Anda di halaman 1dari 9

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Bahasa Indonesia Keilmuan


1. Menurut pengertian umum
Bahasa Indonesia Keilmuan (BIK) merupakan Bahasa Indonesia yang digunakan
untuk kepentingan komunikasi keilmuan.
2. Menurut pendapat Suparno dkk. (1994:2) bahwa Bahasa Indonesia Keilmuan (BIK)
merupakan salah satu ragam Bahasa Indonesia yang digunakan untuk menyampaikan
buah pikiran yang bersifat ilmiah, bersituasi resmi dengan unsur-unsur kebahasaan
yang bersifat baku.
3. Berdasarkan pendapat Yonohudiyono dkk menyatakan bahwa Bahasa Indonesia
Keilmuan (BIK) adalah salah satu ragam bahasa yang tidak termasuk ke dalam
ragam dialek, dipakai dalam suasana resmi oleh para cendekiawan untuk
mengomunikasikan ilmu pengetahuan baik secara tulis maupun lisan.
4. Secara definisi Bahasa Indonesia Keilmuan (BIK) adalah semua hal mengenai
ke’ilmu’an yang berkaitan dengan Bahasa Indonesia mengacu pada bagaimana
segala sesuatu itilik dari sudut keilmuan = bersifat empiris, teoritis, dan ilmiah.

2.2 Ciri-Ciri Bahasa Indonesia Keilmuan


a. Bertolak dari gagasan
b. Menggunakan ragam tulis
c. Menggunakan ragam formal
d. Bersifat tegas dan objektif

2.3 Ragam Bahasa Indonesia Keilmuan


Ragam bahasa adalah variasi dari sebuah bahasa menurut pemakaian
Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi ternyata memiliki berbagai ragam. Menurut
Yonohudiyono dkk. (1994: 102) ragam-ragam itu digolongkan menjadi beberapa bagian
antara lain:
1. Berdasarkan tempat atau daerahnya
2. Berdasarkan penuturnya terdapat ragam bahasa cendekiawan dan ragam bahasa
non cendekiawan.
3. Berdasarkan sasarannya terdapat ragam bahasa lisan, ragam bahasa sastra, ragam
bahasa surat kabar, dan ragam bahasa undung-undang.
4. Berdasarkan pemakaian terdapat ragam bahasa resmi dan ragam bahasa tidak
resmi. Ragam bahasa cendekiawan dan ragam bahasa resmi dapat disebut ragam
bahasa keilmuan atau ragam bahasa baku.

