Anda di halaman 1dari 11

Bentuk-Bentuk Penggabungan Badan Usaha

Bentuk penggabungan badan usaha di antaranya adalah trust, kartel, holding companyconcern,
joint venture, production sharing, kontrak karya, merger, investment trust, corner dan ring,
integritasi, pararelisasi, spesialisasi, dan diferensiasi. Berikut ini adalah penjelasan masing-
masing bentuk gabungan badan usaha tersebut.

a. Merger

Merger adalah suatu penggabungan antara badan usaha yang sejenis dengan tujuan
memperkuat kedudukan perusahaan. Hasil penggabungan beberapa badan usaha ini akan
membentuk perusahaan baru dan namanyapun cenderung baru. Merger bertujuan untuk
memperkuat kedudukan dan stabilitas badan usaha-badan usaha yang bergabung dan untuk
mempermudah pengawasan pemerintah terhadap pelaksanaan kerja badan usaha-badan usaha
yang ada.

b. Akuisisi

Akuisisi adalah upaya untuk memperbesar badan usaha dengan cara memiliki badan usaha
lain atau memindahkan kepemilikan asal badan usaha lain, misalnya apabila terjadi
pembelian saham di atas 50% oleh pihak lain. Tindakan mengakuisisi dapat dilakukan oleh
suatu badan usaha atau perorangan untuk mengambil alih, baik seluruh atau sebagaian besar
saham badan usaha lain sehingga pengendalian terhadap perusahaan tersebut dapat beralih.

Proses akuisisi umurnya tidak membentuk badan usaha / perusahaan baru. Kendali
perusahaan lebih banyak dilakukan oleh perusahaan atau seseorang yang mengambil alih
suatu perusahaan. Perusahaan yang diakuisisi atau diambil alih biasanya menjadi salah satu
divisi dalam perusahaan yang dimiliki pengambil alih.
Akuisisi bertujuan untuk membentuk kekuatan bersama yang lebih tangguh dan mencapai
manajemen perusahaan yang lebih efisien dengan saling mengisi dan saling mengoreksi.
Selain itu, akuisisi juga bertujuan mengurangi risiko kerugian yang akan ditanggung sendiri,
mencoba memasuki segmen pasar yang baru dengan kekuatan bersama, menyatukan operasi
yang terintegrasi bagi perusahaan yang tidak homogen (bersifat hulu dan hilir) dan
melakukan usaha bersama untuk mengurangi persaingan pasar.

c. Konsolidasi

Konsolidasi adalah tindakan yang dilakukan oleh dua badan usaha atau lebih untuk meleburkan
diri dengan cara membantuk satu badan usaha baru. Setelah meleburkan diri menjadi satu
badan usaha baru, masing-masing badan usaha yang meleburkan diri tersebut dibubarkan.

d. Trust

Trust adalah suatu penggabungan atau pemusatan beberapa badan usaha yang sejenis maupun
berlainan menjadi badan usaha baru yang lebih besar dan kuat sehingga secara hukum
maupun ekonomis badan usaha yang tergabung tidak berdiri sendiri lagi.

Trust dapat bersifat integrasi atau pararelisasi. Trust yang bersifat integrasi adalah gabungan
badan usaha-badan usaha yang mempunyai proses produksi berurutan (kolom/lajur
perusahaan). Sementara trust pararelisasi adalah gabungan badan usaha-badan usaha yang
menghasilkan atau menjual barang sejenis maupun berlainan. Pada umumnya, trust bersifat
merugikan konsumen, karena salah satu tujuan penggabungan tersebut adalah untuk
mendapatkan kedudukan monopoli, sehingga akan mempengaruhi harga. Harga dalam pasar
monopoli tidak terjadi atas keseimbangan antara penawaran dan permintaan namun
ditentukan produsen sesuai dengan kemauan mereka sendiri.

e. Kartel

Kartel adalah suatu kerja sama atau penggabungan atas dasar sukarela dan beberapa badan usah
sejenis untuk memproduksi atau menjual barang hasil produksinya. Secara hukum maupun
ekonomis, masing-masing badan usaha yang bergabung masih berdiri dan mempunyai
kebebasan untuk bertindak, kecuali halhal yang disetujui dalam perjanjian. Tujuan kartel
adalah untuk mengurangi (meniadakan) persaingan serta menciptakan kesergaman harga,
jumlah produksi dan pembagian daerah pemasaran untuk setiap badan usaha.

