Anda di halaman 1dari 8

TUGAS

MANAJEMEN KONTRUKSI

OLEH:
NAMA : RAJAB SABARDIANSYAH
NIM : 1722302006
KELAS :2C
SEMESTER : III (GANJIL)
PRODI : TRKJJ DIV
JURUSAN : TEKNIK SIPIL

DOSEN PEMBIMBING:

ZULFIKAR, S.T., M.Si., M.Kom.I.


Nip : 19721211 200212 1 001

KEMENTRIAN RISTEK DAN DIKTI


Politeknik Negeri Lhokseumawe
TAHUN 2018 / 2019
1. Kontrak dengan termin untuk pembayaran retensi berapa lama,
apakah ada hubungan pembayaran antara konsultann perencana,
konsultan pengawas dan kontraktor ?

 Output based berarti semua ukuran berdasarkan output fisik pekerjaan


dengan tahapan termin. Sehingga untuk pembayaranpun hanya dapat dibayar
sesuai besaran yang telah ditetapkan dalam kontrak
(termin pembayaran) apabila tahapan output fisik pekerjaan telah
diselesaikan dan sesuai dengan besaran yang output yang ditetapkan dalam
kontrak(termin fisik pekerjaan).

% Penyelesaian Di bayar Rp. ( Belum Include PPN &


NO. Termin
Proyek Pph )
1 Uang Muka / DP = 10% 100.000.000
2 Termin 1 = 20 % 20% 180.000.000
3 Termin 2 = 30 % 50% 270.000.000
4 Termin 3 = 25 % 75% 225.000.000
5 Termin 4 = 25 % 100% 175.000.000
6 FHO 50.000.000

Berikut ini tabel dari bentuk termin pembayaran kontrak lump sum dalam
sebuah pekerjaan konstruksi dengan nilai kontrak senilai
Rp. 1.000.000.000.000,00,.-

Ket :
Khusus untuk pekerjaan konstruksi, serah terima pekerjaan dilakukan
sebanyak 2 kali, yaitu serah terima pertama (PHO) dan serah terima akhir
(FHO) setelah dilakukan pemeliharaan. Untuk menjamin penyedia
barang/jasa melaksanakan pemeliharaan, maka diwajibkan jaminan
pemeliharaan atau retensi sebesar 5% dari nilai kontrak.

Contoh Skema Termin seperti dibawah ini :

Pembayaran termin 1 = (20% * kontrak ) – (potongan uang muka)


= (20% * 1 Miliar) – ( 20% * 100 Juta)
= Rp. 180.000.000

Pembayaran termin 2 = (30% * kontrak ) – (potongan uang muka)


= (30% * 1 Miliar) – ( 30% * 100 Juta)
= Rp. 270.000.000
Pembayaran termin 3 = (25% * kontrak ) – (potongan uang muka)
= (25% * 1 Miliar) – ( 25% * 100 Juta)
= Rp. 225.000.000

Pembayaran termin 4 = (25% * kontrak ) – (potongan uang muka) - retensi


= (25% * 1 miliar) – ( 25% * 100 juta) – 50 juta
= Rp. 175.000.000

Atau penyedia menyerahkan jaminan pemeliharaan (retensi) senilai 5%


dari nilai kontrak, yaituRp. 50.000.000,00 sehingga penyedia dibayar Rp
225.000.000,00. Sifat dari retensi ini berkaitan dengan Serah Terima Akhir
(FHO) setelah dilakukan pemeliharaan.

Apabila rekanan tidak melaksanakan pemeliharaan, maka jaminan atau


retensi ini akan disita dan dicairkan ke kas negara/daerah. Ketentuan pencairan ini
tertuang dalam kontrak. Apabila masa kontrak = masa pelaksanaan pekerjaan,
maka tentu saja setelah serah terima pertama, kontrak sudah dinyatakan tidak
berlaku karena masa berlakunya telah selesai sehingga penyedia tidak terikat lagi
pada kontrak tersebut.

Hal ini berarti penyedia yang tidak melaksanakan pemeliharaan tidak dapat
dihukum atau dikenakan sanksi sesuai ketentuan dalam kontrak.

Hubungan Konsultan Perencana dengan Kontraktor

Ikatan berdasarkan peraturan pelaksanaan. Konsultan memberikan gambar


rencana dan peraturan serta syarat – syarat, kemudian kontraktor harus merealisasikan
menjadi sebuah bangunan.

Hubungan Konsultan Pengawas dengan Kontraktor

Terikat hubungan fungsional. Pengawas melakukan pengawasan selama


pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan peraturan – peraturan yang telah disepakati.
Kontraktor melaporkan setiap hasil pekerjaan yang dilaksanakan dan kendala – kendala
secara teknis kepada pengawas.

Hubungan Konsultan Pengawas dengan Konsultan Perencana

Terikat hubungan fungsional. Perencana memberikan hasil desain serta


peraturan – peraturan pelaksanaan kepada pengawas. Pengawas melaporkan hasil
pekerjaan serta kendala – kendala teknis yang timbul di lapangan guna dicari perubahan.

