Anda di halaman 1dari 9

KEBUTUHAN NUTRISI

A. Definisi
Kebutuhan nutrisi bagi tubuh merupakan suatu kebutuhan dasar manusia yang sangat
penting. Dilihat dari kegunaannya nutrisi merupakan sumber energy untuk segala aktivitas
dan system tubuh. Sumber nutrisi dalam tubuh berasal dari dalam tubuh sendiri, seperti
glikogen yang terdapat dalam otot dan hati atupun protein dan lemak dalam jaringan dan
sumber lain yang berasal dari luar tubuh seperti yang sehari – hari dimakan oleh manusia (
Alimul Aziz, 2005 ).
Nutrisi adalah apa yang manusia makan dan bagaimana tubuh menggunakannya.
Masyarakat memperoleh makanan atau nutrient esensial untuk pertumbuhan dan
pertahanan diri seluruh jaringan tubuh dan menormalkan fungsi dari semua proses tubuh (
Iqbal, 2008 ).
Nutrien adalah zat kimia organik dan anorganik yang ditemukan dalam makanan dan
diperoleh untuk penggunaan fungsi tubuh. Malnutrisi adalah kekurangan intake dari zat –
zat makanan terutama protein dan karbohidrat. Dapat mempengaruhi pertumbuhan,
perkembangan dan kognisi serta dapat memperlambat proses penyembuhan.
B. Fisiologi
Fungsi utama system pencernakan adalah memindahkan zat nutrient (zat yang
sudah dicerna), air, dan garam yang berasal dari zat makanan untuk didistribusikan ke
sel–sel melalui system sirkulasi. Zat makanan yang merupakan sumber energy bagi tubuh
seperti ATP yang dibutuhkan sel – sel untuk melakukan tugasnya. Agar makanan dapat
dicerna secara optimal dalam saluran pencernakan, maka saluran pencernakan harus
mempunyai persediaan air, elektrolit dan zat makanan yang terus – menerus. Untuk ini
dibutuhkan :
1. Pergerakan makan melalui saluran pencernakan,
2. Sekresi getah pencernakan,
3. Absorbsi hasil pencernakan, air, dan elektrolit,
4. Sirkulasi darah melalui organ gastrointestinal yang membawa zat yang diabsorbsi,
5. Pengaturan semua fungsi oleh system saraf dan hormone.
Dalam lumen saluran gastrointestinal (GI) harus diciptakan suatu lingkungan
khusus supaya pencernakan dan absorbs dapat berlangsung. Sekresi kelenjar dan
kontraksi otot harus dikendalikan sedemikian rupa supaya tersedia lingkungan yang
optimal. Mekanisme pengendalian lebih banyak dipengaruhi oleh volume dan komposisi
kandungan dan lumen gastrointestinal. Sistem pengendalian harus dapat mendeteksi
keadaan lumen. Sistem ini terdapat didalam dinding saluran gastrointestinal. Kebanyakan
reflek GI dimulai oleh sejumlah rangsangan di lumen, yaitu regangan dinding oleh isi
lumen, osmolaritas kimus atau konsentrasi zat yang terlarut, keasaman kimus atau
konsentrasi ion H, dan hasil pencernakan karbohidrat, lemak, dan protein (monosakarida,
asam lemak, dan peptide dari asam amino).
Proses pencernakan makanan antara laian :
1. Mengunyah
2. Menelan ( pengaturan saraf pada tahap menelan, tahap menelan di esophagus )
3. Makanan di lambung
4. Pengosongan di lambung
5. Faktor reflex duodenum
6. Pergerakan usus halus (gerakan kolon, gerakan mencampur, dan gerakan mendorong)
7. Defekasi
C. Nilai – nilai Normal
1. Gastrointestinal : nafsu makan baik, eliminasi teratur dan normal
2. Tidak mengalami manifestasi anoreksia, ketidak mampuan mencerna, diare, kontipasi
3. Otot pertumbuhan baik, kuat, tonus baik, lemak dibawah kulit
4. Turgor kulit dan membrane mukosa baik
5. Neurologi reflex normal, perhatian, emosi stabil
6. BB normal; BB, TB seimbang sesuai usia > BB
7. BAK dan BAB normal
8. Pola tidur normal
9. Gigi dan Gusi normal
10. Aktif, waspada, mampu berkosentrasi.
D. Pengkajian
Status nutrisi seseorang, dalam hal ini klien dengan gangguan status nutrisi dapat
dikaji dengan pedoman A-B-C-D, yaitu :
A : pengukuran antropometri ( antropometric measuremens )
B : data biomedis ( biomedical data )
C : tanda – tanda klinis status nutrisi ( clinical signs )
D : Diet ( dietary )
Selanjutnya dapat diteruskan dengan pengkajian yang lebih lanjut diantaranya:
1. Riwayat diet
2. Kemampuan makan
3. Pengetahuan tentang nutrisi
4. Nafsu makan, jumlah asupan
5. Tingkat aktivitas
6. Faktor yang mempengaruhi diet : status kesehatan, kultur dan kepercayaan, status social
ekonomi, factor psikologis, informasi yang salah tentang makanan dan cara berdiet.
7. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan fisik : apatis, lesu
b. BB : obesitas, kurus
c. Otot : flaksia, tonus kurang, tidak mampu bekerja.
d. Sistem saraf : bingung, rasa terbakar, reflek menurun
e. Fungsi gastrointestinal : anoreksia, kontipasi, diare, pembesaran liver.
f. Kardiovaskuler : denyut nadi > 100x/ menit, irama abnormal, tekanan darah rendah/
tinggi.
g. Rambut : kusam, kering, pudar, kemerahan, tipis, pecah/ patah – patah
h. Bibir : kering, pecah – pecah, bengkak, lesi, stomatitis, membrane mukosa pucat,
i. Gusi ; pendarahan, peradangan
j. Lidah : edema, hiperemasis
k. Gigi ; karies, nyeri, kotor
l. Mata : konjungtiva pucat, kering, exotalamus, tanda – tanda infeksi.
m. Kuku : mudah patah.
8. Laboratorium
a. Albumin : ( Normal = 4 – 5,5 mg/ 100ML )
b. Transferin ( normal = 170 – 25 mg/ 100ML )
c. Hb : ( Normal 12mg % )
d. BUN : ( Normal 10 – 20 mg / 100ML )
e. Ekskresi kreatinin untuk 24 jam ( Normal = 0,6 – 1,3 mg/ 100ML untuk laki – laki,
dan Normal = 0,5 – 1 mg/ 100ML untuk wanita )
E. Pemenuhan Kebutuhan Dasar
1. Memberikan penjelasan kepada keluarga untuk melatih makan pada pasien sedikit
demi sedikit
2. Memberikan minum dengan memberikan sedotan
3. Memberikan cairan infuse
4. Memberikan obat oral
5. Memberikan vitamin dan mineral sesuai program

