Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

KLASIFIKASI DARI INSECTA


(LALAT TSE TSE)
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Mikrobiologi

Kelompok 6 :

1. Aurora Camelia Saada (1351610330)


2. Mochammad Sulthon Aziz Irawan (1351610362)
3. Ridzka Dwi Ardella Putri (1351610125)
4. Siti Aisyah (1351610130)
5. Ulfatul Hasanah (1351610383)

AKADEMI FARMASI SURABAYA

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan tugas penulisan
Makalah “Klasifikasi dari Insecta (Lalat Tsetse)” yang alhamdulillah selesai tepat
pada waktunya dengan semaksimal mungkin.

Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun
selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Kami mengucapakan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing dan


semua pihak yang berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai
akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita, Amin.

Surabaya, 8 Agustus 2017


Tim Penyusun

Kelompok 6

i
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2

1.3 Tujuan Masalah ........................................................................................ 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 3

2.1 Pengertian Lalat Tse Tse .......................................................................... 3

2.2 Ciri ciri Lalat Tse Tse ............................................................................... 4

2.3 Taksonomi Lalat Tse Tse ......................................................................... 4

2.4 Morfologi Lalat Tse Tse ........................................................................... 5

2.5 Cara Reproduksi Lalat Tse Tse ................................................................ 7

2.6 Habitat Lalat Tse Tse ............................................................................... 8

2.7 Infeksi yang disebabkan oleh Lalat Tse Tse............................................. 8

2.8 Cara Penanganan Infeksi yang disebabkan oleh Lalat Tse Tse .............. 10

2.9 Solusi Pencegahan Infeksi Yang Disebabkan Oleh Lalat Tse Tse ......... 11

BAB III PENUTUP .............................................................................................. 12

3.1 Keimpulan .............................................................................................. 12

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 13

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lalat Tse Tse adalah Lalat berukuran cukup besar yang berasal dari
Afrika. Hidup dengan cara menghisap darah dari binatang bertulang belakang
(vertebrata). Tse Tse meliputi seluruh lalat dari genus Glossina dari famili
Glossinidae. Tse Tse telah lama diteliti oleh ilmuwan karena mereka merupakan
perantara biologis dari Trypanosoma Afrika yang mengakibatkan penyakit
mematikan termasuk sleeping sickness pada manusia dan nagana pada ternak.
Tse Tse berpenampakan mirip lalat rumah tapi bisa dibedakan dari
karakter anatomi mereka. Tse tse melipat sayap sepenuhnya pada saat tidak
terbang sehingga sayap yang satu bertumpuk di atas sayap lain menutupi perut
mereka. Tse Tse telah hidup selama 34 milyar tahun! Fosilnya yang tertua
ditemukan di Colorado. Jadi Tse Tse ini bisa disebut sebagai rajanya bangsa lalat.
Trypanosomiasis gambia adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
Trypanosoma gambiense. Penyakit ini disebut juga West African
Trypanosomiasis atau West African Sleeping Sickness.
Parasit ini pertama sekali ditemukan oleh forde, pada tahun 1901, melalui
pemeriksaan darah dari seorang pasien di Gambia, Afrika barat. Castellani (1903)
juga menemukan parasit enis yang sama pada pemeriksaan cairan cerebrospinal
pada pasien yang berbeda, dan oleh Ducton (1902) parasit tersebut diberi nama
Trypanosoma gambiense.
Trypanosoma gambiense merupakan protozoa berflagella yang hidup
dalam darah (Haemoflagellates) dan dikelompokkan dalam family
Trypanosomidae. Lalat Tse Tse, jantan dan betina, bertindak sebagai penyebab
pembawa parasit ini, terutama Glossina palpalis. Lalat ini banyak terdapat
disepanjang tepitepi sungai yang mengalir di bagian barat dan tengah Afrika.
Lalat ini mempunyai jangkauan terbang sampai mencapai 3 mil.
Selain manusia, binatang peliharaan seperti babi, kambing, sapi serta
binatang liar dapat menjadi pengantar bagi parasit ini. Penyakit dapat ditularkan
dari hewan vertebrata ke manusia atau dari manusia ke manusia. Mobilitas

1
2

penduduk dunia saat ini sangatlah memungkinkan untuk penyebaran parasit ini ke
berbagai wilayah dunia.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu Lalat Tse Tse ?


