Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Identitas sekolah
1. SMKN RAJAPOLAH

NPSN :20244755

Status: negeri

Bentuk pendidikan : SMK

Status kepemilikan : pemerintah daerah

Sk Pendirian sekolah :422/KEP.230-disdik/2008

Sk izin operasional : 422/KEP.230-disdik/2008

Kepala sekolah : Zenal Mutaqin

Akreditasi A

Kurikulum : 2013

Alamat lengkap SKN Rajapolah :Jalan Ci Injuk No.1 Desa sukaraja Kec. Rajapolah Kabupaten
Tasik Provinsi Jawa Barat.

Guru : 93

Jumlah siswa Laki-laki : 1139

Jumlah siswi perempuan : 909

Ruang Kelas :59

Laboratorium : 1

Perpustakaan : 1

Luas tanah : 21.323 m2

2. SMAs Nusantara 1
NPSN : 20219771
Status : Swasta
Bentuk Pendidikan : SMA
Status Kependidikan : yayasan
SK pendirian sekolah : 104/102.Kep/E85
Tanggal SK pendirian : 1985-05-28
Kepala Sekolah : Esti Yuniasih
Akreditasi : A
Guru : 14
Siswa laki-laki : 142
Siswa Perempuan: 165
Kurikulum : KTSP
Luas tanah : 2600 m2
Ruang kelas : 12
Laboratiu : 1
Perpustaan : 1
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pemasukan keuangan di SMK Rajapolah dan di SMA Nusantara 1 Bandung?
2. Bagaimana sekolah mengalokasikan dana BOS ?
3. Bagaimana Pengelolaan keuangan yang berasal dari SPP siswa?
4. Bagaimana sistem pelaporan keuangan di sekolah ?
BAB 2
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Manajemen Keuangan

Kata “manajemen” (management) mempunyai beberapa arti, tergantungpada


konteksnya. Dalam bahasa Inggris, management berasal dari kata kerja to manage yang
dalam bahasa Indonesia dapat berarti mengurus,mengatur, mengemudikan,
mengendalikan, mengelola, menjalankanmelaksanakan dan memimpin5. Ada banyak
pengertian manajemen yang telah dikemukakan oleh para ahli. Salah satunya adalah,
Silalahi mengartikan “manajemen sebagai proses perencanaan, pengorganisasian,
pengisian staf, pemimpinan, dan pengontrolan untuk optimasi penggunaan sumber-
sumber dan pelaksanaan tugas-tugas dalam mencapai tujuan organisasional secara
efektif dan efisien”.
B. Prinsip-prinsip Dalam Pengelolaan Administrasi Keuangan Sekolah
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh manajemen keuangan sekolah yang
berdasarkan Undang-undang No 20 Tahun 2003 pasal 48, bahwa pengelolaan dana
pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas
publik.
1. Prinsip Transparansi
Transparansi bisa diartikan sebagai keterbukaan. Dalam manajemen keuangan sekolah,
prinsip transparan dapat diartikan adanya keterbukaan mengenai sumber keuangan dan
jumlahnya, rincian penggunaan anggaran, dan pertanggungjawabannya pun harus jelas
sehingga semua pihak yang berkepentingan di sekolah dapat dengan mudah untuk
mengetahuinya.
Dengan prinsip keuangan yang transparan, maka dapat meningkatkan dukungan dan
kepercayaan masyarakat, orangtua siswa, dan pemerintah dalam penyelenggaraan seluruh
program yang menunjang pendidikan di sekolah.Salah satu informasi keuangan yang
dapat diketahui dengan bebas oleh semua warga sekolah dan orangtua siswa misalnya
Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) yang bisa ditempel pada
papan pengumuman di ruang guru atau di depan ruang tata usaha sehingga siapapun yang
memerlukan informasi tersebut bisa mendapatkannya dengan mudah.

