Anda di halaman 1dari 15

Tetralogy Of Fallot

TOF (Tetralogi of Fallot) , adalah kelainan jantung apabila terjadi 4 kelainan berikut
sekaligus: (URUT)

ETIOLOGI : Infeksi rubella pada ibu hamil, kelainan kromosom(ibu hamil di usia > 35
tahun)

1. STENOSIS PULMONAL : Kekakuan pada katup pulmonal sehingga darah di


ventrikel dextra yang akan menuju pulmo terhambat karena kekakuan katup pulmonal
dan timbul turbulensi yang akan bisa terdengar bising. Darah yang ke pulmo
berkurang.
2. VSD (VENTRIKEL SEPTA DEFECT) : Karena terjadi stenosis pulmonal maka
dalam proses perkembangannya, pembentukan septum interventricularis pun
terhambat sehingga tidak sempurna pembentukkannya dan menimbulkan defect
berupa lubang. Apabila lubang besar akan berbahaya dapat menimbulkan sianosis
karena terjadi shunt right to left karena tekanan ventrikel dextra yang lebih tinggi dari
ventrikel sinistra
3. OVERRIDING AORTA : Akar aorta geser kedepan, terjadi overriding aorta
terhadapa septum interventrikularis----> darah didorong masuk ke aorta(darah dari
ventrikel dextra et sinistra bercampur)---> yang beredar di sistemik adalah darah
campuran----> sianosis + hipoksia
4. HIPERTROFI VENTRIKEL DEXTRA : kompensasi dari kerja ventrikel dextra
yang ekstra keras berusaha memompa darah menuju ke pulmo namun sia-sia karena
katup pulmo-nya kaku---> hipertrofi sel-sel myocardium
BAB I
Anatomi dan Fisiologi Jantung

Jantung berukuran sekitar satu kepalan tangan dan terletak di dalam dada, batas kanannya
tepat pada sternum kanan dan apeksnya pada ruang intercostalis kelima kiri pada linea mid
clavicular. Batas atas jantung terdapat pembuluh darah besar (aorta, truncus pulmonalis, dll);
bagian bawah terdapat diafragma; batas belakang terdapat aorta descendens, oesophagus, dan
columna vertebralis; sedangkan di setiap sisi jantung adalah paru.

Atrium Kanan
Atrium kanan berada pada bagian kanan jantung dan terletak sebagian besar di belakang
sternum. Darah memasuki atrium kanan melalui :
o Vena cava superior pada ujung atasnya
o Vena cava inferior pada ujung bawahnya
o Sinus coronarius (vena kecil yang mengalirkan darah dari jantung sendiri)
Auricula dextra adalah penonjolan runcing kecil dari atrium, terletak pada bagian depan
pangkal aorta dan arteria pulmonalis. Pada sisi kiri atrium lubang atrioventrikular kanan
membuka ke dalam ventrikel kanan.
Ventrikel Kanan
Ventrikel kanan adalah ruang berdinding tebal yang membentuk sebagian besar sisi depan
jantung. Valva atrioventricular dextra (tricuspidalis) mengelilingi lubang atrioventrikular
kanan, pada sisi ventrikel. Katup ini, seperti katup jantung lain, terbentuk dari selapis tipis
jaringan fibrosa yang ditutupi pada setiap sisinya oleh endocardium. Katup trikuspidalis
terdiri dari tiga daun katup. Basis setiap daun katup melekat pada tepi lubang. Tepi bebas
setiap daun katup melekat pada chordae tendineae (tali jaringan ikat tipis) pada penonjolan
kecil jaringan otot yang keluar dari myocardium dan menonjol ke dalam ventrikel. Lubang
pulmonalis ke dalam arteria pulmonalis berada pada ujung atas ventrikel dan dikelilingi oleh
valva pulmonalis, terdiri dari tiga daun katup semilunaris.

Atrium Kiri
Atrium kiri adalah ruang berdinding tipis yang terletak pada bagian berlakang jantung. Dua
vena pulmonalis memasuki atrium kiri pada tiap sisi, membawa darah dari paru. Atrium
membuka ke bawah ke dalam ventrikel kiri melalui lubang atrioventrikular. Auricula sinistra
adalah penonjolan runcing kecil dari atrium, terletak pada sisi kiri pangkal aorta.

Ventrikel Kiri
Ventrikel kiri adalah ruang berdinding tebal pada bagian kiri dan belakang jantung.
Dindingnya sekitar tiga kali lebih tebal daripada ventrikel kanan. Valva atrioventrikular
sinistra (mitralis) mengelilingi lubang atrioventrikular kiri pada bagian samping ventrikel,
katup ini memiliki dua daun katup mendapat nama yang sama dengan topi (mitre uskup),
tepinya melekat pada chordae tendineae, yang melekat pada penonjolan kerucut myocardium
dinding ventrikel. Lubang aorta membuka dari ujung atas ventrikel ke dalam aorta dan
dikelilingi oleh ketiga daun katup aorta, sama dengan katup pulmonalis.