2. Bagaimana ciri-ciri Lalat Tse Tse ?
3. Bagaimana Taksonomi Lalat Tse Tse ?
4. Bagaiman morfologi Lalat Tse Tse ?
5. Bagaimana cara reproduksi Lalat Tse Tse ?
6. Bagaimana habitat Lalat Tse Tse ?
7. Apa infeksi yang disebabkan oleh Lalat Tse Tse ?
8. Bagaimana cara penanganan infeksi yang disebabkan oleh Lalat Tse Tse ?
9. Bagaimana solusi pencegahan infeksi yang disebabkan oleh Lalat Tse
Tse?

1.3 Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui definisi Lalat Tse Tse


2. Untuk mengetahui ciri-ciri Lalat Tse Tse
3. Untuk mengetahui Taksonomi Lalat Tse Tse
4. Untuk mengetahui morfologi Lalat Tse Tse
5. Untuk mengetahui cara reproduksi Lalat Tse Tse
6. Untuk mengetahui habitat Lalat Tse Tse
7. Untuk mengetahui infeksi yang disebabkan oleh Lalat Tse Tse
8. Untuk mengetahui cara penanganan infeksi yang ditimbulkan oleh Lalat
Tse Tse
9. Untuk mengetahui solusi pencegahan infeksi yang disebabkan oleh Lalat
Tse Tse
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Lalat Tse Tse

Lalat Tse Tse adalah Lalat asal Afrika yang dikenal sebagai penyebab
penyakit. Lalat ini membawa Trypanosoma, Yakni Parasit hewan yang
menyebabkan penyakit tidur pada manusia yang bisa berakibat fatal, serta
“nagana”, penyakit mematikan ternak dan kuda.
Ada lebih dari 20 spesies lalat Tse Tse, beberapa darinya menyerang
manusia. Lalat Tse Tse menyerupai Lalat rumahan, tetapi mereka tumbuh lebih
besar dan sayapnya terlipat rata diatas punggungnya sehingga tidak tampak
menonjol seperti sayap lalat rumahan. Probosis panang lalat tse tse bisa
menembus tubuh inangnya. Kebanyakan lalat tse tse menghisap darah dari
mamalia, tetapi beberapa jenis lainnya mengambil darah dari reptil dan burung.
Saat lalat tse tse menghisap darah, mereka bisa menginfeksi inangnya. Seekor
lalat tse tse mentransmisikan baik nagana maupun penyaki tidur dengan menggigit
manusia atau hewan yang terinfeksi, mengambil parasitnya, dan menginfeksi
inang berikutnya.
Lalat tse tse biasanya tidak dapat menginfeksi manusia sampai parasit
telah tingal di tubuhnya selama beberapa hari dan telah melewati lambung ke
kelenjar ludahnya. Kemudian lalat ini akan mengeluarkan parasit tersebut kepada
siapapun yang digigitnya. Parasit yang menginfeksi hewan berkembang di
probosis atau di dalam perut lalat tse tse.
Lalat tse tse berkembang biak secara perlahan. Lalat betina hanya
menghasilkan satu telur pada satu waktu. Larva yang menetas dari telur dipelihara
selama masa pertumbuhan di dalam tubuh induknya. Ketika larva sudah tumbuh
sempurna, larva itu akan disimpan di tanah. Kemudian larva akan menggali liang
di dalam tanah sebelum berubah menjadi pupa.
Lalat tsetse menggigit manusia dan hewan pada siang hari. Mereka hidup
di tepian danau dan sungai, sehingga membuat banyak tempat di Afrika tak layak
huni. Di beberapa daerah, semprotan insektisida dan pembersihan vegetasi bisa
mengontrol perkembangan populasi lalat tsetse. Program pengendalian lainnya

3
4

menggunakan perangkap khusus. Obat untuk melindungi ternak dari ‘nagana’


juga digunakan. Sayangnya, kerusuhan politik di Afrika telah menghambat upaya
pengendalian lalat tsetse.

