Anda di halaman 1dari 15

Essay Ekologi Pemerintahan

Proses Rekonstruksi Pasca Gempa Bumi Tasikmalaya Tahun 2010

Di Indonesia kita telah banyak melihat suatu peristiwa alam yang menjadi bencana
tentu membuat kita prihatin dengan kehancuran yang ada. Selain kehancuran, kehancuran
yang terjadi pasti menyebabkan penderitaan serta kerugian, baik bagi masyarakat maupun
pemerintah. Mencermati peristiwa bencana yang terjadi serta upaya bantuan yang diberikan,
kiranya patut kita memberikan apresiasi atas upaya yang telah dilakukan pemerintah, para
relawan, dan mayarakat secara umum, meskipun banyak hal sisa dari bencana yang masih
perlu dibenahi. Untuk itulah, diperlukan manajmen ekologi pemerintahan untuk penanganan
bantuan yang lebih baik dan sistematis1. Pulau Jawa merupakan wilayah Indonesia yang
paling padat penduduk dan infastrukturnya.

Berdasarkan struktur seismotektoniknya, pulau di Jawa ini merupakan bagian satuan


seismotektonik busur sangat aktif dan busur aktif. Untuk mewaspadai bencana gempa bumi
di kawasan ini perlu dilakukan suatu kajian mendalam seismotektonik yang berbasiskan asal-
usul kejadian gempa bumi, serta menentukan wilayah-wilayah yang potesnsi gempa bumi
sangat ditentukan oleh padatnya penduduk dan infastruktur di suatu wilayah yang telah
dinyatakan rawan bencana akan risiko bencana gempa bumi. Daerah yang memiliki lajur
potensi bahaya gempa bumi di jawa seperti daerah selatan Provinsi Jawa Barat (Garut,
Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, dan Pangandaran), di daerah lainnya seperti Provinsi Daerah
Insimewa Yogyakarta, dan daerah-daerah lainnya di pulau Jawa yang memiliki potensi
gempa bumi. Gempa bumi yang terjadi di Tasikmalaya disebut gempa bumi tektonik yang
terjadi pada tanggal 2 September 2009 pada pukul 14:55 WIB (GMT+7) dengan pusat gempa
di 142 KM barat daya Tasikmalaya, Jawa Barat dengan kekuatan 7,3 Skala Richter2. Gempa
tektonik tersebut terjadi akibat tumbukan lempeng dari Indo-Australia pada lempeng Eurasia.
Gempa yang mengguncang itu dilaporkan terasa hingga ke pulau Bali3.

Sesungguhnya, kulit bumi yang bergetar di rasakan secara berkelanjutan walaupun


relatif sangat kecil. Getaran tersebut tidak bisa dikatakan sebagai gempa bumi karena sifat
getaranya terus menerus, sedangkan gempa bumi memiliki waktu awal dan akhir terjadinya

1
Ramli, Soehatman, 2010. Pedoman Praktis Manajemen Bencana ( Disaster Management ).
Jakarta: Dian Rakyat
2
Gempa Tasikmalaya, Tim Reaksi Cepat Dikirim diakses pada 18 Mei 2017
3
Gempa Tasikmalaya Bergetar hingga Bali diakses pada 18 Mei 2017
juga sangat jelas. Ilmu yang secara khusus mempelajari gempa bumi dinamakan Sesimologi4.
Berbagai ancaman bencana alam khususnya gempa bumi yang tidak dapat direncanakan
tersebut maka masyarakat Indonesia yang terkena bencana perlu mendapatkan bantuan dari
pihak pemerintah maupun lapisan masyarakat lainnya. Salah satu bentuk bantuan adalah
berupa rekonstruksi. UU RI NO.24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana yang
didalamnya pada Pasal 1 Ketentuan Umum bahwasanya Rekonstruksi adalah pembangunan
kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada
tingkat pemerintah maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya
kegiatan perekonomian, sosial, dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya
peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah bencana.
Sedangkan pada Pasal 59 Rekonstruksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 huruf b,
dilakukan melalui kegiatan pembangunan yang lebih baik, meliputi: a). Pembangunan
kembali prasarana dan sarana; b). Pembangunan kembali sarana sosial masyarkaat; c).
Pembangkitan kembali kehidupan sosial budaya masyarkat; d). Penerapan rancangan
bangunan yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih baik dan tahan bencana; e).
Partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan, dunia usaha dan,
masyarakat; f). Peningkatan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya; g). Peningkatan fungsi
layanan publik; dan h). Peningkatan layanan utama dalam masyarakat.

