Anda di halaman 1dari 28

BUSINESS ETHICS & GG

ENVIROMENTAL ETHICS

NAMA : Gunawan Adam

NIM : 55117120041

KODE MK : 35040

DOSEN : Prof. Dr. Ir. H. Hapzi Ali, Pre-MSc, MM, CMA

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS MERCU BUANA

JAKARTA

2018
“ENVIROMENTAL ETHICS”

Gunawan adam, ST(1) , Prof. Dr. Ir. H. Hapzi Ali, Pre-MSc, MM, CMA(2)

1. Penulis
2. Dosen Pengampu

Environmental Ethics” dengan sub tema:


• Environmental philosophy,
• Role of stakeholders,
• Partnerships.

Environmental philosophy
Filsafat lingkungan memiliki dua pendekatan dasar yang memiliki cabang besar
non-tradisional atau holistik yang dilambangkan dalam ekologi dan ecofeminisim
(Warren, 1998a, halaman 270). Dengan demikian, filsafat lingkungan dapat dibagi
menjadi antroposentris (berpusat pada manusia) dan ecocentric(berpusat pada bumi) yang
umumnya sebagai incommensurable(Attfield, 2003; purser et al., 1995). Terdapat tujuh
tingkat klasifikasi, yaitu:

Pristine capitalists, memiliki pandangan yang lebih di bagian akuntansi dan keuangan
yang mana merupakan tanggung jawab perusahaan untuk menghasilkan uang bagi para
pemegang saham.

Expedients,masyarakat yang memiliki pandangan dan menyadari akan kesejahteraan


ekonomi dan stabilitas jangka panjang yang menyadari bahwa kesejahteraan ekonomi dan
stabilitas hanya dapat dicapai oleh penerimaan tanggung-jawab social tertentu.
Social contract proponents,dimana perusahaan memiliki sikap suatu organisasi atau
sebuah perusahaan di dalam masyarakat yang memiliki tanggung jawab dan menghormati
masyarakat di sekitar perusahaan.

Social ecologists,bagi masyarakat yang memiliki kepedulian akan lingkugan sosial


dan merasa suatu organisasi besar memiliki dampak yang berpengaruh dalam
menimbulkan permasalahan lingkungan dan sosial sehingga mereka ikut serta dalam
membantu mengurangi atau menghilangkan masalah tersebut.

Socialists,diwajibkan untuk melakukan penyesuaian yang cukup dalam kepemilikan dan


pengaturan masyarakat.
Radical feminists, masyarakat yang merasa bahwa ada hal yang menimbulkan konstruksi
maskulin agresif dimana konstruksi itu menjadi panduan sistem sosial dan ada hal yang
dibutuhkan selain itu seperti nilai-nilai feminin seperti kasih sayang, kelembutan, welas
asih.

Deep ecologists,masyarakat yang memiliki keyakinan bahwa manusia tidak memiliki hal
yang lebih besar daripada makhluk hidup lain di dunia.

Anthropocentric (Human-Centered) Philosophies


Ada kepercayaan bahwa "kebaikan semua dapat ditampilkan melalui operasi
terbatas dari ekonomi pasar" (Clar, 1998, ms.346. Pemerintah memiliki peran untuk
melindungi masyarakat dan kehidupannya serta kebebasan dan hak-hak kepemilikan.
Alam memang berharga namun keberhargaan itu karena terdapat kegunaannya bagi
manusia. Yang hanya memiliki nilai instrumental (Birkeland et al., 1997, ms. 125-128).
Dapat diyakini bahwa apabila manusia dan teknologi dapat jauh beradaptasi maka tidak
akan ada permasalahan lingkungan di masa depan (Clark, 1998, p. 347).
Dalam environmentalisme liberal memiliki anggapan bahwa pemerintah memiliki
peraturan yang tidak atau kurang memiliki timbal balik (keuntungan) yang sesuai dengan
biaya yang dikeluarkan yang menyebabkan kerusakan lingkungan (dan manusia) yang
terkait dengan produksi dan konsumsi (Clark, 1998, halaman 349).
Sikap dari kapitalis murni dan expedients berhubungan dengan neoklasik, yang berteori
bahwa kerangka ultilitarian berdasarkan kepentingan diri yang rasional yang dipahami
secara sempit.
Pemerintah sangat diperlukan dalam mendukung hak-hak hidup, dan kerusakan
lingkungan, produksi dan konsumsi. Sylvan (1998, p 18) menjelaskan tiga tradisi barat
untuk hubungan manusia dengan alam. Pertama alam adalah kekuasaan manusia, yang
bebas untuk berurusan.
Kedua tercermin dalam tampilan kontrak sosial yang memiliki hubungan
kepengurusan dengan alam dan manusia yang penyempurnaannya yang memiliki peran
untuk “ mengembangkan, mengolah dan sempurna “ alam ( mungkin untuk kepentingan
manusia). ketiga peran manusia penyempurnaan yang juga konsisten dengan
kebijaksanaan ekonomi.
Corporate Communication And Discourse
Wacana merupakn sebuah produk budaya dan sosial yang berfungsi untuk
membangun kehidupan sosial, memproduksi ulang, mengubah makna, ideologi dan
struktur sosial menurut Fairclough. Public discourse dibentuk dari bebrapa komunikasi
dari sebuah sebuah perusahaan melalui analisi wacana.
Noranda’s Environmental Philosophy And A Changing Worldview
Noranda mempunyai Enviromental policy, yang digunakan sebagai usaha untuk
environmentalism. Dengan demikian materi ini mengharapkan adanya keseimbangan
antara aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam sustainable development yang
dikembangkan oleh perusahan. Ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan sebagai alat
untuk penelitian dan pengembangan perusahaan.
Manajemen sistem sustainable development policy yang dimiliki Noranda
misalnya, mempunyai beberapa penekanan dan implementasi dalam :
1. Menjadikan perusahan sebagai leader
2. Mempertemukan dengan regulasi
3. Mengimplementasikan sistem dari manajemen
4. Memberikan target yang akan dituju
5. Mempertimbangkan isu-isu sosial
6. Memfasilitasi adanya dialog dengan komunitas
7. Mempromosikan produk
8. Mengembangkan ilmu pengetahuan secara ilmiah dan teknologi
9. Memastikan aktivitas sesuai dengan etika
10. Mempromosikan Employee Awareness
11. Mengkomunikasikan progress dari pengembangan yang dilakukan Noranda
menggunakan pendekatan anthropocentris.

