Anda di halaman 1dari 3

YEMIMA GABERIELLA PARHUSIP

21116002

TEKNIK SIPIL

MANAJEMEN PROYEK

(Review Materi)

Setiap proyek memiliki metode pelaksanaan proyek (project delivery method)


yang biasa disingkat PDM. PDM adalah sistem pelaksanaan seluruh tahapan yang
terkait dengan pihak – pihak yang akan terlibat dalam stiap tahapan. Dalam hal ini
owner adalah yang menetapkan dan memilih PDM dengan mempertimbangkan
berbagai hal, seperti :

1. Pengalaman, kebiasaan;
2. Saran konsultan;
3. Sumber dan kendala pembiayaan;
4. Penggunaan sumber daya yang dimiliki; &
5. Keinginan stakeholder dari proyek,stakeholder disini adalah pemangku
kebijakan yaitu orang-orang yang terkena dampak terhadap proyek tersebut.

Pihak-pihak yang terlibat dalam proyek konstruksi:


1. Pemilik
2. Pelaksana
3. Perancang
PDM bergantung posisi owner, antara lain:
1. Swakelola (owner-provided delivery) yang dilakukan jika lingkup pekerjaan
sesuai keahlian, pengalaman, dan sumber daya yang dimiliki owner.
2. Tradisional (Design-Bid-Build/DBB) merupakan PDM yang ditetapkan oleh
perundangan untuk pelaksanakan proyek pemerintah. Dalam DBB owner
dapat memilih kontraktor untuk melaksanakan kontruksi dan owner akan
memiliki perwakilan yang dikontrak untuk menjadi pengawas.
3. Manajemen kontruksi (Contruction Management/CM) dibagi menjadi 2, yaitu
Agency Contruction Management (ACM) dan Contruction Manajer-at-Risk
(CM-at-Risk). ACM berlaku sebagai bagian dari internal organisasi owner
dan layanan ini mencangkup berbagai jenis PDS. Sedangkan CM-at-Risk
melakukan kontrak dengan owner dalam 2 tahap, yaitu saat planning dan saat
pelaksanaan konstruksi berlaku.
4. Rancang Bangun (Design-Build/DB) adalah system pelaksanaan proyek yang
memiliki 1 entinitas yang bertanggung jawab untuk perancangan dan
pelaksanaan konstruksi sekaligus.
5. Variasi DB memiliki beragam arrangement untuk kontrak DB yang
mnyediakan berbagai fungsi lain untuk melaksanakan proyek. Ragam tersebut
seperti turnkey (mirip DB tetapi ditambahkan tanggung jawab operasi dan
pemeliharaan proyek kepada design-builder), variasi turnkey dan variasi
pendanaan.

(Analisis Proyek)

Meikarta merupakan megaproyek Lippo Group yang dikembangkan di atas lahan


seluas 500 hektar. PT Mahkota Sentosa Utama, anak usaha Lippo Group yang
menggarap Meikarta. Presiden Meikarta Ketut Budi Wijaya, dengan Total gross
development value (GDV) Meikarta diestimasikan senilai Rp 287 triliun. Proyek
raksasa perusahaan ini akan menggunakan jasa 30 kontraktor lokal dan akan
menciptakan 8 juta lapangan kerja. Investor asal China, PT Total Bangun Persada
Tbk selaku kontraktor pelaksana. Sistem penjualan dengan istilah pre-project selling,
alias produk properti dijual sebelum pembangunan. Proyek ini merencanakan
pembangunan 7 (tujuh) pusat pembelanjaan (mall), pusat kesehatan dan rumah sakit
internasional, teater opra dan pusat kesenian internasional. Proyek ini diproyeksikan
menjadi kota modern dengan infrastruktur terlengkap di Asia Tenggara namun pada
proses pembangunannya proyek ini menuai kontroversi.