Myocardium
Myocardium membentuk bagian terbesar dinding jantung. Myocardium tersusun dari serat –
serat otot jantung, yang bersifat lurik dan saling berhubungan satu sama lain oleh cabang –
cabang muscular. Serat mulai berkontraksi pada embrio sebelum saraf mencapainya, dan
terus berkontraksi secara ritmis bahkan bila tidak memperoleh inervasi.
Endocardium
Endocardium melapisi bagian dalam rongga jantung dan menutupi katup pada kedua sisinya.
Terdiri dari selapis sel endotel, di bawahnya terdapat lapisan jaringan ikat, licin dan
mengkilat.

Pericardium
Pericardium adalah kantong fibrosa yang menutupi seluruh jantung. Pericardium merupakan
kantong berlapis dua, kedua lapisan saling bersentuhan dan saling meluncur satu sama lain
dengan bantuan cairan yang mereka sekresikan dan melembabkan permukaannya. Jumlah
cairan yang ada normal sekitar 20 ml. Pada dasar jantung (tempat pembuluh darah besar,
limfatik, dan saraf memasuki jantung) kedua lapisan terus berlanjut. Terdapat lapisan lemak
di antara myocardium dan lapisan pericardium di atasnya.

Arteria Coronaria
Kedua arteria coronaria, kanan dan kiri, menyuplai darah untuk dinding jantung. Arteri ini
keluar dari aorta tepat di atas katup aorta dan berjalan ke bawah masing – masing pada
permukaan sisi kanan dan kiri jantung, memberikan cabang ke dalam untuk myocardium.
Arteri ini menyuplai masing – masing sisi jantung tetapi memiliki variasi individual dan pada
beberapa orang, arteria coronaria dextra menyuplai sebagian ventrikel kiri. Arteri ini
memiliki relatif sedikit anastomosis antara arteria dextra dan sinistra.

Siklus Jantung
Siklus jantung adalah urutan kejadian dalam satu denyut jantung. Siklus ini terjadi dalam dua
fase yaitu :
Diastole
Diastole adalah periode istirahat yang mengikuti periode kontraksi. Pada awalnya :
1. Darah vena memasuki atrium kanan melalui vena cava superior dan inferior.
2. Darah yang teroksigenasi melewati atrium kiri melalui vena pulmonalis.
3. Kedua katup atrioventikular (tricuspidalis dan mitralis) tertutup dan darah dicegah untuk
memasuki atrium ke dalam ventrikel.
4. Katup pulmonalis dan aorta tertutup, mencegah kembalinnya darah dari arteria pulmonalis
ke dalam ventrikel kanan dan dari aorta ke dalam ventrikel kiri.
5. Dengan bertambah banyaknya darah yang memasuki kedua atrium, tekanan di dalamnya
meningkat dan ketika tekanan di dalamnya lebih besar dari ventrikel, katup AV terbuka dan
darah mulai mengalir dari atrium ke dalam ventrikel.
Sistole
Sistole adalah periode kontraksi otot, berlangsung selama 0,3 detik.
1. Dirangsang oleh nodus sino-atrial, dinding atrium berkontraksi, memeras sisa darah dari
atrium ke dalam ventrikel.
2. Ventrikel melebar untuk menerima darah dari atrium dan kemudian mulai berkontraksi.
3. Ketika tekanan dalam ventrikel melebihi tekanan dalam atrium, katup AV menutup,
chordae tendinea mencegah katup terdorong ke dalam atrium.
4. Ventrikel teruss berkontraksi. Katup pulmonalis dan aorta membuka akibat peningkatan
tekanan ini.
5. Darah menyembur keluar dari ventrikel kanan ke dalam arteria pulmonalis dan darah dari
ventrikel kiri menyembur ke dalam aorta.
6. Kontraksi otot kemudian berhenti dan dengan dimulainya relaksasi otot, siklus baru
dimulai.
Setiap kontraksi diikuti periode refrakter absolut yang singkat saat tidak ada stimulus yang
dapat menghasilkan kontraksi, dan diikuti periode refrakter relatif yang singkat saat kontraksi
membutuhkan stimulus yang kuat.
Denyut Jantung
Nodus sino-atrial (nodua SA atau pacemaker jantung) adalah daerah kecil serat otot dan sel
saraf yang terletak pada dinding jantung di dekat tempat masuk vena cava superior. Pada
awalnya sistole, gelombang kontraksi mulai pada nodus ini dan menyebar melalui dinding
kedua atrium, merangsang atrium untuk berkontraksi, kontraksi atrium ini tidak menyebar ke
ventrikel karena tidak dapat melalui cincin jaringan ikat yang memisahkan atrium dari
ventrikel, mencapai dan merangsang nodus atrioventrikularis.
Nodus atrioventrikularis (nodus AV) adalah daerah kecil jaringan khusus di dalam dinding di
antara atrium kanan dan ventrikel kanan. Berkas atrioventrikularis (berkas His) adalah pita
otot dan serat saraf yang berjalan pada septum di antara kedua ventrikel, mencapai apeks
jantung dan di bagi menjadi dua cabang utama, satu untuk tiap ventrikel yang terbagi menjadi
beberapa cabang kecil di dalam dinding ventrikel. Gelombang kontraksi menyebar dari nodus
AV ke bawah ke berkas AV dan set off kontraksi kedua ventrikel secara simultan.
Gelombang kontraksi yang dimulai pada nodus SA menyebabkan atrium berkontraksi tepat
sebelum ventrikel karena gelombang segera mencapai atrium dan gelombang yang menuju
ventrikel harus melalui berkas AV.