Lalat Tse Tse Lalat Rumah

2.2 Ciri ciri Lalat Tse Tse

Tse Tse merupakan jenis lalat yang hanya terdapat di benua Afrika,
khususnya Afrika tengah. Terdapat sekitar 20 spesies lebih lalat tsetse yang sudah
diketahui jenisnya. Secara sepintas, lalat tsetse tampak tidak berbeda dari lalat-
lalat lain pada umumnya. Pada bagian kepalanya terdapat sepasang mata majemuk
berukuran besar, pada bagian punggung terdapat sepasang sayap yang transparan.
Namun Apabila diamati dengan lebih seksama, akan tampak perbedaannya
dimana lalat tsetse memiliki ciri fisik khusus yang tidak ditemukan pada lalat jenis
lain yaitu lalat tsetse mempunyai moncong atau proboscis yang panjang seperti
jarum di bagian kepalanya, tubuhnya memiliki warna kemerahan, dan posisi
sayapnya terlipat rata diatas punggungnya dan tidak tampak menonjol seperti
sayap lalat rumahan pada umumnya.

2.3 Taksonomi Lalat Tse Tse


5

2.4 Morfologi Lalat Tse Tse

Secara umum Trypanosomidae mempunyai 4 bentuk/morfologi yang berbeda,


yaitu:
1. Bentuk Amastigot (Leismanial form)
Bentuk bulat atau lonjong, mempunyai satu inti dan satu kinetoplas serta
tidak mempunyai flagela. Bersifat intraseluler. Besarnya 2-3 mikron.
2. Bentuk Promastigot (Leptomonasform)
Bentuk memanjang mempunyai satu inti ditengah dan satu flagella
panjang yang keluar dari bagian anterior tubuh tempat terletaknya
kinetoplas, belum mempunyai membran bergelombang, ukurannya 15
mikron.
3. Bentuk Epimastigot (Critidial form)
6

Bentuknya memanjang dengan kinetoplas didepan inti yang letaknya di


tengah mempunyai membrane bergelombang pendek yang
menghubungkan flagela dengan tubuh parasit,ukurannya15-25 mikron.
4. Bentuk Tripomastigot (Trypanosomeform)
Bentuk memanjang dan melengkung langsing, inti ditengah kinetoplas
dekat ujung posterior, flagela membentuk dua sampai empat kurva
membrane bergelombang, ukurannya 20-30mikron
Pada penderita Trypanosomiasis gambia (juga pada hewan
vertebrata yang terinfeksi umumnya ditemukan bentuk Trypomastigot.
Trypomastigot ini memiliki bentuk mirip bulan sabit dengan ukuran
panjang 15-35 mikrondan lebar1,5–3,5 mikron. Didalamnya terdapat
organella antara lain :
1. Inti besar berbentuk lonjong, terletak di tengah dan berfungsi untuk
menyediakan makanan. Disebut juga Troponukleus.
2. Kinetoplas, berbentuk bulat atau batang. Ukuran lebih kecil dari inti
dan terletak didepaidepan atau dibelakang inti. Kinetoplas terdiri dari
2 bagian yaitu benda parabasal dan blefaroplas.
3. Flagela merupakan cambuk halus yang keluar dari blefaroplas dan
berfungsi untuk bergerak.
4. Undulating membrane (membran bergelombang), adalah selaput yang
terjadi karena flagella melingkari badan parasit, sehingga terbentuk
kurva-kurva. Terdapat 3-4 gelombang membrane.
Pada stadium akhir, didalam darah penderita, Trypomastigot
memiliki beberapa bentuk yang berbeda, yaitu:
 Bentuk panjang dan langsing, memiliki flagela
 Bentuk pendek dan lebih gemuk, sebagian tidak berflagela
 Bentuk intermediet dengan inti terkadang ditemukan di posterior.
Karena bentuknya yang bervariasi, trypomastigot ini disebut
Pleomorphic trypanosoma.
Dalam tahap perkembangannya didalam vektor, Trypanosoma
gambiense tidak memiliki bentuk Amastigot dan Promastigot.
Sehingga dapat disimpulkan ciri-ciri umumnya yaitu :
7

1. Mempunyai sepasang sayap depan, dan satu pasang sayap


belakang berubah menjadi alat keseimbangan yang disebut
halter.
2. Mengalami metamorfosis sempurna.
3. Tipe mulut ada yang menusuk dan mengisap atau menjilat dan
mengisap, membentuk alat mulut seperti belalai disebut
probosis.

