Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN PSORIASIS

1. Konsep Penyakit
1.1. Definisi

Psoriasis adalah ganggguan kulit yang ditandai dengan plaque, bercak, bersisik yang
dikenal dengan nama penyakit papulosquamoas.

Psoriasis merupakan penyakit radang kulit kronik dan rekuren / kambuhan, ditandai
dengan adanya bercak-bercak kemerahan dengan sisik putih yang kasar dan tebal.

Psoriasis adalah penyakit inflamasi kulit yang bersifat kronik dan rekuren, yang khas
ditandai dengan papula atau plak eritematosa, kering, batas tegas dan tertutup skuama
tebal berlapis-lapis, berwarna putih keabu-abuan atau putih seperti perak / mika.

Psoriasis adalah penyakit inflamasi non infeksius yang kronik pada kulit dimana
produksi sel-sel epidermis terjadi dengan kecepatan ± 6-9 x lebih besar daripada
kecepatan sel normal.

Psoriasis adalah masalah kulit di mana bagian kulit menjadi radang dan ditutupi sisik
berwarna perak atau kelabu pada siku, lutut dan kulit kepala.

Psoriasis adalah suatu penyakit radang kulit yang kronis. Penyakit ini ditandai dengan
bercak-bercak merah dengan sisik kasar dan tebal. Penyakit tersebut dianggap sebagai
suatu penyakit gangguan kekebalan tubuh, yang dipengaruhi terutama oleh sel T (salah
satu jenis sel darah putih). Sel T yang teraktivasi akan berinteraksi dengan sel kulit
(terutama keratinosit) dan mengakibatkan pembentukan kulit yang tebal dan bersisik.

Psoriasis adalah sejenis penyakit kulit kronis yang tidak menular, sering kambuh, yang
disebabkan oleh proses autoimun dan kadang-kadang dapat diturunkan.

Psoriasis adalah sejenis penyakit kulit yang penderitanya mengalami proses pergantian
kulit yang terlalu cepat. Biasanya bentuk kulit bersisik. Kemunculan penyakit ini
terkadang untuk jangka waktu lama atau timbul/hilang, penyakit ini secara klinis
sifatnya tidak mengancam jiwa dan tidak menular tetapi karena timbulnya dapat terjadi
pada bagian tubuh mana saja sehingga dapat menurunkan kualitas hidup serta
mengganggu kekuatan mental seseorang bila tidak dirawat dengan baik.
1.2. Etiologi
Penyebab psoriasis sampai saat ini belum diketahui. Diduga penyakit ini diwariskan
secara poligenik. Walaupun sebagian besar penderita psoriasis timbul secara spontan,
namun pada beberapa penderita dijumpai adanya faktor pencetus antara lain:
1) Trauma
Psoriasis pertama kali timbul pada tempat-tempat yang terkena trauma, garukan,
luka bekas operasi, bekas vaksinasi, dan sebagainya. Kemungkinan hal ini
merupakan mekanisme fenomena Koebner. Khas pada psoriasis timbul setelah 7-14
hari terjadinya trauma.
2) Infeksi
Pada anak-anak terutama infeksi Streptokokus hemolitikus sering menyebabkan
psoriasis gutata. Psoriasis juga timbul setelah infeksi kuman lain dan infeksi virus
tertentu, namun menghilang setelah infeksinya sembuh.
3) Iklim
Beberapa kasus cenderung menyembuh pada musim panas, sedangkan pada musim
penghujan akan kambuh.
4) Faktor endokrin
Insiden tertinggi pada masa pubertas dan menopause. Psoriasis cenderung membaik
selama kehamilan dan kambuh serta resisten terhadap pengobatan setelah
melahirkan. Kadang-kadang psoriasis pustulosa generalisata timbul pada waktu
hamil dan setelah pengobatan progesteron dosis tinggi.
5) Sinar matahari
Walaupun umumnya sinar matahari bermanfaat bagi penderita psoriasis namun
pada beberapa penderita sinar matahari yang kuat dapat merangsang timbulnya
psoriasis. Pengobatan fotokimia mempunyai efek yang serupa pada beberapa
penderita.
6) Metabolik
Hipokalsemia dapat menimbulkan psoriasis.
7) Obat-obatan
a. Antimalaria seperti mepakrin dan klorokuin kadang-kadang dapat memperberat
psoriasis, bahkan dapat menyebabkan eritrodermia.
b. Pengobatan dengan kortikosteroid topikal atau sistemik dosis tinggi dapat
menimbulkan efek “withdrawal”.
c. Lithium yang dipakai pada pengobatan penderita mania dan depresi telah diakui
sebagai pencetus psoriasis.
d. Alkohol dalam jumlah besar diduga dapat memperburuk psoriasis.
e. Hipersensitivitas terhadap nistatin, yodium, salisilat dan progesteron dapat
menimbulkan psoriasis pustulosa generalisata.
f. Berdasarkan penelitian para dokter, ada beberapa hal yang diperkirakan dapat
memicu timbulnya Psoriasis, antara lain adalah :
g. Garukan/gesekan dan tekanan yang berulang-ulang , misalnya pada saat gatal
digaruk terlalu kuat atau penekanan anggota tubuh terlalu sering pada saat
beraktivitas. Bila Psoriasis sudah muncul dan kemudian digaruk/dikorek, maka
akan mengakibatkan kulit bertambah tebal.
h. Obat telan tertentu antara lain obat anti hipertensi dan antibiotik.
i. Mengoleskan obat terlalu keras bagi kulit.
j. Emosi tak terkendali.
k. Makanan berkalori sangat tinggi sehingga badan terasa panas dan kulit menjadi
merah , misalnya mengandung alcohol.