Curah Jantung
Curah jantung bergantung pada :
Frekuensi denyut jantung
Saat istirahat biasanya sekitar 70 kali per menit. Frekuensi denyut jantung dikontrol terutama
oleh reduksi dalam stimulasi melalui serat nervus parasimpatis (vagus), pengaruh yang lebih
kecil oleh stimulasi melalui serat nervus simpatis.
Curah sekuncup
Curah sekuncup adalah jumlah darah yang keluar dari ventrikel pada setiap denyut. Saat
istirahat biasanya sekitar 70 ml. Pada latihan ringan meningkat sampai 125 ml. Pada awal
kontraksi ventrikel, dengan tubuh dalam keadaan istirahat mengandung sekitar 120 ml.
Sekitar 50 ml berasal dari ventrikel kiri pada setiap denyutnya.
Curah sekuncup dikontrol oleh perubahan panjang serat otot jantung. Makin panjang (pada
otot yang salah) makin besar kontraksinya. Ketika lebih banyak darah memasuki jantung
(seperti pada latihan), makin besar kontraksi dan dengan demikian makin besar curah
sekuncup.
Curah jantung diukur dengan mengukur jumlah oksigen yang diambil oleh paru per menit,
dan berbagai teknik dilusi dengan zat pewarna, isotop radioaktif, dll.

BAB II
Elektrokardiogram

A. Pengertian
Elektrokardiogram (EKG atau ECG) adalah grafik yang merekam perubahan potensial listrik
jantung yang dihubungkan dengan waktu. Elektrodiografi adalah ilmu yang mempelajari
perubahan-perubahan potensial atau perubahan voltage yang terdapat dalam jantung.
Penggunaan EKG dipelopori oleh Einthoven pada tahun 1903 dengan menggunakan
Galvanometer. Galvanometer senar ini adalah suatu instrumen yang sangat peka sekali yang
dapat mencatat perbedaan kecil dari tegangan (milivolt) pada jantung.
Beberapa tujuan dari penggunaan EKG dapat kegunaan :
1. Untuk mengetahui adanya kelainan-kelainan irama jantung/disritmia
2. Kelainan-kelainan otot jantung
3. Pengaruh/efek obat-obat jantung
4. Ganguan -gangguan elektrolit
5. Perikarditis
6. Memperkirakan adanya pembesaran jantung/hipertropi atrium dan ventrikel
7. Menilai fungsi pacu jantung.

B. Sistem Konduksi Jantung


Sebelum kita membahas mengenai penggunaan EKG, terlebih dahulu kita mengetahui sistem
konduksi (listrik jantung) yang berperan dalam pencatatan pada EKG, yang terdiri dari :
1. SA Node ( Sino-Atrial Node )
Terletak dibatas atrium kanan (RA) dan vena cava superior (VCS). Sel-sel dalam SA Node
ini bereaksi secara otomatis dan teratur mengeluarkan impuls (rangsangan listrik) dengan
frekuensi 60 - 100 kali permenit kemudian menjalar ke atrium, sehingga menyebabkan
seluruh atrium terangsang
2. AV Node (Atrio-Ventricular Node)
Terletak di septum internodal bagian sebelah kanan, diatas katup trikuspid. Sel-sel dalam AV
Node dapat juga mengeluar¬kan impuls dengan frekuensi lebih rendah dan pada SA Node
yaitu : 40 - 60 kali permenit. Oleh karena AV Node mengeluarkan impuls lebih rendah, maka
dikuasai oleh SA Node yang mempunyai impuls lebih tinggi. Bila SA Node rusak, maka
impuls akan dikeluarkan oleh AV Node.
3. Berkas His
Terletak di septum interventrikular dan bercabang 2, yaitu :
1. Cabang berkas kiri ( Left Bundle Branch)