2.5 Cara Reproduksi Lalat Tse Tse


Lalat tsetse megalami metamorfosis sempurna yang terdiri dari 4 tahapan :
1. fase telur
2. fase larva belatung
3. fase kepompong, dan
4. lalat dewasa.

Berbeda dengan siklus hidup lalat pada umumnya, siklus hidup lalat tsetse
bisa dibilang unik, karena pada saat sudah waktunya bertelur, induk lalat tse tse
akan tetap menyimpan telur tersebut di dalam tubuhnya hingga telur tersebut
menetas menjadi larva. Larva yang baru menetas tersebut akan tetap berada di
dalam tubuh induknya dan hidup dengan cara mengkonsumsi senyawa yang
menyerupai cairan susu yang dihasilkan oleh kelenjar di tubuh induknya.

Setelah larva tumbuh menjadi lebih besar, larva lalat tsetse akan lahir dan
keluar dari tubuh induknya. Namun sayangnya, masa hidup larva di dunia luar
relatif singkat, hanya dalam waktu beberapa jam setelah itu mereka akan segera
mencari tempat untuk berlindung karena pada fase berikutnya merekan akan
mengubah dirinya
menjadi pupa atau
kepompong. Setelah
beberapa menjalani fase
kepompong, akhirnya
keluarlah lalat dewasa
dari kepompong tersebut.
8

2.6 Habitat Lalat Tse Tse

Lalat umumnya hidup terestrial, meskipun habitat pradewasa berbeda


dengan tahap dewasa. Tahap pradewasa memilih habitat yang cukup banyak
bahan organik yang sedang mengalami dekomposisi, misalnya sampah organik
dan basah.
Tahap dewasa juga menyukai sampah organik, hanya daerah jelajahnya
yang luas. Sehingga dapat memasuki rumah atau di mana manusia beraktifitas.
Kedua perbedaan habitat ini menyebabkan kehidupan tahap pradewasa tidak
bersaing dengan kehidupan tahap dewasa. Karena tanpa persaingan, maka lalat
dapat berkembang dengan optimal.
Tahap pradewasa lalat lebih banyak mengganggu dibandingkan nyamuk.
Manusia lebih menghindari larva lalat daripada nyamuk, meskipun keduanya
tidak dikehendaki oleh manusia. Dari sudut pandang positif, larva lalat sebenarnya
diperlukan oleh alam, karena bersifat sebagai dekomposer. Suhu lingkungan,
kelembaban udara dan curah hujan adalah komponen cuaca yang mempengaruhi
kualitas dan kuantitas makhluk hidup di alam. Siklus hidup serangga dan
khususnya lalat sangat dipengaruhi oleh cuaca. Meskipun lalat lebih banyak hidup
di daerah permukiman, tahap hidup pradewasa lebih banyak hidup bebas di alam.
Larva lalat amat rentan terhadap kelembaban udara, suhu udara yang
menyimpang, dan curah hujan yang berlebihan.
Dengan demikian, kita harus cermat menghadapi dampak cuaca/musim
terhadap perkembangan lalat. Pengendalian tanpa meneliti pengaruh musim akan
membawa dampak negatif terhadap pengendalian, paling tidak mengurangi
efisiensi pengendalian

