Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Cairan dan elektrolit sangat penting untuk mempertahankan keseimbangan atau
homeostasis tubuh. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat mempengaruhi
fungsi fisiologis tubuh. Sebab, cairan tubuh kita terdiri atas air yang mengandung partikel-
partikel bahan organic dan anorganik yang vital untuk hidup. Elektrolit tubuh mengandung
komponen-komponen kimiawi. Elektrolit tubuh ada yang bermuatan positif (kation) dan
bermuatan negative (anion). Elektrolit sangat penting pada banyak fungsi tubuh, termasuk
fungsi neuromuscular dan keseimbangan asam-basa. Pada fungsi neuromuscular, elektrolit
memegang peranan penting terkait dengan transmisi impuls saraf.
Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap
sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu
bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi
dan perpindahan berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air (
pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan
partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan
elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan
didistribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya
distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh.
Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya; jika salah
satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian dari cairan dan elektrolit?
2. Bagaimana komposisi cairan dan elektrolit dalam tubuh manusia?
3. Bagaimana fungsi cairan dan elektrolit dalam tubuh manusia?
4. Bagaimana keseimbangan cairan dan elektrolit?
5. Bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit?
6. Bagaimana gangguan keseimbangan cairan dan elektolit ?
7. Bagaimana asuhan keperawatan gangguan keseimbangan cairan ?

1
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari cairan dan elektrolit
2. Untuk mengetahui komposisi cairan dan elektrolit dalam tubuh manusia
3. Untuk mengetahui fungsi cairan dan elektrolit dalam tubuh manusia
4. Untuk mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit
5. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit
6. Untuk mengetahui gangguan keseimbangan cairan dan elektolit
7. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan keseimbangan
cairan.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Cairan Dan Elektrolit


Cairan tubuh adalah cairan yang terdiri dari air dan zat terlarut (Price, 2016).
Kemudian elektrolit itu sendiri adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel
bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan (Price, Silvia, 2016). Cairan
dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap
sehat.Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu
bagian dari fisiologi homeostatis.
Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai
cairan tubuh. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan,minuman,dan
cairan intravena (IV) dan di distribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan
elektrolit berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam
seluruh bagian tubuh.Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan
yang lainnya, jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya.
B. Komposisi Cairan Dan Elektrolit Dalam Tubuh Manusia
Zat terlarut yang ada dalam cairan tubuh terdiri dari elektrolit dan nonelektrolit. Non
elektrolit adalah zat terlarut yang tidak terurai dalam larutan dan tidak bermuatan listrik,
seperti : protein,urea, glukosa, oksigen, karbon dioksida dan asam-asam organik. Sedangkan
elektrolit tubuh mencakup natrium (Na+), kalium (K+), Kalsium (Ca++), magnesium
(Mg++), Klorida (Cl-), bikarbonat(HCO3-), fosfat (HPO42-), sulfat (SO42-). Konsenterasi
elektrolit dalam cairan tubuh bervariasi pada satu bagian denganbagian yang lainnya,tetapi
meskipun konsenterasi ion pada tiap-tiap bagian berbeda, hukum netralitas listrik
menyatakan bahwa jumlah muatan-muatan negatif harus sama dengan jumlah muatan-
muatan positif. Komposisi dari elektrolit-elektrolit tubuh baik pada intarseluler maupun
padaplasma terinci dalam tabel di bawah ini :

No. Elektrolit Ekstraseluler Interstitial Intraseluler


Plasma
1 Kation :
- Natrium (Na+) - 144,0 mEq - 137,0 mEq - 10 mEq

3
- Kalium (K+) - 5,0 mEq - 4,7 mEq - 141 mEq
- Kalsium (Ca++) - 2,5 mEq - 2,4 mEq - 0
- Magnesium (Mg ++) - 1,5 mEq - 1,4 mEq - 31 mEq
2 Anion :
- Klorida (Cl-) - 107,0 mEq - 112,7 mEq - 4 mEq
- Bikarbonat (HCO3-) - 27,0 mEq - 28,3 mEq - 10 mEq
- Fosfat (HPO42-) - 2,0 mEq - 2,0 mEq - 11 mEq
- Sulfat (SO42-) - 0,5 mEq - 0,5 mEq - 1 mEq
- Protein - 1,2 mEq - 0,2 mEq - 4 mEq

1. Kation :
a. Sodium (Na+) :
- Kation berlebih di ruang ekstraseluler
- Sodium penyeimbang cairan di ruang ekstraseluler
- Sodium adalah komunikasi antara nerves dan musculus
- Membantu proses keseimbangan asam-basa dengan menukar ion hidrogen pada Ion
sodium di tubulus ginjal : ion hidrogen di eksresikan
- Sumber : snack, kue, rempah-rempah, daging panggang
b. Potassium (K+) :
- Kation berlebih di ruang intraseluler
- Menjaga keseimbangan kalium di ruang intrasel
- Mengatur kontrasi (polarissasi dan repolarisasi) dari muscle dan nerves.
- Sumber : Pisang, alpokad, jeruk, tomat, dan kismis
c. Calcium (Ca++) :
- Membentuk garam bersama dengan fosfat, carbonat, flouride di dalam tulang dan
gigi untuk membuatnya keras dan kuat
- Meningkatkan fungsi syaraf dan muscle
- Meningkatkan efektifitas proses pembekuan darah dengan proses pengaktifan
protrombin dan trombin
- Sumber : susu dengan kalsium tinggi,ikan dengan tulang,sayuran,dll
2. Anion
a. Chloride (Cl -) :
- Kadar berlebih di ruang ekstrasel

4
- Membantu proses keseimbangan natrium
- Komponen utama dari sekresi kelenjar gaster
- Sumber : garam dapur
b. Bicarbonat (HCO3 -) :
- Bagian dari bicarbonat buffer sistem
- Bereaksi dengan asam kuat untuk membentuk asam karbonat dan suasana garam
untuk Menurunkan PH
c. Fosfat ( H2PO4- dan HPO42-) :
- Bagian dari fosfat buffer system
- Berfungsi untuk menjadi energi pad metabolisme sel
- Bersama dengan ion kalsium meningkatkan kekuatan dan kekerasan tulang
- Masuk dalam struktur genetik yaitu : DNA dan RNA