Gambar 1. Sistem Penjalaran Konduksi Jantung

2. Cabang berkas kanan ( Right Bundle Branch )


Setelah melewati kedua cabang ini, impuls akan diteruskan lagi ke cabang-cabang yang lebih
kecil yaitu serabut purkinye.
4. Serabut Purkinye
Serabut purkinye ini akan mengadakan kontak dengan sel-sel ventrikel. Dari sel-sel ventrikel
impuls dialirkan ke sel-sel yang terdekat sehingga seluruh sel akan dirangsang. Di ventrikel
juga tersebar sel-sel pace maker (impuls) yang secara otomatis mengeluarkan impuls dengan
frekuensi 20 - 40 kali permenit.
C. Bentuk Gelombang dan Interval EKG
Pada EKG terlihat bentuk gelombang khas yang disebut P, QRS, dan T, sesuai dengan
penyebaran eksitasi listrik dan pemulihannya melalui sistem hantaran dan miokardium.
Gelombang – gelombang ini direkam pada kertas grafik dengan skala waktu horisontal dan
voltase vertikal. Makna bentuk gelombang dan interval pada EKG adalah sebagai berikut :
1. Gelombang P
Sesuai dengan depolarisasi atrium. Rangsangan normal untuk depolarisasi atrium berasal dari
nodus sinus. Namun, besarnya arus listrik yang berhubungan dengan eksitasi nodus sinus
terlalu kecil untuk dapat terlihat pada EKG. Gelompang P dalam keadaan normal berbentuk
melengkung dan arahnya ke atas pada kebanyakan hantaran.
Pembesaran atrium dapat meningkatkan amplitudo atau lebar gelombang P, serta mengubah
bentuk gelombang P. Disritmia jantung juga dapat mengubah konfigurasi gelombang P.
misalnya, irama yang berasal dari dekat perbatasan AV dapat menimbulkan inversi
gelombang P, karena arah depolarisasi atrium terbalik.
2. Interval PR
Diukur dari permulaan gelombang P hingga awal kompleks QRS. Dalam interval ini tercakup
juga penghantaran impuls melalui atrium dan hambatan impuls melalui nodus AV. Interval
normal adalah 0,12 sampai 0,20 detik. Perpanjangan interval PR yang abnormal menandakan
adanya gangguan hantaran impuls, yang disebut bloks jantung tingkat pertama.
3. Kompleks QRS
Menggambarkan depolarisasi ventrikel. Amplitudo gelombang ini besar karena banyak massa
otot yang harus dilalui oleh impuls listrik. Namun, impuls menyebar cukuop cepat,
normalnya lamanya komplek QRS adalah antara 0,06 dan 0,10 detik. Pemanjangan
penyebaran impuls melalui berkas cabang disebut sebagai blok berkas cabang (bundle branch
block) akan melebarkan kompleks ventrikuler. Irama jantung abnormal dari ventrikel seperti
takikardia juga akan memperlebar dan mengubah bentuk kompleks QRS oleh sebab jalur
khusus yang mempercepat penyebaran impuls melalui ventrikel di pintas. Hipertrofi ventrikel
akan meningkatkan amplitudo kompleks QRS karena penambahan massa otot jantung.
Repolasisasi atrium terjadi selama massa depolarisasi ventrikel. Tetapi besarnya kompleks
QRS tersebut akan menutupi gambaran pemulihan atrium yang tercatat pada
elektrokardiografi.

Gambar 2. Gelombang Normal pada EKG


4. Segmen ST
Interval ini terletak antara gelombang depolarisasi ventrikel dan repolarisasi ventrikel. Tahap
awal repolarisasi ventrikel terjadi selama periode ini, tetapi perubahan ini terlalu lemah dan
tidak tertangkap pada EKG. Penurunan abnormal segmen ST dikaitkan dengan iskemia
miokardium sedangkan peningkatan segmen ST dikaitkan dengan infark. Penggunaan
digitalis akan menurunkan segmen ST.
5. Gelombang T
Repolarisasi ventrikel akan menghasilkan gelombang T. Dalam keadaan normal gelombang T
ini agak asimetris, melengkung dan ke atas pada kebanyakan sadapan. Inversi gelombang T
berkaitan dengan iskemia miokardium. Hiperkalemia (peningkatan kadar kalium serum) akan
mempertinggi dan mempertajam puncak gelombang T.