2.4 Ciri-Ciri Umum Bahasa Keilmuan


1. Cendekia
a. Bahasa yang cendekia menandakan bahwa penulis adalah seorang terpelajar
dan menguasai benar ketatabahasaan Bahasa Indonesia. Adapun arti lain dari
bahasa yang cendekia.
b. Menurut (Suparno, 1994) bahasa yang cendekia diartikan sebagai bahasa yang
mampu mengungkapkan hasil berpikir logis secara tepat.
c. Menurut (Sugono, 1986) bahasa yang cendekia adalah bahasa yang mampu
membentuk pernyataan yang tepat dan saksama, serta abstrak.
Contoh :
Dengan terus meningkatnya pertumbuhan investasi, tidak berdampak terhadap
pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua sehingga ternyata keadaannya biasa-biasa
saja (kalimat tersebut tidak menunjukan bahasa yang cendekia), Investasi di Papua
terus tumbuh, tetapi pertumbuhan ekonominya rendah.
2. Lugas dan jelas
Bahasa Indonesia Keilmuan digunakan untuk menyampaikan gagasan ilmiah maka
dari itu harus lugas dan tepat. Lugas artinya langsung mengungkapkan apa yang
dimaksudkan oleh penulis.
Contoh :
Buah merah baik dikomsumsi karena tokcer untuk berbagai penyakit. Seharusnya,
buah merah baik dikomsumsi karena mujarab untuk menyembuhkan berbagai
penyakit
3. Gagasan sebagai pangkal tolak
Bahasa Indonesia keilmuan digunakan dengan orientasi gagasan. Hal itu berarti
penonjolan diarahkan pada gagasan atau hal-hal yang diungkapkan, tidak pada
penulis.
Contoh :
Dalam penulisan karya ilmiah harus diawali dengan pokok persoalan. Kata kerja
dalam kalimat ini harus dalam bentuk pasif yakni berawalan di-, ter- atau ke-.
Kalimat seperti ini mengedepankan pokok persoalan. Oleh karena itu, kata seperti
penulis, saya atau kami harus dihilangkan. Dengan gagasan sebagai pangkal tolak
maka akan lahir kalimat pasif. Penggunaan kalimat aktif dalam penulisan karya
ilmiah hanya diperbolehkan jika dalam bentuk kutipan baik langsung maupun
tidak langsung. Penggunaan bentuk kalimat pasif dalam karya ilmiah memang
disyaratkan. Hal ini karena bentuk pasif bersifat tidak menonjolkan penulis, tetapi
atas dasar fakta. Persyaratan ini tidak hanya dituntut untuk bahasa Indonesia,
bahasa lain pun demikian. Termasuk bahasa Inggris, Jepang, Perancis, bahasa
Jawa dll.
4. Formal
Komunikasi Ilmiah melalui teks ilmiah merupakan komunikasi formal. Hal ini
berarti bahwa unsur-unsur bahasa Indonesia yang digunakan dalam bahasa
Indonesia keilmuan adalah unsur-unsur bahasa yang berlaku dalam situasi formal
atau resmi. Selain itu, ciri penanda sekaligus pembeda BIK dengan non BIK dapat
ditelusuri dalam tataran: bentukan kata, diksi, bentukan kalimat, dan
pengembangan paragraf. Ciri formal bahasa keilmuan ditemukan dalam tatanan
kosa kata, bentukan kata dan kalimat. Bahsa keilmuan harus menggunakan bahasa
baku dan menghindari kosa kata kolokia atau percakapan sehari hari karena teks
ilmiah merupakan salah satu dari bentuk komunikasi formal.
5. Objektif
Kalimat bahsa indonesia ilmiah dikatakan objektif bila mengungkapkan sesuatu
dalam keadaan sebenarnya, artinya tidak dipengaruhi emosi pemakainya.
6. Konsisten dalam penggunaan kaidah dan unsur unsur bahasa
Konsisten atau taat asas berkaitan dengan penggunaan unsur bahsa dalam karya
ilmuan. Unsur kebahasaan yang dimaksud adalah kosa kata atau istilah, bentukan
kata, dan penggunaan kata singkatan.
7. Menggunakan kalimat lengkap
8. Menggunakan paragraf yang baik
9. Terhindar dari kesalahan ejaan dan tanda baca
3 Penggunaan Bahasa Indonesia Keilmuan
Keilmuan bahasa ragam ilmiah bersifat umum berhubungan dengan fungsi bahasa sebagai
alat untuk menyampaikan informasi ilmiah pada peristiwa komunikasi yang terjadi antara
penulis dan pembaca. Informasi yang disampaikan tentu dengan bahasa yang jelas, benar,
efektif, sesuai, bebas dari sifat samar-samar, dan tidak bersifat ambigu. Hal ini penting
sekali diperhatikan oleh penulis agar informasi ilmiah yang didapat dapat disampaikan
dan dipahami secara jelas, objektif, dan logis, sehingga dapat tercapai kesamaan
pemahaman, persepsi, dan pandangan terhadap konsep-konsep keilmuan yang dimaksud
oleh penulis dan pembaca.

Didalam Informasi dan konsep-konsep ilmiah yang dapat disampaikan ke dalam


bentuk karya tulis ilmiah, misalkan, laporan penelitian (studi), makalah, skripsi, tesis, dan
disertasi adalah bersifat formal. Oleh karena itu, ragam bahasa yang digunakan dalam
karya tulis ilmiah adalah ragam bahasa baku (standar).

Bahasa dalam percakapan sehari-hari (colloquial) serta percakapan lisan tidak tepat
apabila digunakan untuk menyampaikan informasi dan konsep-konsep yang berkadar
ilmiah. Demikian pula bahasa ragam sastra (puisi, prosa, dan drama) disusun sedemikian
rupa, sehingga dapat menimbulkan berbagai efek emosional, imajinatif, estetik, dan
artistic, yang dapat membangkitkan rasa haru baik bagi penulis maupun pembacanya.
Bahasa keilmuan yang bersifat ilmiah tidak mempertimbangkan efek-efek perasaan yang
timbul, seperti yang dipertimbangkan dalam bahasa ragam sastra
Keberhasilan seorang penulis menyampaikan gagasannya terutama dalam menulis
tulisan yang bersifat keilmuan sangat bergantung pada efektivitas kalimat-kalimat
yang dibuatnya. Kalimat-kalimat efektif kemudian disusun menjadi satu kesatuan
pikiran yang lebih lengkap dalam sebuah paragraf. Beriikut merupakan uraian kalimat
efektif dan paragraf.