C. Fungsi Cairan Dan Elektrolit Dalam Tubuh Manusia


1. Fungsi cairan dalam tubuh
a. Dalam proses metabolisme yang terjadi didalam tubuh,air mempunyai 2 fungsi
utama yaitu sebagai pembawa zat-zat nutrisi seperti karbohidrat,vitamin dan mineral
pembawa oksigen ke dalam sel-sel tubuh.
b. Selain itu,air didalam tubuh juga akan berfungsi untuk mengeluarkan produk
samping hasil metabolism juga dapat dikatakan berperan dalam proses metabolisme
seperti karbon dioksida(CO ) dan juga senyawa nitrat
c. Sebagai pelembab jaringan-jaringan tubuh seperti mata,mulut dan hidung, pelumas
dalam cairan sendi 02 Sports Science Brief tubuh
d. katalisator reaksi biologik sel,
e. Pelindung organ dan jaringan tubuh serta juga akan membantu dalam menjaga
tekanan darah dan konsentrasi zat terlarut.
f. Selain itu sebagai pengatur panas untuk menjaga agar suhu tubuh tetap berada pada
kondisi ideal yaitu ± 37C.
2. Fungsi elektrolit dalam tubuh
a. Membantu dalam perpindahan cairan antara ruangan dalam sel dan di luar sel
terutama denga adanya natrrium. Apabila jumlah natrium dalam CES meningkat
maka sejumlah cairan akan berpindah menuju CES untuk keseimbangan cairan.
b. Mengatur keseimbangan asam basa dan menentukan pH darah dengan adanya sistem
bufer.

5
c. Dengan adanya perbedaan komposisi elektrolit di CES dan CIS maka akan terjadi
perpindahan yang menghasilkan implus – implus saraf dan mengakibatkan
terjadinya kontraksi otot

D. Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit Tubuh


Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu
volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan
ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan
ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan
keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan
untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut.
1. Pengaturan volume cairan ekstrasel
Penurunan volume cairan ekstrasel menyebabkan penurunan tekanan darah arteri
dengan menurunkan volume plasma.Sebaliknya,peningkatan volume cairan ekstrasel
dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri dengan memperbanyak volume
plasma.Pengontrolan volume cairan ekstrasel penting untuk pengaturan tekanan darah
jangka panjang. Mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran (intake dan
output) air.Untuk mempertahankan volume cairan tubuh kurang lebih tetap,maka harus
ada keseimbangan antara air yang ke luar dan yang masuk ke dalam tubuh.hal ini terjadi
karena adanya pertukaran cairan antar kompartmen dan antara tubuh dengan lingkungan
luarnya.Water turnover dibagi dalam:
a. Eksternal fluid exchange, pertukaran antara tubuh dengan lingkungan luar; dan
b. Internal fluid exchange, pertukaran cairan antar pelbagai kompartmen seperti
proses filtrasi dan reabsorpsi di kapiler ginjal. Memperhatikan keseimbangan
garam. Seperti halnya keseimbangan air, keseimbangan garam juga perlu
dipertahankan sehingga asupan garam sama dengan keluarannya.
Permasalahannya adalah seseorang hampir tidak pernah memperhatikan jumlah
garam yang ia konsumsi sehingga sesuai dengan kebutuhannya. Tetapi,
seseorang mengkonsumsi garam sesuai dengan seleranya dan cenderung lebih
dari kebutuhan. Kelebihan garam yang dikonsumsi harus diekskresikan dalam
urine untuk mempertahankan keseimbangan garam. Ginjal mengontrol jumlah
garam yang dieksresi dengan cara:
- Mengontrol jumlah garam (natrium) yang difiltrasi dengan pengaturan
Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)/ Glomerulus Filtration Rate (GFR).

6
- Mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjal
Jumlah Na+ yang direasorbsi juga bergantung pada sistem yang berperan
mengontrol tekanan darah.Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur
reabsorbsi Na+ dan retensi Na+ di tubulus distal dan collecting. Retensi Na+
meningkatkan retensi air sehingga meningkatkan volume plasma dan
menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri.Selain sistem Renin-
Angiotensin-Aldosteron,Atrial Natriuretic Peptide (ANP) atau hormon
atriopeptin menurunkan reabsorbsi natrium dan air. Hormon ini disekresi leh sel
atrium jantung jika mengalami distensi peningkatan volume plasma.Penurunan
reabsorbsi natrium dan air di tubulus ginjal meningkatkan eksresi urine sehingga
mengembalikan volume darah kembali normal.
2. Pengaturan Osmolaritas cairan ekstrasel
Osmolaritas cairan adalah ukuran konsentrasi partikel solut (zat terlarut) dalam suatu
larutan.semakin tinggi osmolaritas,semakin tinggi konsentrasi solute atau semakin
rendah konsentrasi solutnya lebih rendah (konsentrasi air lebih tinggi) ke area yang
konsentrasi solutnya lebih tinggi (konsentrasi air lebih rendah).
Osmosis hanya terjadi jika terjadi perbedaan konsentrasi solut yang tidak dapat
menmbus membran plasma di intrasel dan ekstrasel.Ion natrium merupakan solut yang
banyak ditemukan di cairan ekstrasel,dan ion utama yang berperan penting dalam
menentukan aktivitas osmotik cairan ekstrasel.sedangkan di dalam cairan intrasel, ion
kalium bertanggung jawab dalam menentukan aktivitas osmotik cairan intrasel.
Distribusi yang tidak merata dari ion natrium dan kalium ini menyebabkan perubahan
kadar kedua ion ini bertanggung jawab dalam menetukan aktivitas osmotik di kedua
kompartmen ini. Pengaturan osmolaritas cairan ekstrasel oleh tubuh dilakukan
dilakukan melalui:
a. Perubahan osmolaritas di nefron
Di sepanjang tubulus yang membentuk nefron ginjal, terjadi perubahan osmolaritas
yang pada akhirnya akan membentuk urine yang sesuai dengan keadaan cairan
tubuh secara keseluruhan di dukstus koligen. Glomerulus menghasilkan cairan
yang isosmotik di tubulus proksimal (300 mOsm). Dinding tubulus ansa Henle pars
decending sangat permeable terhadap air,sehingga di bagian ini terjadi reabsorbsi
cairan ke kapiler peritubular atau vasa recta.Hal ini menyebabkan cairan di dalam
lumen tubulus menjadi hiperosmotik. Dinding tubulus ansa henle pars acenden
tidak permeable terhadap air dan secara aktif memindahkan NaCl keluar tubulus.