Kerugian akibat gempa bumi sebesar 7,2 Skala Richter yang terjadi pada 2 September
2009 di Kabupaten Tasikmalaya ditaksir mencapai Rp322 miliar. Kerugian yang dialami
terutama pada hancurnya rumah-rumah penduduk. Rumah penduduk yang rusak berat
mencapai 11.939 rumah. Sedangkan rusak ringan mencapai 30.997 rumah, untuk fasilitas
pendidikan, sebanyak 172 sekolah rusak berat, sebanyak 179 madrasah mengalami rusak
berat dan 314 madrasah mengalami rusak ringan dan 13 pondok pesantren mengalami
kerusakan, s edangkan fasilitas umum yang rusak meliputi 87 kantor rusak berat, 159 kantor
rusak ringan, 517 mesjid rusak berat dan 1036 mesjid rusak ringan. Sementara pengungsi
mencapai 38.296 kepala keluarag atau sebanyak 142.577 jiwa. Sedangkan kerugian di Kota
Tasikmalaya sendiri kerugian tersebut berasal dari jumlah bangunan yang hancur. Sekitar 28
bangunan hancur, 283 rusak berat, dan 1.852 rusak ringan. Diantara bangunan yang
hancur adalah 53 sarana ibadah dan puluhan bangunan perkantoran. Infastruktur dan
bangunan yang rusak setelah dihitung mencapai Rp 5 Miliar. Petugas dan pengamat

4
Mulyo, Agung.2004. Pengantar Ilmu Kebumian Untuk Pengetahuan Geologi untuk Pemula.
CV. Pustaka Setia, Bandung.g
Gunung Galunggung menyebutkan Gunung Galunggu yang berada di Tasikmalaya retak
sepanjang 350 meter dengan lebar 0,5 centi meter. Keretakan tersebut melingkar di wilayah
bibir kawah, di Kecamatan Padakembang, dan kondisinya rentan berpotensi longsor apabila
terjadi hujan. Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian Operasi Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis, 3 September 2009, sampai pukul 08.30 WIB,
tercatat 18.278 rumah mengalami rusak.
Dari total jumlah kerusakan itu, sebanyak 8.885 unit rumah rusak berat dan 9.393 unit
rumah rusak ringan. Kerusakan rumah itu tersebar di 10 kabupaten dan kota. Berdasarkan
data itu, kerusakan terberrat terjadi di Kabupaten Ciamis, dengan rincian sebanyak 5.085 unit
rumah rusak berat dan 6.211 rumah rusak ringan. Sebelumnya, BNPB melansir 46 orang
dinyatakan tewas.
Berikut daftar sebaran korban tewas:
1. 10 orang di Kabupaten Cianjur
2. 9 orang di Kabupaten Garut
3. 2 orang di Kabupaten Sukabumi
4. 9 orang di Kabupaten Tasikmalaya
5. 8 orang di Kabupaten Bandung
6. 1 orang di Kabupaten Bandung Barat
7. 2 orang di Kabupaten Bogor
8. 4 orang di Kabupaten Ciamis
Selain korban tewas dan luka-luka, para korban gempa yang tidak tertimpa apa-apa
kini mengalami berbagai penyakit, menderita kelaparan, kedinginan karena mengungsi di
tempat terbuka (bukan bangunan) dan sakit. Belum meratanya bantuan baik makanan, Di
Kabupaten Cilacap saja, kerugian akibat gempa 7,3 SR yang berpusat di 142 km barat daya
Tasikmalaya diperkirakan mencapai Rp 21,1 miliar. Kerugian itu diperhitungkan
dari kerusakan material pada 1.245 rumah yang roboh hingga rusak berat dan retak-retak.
Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat Desa Bojongsari Sukiman mengatakan, sejak bantuan
makanan tak lagi mengalir sejak 4 Oktober, tak ada lagi bantuan makananan yang dibagikan
kepada korban. Pihaknya hanya menyimpan bantuan beras sebanyak empat kuintal. Beras itu,
katanya, sengaja disimpan sebagai cadangan untuk warga yang akan bergotong royong
membangun rumah korban gempa yang roboh. Gotong royong itu akan dilaksanakan segera
setelah dana tanggap darurat disalurkan dari Pemkab Cilacap. "Sekarang kami hanya
menunggu dana itu dapat segera disalurkan kepada warga," katanya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Cilacap Dangir Mulyadi
mengatakan, dana tanggap darurat telah disalurkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah baru-
baru ini. Dana itu akan disalurkan kepada para korban melalui masing-masing kecamatan.
Rumah roboh diberi bantuan sebesar Rp 3 juta, rumah rusak berat diberi Rp 2 juta, dan rumah
rusak ringan diberi Rp 250.000. Dana bantuan itu akan dibagikan untuk 258 rumah roboh,
962 rumah rusak berat, dan 2.345 rumah rusak ringan. "Penyaluran dana itu tinggal
menunggu kesiapan masing-masing kecamatan untuk melaksanakannya," kata Dangir.
Adapun PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Distribusi Jabar dan Banten menargetkan
perbaikan jaringan instalasi selesai dalam tiga hari. Dari total 104 penyulang yang padam,
102 unit di antaranya telah berfungsi normal. Manajer Deputi Komunikasi PLN Distribusi
Jabar dan Banten Adang Djarkazih mengatakan, dua penyulang yang tengah diperbaiki
berada di Pangalengan. Akibat kerusakan jaringan listrik, kerugian PLN mencapai Rp 4,26
miliar. Sebanyak 20.562 rumah tidak bisa menikmati listrik karena rusaknya saluran listrik
dari PLN ke rumah penduduk.