Ecocentric (Holistic) Philosophies


Pendekatan ini berpusat pada manusia yang memiliki sudut pandang
environmentalist yang melibatkan serta peduli lingkugan dalam setiap pengambilan
keputusan dan melibatkan tindakan untuk mengurangi polusi, konservasi sumber daya
dan beberapa kegiatan reboisasi. Ekologi memiliki perbedaan dengan environmentalisme
yang membutuhkan pandangan yang lebih holistic mengenai sebagaimana mestinya
posisi manusia sebenarnya di alam kehidupan
Clark (1998, p. 345) menjelaskan bahwa ekologi berbeda dari environmentalisme di
bahwa dibutuhkan lebih pandangan holistik yang melibatkan re-berpikir tempat manusia
di alam. ekologi sosial dan sosialis gerakan berusaha untuk menempatkan manusia dalam
konteks alam dan menawarkan kritik dari segala bentuk dominasi, tetapi khususnya dari
negara bangsa, kekuasaan terkonsentrasi ekonomi, otoritarianisme, ideologi represif dan
"luas eco teknologi mesin. Wawasan dasar ekofeminisme adalah bahwa masalahnya tidak
benar-benar manusia berpusat, tapi androsentrisme, konsepsi tertentu tentang kelelakian.
Hal ini tidak mengatakan bahwa masalahnya adalah manusia laki-laki, tapi itu masalah
adalah cara berpikir yang meremehkan baik perempuan dan alam.

Role of stakeholders
Istilah ‘Stakeholders’ atau dinamakan pemangku kepentingan adalah kelompok
atau individu yang dukungannya diperlukan demi kesejahteraan dan kelangsungan hidup
organisasi. Pemangku kepentingan adalah seseorang, organisasi atau kelompok dengan
kepentingan terhadap suatu sumberdaya alam tertentu (Brown et al 2001). Stakeholder is
a person who has something to gain or lose through the outcomes of a planning process,
programme or project (Dialogue by Design 2008). Pemangku kepentingan mencakup
semua pihak yang terkait dalam pengelolaan terhadap sumberdaya. Menurut Witold
Henisz guru besar pada Sekolah Bisnis Wharton, termasuk semua orang dari politisi lokal
dan nasional dan tokoh atau pemimpin masyarakat, penguasa, kelompok paramiliter,
LSM dan badan-badan internasional. Dalam konteks perusahaan, Clarkson (dalam artikel
tahun 1994) memberikan definisi pemangku kepentingan secara lebih khusus sebagai
suatu kelompok atau individu yang menanggung suatu jenis risiko baik karena mereka
telah melakukan investasi (material ataupun manusia) di perusahaan tersebut
(‘Stakeholders sukarela’), ataupun karena mereka menghadapi risiko akibat kegiatan
perusahaan tersebut (‘Stakeholders non-sukarela’). Berdasarkan pandangan tersebut
pemangku kepentingan adalah pihak yang akan dipengaruhi secara langsung oleh
keputusan dan strategi perusahaan.

Dalam Bussiness Dictionary, pemangku kepentingan didefinisikan kelompok atau


organisasi yang memiliki kepentingan langsung atau tidak langsung dalam sebuah
organisasi karena dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh tindakan organisasi, tujuan,
dan kebijakan. Meskipun para pelaku biasanya melegitimasi dirinya sebagai stakeholder,
tetapi semua pemangku kepentingan tidak sama dan memiliki kedudukan yang berbeda.
Misalnya, pelanggan perusahaan berhak untuk praktek perdagangan yang adil tetapi
mereka tidak berhak untuk mendapat pertimbangan yang sama sebagai karyawan
perusahaan. Pemangku kepentingan kunci lain dalam organisasi bisnis diantaranya
kreditor, pelanggan, direksi, karyawan, pemerintah (dan badan-badannya), pemilik
(pemegang saham), pemasok, serikat pekerja, dan masyarakat dari mana bisnis menarik
sumber daya yang dimiliki.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pemangku kepentingan adalah
seluruh pihak yang terkait dengan isu dan permasalahan yang menjadi fokus kajian atau
perhatian. Misalnya terkait isu perikanan, maka makna pemangku kepentingan sebagai
parapihak yang terkait dengan isu perikanan, seperti nelayan, masyarakat pesisir, pemilik
kapal, anak buah kapal, pedagang ikan, pengolah ikan, pembudidaya ikan, pemerintah,
pihak swasta di bidang perikanan, dan sebagainya. Seorang pemangku kepentingan
adalah seseorang yang mempunyai sesuatu yang dapat iaperoleh at au akan kehilangan
akibat dari sebuah proses perencanaan atau proyek. Dalam banyak siklus, mereka disebut
sebagai kelompok kepentingan, dan mereka bisa mempunyai posisi yang kuat dalam
menentukan hasil suatu proses politik. Seringkali akan sangat bermanfaat bagi proyek
penelitian untuk mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan dan kepedulian berbagai
pemangku kepentingan, terutama jika proyek diracang bertujuan mempengaruhi
kebijakan (Start & Hovland dalam http://www.smeru.or.id/).
Beberapa istilah penting dalam kerangka definisi pemangku kepentingan, diantaranya;
Stakeholder Engagement is the process of effectively eliciting stakeholders’ views on
their relationship with the organisation/programme/project(Friedman and Miles 2006).
Stakeholder Analysis is a technique used to identify and assess the influence and
importance of key people, groups of people, or organisations that may significantly
impact the success of your activity or project(Friedman and Miles 2006).