2. Kontraktor utama, sub kontraktor dan asal usul borongan ?

Kontraktor utama adalah seorang atau pengusaha yang ahli, berpengetahuan dan
berpengalaman dalam bidang pengerjaan konstruksi dan dalam sebuah penanganan suatu
proyek.

Sub kontraktor adalah pihak ketiga yang dilibatkan oleh kontaktor utama dalam
suatu pekerjaan konstruksi untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan tertentu yang
memerlukan tenaga ahli khusus.

Borongan berasal dari kata :

Borong melakukan pembelian secara besar-besaran, tidak satu-satu atau sedikit-


sedikit (tentang jual beli, penanganan pekerjaan, dan sebagainya) semuanya secara
keseluruhan dalam jumlah besar.

Memborong membeli semuanya (seluruhnya) membeli banyak-banyak


menangani suatu pekerjaan seluruhnya sampai selesai sambil menyediakan semua bahan
dan peralatannya sekalian merangkap berbagai jabatan; melakukan berbagai pekerjaan

Memborongkan menjual banyak-banyak menyuruh mengerjakan seluruhnya


sampai selesai (dengan menyediakan segala bahan, peralatan, dan sebagainya yang
diperlukan)

borongan penjualan (pembelian, lelang, dan sebagainya) secara keseluruhan (tidak satu-
satu atau ketengan) pekerjaan dan sebagainya yang diborongkan

pemborong ada dua macam yaitu 1 orang yang memborong 2 kontraktor

pemborongan proses, cara, perbuatan memborong


3. Bagaimana cara menilai suatu kontraktor ?

Cara menialai suatu kontraktor bahwa kontraktor tersebut itu baik untuk diberikan
suatu proyek pekerjaan :

Memiliki kontrak Kerja. Kontraktor profesional atau pemborong yang profesional


pasti memiliki kontrak kerja yang jelas antara pihak Anda selaku pemilik dengan pihak
kontraktor itu sendiri. Kontrak tersebut harus jelas menguraikan jenis dan item pekerjaan,
proses pelaksanaan pekerjaan, biaya dan sistem pembayaran, serta menjelaskan
pengelolaan masalah yang mungkin akan timbul. Kontrak juga merupakan suatu
pelindung dan acuan bagi Anda sebagai pemilik maupun kontraktor itu sendiri bila ada
sesuatu yang berjalan tidak semestinya.

Penawaran harga yang wajar. Hindari kontraktor yang menawarkan harga jauh di
bawah harga semua kontraktor lainnya. Walaupun kelihatannya murah dan dianggap
memiliki harga terbaik, tapi tidak akan dapat menjamin hasil pekerjaan yang terbaik.
Umumnya kontraktor seperti itu akan menekan biaya dengan mengorbankan kualitas
baik dari segi kualitas material bahan bangunan atau pengurangan volume, yang justru
akhirnya akan menimbulkan beban lebih banyak lagi kelak bagi Anda sebagai pemilik
karena harus membuat ulang atau memperbaikinya.

Persyaratan uang muka (down payment) yang wajar. Umumnya kontraktor


profesional akan mengenakan uang muka sebagai tanda jadi atau biaya pelaksanaan
pekerjaan awal Anda sebesar maksimal 25%. Uang muka tersebut disesuaikan dengan
progres pekerjaan awal yang umumnya hingga selesai proses pekerjaan pondasi atau
mulai pekerjaan dinding dan struktur. Hindari kontraktor yang menuntut pembayaran
uang muka yang besar apalagi yang mensyaratkan pembayaran penuh.

Kontraktor profesional atau pemborong b yang profesional pasti memiliki alamat


yang jelas, kantor fisik yang nyata, telepon, dan email. Kontraktor yang profesional pasti
akan menanggapi pertanyaan-pertanyaan Anda secara tepat waktu, santun dan
profesional.

Memiliki catatan keuangan yang baik. Walaupun ini sebenarnya adalah rahasia
dapur si kontraktor, akan tetapi bila mungkin usahakan mengetahui catatan keuangan
yang dimiliki kontraktor Anda. Sebuah laporan kredit macet pada kontraktor Anda bisa
jadi merupakan petunjuk kemungkinan adanya praktek-praktek bisnis buruk yang dapat
membahayakan proyek Anda.

Dapat memberikan referensi pelanggan. Kontraktor profesional atau pemborong


yang profesional seharusnya memiliki referensi proyek atau pekerjaan yang pernah
maupun sedang dikerjakan.
4. Buatlah contoh jadwal komplit berbentuk Kurva S ?

Untuk mengalokasikan waktu dari sebuah pekerjaan kita dapat menggunakan cara
volume pekerjaan dinding keseluruhan harus dibagi dengan kecepatan konstruksi material
batu bata merah, yaitu 6 – 8 m2/hari.