2. Prinsip Akuntabilitas
Di dalam manajemen keuangan sekolah, prinsip akuntabilitas berarti penggunaan dana
sekolah yang tersedia sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan dan dapat
dipertanggungjawabkan.
Pembelanjaan dana dilakukan oleh pihak sekolah secara bertanggung jawab dan harus
berdasarkan perencanaan yang telah ditetapkan serta peraturan yang berlaku.
Pertanggungjawaban yang dilakukan tertuju pada masyarakat, orangtua siswa, dan
pemerintah.

C. Proses Pengelolaan Keuangan di Sekolah


Komponen keuangan sekolah merupakan komponen produksi yang menentukan terlaksananya
kegiatan belajar-mengajar bersama komponen-komponen lain. Dengan kata lain, setiap kegiatan
yang dilakukan sekolah memerlukan biaya. Dalam tataran pengelolaan Vincen P Costa (2000 : 175)
memperlihatkan cara mengatur lalu lintas uang yang diterima dan dibelanjakan mulai dari kegiatan
perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, pengawasan sampai dengan penyampaian umpan balik.Kegiatan perencanaan
menentukan untuk apa, dimana, kapan dan beberapa lama akan dilaksanakan, dan bagaimana cara
melaksanakannya. Kegiatan pengorganisasian menentukan bagaimana aturan dan tata kerjanya.
Kegiatan pelaksanaan menentukan siapa yang terlibat, apa yang dikerjakan, dan masing-masing
bertanggung jawab dalam hal apa. Kegiatan pengawasan dan pemeriksaan mengatur kriterianya,
bagaimana cara melakukannya, dan akan dilakukan oleh siapa. Kegiatan umpan balik merumuskan
kesimpulan dan saran-saran untuk kesinambungan terselenggarakannya Manajemen
Operasional Sekolah. Muchdarsyah Sinungan menekankan pada penyusunan rencana
(planning) di dalam setiap penggunaan anggaran. Langkah pertama dalam penentuan rencana
pengeluaran keuangan adalah menganalisa berbagai aspek yang berhubungan erat dengan pola
perencanaan anggaran, yang didasarkan pertimbangan kondisi keuangan, line of business, keadaan
para nasabah/konsumen, organisasi pengelola, dan skill para pejabat pengelola.
Proses pengelolaan keuangan di sekolah meliputi:
1. Perencanaan anggaran
2. Strategi mencari sumber dana sekolah
3. Penggunaan keuangan sekolah
4. Pengawasan dan evaluasi anggaran
5. Pertanggungjawaban

Terdapat 3 pilar utama dalam membangun akuntabilitas yang baik, antara lain:

 Adanya transparansi para penyelenggara pendidikan, terbuka dalam menerima masukan


dan mengikutsertakan berbagai komponen dalam pengelolaan sekolah.
 Adanya standar kinerja yang jelas di setiap institusi pendidikan yang bisa menjadi tolak
ukur dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan wewenang dengan penuh rasa tanggung
jawab.
 Adanya partisipasi dari semua pihak untuk saling menciptakan suasana yang kondusif
agar pelayanan sekolah kepada masyarakat sesuai dengan prosedur, mudah, cepat, dan
murah.

3. Prinsip Efektivitas

Garner (2004) membuat definisi yang lebih mendalam tentang efektivitas, karena
efektivitas sebenarnya tidak berhenti hanya sampai tujuan yang telah tercapai, namun
harus bersifat kualitatif hasil yang terkait dengan pencapaian visi dari suatu lembaga.
Penekanan efektivitas lebih kepada kualitatif outcomes.

