Anda di halaman 1dari 12

A.

MACAM- MACAM SKALA PENGUKURAN


Dalam suatu pengukuran akan dibentuk suatu skala dan kemudian ditransfer
pengamatan terhadap ciri-ciri kepada skala tersebut. Ada berbagai kemungkinan
skala, dimana pilihan yang sesuai tergantung pada pengamatan mengenai aturan
pemetaan. Pengelompokkan skala memakai system bilangan nyata. Dasar yang paling
umum digunakan untuk membuat skala mempunyai tiga cirri sebagai berikut. (Cooper
dan Earning)
1. Bilangan berurutan. Satu bilangan adalah lebih besar dari pada lebih kecil dari pada
atau sama dengan bilangan yang lain.
2. Selisih antara bilangan-bilangan adalah berurutan. Selisih antara sepasang bilangan
adalah berurutan. Selisih antara sepasang bilangan adalah lebih besar dari pada lebih
kecil dari pada atau sama dengan selisih antara pasangan bilangan yang lain.
3. Deret bilangan mempunyai asal mula yang unik yang ditandai dengan bilangan nol.
Kombinasi ciri-ciri urutan, jarak, da nasal mula menghasilkan kelompok skala ukuran
yang umum dipakai. Ada 4 macam skala pengukuran, yaitu:
1. Skala Nominal
Skala nominal yang merupakan skala yang paling lemah dibandingkan dengan
skala lain. Bilangan menggunakan skala nominal maka akan dibuat suatu partisi
dalam suatu himpunan dalam kelompok-kelompok yang harus mewakili kejadian
yang berbeda dan dapat menjelaskan semua kejadian yang terjadi dalam kelompok
berbeda. Mengelompokkan pegawai dalam suatu organisasi tertentu ke dalam suatu
kelompok misalnya, maka sesorang pegawai hanya bisa dimasukkan ke dalam satu
kelompok saja. Demikian juga bila menggunakan bilangan-bilangan untuk
menyatakan kelompok-kelompok maka bilangan tersebut hanya merupakan label dan
tidak mempunyai nilai kuantitatif.
2. Skala Ordinal
Skala ordinal mencakup ciri-ciri skala nominal ditambah suatu urutan.
Pemakaian skala ordinal mengungkapkan suatu pernyataan mengenai lebih besar dari
pada atau kurang dari pada atau menyatakan suatu kesamaan tanpa menunjukkan
berapa lebih besamya atau berapa kurangnya. Misalnya seorang pencicip minuman
dapat mengurutkan minuman menurut rasanya warnanya maupun menurut kombinasi
dari ciri-ciri ini. Contoh mengenai skala ordinal mencakup skala pendapat dan skala
preferensi, skala untuk kelas ekonomi yaitu kelas ekonomi atas, menengah, dan
bawah.
3. Skala Interval
Skala interval memiliki cirri-ciri data nominal dan ditambah satu lagi yaitu
skala ini mencakup konsep kesamaan interval (jarak antara 1 dan 2 sama dengan jarak
antara 3 dan 4). Misalnya selisih antara pukul 3 dan 6 pagi sama dengan selisih antara
pukul 4 dan 7 pagi, tetapi tidak dapat dikatakan bahwa pukul 6 pagi adalah dua kali
lebih siang dibandingkan dengan pukul 3 pagi karena waktu nol merupakan asalmula
yang ditetapkan secara sembarang.
4. Skala rasio
Skala rasio mencakup semua keampuhan dari skala-skala lain sebelumnya
ditambah dengan adanya titik nol yang absolut. Skala rasio mencerminkan jumlah-
jumlah yang sebenarnya dari suatu variable. Contoh-contohnya adalah ukuran
dimensi-dimensi fisik seperi berat, tinggi, jarak dan luas, Misalnya kalau balita A
beratnya 3 kg dan balita B beratnya 6 kg peneliti dapat menyimpulkan bahwa balita
beratnya B itu, lebih berat dari balita A. Dengan adanya nilai nol absolute ini maka
nilai pada skala pengukur adalah jumlah senyatanya dari yang diukur, dan karena itu
semua operasi matematika (penambahan, pengurangan, pengalian dan pembagian)
dapat ditetapkan pada ukuran rasio ini.
Para ahli social membedakan dua tipe skala menurut fenomena social yang
diukur yaitu: 1) Skala pengukuran untuk mucngukur perilaku social dan kepribadian,
2) Skala pengukuran untuk mengukur berbagai aspek budaya lain dan lingkungan
social. Yang termasuk tipe pertama adalah skala sikap, skala moral, tes karakter. skala
partisipan social. Yang termasuk tipe kedua adalah skala untuk mengukur status social
ekonomi lembaga social kemasyarakatan dan kondisi kerumahtanggaan.
Berbagai skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian administrasi,
pendidikan dan social antara lain adalah:
1. Skala Likert
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang
atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian fenomena
sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut
sebagai variabel penelitian.
Dengan skala Likert, maka variable yang akan diukur dijabarkan menjadi
indicator variable. Kemudian indicator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk
menyusun item-item instrument yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan.
Jawaban setiap item instrument yang menggunakan skala Likert mempunyai
gradasi dari sangat positif sampai sangat negative. Dan untuk keperluan analisis
kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya:
a) Setuju/selalu/sangat positif (diberi skor 5)
b) Setuju/sering/positif (diberi skor 4)
c) Ragu-ragu/kadang-kadang/netral (diberi skor 3)
d) Tidak setuju/hampir tidak pernah/negative (diberi skor 2)
e) Sangat tidak setuju/tida pernah/sangat negative (diberi skor 1)
2. Skala Guttman
Skala pengukuran dengan tipe ini akan didapat jawaban yang tegas, yaitu “ya-
tidak”, “benar -salah”, dan lain-lain. Penelitian menggunakan skala Guttman
dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu
permasalahan yang ditanyakan.
Contoh:
Bagaimana pendapat anda, bila orang itu menjabat pimpinan di perusahaan ini ?
a. Setuju
b. Tidak Setuju
Skala Guttman selain dapat dibuat dalam bentuk pilihan
ganda, juga dapat dibuat dalam bentuk checklist. Jawaban dapat dibuat skor
tertinggi satu dan terendah nol. Pertanyaan yang berkenaan dengan fakta benda
bukan termasuk dalam skala pengukuran interval dikotonomi.