1.3. Tanda dan Gejala


Lesi muncul sebagai bercak-bercak merah menonjol pada kulit yang ditutupi oleh sisik
berwarna perak. Bercak-bercak bersisik tersebut terbentuk karena penumpukan kulit
yang hidup dan mati akibat peningkatan kecepatan pertumbuhan serta pergantian sel-sel
kulit yang sangat besar. Jika sisik tersebut dikerok, maka terlihat dasar lesi yang
berwarna merah gelap dengan titik-titik perdarahan. Bercak-bercak ini tidak basah dan
bisa terasa gatal atau tidak gatal.

Psoriasis ditandai dengan hiperkeratosis dan penebalan epidermis kulit serta proses
radang, sehingga timbul skuamasi (pengelupasan) dan indurasi eritematosa (kulit
meradang dan kemerahan). Menyerang kulit, kuku, mukosa dan sendi, tetapi tidak pada
rambut. Pada umumnya tidak membehayakan jiwa, kecuali yang mengalami
komplikasi, namun penyakit ini sangat mengganggu kualitas hidup.

Kulit penderita psoriasis awalnya tampak seperti bintik merah yang makin melebar dan
ditumbuhi sisik lebar putih berlapis-lapis. Tumbuhnya tidak selalu diseluruh bagian
kulit tubuh kadang-kadang hanya timbul pada tempat-tempat tertentu saja, karena
pergiliran sel-sel kulit bagian lainnya berjalan normal. Psoriasis pada kulit kepala dapat
menyerupai ketombe, sedangkan pada lempeng kuku tampak lubang-lubang kecil rapuh
atau keruh.

Penyakit psoriasis dapat disertai dengan / tanpa rasa gatal. Kulit dapat membaik seperti
kulit normal lainnya setelah warna kemerahan, putih atau kehitaman bekas psoriasis.
Pada beberapa jenis psoriasis, komplikasi yang diakibatkan dapat menjadi serius,
seperti pada psoriasis artropi yaitu psoriasis yang menyerang sendi, psoriasis bernanah
(psoriasis postulosa) dan terakhir seluruh kulit akan menjadi merah disertai badan
menggigil (eritoderma).
Gejala dari psoriasis antara lain:
Mengeluh gatal ringan
Bercak-bercak eritema yang meninggi, skuama diatasnya.
Terdapat fenomena tetesan lilin
Menyebabkan kelainan kuku

1.4. Patofisiologi
Patogenesis terjadinya psoriasis, diperkirakan karena:
1) Terjadi peningkatan “turnover” epidermis atau kecepatan pembentukannya dimana
pada kulit normal memerlukan waktu 26-28 hari, pada psoriasis hanya 3-4 hari
sehingga gambaran klinik tampak adanya skuama dimana hiperkeratotik.
Disamping itu pematangan sel-sel epidermis tidak sempurna.
2) Adanya faktor keturunan ditandai dengan perjalanan penyakit yang kronik dimana
terdapat penyembuhan dan kekambuhan spontan serta predileksi lesinya pada
tempat-tempat tertentu.
3) Perubahan-perubahan biokimia yang terjadi pada psoriasis meliputi:
a. Peningkatan replikasi DNA.
b. Berubahnya kadar siklik nukleotida.
c. Kelainan prostaglandin dan prekursornya.
d. Berubahnya metabolisme karbohidrat.
Normalnya sel kulit akan matur pada 28-30 hari dan kemudian terlepas dari permukaan
kulit. Pada penderita psoriasis, sel kulit akan matur dan menuju permukaan kulit pada
3-4 hari, sehingga akan menonjol dan menimbulkan bentukan peninggian kumpulan
plak berwarna kemerahan. Warna kemerahan tersebut berasal dari peningkatan suplai
darah untuk nutrisi bagi sel kulit yang bersangkutan. Bentukan berwarna putih seperti
tetesan lilin (atau sisik putih) merupakan campuran sel kulit yang mati. Bila dilakukan
kerokan pada permukaan psoriasis, maka akan timbul gejala koebner phenomenon.
Terdapat banyak tipe dari psoriasis, misalnya plaque, guttate, pustular, inverse, dan
erythrodermic psoriasis. Umumnya psoriasis akan timbul pada kulit kepala, siku bagian
luar, lutut, maupun daerah penekanan lainnya. Tetapi psoriasis dapat pula berkembang
di daerah lain, termasuk pada kuku, telapak tangan, genitalia, wajah, dll.

Pemeriksaan histopatologi pada biopsi kulit penderita psoriasis menunjukkan adanya


penebalan epidermis dan stratum korneum dan pelebaran pembuluh-pembuluh darah
dermis bagian atas. Jumlah sel-sel basal yang bermitosis jelas meningkat. Sel-sel yang
membelah dengan cepat itu bergerak dengan cepat ke bagian permukaan epidermis
yang menebal. Proliferasi dan migrasi sel-sel epidermis yang cepat ini menyebabkan
epidermis menjadi tebal dan diliputi keratin yang tebal (sisik yang berwarna seperti
perak). Peningkatan kecepatan mitosis sel-sel epidermis ini agaknya antara lain
disebabkan oleh kadar nukleotida siklik yang abnormal, terutama adenosin monofosfat
(AMP) siklik dan guanosin monofosfat (GMP) sikli. Prostaglandin dan poliamin juga
abnormal pada penyakit ini. Peranan setiap kelainan tersebut dalam mempengaruhi
pembentukan plak psoriatik belum dapat dimengerti secara jelas.

