Anda di halaman 1dari 12

FRAKTUR DIGITI PEDIS

A. Konsep Fraktur
1. Definisi
Fraktur merupakan istilah hilangnya kontinuitas tulang, baik bersifat total maupun
sebagian yang ditentukan berdasarkan jenis dan luasnya (Smeltzer & Bare, 2002).
Fraktur adalah patah tulang yang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik.
Kekuatan dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak di sekitar
tulang akan menentukan kondisi fraktur tersebut (Price, 2006). Fraktur adalah
terputusnya kontinuitas tulang, kebanyakan fraktur akibat dari trauma, beberapa
fraktur sekunder terhadap proses penyakit seperti osteoporosis, yang menyebabkan
fraktur yang patologis (Mansjoer, 2001).
2. Klasifikasi Fraktur
Berdasarkan hubungan dengan dunia luar fraktur dibagi menjadi:
a. Fraktur Tertutup (simple/close fracture)
Fraktur tertutup adalah fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit, tetapi
terjadi pergeseran tulang didalamnya. Pasien dengan fraktur tertutup harus
diusahakan untuk kembali ke aktivitas biasa sesegera mungkin. Pasien diajarkan
bagaimana cara mengontrol pembengkakan dan nyeri yaitu dengan meninggikan
ekstremitas yang cedera, dan mulai melakukan latihan kekuatan otot yang 8
dibutuhkan untuk pemindahan atau menggunakan alat bantu jalan ( Smeltzer &
Bare, 2002).
b. Fraktur Terbuka (complicated/ open fracture)
Fraktur terbuka merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa
sampai ke patahan tulang. Klasifikasi fraktur terbuka menurut Gustilo – Anderson
(Smeltzer & Bare, 2002) adalah:
1) Grade I: dengan luka bersih kurang dari 1 cm panjangnya, kerusakan jaringan
lunak minimal, biasanya tipe fraktur simple transverse dan fraktur obliq
pendek.
2) Grade II: luka lebih dari 1 cm panjangnya, tanpa kerusakan jaringan lunak
yang ekstensif, fraktur komunitif sedang dan ada kontaminasi
3) Grade III: yang sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan
lunak yang ekstensif, kerusakan meliputi otot, kulit dan struktur
neurovascular.
4) Grade III ini dibagi lagi kedalam: III A : fraktur grade III, tapi tidak
membutuhkan kulit untuk penutup lukanya. III B: fraktur grade III, hilangnya
jaringan lunak, sehingga tampak jaringan tulang, dan membutuhkan kulit
untuk penutup (skin graft). III C: fraktur grade III, dengan kerusakan arteri
yang harus diperbaiki,dan beresiko untuk dilakukannya amputasi.
3. Etiologi
Etiologi dari fraktur menurut Price dan Wilson (2005) ada 3 yaitu:
a. Cidera atau benturan
1) Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang
patah secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan
kerusakan pada kulit diatasnya.
2) Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi
benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur
klavikula.
3) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat.
(Oswari, 2000)
b. Fraktur patologik
Fraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah menjadi lemah oleh
karena tumor, kanker dan osteoporosis.
c. Fraktur beban
Fraktur baban atau fraktur kelelahan terjadi pada orang- orang yang baru saja
menambah tingkat aktivitas mereka, seperti baru di terima dalam angkatan
bersenjata atau orang- orang yang baru mulai latihan lari.
4. Patofisiologi
Fraktur ganggguan pada tulang biasanya disebabkan oleh traumagangguan
adanya gaya dalam tubuh, yaitu stress, gangguan fisik, gangguan metabolic,
patologik. Kemampuan otot mendukung tulang turun, baik yang terbuka ataupun
tertutup. Kerusakan pembuluh darah akan mengakibatkan pendarahan, maka volume
darah menurun. COP (cardiac output) menurun maka terjadi perubahan perfusi
jaringan. Hematoma akan mengeksudasi plasma dan poliferasi menjadi edem lokal
maka penumpukan di dalam tubuh.
Fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut saraf yang dapat
menimbulkan ganggguan rasa nyaman nyeri. Selain itu dapat mengenai tulang dan
dapat terjadi revral vaskuler yang menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik
terganggau. Disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang
kemungkinan dapat terjadi infeksi dan kerusakan jaringan lunak akan mengakibatkan
kerusakan integritas kulit. Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh
trauma gangguan metabolik, patologik yang terjadi itu terbuka atau tertutup. Baik
fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut syaraf yang dapat menimbulkan
gangguan rasa nyaman nyeri. Selaian itu dapat mengenai tulang sehingga akan terjadi
neurovaskuler yang akan menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik
terganggu, disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang
kemungkinan dapat terjadi infeksi karena terkontaminasi dengan udara luar. Pada
umumnya pada pasien fraktur terbuka maupun tertutup akan dilakukan immobilitas
yang bertujuan untuk mempertahankan fragmen yang telah dihubungkan tetap pada
tempatnya sampai sembuh. (Price, 2006).
5. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan
ekstermitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan warna
(Smelzter&Bare,2002).
a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang di
imobilisasi, spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah
yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
b. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung
bergerak secara tidak alamiah bukannya tetap rigid seperti normalnya, pergeseran
fragmen pada fraktur menyebabkan deformitas, ekstermitas yang bias diketahui
dengan membandingkan dengan ekstermitas yang normal. Ekstermitas tak dapat
berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas
tulang tempat melekatnya otot.
c. Pada fraktur panjang terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena
kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur.
d. Saat ekstermitas di periksa dengan tangan, teraba adanya Derik tulang yang
dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan
lainnya.
e. Pembengkakan dan perubahan warna local pada kulit terjadi sebagai akibat
trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini biasanya baru terjadi
setelah beberapa jam atau hari setelah ceder
6. Komplikasi
a. Komplikasi Awal
Komplikasi awal setelah fraktur adalah kejadian syok, yang berakhibat fatal hanya
dalam beberapa jam setelah kejadian,kemudian emboli lemak yang dapat terjadi
dalam 48 jam, serta sindrom kompartmen yang berakibat kehilangan fungsi
ekstremitas secara permanaen jika terlambat ditangani.
b.Komplikasi Lambat
Komplikasi lambat dalam kasus fraktur adalah penyatuan tulang yang mengalami
patah terlambat, bahkan tidak ada penyatuan. Hal ini terjadi jika penymbuhan tidak
terjadi dalam dengan waktu normal untuk jenis dan fraktur tertentu. Penyatuan tulang
yang terlambat atau lebih lama dari perkiraan berhubungan dengan adanya proses
infeksi sistemik dan tarikan jauh pada fragmen tulang. Sedangkan tidak terjadinya
penyatuan diakibatkan karena kegagalan penyatuan pada ujung-ujung tulang yang
mengalami patahan.
7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan semua jenis fraktur memiliki prinsip penanganan yang sama dengan
metode yang berbeda-beda. Menurut Mansjoer (2001) dan Muttaqin (2008) konsep
dasar yang harus dipertimbangkan pada waktu menangani fraktur yaitu: rekognisi,
reduksi, retensi, dan rehabilitasi.
a. Rekognisi (Pengenalan)
Riwayat kecelakaan,derajat keparahan,harus jelas untuk menentukan diagnosa
dan tindakan selanjutnya. Contoh, pada tempat fraktur tungkai akan terasa nyeri
sekali dan bengkak. Kelainan bentuk yang nyata dapat menentukan diskontinuitas
integritas rangka.
b. Reduksi (manipulasi/ reposisi)
Reduksi adalah usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen fragmen tulang
yang patah sedapat mungkin kembali lagi seperti letak asalnya. Upaya untuk
memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optimal.
Reduksi fraktur dapat dilakukan dengan reduksi tertutup, traksi, atau reduksi
terbuka. Reduksi fraktur dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah jaringan
lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena
edema dan perdarahan.Pada kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi semakin
sulit bila cedera sudah mulai mengalami penyembuhan (Mansjoer, 2002).
c. Retensi (Immobilisasi)
Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali
seperti semula secara optimal.Setelah fraktur direduksi fragmen tulang harus
diimobilisasi, atau di pertahankan dalam posis kesejajaran yang benar sampai
terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau
interna.
Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu,
pin, dan teknik gips, atau fiksator eksterna. Implan logam dapat digunakan untuk
fiksasi interna yang berperan sebagai bidai interna untuk mengimobilisasi fraktur.