Stakeholder Management is essentially stakeholder relationship management as it is the


relationship and not the actual stakeholder groups that are managed (Friedman and
Miles 2006).

Tipologi Pemangku Kepentingan


Secara umum pemangku kepentingan dapat dibagi dalam dua jenis, yaitu:
Pertama, pemangku kepentingan primer atau ‘key stakeholder’ adalah mereka yang pada
akhirnya terpengaruh, baik secara positif atau negatif oleh tindakan organisasi. Kedua,
Pemangku kepentingan sekunder: adalah ‘perantara’, yaitu, orang atau organisasi yang
secara tidak langsung dipengaruhi oleh tindakan organisasi. Hal yang sama diungkapkan
oleh Clarkson yang membagi pemangku kepentingan menjadi dua. Pemangku
kepentingan primer adalah ‘pihak di mana tanpa partisipasinya yang berkelanjutan
organisasi tidak dapat bertahan.’ Contohnya adalah pemegang saham, investor, pekerja,
pelanggan, dan pemasok. Menurut Clarkson, suatu perusahaan atau organisasi dapat
didefinisikan sebagai suatu sistem pemangku kepentingan primer yang merupakan
rangkaian kompleks hubungan antara kelompok-kelompok kepentingan yang mempunyai
hak, tujuan, harapan, dan tanggung jawab yang berbeda. Sementara, pemangku
kepentingan sekunder didefinisikan sebagai ‘pihak yang mempengaruhi atau dipengaruhi
oleh perusahaan, tapi mereka tidak terlibat dalam transaksi dengan perusahaan dan tidak
begitu penting untuk kelangsungan hidup perusahaan.’ Contohnya adalah media dan
berbagai kelompok kepentingan tertentu. Perusahaan tidak bergantung pada kelompok ini
untuk kelangsungan hidupnya, tapi mereka bisa mempengaruhi kinerja perusahaan
dengan mengganggu kelancaran bisnis perusahaan.

Dalam pandangan perusahaan sebagai sebuah entitas bisnis stakeholder dipandang


sebagai inividu atau Kelompok yang dipengaruhi oleh dan/atau memiliki kepentingan
dalam operasi dan tujuan perusahaan. Perusahaan memiliki berbagai kelompok
pemangku kepentingan yang saling berhubungan secara luas. Pemangku kepentingan
tersebut dikelompok menjadi tiga katagori:

(a) pemangku kepentingan internal, yaitu individu atau kelompok yang berada dalam
struktur organisasi bisnis yang memiliki pengaruh terhadap tujuan perusahaan;
(b) pemangku kepentingan eksternal, yaitu individu atau kelompok yang berada di luar
struktur organisasi bisnis yang memiliki pengaruh baik langsung ataupun tidak langsung
terhadap kebijakan dan proses bisnis; dan
(c) pemangku kepentingan penghubung yaitu inidividu atau kelompok yang memiliki
peran sebagai penghubung atau memiiki keterkaitan dengan pemangku kepentingan
internal dan eksternal. Masing-masing pemangku kepentingan berbeda baik dari segi
perhatian dan minat dalam kegiatan bisnis dan juga kekuasaan untuk mempengaruhi
keputusan perusahaan.

Dalam menjalankan operasi bisnisnya, suatu perusahaan berinteraksi dengan


berbagai pihak/pemangku kepentingan mulai dari pemegang saham, hingga kepada
customer sampai karyawan bahkan dengan para suplier. Apa saja kepentingan
stakeholders terhadap perusahaan anda?