Tahap rekonstruksi ini bertujuan membangun kembali daerah bencana dengan


melibatkan semua masyarakat, perwakilan lembaga swadaya masyarakat, dan dunia usaha.
Pembangunan prasarana dan sarana haruslah dimulai dari sejak selesainya penyesuaian tata
ruang (apabila diperlukan) di tingkat Kota/Kabupaten terutama di wilayah rawan gempa
(daerah patahan aktif). Aktivitas pada fase ini lebih menitik bertakan kepada pembangunan
kembali dalam jangka panjang di berbagai aspek dimana kegiatan berlangsung membutuhkan
koordinasi dan perencanaan yang signifikan serta saling terintegrasi dengan perencanaan
pembangunan secara utuh (Coppola, 2006; Phillips, 2009).
PEMBAHASAN

Tidak bisa di pungkiri lagi, Secara Geografi indonesia termasuk kedalam wilayah
yang Rawan bencana terutama bencana Geologis Seperti Gempa bumi, Tanah Longsor,
Erupsi Gunung Api dan juga Tsunami. Kerusakan yang diakibatkan gempa bumi tersebut
berdampak pada sektor pemukiman, infastruktur, sosial, ekonomi dan lintas sektor yang
mengakibatkan terganggunya aktivitas dan layanan umum di wilayah yang terdampak
bencana. Rekonstruksi merupakan bagian dari proses pemulihan pasca bencana. Rekonstruksi
pasca bencana melingkupi beberapa aspek yang menjadi fokus pemulihan yaitu perumahan,
ekonomi, lingkungan, infastruktur, sosiologi-psikologi dan pelayanan publik.

Proses rekonstruksi gempa Tasikmalaya meliputi dalam pemberian sandang, pangan,


dan papan itu tidak hanya melibatkan pemerintah (BPBD) melainkan dari berbagai organisasi
masyarakat maupun lapisan dari bidang perbisnisan. Contohnya seperti PT. Otsuka Indonesia
yang memberikan suplemen makanan disalurkan melalui RS Jasa Kartini, Yayasan Sosial
Bina Sejahtera juga memberikan bantuan kepada masyarakat yang terkena bencana gempa
bumi berupa pangan (sembako) yang di salurkan ke daerah pesisir pantai Tasikmalaya, para
pengungsi di Cisalak, Desa Cikangkareng, juga sudah mulai mendapat distribusi air bersih
sebanyak satu tangki dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Cianjur. Hal serupa
dilakukan PDAM Tirta Sukapura, Kabupaten Tasikmalaya, dengan menggilir tiga tangki
sehari ke setiap lokasi, bantuan juga datang dari Komite Australia. Australia menyediakan $5
juta untuk memperbaiki dan membangun kembali hingga 100 sekolah. Banntuan ini
disampaikan melalui Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama. Menurut
Mentri Luar Negeri saat itu Dr. Hassan Wirajuada.

Menurut kepala Bappenas pada saat itu Paskah Suzetta biaya rekonstruksi dan
infastruktur Pendanaan rekonstruksi maupun rehabilitasi merupakan kombinasi antara APBN,
APBD Provinsi, dan APBD Kabupaten/Kota. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional
pada saat itu Paskah Suzetta memamparkan proses rekonstruksi pasca gempa Tasikmalaya
mengadopsi pola yang pernah diterapkan pada bencana gempa Yogyakarta. Agar proses ini
berjalan tepat sasaran maka akurasi data menjadi hal yang krusial. Proses antara lain, yaitu:
Pola Yogyakarta yang dimaksud ialah warga penerima bantuan diarahkan untuk
berkelompok, misalnya 10-15 orang. Setelah diberi bantuan mereka kemudian membangun
rumahnya masing-masing dengan pendampingan dari tim teknis. Tim teknis dari Institut
Teknologi Bandung nantinya akan memandu bagaimana membuat rumah yang tahan gempa.
Adapun proses penilaian kerusakan dan kerugian, menggunakan metode Economic
Commission for Latin America and the Carribean (ECLAC) yang dinilai memiliki tingkat
akurasi tinggi. Metode ini pernah dilakukan juga di antaranya ketika tsunami Aceh, gempa
Yogyakarta, tsunami Pangandaran, dan banjir Jakarta. Data dari setiap daerah akan menjadi
masukan bagi tim validasi dari pemerintah pusat dalam melakukan pengecekan ulang data di
lapangan. Data dari setiap daerah akan menjadi masukan bagi tim validasi dari pemerintah
pusat dalam melakukan pengecekan ulang data di lapangan. Menteri Perencanaan
Pembangunan Nasional pada saat itu Paskah Suzetta mengatakan nanti akan dilihat lagi
berapa sesungguhnya kerusakan dan kerugian akibat gempa. Dengan demikian, berapa
jumlah santuan bagi korban gempa yang ruamhnya rusak berat, sedang, dan ringan belum
bisa diketahui saat ini.