7
Hal ini menyebabkan reabsobsi garam tanpa osmosis air.Sehingga cairan yang
sampai ke tubulus distal dan duktus koligen menjadi hipoosmotik.Permeabilitas
dinding tubulus distal dan duktus koligen bervariasi bergantung pada ada tidaknya
vasopresin (ADH). Sehingga urine yang dibentuk di duktus koligen dan akhirnya di
keluarkan ke pelvis ginjal dan ureter juga bergantung pada ada tidaknya vasopresis
(ADH).
b. Mekanisme haus dan peranan vasopresin (antidiuretic hormone/ADH)
Peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel (>280 mOsm) akan merangsang
osmoreseptor di hypotalamus. Rangsangan ini akan dihantarkan ke neuron
hypotalamus yang mensintesis vasopresin. Vasopresin akan dilepaskan oleh
hipofisis posterior ke dalam darah dan akan berikatan dengan reseptornya di duktus
koligen. ikatan vasopresin dengan reseptornya di duktus koligen memicu
terbentuknya aquaporin, yaitu kanal air di membrane bagian apeks duktus koligen.
Pembentukkan aquaporin ini memungkinkan terjadinya reabsorbsi cairan ke vasa
recta.Hal ini menyebabkan urine yang terbentuk di duktus koligen menjadi sedikit
dan hiperosmotik atau pekat, sehingga cairan di dalam tubuh tetap dipertahankan.
Selain itu,rangsangan pada osmoreseptor di hypotalamus akibat peningkatan
osmolaritas cairan ekstrasel juga akan dihantarkan ke pusat haus di hypotalamus
sehingga terbentuk perilaku untuk membatasi haus,dan cairan di dalam tubuh
kembali normal.
c. Pengaturan Neuroendokrin dalam Keseimbangan Cairan dan Elektrolit
Sebagai kesimpulan, pengaturan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit
diperankan oleh system saraf dan sistem endokrin.Sistem saraf mendapat informasi
adanya perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit melalui baroreseptor di arkus
aorta dan sinus karotikus, osmoreseptor di hypotalamus,dan volume reseptor atau
reseptor regang di atrium.Sedangkan dalam sistem endokrin,hormon-hormon yang
berperan saat tubuh mengalami kekurangan cairan adalah Angiotensin II,
Aldosteron, dan Vasopresin/ADH dengan meningkatkan reabsorbsi natrium dan
air. Sementara,jika terjadi peningkatan volume cairan tubuh,maka hormone
atriopeptin (ANP) akan meningkatkan eksresi volume natrium dan air. perubahan
volume dan osmolaritas cairan dapat terjadi pada beberapa keadaan.Faktor lain
yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit di antaranya ialah umur,
suhu lingkungan,diet,stres,dan penyakit.

8
E. Faktor-Faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit
Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit antara lain:
1. Usia
Asupan cairan individu bervariasi berdasarkan usia. Dalam hal ini, usia berpengaruh
terhadap proporsi tubuh, luas permukaan tubuh, kebutuhan metabolik, serta berat badan.
Bayi dan anak di masa pertumbuhan memiliki proporsi cairan tubuh yang lebih besar
dibandingkan orang dewasa.Karenanya, jumlah cairan yang diperlukan dan jumlah
cairan yang hilang juga lebih besar dibandingkan orang dewasa. Besarnya kebutuhan
cairan pada bayi dan anak-anak juga dipengaruhi oleh laju metabolik yang tinggi serta
kondisi ginjal mereka yang belum atur dibandingkan ginjal orang dewasa. Kehilangan
cairan dapat terjadi akibat pengeluaran cairan yang besar dari kulit dan pernapasan. Pada
individu lansia, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit sering disebabkan oleh
masalah jantung atau gangguan ginjal
2. Aktivitas
Aktivitas hidup seseorang sangat berpengaruh terhadap kebutuhan cairan dan elektrolit.
Aktivitas menyebabkan peningkatan proses metabolisme dalam tubuh. Hal ini
mengakibatkan penigkatan haluaran cairan melalui keringat. Dengan demikian, jumlah
cairan yang dibutuhkan juga meningkat. Selain itu, kehilangan cairan yang tidak
disadari (insensible water loss) juga mengalami peningkatan laju pernapasan dan
aktivasi kelenjar keringat.
3. Iklim
Normalnya, individu yang tinggal di lingkungan yang iklimnya tidak terlalu panas tidak
akan mengalami pengeluaran cairan yang ekstrem melalui kulit dan pernapasan. Dalam
situasi ini, cairan yang keluar umumnya tidak dapat disadari (insensible water loss,
IWL). Besarnya IWL pada tiap individu bervariasi, dipengaruhi oleh suhu lingkungan,
tingkat metabolisme,dan usia. Individu yang tinggal di lingkungan yang bertsuhu tinggi
atau di dearah deangan kelembapan yang rendah akan lebih sering mengalami
kehilangan cairandan elektrolit. Demikian pula pada orang yang bekerja berat di
lingkungan yang bersuhu tinggi,mereka dapat kehilangan cairan sebanyak lima litet
sehaei melalui keringat. Umumnya, orang yang biasa berada di lingkungan panas akan
kehilangan cairan sebanyak 700 ml per jam saat berada ditempat yang panas, sedangkan
orang yang tidak biasa berada di lingkungan panas dapat kehilangan cairan hingga dua
liter per jam.