Prinsip efektivitas bisa dikatakan telah dipenuhi oleh manajemen keuangan apabila
kegiatan yang dilakukan dapat mengelola keuangan guna membiayai aktivitas dalam
rangka pencapaian tujuan lembaga yang bersangkutan, dan hasil dari kualitatif
outcomes-nya sesuai dengan rencana yang sudah ditetapkan.
4. Prinsip Efisiensi

Efisiensi di sini berkaitan dengan kuantitas hasil dari suatu kegiatan. Seperti yang
dikatakan oleh Garner (2004), efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara
masukan (input) dan keluaran (output), atau keseimbangan antara sumber daya dan
hasil yang dicapai.
Sumber daya yang dimaksud mencakup tenaga, pikiran, waktu, dan biaya.
Keseimbangan tersebut harus dilihat melalui dua sudut pandang, antara lain:

 Dilihat dari Segi Penggunaan Waktu, Tenaga, dan Biaya. Kegiatan bisa disebut efisien
bila penggunaan waktu, tenaga, dan biaya yang seminim mungkin mampu mencapai hasil
yang diinginkan.
 Dilihat dari Segi Hasil. Suatu kegiatan bisa disebut efisien apabila penggunaan waktu,
tenaga, dan biaya tertentu mampu memberikan hasil sebanyak-banyaknya baik secara
kuantitas maupun kualitas.
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi dan wawancara.
Motode Observasi adalah
Bab IV
PEMBAHASAN
A. Pemasukan Keuangan
1. SMKN Rajapolah
Pemasukan utama didapat dari dana BOS yang proses pencairannya setiap 3
bulan sekali yaitu antara bulan Februari sampai Maret. Jumlah dana BOS yang diterima
disesuaikan dengan jumlah siswa sebesar Rp. 1.400.000,-/ Siswa dalam satu tahun.
Semakin banyak siswa yang mendaftar di sekolah, maka semakin banyak pula dana BOS
yang diterima sekolah.
Pemasukan keuangan lainnya didapat dari Uang Bangunan yang diporeh dari
siswa setiap tahun ajaran baru. Jumlah uang bangunan sebesar Rp. 2.450.000,-/siswa.
Selain itu ada iuran siswa (SPP) bulanan sebesar Rp. 75.000,-/bulan untuk siswa kelas X,
dan Rp.60.000,-/siswa untuk kelas XI dan XII. Perbedaan besaran iuran siswa ini
berdasarkan kebijakan dan kesepakatan antara komite sekolah dan orangtua/wali siswa.

2. SMA Nusantara 1 Bandung


Sama halnya dengan di SMKN Rajapolah, pemasukan utama di SMA Nusantara 1
Bandung juga didapat dari dana BOS yang cair setiap tiga bulan sekali.Jumlah dana BOS
yang diterima disesuaikan dengan jumlah siswa sebesar Rp. 1.400.000,-/ Siswa dalam satu
tahun.
Pemasukan keuangan lainnya didapat dari iuran siswa (SPP) bulanan sebesar Rp.
100.000,-/siswa. Pemasukan keuangan juga di dapat dari Uang Bangunan yang diporeh
dari siswa setiap tahun ajaran baru. Jumlah uang bangunan sebesar Rp.900.000,-/siswa.
Selain dari dana BOS dan iuran siswa (SPP) pemasukan keuangan SMA Nusantara
1 Bandung juga didapat dari dana Hibah yang diperoleh dari Pemerintah Daerah Kota.
Dana Hibah yang diterima SMA Nusantara 1 Bandung tidak berupa uang, melainkan
berupa seragam dan alat-alat sekolah seperti buku tuls, pensil, tas, sepatu dan lain
sebagainya yang dapat menunjang keberhasilan belajar siswa di sekolah.
B. Pengalokasian dana BOS di sekolah
1. SMKN Rajapolah

Pengalokasian dana BOS berbeda setiap tahunnya tergantung anggaran yang


diajukan ke UPTD setempat. Pada tahun 2017 SMKN Rajapolah mengajukan rincian
anggaran sebesar 75% untuk barang dan jasa dan 25% untuk modal. Barang dan jasa
tersebut berbentuk; buku; alat-alat praktek; dan keperluan jurusan. Sedangkan untuk
modal digunakan untuk memperbanyak soal-soal ujian. Buku mendapat alokasi yang
besar yaitu 20% dari anggaran barang dan jasa. Pengalokasian ini sudah sesuai dengan
petunjuk dan teknis yang diatur dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang
Pendidikan nasional. Sistem pengajuan dana BOS berbeda antara bidang Kurikulum,
sarana dan prasana dan pengembangan IT. Pengelolaan dana BOS dikelola langsung
oleh Bendahara sekolah.