Pemerintahan pusat memastikan, menangguang sekitar 80% dari dana rehabilitasi dan
rekonstruksi gempa bumi Tasikmalaya sebesar Rp 1,5 Triliun. Sisanya, yang 20% bakal
ditanggung renteng oleh pemerintah provisi, kabupaten dan kota. Rehabilitasi dan rekostruksi
akan memakan waktu yang cukup lama. Itu sebabnya, pemerintahan pusat akan tetap
melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah (Pemda) dan Badan Bappenas sendiri.
Rangkaian pemberian bantuan Pemerintah Kota Bandung kepada korban gempa bumi di
Selatan Jawa Barat direalisasikan oleh Walikota Bandung H. Dada Rosada sebagai ketua
satlak PDP Kota Bandung dengan menyerahkan bantuan kepada Wakil Bupati Tasikmalaya
H.E.Hidayat, SH.MH. Pada kesepatan tersebut diserahkan bantuan berupa uang sebesar 150
juta dan bantuan dalam bentuk barang diantaranya beras 5 ton, mie instant (800 dus), sarden
(61 dus), minyak goreng, air mineral, makanan bayi, makanan dan minuman ringan serta
barang keperluan lainnya berupa pakaian layak pakai, juga bantuan Kecamatan Cisayong
uang 10 juta rupiah, perbaikan mesjid Cigalontang 5 juta rupiah. Bantuan gempa
Tasikmalaya lainya dari provinsi Jawa Barat sebesar Rp 7,8 milyar yang diterima pemerintah
kota Tasikmalaya direncankan akan diberikan sebelum akhir tahun 2009 kepada kelompok
masyarakat (Pokmas) korban gempa. pokmas merupakan korban gempa yang resmi
menerima dana bantuan rehabilitasi rumah dari pemerintah. Pokmas sendiri yang melakukan
perbaikan kerusakan rumah, dengan peninjauan dan pembinaan dari pemerintah. Ujar
Menurut walikota Tasikmalaya pada saat itu Syarif Hidayat.

Pembahasan manajemen rekonstruksi difokuskan pada aspek perumahan dengan


faktor-faktor ekologi yang mempengaruhi, antara lain: partisipasi masyarakat, sumber daya
manusia, aspek finansial, serta proses rekonstruksi yang bersifat berkelanjutan.
 Partisipasi Masyarakat
Partisipasi masyarkakat, khususnya masyarakat korban bencana pada proses
rekonstruksi merupakan hal yang paling dianggap krusial karena masyarakat dianggap aktor
yang paling mengetahui dan memahami kondisi kependudukan di lokasi bencana. Selain itu,
partisipasi masyarakat pun berfungsi memfasilitasi diskusi antara masyaralat dengan pihak
eksternal agar tercapainpersamaan presepsi dan tujuan (Olhansky et al, 2006; Phillips, 2009)
sehingga partisipasi masyarakat ini dapat menjadi wadah yang dapat mewujudkan kerjasama
antara masyarakat dengan pemerintah. Keberadaan partisipasi masyarakat dalam proses
rekonstruksi menjadi sebuah jalan untuk menerima segala informasi terkait rekonstruksi dan
terlibat dalam pengambilan keputusam bersama karena mendorong terciptanya forum diskusi
sebagai wadah bertukar pikiran untuk merumuskan solusi dari persoalan yang muncul selama
proses rekontrusi.

Terjadinya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat lokal pada proses


rekonstruksi perumahan pasca bencana gempa bumi, dapat mempermudah kinerja pemerintah
dalam menilai dan mendata kerusakan dan kerugian yang dialami oleh masyarakat. Apabila
pelaksanaan rekosntruksi dilakukan dengan basis perlibatan masyarakat lokal, maka dampak
postif yang dirasakan salah satunya dalah kelancaran dalam pengalokasian dana bantuan
pemerintah kepada masyarakat korban bencana. Adanya partisipasi masyarakat, dapat
memperbaiki hubungan antara pemerintah dan masyarakat karena timbulnya kerjasama
dalam hal pemulihan sosial-ekonomi, perdistribusian bantuan, dan lainya, hubungan yang
terjalin antara masyarakat dan pemerintah sebenarnya tidak dapat berdiri tanpa bantuan
masyarkaat karena adanya keterbatasan pemerintah dalam mengakomondasi berbagai
kepentingan maupun sumber daya yang dimiliki oleh pemerintah (Ozden, 2006).

Keefektifan dan partisipasi tersebut dapat ditingkatkan dengan motivasi dan


dilaksanakan secara kontinu (Paton dan Johnston, 2006). Proses partisipasi ini diharapkan
dapat mencapai hasil yang konsensus dan mencapai kesepakatan bersama (Phillips, 2009).
Adanya peranan serta masyarakat dalam melaksanakan program pemerintah dapat
menumbuhkan rasa memiliki tanggung jawab di masyarakat (Paton dan Jphnston, 2006) serta
mencerdaskan masyarakat lokal dalam menangani suatu masalah, terutama dalam hal
kebencanaan. Akan tetapi, hingga saat ini partisipasi masyarakat masih sebatas pada
pelaksanaan program-program teknis dan belum dilibatkan pada proses evaluasi kerja dalam
pperencanaan program mitigasi bencana di masa depan. Implikasi kedepannya, diharapkan
masyarakat dapat ikut terlibat, bukan hanya pada proses rekonstruksi tetapi sejak perencanaan
bencana hingga evaluasi keberjalanan rencana aksi penanggulanagn bencana.