1.5. Pemeriksaan penunjang


1) Pemeriksaan fisik
Anamnesa:
Untuk mencari gejala dan tanda adanya infeksi psoriasis dan juga mencari
penyebabnya.
Pemeriksaan fisik dan lokal:
Untuk mengetahui keadaan penderita dan juga untuk melihat (infeksi) dan palpasi
keadaan kulit,kuku,sendi yang terinfeksi.
2) Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan Histopatologi
Pemeriksaan Patologi anatomi, di dapatkan :
Akantosis (penebalan lapisan kulit stratum spinosum) dengan elongasi teratur
dari rete ridges, dan penebalan pada bagian bawahnya.
Penipisan epidermis lempeng suprapapilar dengan kadang-kadang terdapat
pustul spongiformis kecil
Papilomatosis
Berkurang atau hilangnya stratum granulosum
Hyperkeratosis, parakeratosis, serta abses Munro
Pada dermis ditemukan infiltrasi sel-sel polinuklear, limfosit dan monosit serta
pelebaran dan berkelok-keloknya ujung-ujung pembuluh darah.
1.6. Komplikasi
1. Psoriasis Pustulosa
Kadang-kadang diatas makula eritematosa pada psoriasis timbul pustula-pustula kecil
dengan ukuran 1-2 mm. keadaan ini dikenal dengan psoriasis postula.
Ada 2 bentuk psoriasis postula:
a. Psoriasis postulosa generalisata (bentuk Von Zumbusch).
Bentuk ini bersifat akut, merupakan bentuk sistemik dari psoriasis dengan ciri
eritematosa disertai demam dan gejala penyakit sistemik yang lain. Postula dapat
timbul diatas lesi psoriasis atau pada kulit sehat yang mengalami eritema
sebelumnya. Lesi ini menyebar dengan cepat dan timbulnya bergelombang. Postula
yang timbul tersusun berkelompok atau diskret. Kuku menebal dan pecah-pecah
karena adanya nanah. Mukosa mulut dan lidah dapat mengalami kelainan.
Kematian terjadi karena toksik atau infeksi.
b. Psoriasis postulosa lokalisata (bentuk Barber)
Bentuk ini bersifat kronik dan sangat resisten terhadap pengobatan. Biasanya
menyerang telapak tangan dan telapak kaki serta distribusinya simetris. Lesi berupa
postula diatas plak eritematosa, berskuama. Postula yang masih baru berwarna
kuning, kemudian berubah menjadi kuning kecoklatan dan bila postula mengering
berwarna coklat gelap. Akhirnya postula yang kering ini mengelupas. Kadang-
kadang timbul rasa gatal tetapi lebih sering timbul keluhan seperti rasa terbakar.
2. Psoriasis arthritis
Biasanya mengenai sendi-sendi interfalangeal distal dari jari tangan dan kaki. Pada
stadium akut, sendi yang terserang menjadi bengkak, keras dan sakit. Bila
berlangsung lama dapat menimbulkan kerusakan tulang dan synovial eusion,
menyebabkan pemendekan tulang dan hal ini mengakibatkan pergerakan sendi
menjadi sulit, jari memendek dan kaku dalam posisi fleksi. Secara rotgenologik
tampak sendi yang atrofi dengan permulaan osteoporosis diikuti peningkatan densitas
tulang, penyempitan rongga persendian dan erosi permukaan sendi.
3. Psoriasis eritrodermia
Psoriasis yang kronik dan luas dengan perjalanan penyakit yang lama dapat
berkembang menjadi eritodermia. Seluruh permukaan tubuh menjadi merah dan
tertutup skuama putih yang halus. Umumnya bentuk ini timbul akibat pemakaian obat
topikal atau penyinaran yang berlebihan.
Biasanya sulit diobati dan bila pengobatan berhasil maka erupsi eritodermia
menghilang dan lesi psoriasis yang khas akan muncul kembali.

1.7. Penatalaksanan
Tujuan penatalaksanaan adalah untuk memperlambat pergantian epidermis,
meningkatkan resolusi lesi psoriatik dan mengendalikan penyakit tersebut. Pendekatan
terapeutik harus berupa pendekatan yang dapat dipahami oleh pasien, pendekatan ini
harus bisa diterima secara kosmetik dan tidak mempengaruhi cara hidup pasien. Terapi
psoriasis akan melibatkan komitmen waktu dan upaya oleh pasien dan mungkin pula
keluarganya.
Ada tiga terapi yang standar: topikal, intralesi dan sistemik.
1) Terapi topikal
Preparat yang dioleskan secara topikal digunakan untuk melambatkan aktivitas
epidermis yang berlebihan tanpa mempengaruhi jaringan lainnya. Obat-obatannya
mencakup preparat ter, anthralin, asam salisilat dan kortikosteroid. Terapi dengan
preparat ini cenderung mensupresi epidermopoisis (pembentukan sel-sel
epidermis).

Formulasi ter mencakup losion, salep, pasta, krim dan sampo. Rendaman ter dapat
menimbulkan retardasi dan inhibisi terhadap pertumbuhan jaringan psoriatik yang
cepat. Terapi ter dapat dikombinasikan dengan sinar ultraviolet-B yang dosisnya
ditentukan secara cermat sehingga menghasilkan radiasi dengan panjang
gelombang antara 280 dan 320 nanometer (nm). Selama fase terapi ini pasien
dianjurkan untuk menggunakan kacamata pelindung dan melindungi matanya.
Pemakaian sampo ter setiap hari yang diikuti dengan pengolesan losion steroid
dapat digunakan untuk lesi kulit kepala. Pasien juga diajarkan untuk
menghilangkan sisik yang berlebihan dengan menggosoknya memakai sikat lunak
pada waktu amndi.

