Anda di halaman 1dari 7

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Penanganan ISPA pada Anak


Sasaran : Kelompok Keluarga
Hari/Tanggal : jumat, 19 Oktober 2018
Waktu Pertemuan : 09.00 – 11.30 WIB
Tempat : kelurahan

A. Latar Belakang
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dikenal sebagai salah satu
penyebab kematian utama pada bayi dan anak balita di negara berkembang.
ISPA menyebabkan empat dari 15 juta kematian pada anak berusia di bawah
lima tahun pada setiap tahunnya, sebanyak dua per tiga kematian tersebut
adalah bayi. Hampir empat juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahun,
98% nya disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan bawah. Tingkat mortalitas
akibat ISPA pada bayi, anak dan orang lanjut usia tergolong tinggi terutama di
negara-negara dengan pendapatan per kapita rendah dan menengah. ISPA juga
merupakan salah satu penyebab utama konsultasi atau rawat inap di sarana
pelayanan kesehatan terutama pada bagian perawatan anak (WHO, 2007)
Berdasarkan latar belakang tersebut perawat menyusun perencanaan
untuk memberikan penyuluhan tentang penanganan ISPA pada anak dikeluarga
X.

B. Tujuan Penyuluhan
1. Tujuan Umum
Setelah menerima pendidikan kesehatan diharapkan keluarga X memahami
cara penanganan ISPA pada anak
2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan pengertian ISPA
b. Mengetahui 4 penyebab ISPA pada anak
c. Mengetahui 4 tanda dan gejala ISPA
d. Mengetahui 7 cara perawatan ISPA pada anak
e. Mengetahui 4 komplikasi pada ISPA

C. Materi Penyuluhan
(Terlampir)

D. Metode Penyuluhan
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Diskusi

E. Media Penyuluhan

1. Slide materi
2. Film/video
3. Flip chart
4. Laptop
5. LCD
F. Setting Tempat Penyuluhan

Keterangan :
: PENYULUH

: MEDIA

: PESERTA

G. Kegiatan Penyuluhan

NO LANGKAH WAKTU KEGIATAN RESPON


1. Pendahuluan 10 menit 1. Memberikan 1. Menjawab
salam, salam
perkenalan 2. mampu
2. Menjelaskan memahami
maksud dan maksud dan
tujuan tujuan
3. Kontrak 3. dapat
waktu menyelesaika
4. Pre test n pre test

2. Penyajian 20 menit 1. Menjelaskan 1. dapat


pengertian ISPA menjelaskan
pada anak pengertian
2. Mengetahui ispa
penyebab ISPA 2. dapat
pada anak menyebutkan
3. Mengetahui penyebab
tanda dan gejala ispa
ISPA pada anak 3. dapat
4. Mengetahui menyebutkan
perawatan ISPA tanda dan
pada anak gejala ispa
5. Mengetahui 4. dapat
komplikasi ISPA menyebutkan
pada anak perawatan
klien ispa
5. dapat
menyebutkan
komplikasi
dari ispa

3. Evaluasi 10 menit 1. peserta


1. Tanya jawab mampu
2. Menanyakan bertanya
kembali jawab
3. Post test 2. dapat
melaksanaka
n post test
4. Penutup 5 menit 1. peseta
1. Kesan pesan dapat
2. penutup menyampaik
an pesan dan
kesan
terhadap
kegiatan
penyuluhan
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
ISPA adalah infeksi yang disebabkan mikroorganisme di struktur saluran nafas
atas yang tidak berfungsi untuk pertukaran gas, termasuk rongga hidung, faring, dan
laring, yang dikenal dengan ISPA antara lain pilek, faringitis (radang tenggorokan),
laringitis, dan influenza tanpa komplikasi. (Elizabeth J. Cormin, 2009)
Penyakit ISPA merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus atau bakteri.
Penyakit ini diawali dengan panas disertai salah satu atau lebih gejala : tenggorokan
sakit atau nyeri menelan, pilek, batuk kering atau berdahak. (Pusat Data dan Informasi
Kementerian Kesehataan RI tahun 2015)
B. Etiologi
Etiologi ISPA terdiri dari bakteri, virus, jamur, dan aspirasi. Bakteri penyebab
ISPA antara lain adalah Diplococcus pneumoniae, Pneumococcus, Streptococcus
pyogenes, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae dan lain-lain. Virus
penyebab ISPA antara lain adalah golongan Influenza, Adenovirus, Sitomegalovirus.
Jamur penyebab ISPA antara lain adalah Aspergilus sp, Candida albicans,
Histoplasma, dan lain-lain. Aspirasi penyebab ISPA antara lain adalah makanan, asap
kendaraan bermotor, BBM (bahan bakar minyak), dan lain-lain. (Dr. Widoyono,
2011). Adapun yang lain penyebabnya menurut (Wong, 2008) antara lain :