2. SMA Nusantara 1 Bandung


Pengalokasian dana BOS di SMA Nusantara 1 Bandung sama halnya dengan di SMKN
Rajapolah, yakni disesuaikan dengan petunjuk teknis yang diatur dalam Undang-Undang
No. 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan nasional. Untuk pengeloaan dana BOS sendiri
dilakukan oleh bendahara sekolah.

C. Pengelolaan keuangan yang berasal dari SPP siswa


1. SMKN Rajapolah
Setiap tahun ada rapat antara pihak sekolah dan orang tua siswa dalam
menentukan besaran pokok biaya SPP, oleh karena itu kami menemukan perbedaan
besaran SPP antar angkatan sesuai dengan kesepakan pihak sekolah dan orang tua
siswa. Pengalokasian dana SPP siswa digunakan sebagai kebutuhan siswa atau sering
disebut dana talang. Dana talang ini digunakan untuk menutupi kebutuhan siswa yang
belum terpenuhi dari keterlambatan dana BOS. SPP ini dikelola oleh bendahara komite
karena sifat SPP yang bisa dibilang “uang panas”.
2. SMA Nusantara 1 Bandung
Setiap menjelang tahun ajaran baru, pihak sekolah, komite dan orang tua siswa
melakukan rapat untuk memusyawarahkan tentang besaran biaya SPP yang akan
dibayarkan selama satu tahun ajaran ke depan. SPP yang dibayarkan tersebut digunakan
untuk keperluan penunjang dana BOS dan keperluan praktek siswa. Apabila ada
keterlambatan pencairan dana BOS, maka akan dikeluarkan dana talang dari yayasan
yang dikelola dari keuangan hasil SPP siswa untuk menutupi kebutuhan operasional
sekolah.

D. sistem pelaporan keuangan di sekolah


1. SMKN Rajapolah
Sistem pelaporan keuangan di sekolah SMKN Rajapolah di dasari oleh Juknis
yang pelaporannya langsung ke Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dengan sistem
berbasis online. Tidak jarang BPK datang untung meng-audit laporan fisik disekolah.
Untuk sistem online kami tidak dapat mengakses secara langsung dari pihak sekolah
karena itu bersifat privasi sekolah. Untuk sisa dana BOS digunakan kembali pada
triwulan mendatang tetapi jika ada sisa pada bulan desember akan dikembalikan kepada
pemerintah.
2. SMA Nusantara 1 Bandung
Sistem pelaporan keuangan sekolah di SMA Nusantara 1 Bandung tentang
alokasi dana BOS sama halnya seperti di SMKN Rajapolah, yakni berdasarkan Juknis yang
pelaporannya di tangani oleh bendahara sekolah dengan sistem pelaporan berbasis
online yang di kirim langsung ke Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Apabila ada dana
BOS yang tersisa dari kegiatan operasional sekolah selama satu triwulan yang telah
ditentukan maka dana sisa tersebut harus dikembalikan ke pemerintah.
Untuk pelaporan dana hibah tidak ada sistem pelaporan karena dana hibah
diberikan secara langsung dalam bentuk berupa fisik sesuai pengajuan dari pihak
sekolah. Untuk pengajuan dana hibah, sekolah setiap tahunnya melaporkan jumlah
siswa yang memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Surat Keterangan Tidak Mampu
(SKTM) untuk mendapatkan dana hibah tersebut.