3. Semantic Deferential
Skala pengukuran yang berbentuk semantic deferential dikembangkan oleh
Osgood. Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya
tidak pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis
kontinum yang jawabannya sangat positifnya terletak di bagian kanan garis,
dan jawabannya yang sangat negative terletak di bagian kiri garis, atau
sebaliknya. Data yang diperoleh adalah data interval, dan biasanya skala ini
digunakan untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai oleh
seseorang. Responden dapat memberi jawaban, pada rentang jawaban yang
positif sampai dengan negatif. Hal ini tergantung pada persepsi responden
kepada yang dinilai.
Responden yang memberi penilaian dengan angka 5, berarti persepsi
responden terhadap pemimpin itu sangat positif, sedangkan bila memberi
jawaban pada angka 3, berarti netral, dan bila memberi jawaban pada angka 1,
maka persepsi responden terhadap pemimpinnya sangat negatif.
4. Rating Scale
Dari ke tiga skala pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang
diperoleh semuanya adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan.
Tetapi dengan rating scale data mentah yang diperoleh berupa angka
kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.
Responden menjawab, senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju,
pernah atau tidak pernah adalah merupakan data kualitatif. Dalam skala model
rating scale, responden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif
yang telah disediakan, tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang
telah disediakan. Oleh karena itu rating scaleini lebih fleksibel, tidak terbatas
untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk mengukur persepsi responden
terhadap fenomena lainnya, seperti skala untuk mengukur status sosial
ekonomi, kelembagaan, pengetahuan, kemampuan, proses kegiatan dan lain–
lain.
Peneliti yang menyusun instrument dengan Rating Scale harus dapat
mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap
item instrument. Seseorang yang memberikan jawaban angka 3, tetapi angka 3
oleh orang tersebut belum tentu sama maknanya dengan orang lain yang juga
memilih jawaban dengan angka 3.
Contoh:
Berilah jawaban dengan angka :
4 bila tata ruang itu sangat baik
3 bila tata ruang itu cukup baik
2 bila tata ruang itu kurang baik
1 bila tata ruang itu sangat tidak baik
Jawablah dengan melingkari nomor jawaban yang tersedia sesuai dengan
keadaan yang sebenarnya
No. Pertanyaan tentang tata ruang
Interval Jawaban
Item kantor

