Anda di halaman 1dari 16

BARISAN DAN DERET

A. BARISAN DAN DERET ARITMETIKA ( HITUNG )

A1. BARISAN ARITMETIKA


1 , 5 , 9 , 13 , ...
U1 , U2 , U3 , U4 , . . .
Antara dua suku yang berurutan mempunyai beda yang sama,
yaitu : 5─1 = 9─5 = 13─9 =... = 4.

Secara umum:
U2  U1  U3  U2  U4  U3  .....  Un  Un1  konstan .

Konstanta ini biasanya dinyatakan dengan b (beda) .


Jadi : Un Un1  b

Jika suku pertama ( U1 ) dinyatakan dengan a , maka :

U1  a a(11)b
U 2  U1  b  a  b a(21)b
U 3  U 2  b  (a  b)  b  a  2b  a  (3 1)b U 4  U 3
 b  (a  2b)  b  a  3b  a  (4 1)b

U5  U 4  b  (a  3b)  b  a  4b  a  (5 1)b
. . . . .
. . . . .
. . . . .
U
Un n1  b  a  (n  2)b b  a  nb  2b  b  a  (n 1)b.
Ternyata :

Un = suku ke n
a = U 1 = suku pertama
Un  a (n 1)b b = beda (selisih)
n = banyaknya suku

Sehingga Bentuk umum BARISAN ARITMETIKA adalah :

a,a b,a  2b,a  3b,a  4b,...,a (n 1)b

10
Contoh:
1. Carilah dua suku berikut dari 3, 9, 15, . . .
Jawab : b = 9-3 = 6 .
Jadi dua suku berikut adalah 15+6 = 21 dan 21+6 = 27
2. Tentukan suku ke 50 dari barisan 2, 5, 8, 11, . . . !
3. Tentukan rumus suku ke-n dari barisan 20, 15, 10, 5, . . . !
4. Suku kelima dari suatu barisan aritmetika adalah 26, sedang suku
ketujuh belas adalah 86.
Tentukan lima suku pertama barisan tersebut !

A2. DERET ARITMETIKA

Bentuk umum deret aritmetika adalah :

a  (a  b)  (a  2b)  (a  3b)  .......  (a  (n  1)b)

Untuk mendapatkan jumlah n suku pertama dari deret Aritmetika adalah sbb:
Sn  U1  U 2  U 3  .......  U n1  U n
atau :

Sn  a  (a  b)  (a  2b)  ......  a  (n 1)b


+

2Sn  (a Un )  (a Un )  (a Un ) ...  (a Un )  (a Un )  (a Un )


2Sn  n(a  U n )
Jadi :
Sn  1 n(a  U )
2 n

na  a  (n 1)b
1
Karena : Un  a  (n 1)b , maka: Sn 
2

n2 a (n 1 )b


1
Jadi : Sn 
2

11
Contoh:
1. Deret Aritmetika 4 + 8 + 12 + 16 + …
Tentukan jumlah 20 suku pertama deret tersebut
! Jawab:
a = 4, b = 4, n = 20

1
Sn  2 n2a  (n  1)b

1
 2 .202.4  (20 1)4  10(8  76)  10(84)  840 .
Jadi jumlah 20 suku pertama adalah 840 .
2. Suku ke-n Barisan Aritmetika adalah Un = 7n + 1 .
Tentukan jumlah n suku pertama deret yg sesuai !
3. Suku pertama Barisan Aritmetika adalah 5 , sedang suku kedua adalah
9. Tentukan jumlah semua suku-suku
Deret Aritmetika yang sesuai jika suku
terakhir adalah 81 !

SUKU ke-n DERET ARITMETIKA Un  a  (n  1)b


Rumus suku ke-n Deret Aritmetika adalah
Untuk suku ke-n dari Deret Aritmetika yang diketahui jumlah n suku pertama
dan (n-1) suku pertama , dapat ditentukan sbb :

Sn  U1  U 2  U 3  ......  U n1  U n
Sn1  U1 U 2 U3  ........ U n1

S n  S n1  U n

Jadi: Un  Sn  Sn1

Contoh:
1. Dari deret Aritmetika diketahui S7  84 dan S6  66.

Tentukan : a) U7 b) U1 dan b

12
Jawab:
a) Un  Sn  Sn1
U7  S7  S6  84  66  18

b) S  1 n(a  U ) U  a  6b .
7 7 7
2
1
84  .7(a 18) 18  6  6b
2

84  3 1 a  63 6b = 12
2
a=6 b=2

2. Dari deret Aritmetika diketahui S12  324 dan S11  275. Tentukan

rumus suku ke-n !