Pemegang Saham
Pemegang saham adalah pihak yang memiliki saham di perusahaan anda.
Investasi dalam bentuk saham yang ditaruh di perusahaan anda jelas menyebabkan para
pemegang saham memiliki kepentingan terhadap keberlangsungan perusahaan,
pencapaian kinerja dan profitabilitas perusahaan, dan penerapan tata kelola
perusahaan yang baik untuk bisa memastikan bahwa perusahaan anda dapat mencapai
target yang telah ditetapkan oleh Perusahaan.
Regulator
Regulator adalah pihak yang melakukan pengawasan terhadap industri yang
perusahaan anda geluti. Sebagai contoh misalnya Otoritas Jasa Keuangan yang
mengawasi berbagai lembaga keuangan. Sangat penting untuk membangun hubungan
baik dengan regulator untuk menciptakan hubungan kemitraan untuk perkembangan
industri dan tentu saja memastikan perusahaan anda menerapkan kepatuhan pada aspek
peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan.
Pemerintah
Pemerintah juga memiliki kepentingan terhadap perusahaan anda. Tidak hanya
terbatas dalam bentuk dukungan dan partisipasi perusahaan anda dalam program
pemerintah yang diharapkan juga adalah Perusahaan anda dapat memiliki dampak kepada
masyarakat. Selain itu Pemerintah juga memiliki kepentingan terhadap kepatuhan
Perusahaan anda pada aspek peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan.
Masyarakat
Masyarakat memiliki keterkaitan terhadap perusahaan anda yang diantaranya
meliputi Kebutuhan akan lapangan pekerjaan, Masyarakat juga tentu saja akan selalu
mengharapkan partisipasi perusahaan dalam mendukung kesejahteraan dan
pemberdayaan masyarakat.
Pelanggan
Pelanggan adalah nyawa utama dari perusahaan. Dari pelangganlah, anda bisa
meraih keuntungan. Kebutuhan utama dari pelanggan tentu saja berputar sekitar kepuasan
dari kualitas pelayanan perusahaan, Pelanggan juga menginginkan transparansi dari
perusahaan, apapun itu, apakah tentang produk, tentang tarif harga. Pelanggan juga
ternyata memiliki concern terhadap keberlangsungan perusahaan berikut dengan produk
perusahaan.
Lembaga Swadaya Masyarakat
Lembaga Swadaya adalah perpanjangan tangan dari masyarakat. Mereka
menginginkan adanya transparansi dari perusahaan, keterbukaan serta akses informasi
mengenai aspek kinerja perusahaan. Karenanya Perusahaan anda perlu membangun
hubungan sebagai check and balance partner dengan Lembaga Swadaya Masyarakat
Media Massa
Media massa sudah semakin berkembang pesat. Media massa selalu menjadi
referensi utama masyarakat dalam mencari informasi. Karenanya pastikan Perusahaan
anda membangun hubungan baik dengan media massa dimana perusahaan anda juga
harus membangun transparansi, keterbukaan serta akses informasi mengenai aspek
kinerja perusahaan serta hubungan sebagai check and balance partner
Asosiasi Industri
Asosiasi Industri adalah kumpulan dari perusahaan-perusahaan yang berada
dalam industri anda. Asosiasi Industri pun juga membutuhkan transparansi, keterbukaan
serta akses informasi mengenai aspek kinerja perusahaan anda dan sangat penting untuk
membangun hubungan kemitraan dengan Asosiasi Industri untuk perkembangan industri.
Pesaing
Siapa bilang pesaing anda tidak punya kepentingan terhadap Perusahaan anda.
Memang semua persaingan tidak akan selalu berjalan dengan baik dan sehat, tetapi
pesaing yang baik, akan selalu memiliki kepedulian terhadap persaingan usaha yang sehat
dan adil serta beretika bisnis dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik.
Mitra Kerja
Mitra kerja disini diartikan sebagai suplier atau mitra yang mendukung kinerja
perusahaan anda baik melalui keahlian jasa ataupun barang-barang yang ditawarkan
kepada Perusahaan anda. karenanya suplier akan selalu menekankan pada pentingnya
Mekanisme pengadaan barang dan jasa yang baik dan transparansi penyeleksian
pengadaan barang dan jasa yang menerapkan tata kelola perusahaan yang baik.
Karyawan
Karyawan dan juga keluarganya sering kali mendapatkan perhatian yang kurang
dari Manajemen Perusahaan, padahal banyak perusahaan yang mengklaim bahwa
karyawan adalah aset terbesar mereka. Perusahaan yang baik akan selalu menciptakan
iklim kerja yang kondusif, dan kesempatan kerja yang sama serta transparansi terhadap
kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan sumber daya manusia.
Selanjutnya setelah anda memetakan siapa saja pemangku kepentingan anda, maka yang
terpenting kemudian adalah bagaimana membangun komunikasi dengan pemangku
kepentingan.
Partnerships.
Menurut undang-undang republik Indonesia no.9 tahun 1995 kemitraan adalah
kerjasama usaha antara usaha kecil dan usaha menengah atau usaha besar disertai
pembinaan dan pengembangan oleh usaha menengah atau usaha besar dengan
memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memerlukan, saling memperkuat dan
saling menguntungkan.1
Menurut Tugimin kerjasama itu adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh beberapa
pihak secara bersama-sama dengan penuh tanggung jawab untuk mencapai hasil yang
lebih baik dari pada dikerjakan secara individu.2
Menurut para ahli kemitraan adalah hubungan antara dua pihak atau lebih yang bertujuan
untuk mencari keuntungan dimana suatu pihak berada dalam kondisi yang lebih rendah
dari yang lainnya namun membentuk suatu hubungan yang mendudukkan keduanya
berdasarkan kata sepakat untuk mencapai suatu tujuan.Pola kemitraan usaha terampil
dalam pembangunan guna kesejahteraan rakyat.

ETIKA BISNIS yang dipahami bersama.


a. Proses Pengembangan Kemitraan
- Memulai membangun hubungan dengan calon mitra = memilih mitra yg tepat
- Mengerti kondisi bisnis pihak yang bermitra (kemampuan manajemen, penguasaan
pasar, teknologi, permodalan, SDM) = memudahkan penyusunan langkah/strategi
- Mengembangkan strategi dan menilai detail bisnis (strategi pesaran, strategi dsitribusi,
operasional, informasi)
- Mengembangkan program = rencana taktis dan strategi yang akan dilakukan dengan
mengkomunikasikan dengan orang yang terlibat
- Memulai pelaksanaan = memulai pelaksanaan kemitraan berdasarkan ketentuan yg
disepakai
- Memonitor dan mengevaluasi - Memonitor : agar terget yg ingin dicapai menjadi
kenyataan
- Mengevaluasi : untuk perbaikan pelaksanaan berikutnya
b. Prinsip dalam membangun hubungan
Membangun citra lembaga yg baik, diantaranya :
- Fokuskan kepada kualifikasi lembaga dan bukan hanya nama lembaga
- Berkaitan dengan apa yang kita tawarkan dan bukan apa yg kita dapatkan
- Mengembangkan kemampuan "mendengar"
- Mengembangkan kemampuan "bertanya"
- Menepati janji, bukan mengobral janji
c. Prinsip Merawat Hubungan/Kemitraan :
- Menciptakan semangat saling memberi dan membagi informasi
- Setiap pihak membutuhkan layanan khusus
- Menangkap pesan implisit
- Melestarikan kontak
- Membuat sistem jaringan
- Lembaga harus ditampilkan dan dikenalkan
- Pihak lain akan melihat apa yang bisa kita berikan dan tawarkan dan bukannya apa
yang bisa kita dapatkan
- Menampilkan saat moment yang tepat - Berusaha untuk hadir pada kegiatan jaringan
- Lembaga diperankan aktif

Keberhasilan Kemitraan, sangat ditentukan oleh :


1. adanya kepatuhan,
2. kepercayaan,
3. kebersamaan,
4. komitmen dan
5. kejujuran

Unsur-unsur Kemitraan
Tiga unsur utama dalam pengertian kemitraan yaitu:
a. Unsur kerjasama antara usaha kecil disitu pihak dan usaha menengah atau usaha besar
dilain pihak.
b. Unsur kewajiban pembinaan dan pengembangan oleh pengusaha menengah dan
pengusaha besar.
c. Usaha paling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan.