 Sumber Daya Manusia


Pengalokasian sumber daya manusia pada proses rekonstruksi perumahan pasca
bencana gempa bumi sangat diperlukan dalam mempercepat proses rekonstruksi. Masing-
masing aktor-pemerintahan, lembaga non pemerintahan maupun masyarajat lokal memiliki
porsinya masing-masing. Tokoh masyarakat memiliki peranan untuk membantu masyarakat
dilingkungannya, baik dalam membantu penyaluran bantuan maupun memberikan
pemahaman maupun arahan kepada masyarakat disekitarnya karena merasa memiliki rasa
kepemilikan da tanggung jawab terhadap lingkungannya, adanya tokoh masyarakat yang
mengayomi warga sekitarnya dapat dipandang sebagai kesempatan untuk meningkatkan
kapasitas masyarakat dalam menanganai kondisi bencana. Di sinilah Penguatan untuk
kelembagaan memerlukan sumberdaya manusia sebagai pelaksana rancangan penguatan
kelembagaan. Sumber daya manusia memagang peranan penting dalam sebuah organisasi
atau kegiatan. Memiliki Sumber daya manusia yang memadai berkompetensi dan
berpengetahuan yang baik tentang pencegahan dan pengendalian suatu bencana. 5
Dilain sisi, pemerintah memiliki wewenang dalam menangani proses rekonstruksi
pasca bencana. Pemerintah memiliki badan ahli yang berfungsi khsus untuk memnaggulangi
bencana, yaitu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB di tingkat pusat dan Badan
Penanggulanagn Bencana Daerah (BPBD) di tingkat daeah. Pemerintahan pusat beroeran
dalam merumuskan rencana dan strategi pemulihan pasca bencana dalam bentuk program
kerja dan bertanggung jawab atas keberlangsungan program-program tersebut. BNPB
maupun BPBD merupakan bagian pemerintah yang fungsi khusus untuk menanggulangi
suatu bencana baik pra, saat maupun pasca bencana. Untuk tingkat pusat BNPB berkerja
sama dengan BAPPENAS mengeluarkan rencana aksi rehabilitas dan rekonstruksi pasca
bencana yang menjadi acuan pelaksanaan pemulihan pasca bencana secara umum yang
ditunjuk untuk pemulihan seluruh sektor yang terkena dampak bencana. Khusus untuk
pemulihan pasca bencana pada sektor perumahan, BNPB mengeluarkan pedoman teknis yang
fokus untuk memulihkan sektor tersebut. Ketika terjadi suatu bencana, BNPB memiliki
fungsi koordinasi yang dapat mengkoordinasi lembaga pemerintahan lainnya yang terkait