Penataan meja kerja sehingga


4 3 2 1
1 arus kerja menjadi pendek
Pencahayaan alam tiap
4 3 2 1
2 ruangan
Pencahayaan buatan/listrik
tiap ruangsesuai dengan 4 3 2 1
3 kebutuhan
Warna lantai sehingga
tidakmenimbulkan pantulan
4 3 2 1
cahaya yangdapat menganggu
4 pegawai
5 Sirkulasi udara setiap ruangan 4 3 2 1
Keserasian warna alat-alat
kantor, perabot dengan 4 3 2 1
6 ruangan
7 Penempatan lemari arsip 4 3 2 1
Penempatan ruangan
4 3 2 1
8 pimpinan
Meningkatkan keakraban
4 3 2 1
9 sesama pegawai
10 Kebersihan ruangan 4 3 2 1

Bila instrumen tersebut digunakan sebagai angket dan diberikan kepada 30


responden, maka sebelum dianalisis, data dapat ditabulasikan. Jumlah skor
kriterium (bila setiap butir mendapat skor tertimggi) = 4 x 10 x 30= 1200.
Untuk ini skor tertinggi tiap butir = 4, jumlah
butir pertanyaan = 10 dan jumlah responden = 30. Jika skor hasil pengumpula
n data = 818. Dengan demikian kualitas tata ruang kantor lembaga A menurut
persepsi 30 responden itu 818, 1200 =68% dari kriteria yang ditetapkan. Hal
ini secara kontinum dapat dibuat kategori sebagai berikut :
300 600 900

881
Sangat
Sangat Kurang Cukup
tidak baik baik
baik
baik

Nilai 818 termasuk dalam kategori interval “kurang baik dan cukup baik”.
Tetapi lebih mendekati cukup baik.