Tujuan Kemitraan
Tujuan kemitraan adalah untuk meningkatkan pemberdayaan usaha kecil dibidang
manajemen, produk, pemasaran, dan teknis, disamping agar bisa mandiri demi
kelangsungan usahanya sehingga bisa melepaskan diri dari sifat ketergantungan.10
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan kemitraan sebagai berikut:11
a. Meningkatkan pendapatan usaha kecil dan masyarakat
b. Meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pelaku kemitraan.
c. Meningkatkan pemerataan dan pemberdayaan masyarakat dan usaha kecil
d. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi perdesaan, wilayah dan nasional.
e. Memperluas kesempatan kerja.
f. Meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.

Hubungan Kemitraan
Hubungan kemitraan merupakan bentuk kerjasama dua orang atau lebih orang
atau lembaga untuk berbagi biaya, resiko, dan manfaat dengan cara menggabungkan
kompetensinya masing-masing.12 Sebagai pengembangan dari Hubungan kemitraan
perlu dipegang dan diusahaakan sebangai berikut:13
Mempunyai tujuan yang sama (common goal)
Tujuan dari semua perusahaan sebutulnya sama, yaitu dapat hidup dan
berkembang .untuk itu, harus terus-menerus menghasilkan barang/jasa yang bermutu
dengan harga yang layak sehingga laku terjual di pasaran dengan imbalan imbalan
keuntungan yang sama. Kesalahhan yang sering terjadi keuntungan merupakan tujuan
utama perusahaan.
Saling menguntungkan (mutual benefit)
Setiap pihak harus saling menghasilkan sesuatu yang saling menguntungan belah
pihak. Terjadinya kegagalan dalam mitra dikarnakan tidak bolehnya menguntungkan satu
pihak saja danmerugiakan pihak lain. Saling menguntungkan adalah motivasi yang sangat
kuat. Oleh karna itu, tidak ada satu pihak pun yang boleh merasa berada di atas pihak lain
dan semua harus merasa dan diperlakukan sejajar.

Saling mempercayai (muntual trust)


Saling percaya disini termaksuk dalam perhitungan biaya produksi dan harga barang/jasa
yang dihasilkan.Saling percaya juga tidak hanya pada kejujuran dan itikad baik masing-
masing, tetapi juga pada kapasitas masing-masing, tetapi juga pada kapabilitas masing-
masing untuk memenuhi perjanjian dan kesepakatan bersama, misalnya dalam ketepatan
waktu pembayaran, waktu penyerahan, dan mutu barang. Motivasi utama dalam
membangun kemitraan adalah yang saling percaya untuk membangun kemitraan yang
berjangka panjang harus membangun kepercayaan tersebut.

Bersifat terbuka (transparent)


Bersifat terbuka itu memang dalam batasan-batasan tertentu yang cukup luas pula, data
dari kedua belah pihak dapat dilihat oleh pihak lain. Termasuk disini ialah data
perhitungan harga dan sejenisnya tentu saja kedua belah pihak terikat secara legal
maupun moral untum merahasiakan .teransparansi dapat meningkatkan saling percaya
dan sebaliknya pula saling percaya memerlukan saling keterbukaan

Mempunyai hubungan jangka panjang (long term relationship)


Kedua belah pihak merasa saling percaya saling menguntungkan dan mempunyai
kepentingan yang sama, cendrung akan bekerjasama dalam waktu yang panjang, tidak
hanya 5 tahun atau 10 tahun, tetapi sering kali lebih dari 20 tahun. Hubungan jangka
panjang juga memungkinkan untuk meningkatkan mutu produknya.
Terus-menerus melakukan perbaikan dalam mutu dan harga/ biaya (continuous
improvement in quality and cost)
Salah satu perinsip yang penting dalam kemitraan adalah bahwa kedua belah
pihak harus senantiasa terus-menerus meningkatkan mutu barang atau jasa serta efisiensi
atau biaya atau harga barang/jasa dimaksud.Dengan demikian perusahaan dapat bertahan
dalam kompetisi global yang mangkin lama mangkin ketat.Ketahanan dalam kompetisi
menyebabkan perusahaan dapat tetap bertahan hidup dan dapat berkembang terus-
menerus dalam mutu dan harga barang merupakan kepentingan kedua belah pihak.
Implementasi “Environmental Ethics” di Unilever dan kaitannya dengan Business
Ethicsdan Good Governance (GCG dan GGG)

Unilever merupakan perusahaan yang sangat besar dan berskala global, serta
mempunyai kantor pusat di Belanda, sedangkan kantor di Indonesia merupakan salah satu
cabangnya, disamping cabang di negara-negara lainnya. Uniliver hadir di Indonesia sejak
tahun 1933. Sebagai perusahaan induk di Belanda, Unilever Plc menghendaki agar
Unilever Indonesia berkembang lebih besar lagi di Indonesia

Unilever Indonesia direncanakan menjadi basis operasi Unilever untuk memasok


produk-produk Unilever di kawasan Asia Tenggara. Beberapa produk Unilever yang
beredar di Malaysia, Filipina, dan Australia sekarang sebenarnya sudah berasal dari
Unilever Indonesia. Bagi kantor pusat Unilever yang berada di Belanda, anak perusahaan
yang berada di Indonesia ini memang terhitung sebagai penyumbang pendapatan
Unilever yang besar, terlebih setelah dipimpin oleh Maurits Lalisang (data 2007-2008).
Berbeda dengan pasar Unilever di sejumlah negara yang mengalami persaingan ketat
dengan kompetitornya, dan juga masalah penurunan penjualan, di Indonesia, dan negara-
negara di kawasan Asia Tenggara Unilever justru terus mengalami peningkatan
penjualan. Di wilayah Asia Tenggara, Unilever mampu membukukan kenaikan
keuntungan operasional hingga 23%.