Gambar 3. Variasi Kompleks QRS


6. Interval QT
Interval ini diukur dari awal kompleks QRS sampai akhir gelombang T, meliputi depolarisasi
dan repolarisasi ventrikel. Interval QT rata – rata adalah 0,36 sampai 0, 44 cdetik dan
bervariasi sesuai dengan frekuensi jantung. Interval QT memanjang pada pemberian obat –
obat antidisritmia seperti kuinidin, prokainamid, sotalol (betapace) dan amiodaron
(cordarone).
D. Sadapan Listrik
Arus listrik yang dihasilkan dalam jantung selama depolarisasi dan repolarisasi akan
dihantarkan ke seluruh permukaan tubuh. Muatan listrik tersebut dapat dicatat menggunakan
elektroda yang ditempelkan pada kulit.
Sesuai perjanjian, maka elektroda pencatat di pasang pada ekstremitas dan dinding dada, dan
sebuah elektroda yang dipasang pada bumi yang bertujuan mengurangi gangguan listrik,
dipasang pada tungkai kanan.
Berbagai kombinasi – kombinasi dari elektroda ini akan menghasilkan 12 sadapan standar.
Masing – masing sadapan mencatat peristiwa listrik dari seluruh siklus jantung, namun
masing – amsing hantaran meninjau jantung dari sudut pandanagn yang agak berbeda. Oleh
karena itu, bentuk gelombang yang dibentuk oleh sadapan yang terbentuk sedikit berbeda.
Pada umumnya dirancang tiga kategori sadapan :
1. Sadapan standar anggota tubuh (sadapan I, II, dan III)
Sadapan ini mengukur opotensial listrik antara dua titik, sehingga sadapan ini bersifat bipolar,
dengan satu kutub negatif dan satu kutub positif. Elektroda ditempatkan pada lengan kanan,
lengan kiri, dan tungkai kiri. Sadapan I melihat jantung dari sumbu yang menghubungkan
lengan kanan dan lengan kiri, dengan lengan kiri sebagai kutub positif. Sadapan II dari lengan
kanan dan tungkai kiri, dengan tungkai kiri positif. Sedangkan, sadapan III dari lengan kiri
dan tungkai kiri dengan tungkai kiri positif.
2. Sadapan anggota badan yang diperkuat (aVR, aVL, aVF)
Hantaran ini disesuaikan secara elektris untuk mengukur potensial listrik absolut pada satu
tempat pencatatan, yaitu dari elektroda positif yang ditempatkan pada ekstremitas dengan
demikian merupakan suatu sadapan unipolar. Keadaan ini dicapai dengan menghilangkan
efek kutub negatif secara elektris dan membentuk suatu elektroda “indiferen” pada potensial
nol.
EKG secara otomatis akan mengadakan penyesuaian untuk menghubungkan elsktroda
anggota badan lainnya sehingga membentuk suatu elektroda indiferen yang pada hekekatnya
tidak akan mempengaruhi elektroda positif. Voltase yang tercatat pada elektroda positif lalu
diperkuat atau diperbesar untuk menghasilkan sadapan ekstremitas unipolar. Terdapat tiga
sadapan anggota tubuh yang diperbesar, aVR mencatat lengan kanan, aVL mencatat lengan
kiri, dan aVF memcatat tungkai kiri (lokasi aVF dapat dengan mudah diingat dengan lokasi
huruf F dengan kata foot (kaki)).
3. Sadapan prekordial atau dada (V1 hinggan V6)
Merupakan sadapan unipolar yang mencatatpotensial listrik absolut pada dinding dada
anterior atau prekordium. Identifikasi petunjuk – petunjuk berikut mempermudah meletakkan
prekordial dengan tepat :
- Sudut Louis yaitu tonjolan tulang dada pada sambungan antara manubrium dan korpus
sterni.
- Ruang sela iga kedua, berdekatan dengan sudut Louise.
- Linea midklavikularis kiri
- Linea aksilaris anterior dan midaksilaris
Elektroda di pasang berurutan pasa enam tempat berbeda pada dinding dada :
V1 : pada sela iga keempat sebelah kanan dari sternum
V2 : pada sela iga keempat sebelah kiri dari sternum
V3 : pada pertengan antara V2 dan V4
V4 : pada sela iga kelima di garis mid-klavikularis
V5 : horisontal terhadap V4, pada garis aksilaris anterior
V6 : horisontal terhadap V5, pada garis mid aksilaris.
Sadapan standar anggota badan dan sadapan anggota badan yang diperkuat melihat jantung
dari bidang frontal. Perspektif relatif dari setiap sadapan paling mudah dikonsepkan dengan
menggunakan suatu diagram skematik yang disebut sistem acuam enam sumbu. Sistem acuan
ini diperoleh dengan cara sebagai berikut :
1. Hubungkan sumbu dari I, II, dan III sehingga membentuk segitiga sama sisi yang disebut
segitiga einthoven. Jantungnya dianggap sebagai pusat listrik segitiga tersebut.
2. Tempatkan sumbu sadapan sedemikian rupa sehingga masing – masing memancar dari
pusat segitiga dan membetuk diagram kedua yang dikenal dengan sistem acuan tiga sumbu.
3. Gabungkan diagram sistem acuan tiga sumbu dengan represenatsi skematik dari sadapan
anggota badan yang diperkuat, yang emmancar dari pusat listrik dari toraks, dan
menghasilkan sistem acuan enam sumbu.
Sistem acuan enam sumbu merupakan atal bantu yang sangat berharga dalam menginterpretsi
hasil EKG, memungkinkan perhitungan arah rata – rata aktivitas listrik dalam jantung. Arah
rata – rata aktivitas listrik yang dihitung dari EKG dikenal sebagai sumbu listrik jantung.

E. Perjalaran Listrik (Konduksi)


Impuls listrik meninggalkan SA node menuju Atrium kanan dan kiri. hingga kedua atrium
bisa berkontraksi dalam waktu yang sama. Proses ini memakan waktu 0,4 detik. Pada saat
Atrium kanan dan kiri berkontraksi, ventrikel akan terisi darah Impuls lstrik kemudian
kembali mengalir ke Atrioventricular Node (AV node) yang kemudian disebarkan ke
kumpulan serabut yang berada disebalah kanan dan kiri jantung sampai ke serat Purkinje
yang berada di Ventrikel kanan dan kiri jantung hingga membuat kedua Ventrikel
berkontraksi bersamaan.
Seluruh jaringan listrik pada jantung mampu menghasilkan impuls listrik. Namun SA node
memiliki kemamapuan yang paling besar. Apabila SA node gagal untuk menghasilkan
impuls, maka fungsinya bisa saja digantikan oleh jaringan lainnya, meskipun impllsnya
cenderung lebih rendah. Pencetus listrik pada jantung memang mampu mengakomodir
kebutuhan jantung untuk mampu berkontraksi terus dalma rentang waktu yang panjang.
Terdapat serabut syaraf yang mampu mengubah arus listrik yang dihasilkan serta membuat
perbuahan pada kekuatan kontraksi jantung. Syaraf yang dimaksud adalah bagian dari
susunan syaraf otonom. Susunan syaraf otonom sendiri terdiri dari 2 bagian : Sistim Syaraf
Simpatik dan Sistim Syaraf Parasimpatik.
Sistim syaraf simpatik mampu meningkatkan pacu jantung dan kekuatan kontraksi, sementara
sistim syaraf simpatik berfungsi sebaliknya. Seluruh sistim produksi listrik ini bisa kita
pantau dan bisa diukur. Pengukuran ini biasanya dilakukan dengan Electrocardiogram (EKG)
yang menghasilkan sebuh grafik.