4 Fungsi Bahasa Indonesia Keilmuan


1. Bahasa Nasional
sebagai lambang identitas nasional
sebagai lambang kebangsaan nasional
sebagai alat pemersatu bangsa
sebagai alat perhubungan antar suku dan budaya
2. Bahasa Resmi
sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan
sebagai sarana komunikasi resmi antar desa, daerah, provinsi dll
sebagai bahasa iptek
sebagai bahasa resmi kenegaraan
3. Fungsi Politis
kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara
kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi
4. Fungsi Hakiki
fungsi komunikasi
interpersonal
kelompok

5 Pola pengembangan kosakata keilmuan


Pola pengembangan kosakata keilmuan meliputi :
1. Pemberdayaan kosakata Bahasa Indonesia (BI)

PADANAN DALAM
KOSAKATA BI YANG LAZIM ACUAN MAKNA BARU
BAHASA INGGRIS

baca, terbaca, keterbacaan readibility Menyatakan sifat dan


sedia, tersedia, ketersediaan avaibility syarat.
kikis, terkikis, keterkikisan aerodibility
oleh, perolehan, pemerolehan aquisition
ancang, ancangan approach

KOSAKATA BI LAMA MAKNA LAMA MAKNA BARU

liput, meliput Menutupi, berita


menyelubungi,
melingkupi
rujuk referensi
Menikah lagi dengan
istri yang telah
diceraikan
2. Menyerap kosakata Bahasa Daerah
Dalam penulisan karya ilmiah juga banyak memanfaatkan kosakata bahasa daerah,
misalnya kosakata (a) bahasa Jawa: anjlok, ambrol, ampuh, ajek, bejat, bolong, bobrok,
borok, cacat, cacah, cegat, cacat, dongkol, (b) bahasa Sunda; anjangsana, becus, nyeri, gurat,
(c) dialek Jakarta: usut, usil, telak, (e) bahasa Minangkabau: acuh, asih, asuh, himbau,
lambung, gigih, resah, dan senjang.
Dalam konteks keilmuan, sumbangan kosakata bahasa daerah lebih banyak lebih banyak
berkaitan dengan kosakata sosio-budaya. Kosakata yang dimaksud antara lain: ama, adil,
asah, asih, asuh, luhur, gotong-royong, telaten, luhur, rukun, sabar, selaras, dsb. Untuk
merawat dan mempertahankan kohesi sosial kata-kata seperti itu sangat sering digunakan.
Misalnya, untuk indikator kepedulian sosial terhadap warga bencana alam di belahan wilayah
kepulauan Indonesia.
3. Diksi Keilmuan
Diksi keilmuan terdiri dari kosakata yang diambil dari kosakata bahasa Indonesia asli,
penyerapan kosakata bahasa daerah, dan penyerapan kosakata bahasa asing yang sesuai
standar.

Diksi Keilmuan Diksi Nonkeilmuan


pascasarjana pasca sarjana
pedayung pendayung
urin air seni (konotasi negatif)
oksigen zat asam (terjemahan terlalu panjang)
energy daya, gaya, tenaga, kekuatan (terjemahan lebih dari satu)
analisis analisa
desain disain
dsb. dsb.

