Anda di halaman 1dari 2

PENATALAKSANAAN

Pada umumnya hordeolum dapat sembuh sendiri (self-limited) dalam 1 – 2


minggu. Namun tak jarang memerlukan pengobatan secara khusus, obat topikal
(salep atau tetes mata antibiotik) maupun kombinasi dengan obat antibiotika oral.
Untuk penatalaksanaan hordeolum adalah sebagai berikut:

1. Untuk mempercepat peradangan kelenjar dapat diberikan kompres hangat


selama 10 – 15 menit, 3 – 4 kali sehari sampai nanah keluar.
2. Diberikan antibiotik:
a. Topikal yaitu pemberian antibiotik secara lokal (salep, tetes mata) terutama
bila punya indikasi rekuren atau terjadinya pembesaran kelenjar preaurikel,
misalnya neomycin, ciprofloxacin, gentamicin, chloramphenicol, diberikan
selama 7 – 10 hari, sesuai dengan anjuran dokter, terutama pada fase
inflamasi.
b. Sistemik yaitu dengan pemberian antibiotika secara oral. Dapat diberikan
erythromycin, ampicillin, tetracyclin, amoksisilin. Antibiotik oral
diberikan jika hordeolum tidak menunjukkan perbaikan dengan antibiotika
topikal. Penggunaan dan pemilihan jenis antibiotika oral hanya atas
rekomendasi dokter berdasarkan hasil pemeriksaan.
Obat-obat simptomatis dapat diberikan untuk meredakan keluhan nyeri,
misalnya asam mefenamat, ibuprofen, dan sejenisnya.
3. Pada nanah dari kantong nanah yang tidak dapat keluar dianjurkan untuk
diinsisi. Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesi topikal
dengan tetes mata pantocain. Dilakukan anestesi infiltrasi dengan prokain atau
lidokain di daerah hordeolum dan dilakukan insisi yang bila:
a. Hordeolum internum insisi dilakukan pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus
dengan margo palpebra untuk menghindari banyaknya kelenjar-kelenjar
yang terkena.
b. Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo palpebra.
Setelah dilakukan insisi dilakukan ekskohleasi atau kuretase seluruh isi
jaringan meradang di dalam kantongnya dan kemudian diberi salep antibiotik.
DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, Sidarta dan Yulianti, Sri Rahayu. 2014. Ilmu Penyakit Mata Edisi Kelima.
Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Soewono dkk. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Edisi III. Surabaya:
Bagian/SMF Ilmu Penyakit Mata RSU Dr. Soetomo.