Anda di halaman 1dari 10

HEMATOLOGI I

Oleh :
Nama : Dian Setyowati
NIM : B1A016146
Rombongan : VI
Kelompok :5
Asisten : Annisa Fitri Larassagita

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang

Darah merupakan sistem transpor yang berfungsi antara lain membawa zat
makanan dari saluran pencernaan menuju jaringan, membawa produk akhir
metabolisme dari sel ke organ ekskresi, serta membawa oksigen dari paru-paru ke
jaringan yang mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan
mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit, sebagai alat pertahanan mikro
organisme yang masuk ke dalam tubuh (Handayani et al., 2013). Darah adalah
matrik cairan dan merupakan jaringan pengikat terspesialisasi yang dibentuk dari
sel-sel bebas (Bryon & Doroth, 1973).
Hematologi merupakan cabang ilmu kesehatan yang mempelajari darah,
organ pembentuk darah dan penyakitnya, hematologi digunakan sebagai petunjuk
keparahan suatu penyakit. Perubahan hematologi dan kimia darah baik secara
kualitatif maupun kuantitatif dapat menentukan kondisi kesehatan hewan. Sel dan
plasma darah mempunyai peran fisiologis yang sangan penting dalam diagnosis,
prognosis dan terapi suatu penyakit (Hadikaswoto, 1982).
Pengukuran hematologi merupakan pengukuran yang meliputi pengukuran
kadar hemoglobin, perhitungan total eritrosit, perhitungan total leukosit dan
pengukuran hematokrit. Hematokrit adalah istilah yang menunjukan besarnya
volume sel-sel eritrosit seluruhnya di dalam 100 mm3 darah dan dinyatakan dalam
persen (%). Nilai Hematrokit adalah suatu istilah yang artinya prosentase
berdasarkan volume dari darah, yang terdiri dari sel darah merah (Hoffbrand &
Pettit, 1987).

1.2 Tujuan

Tujuan praktikum hematologi I adalah untuk memberikan keterampilan


pada mahasiswa tentang cara pengambilan darah hewan, serta cara melakukan
perhitungan sel darah merah, sel darah putih, kadar hemoglobin dan hematokrit
hewan.
II. MATERI DAN CARA KERJA

2.1 Materi

Alat yang digunakan meliputi haemositometer, haemometer, tabung Sahli,


pipet kapiler, mikroskop, object glass, cover glass, spuit, dan hand counter.
Bahan yang digunakan pada praktikum hematologi I adalah ikan nila
(Oreochromis niloticus), ayam (Gallus gallus), mencit (Mus musculus), ikan
gurami (Osphronemus goramy), ikan nilem (Osteochilus vittatus), larutan Hayem,
larutan Turk, larutan HCl 0,1 N, akuades dan larutan EDTA.