2.7 Infeksi yang disebabkan oleh Lalat Tse Tse


1. Disentri
Disentri adalah peradangan usus besar yang ditandai dengan sakit
perut dan buang air besar. Pesakit akan membuang air besar sehingga
berulang-ulang boleh menyebabkan pe\nderita kehilangan banyak cairan
dan darah. Penyebab disentri adalah infeksi parasit Entamoeba
Histolytica yang menyebabkan disentri amuba dan infeksi bakteria
9

golongan Shigella yang menjadi penyebab Disentri Basiler. Pesakit perlu


segera mendapatkan rawatan jika tidak ia dapat mengancam nyawa. Upaya
penanganan melakukan tindakan pengobatan penderita .
2. Diare
Penyakit diare ialah sebuah penyakit di mana pesakit mengalami
rangsangan membuang air besar yang terus menerus dan tinja atau feses
yang masih memiliki kandungan air yang berlebihan. Di dunia ke-3, diare
adalah penyebab utama kematian balita, dan juga membunuh lebih dari 1.5
juta orang per tahun. Keadaan ini merupakan gejala dari luka, alergi
(fruktose, laktose), makanan yang masam, pedas atau bersantan secara
berlebihan. Kebanyakkan diare disebabkan oleh infeksi virus tetapi juga
dikaitkan dengan racun bakteria. Dalam keadaan hidup yang bersih dengan
makanan yang mencukupi dan air yang tersedia, pesakit yang sihat biasanya
sembuh dari infeksi virus dalam beberapa hari dan yang paling lama ialah
satu minggu. Tetapi, untuk pesakit yang kuranag gizi, diare dapat
menyebabkan dehidrasi yang mengancam nyawa. Upaya penanganan
melakukan tindakan pengobatan penderita dan minum minuman penghilang
racun dalam tubuh .
3. Demam Typhoid
Demam Typhoid adalah penyakit akut yaitu infeksi sistemik yang
menyerang saluran pencernaan. Sebelum abad ke-19 penyakit ini dianggap
sama dengan thipus. Demam thipus merupakan salah satu bagian
trypoid. Salmonella Thypi dan Paratyphi hanya menyerang manusia.
Organisme ini menyerang melalui makanan atau air yang terdedah pada
kotoran manusia yang terinfeksi. Upaya penanganan melakukan tindakan
pengobatan penderita dan tidak memakan makanan yg mentah atau setengah
matang.
4. Penyakit Cholera
Penyakit Cholera merupakan satu infeksi usus kecil bakteria Vibro
Cholerae. Bakteria kolera menghasilkan racun yang menyebabkan usus
halus melepaskan sejumlah besar cairan yang banyak mengandungi garam
10

dan mineral kerana bakteria sensitif terhadap asam. Upaya penanganan


melakukan tindakan pengobatan penderita.
5. Sleeping sickness (penyakit tidur)
penyakit ini disebabkan oleh golongan protozoa trypanosoma
gambiense. Vektornya adalah lalat glossina sp. Gejala meliputi 3 fase yaitu :
 Dimana trypanosoma gambiense berada dalam tubuh
 Dimana berada dalam jaringan
 Berada dalam susunan syaraf

Penyakit yang ditimbulkan adalah radang pada tempat gigitan dan


diikuti dengan adanya tonjolan. Bila infeksi tonjolan mengenai mata , dapat
menyebakan kebutaan. Upaya penanganan dengan menghindari gigitan dan
pemberantasan nyamuk dan pengobatan penderita

6. Calabar (calabar swelling)


Calabar swelling merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing
loa-loa. Gejala penyakit ini adalah pembengkakan jaringan dan terjadi
benjolan sebesar telur ayam. Vektor cacing adalah lalat tabanid genus
chrysops.

2.8 Cara Penanganan Infeksi yang disebabkan oleh Lalat Tse Tse
Diagnosis penyakit ini dilakukan dengan pemeriksaan darah atau cairan
tubuh lain secara laboratoris. Diagnosis harus ditegakkan sedini mungkin agar
penyakit tidak berlanjut ke tahap neurologis dimana pemeriksaan dan
pengobatannya akan semakin sulit.