Tujuan-tujuan tersebut dicapai dengan mengadakan perjanjian-perjanjian atau kesepakatan-


kesepakatan antar badan usah yang tergabung. Berdasarkan isi perjanjian tersebut, kartel-
kartel digolongkan sebagai berikut.

i. Kartel Daerah

Kartel daerah atatu kartel rayon adalah penggabungan beberapa badan usaha yang
bertujuan untuk membuat suatu perjanjian atau kesepakatan tentang pembagian daerah
pemasaran atau sumber bahan mentah.

ii. Karte Produksi

kartel produksi adalah penggabungan beberapa badan usaha yang bertujuan untuk
membuat suatu perjanjian atau kesepakatan tentang jumlah barang yang harus dihasilkan
(penetapan kuota produksi) oleh masing-masing badan usaha yang bergabung.
Pembatasan itu bertujuan untuk menghindari kemungkinan kelebihan produksi. Apabila
jumlah produk yang ditawarkan terlalu banyak, maka harga akan mengalami penurunan.

iii. Kartel harga

Kartel harga adalah penggabungan beberapa badan usaha yang bertujuan untuk membuat
suatu perjanjian atau kesepakatan tentang harga minimum produk yang dihasilkan oleh
badan usaha-badan usaha yang tergabung. Mereka tidak boleh mejual di bawah harga
minimum yang telah disepakati

iv. Karte Kondisi

Kartel kondisi atau kartel syarat adalah penggabungan beberapa badan usaha yang
bertujuan untuk membuat suatu perjanjian atau kesepakatan tentang pemenuhan s`yarat-
syarat yang seragam dalam hal penyerahan, pembayaran, pembuangan, dan lain-lain
kepada pembeli. Pembuatan kesepakatan ini bertujuan untuk menyeragamkan syarat
pemnyerahan, syarat pembayaran, syarat pembuangan dan lain-lain

v. Kartel Pembagian Keuntungan

Kartel pembagian keuntungan adalah penggabungan beberapa badan usaha yang


bertujuan untuk membuat suatu perjanjian atau kesepakatan tentang penetapan besar
keuntungan atau dividen setiap anggota

Kartel dan trust adalah penggabungan beberapa badan usaha yang bertujuan
memperkuat kedudukan perusahaan. Perbedaan antara kartel dan trust ditunjukan pada
Tabel 1.3 berikut.

f. Holding Company

Holding company adalah penggabungan suatu badan usah dengan badan usaha yang lain dengan
cara membeli sebagian besar saham (sero) dari beberapa badan usaha. Jadi holding company
menguasai beberapa badan usaha, karena ia membeli sebagian besar saham dari setiap badan
usaha yang bergabung. Badan usaha yang membeli sebagian besar saham perusahaan dapat
mempengaruhi perusahaan di bidang pemasaran dan keuangan. Secara hukum badan usaha-
badan usaha tersebut masih berdiri sendiri, namun karena sebagian besar sahamnya dikuasai
oleh holding company, maka secara automatis pimpinan dari setiap badan usaha yang
bergabung berada di tangan holding company.

g. Joint Venture

Jont venture adalah suatu gabungan antara dua pihak atau lebih, yang mengumpulkan modal
untuk mendirikan badan usaha dengan perjanjian tertentu. Pihak-pihak yang bergabung dapat
berasal dari kalangan pemerintah maupun swasta (swasta dalam negeri maupun swasta asing)

h. Production Sharing
Production sharing adalah suatu bentuk kerja sama atau gabungan badan usaha yang mengatur
tentang pembagian hasil. Production sharing dapat dilakukan antara badan usaha milik
negara dan badan usaha milik swasta maupun antara sesama badan usaha milik swasta.

i Investment Trust

Investment trust adalah suatu badan usaha yang menanamkanmodalnya di beberapa badan usaha
lain dengan cara membeli sero-seronya. Investment trust bertujuan untuk membagi-membagi
risiko. Apabila salah satu badan usaha yang seronya dibeli mengalami kerugian, maka
kerugian tersebut dapat ditutup dari keuntungan bdan usaha lain yang seronya diberli.