Jika dalam pembuatan Time Schedule waktu dibagi menjadi per minggu, maka
hasil pembagian volume pekerjaan dengan kecepatan konstruksi harus dibagi dengan
tujuh hari dalam satu minggu.

Misalnya pada contoh proyek pada lantai satu memiliki volume pekerjaan dinding
sebesar 51 m3. Maka langkah untuk menghitung alokasi pekerjaan, pertama adalah
konversi satuan volume dari m3 menjadi m2, karena 1 m3 sama dengan 6,7 m2 (tebal bata
pada umumnya), maka:

51 m3 x 6,7 = 341,7 m2

Kemudian satuan luas yang didapat dari konversi volume pekerjaan dibagi dengan
kecepatan konstruksi dinding menggunakan pasangan batu bata merah:
Jika dalam time schedule waktu pelaksanaan didistribusikan menjadi satuan
minggu, maka jumlah hari yang diperoleh harus dibagi dengan tujuh hari:

Jadi jika bobot pekerjaan dinding batu bata merah misalnya 5,787 %, maka
persentase tersebut harus dibagi dengan jumlah minggu yang ditemukan. Kemudian
hasilnya dimasukkan pada chart pada time schedule dalam satuan persen yang telah
ditemukan, yaitu 0,965 %.

sekarang sudah dapat kita ketahui darimana angka 0,965 di gambar time
schedule di atas dan bagaimana cara alokasi waktu enam minggu untuk pekerjaan
beton/dinding.
CONTOH / LAMPIRAN :

KURVA S

PEMBANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT

TAHUN 2009
BOBOT JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DES
NO. URAIAN PEKERJAAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 KET
(%)

I PEKERJAAN PERSIAPAN 2.88 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13
II PEKERJAAN PONDASI 6.84 0.86 0.86 0.86 0.86 0.86 0.86 0.86 0.86
III PEKERJAAN TANAH 5.11 0.43 0.43 0.43 0.43 0.43 0.43 0.43 0.43 0.43 0.43 0.43 0.43
IV PEKERJAAN STRUKTUR TOWER
4.1 Basement 2.08 0.23 0.23 0.23 0.23 0.23 0.23 0.23 0.23 0.23
4.2 Lantai 1 1.65 0.83 0.83
4.3 Lantai 2 2.38 1.19 1.19
4.4 Lantai 3 1.91 0.96 0.96
4.5 Lantai 4 1.71 0.85 0.85
4.6 Lantai 5 1.59 0.80 0.80
4.7 Lantai 6 1.56 1.56
4.8 Lantai 7 1.56 0.78 0.78
4.9 Lantai 8 1.51 0.76 0.76
4.10 Lantai 9 1.45 0.72 0.72
4.11 Lantai 10 1.43 0.72 0.72
4.12 Lantai 11 1.43 1.43
4.13 Lantai 12 1.41 0.70 0.70
4.14 Lantai 13 1.40 1.40
4.15 Lantai Atap 1.45 0.73 0.73
4.16 Lantai Executive Lounge 0.28 0.28
4.17 Lantai Instrument 0.25 0.13 0.13
4.18 Rangka Atap 0.30 0.04 0.04 0.04 0.04 0.04 0.04 0.04
4.19 Lantai Atap / Lantai Antena 0.28 0.09 0.09 0.09
V PEKERJAAN ARSITE PEKERJAAN DINDING
5.1 Eksterior 14.13 0.59 1.18 1.18 1.18 1.18 1.18 1.18 1.18 1.18 1.18 1.18 1.77
5.2 Interior 1.61 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13
VI PEKERJAAN STRUKTUR AUDITORIUM
6.1 Basement 8.47 0.94 0.94 0.94 0.94 0.94 0.94 0.94 0.94 0.94
6.2 Lantai 1 3.94 0.39 0.39 0.39 0.39 0.39 0.39 0.39 0.39 0.39 0.39
6.3 Lantai 2 1.46 0.37 0.37 0.37 0.37
6.4 Lantai 3 0.99 0.49 0.49
6.5 Rangka Atap 1.81 0.30 0.30 0.30 0.30 0.30 0.30
VII PEKERJAAN ARSITEKTUR AUDITORIUM 1.97 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28
VIII PEKERJAAN MEKANIKAL & ELEKTRIKAL 25.14 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 1.32 1.32 1.32 1.32 1.65 1.65 1.99 1.99 2.32 2.65 2.65 2.65

JUMLAH TOTAL 100.00


Rencana Mingguan 1.41 1.41 2.92 2.92 3.31 4.13 5.32 6.31 5.06 6.72 7.09 6.45 - - 7.21 7.53 4.58 4.27 3.84 4.18 4.41 4.37 4.37 2.18
Kumulatif Rencana - 1.41 2.82 5.74 8.66 11.96 16.10 21.42 27.73 32.79 39.51 46.60 53.05 53.05 53.05 60.27 67.79 72.37 76.65 80.49 84.67 89.08 93.45 97.82 100.0

Ket:

= LIBUR IDUL FITRI