Anda di halaman 1dari 3

VI.

PEMBAHASAN

Praktikum berjudul “Analisa Kuantitatif dan dengan Spektrofotometri UV-Vis”


dilakukan pada hari Rabu, 26 September 2019 di Laboratorium Gedung E Lantai 4
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro yang bertujuan agar mahasiswa dapat
memahami dan dapat melakukan proses analisa senyawa dengan menggunakan
spektrofotometer UV-Vis serta menetapkan kadar suatu senyawa dengan
spektrofotometer UV-Vis.

Menurut Fatimah (2005), spektrometri UV-Vis adalah salah satu metoda analisis
yang berdasarkan pada penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media.
Berdasarkan penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media tergantung pada
tebal tipisnya media dan konsentrasi warna spesies yang ada pada media tersebut.
Spektrometri visible umumnya disebut kalori, oleh karena itu pembentukan warna pada
metoda ini sangat menentukan ketelitian hasil yang diperoleh. Pembentukan warna
dilakukan dengan cara penambahan pengompleks yang selektif terhadap unsur yang
ditentukan.

Langkah kerja pada praktikum ini yang pertama yaitu pembuatan larutan induk
Cu 1000 ppm dengan cara menghitung terlebih dahulu berat serbuk CuSO4 yang
dibutuhkan sehingga diperoleh larutan induk Cu 1000 ppm sebanyak 100 mL. Serbuk
CuSO4 dimasukan kedalam gelas beker dan dilarutkan dengan aquades 50 mL,kemudian
digojog hingga homogen. Larutan CuSO4 dipindahkan kedalam labu takar 100 mL dan
ditambahkan 2 mL asam sulfat pekat, selanjutnya ditambahkan aquades sampai tanda
batas labu takar 100 mL dan dihomogenkan. Menurut Badan Standarisasi Nasional (2009),
larutan induk Cu adalah larutan yang memiliki kadar logam tembaga 100 mg Cu/L yang
digunakan untuk membuat larutan baku dengan kadar yang lebih rendah.

Langkah kerja yang kedua yaitu pembuatan larutan standar cukup dengan cara
pengambilan larutan induk Cu masing-masing sebanyak 2, 4, 6, 8 dan 10 mL ke dalam
masing-masing labu takar 25 mL, lalu ditambahkan 2 mL larutan amonia ke masing-
masing labu takar kemudian tambahkan aquades sampai tanda batas. Menurut Chang
(2005), larutan standar adalah larutan yang sudah diketahui konsentrasinya secara pasti
dan suatu larutan yang mengandung suatu gram zat dengan berat ekuivalen tertentu dalam
volume tertentu. Larutan standar biasanya dinyatakan dalam besaran normal (N).
Langkah kerja selanjutnya yaitu melakukan analisis kuantitatif dengan cara:

1. Pengukuran panjang gelombang maksimum


Menurut Rahayu (2009), panjang gelombang maksimum (λ maks) merupakan
panjang gelombang dimana terjadi eksitasi elektronik yang memberikan absorbansi
maksimum. Alasan dilakukan pengukuran pada panjang gelombang maksimum adalah
perubahan absorban untuk setiap satuan konsentrasi adalah paling besar pada panjang
gelombang maksimum, sehingga akan diperoleh kepekaan analisis yang maksimum.
Langkah yang dilakukan yaitu tuangkan sedikit salah satu larutan standar ke dalam
kuvet yang telah disediakan, siapkan data mengenai range panjang gelombang
maksimum. Cari panjang gelombang maksimum dari 400 sampai 750 nm dengan
interval 10 nm. Ketika berada di dekat range panjang gelombang maksimum, maka
digunakan interval 5 nm, dan ketika berada pada range panjang gelombang maksimum,
maka digunakan interval 1 nm. Panjang gelombang maksimum yang dihasilkan pada
percobaan ini untuk larutan sampel adalah 461 nm dengan hasil absorbasi terbesar
yaitu 0,675.

2. Pengukuran operating time


Menurut Rahayu (2009), Penentuan operating time bertujuan untuk mengetahui
lama waktu yang dibutuhkan larutan untuk mencapai absorbansi konstan. Ditentukan
dengan mengukur absorbansi dari larutan baku Cu pada panjang gelombang
maksimum menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Langkah-langkahnya yaitu
siapkan larutan standar yang digunakan pada no.1 di dalam kuvet yang telah
disediakan. Ukur absorbansi pada panjang gelombang maksimum yang diperoleh dari
percobaan (1) pada menit ke 5, 10, 15, 20, 25, dan 30. Hasil absorbansi pada menit ke
5, 10, 15, dan 20 yaitu 0,675; menit ke 25 yaitu 0,567; dan menit ke 30 yaitu 0,546.

3. Pengukuran absorbansi larutan standar


Siapkan masing-masing larutan standar di dalam kuvet yang telah disediakan.
Ukur absorbansi larutan tersebut pada panjang gelombang maksimum. Perlakuan ini
untuk mencari hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi dan untuk memudahkan
mencari konsentrasi Cu. Berdasarkan hukum Beer absorbansi akan berbanding lurus
dengan konsentrasi, karena b atau l harganya 1 cm dapat diabaikan dan e merupakan
suatu tetapan. Artinya semakin tinggi konsentrasi maka absorbansi yang dihasilkan
semakin besar, begitupun sebaliknya semakin rendah konsentrasi konsentrasi maka
absorbansi yang dihasilkan semakin rendah. Hubungan antara absorbansi dengan
konsentrasi akan linear (A=C) apabila nilai absorbansi larutan antara 0,2 – 0,8 (0,2 <
A > 0,8) atau sering disebut daerah berlaku hukum Lambert-Beer. Jika absrobansi
yang diperoleh lebih besar maka hubungan absorbansi tidak linear lagi. Hasil yang
didapat berupa grafik linear.

4. Pengukuran absorbansi sampel.


Siapkan larutan sampel di dalam kuvet yang telah disediakan. Ukur absorbansi
larutan tersebut pada panjang gelombang maksimum. Perlakuan ini untuk mencari
konsentrasi Cu ketika panjang gelombang menunjukan hasil maksimum dengan
persamaan y=mx+c dengan y adalah panjang gelombang maksimum dan x adalah
konsentrasi Cu. Hasil konsentrasi Cu yang didapat yaitu 8,1837.