Anthralin adalah preparat (Anthra-Derm, Dritho-Crème, Lasan) yang berguna


untuk mengatasi plak psoriatik yang tebal yang resisten terhadap preparat
kortikosteroid atau preparat ter lainnya.

Kortikosteroid topikal dapat dioleskan untuk memberikan efek antiinflamasi.


Setelah obat ini dioleskan, bagian kulit yang diobati ditutup dengan kasa lembaran
plastik oklusif untuk menggalakkan penetrasi obat dan melunakkan plak yang
bersisik.
2) Terapi intralesi
Penyuntikan triamsinolon asetonida intralesi (Aristocort, Kenalog-10, Trymex)
dapat dilakukan langsung kedalam berck-bercak psoriasis yang terlihat nyata atau
yang terisolasi dan resisten terhadap bentuk terapi lainnya. Kita harus hati-hati agar
kulit yang normal tidak disuntuik dengan obat ini.
3) Terapi sistemik
Metotreksat bekerja dengan cara menghambat sintesis DNA dalam sel epidermis
sehingga mengurangi waktu pergantian epidermis yang psoriatik. Walaupun begitu,
obat ini bisa sangat toksik, khususnya bagi hepar yang dapat mengalamim
kerusakan yang irreversible. Jadi, pemantauan melalui pemeriksaan laboratorium
harus dilakukan untuk memastikan bahwa sistem hepatik, hematopoitik dan renal
pasien masih berfungsi secara adekuat.

Pasien tidak boleh minum minuman alkohol selama menjalani pengobatan dengan
metotreksat karena preparat ini akan memperbesar kemungkinan kerusakn hepar.
Metotreksat bersifat teratogenik (menimbulkan cacat fisik janin) pada wanita
hamil.

Hidroksiurea menghambat replikasi sel dengan mempengaruhi sintesis DNA.


Monitoring pasien dilakukan untuk memantau tanda-tanda dan gejal depresi
sumsum tulang.

Siklosporin A, suatu peptida siklik yang dipakai untuk mencegah rejeksi organ
yang dicangkokkan, menunjukkan beberapa keberhasilan dalam pengobatan kasus-
kasus psoriasis yang berat dan resisten terhadap terapi. Kendati demikian,
penggunaannya amat terbatas mengingat efek samping hipertensi dan
nefroktoksisitas yang ditimbulkan (Stiller, 1994).

Retinoid oral (derivat sintetik vitamin A dan metabolitnya, asam vitamin A) akan
memodulasi pertumbuhan serta diferensiasi jaringan epiterial, dan dengan demikian
pemakaian preparat ini memberikan harapan yang besar dalam pengobatan pasien
psoriasis yang berat.

Fotokemoterapi. Terapi psoriasis yang sangat mempengaruhi keadaan umum


pasien adalah psoralen dan sinar ultraviolet A (PUVA). Terapi PUVA meliputi
pemberian preparat fotosensitisasi (biasanya 8-metoksipsoralen) dalam dosis
standar yang kemudian diikuti dengan pajanan sinar ultraviolet gelombang panjang
setelah kadar obat dalam plasma mencapai puncaknya. Meskipun mekanisme
kerjanya tidak dimengerti sepenuhnya, namun diperkirakan ketika kulit yang sudah
diobati dengan psoralen itu terpajan sinar ultraviolet A, maka psoralen akan
berkaitan dengan DNA dan menurunkan proliferasi sel. PUVA bukan terapi tanpa
bahaya; terapi ini disertai dengan resiko jangka panjang terjadinya kanker kulit,
katarak dan penuaan prematur kulit.

Terapi PUVA mensyaratkan agar psoralen diberikan peroral dan setelah 2 jam
kemudian diikuti oleh irradiasi sinar ultraviolet gelombang panjang denagn
intensitas tinggi. (sinar ultraviolet merupakan bagian dari spektrum
elektromagnetik yang mengandung panjang gelombang yang berkisar dari 180
hingga 400 nm).

Terapi sinar ultraviolet B (UVB) juga digunakan untuk mengatasi plak yang
menyeluruh. Terapi ini dikombinasikan dengan terapi topikal terbatubara (terapi
goeckerman). Efek sampingnya serupa dengan efek samping pada terapi PUVA.

Etretinate (Tergison) adalah obat yang relatif baru (1986). Ia adalah derivat dari
Vitamin A. Bisa diminum sendiri atau dikombinasi dengan sinar ultraviolet. Hal ini
dilakukan pada penderita yang sudah bandel dengan obat obat lainnya yang
terdahulu.

Di antara pengobatan tersebut diatas, yang paling efektif untuk mengobati psoriasis
adalah dengan ultraviolet (fototerapi), karena dengan fototerapi penyakit psoriasis
dapat lebih cepat mengalami “clearing” atau “almost clearing” (keadaan dimana
kelainan / gejala psoriasis hilang atau hampir hilang). Keadaan ini disebut “remisi”.
Masa remisi fototerapi tersebut bisa bertahan lebih lama dibandingkan dengan
pengobatan lainnya.

Pengobatan fotokemoterapi, yaitu dengan menggunakan kombinasi radiasi


ultraviolet dan oral psoralen (PUVA), namun kelemahannya adalah untuk jangka
panjang dapat menimbulkan kanker kulit.

Fototerapi UVB konvensional dengan menggunakan sinar UVB broadband dengan


panjang gelombang 290-320 nm. Terapi kurang praktis karana pasien harus masuk
ke dalam light box.