Unilever telah memproduksi berbagai macam produk konsumen, kurang lebih


sudah menghasilkan 400 merek produk, dan hampir seluruhnya merupakan produk-
produk pemimpin pasar (sumber : http:www.Google.Com, Unilever dan Unilever
Indonesia). Produk di Indonesia diantaranya jenis sabun (New Lifebuoy, Lifebuoy Clear
Skin, Lux), pasta gigi (Pepsodent), es krim (Wall’s), shampo (Sunsilk, Clear, Lifebuoy
shampo), sabun deterjen ( Rinso ), mentega margarin (Blue Band), dan produk-produk
terkini lainnya.
Berikut ini salah beberapa contoh penerapan etika lingkungan pada produk unilever dan
karyawan.

Molto Ultra Sekali Bilas (Sustainable Living Plan)

 Mengurangi penggunaan air akibat kebiasaan membilas cucian sebanyak tiga kali
yang tidak perlu dilakukan lagi karena adanya Molto Ultra sekali bilas.
 Menggunakan kembali air bilasan tersebut untuk mengepel lantai dan mencuci
mobil.
 Penggunaan air secara efektif dan efisien untuk mencegah kekurangan persediaan
air di masa yang mendatang.

Relawan Karyawan Unilever Indonedia -> karyawan dilibatkan dalam kegiatan


pendidikan dengan memasukkan pesan – pesan keberlanjutan :

- penanaman pohon,
- pendidikan gizi terhadap anak
- anak sekolah dasar dalam kaitannya dengan Hari Pangan Sedunia,
- acara penggalangan dana Walk the World dan
- edukasi mengenai pemakaian biopi di halaman depan dan pekarangan pekarangan
rumah warga untuk meningkatkan resapan air.

Melalui program sukarelawan Unilever, mereka mengundang semua staf untuk


berpatisipasi dalam tindakan sederhana namun memberikan dampak yang cukup nyata
untuk mengurangi emisi melalui kegiatan menanam pohon, yang mana telah tertanam
15.000 pohon. Juga pada tahun 2010 mereka bekerja sama dengan Radio Hijau dan
mengadopsi area hutan khusus di Gunung Gede-Pangrango, Jawa Barat, di mana mereka
menanam 5.000 pohom. Program menanam pohon ini akan terus berlanjut ke depannya.
Secara keseluruhan ada 500.000 pohon yang berhasil ditanam melalui program
sukarelawan Unilever.
Pengelolaan dan Pendaur Ulangan Limbah “Creating a Better Future Every Day”

 Mendaur ulang kemasan

 Injeksi bahan bakar

 Memperkecil ukuran kemasan dan mengurangi lapisan pada kemasan sachet (shampo

 Mengurangi ketebalan kemasan (es krim)

 Mengurangi berat kaleng/kemasan (produk perawatan rambut dan kulit)

 Untuk urusan sampah makanan  partnership dengan WRAP dan juga Recyclebank
(sekarang Green Redeem) di Inggris untuk mengembangkan kampanye melalui social
media dengan menggunakan reward, permainan dan film untuk mengedukasi konsumen
mengenai sampah – sampah kantong teh dengan cara yang menarik dan menyenangkan.
Kampanye tersebut berhasil melaporkan kenaikan sebesar 24% mengenai orang – orang
yang mendaur ulang kantong – kantong teh mereka

 Unilever Food Solutions (UFS) di Inggris meluncurkan industri applikasi mobile


pertama yang membantu para koki untuk melacak sampah – sampah makanan.

LITTERBUG DAN TRASHION (Trash and Fashion)

Melalui program TRASHION, mereka telah mengumpulkan 300.000 kg sampah


dan program tersebut dapat mendorong wanita Indonesia untuk menjadi pengusaha
sampah/limbah. Program Bank Sampah/limbah (Waste Bank) dioperasikan di 10 kota
besar dan secara intensif di Jakarta dan Surabaya. Sistem ini memampukan masyarakat
untuk mengumpulkan sampah non organik dan menjualnya, sehingga mereka dapat
memiliki deposit di Bank Sampah/limbah (Waste Bank). Hingga sekarang Unilever
Indonesia sudah membantu 390 Bank Sampah/limbah.
Partnership

Untuk GHG, program masyarkat pengelolaan limbah dan air, mereka bekerja
sama dengan pemerintah local dan Indonesian Women Association (PKK) sebagai
partner mereka dalam memastikan keberlangsungan konservasi air dan perilaku ramah
lingkungan di masyarakat. Unilever Indonesia juga bekerja sama dengan 3 media besar
Indonesia– Kompas Daily, MetroTV, Female Radio – dan perusaah negara seperti
Perusahaan Minyak dan Gas, PT Pertamina,. Kegiatan partnership tersebut telah
berkembang menjadi besar dan juga merangkul perusahaan lain seperti National
Panasonic, Aqua Danone, yang mana partnership ini disebut Green Initiative Forum
(GIF).

Mengurangi Emisi Greenhouse Gas (GHG)

Sejak tahun 2008, PT UNILEVER telah secara aktif mengedukasi masyarakat dan
meningkatkan kesadaran masyarakat melalui kamanya lingkungan dan gerakan untuk
mengurangi pemanasan global. Tujuan : menciptakan gerakan popular secara masiv,
mengedukasi orang – orang mengenai dampak GHG sehingga mereka dapat mengambil
tindakan untuk menguranginya.

The Green Initiative Forum  Festival Hijau, sebuah acara yang bertujuan
mengedukasi orang bagaimana mereka dapat mengambil tindakan untuk mengurangi
jejak – jejak gas karbon, melalui pameran dan area pengalaman, dan juga talk show dan
pertunjukkan – pertunjukkan. (200.000 orang).