9
4. Diet
Diet seseorang berpengaruh juga terhadap asupan cairan dan elektrolit. Jika asupan
makanan tidak seimbang, tubuh berusaha memcah simpanan protein dengan terlebih
dahulu memecah simpanan lemak dan glikogen. Kondisi ini menyebabkan penurunan
kadar albumin.
5. Stress
Kondisi stress berpengaruh pada kebutuhan cairan dan elektrolit tubuh. Saat stress,
tubuh mengalami peningkatan metabolism seluler, peningkatan konsentrasi glukosa
darah, dan glikolisis otot. Mekanisme ini mengakibatkan retensi air dan natrium.
Disamping itu, stress juga menyebabkan peningkatan produksi hormone anti deuritik
yang dapat mengurangi produksi urine.
6. Penyakit
Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan elektrolit
tubuh Misalnya : Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui
IWL, penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
7. Tindakan Medis
Beberapa tindakan medis menimbulkan efek sekunder terhadap kebutuhan cairan dan
elektrolit tubuh. Tindakan pengisapan cairan lambung dapat menyebabkan penurunan
kadar kalsium dan kalium.
8. Pengobatan
Penggunaan beberapa obat seperti Diuretik maupun laksatif secara berlebihan dapat
menyebabkan peningkatan kehilangan cairan dalam tubuh.Akibatnya, terjadi defist
cairan tubuh. Selain itu, penggunan diuretic menyebabkan kehilangan natrium sehingga
kadar kalium akan meningkat. Penggunaan kortikostreroid dapat pula menyebabkan
retensi natrium dan air dalam tubuh.
9. Pembedahan
Klien yang menjalani pembedahan beresiko tinggi mengalami ketidakseimbangan
cairan. Beberapa klien dapat kehilangan banyak darah selama perode operasi, sedangkan
beberapa klien lainya justru mengalami kelebihan beban cairan akibat asupan cairan
berlebih melalui intravena selama pembedahan atau sekresi hormon ADH selama masa
stress akibat obat- obat anastesia.

10
F. Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit
Tiga kategori umum yang menjelaskan abnormalitas cairan tibuh adalah :
1. Volume
2. Osmolalitas
3. Komposisi
Ketidakseimbangan volume terutama mempengaruhi cairan ekstraseluler (ECF)
danmenyangkut kehilangan atau bertambahnya natrium dan air dalam jumlah yang
relatifsama, sehingga berakibat pada kekurangan atau kelebihan volume ekstraseluler
(ECF). Ketidakseimbangan osmotik terutama mempengaruhi cairan intraseluler (ICF) dan
menyangkut bertambahnya atau kehilangan natrium dan air dalam jumlah ang relatif tidak
seimbang. Gangguan osmotik umumnya berkaitan dengan hiponatremia dan hipernatremia
sehingga nilai natrium serum penting untuk mengenali keadaan ini. Kadar dari kebanyakan
ion di dalam ruang ekstraseluler dapat berubah tanpa disertaiperubahan yang jelas dari
jumlah total dari partikel-partikel yang aktif secaraosmotik sehingga mengakibatkan
perubahan komposisional.
a. Ketidakseimbangan Volume
 Kekurangan Volume Cairan Ekstraseluler (ECF)
Kekurangan volume ECF atau hipovolemia didefinisikan sebagai kehilangancairan
tubuh isotonik, yang disertai kehilangan natrium dan air dalam jumlah yang relatif
sama. Kekurangan volume isotonik sering kali diistilahkan dehidrasiy ang
seharusnya dipakai untuk kondisi kehilangan air murni yang relatif mengakibatkan
hipernatremia.
- Cairan Isotonis adalah cairan yang konsentrasi/kepekatannya sama dengan cairan
tubuh, contohnya : larutan NaCl 0,9 %, Larutan Ringer Lactate (RL).
- Cairan hipertonis adalah cairan yang konsentrasi zat terlarut/kepekatannya
melebihi cairan tubuh, contohnya Larutan dextrose 5 % dalam NaCl normal,
Dextrose 5% dalam RL, Dextrose 5 % dalam NaCl 0,45%.
- Cairan Hipotonis adalah cairan yang konsentrasi zat terlarut/kepekataannya
Kurang dari cairan tubuh, contohnya : larutan Glukosa 2,5 %.,NaCl.0,45 %,NaCl
0,33%
 Kelebihan Volume ECF :
Kelebihan cairan ekstraseluler dapat terjadi bila natrium dan air kedua-duanya
tertahan dengan proporsi yang kira- kira sama.Dengan terkumpulnya cairan isotonik
yang berlebihan pada ECF (hipervolumia) maka cairan akan berpindah ke

11
kompartement cairan interstitial sehingga menyebabkan edema.Edema adalah
penunpukan cairan interstisial yang berlebihan.Edema dapat terlokalisir atau
generalisata.
b. Ketidakseimbangan Osmolalitas dan perubahan komposisional
Ketidakseimbangan osmolalitas melibatkan kadar zat terlarut dalam cairan-cairan
tubuh.Karena natrium merupakan zat terlarut utama yang aktif secara osmotik dalam
ECF maka kebanyakan kasus hipoosmolalitas (overhidrasi)adalah hiponatremia yaitu
rendahnya kadar natrium di dalam plasma dan hipernatremia yaitu tingginya kadar
natrium di dalam plasma. Pahami jugaperubahan komposisional di bawah ini :
 Hipokalemia adalah keadaan dimana kadar kalium serum kurang dari 3,5 mEq/L.
 Hiperkalemia adalah keadaan dimana kadar kalium serum lebih dari atau sama
dengan 5,5 mEq/L.
 Hiperkalemia akut adalah keadaan gawat medik yang perlu segera dikenali, dan
ditangani untuk menghindari disritmia dan gagal jantung yang fatal.