5. Skala Thurnstone
Suatu skala bertujuan untuk mengurutkan responden berdasarkan suatu kriteria
tertentu. Skala dengan metode ini disusun sedemikian rupa sehingga interval
antarurutan mendekati interval yang sama besarnya. Skala ini sering disebut equal
interval scale (skala interval sama). Ukuran yang dihasilkan oleh skala ini hampir-
hampir mendekati ukuran interval sehingga dapat digunakan analisis statistic.
Yang merupakan ciri metode ini adalah penggunaan panel yang terdiri atas 50-100
ahli untuk menilai sejumlah pernyataan untuk mengukur variable tertentu. Jenjang
skala kemudian ditentukan atas dasar pendapatan para ahli ini. Tahap-tahap yang
harus ditempuh untuk menyusun skala ini adalah:
1. Peneliti mengumpulkan sejumlah pernyataan (40-50) yang relevan untuk
variable yang akan diukur. Pernyataan dapat bersifat positif dan negative.
Misalnya, peneliti akan mengukur sikap terhadap pemogokan. Pernyataan-
pernyataan yang dapat digunakan antara lain “Pemogokan menandakan
adanya ketidakpuasan di kalangan buruh”, “Pemogokan merupakan tanda
ketidakadilan perusahaan”, dan lain-lain.
2. Suatu panel ahli diminta untuk menilai relevansi pernyataan-pernyataan
tersebut terhadap variable yang akan diukur dan memberikan skor 1 sampai
13. Skor 1 untuk pernyataan yang paling tidak relevan dan skor 13 untuk yag
paling relevan. Pernyataan yang paling mendapatkan penilaian sangat berbeda
dari panel disingkirkan dan pernyataan-pernyataan yang mendapatkan
penilaian hampir sama diikutkan dalam skala. Untuk itu biasanya dihitung
median untuk tiap-tiap pernyataan. Pernyataan yang mempunyai median
rendah berarti mendapatkan penilaian yang hampir sama dari para ahli.
3. Setelah nilai skala tiap pernyataan ditentukan, dipilih sejumlah pernyataan
(10-20) yang mempunyai nilai yang merata untuk skala yang ditentukan.
Pernyataan-pernyataan yang mempunyai nilai sesuai dengan skor yang sudah
ditetapkan dimasukkan dalam instrument yang disusun.
4. Untuk mencegah
A. Desain Instrumen
Secara prinsip dikatakan bahwa meneliti merupakan kegiatan untuk melakukan pengukuran
terhadap fenomena social maupun alam. Karena pada prinsipnya meneliti adalah melakukan
pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya
dinamakan instrumen penelitian. Jadi instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan
mengukur fenomena alam atau sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena tersebut
disebut variable penelitian.
Intrumen dalam penelitian sosial walaupun beberapa sudah ada seperti untuk mengukur
sikap, mengukur IQ, mengukur bakat dan lain-lain namun instrumen-instrumen tersebut sulit
untuk dicari, dimana harus dicari, apakah bisa dibeli atau tidak. Selain itu instrumen-
instrumen dalam bidang sosial walaupun telah teruji validitas dan reliabilitasnya di suatu
tempat, tetapi bila digunakan untuk mengukur di tempat tertentu belum tentu tepat dan
mungkin tidak valid dan reliable lagi. Hal ini terjadi karena gejala/fenomena sosial itu cepat
berubah dan sulit dicari kesamaanya.
Jumlah instrumen penelitian tergantung pada jumlah variabel penelitian yang telah ditetapkan
untuk diteliti. Titik tolak dalam menyusun instrumen penelitian adalah variabel-variabel
penelitian. Dari variabel-variabel yang diteliti dibuatlah definisi operasionalnya. Definisi
operasionalnya tersebut menjadi dasar dalam membuat instrumen penelitian. Intrumen
penelitian dapat dibuat dalam bentuk pernyataan maupun pertanyaan.
Contoh instrumen dalam bentuk pertanyaan
Bagaimana efektivitas metode promosi yang diterapkan pada perusahaan ini?
a) Sangat efektif
b) Efektif
c) Cukup efektif
d) Kurang efektif
e) Tidak efektif
Pada dasarnya terdapat dua macam instrumen yaitu instrumen yang berbentuk test untuk
mengukur prestasi belajar yang jawabannya berupa “salah atau benar” dan instrument yang
berbentuk non test untuk mengukur sikap yang jawabannya berupa “positif atau negatif”.

B. Validitas dan Reliabilitas Instrumen


Validitas Instrumen
Suatu instrumen dikatakan memiliki validitas, apabila instrumen tersebut mampu
menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur mengukur apa yang ingin diukur. Menurut
pendapat beberapa ahli yaitu Anastasi, 1973 dan Nunnally 1979 (Masri, 1989:124), validitas
ada berbagai macam yaitu :

1) Validitas konstruk
Konstruk (construct) adalah kerangka dari suatu konsep. Misalnya seorang peneliti
ingin mengukur konsep “religiusitas”. Pertama-tama yang harus dilakukan oleh peneliti ialah
mencari apa saja yang merupakan kerangka dari konsep tersebut. Untuk mencari kerangka
konsep tersebut dapat ditempuh berbagai cara, yaitu :
a. Mencari definisi-definisi konsep yang dikemukakan para ahli yang ada pada
literature. Definisi suatu konsep biasanya berisi kerangka dari konsep tersebut.
Terkadang para ahli tidak hanya memberikan definisi, tetapi sudah memberikan
kerangka konsep tersebut secara jelas
b. Bila dalam literatur tidak diperoleh definisi konsep yang ingin diukur, peneliti
harus mendefinisikan sendiri konsep tersebut. Untuk membantu penyusunan definisi
dan mewujudkan, definisi tersebut dalam bentuk yang operasional, penelitodisarankan
mendefinisikan konsep tersebut dengan ahli-ahli yang kompeten dibidang konsep
yang diukur.
c. Menanyakan definisi konsep yang akan diukur kepada calon responden, atau
orang-orang yang memiliki karakteristik yang sama dengan responden. Misalnya
mengukur konsep “religiusitas”, peneliti langsung dapat menanyakan kepada
beberapa calon responden tentang ciri-ciri orang religius.