Unilever Indonesia sangat mengedepankan etika dan tanggung jawab sosial bisnis
perusahaan. Konsep etika dan tanggung jawab sosial bisnis yang dikedepankan oleh
perusahaan Unilever Indonesia adalah sebagai berikut :
a. Standar Perilaku

Dalam melaksanakan segala kegiatan, Unilever melakukannya dengan penuh


kejujuran, integritas dan keterbukaan dengan tetap menghormati hak asasi
manusia, menjaga keseimbangan para karyawan perusahaan dan menghormati
kepentingan sah relasi perusahaan.

b. Mematuhi Hukum

Semua Perseroan Unilever dan para karyawannya berkewajiban mematuhi


ketentuan hukum dan peraturan masing-masing negara di tempat mereka
melaksanakan usahanya.

c. Karyawan

Unilever memiliki komitmen pada keanekaragaman dalam lingkungan kerja yang


diwarnai oleh sikap saling percaya dan saling menghormati di mana semua
memiliki rasa tanggung jawab atas kinerja dan reputasi Perseroan.

d. Konsumen

Unilever memiliki komitmen untuk menyediakan produk bermerek dan pelayanan


yang secara konsisten menawarkan nilai dari segi harga dan kualitas serta aman
bagi tujuan pemakaiannya. Produk-produk dan pelayanan-pelayanan Unilever
akan diberi label, disampaikan melalui iklan-iklan dan dikomunikasikan secara
tepat dan semestinya.

e. Lingkungan

Unilever memiliki komitmen untuk terus menerus mengadakan perbaikan dalam


pengelolaan dampak lingkungan dan mendukung sasaran jangka panjang untuk
mengembangkan suatu bisnis yang berdaya tahan. Unilever akan bekerja sama
dalam kemitraan dengan pihak lain untuk menggalakkan kepedulian lingkungan,
meningkatkan pemahaman akan masalah lingkungan dan menyebar-luaskan
budaya karya yang baik.

f. Keterlibatan Pada Masyarakat

Unilever berupaya menjadi perusahaan yang dapat diandalkan, dan sebagai bagian
integral dari masyarakat serta memenuhi kewajiban terhadap masyarakat dan
komunitas setempat.

g. Persaingan Bisnis

Unilever percaya akan persaingan ketat namun sehat dan mendukung


pengembangan perundang-undangan tentang persaingan yang sesuai. Perseroan
Unilever beserta karyawannya akan melakukan kegiatan yang sesuai dengan
prinsip persaingan sehat dan mengikuti semua aturan yang berlaku.

h. Inovasi

Dalam upaya melaksanakan inovasi ilmiah demi memenuhi kebutuhan konsumen,


Unilever akan senantiasa merujuk kepada keinginan konsumen dan masyarakat.
Unilever akan bekerja atas dasar ilmu yang tepat, dan menerapkan standar
keamanan produk secara ketat.

i. Integritas Bisnis

Unilever tidak menerima ataupun memberi, entah secara langsung atau tidak
langsung, suapan atau keuntungan lannya yang tidak pantas demi keuntungan
bisnis atau finansial. Tidak satu pun karyawan Unilever yang boleh menawarkan,
memberi ataupun menerima hadiah atau pembayaran yang merupakan, atau dapat
diartikan sebagai sarana suap. Setiap tuntutan, atau penawaran suap harus ditolak
langsung dan dilaporkan kepada manajemen.
Dari penjelasan di atas tentang sekupan etika bisnis dan tanggung jawab sosial yang
dijalankan oleh Unilever Indonesia hingga sekarang, dapat dilihat betapa konsistennya
Unilever Indonesia dalam menerapkan dan mengimplementasikan etika bisnis dan
tanggung jawab sosial dalam segala aspek aktifitas organisasi. Serta penerapan etika
lingkungan yang menjadi bagian dari etik bisnis itu sendiri dengan ototmatis diterapkan
dengan baik oleh unilever sendiri. Hal ini menandakan bahwa Unilever Indonesia
sebagai bagian perusahaan global mampu menunjukan eksistensinya dalam dunia
persaingan internasional. Unilever tidak hanya berkutat dalam menghasilkan produk-
produk yang berkualitas saja, melainkan dari segi perusahaan, hukum, bisnis, karyawan,
lingkugan dan bidang lainnya tetap harus mengedepankan etika bisnis yang baik
sehingga membuat etika lingkunganpun menjadi baik . Hal inilah yang membedakan
Unilever dengan perusahaan-perusahaan lainnya. Dapat dikatakan tidak ada perusahaan
yang mempunyai konsep etika bisnis dan etika sosial yang menyeluruh sebagaimana
konsep yang dikedepankan oleh Unilever.
Review Jurnal

Finding Common Ground: Environmental Ethics, Social Justice, and a Sustainable


Path for Nature-Based Health Promotion

Viniece Jennings 1,*, Jessica Yun 2 and Lincoln Larson 3

1 Southern Research Station, Integrating Human and Natural Systems, USDA Forest
Service, 320 Green Street, Athens, GA 30602, USA

2 Department of Environmental Planning, Graduate School of Environmental Studies,


Seoul National University, Building 82, 1 Gwanak-ro, Gwanak-gu, Seoul 08826, Korea;
jessjyun@snu.ac.kr

3 Department of Parks, Recreation, and Tourism Management, Clemson University, 298


Lehotsky Hall, Clemson, SC 29634, USA; lrl@clemson.edu * Correspondence:
vjennings02@fs.fed.us; Tel.: +1-706-559-4274

Academic Editor: Sampath Parthasarathy Received: 17 May 2016; Accepted: 18 August


2016; Published: 25 August 2016

Decades of research have documented continuous tension between


anthropocentric needs and the environment’s capacity to accommodate those needs and
support basic human welfare. The way in which society perceives, manages, and
ultimately utilizes natural resources can be influenced by underlying environmental
ethics, or the moral relationship that humans share with the natural world. This discourse
often centers on the complex interplay between the tangible and intangible benefits
associated with nonhuman nature (e.g., green space), both of which are relevant to public
health. When ecosystem degradation is coupled with socio-demographic transitions,
additional concerns related to distributional equity and justice can arise. In this
commentary, we explore how environmental ethics can inform the connection between
the ecosystem services from green space and socially just strategies of health promotion.