4. Kalimat keilmuan
Penggunaan kalimat dalam penulisan karya ilmiah perlu dilakukan secara efektif.
Keefektifan kalimat tersebut dapat diukur dari dua sisi, yaitu dari sisi penulis dan pembaca.
Dari sisi penulis, kalimat dikatakan efektif jika kalimat yang digunakan
dapat memahami gagasan keilmuan penulis secara tepat dan akurat. Dari sisi pembaca, pesan
kalimat ditafsirkan sama persis dengan yang dimaksudkan penulisnya. Oleh sebab itu jika
pembaca masih mengalami kebingungan, kesulitan yang mengakibatkan salah menafsirkan
pesan kalimat maka kalimat tersebut belum dikatagorikan efektif. Kalimat dikatakan efektif
jika memiliki ciri-ciri : gramatikal, logis, lengkap, sejajar, hemat, dan ada penekanan.
1. Gramatikal
Kalimat memiliki ciri gramatikal jika kalimat tersebut disusun mengikuti kaidah bahasa
Indonesia yang berlaku. Untuk memperjelas pengertian tersebut, perhatikan kalimat-kalimat
berikut :
a. Pendapatmu tentang tafsiran karya sastra itu bersifat subjektif, tidak bisa diterima olehku.
b. Mahasiwa Ekonomi akan ungkapkan perasaan mereka lewat unjuk karya ilmiah.
Dua kalimat di atas tidak gramatikal. Contoh kalimat(a) tidak gramtikal karena
strukturnya tidak benar, kalimat(b) tidak gramtikal karena bentukan kata transitifnya tidak
benar.
2. Logis
Kalimat dikatakan logis jika jalan pikiran, atau gagasan keilmuan yang dinyatakan dalam
kalimat dapat diterima kebenarannya oleh akal sehat pembaca. Perhatikan contoh kalimat
berikut :
a. Masalah perencanaan karangan ini mau saya jelaskan pada pertemuan yang akan datang.
b. Di pabrik rokok Gudang Garam banyak membutuhkan tenaga kerja wanita, terutama yang
belum menikah.
Kedua kalimat di atas tidak logis. Kalimat (a) tidak logis karena pilihan katanya yang
salah. Kata mau tidak tepat untuk konteks tersebut. Perencanaan karangan tidak mungkin
mempunyai kemauan yang mempunyai kemauan adalah orangnya. Contoh kalimat (b) tidak
logis karena di pabrik rokok Gudang Garam tidak mungkin membutuhkan tenaga kerja
wanita, yang membutuhkan itu adalah pabrik rokok Gudang Garam. Penempatan kata depan
(di) sebelum subjek mengakibatkan kalimat itu tidak logis.
3. Lengkap
Dalam kalimat keilmuan diperlukan penggunaan unsur-unsur wajib, yakni penggunaan
subjek, predikat, objek, dan keterangan secara jelas. Perhatikan contoh kalimat berikut ini :
a. Para guru SD sebenarnya sudah berusaha menerapkan, tetapi KTSP itu memang rumit.
b. Bank-bang di Indonesia sudah mulai berani meminjami pengusaha kecil .
Dua contoh kalimat di atas tidak lengkap. Karena, contoh
kalimat (a) dan (b) tidak mempunyai objek.
4. Sejajar
Kesejajaran kalimat artinya kesamaan atau keserasian unsur kebahasaaan, misalnya
bentukan kata, atau pola struktur yang digunakan dalam suatu kalimat. Gagasan atau
informasi keilmuan yang sama hendaknya dinyatakan dalam bentukan kata atau pola struktur
kalimat yang sama, sepadan atau sejajar. Perhatikan contoh kalimat berikut ini.
a. Sangat disayangkan bahwa sampai saat ini pimpinan lembaga peneliitian belum
merekomendasi usulan penelitian ini.
b. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar keadaan menjadi sehat, di antaranya adalah
(i) berolahraga, (ii) istirahat secukupnya, dan (iii) minum yang banyak.
Kedua kalimat di atas tidak sejajar. Contoh kalimat (a)tidak sejajar karena pola struktur
klausa pertama terbentuk pasif dan pola struktur klausa kedua berbentuk aktif. Contoh
kalimat (b) tidak sejajar karena rincian (i) berbentuk kata kerja (ii) berbentuk kata benda, dan
(iii) berbentuk kata sambung.

5. Hemat
Kalimat dikatakan hemat jika seluruh unsur yang digunakan dalam kalimat misalnya,
kata, istilah, dan frasa benar-benar mendukung gagasan keilmuan penulisnya. Oleh sebab itu
penggunaan kata, istilah, dan frasa secara mubazir, boros, atau berlebih-lebihan sebaiknya
dihindari.Perhatikan conton berikut ini :
a. Pembelajaran tentang sain saat ini perlu penanganan khusus karena banyak para siswa yang
mengeluhkan kesulitan materi pembelajaran tersebut.
b. Maksud daripada dicantumkannya subtopik latihan pada setiap modul adalah untuk
mengetahui pemahaman siswa tentang materi.
Kedua kalimat di atas tidak hemat karena menggunakan kata ‘tentang’ dan ‘daripada’
yang tidak mendukung gagasan penulisnya. Kedua kata dalam dua kalimat tersebut
seharusnya dihilangkan.
6. Penekanan
Gagasan atau informasi yang dipentingkan oleh penulis perlu diberi penekanan. Hal ini
dilakukan oleh penulis agar informasi yang dinyatakan memperoleh perhatian dari pembaca.
Penekanan unsur kalimat dilakukan dengan cara meletakkan unsur yang ditekankan di awal
pernyataan, atau membubuhi partikel pementing, yakni ‘lah’, ‘kah’, dan ‘pun’. Perhatikan
contoh berikut ini:
a. Wanita karyawan sepatutnya mendapatkan perhatikan khusus dari perusahaan tempat mereka
bekerja.
Dalam contoh kalimat (a), yang ditekankan dalam kalimat tersebut adalah “karyawan wanita”.
Karena itu, unsur tersebut diletakkan di awal kalimat. Demikian juga frasa karyawan wanita,
kata karyawan menempati inti frasa. Kata tersebut berkedudukan sebagai kata yang
diterangkan dan ditempatkan di awal frasa, sehingga susunannya bukanlah wanita karyawan,
tetapi karyawan wanita.