2) Validitas isi
Validitas isi alat pengukur ditentukan oleh sejauh mana isi alat pengukur tersebut
mewakili semua aspek yang dianggap sebagai aspek kerangka konsep. Misalnya seorang
peneliti ingin mengukur keikutsertaan ibu rumah tangga dalam program keluarga berencana
dengan menanyakan metode kontrasepsi yang dipakai. Bila kemungkinan jawaban yang
tersedia di dalam kuisioner tidak mencakup semua metode kontrasepsi, maka kuisioner
tersebut tidak memiliki validitas isi.

3) Validitas eksternal
Dalam penelitian social sudah cukup banyak alat pengukur yang diciptakan oleh para
peneliti untuk mengukur gejala sosial, dan alat pengukur tersebut sudah memiliki validitas.
Misalnya ada peneliti lain yang menciptakan alat pengukur baru yang berbeda dengan alat
pengukur sebelumnya tetapi sama tujuannya. Alat pengukur baru ini dicoba pada sekelompok
responden yang juga diminta mengisi skala pengukur sebelumnya yang sudah valid. Bila alat
pengukur yang baru ini memberikan hasil yang relatif sama dengan hasil pengukuran dengan
pengukuran sebelumnya, dapatlah dikatakan bahwa alat pengukur yang baru ini sudah
memiliki validitas yang memadai

4) Validitas prediktif
Validitas prediktif adalah kesahihan yang didasarkan pada hubungan yang teratur
antara tingkah laku apa yang diramalkan oleh sebuah tes dan tingkah laku sebenarnya yang
ditampilkan oleh individu atau kelompok. Contoh ujian seleksib penerimaan pegawai baru,
antara lain diberi soal yang diteskan pada sejumlah calon, dan calon yang dianggap pintar
tersaring lulus sudah ditentukan dalam rangka pencapaian tujuan organisasi. Ternyata setelah
masuk bekerja apa yang diharapkan oleh organisasi tidak tercapai, maka instrumen/soal yang
dulu diteskan kepada calon pegawai tersebut dapat dikatakan tidak valid.

5) Validitas budaya
Validitas ini penting bagi penelitian di negara yang suku bangsanya sangat bervariasi.
Suatu alat pengukur yang sudah valid untuk penelitian di suatu negara, belum tentu akan
valid bila digunakan di negara lain yang budayanya berbeda. Misalnya, kuisioner pengukuran
interaksi keluarga yang dikembangkan di negara barat tidak sesuai bila digunakan di
Indonesia, karena konsep barat mengenai keluarga selalu berdasarkan pada nuclear family
yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Sedangkan di Indonesia konsep keluarga biasanya
didasarkan pada extended family, yang tidak hanya terdiri dari bapak, ibu dan anak, tetapi
juga keluarga dekat lainnya.

6) Validitas rupa
Validitas rupa adalah jenis validitas yang berbeda dengan validitas lainnya seperti
yang dikemukakan di atas. Validitas rupa hanya menunjukkan bahwa dari segi “rupanya”
suatu alat ukur tampaknya mengukur apa yang ingin di ukur. Validitas rupa amat penting
dalam pengukuran kemampuan individu seperti pengukuran kecerdasan, bakat dan
keterampilan. Hal ini disebabkan dalam pengukuran aspek kemampuan seperti itu faktor rupa
alat ukur akan menentukan sejauh mana minat orang di dalam menjawab soal-soal atau
pertanyaan dalam alat ukur. Dalam penelitian survei, validitas rupa tidak menjadi masalah
penting karena alat ukur yang biasanya dipakai adalah kuisioner yang tujuannya untuk
mencari fakta bukan untuk mengukur kemampuan seseorang dalam aspek tertentu, seperti
tingkat kecerdasan, bakat dan keterampilan.

Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat
diandalkan. Dengan kata lain, reliabilitas menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di
dalam mengukur gejala yang sama. Dalam pengukuran gejala social kesalahan pengukuran
ini cukup besar. Untuk mengetahui kesalahan yang sebenarnya, kesalahan pengukuran ini
sangat diperhitungkan. Makin kecil kesalahan pengukuran maka makin reliable alat
pengukuran, sebaliknya makin besar kesalahan pengukuran makin tidak reliable alat
pengukur tersebut. Besar kecilnya kesalahan pengukuran dapat diketahui antara lain dari
indeks korelasi antara hasil pengukuran pertama dengan kedua.

C. Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen


Cara Menguji Reliabilitas Instrumen
Menurut Anastasi (masri, 1989) ada beberapa teknik yang digunakan untuk menghitung
reliabilitas instrument suatu penelitian, yaitu:
1. Teknik pengukuran ulang
Dalam mengetahui reliabilitas suatu alat pengukur dengan mengukur ulang dapat
dilakukan dengan meminta koresponden yang sama untuk menjawab semua
pertanyaan pada alat pengukur sebanyak dua kali dalam selang waktu tidak terlalu
dekat dan tidak terlalu lama, misalnya 15-30 hari. Hasil pengukuran pertama
dikorelasikan dengan hasil pengukuran kedua. Jika angka korelasi melebihi angka
krisis maka korelasi tersebut signifikan (hasil pengukuran pertama dan hasil
pengukuran kedua relatif konsisten), jika terjadi sebaliknya maka alat ukur tersebut
dikatakan tidak reliable.
2. Teknik belah dua
Teknik ini dilakukan juka alat pengukur yang disusun haruslah memiliki cukup
banyak item (pertanyaan/pernyataan) yang dibuat untuk mengukur aspek yang sama
misalnya 50-60 item. Semakin banyak jumlah item maka reliabilitas atas pengukur
akan semakin baik. Dengan langkah-langkah
1) Menyajikan alat pengukur kepada sejumlah reponde, kemudia dihitung
validitas itemnya. Item-item yang valid dikumpulkan sedangkan yang tidak di
buang.
2) Membagi bidang bidang yang valid menjadi dua belahan secara random atau
atas dasar nomor genap dan gsnjil.
3) Skor untuk masing-masing item pada tiap belahan dijumlahkan, sehingga
memproleh dua skor total untuk masing- masing koresponden, yaitu skor total
utuk belahan pelahan pertama dan skor untuk belahan ke dua
4) Mengkorelasikan yang diperoleh karena dibelah akan lebih rendah
dibandingkan dengan hasil korelasi bila tidak dibelah, maka harus dicari angka
reliabilitas untuk keseluruhan item tanpa di belah. Cara yang digunakan
dengan menggunakan rumus:
2 (𝑟. 𝑡𝑡)
𝑟 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 =
1 + 𝑟. 𝑡𝑡
Keterangan:
r total = angka reliabilitas keseluruhan item
r.tt = angka korelasi belahan pertama dan belahan kedua.
Angka korelasi ini lebih besar dibandingkan angka yang diperoleh
sebelumnya. Angka akan dibnadingkan dengan angka korelasi kritis, bila
hasilnya lebih besar maka pengukuran tersebut dikatakan reliable.
3. Teknik bentuk parallel
Perhitungan reliable pada teknik ini menggunakan dua jenis alat pengukur. Kedua alat
pengukur tersebut diberikan pada responden yang sama, kemudian dicari validitas
untuk masing-masing jenis. Untuk menghitung reliabilitas perlu mengkorelasikan
skor total dari kedua alat pengukur. Jika nilai korelasinya melebihi nilai korelasi yang
ada pada table korelasi product moment (signifikan) maka pengukur reliable.