j. Corner dan Ring

Corner dan ring adalah seseorang atau beberapa orang yang melakukan spekualsi dengan
jalan membeli atau menahan sebagian besar persediaan barang tertentu, yang akan berakibat
pad anaiknya harga barang tersebut di pasar. Setelah harga di pasar mengalami kenaikan,
barang yang ditahan atau disimpan tersebut dijual, sehingga akan diperoleh keuntungan yang
besar. Corner adalah tindakan spekulasi yang dilakukan oleh satu orang saja, sedangkan ring
adalah tindakan spekualsi yang dilakukan oleh beberapa orang.

k. Kontrak Karya

Kontrak karya tidak merupakan kerja sama dalam menangani suatu badan usaha dan perusahaan.
Pihak pemerintah memberikan konsesi kepada pihak swasta untuk mengelola suatu
perusahaan dengan diikat oleh suatu perjanjian tertentu. Pemerintah tidak ikut serta dalam
permodalan perusahaan. Perjanjian kontrak karya biasanya memuat hal-hal berikut ini

a. Daerah operasi perusahaan

b. Jangka waktu

c. Jenis usaha yang boleh dilakukan

d. Besar uang imbalan yang harus dibayarkan kepada pemerintah sebagai pemberi konsesi
e. Lain-lain yang dianggap perlu oleh pemerintah

1 Pengertian dan Tujuan Penggabungan Badan Usaha

Penggabungan badan usaha (business combination) adalah penyatuan dua atau lebih perusahaan
yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena satu perusahaan menyatu dengan (uniting
with) perusahaan lain atau memperoleh kendali (control) atas aktiva dan operasi perusahaan lain.
Menurut IFRS 3, penggabungan usaha terjadi sewaktu suatu perusahaan dibentuk sebagai entitas
pelapor tunggal atas satu atau beberapa perusahaan yang diperolehnya. Dengan kata lain,
penggabungan badan usaha (business combination) adalah meliputi suatu pembelian aktiva
bersih, termasuk goodwill dari suatu entitas lain. Namun bukan sebagai suatu pembelian atas
ekuitas perusahaan lain atau bukan menghasilkan suatu hubungan perusahaan induk dan anak.
Berdasarkan definisi penggabungan badan usaha menurut IFRS 3 tersebut di atas, dapat
dijelaskan bahwa seluruh penggabungan usaha harus dicatat dengan menggunakan metode
pembelian. Dan metode The Pooling tidak lagi digunakan.

Kombinasi perusahaan-perusahaan dilakukan karena bermacam-macam tujuan yang ingin


dicapai, di antaranya untuk memperoleh daerah pemasaran yang lebih luas, volume penjualan
yang lebih tinggi, organisasi yang lebih kuat, produksi dan manajemen yang lebih baik,
penghematan biaya melalui operasi yang ekonomis dan efisien, pengendalian yang lebih baik
terhadap pasar dan posisi persaingan, diversifikasi produk, dan kemampuan mengumpulkan
modal yang lebih besar.

Bab ini akan membahas bentuk-bentuk penggabungan usaha, persoalan-persoalan yang muncul
dalam proses pengabungan usaha, prosedur-prosedur pencatatan penggabungan usaha dengan
menggunakan metode pembellian.