B. BARISAN DAN DERET GEOMETRI ( UKUR )

B1. BARISAN GEOMETRI


Contoh:
14 28 56  2
1) 7 , 14 , 28 , 56 , . . .  
7 14 28

2) 135 , 45, 15, 5, . . . 45  15  5  1


135 45 15 3

3) 1, -3, 9, -27, . . .  3  9   27 3


1 3 9
Secara umum Barisan Geometri dapat dinyatakan:

U1,U2 ,U3 ,..., Un1,Un.


U2  U3  U4  U5  ...  Un  konstanta
U U U U U
1 2 3 4 n1

Konstanta ini dinamakan pembanding atau rasio ( r )

Jadi:
Un  r
U
n1

13
MENCARI SUKU KE-n:

BARISAN GEOMETRI: U1,U2 ,U3 ,U4 ,..., Un (U1  a)

U2
rU2U1.rarU1

U3
 r  U3  U 2.r  ar.r  ar 2 U 2
U4
 r  U 4  U3.r  ar 2 .r  ar 3
U3
U5
 r  U 5  U 4 .r  ar 3 .r  ar 4 U dan seterusnya.
4

Dengan melihat pola di atas:

Un  arn1

Sehingga Bentuk Umum Barisan Geometri adalah:

a,ar,ar2 , ar3 , ar 4 ,..., arn1

Contoh:
1. Tentukan suku ke delapan dari Barisan Geometri 4, 8, 16, 32, ...
Jawab:
a4 U  arn1
n

8
r 42 U8  4.281  4.27  4.128  512

2. Tentukan rumus suku ke n dari barisan 8, 32, 128, 512, . .


3. Suku keempat dari suatu Barisan Geometri adalah 8, sedang suku
ketujuh adalah 64. Tentukan suku keduapuluh !

B2. DERET GEOMETRI

Bentuk umum Deret Geometri:

a  ar  ar2  ar3 ...  arn1

14
Jumlah n suku pertama Deret Geometri ( Sn )

Sn  a  ar  ar2  ar3 ...  arn1

Kedua ruas dikalikan dengan r dan hasilnya dikurangi dengan Sn.


n1
rS  ar  ar  ar ...  ar
2 3 n
 ar
n

Sn  a  ar  ar2  ar3 ...  arn1

rS n S n  ar n  a

S n (r 1)  a(r n 1)

Jadi :

 a r 1
n
S
; r  1, r  1, r 1
n
r1

Untuk 1  r  1 , menggunakan rumus :

S 1 r n
n  a 1 r

Contoh:

1. Deret Geometri 6 18  54 162  ...  Un . Tentukan S7 !


Jawab :

a  6,r  3,n  7
r n 1
S a
n
r 1

S 7  6 3 1  3(2187 1)  6558


7

3 1

15
2. Hitunglah jumlah 10 suku pertama dari Deret Geometri dengan rumus
suku ke-n adalah:

  1 n U n

 3 

3. Suku ketiga dari suatu Deret Geometri adalah 20, sedang suku keenam
adalah 160. Hitung jumlah sepuluh suku pertama dari deret tersebut !

SUKU ke-n DERET GEOMETRI

Rumus suku ke-n Deret Geometri adalah U  arn1 .


n
Jika jumlah n suku pertama dan jumlah (n-1) suku pertama diketahui, maka
suku ke-n nya (U n ) dapat ditentukan sebagai berikut:

Sn  U1 U 2 U3  ........ U n1 U n


Sn1  U1 U 2 U 3  ......... U n1 ─

S S U
n n1 n
Un  Sn  Sn1
Jadi:

Contoh:
1. Jumlah 5 suku pertama Deret Geometri adalah 584, sedang jumlah 4
suku pertamanya adalah 360 .
Tentukan suku kelima deret tersebut !
Jawab :
S5  584 dan S4  360

U5  584  360  224

2. Suku pertama Deret Geometri adalah 3. Jumlah 6 suku pertama adalah


189 , sedang jumlah 5 suku pertama 93 .
Tentukan 4 suku pertama dari deret tersebut !

16
DERET GEOMETRI TAK HINGGA
1) 2 + 4 + 8 + 16 + … adalah Deret Geometri dengan r  2,U1  2

U  arn1  2.2n1  2n
n
Jika n diambilcukup besar, maka :

2n mendekati tak hingga atau U 


n

 2 2 1
n
S  2(2n 1) 2n1  2
n
2 1

Jika n cukup besar , maka 2n1  2  atau Sn .