F. Cara Pemeriksaan
1. Persiapan Alat-alat EKG.
a. Mesin EKG yang dilengkapi dengan 3 kabel, sebagai berikut :
b. Satu kabel untuk listrik (power)
c. Satu kabel untuk bumi (ground)
d. Satu kabel untuk pasien, yang terdiri dari 10 cabang dan diberi tanda dan warna.
e. Plat elektrode yaitu
f. 4 buah elektrode extremitas dan manset
g. 6 Buah elektrode dada dengan balon penghisap.
h. Jelly elektrode / kapas alkohol
i. Kertas EKG (telah siap pada alat EKG) dan kertas tissue

Gambar 4. Lead-lead Bidang Horizontal Prekordial

2. Persiapan Pasien
a. Pasien diberitahu tentang tujuan perekaman EKG
b. Pakaian pasien dibuka dan dibaringkan terlentang dalam keadaan tenang selama
perekaman.

G. Cara Menempatkan Elektrode


Sebelum pemasangan elektrode, bersihkan kulit pasien di sekitar pemasangan manset, beri
jelly kemudian hubungkan kabel elektrode dengan pasien.
1. Elektrode extremitas atas dipasang pada pergelangan tangan kanan dan kiri searah dengan
telapak tangan.
2. Pada extremitas bawah pada pergelangan kaki kanan dan kiri sebelah dalam.
3. Posisi pada pengelangan bukanlah mutlak, bila diperlukan dapatlah dipasang sampai ke
bahu kiri dan kanan dan pangkal paha kiri dan kanan.
Kemudian kabel-kabel dihubungkan :
Merah (RA / R) lengan kanan
Kuning (LA/ L) lengan kiri
Hijau (LF / F ) tungkai kiri
Hitam (RF / N) tungkai kanan (sebagai ground)
Hasil pemasangan tersebut terjadilah 2 sandapan (lead)
1. Sandapan bipolar (sandapan standar) dan ditandai dengan angka romawi I, II, III.
2. Sandapan Unipolar Extremitas (Augmented axtremity lead) yang ditandai dengan simbol
aVR, aVL, aVF.
3. Pemasangan elektroda dada (Sandapan Unipolar Prekordial), ini ditandai dengan huruf V
dan disertai angka di belakangnya yang menunjukkan lokasi diatas prekordium, harus
dipasang pada :
VI : sela iga ke 4 garis sternal kanan
V2 : sela iga ke 4 pada garis sternal kiri
V3 : terletak diantara V2 dan V4
V4 : ruang sela iga ke 5 pada mid klavikula kiri
V5 : garis aksilla depan sejajar dengan V4
V6 : garis aksila tengah sejajar dengan V4
Sandapan tambahan
V7 : garis aksila belakang sejajar dengan V4
V8 : garis skapula belakang sejajar dengan V4
V9 : batas kin dan kolumna vetebra sejajar dengan V4
V3R - V9R posisinya sama dengan V3 - V9, tetapi pada sebelah kanan.
Jadi pada umumnya pada sebuah EKG dibuat 12 sandapan (lead) yaitu
I , II, III, aVR, aVL, aVF, VI, V2, V3, V4, V5, V6. Sandapan yang lain dibuat bila perlu.
Lokasi permukaan otot jantung dapat dilihat pada EKG, seperti :
1. Anterior : V2, V3, V4
2. Septal : aVR, V1, V2
3. Lateral : I, aVL, V5, V6
4. Inferior : II, III, aVF
Aksis terletak antara : - 30 sampai + 110 (deviasi aksis normal)
Lebih dari – 30 : LAD (deviasi aksis kiri)
Lebih dari dari + 110 : RAD (deviasi aksis kanan)
H. Cara Merekam EKG
1. Hidupkan mesin EKG dan tunggu sebentar untuk pemanasan.
2. Periksa kembali standarisasi EKG antara lain :
a. Kalibrasi 1 mv (10 mm)
b. Kecepatan 25 mm/detik
Setelah itu lakukan kalibrasi dengan menekan tombol run/start dan setelah kertas bergerak,
tombol kalibrasi ditekan 2 -3 kali berturut-turut dan periksa apakah 10 mm
3. Dengan memindahkan lead selector kemudian dibuat pencatatan EKG secara berturut-turut
yaitu sandapan (lead) I, II, III, aVR, aVL, aVF, VI, V2, V3, V4, V5, V6. Setelah pencatatan,
tutup kembali dengan kalibrasi seperti semula sebanyak 2-3 kali, setelah itu matikan mesin
EKG
4. Rapikan pasien dan alat-alat.
a. Catat di pinggir kiri atas kertas EKG
b. Nama pasien
c. Umur
d. Tanggal/Jam
e. Dokter yang merawat dan yang membuat perekaman pada kiri bawah
5. Dibawah tiap lead, diberi tanda lead berapa, perhatian

