

 Kasa steril

 Betadine

 Sarung tangan
b. Prosedur Kerja :

 Cuci tangan

 Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilaksanakan.

 Hubungakan cairan dan perangkat infuse dengan menusukkan ke dalam botol infuse (cairan).

 Isi cairan ke dalam perangkat infuse dengan menekan bagian ruang tetesan hingga ruangan
tetesan terisi sebagian, kemudian buka penutup hingga selang terisi dan keluar udaranya.

 Letakkan pengalas

 Lakukan pembendungan dengan tourniquet.

 Gunakan sarung tangan

 Desinfeksi daerah yang akan ditusuk.

 Lakukan penusukan dengan arah jarum ke atas.

 Cek apakah sudah mengenai vena dengan ciri darah keluar melalui jarum infus/abocath.

 Tarik jarum infus dan hubungkan dengan selang infus.

 Buka tetesan.

 Lakukan desinfeksi dengan betadineŒ dan tutup dengan kasa steril.

 Beri tanggal dan jam pelaksanaan infuse pada plester.

 Catat respons yang terjadi.

 Cuci tangan
c. Cara menghitung tetesan infuse untuk anak:
Tetesan per menit (mikro)=(Jumlah cairan yang masuk)/(Lamanya infus (jam) )

Contoh: seorang pasien anak memerlukan rehidrasi dengan 250 ml infuse dalam waktu 2 jam,
maka tetesan permenit adalah:
Jumlah tetesan/menit =250/2=125 tetes mikro/menit.
2. Transfusi Darah

Transfusi darah merupakan tindakan memasukkan darah melalui vena dengan menggunakan
seperangkat alat transfusi pada pasien yang membutuhkan darah. Tujuannya untuk memenuhi
kebutuhan darah dan memperbaiki perfusi jaringan.
a. Persiapan Alat dan Bahan :
1) Standar infuse
2) Perangkat transfuse
3) NaCl 0,9%
4) Darah sesuai dengan kebutuhan pasien
5) Jarum infus/abocath atau sejenisnya sesuai dengan ukuran
6) Pengalas
7) Tourniquet/pembendung
8) Kapas alcohol 70%
9) Plester
10) Gunting
11) Kasa steril
12) Betadine
13) Sarung tangan
b. Prosedur Kerja :
o Cuci tangan
o Jelaskan pada pasien mengenai proosedur yang akan dilakukan.
o Hubungkan cairan NaCl 0,9% dan seperangkat transfuse dengan menusukkannya.

o Isi cairan NaCl 0,9% ke dalam perangkat transfusi dengan menekan bagian ruang tetesan
hingga ruangan tetesan terisi sebagian. Kemudian buka penutup, hingga selang terisi dan
udaranya keluar.
o Letakkan pengalas.
o Lakukan pembendungan dengan tourniquet.
o Gunakan sarung tangan
o Desinfeksi daerah yang akan disuntik
o Lakukan penusukan dengan arah jarum ke atas.
o Cek apakah sudah mengenai vena dengan ciri darah keluar melalui jarum infus/abocath.
o Tarik jarum infus dan hubungkan dengan selang tranfusi.
o Buka tetesan.
o Lakukan desinfeksi dengan betadineΠdan tutup dengan kasa steril.
o Beri tanggal dan jam pelaksanaan infuse pada plester.
o Setelah NaCl 0,9% masuk sekitar ± 15 menit, ganti dengan darah yang sudah disiapkan.

o Darah sebelum dimasukkan, terlebih dahulu cek warna darah, identitas pasien, jenis golongan
darah dan tanggal kadaluwarsa.
o Lakukan observasi tanda-tanda vital selama pemakaian transfusi.
o Catat respons yang terjadi.
o Cuci tangan
K. Perhitungan Kebutuhan Cairan Pada Anak Menurut WHO
1. < 2 tahun
System 24 jam
4 jam I : 5 tts / KgBB / menit
20 jam II : 3 tts / KgBB / menit
2. > 2 tahun
System 8 jam
1 jam I : 10 tts / KgBB / menit
7 jam II : 3 tts / KgBB / menit
3. PEM
System 24 jam
1 jam I : 7 tts / KgBB / menit
13 jam II : 1½ tts / KgBB / menit
L. Menghitung Balance Cairan Pada Anak

Menghitung Balance cairan anak tergantung tahap umur, untuk menentukan Air Metabolisme,
menurut Iwasa M, Kogoshi S dalam Fluid Tehrapy Bunko do (1995) dari PT. Otsuka Indonesia
yaitu:
Usia Balita (1 – 3 tahun) : 8 cc/kgBB/hari
Usia 5 – 7 tahun : 8 – 8,5 cc/kgBB/hari
Usia 7 – 11 tahun : 6 – 7 cc/kgBB/hari
Usia 12 – 14 tahun : 5 – 6 cc/kgBB/hari

Untuk IWL (Insensible Water Loss) pada anak = (30 – usia anak dalam tahun) x cc/kgBB/hari
Jika anak mengompol menghitung urine 0,5 cc – 1 cc/kgBB/hari

CONTOH :
An X (3 tahun) BB 14 Kg, dirawata hari ke dua dengan DBD, keluhan pasien menurut ibunya:
“rewel, tidak nafsu makan; malas minum, badannya masih hangat; gusinya tadi malam berdarah”
Berdasarkan pemeriksaan fisik didapat data: Keadaan umum terlihat lemah, kesadaran
composmentis, TTV: HR 100 x/menit; T 37,3 °C; petechie di kedua tungkai kaki, Makan /24
jam hanya 6 sendok makan, Minum/24 jam 1000 cc; muntah /24 jam 100 cc; BAK/24 jam : 1000
cc, mendapat Infus Asering 1000 cc/24 jam. Hasil pemeriksaan lab Tr terakhir:
50.000. Hitunglah balance cairan anak ini!
Input cairan: Minum : 1000 cc
Infus : 1000 cc
AM : 112 cc + (8 cc x 14 kg)
————————-
2112 cc
Out put cairan: Muntah : 100 cc
Urin : 1000 cc
IWL : 378 cc + (30-3 tahun) x 14 kg
—————————–
1478 cc
Balance cairan = Intake cairan – Output Cairam
2112 cc – 1478 cc
+ 634 cc

Sekarang hitung balance cairannya jika suhu An x 39,8 °C !


Penghitungan IWL pada kenaikan suhu gunakan rumus:
IWL + 200 ( Suhu Tinggi – 36,8 °C) à36,8 °C adalah konstanta.
IWL An X = 378 + 200 (39,8 °C – 36,8 °C)
378 + 200 (3)
378 + 600
978 cc
Maka output cairan An X = Muntah : 100 cc
Urin : 1000 cc
IWL : 978 cc +
————————-
2078 cc
Jadi Balance cairannya = 2112 cc – 2078 cc = 34 cc.
DAFTAR PUSTAKA
Lorin, Martin I. _____. Kumpulan Soal-soal Pediatri. Jakarta: EGC.

Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo.
Tamsuri, Anas. _____. Klien Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit. Jakarta: EGC.

Uliyah,Musrifatul. 2008. Keterampilan Dasar Kebidanan Praktik Klinik. Jakarta: Salemba


Medika.
_____________. _____. Terapi Inravena. Jakarta: EGC.