Dikatakan deret tersebut tidak mempunyai jumlah yang berhingga atau
divergen.

2) 2 1  1  1  ... adalah Deret Geometri dengan r  1 & U 2


1
2 4 2
n1  1 n1  1  n2
Un  ar  2    Catatan: 2   1
1 
2 2 2
 1 n2
Jika n cukup besar , maka    0 atau U  0
 2 n

1 n2
lim  0
 2

Ini berarti
n 

 1 n
1   n n 2
2   1   1
Sn 2 1  41 4 
1 2  2   2

1 n2
Jika n cukup besar, maka Sn mendekati 4 karena   mendekati nol
2
atau Sn  4 untuk n 

17
Ini berarti : lim Sn  4
n 
Dikatakan deret tersebut mempunyai jumlah yang berhingga atau
konvergen .

Secara umum dapat ditulis:

a  ar  ar2  ar3  ...; konvergen jika r 1

a  ar  ar2  ar3  ...; divergen jika r 1

Jumlah n suku pertama Deret Geometri :

a  ar  ar2  ar3 ... dengan r 1adalah

S a1rn
n 1 r

  a - arn
 1 r

  a  arn
1 r 1 r

arn arn
Untuk n cukup besar, maka  0 atau lim 0 ,
1 r 1 r
sehingga diperoleh: n 
a
S 1 r0
a
1 r
a
Jadi :

S
1 r

18
Contoh:

1 1
Tentukan jumlah sampai tak hingga Deret Geometri 3 1  3  9  ...
Jawab:
1
a  3,r  3

a
S 1 r
3 3 1
 3 4 

1  12 2 2 3 3

3
C. PENERAPAN DERET PADA BIDANG BISNIS & EKONOMI

Teori atau prinsip-prinsip deret sering diterapkan pada bidang bisnis


dan ekonomi dalam kasus-kasus yang menyangkut perkembangan dan
pertumbuhan. Kalau perkembangan atau pertumbuhan suatu gejala tertentu
berpola seperti perubahan nilai-nilai suku sebuah deret, baik deret hitung
maupun deret ukur, maka teori deret hitung maupun deret ukur dapat
diterapkan untuk menganalisisnya.

C1. MODEL PERKEMBANGAN USAHA


Apabila perkembangan variabel-variabel tertentu dalam suatu
kegiatan usaha, misalnya produksi, biaya, pendapatan, penggunaan tenaga
kerja, atau penanaman modal – berpola seperti deret hitung, maka prinsip-
prinsip deret hitung dapat digunakan untuk menganalisis perkembangan
variabel tersebut. Berpola seperti deret hitung maksudnya di sini ialah
bahwa variabel yang bersangkutan bertambah secara konstan dari satu
periode ke periode berikutnya.

Contoh 1:
Perusahaan sepatu “Nyaman-Sekali” menghasilkan 5.000 pasang
sepatu pada bulan pertama produksinya. Perusahaan melakukan

19
penambahan tenaga kerja, sehingga mampu menambah produksinya
sebanyak 750 pasang sepatu setiap bulan. Jika perkembangan produksinya
konstan, berapa pasang sepatu yang dihasilkan pada bulan keenam ?
Berapa yang telah dihasilkan sampai dengan bulan tersebut ?
Jawab:
a = 5.000 U6 = 5.000 + (6 – 1) 750 = 8.750
b = 750 S6 = 6/2. (5.000 + 8.750) = 41.250
n = 6

Jumlah produksi pada bulan keenam adalah 8.750 buah, sedangkan


jumlah seluruh sepatu yang dihasilkan sampai dengan bulan tersebut
41.250 buah.

Contoh 2 (Dumairy, 1999):


PT “Sinar Pelangi” menerima dari hasil penjualan barangnya
sebesar Rp 720 juta pada tahun kelima dan Rp. 980 juta pada tahun
ketujuh. Apabila perkembangan penerimaan penjualan tersebut berpola
seperti deret hitung, berapa perkembangan penerimaannya per tahun ?
Berapa besar penerimaan pada tahun pertama dan pada tahun keberapa
penerimaannya sebesar Rp 460 juta ?
Jawab:
Dalam jutaan : U7 = 980 a + 6b = 980
U5 = 720 a + 4b = 720
------------------- −
2b = 260 b = 130

Perkembangan penerimaan per tahun sebesar Rp 130 juta.


a + 4b = 720 a = 720 - 4b = 720 – 4(130) = 200
Penerimaan pada tahun pertama sebesar Rp 200 juta.