1.2 Bentuk-bentuk Penggabungan Badan Usaha

Bentuk-bentuk penggabungan badan usaha dapat dibedakan ke dalam berbagai macam bentuk
sebagai berikut. Dari Segi Jenis Usaha Perusahaan yang Bergabung Bentuk penggabungan badan
usaha dilihat dari segi jenis usaha perusahaan-perusahaan yang bergabung dibedakan ke dalam
tiga macam bentuk sebagai berikut.
a. Penggabungan Horizontal. Penggabungan horizontal terjadi apabila perusahaan-perusahaan
yang bergabung dalam lini usaha atau pasar yang sama. Pada umumnya motif yang mendasari
terbentuknya penggabungan horizontal adalah dalam rangka mengurangi tingkat persaingan di
antara perusahaan sejenis tersebut. Keuntungan lain yang diharapkan dari penggabungan
horizontal di samping mengurangi persaingan, juga dengan adanya skala operasi yang lebih
besar sehingga dapat dihemat berbagai macam biaya. Contoh, Delta Air-Lines mengambil alih
kendali rivalnya yaitu Western Air-Lines, dengan biaya sebesar $787 juta.
b. Penggabungan Vertikal. Apabila perusahaan yang semula merupakan langganan terhadap
produk (jasa) yang dihasilkan oleh perusahaan lain, atau sebaliknya perusahaan lain itu adalah
supplier bahan baku baginya dan kemudian mengadakan penggabungan perusahaan, maka
penggabungan demikian disebut penggabungan vertikal. Motif penggabungan vertikal pada
umumnya adalah di dalam rangka mendapatkan kepastian pemasaran hasil produksi atau kon-
tinuitas penyediaan bahan baku. Contoh, Disney mengakuisisi ABC Television selama tahun
1995 untuk memberikan akses yang mudah ke pasar penyiaran massal untuk filem-filem
produksi Disney, serta outlet iklan yg cocok untuk produk Disney yang lain.
c. Penggabungan Konglomerat (Conglomerate Combinations). Penggabungan perusahaan-
perusahaan dengan fungsi produk atau jasa, atau kedua-duanya, yang tidak saling berhubungan
dan beragam. Tujuan penggabungan konglomerat pada umumnya adalah diversifikasi
untukmengurangi risiko yg berkaitan dengan lini bisnis tertentu. Contoh, Texas Utilities
Company mengakuisis Lufkin-Conroe Communications Company, sebuah perusahaan telepon
lokal, untuk mendiversifikasi ke bisnis telekomunikasi.

Dari Segi Kejadian Hukumnya Dari segi kejadian hukumnya, bentuk-bentuk penggabungan
badan usaha dapat dibedakan ke dalam:
a. Merger. Merger adalah penggabungan perusahaan dengan jalan pemilikan langsung oleh suatu
perusahaan terhadap harta milik dari satu atau lebih perusahaan lain yang digabungkan. Pada
cara ini perusahaan yang mengambil alih harta milik perusahaan lain menjadi satu-satunya
perusahaan yang tetap mempertahankan identitas serta melanjutkan usahanya. Sementara
perusahaan lain yang menyerahkan harta miliknya dibubarkan dan dengan demikian kehilangan
statusnya sebagai unit usaha yang terpisah. Biasanya penggabungan semacam ini dilakukan
dengan jalan memiliki seluruh harta kekayaan dan mengakui semua kewajiban (utang-utang) dari
perusahaan yang dibubarkan tersebut. Pembayaran terhadap kekayaan bersih yang diserahkan
dapat berbentuk uang tunai; surat-surat berharga (saham sendiri) atau kedua-duanya. Dalam hal
pembayaran melebihi jumlah (di atas) nilai pasar dari kekayaan bersih yang diserahkan, selisih
lebih tersebut diakui dan dicatat (diperlakukan) sebagai pembayaran goodwill. Hal ini bisa
dibenarkan hanya apabila perusahaan yang digabungkan memiliki kemampuan lebih untuk
memperoleh keuntungan. Contoh, Bank Danamon + Bank Duta = Bank Danamon, dan PT Sarasa
Nugraha tbk. + PT Indo Acidatama = PT Sarana Nugraha tbk.
b. Konsolidasi. Penggabungan perusahaan disebut dengan konsolidasi, jika dalam proses
penggabungan itu dibentuk sebuah perusahaan baru dengan tujuan khusus untuk membeli
(mengambil alih) harta milik dan mengakui utang-utang dari dua atau lebih perusahaan yang
telah ada. Biasanya perusahaan baru yang dibentuk akan mengeluarkan modal saham (surat
berharga) sebagai alat pembayaran atas kekayaan ber¬sih yang diserahkan oleh perusahaan-
perusahaan lain. Dengan demikian, pemilik (pemegang saham) perusahaan terdahulu juga
menjadi pemegang saham (pemilik) pada perusahaan yang baru dibentuk tersebut. Contoh, Bank
Exim + Bank BDN = Bank Mandiri
Sebelum merger dan konsolidasi dilaksanakan, biasanya beberapa persyaratan yang diajukan
oleh masing-masing perusahaan disahkan oleh mana¬jemen yang bersangkutan. Perjanjian
penggabungan perusahaan harus terlebih dahulu disetujui oleh pemilik atau pemegang saham
dari perusahaan yang akan digabungkan dan dibubarkan, maupun oleh pemilik perusahaan yang
akan tetap ada dan melanjutkan usahanya. Perjanjian penggabungan perusahaan harus sesuai
dengan dan disahkan oleh instansi atau pengusaha yang berwenang. Sebelum perjanjian
penggabungan badan usaha dilaksanakan, biasanya terlebih dahulu diperlukan pemeriksaan
terhadap laporan keuangan dari masing-masing perusahaan dan penilaian kembali terhadap harta
kekayaan oleh instansi yang ditunjuk (disetujui) oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Hasil
pemeriksaan laporan keuangan dan penilaian kembali harta kekayaan akan dipakai sebagai dasar
menentukan kontribusi relatif dari masing-masing pihak kepada perusahaan yang baru dibentuk.
Penggabungan perusahaan baik dengan cara merger maupun dengan cara konsolidasi akan
berakibat terbentuknya satu perusahaan yang merupakan gabungan dari dua atau lebih
perusahaan. Di dalam praktik, sering tidak dibedakan antara peng¬gabungan perusahaan dengan
cara merger dan penggabungan perusahaan dengan cara konsolidasi.
c. Bentuk lain dari penggabungan usaha menurut PSAK adalah jika Satu perusahaan
memperoleh saham dari perusahaan lain. Sedangkan perusahaan yang diperoleh sahamnya dapat
dibubarkan (merger) pada akhirnya, jika memperoleh 100% hak kendali. d. Bentuk lainnya
adalah jika Satu perusahaan memperoleh hak kendali melalui pemilikan saham mayoritas (>
50%). Sedangkan perusahaan yang diperoleh sahamnnya pada akhirnya akan tetap berdiri.
Kedua perusahaan yang saling kepemilikan saham akan disebut: parent-subsidiary relationship.
Contoh, Temasek company + Danamon = Temasek (parent) + Danamon (subsidiary).