F. Diagnosa Medis
Diagnosa medis menurut Nanda ( 2006 ) NIC NOC adalah :
1. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d intake nutrisi yang
tidak adekuat akibat mual dan muntah
2. Gangguan nutrisi lebih dari kebutuhan b.d penurunan pola aktivitas/ penurunan
metabolism/ kurangnya pengetahuan tentang pola nutrisi.
3. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan b.d output cairan yang
berlebihan.
G. Intervensi Keperawatan
1. Diagnosa : gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d intake nutrisi yang
tidak adekuat akibat mual dan muntah.
Tujuan :
1) Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan criteria peningkatan BB
2) Hb dan albumin dalam batas normal
Kriteria Hasil :
1) Tidak terjadi gangguan nutrisi
2) Menunjukkan fungsi pengecapan dan menelan
3) BB ideal sesuai tinggi badan
4) Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
Rencana Tindakan :
a) Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. Timbang BB klien. Kaji faktpor
penyebab gangguan pemenuhan nutrisi,
b) Letakkan posisi kepala lebih tinggi pada waktu, selama, dan sesudah makan,
c) Stimulasi bibir untuk menutup dan membuka mulut secara manual dengan menekan
ringan diatas bibir/ dibawah dagu jika dibutuhkan,
d) Latakkan makanan pada daerah mulut yang tidak terganggu,
e) Berikan makanan dengan perlahan pada lingkungan yang tenang,
f) Mulailah untuk memberikan makan per oral setengah cair, makan lunak ketika klien
dapat menelan air,
g) Anjurkan klien menggunakan sedotan untuk minum,
h) Anjurkan klien untuk berpartisipasi dalam program latihan/ kegiatan,
i) Kolaborasi dengan tim dokter untuk memberikan cairan melalui IV atau makanan
melalui selang,
j) Kolaborasi dengan tim gizi. Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama
fase akut,
k) Pembatasan diet per oral mungkin ditetapkan selama fase akut.
Rasional :
1. Untuk mengetahui penurunan BB klien dan menetapkan jenis makanan yang akan
diberikan pada klien,
2. Untuk mempermudah klien untuk menelan, karena gaya gravitasi,
3. Membantu dalam melatih kembali sensori dan meningkatkan kontrol muskuler,
4. Memberikan stimulasi sensori (termasuk rasa kecap) yang dapat mencetuskan
usaha untuk menelan dan meningkatkan masukan,
5. Klien dapat berkosentrasi pada mekanisme makan tanpa adanya distraksi/
gangguan dari luar,
6. Makan lunak/ cairan kental mudah untuk mengendalikan didalam mulut,
menurunkan terjadinya aspirasi.
7. Menguatkan otot fasial dan otot menelan dan menurunkan resiko terjadinya
tersedak,
8. Dapat meningkatkan pelepasan endorfin dalam otak yang meningkatkan nafsu
makan,
9. Mungkin diperlukan untuk memberikan cairan penggganti dan juga makanan jika
klien tidak mampu untuk memasukkan segala sesuatu melalui mulut,
10. Penentuan diet klien sesuai sakit pasien. Tirah baring dapat mengatasi resiko
cidera,
11. Diet sangat diperlukan untuk menormalkan peristaltic sehingga nutrisi terpenuhi.
Mengistirahatkan kerja gastrointestinal dan mengatasi/ mencegah kekurangan
nutrisi lebih lanjut.
2. Diagnosa : Gangguan nutrisi lebih dari kebutuhan b.d penurunan pola aktivitas/
penurunan metabolism/ kurangnya pengetahuan tentang pola nutrisi.
Tujuan :
Agar BB pasien normal sesuai dengan TB
Kriteria Hasil :
1) BB dan TB seimbang
2) Klien dapat menjalankan kembali pola makan yang sesuai dengan kondisinya dan jenis
makanan yang harus dihindari,
3) Klien dapat memahami pentingnya exercise
Rencana tindakan:
1. Kaji Keadaaan umum klien,
2. Timbang BB pasien secara periodic
3. Kaji porsi makan dan jenis makanan klien,
4. Jelaskan tentang pentingnya nutrisi,
5. Kolaborasi dengan tim gizi mengenai diet kalori
Rasional:
1. Untuk mengetahui kondisi klien,
2. Untuk mengetahui perkembangan BB klien,
3. Untuk mengetahui berapa porsi yang dimakan dan jenis makanan yang dikonsumsi,
4. Sebagai salah satu upaya agar klien mengetahui betapa pentingnya nutrisi dalam
tubuh,
5. Untuk mengetahui diet yang sesui untuk diberikan pada klien
3. Diagnosa : Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan b.d output cairan
yang berlebihan.
Tujuan :
Defisit cairan dan elektrolit terpenuhi
Kriteria hasil :
1) Tanda – tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balance cairan
seimbang,
2) Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal,
3) Tidak ada tanda – tanda dehidras, elastisitas turgor baik, membrane mukosa lembab,
tidak ada rasa haus yang berlebihan.
Rencana keperawatan :
1. Observasi TTV dan tanda – tanda dehidrasi
2. Ukur balance cairan
3. Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak, kurang lebih
2000 – 2500 cc per hari,
4. Kolaborasi pemberian cairan IV,
5. Dorong keluarga untuk membantu pasien makan,
6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi cairan, pemeriksaan laboratorium
cairan rendah sodium.
Rasional :
1. Dehidrasi untuk memberikan terapi lanjut dengan memberikan cairan oral dan
parenteral sesuai dengan program
2. Input – output untuk mengetahui kebutuhan dan pengeluaran cairan pada klien,
3. Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan
cairan pengganti,
4. Pemberian cairan lewat IV dapat mengganti kehilangan banyak cairan akibat BAB
yang berlebihan dan encer,
5. Keluarga adalah orang terdekatklien yang dapat memotivasi dan mendukung klien
untuk makan,
6. Kolaborasi pelaksanaan terapi definitive.
DAFTAR PUSTAKA