Un = a + (n – 1) b 460 = 200 + (n – 1) 130


460 = 200 + 130 n – 130
390 = 130 n n=3
Penerimaan sebesar Rp 460 juta diterima pada tahun ketiga.

20
C2. MODEL BUNGA MAJEMUK
Model bunga majemuk merupakan penerapan deret ukur dalam kasus
simpan-pinjam dan kasus investasi. Dengan model ini dapat dihitung,
misalnya, besarnya pengembalian kredit di masa datang berdasarkan
tingkat bunganya. Atau sebaliknya, untuk mengukur nilai sekarang dari
suatu jumlah hasil investasi yang akan diterima di masa datang.
Jika misalnya modal pokok sebesar P dibungakan secara majemuk
dengan suku bunga per tahun setingkat i , maka jumlah akumulatif modal
tersebut di masa datang setelah n tahun (Fn)dapat dihitung sebagai berikut:
setelah 1 tahun : F1 = P + P. i = P(1 + i)
2
setelah 2 tahun : F2 = P(1 + i) + P(1 + i) i = P(1 + i)
2 2 3
setelah 3 tahun : F3 = P(1 + i) + P(1 + i) i = P(1 + i)
… .
. .
setelah n tahun : Fn = (…..) + (…..)i = P(1 + i )n

Dengan demikian, jumlah di masa datang dari suatu jumlah


sekarang adalah :

F = P(1 + i)n P = jumlah sekarang


F = jumlah di masa datang
atau i = tingkat bunga per tahun n
= jumlah tahun
1
P (1 i)n F

Rumus diatas mengandung anggapan tersirat bahwa bunga


diperhitungkan dibayarkan satu kali dalam setahun. Apabila bunga
diperhitungkan dibayarkan lebih dari satu kali (misalnya m kali, masing-
masing i/m per termin) dalam setahun, maka jumlah di masa datang menjadi
:

m = frekuensi pembayaran bunga


mn
F = P(1 + i/m) dalam setahun

21
atau

1
P  (1 i/m)mn F

Suku (1 + i) dan (1 + ) dalam dunia bisnis dinamakan “faktor bunga


majemuk” (compounding interest factor), yaitu suatu bilangan lebih besar
dari 1 yang dapat dipakai untuk menghitung jumlah di masa datang dari
suatu jumlah sekarang. Suku 1/(1 + i)n dan 1/(1 + i/ m)mn dinamakan “faktor
diskonto” (discount factor), yaitu suatu bilangan lebih kecil dari 1 yang dapat
dipakai untuk menghitung nilai sekarang dari suatu jumlah di masa datang.

Contoh 3:
Bapak Sasmita meminjam uang dibank sebanyak Rp 40 juta untuk
jangka waktu 5 tahun, dengan tingkat bunga 3% per tahun. Berapa jumlah
seluruh uang yang harus dikembalikan pada saat pelunasan ? Seandainya
perhitungan pembayaran bunga bukan tiap tahun, melainkan tiap semester,
berapa jumlah yang harus ia kembalikan ?

Jawab:

P = 40.000.000 Fn = P(1 + i)n


n=5 F5 = 40.000.000(1 + 0,03)5
i = 3% = 0,03 = 40.000.000 (1,159274) = 46.370.960

Jadi pada saat pelunasan, setelah lima tahun, Bapak Sasmita secara
keseluruhan harus mengembalikan sebanyak Rp 46.370.960,-. Seandainya
bunga diperhitungkan dibayarkan tiap semester, m = 2, maka :

Fn = P (1 + i/ m)mn F5 = 40.000.000 (1 + 0,015)10


= 40.000.000 (1,160541) = 46.421.640

Jumlah yang harus dikembalikan menjadi lebih besar, Rp 46.421.640,-

22
Contoh 4 (Dumairy, 1999):
Tabungan seorang mahasiswa akan menjadi sebesar Rp 532.400,- tiga
tahun yang akan datang. Jika tingkat bunga bank yang berlaku 10%
pertahun, berapa tabungan mahasiswa tersebut pada saat sekarang ini ?
Jawab:
F = 532.400
n=3
i = 10% = 0,1
1 1
P (1 i)n F= (1 0,1)3 532.400= 400.000

Jadi besarnya tabungan sekarang adalah Rp. 400.000,-

C3. MODEL PERTUMBUHAN PENDUDUK

Penerapan deret ukur yang paling konvensional di bidang ekonomi


adalah dalam hal penaksiran jumlah penduduk. Sebagaimana dinyatakan
oleh Malthus, penduduk dunia tumbuh mengikuti pola deret ukur. Secara
matematik, hal ini dapat dirumuskan sebagai:

Pt = P1 Rt-1 dimana R = 1 + r

Pt = jumlah pada tahun ke-t


P1 = jumlah pada tahun pertama (basis)
r = persentase pertumbuhan per tahun t
= indeks waktu (tahun)

Contoh 5 (Dumairy, 1999):


Penduduk suatu kota berjumlah 1 juta jiwa pada tahun 1991, tingkat
pertumbuhannya 4 persen per tahun. Hitunglah jumlah penduduk kota
tersebut pada tahun 2006. Jika mulai 2006 pertumbuhannya menurun
menjadi 2,5%, berapa jumlahnya 11 tahun kemudian ?

23
Jawab:

P1 = 1 juta P tahun 2006 = 1.000.000 (1,04)15


r = 0,04 = 1.000.000 (1,800943)
R = 1,04 = 1.800.943 jiwa

P1 = 1.800.943 P11 tahun kemudian = P11

r = 0,025 P11 = 1.800.943 (1,025)10


R = 1,025 = 2.305.359 jiwa

Atau dengan memanfaatkan kaidah logaritma:

P11 = 1.800.943 (1,025)10


Log P11 = log 1.800.943 (1,025)10
Log P11 = log 1.800.943 + 10 log 1,025
Log P11 = 6,255499 + 0,107239
Log P11 = 6,362738
P11 = 2.305.359

SOAL – SOAL

1. a. Diketahui deret aritmetika Sn = 4n2 – 3n, tentukan suku ke-2n !


b. Diketahui barisan 1, ─ 2 , 2, ...
c. Hitunglah jumlah semua bilangan asli antara 1 dan 300 yang habis
dibagi 5 tetapi tidak habis dibagi 7 !

2. Perusahaan tas ” Cahaya Sakti” menghasilkan 6000 tas pada bulan


pertama produksinya. Dengan penambahan tenaga kerja dan
peningkatan produktivitas, perusahaan mampu menambah produksinya
sebanyak 1000 buah tas setiap bulan. Jika perkembangan produksinya
konstan, berapa buah tas yang dihasilkannya pada bulan kelima ?
Berapa buah tas yang telah dihasilkannya sampai dengan bulan
tersebut ?

24
3. Berapakah harus diinvestasikan si A sekarang untuk memiliki uang Rp.
20.000.000,- sesudah 10 tahun bila bunga majemuk 4,5% setahun
ditambahkan secara :
a. Setiap catur wulan
b. Setiap bulan
c. Kontinyu
4. Pada suatu rencana pelunasan hutang, yang akan dilunasi secara
anuitas tahunan, tercantum angka-angka sebagai berikut:
- pelunasan pada angsuran ke-3 : Rp. 85.245,24
- pelunasan pada angsuran ke-5 : Rp. 95.781,55
- sisa hutang pada akhir tahun ke 8 : Rp. 249.099,31
Tentukan: a. Besar suku bunga per-tahun ?
b. Besar anuitas ?
c. Besar pinjaman ?
5. Penduduk kota A tercatat sebesar 3 juta jiwa pada tahun 2005 dan
diperkirakan akan menjadi 3,5 juta jiwa pada tahun 2009. Jika tahun
2000 dianggap sebagai tahun basis.

a. Berapakah jumlah penduduk pada tahun 2000 ?

b. Pada tahun berapakah jumlah penduduk melipat 3 ? Hitung secara


diskontinu dan kontinu ?

6. Chris membeli sepeda seharga Rp. 1,5 juta, dengan membayar tunai
Rp. 1 juta, dan kekurangannya dibayar tiap bulan selama 2 bulan.
Pembayarannya pertama sebesar Rp. 300 ribu. Berapa Chris harus
membayar sisa hutangnya pada pembayaran kedua, jika dikenakan
bunga majemuk 2% per bulan ?

SUMBER KEPUSTAKAAN

1. Dumairy. (1999). Matematika Terapan untuk Bisnis dan Ekonomi. Edisi 2.


Yogyakarta: BPFE
2. Kalangi, JB. (2009). Matematika Ekonomi & Bisnis. Buku 1, Cetakan
Keempat. Jakarta: Penerbit Salemba Empat
3. Supranto, J. (2005). Matematika untuk Ekonomi dan Bisnis. Buku I. Edisi
Kedua, Cetakan Pertama. Bogor: Ghalia Indonesia

25