4 Kontribusi Relatif Perusahaan-perusahaan yang Bergabung

Jika perusahaan yang baru dibentuk dalam konsolidasi akan mengeluarkan modal saham sebagai
alat pembayaran kepada perusahaan-perusahaan yang digabung, dapat dipakai dua cara
(pendekatan) di dalam menentukan banyaknya saham yang harus diserahkan kepada masing-
masing perusahaan yang digabung.

1. Kontribusi Relatif dari Kekayaan Bersih. Laporan keuangan dari masing-masing pihak harus
disusun atas dasar harga pasarnya (harga yang disetujui oleh semua pihak). Tiap-tiap pos dari
laporan keuangan harus diperiksa dan dianalisa secara khusus oleh akuntan yang independen,
dan jika dirasa perlu, akuntan dapat menyusun kembali laporan keuangan tersebut agar supaya
lebih informatif dan dapat diperbandingkan, serta sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang
lazim. Beberapa hal yang sering memerlukan perhatian khusus dalam rangka penyusunan
laporan keuangan tersebut ialah metode penilaian yang dipakai terhadap investasi (surat-surat
berharga), cadangan kerugian piutang, penentuan harga pokok dan prosedur penilaian
persediaan, kebijaksa¬naan kapitalisasi aktiva tetap, metode dan kebijaksanaan depresiasi aktiva
tetap, metode dan kebi¬jaksanaan amortisasi aktiva tak berwujud, pos-pos kontingensi serta
kemungkinan adanya pos-pos transitoris dan antisipasi yang belum dicatat. Berdasarkan laporan
keuangan yang telah disusun sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang lazim kemudian
diadakan penilaian kembali semua harta kekayaan perusahaan sesuai dengan harga yang berlaku
pada saat itu, untuk menentukan besarnya kekayaan bersih relatif yang akan diserahkan kepada
perusahaan yang baru dibentuk.