Fototerapi dengan alat Monochromatic Excimer Light 308 nm (MEL 308 nm)
merupakan bentuk fototerapi UVB yang paling mutakhir dengan menggunakan
sinar laser narrowband UVB dengan panjang gelombang 308 nm. Dibandingkan
dengan narrowband UVB, MEL 308 nm lebih cepat dan lebih efektif dalam
mengobati psoriasis yang resisten.

Beberapa tips untuk penderita psoriasis :


 Jaga kulit agar tetap berminyak. Minyak, cream, dan petroleum jelly adalah
moisturizer yang baik. Gunakan pelembab bila udara terasa panas.
 Penyinaran dengan sinar matahari akan menghilangkan psoriasis pada
beberapa orang, namun kulit terlebih dulu diolesi dengan minyak dan
dilakukan lubrikasi.
 Mandi dengan air panas akan mengurangi sisik yang timbul. Penggunaan
moisturizer segera setelah mandi akan berguna. Meminimalisasi kontak
dengan sabun dan bahan kimia. Gunakan sabun yang sangat lembut, sabun
moisturizing, atau sabun yang bebas pembersih.
 Lindungi kulit dari cidera, sebab cidera dapat memperparah plaque yang
timbul.
1.8. Pathway

1.9. Evidence Base Practice


Abstrak: Psoriasis merupakan salah satu kondisi penyakit kulit golongan
dermatosis eritrosquamosa yang penyebabnya belum diketahui dengan pasti dan
diduga berhubungan dengan stress, infeksi, trauma, endokrin, dan alkohol. Psoriasis
bersifat kronik dan residif di tandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas
tegas dengan skuama yang kasar berlapis-lapis dan trasparan seperti mika disertai
fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner. Tujuan penelitian untuk mengetahui:
(1) Sejauh mana stress psikologis pada Pasien Psoriasis. (2) Faktor stressor
psikologis pada Pasien Psoriasis serta hubungannya dengan norepinefrin sebagai
hormon stress. Metode penelitian ini melalui observasional case control study.
Diagnosa Psoriasis dilakukan berdasarkan gambaran klinik, pemeriksaan
histopatologi, wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) faktor stress
psikologis berperan dalam psoriasis, (2) Terdapat korelasi positif antara keparahan
psoriasis dengan nor epineprin. Pasien psoriasis akan mengalami: (1) gangguan
kesejahteraan jiwa karena mengalami perubahan penampilan fisik akibat kerusakan
fungsi kulit. (2) inflamasi sendi dan kelainan pada kuku.

1.10. Terapi komplementer


Regimen dan efek samping beberapa terapi topikal psosiarsis
Terapi Regimen Efek samping
Emiluen Kurang lebih 4 kali sehari Folikulitis, dermatitis
alergi atau kontak iritan
Ter (batu bara) 2-3 kali sehari Iritasi, reaksi salisilism
(nausea, nuntah, tinitus,
atau hiperventilasi
Kortikosteroid Gunakan di sore hari Iritasi, fotoreaksi, bau
sehingga terus melekat yang tidak enak,
sepanjang malam mewarnai kulit
Kalsipotrien 2-4 hari sehari Atropi jaringan lokal,
degredasi, dan stria;
penipisan epidermal;
erupsi menyerupai akne;
infeksibakteri atau jamur
pada kulit, efeksistemik
glukokortikoid
Anthralin 1-2 kali sehari, tidak lebih Rasa terbakar, dan perih
dari 100g/minggu. (10% pasien) dermatitis
Gunakan pada sore hari kontak iritan mewarnai
agar melekat sepanjang kulit, dan pakaian; iritasi
malam, tetapi regimen
jangka pendek
Tazarotene 1 kali perhari, biasanya di Gatal, terbakar, perih,
sore hari eritema

Terapi non farmakologi


 Emolien (pelembab) biasakan digunakan selama periode bebas terapi untuk
meminimalkan kekeringan kulit yang dapat memicu terjadinya kekambuhan
dini. Emolien tersebut dapat menghindari stratum korneum dan
meminimalkan evaporasi air. Hidrasi menyebabkan stratum koerneum
membengkak dan kemudian mendatarkan permukaan kontur. Senyawa
tersebut dapat meningkatkan deskuamasi, mengeliminasi pengelupasan, dan
menurunkan pruritus, selain itu, emolen dapat melembutkan kulit,
mengurangi gaya ikat di antara lapisan yang mengeras serta memiliki
aktivasi vasokontriktor yang ringan, lisio krim atau salep seringkali harus
digunakan hingga 4 kali dalam sehari untuk memperoleh respon yang
menguntungkan, efek samping yang terjadi meliputi folikulitis serta alergi
atau kontak dermatitis iritan.
 Balneoterapi (dan klimatoterapi) meliputi mandi dalam air yang
mengandung garam-garam tertentu dan sering kali dikombinasikan dengan
paparan terhadap sinar matahari. Area-area tertentu di dunia telah menjadi
tempat yang pas untuk melakukan balneoterapi (atau klimatoterapi).
Kandungan garam pada perairan tertentu, seperti laut mati, dapat
mengurangi jumlah sel T yang teraktivasi pada kulit sehingga dapat
bermanfaat bagi pasien psoriasis. Selain itu, terapi dapat dilakukan di air
terjun kangal di turki dan blue lagoon di islandia, terjadinya penurunan
jumlah serum mangan dan litium secara signifikasi setelah mandi dalam air
laut mati di yakini sebagai akibat dari kandungan garam dalam air laut.
 Paparan sinar terhadap sinar UV-B (ultraviolet B dengan panjang gelombang
290-320nm) merupakan penanganan yang bermanfaat. Penggunaan sumber
sinar yang NB (narrow-band) dengan 83% emisi UV-B pada panjang
gelombang 310-313 nm merupakan terapi yang panjang gelombang paling
efektif. NB-UVB telah menunjukan ke efektifannya terhadap plak pada
psoriasis, banyak terapi topical dan menigkatkan respon fototerapin UV-B
(seperti penggunaan antara lain jangka pendek dengan UV-B penambahaan
kalsiprotein topical, atau penambahan metotreksat sistemik atau retinoid).
Emolien dapat meningkatkan efikasi dari UV-B dan dapat di gunakan hanya
sebelum terapi UV-B.