Bandiyah, siti. 2009. Ketrampilan Dasar Praktek Keperawatan dan Kebidanan. Yogyakarta
: Nuha Medika

Berman, Aundry, Dkk. 2009. Buku Ajar Keperawatan Klinis. Jakarta: EGC

Carpenito, Jual L. 2003. Diagnosa keperawatan. Jakarta: EGC

Hidayat, A. Aziz Alimut. 2008. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia; Aplikasi Konsep dan
Proses Keperawatan; Buku 1. Jakarta : Salemba Medika

Hidayat, A. Aziz Alimut. 2008. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia; Aplikasi Konsep dan
Proses Keperawatan; Buku 2. Jakarta : Salemba Medika

Iqbal, Wahid. 2008. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia Teori dan Aplikasi dalam Praktik.
Jakarta : EGC

Kozier, B. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis. 2009. EGC.Jakarta

Mubarak, Wahit Iqbal dan Ns. Nurul Chayatin. 2007. Buku Ajar Kebutuhan Dasar
Manusia: Teori Dan Aplikasi Dalam Praktek. Jakarta : penerbit buku kedokteran EGC

Murwati, Arita. 2009. Ketrampilan Dasar Praktek Klinik Keperawatan. Yogyakarta :


Penerbit Fitrimaya

Nanda. 2012. Diagnosa Keperawatan Nanda NIC-NOC. Jakarta : EGC

Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006. Alih Bahasa Budi Santosa. Prima Medika.
2005.

Pearce. Evelyn, C. 2009. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: Kompas
Gramedia

Potter dan Perry.2003. Fundamental Of Nursing. Australia:Mosby

Syaifudin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta : EGC

Wilkinson Judit M. 2012. Diagnosa Keperawatan Nanda NIC-NOC. Jakarta : EGC