2. Kontribusi Relatif dari Laba yang Diproyeksikan. Penentuan besarnya kontribusi relatif dari
rata-rata keuntungan kepada perusahaan yang baru dibentuk memerlukan juga bantuan dari
orang yang ahli di bidang ini. Ada beberapa langkah yg harus dilakukan yaitu: Laporan laba/rugi
dari perusahaan yang digabung juga harus disusun sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang
lazim, seperti halnya pada neraca. Jika dijumpai prosedur penentuan laba/rugi yang menyimpang
dari prinsip akuntansi, maka diperlukan adanya penyesuaian-penyesuaian. Beberapa hal yang
perlu mendapatkan perhatian khusus dalam hubungannya dengan penentuan besarnya kontribusi
relatif dari rata-rata keuntungan ialah penentuan besarnya harga pokok barang yang dijual
maupun harga pokok produksinya, termasuk inventory pricing dan metode penilaian yang
dipakai, biaya-biaya yang berhubungan dengan aktiva tetap termasuk depresiasi dan amortisasi
aktiva tetap tak berwujud.
Langkah berikutnya, setelah laporan laba/rugi disusun dan disesuaikan dengan prinsip-prinsip
akuntansi yang lazim, ialah membuat proyeksi laba/rugi dari masing-masing perusahaan yang
digabung atas dasar pengalaman yang lampau serta pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk
masa yang akan datang. Di dalam menentukan besarnya kontribusi relatif dari keuntungan dalam
perusahaan yang baru, diperlukan adanya beberapa penyesuaian.
Di samping dalam hubungannya dengan prinsip-prinsip akuntansi yang lazim, perhatian khusus
hendaknya diberikan terhadap pos-pos yang sifatnya extraordinary. Pos-pos tersebut harus
dikesampingkan pada saat membuat proyeksi laba/rugi dari masing-masing perusahaan yang
digabung. Proyeksi laba/rugi tersebut sudah harus didasarkan pada data yang telah direvisi.
Sebagai contoh, biaya depresiasi aktiva tetap harus didasarkan atas nilai dan umur yang baru.
Termasuk dalam hal ini, harus diperhitungkan juga biaya bunga yang mungkin timbul dalam
rangka pembelanjaan perusahaan yang baru dibentuk tersebut. Biaya tetap dan biaya variabel
untuk operasi perusahaan yang baru harus dianalisa lebih teliti lagi untuk dapat membuat
proyeksi laba/rugi yang mendekati kenyataan. Langkah terakhir, setelah beberapa koreksi
dilakukan sesuai dengan persyaratan yang ditentukan di antara pihak-pihak yang berkepentingan,
ialah menentukan berapa besarnya jumlah kontribusi dari masing-masing pihak yang harus
diakui oleh perusahaan yang baru dibentuk.

5 MASALAH AKUNTANSI DALAM PENGGABUNGAN BADAN USAHA

Berdasarkan IFRS 3 dan IAS 27: prosedur Akuntansi untuk penggabungan usaha, yaitu:
Pembelian (by purchase).

Aktiva bersih dan kewajiban kontijen yang diperoleh diasumsikan diukur dari sudut pandang
pihak entitas yang membeli. Dari segi akuntansi penggabungan badan usaha atas dasar
pembelian terjadi apabila di dalam suatu kombinasi usaha dari dua atau lebih badan usaha, di
mana bagian yang terpenting dari pemilikan perusahaan atau perusahaan-perusahaan yang
diperoleh itu dieliminasikan.
Harga Perolehan adalah merupakan jumlah dari nilai wajar aktiva atau kewajiban yang diperoleh
pada tanggal transaksi ditambah modal saham yang diterbitkan oleh pihak pembeli ditambah
pengeluaran-pengeluaran langsung sehubungan transaksi penggabungan usaha. Modal saham
yang diterbitkan sebagai alat pembayaran harus dinilai berdasarkan harga pasar.
Aktiva Bersih Yang Diperoleh
Kriteria yang digunakan untuk pengungkapan aktiva bersih: (1) aktiva selain dari intangible
assets harus dinyatakan jika manfaat ekonomi dimasa akan datang mungkin diperoleh oleh
pembeli dan nilai yang digunakan adalah nilai wajar; (2) Kewajiban selain dari kewajiban
kontijen harus dinyatakan jika ada aliran aktiva yang keluar dimasa yang akan datang oleh pihak
pembeli dan nilai yang digunakan adalah nilai wajar; (3) kewajiban kontijen atau intangible
assets harus diungkapkan pada nilai wajar.