12
ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS PADA KLIEN DENGAN CHRONIC KIDNEY DISEASE
(CKD) DENGAN ASIDOSIS METABOLIK DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT RSUD
BANYUMAS

A. PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan pada hari Selasa, 17 Juli 2018 pukul 09.00 di RSUD Banyumas
dengan anamnesa di ruang IGD sebagai berikut :
1. Identitas pasien
Nama : Ny. S
Umur : 68 tahun
Pendidikan : SD
Agama : islam
Alamat : kaliori 3/4
Pekerjaan : petani
Tanggal masuk : 17 Juli 2018
No RM : 185667
Dx medis : CKD dengan asidosis metabolik
2. Identitas penanggung jawab
Nama : Ny. K
Umur : 35 tahun
Alamat : kaliori 3/4
Pekerjaan : wiraswasta
Agama : islam
Hub. dengan pasien : anak kandung

B. KELUHAN UTAMA
Pasien mengatakan sesak nafas

C. RIWAYAT KESEHATAN
a. Riwayat kesehatan sekarang
Berdasarkan ananmesa yang didapatkan dari anak klien, klien mengatakan belakangan
ini merasakan sesak dan dadanya nyeri tembus sampai belakang. klien
mengatakan sudah memeriksakan diri ke RS dekat rumah tetapi sesaknya kambuh

13
lagi dan dirasakan semakin parah, klien mengatakan langsung diantar anaknya ke
RSUD Banyumas. Klien datang ke IGD tanggal 15 Juli 2018 pukul 23.25 diantar oleh
anaknya.
b. Riwayat kesehatan dahulu
Klien mengatakan tidak mengetahui jika menderita DM, klien tidak pernah mengecek
gula darahnya, klien juga tidak pernah dirawat di RS sebelumnya.
c. Riwayat alergi
Klien tidak ada riwayat alergi terhadap obat, makanan maupun pada debu terbukti saat
menjalani ceftriaxone skin test tidak ada kemerahan atau ruam pada kulit daerah skin
test.
D. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum
1. Keadaan umum : Lemah
2. BB : 78 kg dan TB158 cm.
3. Kesadaran : Composmentis E4M6V5
4. TTV
TD : 150/69 mmHg
N: 89x/menit
RR: 30x/menit
S : 36,3 oC.
b. Pemeriksaan Head to toe
1. Kepala
Inspeksi :
- Warna rambut : Putih
- Distribusi rambut : Merata
- Kulit kepala : Nampak bersih
- Nampak tidak ada ketombe pada rambut
Palpasi :
- Tidak ada rasa nyeri tekan pada kepala
- Tidak ada massa atau benjolan
- Rambut sedikit rontok
2. Muka
Inspeksi :
- Muka nampak simetris kiri dan kanan

14
- Tidak ada benjolan pada dahi
- Warna kulit sama sekitarnya
Palpasi :
- Tidak ada massa atau benjolan pada dahi
- Tidak ada nyeri tekan
3. Mata
Inspeksi :
- Palpebra : Tidak nampak ada oedem
- Sclera : Tidak icterus
- Conjungtiva : Nampak agak pucat
- Pupil : Isokor
- Bola mata : Dapat bergerak ke segala arah
Palpasi :
- Tidak ada nyeri tekan pada bola mata
- Tidak ada peningkatan tekanan intra okuler
4. Hidung
Inspeksi :
- Lubang hidung simetris kiri dan kanan
- Tidak nampak adanya deviasi pada septum
- Tidak ada peradangan atau lesi
- Mukosa hidung tampak lembab
- Tidak ada pernapasan cuping hidung
- Klien menggunakan alat bantu nafas O2 masker dengan aliran 10 lpm
Palpasi :
- Tidak ada rasa nyeri tekan pada sinus maxillaris, etmoidalis, frontalis.
- Tidak teraba adanya massa atau benjolan.
5. Telinga
Inspeksi :
- Tidak ada pengeluaran cairan pada lubang telinga
- Tidak tampak adanya serumen
- Tidak ada peradangan atau lesi
- Nampak simetris kiri dan kanan
- Pasien tidak memakai alat bantu pendengaran
Palpasi :

15
- Tidak ada nyeri tekan pada tragus dan pinna
- Tidak ada nyeri tekan pada mastoid
6. Rongga mulut
Inspeksi :
- Gigi : berlubang dan ompong tidak memakai gigi palsu
- Gusi : berwarna merah tidak ada peradangan
- Lidah : nampak agak kotor
- Bibir : bersih
7. Leher
Inspeksi :
- Tidak nampak adanya pembesaran pada kelenjar limfe
- Tidak tampak adanya pembesaran kelenjar tyroid
- Tidak tampak adanya bendungan pada vena jugularis
- Tidak ada peradangan atau lesi.
Palpasi :
- Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar lymfe.
- Tidak teraba adanya pembesaran pada kelenjar tyroid
- Tidak teraba adanya bendungan pada vena jugularis
- Tidak teraba adanya kelenjar atau massa.
8. Thoraks dan paru
Inspeksi :
- Terdapat pergerakan dada simetris
- Tidak terdapat penggunaan otot bantu napas
- Bentuk dada normochest
- Pola napas Kussmaul.
Palpasi :
- Didapatkan irama napas yang reguler
- Nilai RR: 30x/menit
- Tidak ada batuk.

Auskultasi

- Didapatkan suara napas vesikuler


- Tidak ada suara nafas tambahan

16
Perkusi
- Didapatkan suara sonor
9. Jantung
Inspeksi :
- Tidak tampak ictus cordis
- Tidak ditemukan edema perifer maupun sentral.

Palpasi

- Ditemukan perabaan ictus cordis di intercostal ke-5


- Irama nadi reguler
- Kekuatan pulsasi denyut jantung lemah
- CRT < 2 detik

Perkusi
- Batas jantung yang normal yaitu batas kanan atas di intercostal-2 linea para
sternalis dextra
- Batas kanan bawah di intercostal ke-4 linea para sternalis dextra
- Batas kiri atas di septum intercostal ke-2 linea para sternalis sinistra
- Batas kiri bawah di intercostal ke-4 linea medio clavicularis sinistra
- Edema (-), perdarahan (-), tidak terpasang CVP
Auskultasi
- Didapatkan bunyi jantung S1S2 tunggal, murmur (-), gallop (-).
10. Abdomen
Inspeksi :
- Abdomen cembung
- Tidak ada luka di sekitar abdomen

Auskultasi :
- Didapatkan bising usus (+) 25x/menit
Perkusi :
- didapatkan suara timpani
Palpasi :
- Didapatkan tidak teraba bagian lien dan hepar
- Klien mengatakan mual, tidak muntah