Keratolitik
 Asam salisilat merupakan salah satu senyawa keratolitik yang paling
penting sering digunakan. Senyawa tersebut menyebabkan kerusakan
pada kohesi antara koneosit yang berada pada lapisan kulit pasien
psoriasis yang keras dan abnormal. Efek keratolitik tersebut
meningkatkan penetrasi dan efikasi beberapa zat topical
 Obat ini tersedia dalam bentuk 2% hingga 10% gel atau lusio dan
digunakan 2-3 kali perhari
 Asam salisilat mengakibatkan iritasi lokal. Penggunaan pada area yang
luas dan inflamasi dapat menginduksi reaksi salisilims yang ditandai oleh
gejala nausea, muntah, tinitus dan hiperventilasi
 Keratolitik agen keratolitik merupakan digunakan untuk menghilangkan
pengelupasan, menghaluskan kulit dan mengurangi hyperkeratosis,
mekanisme kerja asam salisilat, sebagai salah satu keratolitik yang biasa
digunakan, ialah mengganggu kohesi antara korneosit-korneosit pada
lapisan kulit abnormal pada pasien psoriasis, secara khusus, asam
salisilat, bermanfaat pada area dimana terdapat sisik yang tebal.
1.11. Kajian islam
Penyakit kulit bisa disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, jamur bahkan alergi dan
kekebalan tubuh yang melemah dan lain-lain. Para ahli ma’rifah menyetakan: ada
banyak ayat al-qur’an yang teruji coba menjadi obat berbagai macam penyakit
zhahir dan batin.

Al-muhaddits al- musnid al-arif billah as-sayyid shalahuddin at-tijaniy al-hasaniy


hafizhahullah dalam kitab al-qindil fi khawwashi ayit tanzil menyebutkan
pengobatan dengan ayat al-qur’an dapat menyembuhkan penyakit kulit seperti:
bisul, jerawat, kurap, kudis, panu, kutu air, campak, cacar, eksim, gatal-gatal, gudik,
koreng, kena kutu bebek dan sebagainya dengan cara:

 Tulis teks arab surat al- mu’minun ayat: 14, disebuah bejana nampan atau piring
dengan za’faran:
Lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan
dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka maha sucilah allah, pencipta yang
paling baik. (Q.S. Al-mu’minun; 14)
 Setelah ditulis, dituangkan air segelas kecil ke dalam piring atau nampan
tersebut. Separuhnya diminumkan kepada orang yang mengalami penyakit kulit,
separuhnya lagi air itu dibasuhkan pada bagian tubuh yang dikeluhkan.
Syekh abdud daim al-kahel berkata: Allah telah menempatkan rahasia daya magic
dalam setiap ayat al-qur’an sebuah kekuatan penyembuhan untuk penyakit tertentu
jika ayat khusus dibaca dalam jumlah tertentu. Ada banyak penyakit yang sembuh
dengan membaca ayat-ayat al-qur’an dan kita tidak dapat membantah hal itu karena
kesembuhan memang benar-benar terjadi.

Dengan barokah ayat al-qur’an sel-sel jaringan kulit yang telah rusak akan
membaik.

Kitab al-qindil al-faqir memdapat ijazah langsung dari al-arif billah sayyid
shalahuddin at-tijaniy al-hasaniy hafizhahullah wa nafa’ani bi ulumihi.aamiin.