5
Suhendri, Eko Pryo Purnomo. “Penguatan Kelembagaan Dalam Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran
Hutan dan Lahan di Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi”. Universitas Muhammadiayah Yogyakarta
Yogyakarta, Indonesia. http://pascasarjana.umy.ac.id/wp-content/uploads/2017/03/10-MIP-Suhendri-
Penguatan-Kelembagaan-Dalam-Pencegahan-dan-Pengendalian-Kebakaran.pdf
dalam proses pemulihan pasca bencana ini untuk berkerja sama dalam merumuskan tindakan
perbaikan bagi wilayah yang terkena dampak bencana. Untuk pemulihan pasca bencana
sektor perumahan, BNPB berkerja sama dengan Kementrian Pekerjaan Umum maupun
Kementrian Perumahan Rakyat. Untuk tingak provinsi, BPBD provinsi berkerja sama dengan
Dinas Pemukiman dan Perumahan dan BAPPEDA dalampemberian dantuan dalam bentuk
dana maupun sosialisasi dan pelatihan permbangunan rumah tanah gempa di masyarakat.
Lalu pemerintahan lokal seperti pemerintahan kabupaten’kota, kecamatan maupun
tingkat desa, memiliki peranan dalam memastikan kelancaran program rekonstruksi.
Pemerintahan lokal diberi tanggung jawab dalam hal tersebut karena dianggap sebagai aktor
paling memahami kondisi wilayah yuridis mereka (Wu dan Lindell, 2004) sehingga mereka
dapat bertindak cepat dalam menangani situasi pasca bencana tanpa harus menunggu intruksi
dari pemerintahan pusat atau provinsi. Kemudian lembaga nonpemerintah berperan penting
dalam pelaksanaan pemulihan pasca bencana. Lebaga nonpemerintah cenerung bergerak
secara cepat dan fase tanggap darurat. Hal ini terjadi karena bantuan dari pemerintah
dianggap lambat sedangkan masyarakat membutuhkan bantuan secepatnya. Bantuan yang
diberikan sebagian besar dalam bentuk sandang dan panagan saja. Lembaga non pemerintah
memang tidak banay bergerak dibanding rekonstruksi pasca bencana karena sektor tersebut
sudah menjadi kewajiban dan wewenang dari pemerintah, sehingga peran serta
nonpemerintah dalam pemulihan pasca bencana dibatasi di fase tanggap darurat saja. Hal
tersebut tidak menutup kemungkinan apabila lembaga nonpemerintah membantu pemerintah
dalam pelaksaan pemulihan pasca bencana yang lebih lanjut, tentunya dengan mekanisme
yang telah disepakatai.
 Sumber Daya Finansial
Sumber-sumber bantuan pendanaan untuk rekonstruksi pasca bencana dapat berasal
dari anggaran pemerintah, asuransi, yayasan, investor, simpanan pribadi korban bencana
maupun bantuan internasional (Phillips, 2009). Secara teori, bantuan finansial dalam
rekonstruksi perumahan pasca bencana dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian (Barakat,
2003; Yasaditama dan Sagala, 2012), diantaranya: (1) pemberian sekaligus dimana korban
bencana diberikan rumah secara gratis; (2) kontribusi parsial, yaitu korban bencana
mendapatkan bantuan material bangunan, panduan teknis dan/atau jaminan khusus, namun
mereka membangun rumah secara mandiri; (3) pemberian pinjaman dalam jangka panjang.
Bantuan finansial ini biasanya dikelola oleh pemerintah pusat, provinsi atau kabupaten
dimana nantinya akan disalurkan kepada pemerintah lokal untuk dikelola dan disalurkan
kepada masyarakat korban bencana.
Skema finansial yang terjadi di Indonesia, khususnya pasca gempa bumi Jawa
Barat tahun 2009, sebagian besar bantuan finansial diperoleh dari anggaran pemerintah.
Hal ini terjadi karena adanya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2008 tentang
Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana bab IV Pasca bencana yang menetapkan bahwa
dalam melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi, Pemerintah Kabupaten/Kota wajib
menggunakan dana APBD Kabupaten/Kota. Apabila dana APBD tidak memadai, maka
Pemerintah Kabupaten/Kota dapat meminta bantuan kepada Pemerintah Provinsi dan/atau
Pemerintah Pusat. Dasar inilah yang menjadi sumber bantuan finansial bagi pelaksanaan
rekonstruksi perumahan pasca bencana gempa bumi. Alokasi dana bantuan yang diberikan
oleh pemerintah kepada masyarakat masih bersifat stimulan bukan ganti rugi, sehingga
masyarakat harus berusaha memperbaiki kembali rumah mereka yang rusak menggunakan
dana swadaya masyarakat. Upaya yang dilakukan masyarakat untuk mengatasi
keterbatasan finansial untuk pembangunan rumah mereka kembali adalah dengan
menggunakan simpanan pribadi, meminjam uang kepada sanak saudara maupun pinjaman
bank dengan menggadaikan surat-surat penting sebagai jaminan.
Minimnya alokasi dana bantuan pemerintah untuk rekonstruksi rumah masyarakat
menjadi persoalan di masyarakat korban bencana. Biaya bahan material yang semakin tinggi
karena keterbatasan ketersediaan barang material dan permintaan yang tinggi (Yasaditama
dan Sagala, 2012) mengakibatkan masyarakat korban bencana kesulitan untuk membangun
kembali rumah mereka dengan menerapkan struktur rumah tahan gempa. Kondisi finansial
ini menjadi penentu masyarakat dalam membangun rumah mereka kembali pasca gempa
bumi.
Walaupun terdapat peraturan pemerintah yang mengatur penggunaan dana bantuan
pemerintah dalam pelaksanaan rekonstruksi perumahan, namun hal ini tidak menutup
kemungkinan lembaga non-pemerintah turut berkontribusi dalam rekonstruksi perumahan.
Beberapa lembaga non-pemerintah berkontribusi dalam bentuk bantuan bahan bangunan,