17
11. Genetalia
- Terpasang folley kateter, produksi urin ± 290 ml dalam 24 jam (oliguri : <
400cc/24 jam), warna urin kuning pekat keruhEkstremitas
12. Ekstrimitas atas
Inspeksi :
- Nampak simetris kiri dan kanan
- Tidak ada atrofi atau oedema
- Nampak fleksi pada sendi kiri dan kanan
- Kuku nampak bersih.
Palpasi
- Tidak teraba adanya benjolan
- Tidak ada nyeri tekan
- Tidak ada bunyi krepitasi
- Akral hangat
Perkusi
- Refleks Biceps positif
- Refleks Trisep positif
Ekstrimitas bawah
Inspeksi :
- Nampak simetris kiri dan kanan
- Tidak ada oedema atau pembengkakan
Palpasi
- Tidak teraba adanya massa atau benjolan
- Tidak ada nyeri tekan
- Tidak ada bunyi krepitasi

c. Airway
Berdasarkan pengkajian didapatkan jalan napas paten, pada pemeriksaan inspeksi daerah
pernapasan ditemukan tidak ada penumpukan sputum, tidak ada pernapasan cuping
hidung, tidak ada retraksi klavikula.
d. Breathing
Pada klien terdapat pergerakan dada simetris, tidak terdapat penggunaan otot bantu
napas, bentuk dada normochest, pola napas Kussmaul.

18
Pada pemeriksaan palpasi paru : didapatkan irama napas yang reguler, nilai RR:
30x/menit, tidak ada batuk.
Pada pemeriksaan perkusi daerah paru : didapatkan suara sonor.
Pada pemeriksaan auskultasi : didapatkan suara napas vesikuler, tidak ada suara nafas
tambahan. Klien menggunakan alat bantu nafas O2 masker dengan aliran 10 lpm. Cek
BGA dengan hasil pH: 6,986; PO2 : 196; PCO2: 12,7; TCO2: 6,7; HCO3- : 3,1 Beb: -
22,0; Beecf: -23,9; SBC 14,6; %SO2: 99%; O2 ct: 10,8 ml/dl. Masalah keperawatan:
Ketidakefektifan pola napas
d. Circulation
Pada pemeriksaan sirkulasi klien di dapatkan inspeksi jantung tidak tampak ictus cordis,
tidak ditemukan edema perifer maupun sentral.
Pada pemeriksaan palpasi : ditemukan perabaan ictus cordis di intercostal ke-5, irama
nadi reguler, kekuatan pulsasi denyut jantung lemah, CRT < 2 detik. Pada pemeriksaan
perkusi jantung didapatkan batas jantung yang normal yaitu batas kanan atas di
intercostal-2 linea para sternalis dextra, batas kanan bawah di intercostal ke-4 linea para
sternalis dextra, batas kiri atas di septum intercostal ke-2 linea para sternalis sinistra,
batas kiri bawah di intercostal ke-4 linea medio clavicularis sinistra, edema (-),
perdarahan (-), tidak terpasang CVP
Pada pemeriksaan auskultasi jantung : didapatkan bunyi jantung S1S2 tunggal, murmur
(-), gallop (-). Selain pemeriksaan fisik jantung juga dilakukan cek GDA stik dengan
hasil 129mg/dl.
Masalah keperawatan: Risiko Ketidakstabilan glukosa darah
e. Neurologi
Pada pemeriksaan status neurologi didapatkan pemeriksaan nervus kranialis yaitu nervus
I (olfaktorius) terkaji baik dan normal tidak ada gangguan penciuman, nervus II (optikus)
terkaji normal, nervus III (okulomotorius) didapatkan reflek pupil (+) dan pupil isokor di
kedua mata, klien dapat melihat kearah atas dalam dan kearah bawah luar, nervus IV
(trokhlearis) didapatkan kedudukan mata normal, klien dapat melihat kearah bawah,
nervus V (abdusen) didapatkan klien bisa melihat kearah lateral abduksi. Nervus VI
(trigeminus) didapatkan otot maseter dan temporal teraba kuat, nervus VII (fasialis)
didapatkan dari wajah klien simetris, nervus VIII (vestibulokoklearis) pendengaran
terkaji baik tetapi keseimbangan tidak terkaji karena klien membutuhkan istirahat, nervus
IX (glosofaringeus) dan nervus X (vagus) terkaji baik dan normal, nervus XI (aksesorius)
klien didapatkan otot sternokleidomastoideus teraba kuat, nervus XII (hipoglosus) terkaji

19
baik dan normal. Pemeriksaaan reflek fisiologis klien didapatkan reflek biseps +3/+3,
reflek triseps +3/+3, reflek patella +3/+3, reflek Achilles +3/+3. Pemeriksaan reflek
patologis didapatkan reflek Babinski -/-, reflek chaddock -/-, reflek oppenheim -/-, reflek
Gordon -/-, reflek rosolimo -/-, reflek Hoffman -/-, reflek tromner -/-. Tidak terdapat
reflek primitive. Cek kimia klinik dengan hasil BUN: 137,24; kreatinin: 16,60; Na:
132,8 mmol/ L; K: 8,00; Cl: 104 mmol/L, Cek darah lengkap (hematologi) dengan hasil
leukosit: 12,9x 103; hemoglobin: 7,4; Hct: 22; trombosit: 274 x 103.
Masalah keperawatan: Ketidakefektifan perfusi jaringan renal
f. Integumen
Pada pemeriksaan muskuluskeletal didapatkan kekuatan otot penuh. Tidak terdapat atropi
otot, turgor kulit elastis, membran mukosa lembab, tidak ada luka bakar, tidak ada luka
dekubitus, tidak ada fraktur ekstremitas, warna mukosa kulit pucat anemis. Masalah
keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan
g. Abdomen
Pada pemeriksaan sistem pencernaan klien didapatkan data inspeksi abdomen cembung,
tidak ada luka di sekitar abdomen
Pada pemeriksaan auskultasi : didapatkan bising usus (+) 25x/menit.
Pada pemeriksaaan perkusi abdomen : didapatkan suara timpani.
Pada pemeriksaan palpasi : didapatkan tidak teraba bagian lien dan hepar. Klien
mengatakan mual, tidak muntah.
Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan
h. Perkemihan
Pada pemeriksaaan perkemihan didapatkan inspeksi klien terpasang folley kateter,
produksi urin ± 290 ml dalam 24 jam (oliguri : < 400cc/24 jam), warna urin kuning pekat
keruh, pemeriksaan palpasi ginjal tidak teraba.
Masalah keperawatan : Ketidakefektifan perfusi jaringan renal