Perhatian !
1. Sebelum bekerja periksa dahulu tegangan alat EKG.
2. Alat selalu dalam posisi stop apabila tidak digunakan.
3. Perekaman setiap sandapan (lead) dilakukan masing - masing 2 - 4 kompleks
4. Kalibrasi dapat dipakai gambar terlalu besar, atau 2 mv bila gambar terlalu kecil.
5. Hindari gangguan listrik dan gangguan mekanik seperti ; jam tangan, tremor, bergerak,
batuk dan lain-lain.
6. Dalam perekaman EKG, perawat harus menghadap pasien.

I. Cara Membaca EKG


Ukuran-Ukuran pada kertas EKG
Pada perekaman EKG standar telah ditetapkan yaitu :
1. Kecepatan rekaman 25 mm/detik (25 kotak kecil)
2. Kekuatan voltage 10 mm = 1 millivolt (10 kotak kecil)
Jadi ini berarti ukuran dikertas EKG adalah
1. Pada garis horisontal
• Tiap satu kotak kecil = 1 mm = 1/25 detik = 0,04 detik
• Tiap satu kotak sedang = 5 mm = 5/25 detik = 0,20 detik
• Tiap satu kotak besar = 25 mm = 25125” = I ,00 detik
2. pada garis vertikal
• 1 kotak kecil = 1 mm =0.1 mv
• 1 kotak sedang = 5 mm = 0,5 mv
• 2 kotak sedang = 10 mm= I milivolt

J. Cara Menghitung EKG


Kecepatan EKG adalah 25 mm / detik. Satu menit = 60 detik, maka kecepatan EKG dalam 1
menit yaitu 60 x 25 = 1500 mm.
Satu kotak kecil panjangnya = 1mm.
Satu kotak sedang (5 kotak kecil) : 1500 / 5 = 300 mm

Gambar 6. Kertas EKG


Cara menghitung denyut nadi permenit ada 5 cara yaitu :
1. 1500
Jarak 2 RR (kotak kecil)
2. 300
Jarak 2 RR (kotak sedang)
3. 60 (1 menit)
Jarak 2 RR (dalam detik)
4. Jumlah PQRS dalam 6 detik x 10
5. Penggaris EKG.

K. Nilai-Nilai EKG Normal


1. Gelombang P yaitu depolarisasi atrium.
a. Nilai-normal ; lebar <>
b. tinggi <0,25>
c. bentuk (+ ) di lead I, II, aVF, V2 - V6
d. (-) di lead aVR
e. + atau - atau + bifasik ( ) di lead III, aVL, V1
2. Kompleks QRS yaitu depolarisasi dan ventrikel, diukur dari permulaan gelombang QRS
sampai akhir gelombang QRS Lebar 0,04 - 0,10 detik
a. Gelombang Q yaitu defleksi pertama yang ke bawah (-) lebar 0,03 detik, dalam <1/3>
b. Gelombang R yaitu defleksi pertama yang keatas (+)
• Tinggi ; tergantung lead.
• Pada lead I, II, aVF, V5 dan V6 gel. R lebih tinggi (besar)
• Gel. r kecil di V1 dan semakin tinggi (besar) di V2 - V6.
c. Gel. S lebih besar pada VI - V3 dan semakin kecil di V4 - V6.
3. Gelombang T yaitu repolarisasi dan ventrikel
a. (+) di lead I, II, aVF, V2 - V6.
b. (-) di lead aVR.
c. (±) / bifasik di lead III, aVL, V1 (dominan (+) / positif)
4. Gelombang U ; biasanya terjadi setelah gel. T (asal usulnya tidak diketahui) dan dalam
keadaan normal tidak terlihat.

