Anda di halaman 1dari 11

SEJARAH PERKEMBANGAN

ARSITEKTUR II

ARSITEKTUR VERNAKULAR MASJID AL-HIKMAH DI BALI

DIBUAT OLEH :

INDRA NAINGGOLAN
(158140008)

DOSEN PENGASUH :

YUNITA SYAFITRI RAMBE ST,MT

Universitas Medan Area


Tehnik Arsitektur
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas selesainya
makalah ini yang berjudul “ARSITEKTUR VERNAKULAR MASJID AL HIKMAH DI
BALI.Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman penulis. Kami yakin masih
banyak kekurangan dalam makalah ini.

Oleh karena itu kami sangat mengaharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................i

DAFTAR ISI........................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG...........................................................................................iii
B. RUMUSAN MASALAH......................................................................................iv
C. TUJUAN............................................................................................................v

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................................vi

BAB III DESKRIPSI PROYEK............................................................................................vii

BAB IV ANALISA...............................................................................................................viii

BAB V PENUTUP...............................................................................................................ix
BAB I

PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

Bali, selain dikenal memiliki eksotisme alam yang luar biasa, juga telah diakui banyak
kalangan sebagai provinsi yang memiliki banyak keunikan budaya. Masyarakat Bali
secara umum dianggap mampu mempertahankan budaya yang telah diwariskan nenek
moyang mereka meski telah berpuluh-puluh tahun digempur dengan masuknya banyak
orang asing terutama wisatawan yang datang dengan membawa budaya-budaya baru.
Salah satu bentuk lestarinya budaya asli Bali dapat kita lihat dari adanya desain rumah
adat yang sangat familiar dan hampir digunakan semua penduduk Bali, yakni rumah adat
bernama Gapura Candi Bentar yang kini juga telah resmi menjadi rumah adat Bali.

Di Bali kita banyak menemukan dan melihat bangunan seperti hotel,dan masjid yang
menggunakan ornamen dan tanda dari arsitektur tradisional salah satunya adalah
bangunan MASJID AL HIKMAH yang akan mejadi pembahahasan kali ini.

B.RUMUSAN MASALAH

1.Mengapa bangunan Masjid Al Hikmah masih mempertahankan gaya arsitektur


vernakular diera modern sekarang?

C.TUJUAN

a.Agar pembaca dapat mengetahui sebagian tentang gaya arsitektur vernakular pada
bangunan Masjid Al-Hikmah di bali yang jarang di publish.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Rumah Adat Bali Rumah adat satu ini adalah cerminan dari budaya Bali yang sarat akan
nilai-nilai Hindu. Beragam keunikan dari sisi arsitekturnya maupun dari makna filosofis
yang terkandung di dalamnya menjadikan rumah adat Bali ini begitu menarik untuk
diketahui lebih detail. Nah, di artikel kali ini kami akan mengulas keunikan-keunikan dari
rumah adat bernama Rumah Gapura Candi Bentar ini khusus untuk Anda.

Rumah Adat Bali

1. Struktur Ruangan Rumah Nama Gapura Candi Bentar yang dimiliki rumah ini
sebetulnya berasal dari desain gapura atau pintu masuknya yang diukir sedemikian rupa
sehingga tampak seperti candi. Gapura ini berukuran cukup besar dan dibangun tanpa
atap penghubung. Hanya ada 2 bangunan candi yang kembar saling berhadapan dan
saling terpisah. Keduanya hanya dihubungkan oleh beberapa anak tangga dan pagar
pintu yang biasanya dibuat dari besi. Melongok ke bagian dalam pagar tembok
(panyengker), kita akan melihat bahwa rumah adat Bali ini memang sarat dengan nilai-
nilai Hindu. Terdapat sebuah bangunan suci di depan rumah yang biasa digunakan untuk
bersembahyang. Sama seperti gapura, bangunan tempat ibadah yang bernama Sanggah
atau Pamerajan itu juga dipenuhi dengan ukiran dan ornamen-ornamen khas Bali beserta
totem-totem pemujaan. Di tempat inilah sesaji diletakan para wanita setiap hari. Adanya
tempat ibadah dalam desain rumah adat Bali merupakan bukti nyata kuatnya masyarakat
Bali dalam memegang erat falsafah Asta Kosala Kosali. Falsafah ini mengatur hidup
masyarakat Bali tentang hubunganya dengan Tuhan, hubungannya dengan manusia lain,
dan hubungannya dengan alam. Masuk ke bagian dalam rumah, kita akan melihat
beberapa ruangan yang memiliki fungsinya masing-masing. Panginjeng Karang. Ruangan
ini merupakan tempat untuk memuja yang menjaga pekarangan. Bale Manten. Ruangan
ini merupakan tempat untuk tidur kepala keluarga, anak gadis dan tempat menyimpan
barang-barang berharga. Bagian ini juga sering digunakan bagi pasangan yang baru
menikah. Bale Gede atau Bale Adat. Ruangan ini merupakan tempat untuk upacara
lingkaran hidup. Bale Dauh. Ruangan ini merupakan tempat untuk bekerja, digelarnya
pertemuan, dan tempat tidur anak laki-laki. Paon. Ruangan ini merupakan dapur yang
digunakan sebagai tempat memasak Lumbung. Ruangan ini merupakan tempat untuk
penyimpanan makanan pokok, seperti padi dan hasil bumi lainnya.