Introduction

A transformative perspective on public health requires insight from the


environmental field [1]. From Hardin’s seminal essay on the tragedy of the commons [2]
to the contemporary discussion on public goods [3], society is reminded that natural
resources are limited and represent a critical component of the system that supports the
human condition. Likewise, one’s perception, management, and use of natural resources,
all of which are inherently cultural, can be influenced by environmental ethics, a branch
of philosophy that explores the moral relations between humans and nonhuman nature
[4,5]. While environmental ethics has many theoretical components, the field has
practical applications as well. For example, environmental ethics includes axiology, the
study of values and valuation, which can relate to other duties and obligations within the
human-nature relationship [6]. Just as social ethics can guide how humans behave
towards each other, environmental ethics can guide how humans relate to and manage the
natural resources that surround them.

This article examines the role of environmental ethics in health promotion by


exploring the complex concept of ecosystem services and considering the health
implications of non-human nature (e.g., green spaces) through an environmental justice
perspective.

Ecosystem Services and Public Health Benefits

Nature provides an array of ecosystem services (e.g., water purification, timber,


sources of food, outdoor recreation) that highlight inextricable links between humans and
the ecosystems that support their health [12]. The ecosystem services framework can also
encourage a systems thinking approach which recognizes the different components within
a given system. For instance, the provision of ecosystem services is mediated through
biophysical factors, ecological structures, and processes which result in outputs from
nature that can be beneficial to humans. Changes to ecological structure and functions
have a range of human health implications that researchers should continue to explore
[13]. As an illustration, green spaces provide various ecosystem services (e.g., aesthetic
surroundings, shade, etc.) that can alleviate health challenges such as obesity,
cardiovascular disease, mental health concerns, and heat-related illness

Ecosystems’ Public Health Benefits and the Role of Environmental Ethics

One of the most fundamental issues in environmental ethics is the debate


regarding the valuation of nonhuman nature [6,28]. While some scholars claim that
nonhuman nature has an intrinsic (or inherent) moral value independent of the existence
of humans, others advance nature’s non-intrinsic values to humans in a variety of ways

fundamental value refers to acknowledging the worth of nature as essential to the


condition of life and not merely a means to increase utility [6]. Meanwhile, eudaimonistic
value refers to recognizing nature for its ability to improve humans' general quality of
life, usually in terms of leisure and aesthetic experiences [6]. Many studies, for example,
document how green space can be positively associated with happiness [30] and other
measures of subjective well-being [8]. Integrating such perspectives on the valuation of
nonhuman nature can improve how environmental ethics are merged with frameworks in
ecosystem services and health promotion

Environmental Justice as an Expression of Environmental Ethics

The environmental justice movement, which stemmed from concerns that


environmental burdens (e.g., landfills, toxic emitting facilities, etc.) were
disproportionately located in minority communities and economically impoverished
neighborhoods [35], also seeks to reduce inequitable distribution of environmental
benefits to humans [36]. As issues in justice prompt essential ethical concerns [6],
environmental ethics becomes intertwined with the field of environmental justice.
However, the underlying role of ethics in environmental justice may not be obvious or
explicitly shown in the literature. Despite limited dialogue between these areas through
the years, an ethical perspective on environmental justice can be beneficial to both fields

Balancing Environmental Ethics, Environmental Justice and Health

Conclusion

Environmental ethics and environmental justice are the transformative lenses


through which ecosystem services are leveraged to yield sustainable health outcomes for
individuals from all backgrounds. Cultivation of an environmental ethic may support the
valuation and ultimate conservation of important ecosystem services from both
anthropocentric and biocentric/ecocentric perspectives. Similarly, strengthening the
ethical foundation of justice concerns can support effective policy implementation and
concerns related to environmental injustice [37], thereby impacting theprovision of
nature-related health amenities and disservices. It is therefore vital to incorporate multiple
levels of environmental awareness and stewardship into health care education and
administration [15]. The values and moral responsibilities that are expressed in
environmental ethics can influence our perception of nonhuman nature, environmental
justice, and their relationship to public health. Others recommend further integration of
environmental concerns in medical education to develop an environmental consciousness
in fields such as preventive medicine [15,56,59]. Since many factors that affect health are
regulated outside the realms of health agencies [60], it is critical to truly approach health
from an interdisciplinary perspective. The ideals of fairness, equality, and justice,
particularly in an environmental context, should be guiding principles to steer research in
a variety of fields [51] that have public health implications [15]. A symbiotic
conversation on social justice, ecosystem services, and health can evolve as these
linkages are made, thereby generating insights that support human populations, present
and future.
Sumber:
1. https://pendidikpembebas.wordpress.com/2011/09/04/analisis-pemangku-
kepentingan-stakeholders-dalam-manajemen/ (diakses 26.09.18)
2. https://fakhrurrojihasan.wordpress.com/2014/03/09/apa-saja-kepentingan-
stakeholders-terhadap-perusahaan-anda/(diakses 26.09.18)
3. http://vindyirfani.blogspot.com/2014/05/pengertian-dan-jenis-
stakeholder.html(diakses 26.09.18)
4. https://4riendya.wordpress.com/2010/12/23/filosofi-pelestarian-lingkungan-
hidup/(diakses 26.09.18)
5. https://wahjudinsumpeno.wordpress.com/2012/07/23/teori-pemangku-
kepentingan/(diakses 26.09.18)
6. Hapzi Ali, 2016. Modul BE & GG, Univeristas Mercu Buana.
7. Darmaji, Tjiptono, 2005, Strategi Bisnis : 60 Cara Cerdas Mengelola dan
Mengembangkan Perusahaan, Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.
8. https://silipysilipay.wordpress.com/2016/10/10/etika-bisnis-pada-pt-unilever/

(diakses 26.09.18)

1. http://ddesar.blogspot.com/2014/10/etika-bisnis-pada-pt-unilever_13.html(diakses
26.09.18)
2. https://konsultankti.wordpress.com/2015/09/19/etika-bisnis-dan-tanggung-jawab-
sosial-perusahaan-contoh-penerapan-pada-perusahaan-unilever-indonesia/(diakses
26.09.18)
3. https://www.unilever.co.id/(diakses 26.09.18)