peralatan dan bimbingan teknis dalam pembangunan rumah tahan gempa. Adapula yang
membantu dalam bentuk pemberian beberapa unit rumah jadi secara gratis kepada
masyarakat korban bencana, namun hal ini jarang terjadi. Meninjau skema bantuan finansial
yang diterapkan oleh pemerintah maupun lembaga non-pemerintah dalam rekonstruksi
perumahan pasca bencana, dalam hal ini berarti pemerintah berusaha untuk menerapkan
skema pembiayaan kontribusi parsial melalui self help, di mana selanjutnya diharapkan
kerjasama dan partisipasi dari masyarakat (Barakat, 2003).
 Keberlanjutan
Untuk mencapai proses rekonstruksi perumahan yang berkelanjutan, selain faktor
partisipasi masyarakat, alokasi sumber daya manusia dan aspek finansial, aspek
keberlanjutan dalam rekonstruksi menjadi hal yang patut diperhatikan. Menurut (Barakat,
2003), terdapat beberapa aspek keberlanjutan dalam proses rekonstruksi meliputi:
keberlanjutan lingkungan, teknologi dan organisasi. Dalam konteks kebencanaan,
teknologi yang dapat dikembangkan salah satunya adalah konstruksi bangunan tahan
gempa. Di Indonesia, khususnya pasca bencana gempa bumi Jawa Barat tahun 2009,
BPBD Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Pusat Pembinaan Kompetensi dan
Pelatihan Konstruksi (Pusbin KPK) dan Kementerian Pekerjaan Umum memberikan
pelatihan dan sosialisasi bangunan tahan gempa kepada masyarakat korban bencana
beserta pendampingan masyarakat.
Sasaran sosialisasi ini ditujukan kepada masyarakat yang berprofesi sebagai tukang
maupun tokoh masyarakat. Pelaksanaan sosialisasi dan pelatihan ini lebih menitikberatkan
pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai konstruksi tahan gempa sekaligus
menyadarkan masyarakat setempat bahwa mereka tinggal di daerah yang memiliki potensi
bencana gempa bumi. Walaupun pemerintah telah melakukan pelatihan dan sosialisasi
konstruksi bangunan tahan gempa, namun kenyataannya masyarakat masih belum dapat
menerapkan metode tersebut. Kondisi ini terjadi karena keterbatasan finansial dari
masyarakat dalam menyediakan bahan material yang dibutuhkan untuk menerapkan
metode tersebut.
Proses rekonstruksi rumah pasca bencana pun memerlukan integrasi organisasi,
dimana seluruh stakeholder dan para ahli dapat berhimpun dan bekerja sama untuk
merencanakan suatu perogram maupun menyelesaikan persoalan tertentu. Idealnya
pelaksanaan rekonstruksi perumahan pasca bencana ini harus dapat terintegrasi dengan
perencanaan pembangunan daerah. Terintegrasinya program rekonstruksi perumahan pasca
bencana dengan perencanaan pembangunan daerah dapat mempersiapkan kesiapan aparatur
pemerintah dalam mengantisipasi terjadi bencana gempa bumi di kemudian hari.
Kondisi pemulihan pasca bencana ini harus ditinjuau sebagai kesempatan yang besar
dalam membangun ketahanan masyarakat yang lebih baik dalam menghadapi bencana.
Program-program rekonstruksi perumahan pasca bencana jangka panjang menjadi awal dari
perumusan perencanaan mitigasi yang telah melibatkan masyarakat setempat. Proses
rekonstruksi perumahan pasca bencana sesungguhnya bukan hanya mengganti kerusakan
bangunan dan infrastruktur, akan tetapi juga merekonstruksi struktur sosial masyarakat
sehingga nantinya masyarakatlah yang akan memastikan pulihnya kesempatan untuk
memperoleh sumber daya untuk kehidupan yang lebih baik lagi (Alexander, 2004).
Keberlanjutan dari proses rekonstruksi perumahan pasca bencana gempa bumi ini erat
kaitannya dengan perencanaan masa depan. Tercapainya rekonstruksi yang kontinu dapat
diupayakan dengan memasukkan unsur mitigasi bencana disetiap program-program
pemerintah. Dengan begitu, artinya pemerintah telah berusaha untuk meningkatkan kapasitas
dan kesiapsiagaan terhadap bencana dalam melaksanakan program-program pembangunan.
Upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam upaya mitigasi bencana ditunjukkan pada
rencana kerja Dinas Permukiman dan Perumahan (Diskimrum) bidang perumahan. Salah satu
rencana kerja Diskimrum yang telah memasukkan unsur mitigasi bencana, yaitu upaya
meningkatkan penataan bangunan dan lingkungan yang berbasis mitigasi bencana dan
kearifan lokal.
Proses pemulihan pasca bencana di fase rekonstruksi perumahan. Tulisan ini
meninjau empat faktor utama yang mempengaruhi proses rekonstruksi perumahan dalam
upaya mencapai keberhasilan proses pemulihan pasca bencana seutuhnya. Keempat faktor
tersebut, antara lain: partisipasi masyarakat, keberadaan sumber daya manusia, aspek
finansial dan keberlanjutan pada proses rekonstruksi. Keempat faktor tersebut dianggap
penting dalam menentukkan seberapa cepat proses rekonstruksi dapat berlangsung.
Keikutsertaan masyarakat secara aktif sangat diperlukan dalam membantu pemerintah
mengimplementasikan rencana program rekonstruksi di lokasi bencana, karena masyarakat
dianggap sebagai aktor utama yang paling mengetahui situasi dan kondisi dilokasi bencana.
Oleh karena itu, kerjasama antara pemerintah dan masyarakat lokal sebaiknya dapat terjalin,
bukan hanya ketika fase pasca bencana, akan tetapi telah dimulai sejak perumusan rencana
program-program penanggulangan bencana dimana hingga saat ini hal tersebut belum ada.
PENUTUP