Pengobatan penyakit ini bergantung pada tahapan penyakit. Obatobat yang


digunakan pada tahap awal lebih aman dan kebih mudah digunakan dari pada
yang untuk tahap lanjut. Selain itu, semakin cepat penyakit ini teridentifikasi,
semakin besar peluang kesembuhannya. Pemantauan hasil terapi memerlukan
waktu hingga 24 bulan karena parasit masih mungkin hidup dan berkembang biak
bahkan beberapa bulan setelah selesai pengobatan. Keberhasilan terapi penyakit
yang sudah memasuki tahap lanjut bergantung pada kemampuan obat tersebut
11

dalam menebus sawar darah otak untuk membunuh parasit yang ada di dalam
otak. Dan obat-obatan itu sangat berbahaya dan sulit penggunaannya.

2.9 Solusi Pencegahan Infeksi Yang Disebabkan Oleh Lalat Tse Tse
Pencegahan infeksi meliputi :
1. mengurangi sumber infeksi
Pengurangan sumber infeksi dapat dilakukan dengan cara melakukan
pengobatan secara tuntas pada penderita, bahkan memusnahkan hewan
vertebrata yang terinfeksi.
2. melindungi manusia terhadap infeksi
Kontak terhadap vector dapat dihindari dengan menjauhi habitat vektor,
memakai pelindung kepala dan tubuh, menggunakan kelambu serta
memakai reppellent. Dan oleh karena bahayanya penyakit ini, beberapa
ahli menyarankan untuk dilakukan skrining serologi pada semua orang
yang beresiko dan yang berasal/keluar dari daerah endemik.
3. mengendalikan vektor
Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan mengurangi tempat hidup
dan perindukan vektor. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan
menggunakan insektisida untuk mengurangi jumlah lalat dewasa. Profil
aksisse cara umum tidaklah direkomendasikan oleh para ahli dan sampai
saat ini belum ditemukan vaksin bagi penyakit ini.
BAB III

PENUTUP

3.1 Keimpulan

Trypanosomiasis gambia adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan


oleh Trypanosoma gambiense. Lalat tsetse bertindak sebagai vektor pembawa
parasit dan menularkannya dari manusia-manusia atau hewan vertebrata-manusia.
Parasit ini bersifat ekstra selluler (hidup diluar sel penderita/host). Gejala dan
tanda klinis yang muncul antara lain: reaksi inflamasi local (prymarychancre),
Winterbotton’ssign, demam, nyeri otot dan persendian, rash pada kulit, bahkan
gejala-gejala yang timbul akibat gangguan sistem susunan saraf pusat. Prognosa
penyakit ini umumnya baik, terutama bila cepat ditangani dan juga belum
menyebar ke dalam susunan saraf pusat. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara
menghindari vektor (cegah kontak vektor) dan pengendalian vektor.

12
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 1992. Pedoman Tehnis Pengendalian Lalat. Dit. Jen.
PPM dan PLP, Depkes RI. Jakarta
HAKLI. 2009. Pengendalian Lalat. http://www.hakli.org. Diakses tanggal 30
Maret 2011

Kartikasari. 2008. Dampak Vektor Lalat Terhadap Kesehatan. Universitas


Sumatera Utara. jtptunimus-gdl-s1-2008-kartikasar-521-2-bab1 Diakses tanggal 1
April 2011

Sitanggang, Totianto. 2001. Skripsi: Studi Potensi Lalat Sebagai Vektor Mekanik
Cacing Parasit Melalui Pemeriksaan Eksternal. Fakultas Kedokteran Hewan.
Institut Pertanian Bogor. 42 Halaman (Dipublikasikan)

Santi, Devi Nuraini. 2001. Manajemen Pengendalian Lalat. Fakultas Kedokteran.


Universitas Sumatera Utara. 5 Halaman (Dipublikasikan)

Nurmaini. 2001. Identifikasi Vektor dan Binatang Pengganggu serta Pengendalian


Anopheles Aconitus secara Sederhana. Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Universitas Sumatera Utara. http://www.solex-un.net. diakses pada tanggal 30
Maret 2011.

Mengenal Lalat Tse Tse Yang Bisa Sebabkan Penyakit Tidur – Mediskus

Arda Dinata Peneliti di Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber


Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbangkes Kemenkes RI.

13