2.2 Cara Kerja

A. Menghitung jumlah leukosit (pengenceran 10 kali)


1. Darah hewan diisap menggunakan mikropipet sampai pengenceran
menunjukkan angka1.
2. Larutan Turk diisap hingga angka 11.
3. Pipa karet diambil dari pipet, kemudian pipet dipegang pada kedua
ujungnya dengan ibu jari telunjukdan dikocok selama 2 menit.
4. Beberapa tetes (1-2 tetes) dibuang, kemudian tetesan berikutnya digunakan
untuk perhitungan.
5. Bilik hitung disiapkan, cairan dalam pipet diteteskan sehingga cairan dapat
masuk dengan sendirinya ke dalam bilik hitung.
6. Haemositometer diamati dibawah mikroskop.
7. Semua leukosit yang terdapat di dalam bujur sangkar pojok dihitung.
Perhitungan :
Jumlah leukosit per mm3= 25L
B. Menghitung jumlah eritrosit (pengenceran 100 kali)
1. Darah hewan diisap menggunakan mikropipet sampai pengenceran
menunjukkan angka1.
2. Larutan Hayem diisap hingga angka 101.
3. Pipa karet diambil dari pipet, kemudian pipet dipegang pada kedua
ujungnya dengan ibu jari telunjukdan dikocok selama 2 menit.
4. Beberapa tetes (1-2 tetes) dibuang, kemudian tetesan berikutnya digunakan
untuk perhitungan.
5. Bilik hitung disiapkan, cairan dalam pipet diteteskan sehingga cairan dapat
masuk dengan sendirinya ke dalam bilik hitung.
6. Haemositometer diamati dibawah mikroskop.
7. Semua eritrosit dihitung yang terdapat di dalam bujur sangkar kecil.
Perhitungan :
Jumlah eritrosit per mm3= 5000E
C. Mengukur kadar hemoglobin dengan metode Sahli
1. Tabung Sahli diisi dengan HCl 0,1 N hingga angka 10.
2. Darah diisap melalui pipet Sahli sampai skala 20 μl.
3. Darah dimasukkan ke tabung Sahli yang telah diisi HCl.
4. Tabung ditempatkan pada komparator.
5. Akuades ditambahkan hingga warna larutan pada tabung Sahli sama
dengan warna larutan indikator.
6. Tabung diambil dari komparator dan miniscus larutan Hb diperhatikan.
D. Mengukur nilai hematokrit
1. Sampel darah diambil menggunakan pipet kapiler heparin sampai ¾
bagian panjangnya.
2. Ujung pipet kapiler ditutup menggunakan plastisin.
3. Selanjutnya disentrifugasi menggunakan mikrosentrifus dengan kecepatan
1200 rpm selama 3 menit.
4. Korpuskula darah diukur menggunakan hematocrit reader.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel 3.1 Hasil Pengamatan Hematologi Darah Rombongan VI


Nama Kadar Nilai
Kelompok ∑ Eritrosit ∑ Leukosit
Hewan Hemoglobin Hematokrit
1 Nila 340.000 9.300 6,1 26%
2 Ayam 1.475.000 11.300 7 20%
3 Mencit 1.970.000 3.350 5,1 22%
4 Gurami 1.010.000 4.250 9 27%
5 Nilem 8.785.000 79.075 10 Lisis