L. Kriteria Interpretasi EKG


1. Frekuensi (Rate)
Frekuensi jantung ( HR ), normal ; 60- 100 x / menit. Adapun cara menentukan jumlah
frekuensi/kecepatan permenit :
1. Untuk irama yang regular yaitu 1500 dibagi jumlah kotak kecil antan R-R (jarak dan R1 ke
R2) = HR / menit
2. Untuk irama irreguler yaitu direkam EKG dalam 6 detik, hitung beberapa banyak
kompleks QRS kemudian dikalikan 10 HR/ menit (jumlah R R dalam 6 detik dikali 10 H R /
menit)
CATATAN Setiap EKG irregular (ARITMIA), rekam lead II panjang
2. Irama (Rhythm)
1. Bila teratur (reguler) dan gel. P selalu diikuti gel. QRS-T yakni normal disebut Sinus
Ritme (irama sinus).
2. Bila irama cepat lebih dan 100 kali/menit disebut sinus tachikardi kurang dan 60 kali/menit
disebut sinus bradikardi
3. Selain dan yang tersebut di atas adalah aritmia
3. Gelomibang P (P WAVE)
Diukur dan awal sampai akhir gel. P. Nilai normal ; lebar <0,11>tinggi <0,25>. Digunakan
untuk kepentingan:
1. menandakan adanya aktivitas atrium
2. menunjukkan arah aktivitas atrium
3. menunjukkan tanda-tanda pembesaran atrium
4. P-R Interval
Diukur dan awal gel.P sampai dengan awal gel.QRS Nilai normal ; 0,12 - 0,20 detik.
Digunakan untuk kepentingan:
1. Interval PR >0,20 detik : AV Block
2. Interval PR <0,12>3. Interval PR berubah-ubah : Wandering Pacemaker
5. Kompleks QRS
Pengukuran kompleks QRS ada 3 yang dinilai :
1. Lebar/interval : diukur dan awal sampai dengan akhir gel.QRS
Nilai normal : <0,10>Kepentingan : menandakan adanya Bundle Branch Block:
lebar 0,10 - 0,12 = Incomplete B B B.
Lebar >0,12 detik = Complete B B B.
2. AXIS ( sumbu )
Nilai normal : - 300 sampai + 1100
Cara menentukan axis yaitu dengan melihat 2 lead yang berbeda ekstremitas lead, yang
terbaik adalah lead I & AVF. Kemudian tentukan jumlah aljabar dari amplitudo QRS di lead I
dan aVF
tentukan di kwadrant mana vektor QRS berada. Adapun kepentingannya yakni 300 sampai
900 adalah L A D (Left Axis Deviation) dan + 1100 sampai 1800 adalah R A D (Right Axis
Deviation)
3. Komfigurasi (bentuk)
Nilai normal :
Positif di lead I, II, aVF, V5, V6 ; Negatif di lead aVR, V1, V2
Bifasik di lead III, aVL, V3, V4, ( + / - ). Kepentingan mengetahui :
a. Q patologis
b. RAD/LAD
c. RVH/LVH

6. Segmen ST (ST Segment)


Diukur dari akhir gel.QRS (J Point) sampai awal gel. T
Nilai normal isoelektris (- 0,5 mm sampai + 2,5 mm)
Kepentingan:
Mengetahui kelainan pada otot jantung (iskemia dan infark)
7. Gelombang T (T Wave)
Ukurannya dari awal sampai dengan akhir gel. T. Nilai normal amplitudo (tinggi) : Minimum
1 mm. Adapun kepentingan:
1. Menandakan adanya kelainan otot jantung (iskemia/infark)
2. Menandakan adanya kelainan elektrolit.
Catatan:
1. Konfigurasi Gel. T Positif di lead I,II,aVF,V2-V6
2. Negatif di lead aVR
3. Bifasik di lead III, aVL, V1.Sistim Kelistrikan Pada Jantung

BAB III
Manifestasi Klinik

1. Pembesaran Atrium
Untuk mendiagnosis pembesaran atrium, lihat sadapan II dan V1
Pembesaran atrium kanan ditandai dengan hal-hal sebagai berikut :
a. Peningkatan amplitudo bagian pertama gelombang P.
b. Tidak ada perubahan durasi gelombang P.
c. Kemungkinan deviasi aksis ke kanan gelombang P.
Pembesaran atrium kiri ditandai dengan hal-hal berikut :
a. Amplitudo komponen terminal (negatif) gelombang P dapat meningkat, dan harus turun
setidaknya 1 mm di bawah garis isoelektrik.
b. Durasi gelombang P meningkat dan lebar bagian terminal (negatif) gelombang P harus
setidaknya 1 kotak kecil (0,04 detik).
c. Tidak ada deviasi aksis yang berarti karena atrium kiri normalnya mendominasi aliran
listriknya.
2. Hipertrofi Ventrikel
Hipertrofi ventrikel kanan ditandai oleh hal-hal berikut :
a. Ada deviasi aksis ke kanan dengan aksis QRS melebihi =1000
b. Gelombang R lebih besar daripada gelombang S di V1, sedang gelombang S lebih besar
daripada gelombang R di V6.
Hipertrofi ventrikel kiri ditandai dengan banyak kriteria. Dua yang paling berguna adalah
sebagai berikut :
a. Gelombang R di V5 atau V6 plus gelombang S di V1 atau V2 melebihi 35 mm.
b. Gelombang R di aVL melebihi 13 mm.
3. Gangguan Elektrolit
a. Hiperkalemia : evolusi (1) gelombang T runcing, (2) perpanjangan PR dan gelombang P
rata, serta (3) QRS melebar. Kompleks QRS dan gelombang T menyatu membentuk sebuah
gelombang sinus.
b. Hipokalemia : depresi ST, gelombang T rata, gelombang U.
4. Infark Miokard
a. Secara akut gelombang T meruncing dan kemudian inverse. Perubahan gelombang T
menggambarkan iskemia miokardium.
b. Secara akut segmen ST mengalami elevasi dan menyatu dengan gelombang T. Elevasi
segmen ST menggambarkan jejas miokardium.
c. Gelombang-gelombang Q baru bermunculan dalam beberapa jam sampai beberapa hari.
Gelombang ini menandakan infark miokard.