E. Pemeriksan Penunjang
a. Rekam EKG tanggal 17 Juli 2018 jam 15.00 WIB
Sinus Rhytm, HR : 100 bpm, PR interval : 74 ms, QRS Dur : 144 ms, QT/QTC :
490/640 ms, PRT axes : -65 101 -64.
b. Hasil Laboratorium tanggal 17 – 18 Juli 2018 sebagai berikut :
Hasil Laboratorium pada klien dengan Chronic Kidney Disease (CKD) dengan asidosis
metabolik pada tanggal 17-18 Juli 2018 di Ruang Intensive Care Unit RSUD Banyumas

20
No Tanggal Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
BGA
- pH
6,986 7,35 – 7,45
- pCO2
12,7 35 – 45
- PO2
196 80 – 100
- TCO2
6,7
- HCO3
3,1 22 – 26
- Beb
-22,0 -3 – 3
- Beecf
-23,9
- % SO2
99 90 – 100%
Kimia Klinik
- GDA
17-07-18 129mg/dl 76 – 110 mg/dl
1 - BUN
16.15 WIB 137,24 10 – 24 mg/dl
- Creatinine
16,60 0,5 – 1,5 mg/dl
Serum
- Na
132,8 135 – 145 mmol/L
- K
8,00 3,5 – 5 mmol/L
- Cl
104 95 – 108 mmol/L
Hematologi
- Leukosit
12,9 x 103 4 – 10 ribu sel/uL
- Hemoglobin
7,4 11,5 – 16 g/dL
- Hct
22 35 – 45%
- Trombosit
274 x 102 150 – 400 ribu/mm3

BGA
- pH 7,097 7,35 – 7,45
- pCO2 19,6 35 – 45
- PO2 194 80 – 100
18-07-18
2 - TCO2 6,7
06.13 WIB
- HCO3 6,1 22 – 26
- Beb -22,0 -3 – 3
- BEecf -23,9
- % SO2 99,3 90 – 100 %

21
F. TERAPI
a. Injeksi extra lasix 1 amp/iv jam 06.00
b. Infus NS 100 cc + Nabic 100 mEq 10-12 tpm
c. O2 masker 10 lpm
d. Jika sesak berkurang, advis O2 nasal kanul 3 lpm
e. Infus D5 + Insulin 10 I.U 10 tpm
f. Injeksi ceftriaxon 2x1 gr/iv (12,24)
g. Kalitake 3 x 1 sachet (12,18,6)
h.
G. PERAWATAN INTENSIF

Perawatan Intensif pada klien dengan Chronic Kidney Disease (CKD) dengan asidosis
metabolik pada tanggal 17 Juli 2018 di Ruang Intensive Care Unit RSUD Banyumas

Tanggal 17 Juli 2018


TD SPO2 Input Output
Jam RR HR T GCS Medikasi obat
mmHg (%) (cc) (cc)
Nabic 50
mEq 10-12
Infus NS tpm
100cc Insulin 10
01 150/69 30 89 36,3 4-5-6 100
Infus D5 I.U 10 tpm
500cc Inj.
Ceftriaxone 1
gr/iv
02 140/69 27 80 36,5 4-5-6 100
03 132/64 27 86 36,5 4-5-6 98
04 117/74 26 85 36 4-5-6 99
05 116/70 26 83 36 4-5-6 100
Lasix 1
06 125/66 26 98 36 4-5-6 98 amp/iv,
kalitake
07 127/72 26 92 36 4-5-6 99

22
H. ANALIS DATA
Data Etiologi Problem
DS : pasien mengatakan Kekurangan Volume Cairan Penurunan Haluaran urine
BAKnya 3x sehari
DO : pasien mengeluarkan
urine sebanyak 150 ml/hari

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Kekurangan volume cairan berhubungan degan penurunan haluaran urine

J. INTERVENSI
DX NOC NIC
1 Setelah dilakukan tindakan Manajemen cairan ( 4120 )
keperawatan selama 3 x24 jam 1. Monitor vital sign
diharapkan keseimbangan cairan 2. Monitor status hidrasi
pasien kembali normal 3. Jaga intake/asupan yang akurat dan
Keseimbangan cairan ( 0601 ) catat output pasien
4. Berikan cairan dengan tepat
Indicator Awal Tujuan 5. Konsultasikan dengan dokter jika
Tekanan darah 2 4 tanda tanda dan gejala kebeihan
Turgor kulit 2 4 volume cairan menetap atau
Keseimbangan 2 4 memburuk
intake dan output
dalam 24 jam
Kelembaban 2 4
membrane
mukosa
Keterangan
1 sangat terganggu

23
2 banyak terganggu
3 cukup terganggu
4 sedikit terganggu
5 tidak terganggu

K. IMPLEMENTASI

Hari/jam Dx Implementasi Respon Paraf


Selasa, 17
Juli 2018 Composmentis , GCS = 15
09.00 I Memonitor keadaan TD : 150/69 mmHg,
umum pasien N : 89x/menit,
RR : 30x/menit,
S : 36,3oC
09.03 I Memonitor vital sign Pasien mengatakan hanya
makan 3 sendok, minum ±
400ml/hari. Output : 800ml
DO : Terpasang Infus NS
100 cc
Infus D5 + Insulin 10 I.U 10
tpm
09.08 I Menjaga intake/asupan Pasien mengatakan akan
yang akurat dan catat konsultasi dengan dokter
output pasien apabila keadaan memburuk
09.13 I Memberikan cairan
dengan tepat