Fiksasi eksterna adalah alat yang diletakkan diluar kulit untuk menstabilisasikan
fragmen tulang dengan memasukkan dua atau tiga pin metal perkutaneus
menembus tulang pada bagian proksimal dan distal dari tempat fraktur dan pin
tersebut dihubungkan satu sama lain dengan menggunakan eksternalbars. Teknik
ini terutama atau kebanyakan digunakan untuk fraktur pada tulang tibia, tetapi
juga dapat dilakukan pada tulang femur, humerus dan pelvis (Mansjoer, 2001)
Rehabilitasi Mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin untuk
menghindari atropi atau kontraktur. Bila keadaan memungkinkan, harus segera
dimulai melakukan latihan-latihan untuk mempertahankan kekuatan anggota
tubuh dan mobilisasi (Mansjoer,2000).
8. Pemeriksaan Penunjang Menurut (Doengoes, 2000)pemeriksaan diagnostik
fraktur diantaranya adalah:
a. Pemeriksaan Rongent
Menentukan luas atau lokasi minimal 2 kali proyeksi, anterior, posterior
lateral.
b. CT Scan tulang, fomogram MRI (Magnetic Resonance Imaging).
Untuk melihat dengan jelas daerah yang mengalami kerusakan.
c. Arteriogram
Dilakukan untuk memastikan ada tidaknya kerusakan vaskuler.
d. Hitung darah lengkap
Hemokonsentrasi mungkin meningkat, menurun pada perdarahan; peningkatan
lekosit sebagai respon terhadap peradangan.
B. Asuhan Keperawatan Pada Fraktur Post Operasi
1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara
menyeluruh. Pengkajian pasien fraktur dengan post operasi menurut (Doenges,2000)
a. Aktivitas atau istirahat
Keterbatasan atau kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin
segera akibat langsung dari fraktur atau akibat sekunder pembengkakan jaringan dan
nyeri).
b. Sirkulasi
1) Peningkatan tekanan darah mungkin terjadi akibat respon terhadap nyeri atau
ansietas, sebaliknya dapat terjadi penurunan tekanan darah bilaterjadi
perdarahan.
2) Takikardia
3) Penurunan atau tidak ada denyut nadi pada bagian distal area cedera, pengisian
kapiler lambat dan pucat pada area fraktur.
4) Hematoma area fraktur.
c. Neurosensori
1) Hilang gerakan atau sensasi
2) Kesemutan (parestesia)
d. Nyeri atau Kenyamanan
1) Nyeri hebat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area fraktur,
berkurang pada imobilisasi.
2) Spasme atau kram otot setelah imobilisasi.
e. Keamanan
1) Laserasi kulit dan perdarahan.
2) Pembengkakan lokal (dapat meningkat bertahap atau tiba-tiba).
f. Penyuluhanatau Pembelajaran
1) Imobilisasi.
2) Bantuan aktivitas perawatan diri.
3) Prosedur terapi medis dan keperawatan.
2. Diagnosa dan Rencana Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien fraktur post operasi
berdasarkan Nanda dan intervensi adalah sebagai berikut (Nanda, 2012, NIC 2012, NOC,
2012):
a. Nyeri Akut berhubungan dengan agen cidera fisik: diskontuinitas jaringan
1) Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawan makan nyeri pasien terkontrol.
2) Kriteria Hasil: Pasien mengatakan nyeri berkurang, skala nyeri berkurang dan
tanda-tanda vital dalam rentang normal.
3) Intervensi keperatan: Manajemen nyeri (Pain Management)
a) Kaji nyeri (lokasi, durasi, karakteristik, frekuensi, intensitas, factor
pencetus)
b) Observasi tanda non verbal dari ketidaknyamanan
c) Monitor keefektifan tindakan mengontrol nyeri
d) Kontrol faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien
e) Ajarkan tehnik non farmakologis kepada pasien dan keluarga : relaksasi,
distraksi, guided imagery, hipnoterapy.
f) Ajarkan pada pasien dan keluarga tentang penggunaan analgetik dan efek
sampingnya
g) Anjurkan pasien untuk meningkatkan istirahat
h) Kolaborasi medis (pemberian analgetik), fisioterapis/ akupungturis
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan diskontuinitas jaringan dan tulang.
1) Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien meningkatkan
mobilitas pada tingkat yang paling tinggi yang mungkin.
2) Kriteria hasil: Pasien menunjukan teknik yang mampu melakukan aktivitas.