2. Konsep asuhan klien dengan psoriasis


2.1. Pengkajian
2.1.1. Riwayat keperawatan
a. Keluhan Utama
Biasanya kulit mengelupas dan kemerahan pada seluruh permukan tubuh
(bersisik)
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Biasanya klien mengatakan tidak pernah menderita penyakit yang
membuatnya dirawat di rumah sakit sejak kecil. Klien tidak pernah
di operasi.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Menurut klien, dalam keluarga tidak ada yang pernah menderita penyakit
yang sama.
2.1.2. Pemeriksaan fisik ; data focus
1. Kepala
Biasanya bentuk mesoncephal, rambut pendek, tidak mudah dicabut,
warna hitam, cukup bersih, tidak ada keluhan sakit kepala / pusing.
2. Mata
Biasanya ukuran pupil D/S ± 2 mm, isokor, reaksi terhadap cahaya baik,
bentuk bulat simetris ki/ka, konjungtiva merah (tidak anemis), fungsi
penglihatan baik, tidak ada tanda radang, tidak pernah operasi, tidak
meggunakan kaca mata dan lensa kontak.
3. Hidung
Lubang simetris ki/ka, tidak ada tanda-tanda radang, tidak ada sekret,
tidak ada deviasi septum, tidak ada riwayat alergi, tidak nyeri tekan.
4. Mulut dan Tenggorokan
Klien terakhir periksa gigi pada tanggal 30 Juli 2005 dan dianjurkan
untuk mencabut gigi gerahamnya yang berlubang serta membersihkan
karang giginya. Klien tidak mengalami kesu;itan menelan dan gangguan
berbicara. Kebersihan mulut dan gigi baik, tidak ada pembesaran
kelenjar thyroid dan limfe.
5. Pernafasan
Kesan normal, pergerakan dada ikut pola nafas, simetris ki/ka, tidak ada
bunyi nafas tambahan, klien tidak perna di rontgen.
6. Sirkulasi
Nadi perifer (radial) teraba reguler, CRP ± 2 detik, tidak tampak
peningkatan tekanan vena jagularis, s1 dan s2 murni, s3 dan s4 tidak ada,
bunyi murmur dan gallop tidak ditemukan, tidak ada nyeri dada, edema
dan palpitasi, tidk ada cyanosis, clubbing.
7. Abdomen
Bentuk datar, pergerakan ikut pola nafas, tidak nyeri tekan, tidak tampak
adanya distensi abdomen, tidak teraba perbesaran hati, limfa dan ginjal.
8. Ekstremitas
Tangan : Simetris ki/ka, tampak kemerahan, pergerakan baik, tampak ada
skuama.
Kaki : Simetris ki/ka, tampak kemerahan, ada skuama, pergerakan baik,
tidak menggunakan alat bantu.
9. Nutrisi
Jenis diet makanan biasa, nafsu makan baik, tidak ada mual dan muntah,
intake cairan cukup (± 5 - 8 gelas/hari).
10. Eliminasi
Frekuenai buang air besar 1 kali sehari, tidak konstipasi, tidak diare.
Frekuensi buang air kecil 4 -5 kali sehari, tidak ada inkontinensia,
hematuria, tidak menggunakan kateter.
11. Kebersihan diri
Kebersihan mulut, gigi, badan, kuku tangan dan kaki cukup bersih.
12. Kesaan perawat terhadap klien
Klien tampak cemas dengan penyakitnya
Klien tampak kurang percaya diri dengan keadaannya
Sebelum masuk rumah sakit klien sudah berusaha berobat ke dukun dan
dokter spesialis, tapi tidak menemukan hasil yang baik untuknya.
Klien tampak pasrah pada Tuhan YME.

Diagnosa 1
Ds: biasanya kulit mengelupas dan kemerahan pada seluruh permukan tubuh
(bersisik)
Do: biasanya Turgor kulit buruk, kering, bersisik, pecah-pecah, perubahan
warna kulit, terdapat bercak-bercak, gatal-gatal, rasa terbakar, kurangya
personal hygiene, lingkungan tidak sehat, mengkonsumsi makanan
berminyak dan pedas.

Diagnosa 2
Ds: biasanya kulit mengelupas dan kemerahan pada seluruh permukan tubuh
(bersisik)
Do: biasanya kulit kering, bersisik, pecah-pecah,terdapat bercak-bercak,
minder, tidak percaya diri, perasaan terisolasi, interaksi kurang.
Diagnosa 3
Ds: biasanya kulit mengelupas dan kemerahan pada seluruh permukan tubuh
(bersisik)
Do: biasanya klien tampak gelisah, takut akan penyakitnya, ragu, gangguan
pola tidur, sering berkeringat, anoreksia, mual, perubahan pola berkemih.
Diagnosa 4
Ds: biasanya kulit mengelupas dan kemerahan pada seluruh permukan tubuh
(bersisik)
Do: biasanya ansietas, klien tampak gelisah, gangguan pola tidur, klien takut
akan penyakitnya, gatal-gatal, kulit terasa terbakar atau perih.
i. Pemeriksaan penunjang
a. Tes laboratorium
 Pemeriksaan Histopatologi
Pemeriksaan patologi anatomi, di dapatkan:
Akantosis (penebalan lapisan kulit stratum spinosum) dengan elongasi
teratur dari rete ridges, dan penebalan pada bagian bahahnya. Penipisan
epidermis lempeng suprapapilar dengan kadang-kadang terdapat pustul
spongiformis kecil papilomatosis berkurang atau hilangnya stratum
granulosum hyperkeratosis, serta abses munro pada dermis ditemukan
infiltrasi sel-sel polinuklear, limfosit dan monosit serta pelebaran dan
berkelok-keloknya ujung-ujung pembuluh darah.
b. Dignosa keperawatan yang mungkin muncul
Diagnosa 1 : Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait
penyakit ditandai dengan adanya gatal, rasa terbakar pada kulit, ansietas,
klien tampak gelisah, dan gangguan pola tidur
i. Definisi:
Merasa kurang senang, lega, dan sempurna dalam dimensi fisik,
psikospiritual, lingkungan, dan social.
ii. Batasan karakteristik