Hak Minoritas dinyatakan sebesar porsi kepemilikannya atas nilai wajar dari setia aktiva bersih.
Pada penggabungan by purchase, di mana dipakai dasar pencatatan aktiva (accountability) yang
baru, maka pencatatan terhadap kekayaan bersih yang diserahkan oleh masing-masing
perusahaan terdahulu tidak sama dengan apa yang dilaporkan oleh perusahaan terdahulu (pada
umumnya di atas nilai bukunya). Apabila di dalam penggabungan tersebut modal saham
perusahaan yang baru dinilai dan dikeluarkan atas dasar tingkat keuntungan tertinggi yang
dikapitalisasikan, maka bisa berakibat nilai modal saham lebih besar dari seluruh nilai pasar
aktiva berwujud. Hal ini akan mendorong untuk harus diakui adanya "aktiva tak berw¬ujud"
(goodwill) di dalam proses penggabungan badan usaha tersebut. Oleh karena dalam
penggabungan by purchase "nilai pasar" dipakai sebagai dasar pencatatan, maka sebagai
konsekuensinya nilai pasar tersebut harus pula dipakai sebagai dasar di dalam menentukan
besarnya biaya terhadap pendapatan di kemudian hari, khususnya untuk aktiva tetap (seperti
misalnya biaya penyusutan).
Dalam hal penggabungan by purchase ada aktiva tak berwujud (goodwill) yang diakui tidak akan
diamortisasi, tapi secara tahunan akan diuji untuk penurunan seperti yang dinyatakan pada IAS
36.

Tabel 2: Ringkasan perlakuan akuntansi metode pembelian

Purchase
Assets & Liabilities of Acquired company Recorded at fair value
Revenue and expenses Accrued only after date of acquisition
Shares issued to create business combination Recorded at fair value if any shares are issued
Combination costs Included as part of purchase price unless
incurred in
connection with issuance of stock, a cost that
reduces
paid-in
capital
Sumber: Advanced Accounting, Hoyle, Schaefer, & Doupnik

1.6. Prosedur Pencatatan Metode Pembelian

1. Jika biaya investasi dari perusahaan yang diakuisisi (cost) > nilai wajar (fair value) aktiva
bersih (aktiva – kewajiban) yang diserahkan oleh pihak yang diakuisis = selisih dialokasikan
sebagai goodwill atau menyebabkan kenaikan nilai wajar dari aktiva tertentu secara
proporsional.
2. Jika biaya investasi (cost) < nilai wajar (fair value) aktiva bersih (aktiva – kewajiban) yang
diserahkan oleh pihak yang diakuisisi = selisih dialokasikan mengurangi nilai wajar dari aktiva
tertentu secara propporsional, atau dialokasikan sebagai goodwill negative (harus dinyatakan
segera dalam laporan laba rugi (IFRS 3).

KESIMPULAN

Penggabungan badan usaha adalah penggabungan atau kombinasi dua atau lebih perusahaan
menjadi satu unit usaha yang lebih besar, dengan tujuan untuk melanjutkan usaha terdahulu.
Dengan demikian, penggabungan badan usaha terjadi jika dua atau lebih usaha yang terpisah
bersama-sama menjadi satu entitas akuntansi. Bila dilihat dari bentuk penggabungannya, maka
penggabungan badan usaha dapat berupa penggabungan horizontal, penggabungan vertikal, dan
penggabungan konglomerat. Sementara bila di lihat dari segi hukumnya, maka penggabungan
badan usaha dapat berupa merger, konsolidasi, dan afiliasi. Sementara menurut PSAK Nomor 22,
jenis penggabungan badan usaha ada dua, yaitu akuisisi (acquisition) dan penyatuan kepemilikan
(uniting of interest).

http://deniumitralampung.blogspot.co.id/p/akl-2-materi-1.html

by : dayu