Bencana di Indonesia sering terjadi bencara berupa sosial ataupun alam, di sebagian
pulau jawa ada berberapa daerah yang memang rawan tergadinya bencara alam, untuk itu
peran serta dari masyarakan maupun pemerintah sangat berarti untuk menjaga lingkungan
yang rawan, sebelum ada bencara pendidikan yang berkaitan dengan bencana sangatlah
penting untuk mengurangi keruhian yang ada. serangkaian upaya untuk mengurangi resiko
bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan
menghadapi ancaman bencana. peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan
bermasyarakat pada wilayah bencana. Untuk itu semua masyarakat harus ikut andil dalam
melakukan kegiatan gotong royong membangun segala kerusakan yang ada di lingkungan,
meliputi:
a. Pembangunan prasarana dan sarana pasca bencana.
b. Pembangunan kembali sarana sosial masyarkat.
c. Pembangkitan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat.
d. Penerapan rancangan bangunan yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih baik
dan tahan bencana.
e. Partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan, dunia usaha dan,
masyarakat.
f. Peningkatan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya.
g. Peningkatan fungsi layanan publik.
h. Peningkatan layanan utama dalam masyarakat.

Diperlukannya koordinasi antara stakeholder masyarakat, pemerintah, dan lembaga non


pemerintah agar dapat terbentuknya proses rekonstruksi yang saling terintegritas.
Keterlibatan seluruh stakeholder dapat mempercepat proses rekonstruksi pasca bencana
karena dengan masing-masing wewenang yang di miliki para stakeholder diharapkan
pelaksanaan rekonstruksi dapat di lakukan secara tertib dan tidak tumpah tindih satu dan
lainnya yang dapat mengakibatkan konflik di lokasi bencana. Pelaksanaan rekonstruksi
perumahan pasca bencana memanglah bukan hal yang mudah oleh karena itu untuk
mewujudkan suatu proses rekonstruksi yang sinergi dan berkelanjutan di butuhkan kesiapan
dan kapasitas baik dari seluruh stakeholder untuk mempersiapkan elemen-elemen yang harus
di penuhi baik pada pra ketika maupun pasca bencana.
Bencana gempa bumi terjadi menimpa bagian selatan Jawa Barat, hendaknya distribusi
bantuan tidak terfokus ke Tasikmalaya saja. Melaikan juga daerah lainnya yang juga merasakan
akibat dari bencana tersebut, seperti Bandung Selatan, Garut, Cianjur, dan Sukabumi, pun
mengalami kerusakan gempa yang tidak kalah hebatnya dan banyak dari daerah tersebut belum
terjamah bantuan sama sekali. Pemerintah juga harusnya turun memberikan perhatian secara
langsung yang bertujuan menimbulkan rasa partisipasi masyarakan untuk bersama
menanggulangkan kerusakan yang terjadi pasca gempa. Disarankan memberi bantuan ke lokasi
yang lebih dekat dengan kota tempat tinggal. Hal ini mempertimbangkan faktor jarak dan waktu.
Semakin dekat jaraknya, semakin cepat bantuan terdistribusi dan semakin baik bagi para korban.
DAFTAR PUSTAKA

Sagala, A, Saut. Manajemen Rekonstruksi Perumahan Pasca Bencana Gempa Bumi Jawa
Barat: Studi Kasus Kabupaten Bandung, Jawa Barat,
https://www.rdi.or.id/file/pdf/33.pdf. Diakses: 14 Mei 2018

Suhendri, Pryo Eko Purnomo. “Penguatan Kelembagaan Dalam Pencegahan dan


Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Muaro Jambi
Provinsi Jambi”. Universitas Muhammadiayah Yogyakarta Yogyakarta,
Indonesia. http://pascasarjana.umy.ac.id/wp-content/uploads/2017/03/10-MIP-
Suhendri-Penguatan-Kelembagaan-Dalam-Pencegahan-dan-Pengendalian-
Kebakaran.pdf . Diakses: 15 Mei 2018

Sthepen, MP, Smith. 2009 .Gempa Bumi Indonesia-Bantuan Pemulihan dan Rekonstruksi.
http://googleweblight.com/?lite_url=http://indonesia.embassy.gov.au/jaktindone
sian/FM09_002.html&ei=asVLkhFU&lc=id-. Diakses: 15 Mei 2018

FPBI.18.38.00. Pemerintah Tanggung 80% Biaya Rehabilitasi Gempa Jabar.


http://fpbibencana.blogspot.co.id/2009/09/pemerintah-tangungg-80-biaya.html.
Diakses: 15 Mei 2018

Ajat, Sudrajat. 2010.“Pencarian Dana Bencana Alam Belum Bisa Dipastikan”.AntaraJabar.


Diakses: 15 Mei 2018

(Mad/Rez). 2009.“Kota Tasikmalaya Alami Kerugian Hingga Rp5 Miliar”.Detiknews.


Diakses: 15 Mei 2018

AA Ariwibowo.2009.“Kerugian Akibat Gempa Tasikmalaya” Capai Rp322Miliar,


antaranews. 15 Mei 2018

Edj.2009. “Bantuan Gempa Cilacap Tidak Turun Oktober”.Kompas. Diakses: 18 Mei 2018

NN.2009.“Rekonstruksi Memakai Pola Yoyakarta”.Kompas, 16 Mei 2017