1. Agen Infeksius
Saluran pernapasan merupakan subjek dari berbagai organism infeksius,
namun sebagian besar infeksi disebabkan oleh virus, terutama virus sinsitial
pernapasan (RSV). Agen lain yang terlibat dalam invasi primer atau
sekunder antara lain adalah streptokokus hemolitik-β grup A, stafilokokus,
haemophilus influenza, Chlamydia trachomatis, mycoplasma dan
pneumokokus.
2. Usia
Bayi di bawah 3 bulan memiliki kecepatan infeksi lebih rendah yang
kemungkinan disebabkan oleh fungsi protektif dari antibody maternal.
Kecepatan infeksi meningkat pada usia 3 sampai 6 bulan, waktu antara
hilangnya antibodi maternal dan munculnya antibodi bayi sendiri.
Kecepatan infeksi virus terus meningkat selama toddler dan usia pra
sekolah. Pada saat anak mencapai usia 5 tahun, infeksi pernapasan akibat
virus cenderung jarang terjadi, namun insidensi mycoplasma pnemuniae
dan streptokokus β grup A mengalami peningkatan. Jumlah jaringan limfoid
meningkat selama masa kanak-kanak pertengahan dan pajanan berulang
terhadap organisme menyebabkan peningkatan imunitas sejalan dengan
bertambah besarnya anak.
3. Ukuran Tubuh
Perbedaan anatomik mempengaruhi respons terhadap infeksi saluran
pernapasan. Diameter jalan napas lebih kecil pada anak-anak yang masih
kecil dan merupakan subjek yang masuk akal untuk mengalami
penyempitan karena edema membrane mukosa serta peningkatan produksi
sekret. Selain itu, jarak antar struktur dalam traktus lebih pendek pada anak
kecil, oleh karena itu organism berpindah lebih cepat ke saluran pernapasan
bawah dan menyebabkan perluasan saluran yang terserang. Tuba eustasius
yang relative pendek dan terbuka pada bayi dan anak-anak memungkinkan
mudahnya kuman pathogen masuk ke telinga tengah.
4. Resistensi
Kemampuan untuk menahan masuknya organisme bergantung pada
beberapa faktor. Defisiensi sistem imun menyebabkan anak beresiko
mengalami proses infeksi. Kondisi lain yang menurunkan ketahanan adalah
malnutrisi, anemia, keletihan dan menggigil. Kondisi-kondisi yang
mempengaruhi saluran pernapasan akan melemahkan pertahanan anak dan
mencetuskan infeksi antara lain alergi (Rinitis alergika), asma, anomali
jantung yang menyebabkan kongesti paru dan fibrosis kistik.
5. Perubahan Musim
Patogen saluran pernapasan paling banyak terjadi secara epidemi pada
musim dingin dan panas, namun infeksi mitoplasma terjadi lebih sering
pada musim semi dan awal musim dingin. Musim panas dan musim dingin
merupakan musim yang biasanya terjadi infeksi.

C. Tanda/Gejala
Gambaran klinis ISPA bergantung pada tempat infeksi serta
mikroorganisme penyebab infeksi. Semua manifestasi klinis terjadi akibat
peradangan dan adanya keruakan langsung akibat mikroorganisme. Menurut
(Elizabeth J. Corwin, 2009) antara lain ;
1. Batuk,
2. Bersin dan kongesti nasal,
3. Pengeluaran mucus dan rabas dari hidung serta turun ke
tenggorokan,
4. Sakit kepala,
5. Demam derajat ringan.
D. Komplikasi
Komplikasi menurut (Elizabeth J. Cormin, 2009) :
1. Pneumonia,
2. Bronchitis,
3. Sinusitis,
4. Otitis media akut.
E. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan menurut (Elizabeth J. Cormin, 2009, hlm. 540) antara
lain:
a. Istirahat untuk menurunkan kebutuhaan metabolik,
b. Hidrasi tambahaan untuk membantu mengencerkan mukus yang
kental sehingga mudah dikeluarkan dari saluran napas. Hal ini diperlukan
karena mukus yang terakumulasi merupak tempat yang baik untuk
memperkembang biakan mikroorganisme sehingga dapat terjadi infeksi
bakteri sekunder,
c. Dekongestan, anthistamin, dan supresan batuk yang dapat
mengurangi beberapa gejala yang mengganggu,
d. Beberapa penelitian menyarankan zinc lozenges atau
meningkatkan konsumsi vitamin C dapat menurunkan tingkat keparahaan
atau kemungkinaan infeksi beberapa virus tertentu,
e. Diperlukan antibiotik apabila penyebab adalah bakteri atau
sekunder terhadap infeksi virus