3) Intervensi
a) Latihan Kekuatan (Exercise Promotion: Strength Training)
Ajarkan dan berikan dorongan pada pasien untuk melakukan program latihan
secara rutin.
b) Latihan untuk ambulasi ( Exercise therapy:Ambulation)
Ajarkan teknik ambulasi dan perpindahan yang aman. Sediakan alat bantu untuk
pasien seperti kruk, kursi roda, dan walker. Beri penguatan positif untuk berlatih
mandiridalam batasan yang aman.
c) Latihan Keseimbangan ( Exercise Therapy Balance )
Ajarkan pada pasien untuk dapat mengatur posisi secara mandiri dan untuk
menjaga keseimbangan selama latihan ataupun dalam aktivitas sehari hari
c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terhadap fragmen
tulang dan prosedur operasi.
Tujuan: setelah di lakukan tindakan pemenuhan masalah kerusakan kulit dapat
teratasi, penyembuhan luka sesuai waktu.
Kriteria hasil: tidak ada tanda- tanda infeksi seperti pus, kemerahan, luka bersih tidak
lembab dan tidak kotor, tanda- tanda vital dalam batas normal atau dapat di toleransi.
Intervensi: Perawatan Luka (Wound Care)
1) Kaji keadaan kulit dan identitas pada tahap perkembangan luka untuk mengetahui
sejauhmana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang
tepat.
2) Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka.
3) Lakukan perawatan luka dengan tehnik aseptik.
4) Kolaborasi dengan ahli gizi dan dengan medis untuk terapi antibiotik dan cairan
yang digunakan dalam perawatan luka
d. Resiko perluasan infeksi sekunder berhubungan dengan luka terbuka.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksi sudah tidak
terjadi.
Kriteria hasil: Tidak ada tanda dan gejala infeksi dan lekosit dalam batas normal.
Intervensi: Pengendalian resiko (Infection Protection)
1) Pantau tanda dan gejala infeksi: suhu tubuh, nadi,kondisi luka, sekresi, penampilan
urine, penurunan BB, keletihan dan malaise.
2) Pertahankan tehnik aseptik pada pasien yang beresiko
3) Bersihkan alat / lingkungan dengan benar setelah dipergunakan pasien
4) Anjurkan pasien untuk minum obat antibiotika sesuai program
5) Dorong masukan nutrisi dan cairan yang adekuat.
6) Berikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang penularan
penyakit infeksi: transmisi secara seksual, oral, fekal, sekresi tubuh, kontak
langsung.
7) Kolaborasi dengan medis untuk pemberian terapi sesuai indikasi, dan pemeriksaan
laboratorium
Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan.
Tujuan: Setelah dilakukan tidakan keperawatan diharapkan kekurangan volume
cairan teratasi.
Kriteriahasil: Tanda-tanda vital stabil, membrane mukosa lembab, turgor kulit
baik, pengisian kapiler cepat dan tidak terjadi perdarahan massif.
Intervensi: Manajemen cairan (Fluid Management)
1) Kaji atau ukurdancatatjumlah perdarahan.
2) Monitor tanda-tanda vital
3) Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa, nadi dan suhu adekuat,
tekanan darah ortostatik) jika diperlukan
4) Ajarkan pada pasien dan keluarga tentang pentingnya kebutuhan cairan
5) Kolaborasi pemberian cairan intravena, dan pemeriksaan elektrolit, darah
lengkap.
C. Nyeri Post Operasi Fraktur dan Faktor yang Mempengaruhi
Pembedahan atau operasi merupakan tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif
dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani (Sjamsuhidajad,
2005). Sasaran pembedahan adalah untuk memperbaiki fungsi dengan mengembalikan
gerakan dan stabilitas, mengurangi nyeri dan komplikasi (Smeltzer & Bare, 2002). Respon
tubuh pasca pembedahan adalah nyeri. Nyeri diakibatkan adanya insisi pembedahan dan
kejadian fraktur sebelumnya. Sebagian besar pasien mempercayai bahwa nyeri yang
dialami post operasi menimbulkan ketakutan tersendiri yang berakibat mekanisme koping
yang tidak efektif.
Nyeri akut pasca pembedahan dapat mengancam proses pemulihan seseorang yang
berakibat pada bertambahnya waktu rawat, peningkatan resiko komplikasi akibat
immobilisasi dan tertundanya program rehabilitasi. Kemajuan secara fisik atau psikologis
menjadi tertunda akibat menetapnya nyeri yang dirasakan, karena pasien akan lebih
terfokus dan menghabiskan energinya hanya untuk proses penyembuhan nyeri tersebut.