Perhitungan kelompok 5
∑ eritrosit = E/80 × 4000 × 100
= E × 5000
= (335+621+194+330+277) × 5000
= 1757 × 5000
= 8785000 sel/mm3
∑ leukosit = L/64 × 160 × 10
= 25 × L
= 25 × (804+649+905+705)
= 25 × 3163
= 79075 sel/mm3
3.2 Pembahasan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh data jumlah sel darah
merah (eritrosit) ikan nila adalah 340.000 sel/mm3, ikan nilem adalah 8.785.000
sel/mm3 dan ikan gurami 1.010.000 sel/mm3. Menurut Purwanti et al. (2014) jumlah
eritrosit ikan normal adalah 1,05 × 106 – 3,0 × 106 sel/mm3. Jumlah eritrosit ayam
adalah 1.475.000 sel/mm3. Kadar tersebut adalah tidak normal karena menurut
Handayani et al. (2013) kadar eritrosit ayam normal berkisar 2.000.000 – 3.200.000
sel/mm3. Jumlah eritrosit mencit adalah 1.970.000 sel/mm3. Kadar eritrosit mencit
normal berkisar 4.000.000 sel/mm3.
Jumlah sel darah putih (leukosit) ikan nila adalah 9.300 sel/mm3, ikan nilem
adalah 79.075 sel/mm3 dan ikan gurami adalah 4.250 sel/mm3. Menurut Gay (1987)
jumlah leukosit ikan normal adalah berkisar antara 20 – 150 × 103 sel/mm3. Jumlah
leukosit ayam adalah 11.300 sel/mm3. Jumlah leukosit mencit adalah 3.350 sel/mm3.
Menurut Hoffbrand & Pettit (1987), jumlah leukosit pada mamalia adalah 4.000-11.000
sel/mm3.
Kadar Hemoglobin (Hb) ikan nila yang diperoleh adalah 6,1g/dl; ayam 7g/dl;
mencit 5,1g/dl; gurami 9g/dl; dan nilem 10g/dl. Hb berfungsi mengikat oksigen yang
digunakan untuk proses katabolisme sehingga dihasilkan energi. Kadar hemoglobin
selaras dengan jumlah eritrosit. Semakin tinggi kadar hemoglobin semakin tinggi pula
jumlah eritrosit (Purwanti et al., 2014).
Hematology berasal dari bahasa Romawi hemat yang berarti darah yang berarti
darah dan ology yang berarti belajar atau mempelajari. Hematology adalah ilmu yang
mempelajari aspek anatomi , fisiologi dan patologi darah. Komponen darah terdiri
plasma dan unsur-unsur pembentuk darah yaitu eritrosit, leukosit dan trombosit
(Nurcholis et al., 2013).
Darah merupakan sistem transpor yang berfungsi antara lain membawa zat
makanan dari saluran pencernaan menuju jaringan, membawa produk akhir
metabolisme dari sel ke organ ekskresi, serta membawa oksigen dari paru-paru ke
jaringan yang mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan
mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit, sebagai alat pertahanan mikro
organisme yang masuk ke dalam tubuh (Handayani et al., 2013).
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, cara mengambil darah ikan nilem
(Osteochilus vittatus) adalah pertama ikan diangkat dari akuarium. Kemudian dicari
bagian jantungnya didaerah ventral. Menurut Dukes (1995), darah ikan diambil
langsung pada bagian cor (jantung). Darah dihisap perlahan-lahan dengan menggunakan
spuit. Lalu darah yang telah diambil dimasukkan ke mangkuk kecil.
Larutan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah larutan turk yang
berfungsi untuk mengencerkan leukosit. Larutan hayem digunakan untuk mengencerkan
eritrosit. Akuades sebagai pengencer. Larutan HCl untuk menimbulkan reaksi dan
menghasilkan warna senyawa hernatin asam yang berwarna coklat pekat pada
hemoglobin. Larutan EDTA digunakan untuk mengencerkan darah yang menggumpal
(Hoffbrand & Pettit, 1987).
Darah terdiri dari komponen cair yang disebut plasma dan berbagai unsur yang
dibawa dalam plasma yaitu sel-sel darah. Sel-sel darah terdiri dari eritrosit atau sel
darah merah, yaitu sel yang mengangkut oksigen, leukosit atau sel darah putih yaitu sel
yang berperan dalam kekebalan dan pertahanan tubuh dan trombosit yaitu sel yang
berperan dalam homeostasis (Frandson, 1992). Spesies hewan air memiliki ukuran
eritrosit lebih besar. Trombosit memiliki sel yang berbentuk sangat kromofilik, terpusat
dan datar berbentuk oval (Çiçek et al., 2015).
Hematokrit berasal dari kata haimat yang artinya darah dan krinein yang berarti
pemisahan. Proses pemisahan darah melalui uji hematokrit dilakukan dengan cara
mengambil beberapa mili volume darah baik darah vena ataupun darah kapiler, lalu
memasukannya kedalam suatu tabung khusus, dan memutarnya didalam alat centrifuge
dalam waktu dan kecepatan tertentu. Untuk pemeriksaan hematokrit darah tidak boleh
dibiarkan menggumpal sehingga harus diberi antikoagulan. Setelah tabung tersebut
diputar dengan kecepatan dan waktu tertentu, maka eritrosit akan mengendap (Sadikin,
2001). Nilai hematokrit standar adalah sekitar 45%, namun nilai ini dapat berbeda-beda
tergantung species. Nilai hematokrit biasanya dianggap sama manfaatnya dengan
hitungan sel darah merah total (Frandson, 1992).
Menurut Bevelander & Ramaley (1988), ada korelasi kuat antara jumlah
hematokrit dan jumlah hemoglobin darah, semakin rendah jumlah sel-sel darah merah
maka semakin rendah pula kandungan hemoglobin dalam darah. Menurut Guyton
(1976), kadar hemoglobin bervariasi dengan jumlah sel darah merah yang ada. Secara
fisiologis, hemoglobin sangat penting untuk kehidupan hewan dan sangat menentukan
kemampuan kapasitas pengikatan oksigen oleh darah.
Hemoglobin merupakan bagian dari sel darah merah yang mengikat oksigen.
Darah terdiri atas sel-sel dan fragmen-fragmen sel yang terdapat secara bebas dalam
medium yang bersifat cair yang disebut plasma darah. Sel-sel dari fragmen sel
merupakan unsur darah yang disebut unsur jadi. Sel ini berukuran cukup besar sehingga
dapat diamati dengan mikroskop biasa. Plasma darah merupakan bagian yang cair dari
darah yang terdiri dari 99 % air dan 8-9 % protein (Kimball, 1991).
Menurut Moyle & Cech (2001), jumlah leukosit dipengaruhi oleh kondisi tubuh,
stress, kurang makan atau disebabkan oleh faktor lain. Faktor-faktor yang
mempengaruhi jumlah eritrosit dan leukosit yaitu tergantung pada spesies dan kondisi
pakannya, selain itu juga bahan organik yang terkandung seperti glukosa, lemak, urea,
asam urat, dan lainnya. Umur, kondisi lingkungan dan musim juga sangat
mempengaruhi jumlah eritrosit dan leukosit. Turunnya jumlah protein mungkin dapat
dijadikan media tambahan untuk menghentikan senyawa agar meningkatkan pemenuhan
senyawa energi oleh ikan untuk mengatasi kondisi lingkungan yang tidak terlindungi
dari racun (Pearce, 1989).
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :

1. Pengambilan darah dapat dilakukan di jantung (cor) pada ikan, sayap pada ayam
dan ekor pada mencit.
2. Perhitungan sel darah merah adalah dengan ditambahkan larutan Hayem dan sel
darah putih ditambahan larutan Turk kemudian dihitung jumlah selnya
menggunakan bantuan alat haemositometer.
3. Perhitungan kadar hemoglobin adalah dengan menghisap darah menggunakan
pipet Sahli kemudian dihitung Hb nya dan perhitungan hematokrit hewan
dilakukan dengan menggunakan hematocrit reader.
DAFTAR REFERENSI

Bryon, A. S., & Doroth, S. 1973. Text Book of Physiology. Japan: St. Burst The Moshy
Co Toppon Co Ltd.
Çiçek, K., Arikan, H., & Ayaz, D. 2015. Blood Cells Morphology and Erythrocytes
Count of Two Freshwater Turtles, Emys orbicularis and Mauremys rivulata,
from Turkey. ECOLOGIA BALKANICA, 7(1), pp. 21-27.
Dukes, H. H. 1995. The Physiology of Domestic Animals. New York: Constock
Publishing Associates.
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta: UGM Press.
Gay, L. R. 1987. Research in Education. New York: McGraw-Hill Book Company.
Guyton, A. C. 1976. Text Book of Medical Physiology. Philadelphia: W. B. Saunders
Company.
Hadikastowo. 1982. Zoologi Umum. Bandung: Unpad.
Handayani, L., Irianti, N., & Yuwono, E. 2013. Pengaruh Pemberian Minyak Ikan
Lemuru terhadap Kadar Eritrosit dan Trombosit pada Ayam Kampung. Jurnal
Ilmiah Peternakan, 1(1), pp. 39-46.
Hoffbrand, A. V., & Pettit, J. E. 1987. Haematologi. Jakarta: Penerbit ECG.
Kimball, J. W. 1991. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Moyle, P. B & Cech, J. J. 2001. Fisher and Introduction to Ichtyology. London:
Prentice, Inc.
Nurcholis, A., Aziz, M., & Muftuch. 2013. Ekstrasi Fitur Roudness untuk Menghitung
Jumlah Eritrosit dalam Citra Sel Darah Ikan. Jurnal EECIS, 7(1), pp. 23-31.
Pearce, E. 1989. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Purwanti, S. C., Suminto, & Sudaryono, A. 2014. Gambaran Profil Darah Ikan Lele
Dumbo (Clarias gariepinus) yang Diberi Pakan dengan Kombinasi Pakan Buatan
dan Cacing Tanah (Lumbricus rubellus). Journal of Aquaculture Management and
Technology, 3(2), pp. 53-60.
Sadikin, M. 2001. Biokimia Darah. Jakarta: Widya Medik.