2. Material Bangunan Secara umum, material yang digunakan untuk membangun rumah
Gapura Candi Bentar tidak dapat disamaratakan karena pengaruh tingkat ekonomi dan
strata sosial pemiliknya. Untuk masyarakat biasa, dinding rumah ini biasanya dibangun
menggunakan speci yang dibuat dari tanah liat (popolan), sementara untuk golongan
bangsawan biasanya dibangun menggunakan tumpukan bata. Adapun atapnya sendiri
bisa dibuat dari genting tanah, alang-alang, ijuk, atau sejenisnya sesuai dengan
kemampuan finansial pemilik rumah.

3. Nilai-Nilai Dalam Rumah Adat Bali Selain berfungsi sebagai ikon budaya dan tempat
tinggal, rumah Gapura Candi Bentar nyatanya juga mengandung beragam nilai filosofis
yang menggambarkan kearifan lokal budaya Masyarakat Bali. Rumah Adat Bali (Gapura
Candi Bentar) Dalam pembangunan misalnya, rumah adat ini dibuat melalui serangkaian
proses panjang, mulai dari proses pengukuran tanah (nyikut karang), ritual persembahan
kurban dan mohon izin kepada leluhur untuk mendirikan rumah (caru pengerukan
karang), ritual peletakan batu pertama (nasarin), proses pengerjaan, dan kemudian
ditutup dengan upacara syukuran saat rumah selesai dibangun. Semua ritual tersebut
pada intinya dilakukan dengan tujuan agar rumah yang didirikan dapat memberikan
manfaat terbaik bagi si pemilik rumah. Ada pula beberapa aturan lain yang terdapat dalam
tata letak dan pengaturan bagian rumah adat Bali ini. Umumnya, sudut utara dan timur
rumah menjadi tempat yang disucikan, sementara sudaut barat dan selatan memiliki
derajat kesucian yang lebih rendah. Hal ini membuat kita selalu menemukan tempat
ibadah di sudut utara dan timur, dan tempat buang air, kamar mandi, dan penjemuran
berada di sudut barat dan selatan. Nah, demikian sekilas pemaparan yang dapat kami
sampaikan tentang arsitektur rumah adat Bali yang bernama rumah Gapura Candi Bentar.
Semoga dengan gambar dan penjelasan setiap sudut bagian rumah yang telah kami
Ragam hias/ukiran yang dikenakan pada bagian-bagian bangunan dari jenis tumbuhan
antara lain:

keketusan yakni motif tumbuhan yang dibuat dengan lengkungan-lengkungan serta


bunga-bunga besar dan daun-daun yang lebar, biasanya ditempatkan pada bidang-
bidang yang luas. Keketusan ini ada bermacam-macam seperti keketusan wangsa,
keketusan bunga tuwung, keketusan bun-bun dan lain-lain.

kekarangan, suatu pahatan dengan motif suatu karangan yang memyerupai tumbuhan
lebat dengan daun terurai ke bawah atau menyerupai serumpun perdu. Hiasan ini
biasanya dipahatkan pada sudut kebatasan sebelah atas, disebut karang simbar, dan
ditempatkan pada sendi tiang tugek disebut karang suring.

pepatran, merupakan hiasan bermotif bunga-bungaan. Misalnya Patra Sari ditempatkan


pada bidang yang sempit seperti tiang-tiang dan blandar, patra lainnya adalah patra pid-
pid, patra samblung, patra pal, patra ganggong, patra sulur dan lain-lain, semuanya dalam
bentuk berulang atau berderet memanjang.

Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbol-
simbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga
berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung yang disebut
Pratima, patung sebagai bagian dari bangunan berbentuk Bedawang nala.
Kadang-kadang sebagai corak magis lengkap dengan huruf simbol mantra-mantra.
Misalnya hiasan karang bona berbentuk kepala raksasa yang dilukiskan dari leher ke atas
lobang pintu kori Agung atau pada Bade wadah. Hiasan karang sal berbentuk kepala
kelelawar bertanduk dengan gigi runcing ditempatkan di atas pintu kori atau pintu rumah
tinggal dan beberapa tempat lainnya.
BAB III

DESKRIPSI PROYEK

Masjid Al-Hikmah
Masjid Al Hikmah yang berlokasi di Jalan Soka, Kesiman, Kota Denpasar, Bali, tetap
mempertahankan arsitektur khas Bali sebagai bentuk kerukunan antarumat Hindu dan Islam di
Pulau Dewata. Masjid yang dibangun di atas lahan seluas 8 area itu awalnya didirikan oleh
sesepuh masyarakat Muslim pada tahun 1978 dengan biaya swadaya.
Tahun 1995, sesepuh Muslim di Pulau Dewata yakni Sunarno melontarkan ide membangun masjid
itu dengan memadukan arsitektur Bali seperti ukiran di setiap pintu dan gapura. Warga Muslim di
kawasan Desa Kesiman bekerja sama dengan seniman Bali membuat bangunan tersebut sehingga
bisa terbangun megah seperti saat ini. Sementara bahan baku seperti kayu didatangkan langsung
dari Jepara, namun pengerjaannya dilakukan di Bali oleh seniman Bali.
Selain itu, setiap sudut ruangan masjid seperti pintu dan kusen dihiasi ukiran khas Bali sehingga
sepintas terlihat seperti bangunan puri yang unik. Masjid ini juga menjadi salah satu masjid yang
unik.
Selain dipergunakan shalat, masjid itu juga digunakan oleh warga Muslim untuk kegiatan
keagamaan seperti ngaji dan kegiatan positif lainnya.Mayoritas penduduk Bali beragama Hindu,
namun pemeluk agama lain juga berkembang di Pulau Dewata, meski jumlahnya tidak banyak
secara kuantitas, karena pemeluk Islam juga hanya 2 persen.
BAB IV ANALISA

Lazimnya bangunan masjid di Indonesia, tempat ibadah umat Islam tersebut biasanya
memiliki kubah di bagian atapnya. Namun, di Bali, terdapat sebuah masjid yang
berarsitektur khas Bali.

Bahkan jika diperhatikan lebih seksama, bangunan Masjid bernama Al-Hikmah ini sekilas
mirip dengan sebuah pura, tempat sembahyang masyarakat Hindu.

Masjid Al-Hikmah yang terletak di Jalan Soka, Nomor 18 Denpasar, berdiri di atas lahan
seluas 50 meter persegi sejak tanggal 18 November 1978. Seluruh bangunan masjid ini
menggunakan gaya arsitektur khas Bali.

Nuansa Bali dalam masjid ini terasa mulai dari gapura pintu masuk, hingga ukir-ukiran
yang menghiasinya. Begitu pula dengan nama masjid, yang menggunakan aksara bahasa
Bali kuno, di samping tulisan Bahasa Indonesia.

1.warna dasar bangunan masjid Al HIKMAH abu-abu kehitaman sedangkan warna dasar
bangunan yang umum di bali coklat keemasan.

2.Bangunan masjid al hikmah menggunakan ukiran khas bali atau ciri khas umum
bangunan di bali.
TUJUAN

Agar sipembaca dapat menambah lagi wawasan mengenai arsitektur vernakular bali
dengan objek bangunan masjid Al Hikmah dan dapat dijadikan sebagai acuan penambah
wawasan.

BAB V PENUTUP

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil temuan ini maka dapat disimpulkan terdapat penggabungan gaya
arsitektur bali pada bangunan masjid Al Hikmah dan juga masih menerapkan ciri khas
ukiran adat bali pada bangunan maasjid tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber: http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/10/rumah-adat-bali-gapura-candi-
bentar.html