09.15 I Mengkonsultasikan
dengan dokter jika tanda
tanda dan gejala
kebeihan volume cairan
menetap atau memburuk

24
Rabu, 18
Juli 2018 I Memonitor keadaan Composmentis , GCS = 15
14.20 umum pasien TD : 140/70 mmHg
N : 80x/menit,
RR : 28x/menit,
S : 36,5oC

14.23 I Memonitor vital sign Pasien mengatakan makan


setengah porsi habis, minum
1L/hari
Output : 100ml
14.28 I Pasien mengatakan akan
konsultasi pada saat visite
dokter

14.32 I Menjaga intake/asupan DO : terpasang Infus NS


yang akurat dan catat 100 cc
output pasien

18.30 I Mengkonsultasikan
dengan dokter jika tanda
tanda dan gejala
kebeihan volume cairan
menetap atau memburuk

Memberikan cairan
dengan tepat
Kmis, 19
Juli 2018 I Memonitor keadaan Composmentis , GCS = 15
08.00 umum pasien
09.00 Memonitor vital sign TD : 130/70 mmHg
N : 80x/menit,
RR : 28x/menit,

25
S : 36,5oC

10.00 I Menjaga intake/asupan Pasien mengatakan makan


yang akurat dan catat setengah porsi habis, minum
output pasien 1L/hari
Output : 100ml

11.00 I Mengkonsultasikan Pasien mengatakan akan


dengan dokter jika tanda konsultasi pada saat visite
tanda dan gejala dokter
kebeihan volume cairan
menetap atau memburuk

11.30 I Memberikan cairan DO : terpasang Infus NS


dengan tepat 100 cc

L. EVALUASI

a. Evaluasi Keperawatan Hari selasa, 17 juli 2018


No Hari/
Respon dan Hasil TTD
Dx Tanggal
1. Selasa, 17 S:
Juli 2018 - pasien mengatakan BAKnya tidak lancer
- Pasien mengatakan hanya makan 3 sendok,
minum ± 400ml/hari. Output : 800ml

O :
- Output : 800ml
- TD : 150/69 mmHg,
N : 89x/menit,
RR : 30x/menit,
S : 36,3oC

26
- Terpasang Infus NS 100 cc
- Infus D5 + Insulin 10 I.U 10 tpm

A : Masalah keperawatan Kekurangan volume cairan


belum teratasi
P : Lanjutkan Intervensi

b. Evaluasi Keperawatan Hari rabu, 18 juli 2018


No Hari, Tanggal
Respon dan Hasil TTD
Dx
1. Rabu , 18 Juli S :
2018 - Pasien mengatakan BAKnya sudah mulai lebih
lancer di banding hari sebelumnya
- Pasien mengatakan makan setengah porsi habis,
minum 1 L/hari

O :
- Output : 100ml
- TD : 140/70 mmHg
N : 80x/menit,
RR : 28x/menit,
S : 36,5oC
- terpasang Infus NS 100 cc

A : Masalah keperawatan Kekurangan volume cairan


teratasi sebagian
P : Lanjutkan Intervensi

c. Evaluasi Keperawatan Hari kamis , 19 juli 2018


No Hari, Tanggal
Respon dan Hasil TTD
Dx
1. Kamis , 19 S:

27
Juli 2018 - Pasien mengatakan BAK nya sudah lancer sama
seperti hari sebelumnya
- Pasien mengatakan makan setengah porsi habis,
minum 1L/hari

O :
- Output : 100ml
- TD : 130/70 mmHg
N : 80x/menit,
RR : 28x/menit,
S : 36,5oC
- terpasang Infus NS 100 cc

A : Masalah keperawatan Kekurangan volume cairan


teratasi sebagian
P : Lanjutkan Intervensi

28
PENUTUP

A. Kesimpulan
Cairan tubuh adalah cairan yang terdiri dari air dan zat terlarut. Kemudian elektrolit
itu sendiri adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang
disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam
rangka menjaga kondisi tubuh tetap sehat.Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam
tubuh adalah merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis. Zat terlarut yang
ada dalam cairan tubuh terdiri dari elektrolit dan nonelektrolit.
Fungsi cairan dalam tubuh salah satunya dalam proses metabolisme yang terjadi
didalam tubuh,air mempunyai 2 fungsi utama yaitu sebagai pembawa zat-zat nutrisi
seperti karbohidrat,vitamin dan mineral pembawa oksigen ke dalam sel-sel tubuh.
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu
volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Faktor-faktor yang
mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit antara lain: Usia, aktivitas, diet,
stress, penyakit, tindakan medis, pengobatan, dan pembedahan. Tiga kategori umum
yang menjelaskan abnormalitas cairan tibuh adalah :
1. Volume
2. Osmolalitas
3. Komposisi

B. Saran
1. Diharapkan kepada dosen pembimbing dapat memberi kritik dan saran supaya
tercipta makalah ini yang lebih baik.
2. Diharapakan kepada pembaca agar lebih menambahkan wawasan tentang gangguan
keseimbangan cairan ini sehingga tema ini lebih dapat berkembang dan bermanfaat.

29
DAFTAR PUSTAKA

Heather, T.H., Kamitsuru, S. 2017. Diagnosis keperawatan definisi dan klasifikasi. Jakarta. EGC

Aziz Alimul H. 2014. Pengantar Kebutuhan Cairan pada Manusia Buku 2. Jakarta: Salemba
Medika. Retrieved from: http://id.scribd.com/document/347867708/Makalah-Gangguan-
Keseimbangan-Cairan-Dan-Elektrolit

Tamsuri, Anas. 2015. Seri asuhan keperawatan klien gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Jakarta. EGC. Retrieved from:
http://www.academia.edu/8645109/Makalah_Keseimbangan_Cairan_dan_Elektrolit

Kumala, Fransisca Dewi. 2010. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi. Retrived from :


http://fransiscakumala.wordpress.com.

Hakim, Lukman. 2012. Pemeriksaan Darah Lengkap. Retrieved from:


http://ners2012.blogspot.com.

Marhamah, Rima. Pengambilan Sampel Pemeriksaan. Retrieved from :


http://images.kepstikesmb.multiply.multiplycontent.com.

30