 Ansietas
 Menangis
 Takut
 Ketidakmampuan untuk rileks
 Iritabilitas
 Merintih
 Melporkan merasa dingin
 Melaporkan merasa panas
 Melaporkan merasa tidak nyaman
 Melaporkan gejala distress
 Melaporkan rasa gatal
 Melaporkan kurang puas dengan keadaan
 Melaporkan kurang senang dengan keadaan situasi tersebut.
 Gelisah
 Berkeluh kesah
iii. Factor yang berhubungan
 Gejala terkait penyakit
 Sumber yang tidak adekuat
 Kurang pengendalian lingkungan
 Kurang privasi
 Kurang kontrol dituasional
 Stimulasi lingkungan yang mengganggu
 Efek samping terkait terapi (mis.,medikasi, radiasi)
Diagnosa 2 : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi zat kimia,
faktor mekanik, faktor nutrisiditandai dengan kerusakan jaringan kulit (kulit
bersisik, turgor kulit buruk, pecah-pecah, bercak-bercak, gatal).
i. Definisi
Kerusakan pada epidermis dan /atau dermis.
ii. Batasan karakteristik
 Benda asing menusuk permukaan kulit
 Kerusakan integritas
iii. Factor yang berhubungan
 Agen farmaseutikal
 Cedera kimiawi kulit (mis., luka bakar, kapsaisin, metelin klorida,
agens mustads)
 Faktor mekanik (mis,. Daya gesek, tekanan, imobilitas fisik)
 Hipertermia
 Hipotermia
 Kelembapan
 Lembap
 Terapi radiasi
 Usia ekstream
 Gangguan metabulisme
 Gangguan pigmentasi
 Gangguan sensasi (akibat cedera medula spinalis, diabetes melitus,
dll)
 Gangguan sirkulasi
 Gangguan sirkulasi
 Gangguan turgot kulit
 Gangguan turgor kulit
 Gangguan volume cairan
 Imunodefisiensi
 Nutrisi tidak adekuat
 Perubahan hormonal
 Tekanan pada tonjolan tulang

Diagnosa 3 : Gangguan citra tubuh berhubungan dengan biofisik, penyakit, dan


perseptual ditandai dengan tidak percaya diri, minder, perasaan terisolasi, interaksi
berkurang
i. Definisi
Konfusi dalam gambaran mental tentang diri fisik individu
ii. Batasan karakteristik
 Perilaku mengenali tubuh individu
 Perilaku menghindari tubuh individu
 Perilaku memantau tubuh individu
 Respon nonverbal terhadap perubahan aktual pada tubuh (misalnya
penampilan, struktur, fumgsi)
 Respon nonverbal terhadap persepsi perubahan pada tubuh (misalnya
penampilan, struktur, fumgsi)
 Perubahan aktual pada fungsi
 Perubahan aktual pada struktur
 Perilaku mengenali tubuh individu
 Perilaku memantau memantau tubuh individu
iii. Factor yang berhubungan
 Biofisik, kognitif
 Budaya, tahap perkembangan
 Penyakit, cedera
 Perseptual, psikososial, spriritual
 Pembedahan, trauma
 Terapi penyakit
a. Perencanaan
Diagnosa 1
i. Tujuan dan kriteria hasil
Tujuan
 Ansiety
 Fear leavel
 Sleep deprivation
 Comfort, readines for enchanced
Kriteria hasil
 Mampu mengontrol kecemasan
 Status lingkungan yang nyaman
 Mengontrol nyeri
 Kualisi tidur dan istirahat adekuat
 Agresi pengendalian diri
 Respon terhadap pengobatan
 Control gejala
 Status kenyamanan meningkat
 Dapat mengontrol ketakutan
 Support social
 Keinginan untuk hidup
ii. Intervensi keperawatan dan rasional
Intervensi
 Kaji penyebab gangguan rasa nyaman
 Kendalikan faktor- faktor iritan.
 Pertahankan lingkungan yang dingin atau sejuk.
 Gunakan sabun ringan atau sabun khusus untuk kulit sensitif.
 Kolaborasi dalam pemberian terapi topical seperti yang diresepkan
dokter.
Rasional
 Sebagai dasar dalam menyusun rencana intervensi
keperawatan Rasa gatal dapat diperburuk oleh panas, kimia dan
fisik.
 Kesejukan mengurangi gatal. Upaya ini mencakup tidak adanya
larutan detergen, zat pewarna atau bahan pengeras. Tindakan ini
membantu meredakan gejala

Diagnosa 2
iii. Tujuan dan kriteria hasil
Tujuan
 Tissue integrity: skin and mucous
 Wound healing: primary and secondary intention
Kriteria hasil:
 Perfusi jaringan normal
 Tidak ada tanda-tanda infeksi
 Ketebalan dan tekstur jaringan normal
 Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan
mencegah terjadinya cidera berulang
 Menunjukkan terjadinya proses penyembuhan luka

iv. Intervensi keperawatan dan rasional

Intervensi
 Kaji atau catat ukuran, warna, keadaan luka / kondisi sekitar luka.
 Lakukan kompres basah dan sejuk atau terapi rendaman.
 Lakukan perawatan luka dan hygiene sesudah itu keringkan kulit
dengan hati-hati dan taburi bedak yang tidak iritatif.
 Berikan prioritas untuk meningkatkan kenyamanan dan
kehangatan pasien Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian
obat-obatan
Rasional
 Memberikan informasi dasar tentang penanganan kulit . Merupakan
tindakan protektif yang dapat mengurangi nyeri. Memungkinkan
pasien lebih bebas bergerak dan meningkatkan kenyamanan.
 Mempercepat proses rehabilitasi pasien . Untuk mempercepat
penyembuhan
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, E, Marilynn. (2000). “Rencana Asuhan Keperawatan”, Edisi 3, EGC: Jakarta

Herdman, T. heather, 2012, Diagnosis Keperawtan : Definisi dan Klasifikasi 2012-2014/


editor T.Heather Herdman; alih bahasa, Made Sumarwati, dan Nike Budi Subekti. EGC.
Jakarta

Nanda Nic Noc. (2015). Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis Jilid 2. Medi A
ction: Yogyakarta

Price, Wilson. (1995). “Patofisiologi”, Edisi 4, EGC: Jakarta.

Smeltzer, Suzanne. (2002). “Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah”, Edisi 8, Volume 3,
EGC: Jakarta.