Oleh karena itu tujuan utama perawat dalam kasus post operasi adalah untuk memberikan
pertolongan terhadap nyeri yang memungkinkan klien dapat berpartisipasi didalamnya
(Potter &Perry,2010)
Faktor faktor yang memepengaruhi nyeri post orif secara umum menurut Smelzer dan
Bare (2002) adalah usia, jenis kelamin, kultur, makna nyeri, perhatian, ansietas,
pengalaman masa lalu, pola koping dan dukungan sosial. Smeltzer dan Bare (2002)
menjelaskan bahwa usia sangat berpengaruh terhadap nyeri. Usia merupakan variabel
penting yang mempengaruhi nyeri, khususnya pada anak dan lansia. Perbedaan
perkembangan yang ditemukan diantara kelompok usia ini dapat mempengaruhi
bagaimana anak dan lansia bereaksi terhadap nyeri. Jenis kelamin laki-laki dan perempuan
tidak memiliki perbedaan yang signifikan dalam merespon nyeri. Diragukan apakah hanya
jenis kelamin saja yang mempengaruhi kualitas nyeri. Toleransi nyeri sudah sejak lama
telah menjadi subjek penelitian yang melibatkan pria dan wanita, akan tetapi toleransi
terhadap nyeri dipengaruhi oleh biokimia. (Smeltzer dan Bare, 2002).
Keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara individu mengatasi nyeri. Individu
mempelajari apa yang diharapkan dan apa yang diterima oleh budaya mereka. Menurut
Perry dan Potter 2005 sosialisasi budaya menentukan perilaku psikologis seseorang
sehingga dapat mempengaruhi pengeluaran psikologis opiate endogen dan terjadilan
persepsi nyeri.
Makna dan pengalaman nyeri seseorang merupakan cara seseorang beradaptasi terhadap
nyeri. Individu akan mempersepsikan nyeri secara berbeda-beda apabila nyeri tersebut
memberikan kesan ancaman, suatu kehilangan, hukuman dan tantangan. Derajat dan
kualitas nyeri yang dipersiapkan nyeri klien berhubungan dengan makna nyeri.
Hubungan antara nyeri dan ansietas bersifat kompleks. Ansiatas seringkali meningkatkan
persepsi nyeri, tetapi nyeri juga dapat menimbulkan suatu perasaan ansietas. Menurut
Price 2006 suatu bukti bahwa stimulus nyeri mengakibatkan sistem limbik dapat
memproses reaksi emosi seseorang, khususnya ansietas. Sistem limbic dapat memproses
reaksi emosi seseorang terhadap nyeri, yakni memperburuk atau menghilangkan nyeri.
Pengalaman nyeri sebelumnya tidak selalu berarti bahwa individu akan menerima nyeri
dengan lebih mudah pada masa yang akan datang.
Apabila individu sejak lama sering mengalami serangkaian episode nyeri tanpa pernah
sembuh maka rasa takut akan muncul dan juga sebaliknya. Akibatnya klien akan lebih siap
untuk melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk menghilangkan nyeri.
Pengalaman nyeri dapat menjadi suatu pengalaman yang membuat merasa kesepian, dan
gaya koping mempengaruhi bagaimana mengatasi nyeri.
Dukungan keluarga dan sosial, kehadiran orang-orang terdekat klien dan bagaimana sikap
mereka terhadap klien mempengaruhi kualitas nyeri yang dirasakan seseorang. Kehadiran
orang yang bermakna bagi pasien akan meminimalkan rasa kesepian dan ketakutan.
Apabila tidak ada keluarga dan orang terdekat, sering kali nyeri akan membuat pasien
menjadi semakin tertekan dan sebaliknya.
D. Tehnik Relaksasi Nafas Dalam
1. Pengertian
Tehnik relaksasi nafas dalam merupakan salah satu bentuk intervensi asuhan
keperawatan untuk mengatasi masalah nyeri, terutama nyeri yang bersifat akut dan
sedang (McCloskey, 2000). Dalam intervensi ini perawat mengajarkan bagaimana cara
melakukan nafas dalam lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan
menghembuskan nafas secara perlahan melalui mulut. Selain itu tehnik relaksasi nafas
dalam dapat meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi dalam darah
(Smeltzer &Bare, 2002). Relaksasi juga merupakan metode yang efektif dalam
mengurangi nyeri pasca operasi. Relaksasi yang sempurna dapat mengurangi
ketegangan otot, rasa jenuh kecemasan sehingga mencegah bertambahnya kualitas
nyeri.
Relaksasi merupakan perasaan bebas secara mental dan fisik dari ketegangan atau stress
yang membuat individu memliki rasa kontrol terhadap dirinya. Perubahan fisiologis
akibat relaksasi mencakup menurunya denyut jantung, tekanan darah, kecepatan
pernafasan, menurunkan kebutuhan oksigen, meningkatkan kesadaran, merilekskan otot
dan menimbulkan perasaan damai (Perry & Potter, 2010).
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa relaksasi nafas dalam merupakan
metode efektif untuk mengurangi rasa nyeri, mengurangi ketegangan otot, dimana nyeri
itu sendiri merupakan pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan.
Penelitian terkait tehnik relaksasi adalah penelitian yang dilakukan oleh Nurdin (2013),
disebutkan bahwa tehnik relaksasi nafas dalam mempunyai pengaruh terhadap
penurunan intensitas nyeri pada pasien post operasi fraktur di ruang Irnina A BLU
RSUP Prof. Dr. R.D. Kanou Manado. Pendapat serupa juga terdapat pada penelitian
yang dilakukan Galuh tahun 2009 yang menyatakan bahwa tehnik relaksasi nafas dalam
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penurunan nyeri pada pasien pasca operasi
fraktur femur antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol di Rumah Sakit
Karima Utama Surakarta.
2. Tujuan
Tujuan tehnik relaksasi nafas dalam adalah untuk meningkatkan ventilasi dalam alveoli,
memelihara pertukaran gas, mengurangi stres baik fisik maupun emosional,
merilekskan otot, menurunkan kecemasan sehingga dapat menurunkan persepsi nyeri
seseorang (Smeltzer & Bare, 2002)
3. Prosedur Tehnik Relaksasi Nafas Dalam
Menurut Smeltzer &Bare (2002) tehnik relaksasi yang sederhana terdiri atas nafas
abdomen dengan frekuensi lambat dan berirama. Pasien dapat memejamkan matanya
kemudian bernafas dengan perlahan dan nyaman. Irama yang konstan dapat
dipetahankan dengan suatu hitungan dalam hati dan lambat bersamaan dengan inhalasi
dan ekshalasi. Pada saat perawat mengajarkan tehnik ini perawat menghitung dengan
keras dan membimbing pasien berulang kali agar pasien lebih terampil dalam
menggunakannya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Nurdin (2013), prosedur tehnik relaksasi nafas
dalam adalah dengan menciptakan suasana lingkungan yang tenang, usahakan pasien
tetap tenang dan rileks, menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru-paru dengan
udara melalui hitungan, perlahan-lahan udara tersebut dihembuskan melalui mulut
sambil merasakan bahwa semua tubuh terasa rileks, usahan tetap konsentrasi dan
lakukan kegiatan tersebut sampai 15 kali dengan selingi istirahat singkat setiap 5 kali
(Priharjo, 2003, Nurdin, 2013).
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Teknik Relaksasi Nafas Dalam terhadap Penurunan Nyeri
Teknik relaksasi nafas dalam dipercaya dapat menurunkan intensitas nyeri melalui mekanisme
yaitu (Smeltzer dan Bare, 2002) :
a) Dengan merelaksasikan otot-otot skelet yang mengalami spasme yang disebabkan oleh
peningkatan prostaglandin sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan akan
meningkatkan aliran darah ke daerah yang mengalami spasme dan iskemik.
b) Teknik relaksasi nafas dalam dipercayai mampu merangsang tubuh untuk melepaskan
opioid endogen yaitu endorphin dan enkefalin. Pernyataan lain menyatakan bahwa
penurunan nyeri oleh teknik relaksasi nafas dalam disebabkan ketika seseorang melakukan
relaksasi nafas dalam untuk mengendalikan nyeri yang dirasakan, maka tubuh akan
meningkatkan komponen saraf parasimpatik secara stimulan, maka ini menyebabkan
terjadinya penurunan kadar hormon kortisol dan adrenalin dalam tubuh yang
mempengaruhi tingkat stress seseorang sehingga dapat meningkatkan konsentrasi dan
membuat klien merasa tenang untuk mengatur ritme pernafasan menjadi teratur. Hal ini
akan mendorong terjadinya peningkatan kadar PaCO 2 (tekanan carbondioksida) akan
menurunkan kadar pH sehingga terjadi peningkatan kadar oksigen dalam darah
(Handerson, 2006)