Anda di halaman 1dari 6

KONSEP HARTA DALAM ISLAM

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah fiqih muamalat
tahun ajaran 2018/2019

Disusun oleh:

KELOMPOK 3

Dini Apriliani K G 10070317001


Irvan Hilmi 10070317018
Novalia Ega Saputri 10070317030
Maulida Isnaina N 10070317052
Muhammad Abdillah A 10070317068

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2018M/1440H
A. Pengertian Harta
Dalam literatur fiqih, harta terjemahan dari kata (al-mal) jamaknya adalah
(al-amwaal), berasal dari kata yang berarti condong, cenderung atau
berpaling dari tengah dari salah satu sisi (nasrun, haroen, 2002:10)
Sedangkan menurut istilah para ulama memberikan definisi sebagai berikut:
a. Menurut ulama hanafiah harta adalah segala sesuatu yang naluri
manusia cenderung kepadanya dan dapat disimpan sampai batas
waktu yang diperlukan dan dapat dimanfaatkan
b. Menurut jumhur ulama: Malikiyah, Safiiyah, dan Hanabilah harta ialah
sesuatu yang naluri manusia cenderung kepadanya dan dapat diserah
terimakan yang orang lain terhalang mempergunakannya. (Gufron A.
Mas’adi, 2002:11)
c. Menurut Mustafa ahmad zarqa, harta adalah setiap materi yang
mempunyai nilai yang beredar dilkalangan manusia
d. Menurut Muhammad salabi harta adalah sesuatu yang dapat dikuasai,
disimpan serta dapat diambil manfaatnya menurut kebiasaan.
e. Ibn asir, sebagaimana dikutip oleh yusuf qardhawi, berpendapat
bahwa harta itu pada mulanya berarti emas dan perak, tetapi
kemudian berubah pengertiannya menjadi segala barang yang
disimpan dan dimiliki (yusuf qardhawi, 1996:123)
f. Menurut wahbah zuhaili, harta adalah sesuatu yang dibutuhkan dan
diperoleh manusia baik berupa benda yang tampak seperti emas,
perak, binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun yang tidak tampak, yaitu
manfaat seperti kendaraan, pakaian, dan tempat tinggal (rachmad
syafe’I 2001:21)
B. Kedudukan Harta Dan Fungsi Harta

Dalam ekonomi Islam, bahwa harta mempunyai peranan yang sangat


penting dalam kehidupan manusia, sehingga pantas Allah dan Rasul-Nya
banyak berbicara tentang harta dalam al-Qur’an maupun dalam al-Hadist.
Dalam al-Qur’an Allah berbicara tentang harta bagi kehidupan manusia
berikut (Hendi Suhendi,1997:12-13)
1. Harta bagi kehidupan manusia sebagai perhiasan dan kesenangan,
sebagainmana dijelaskan dalam QS. Al-Kahfi ayat 46:
‫ك ث َ َو ا ب ًا‬
َ ِ ‫ت َخ يْ ٌر ِع نْ د َ َر ب‬ ُ ‫ح ي َ ا ة ِ ال د ُّنْ ي َ ا ۖ َو الْ ب َ ا ق ِ ي َ ا‬
ُ ‫ت ال صَّ ا لِ َح ا‬ َ ْ‫لْ َم ا ُل َو الْ ب َ ن ُ و َن ِز ي ن َ ة ُ ال‬
‫َو َخ يْ ٌر أ َ َم ًل‬
Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi
amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi
Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapa”
ِ‫ير الْ ُم ق َ نْ طَ َر ة ِ ِم َن ال ذ َّهَ ب‬ ِ ‫ط‬ ِ ‫ت ِم َن الن ِ سَ ا ِء َو الْ ب َ ن ِ ي َن َو الْ ق َ ن َا‬
ِ ‫ب ال ش َّ َه َو ا‬ ُّ ‫ح‬ ُ ‫اس‬ ِ َّ ‫ُز ي ِ َن لِ ل ن‬
ُ َّ‫ك َم ت َا ع ُ الْ َح ي َ ا ة ِ ال د ُّنْ ي َ ا ۖ َو َّللا‬ َٰ
َ ِ‫ث ۗ ذ َ ل‬ ِ ‫اْل َنْ ع َ ا ِم َو الْ َح ْر‬ ْ ‫َو الْ فِ ضَّ ةِ َو الْ َخ ي ْ ِل ال ْ ُم سَ َّو َم ةِ َو‬
ِ ‫ح سْ ُن الْ َم آ ب‬ ُ ُ ‫ِع نْ د َ ه‬

Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-


apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak harta yang banyak dari jenis
emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah
kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik
(surga)” (QS. Ali-Imran (3):14)
2. Harta sebagai amanah/titipan yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya
sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya, jika tidak dijaga dengan baik
maka akan menimbulkan fitnah, karena harta sebagai titipan, maka
harta tersebut bukan milik mutlak manusia, tetapi pemilik mutlaknya
hanya Allah, sebagaimana dijelaskan dalam QS. At-Taghabun ayat 15 :
ِ َ ‫إ ِ ن َّ َم ا أ َ ْم َو ا ل ُ ك ُ ْم َو أ َ ْو ََل د ُك ُ ْم ف ِ ت ْ ن َة ٌ ۚ َو َّللاَّ ُ ِع نْ د َ ه ُ أ َ ْج ٌر ع‬
ٌ‫ظ ي م‬

Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan


(bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”

Sedangkan dalam Al Hadist yang berbicara tentang kedudukan harta


antara lain.
1. Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, yaitu :
“Celakalah orang yang menjadi hamba dinar (uang), orang yang menjadi
hamba dirham, orang yang menjadi hamba toga atau pakaian, jika diberi ia
marah, mudah-mudahan dia celaka dan merasa sakit, jika dia kena suatu
musibah dia tidak akan memperoleh jalan keluar”.(HR. Bukhari)
.
2. “Terkutuk orang yang menjadi hamba dinar dan terkutuk pula orang yang
menjadi hamba dirham”.(HR. Al-Tirmidzi).

Fungsi Harta
Harta mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam kehidupan
manusia seperti dijelaskan di atas, juga mempunyai fungsi yang tidak kalah
penting dalam kehidupan, yaitu:
1. Harta berfungsi menyempurnakan pelaksanaan ibadah mahdhah,
karena ibadah memerlukan alat-alat, seperti kain untuk menutupi aurat
dalam pelaksanaan shalat, bekal untuk melaksanakan ibadah haji,
berzakat, shadaqah, hibabah dan lain-lain.
2. Untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah, karena
kefakiran cenderung mendekatkan diri kepada kekufuran.
3. Untuk meneruskan kehidupan dari satu period eke periode berikutnya,
sebagaimana dijelaskan dalam QS. An Nisa ayat 9:

َ َّ‫ض ع َ ا ف ً ا َخ ا ف ُ وا عَ ل َ يْ ِه ْم ف َ لْ ي َ ت َّق ُ وا َّللا‬


ِ ً ‫خ لْ ف ِ ِه ْم ذ ُ ِر ي َّ ة‬ َ ‫َو لْ ي َ ْخ‬
َ ‫ش ال َّ ِذ ي َن ل َ ْو ت ََر ك ُ وا ِم ْن‬
‫َو لْ ي َ ق ُ و ل ُ وا ق َ ْو ًَل س َ ِد ي د ًا‬

Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya


meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka
khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka
bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang
benar”.

4. Menyelaraskan antara kehidupan dunia dan akhirat, sebagaimana


Rasulullah saw. Bersabda : “Bukan orang yang lebih baik; mereka
yang meninggalkan masalah dunia untuk masalah akhirat, dan
meninggalkan masalah akhirat untuk urusan dunia, melainkan orang
yang bersikap seimbang di antara keduanya, karena masalah dunia
dapat menyampaikan manusia kepada masalah akhirat”. (HR.
Bukhari).
5. Untuk menyambung hidup, sebab hidup adalah hak setiap orang,
sehingga ia wajib untuk mendapat kehidupan, bukan sebagai hadiah,
maupun belas kasihan. (Taqyuddin An nabhani, 1996;118).

C. Macam – Macam Harta


1. Dilihat dari sudut kebolehan untuk dimanfaatkan secara syara’, harta ini
ada dua macam yaitu:
a. Harta Mutaqawwim adalah harta yang dibolehkan untuk diambil
manfaatnya menurut syara’ atau harta halal. Harta yang termasuk
kepada macam ini adalah harta yang materi maupun cara memperoleh
dan penggunaanya dibenarkan atau sesuai dengan tuntunan syara’.
Seperti sapi, kerbau, buah-buahan dan lain sebagainya yang diperoleh
dengan cara baik.
b. Harta Ghair Mutaqawwim adalah harta yang tidak boleh diambil
manfaatnya, seperti babi, darah, bangkai dan semua harta yang cara
memperoleh maupun penggunaanya tidak sesuai dengan syara’,
seperti hasil pencurian, korupsi, jual beli dengan cara gharar dan lain
sebagainya.
2. Dilihat dari segi kemungkinan dapat dipindah, harta ini ada dua macam,
yaitu:
a. Harta Manqul adalah segala harta yang dapat dipindahkan (bergerak)
dari satu tempat ke tempat lainya seperti uang, hewan, perhiasan dan
lain-lain.
b. Harta Ghair Manqul adalah harta yang tidak bisa dipindahkan dan
dibawa dari satu tempat ke tempat lain seperti tanah, rumah.

3. Dilihat dari segi padanan di pasaran, ada dua macam, yaitu:


a. Harta Mitsli adalah harta yang memiliki persamaan atau padanan
dengan tidak mempertimbangkan adanya perbedaan antara satu
dengan yang lainnya dalam kesatuan jenisnya. Biasanya harta benda
yang dapat ditimbang, ditakar, diukur atau dihitung kuantitasnya
seperti buah-buahan, sayur-mayur dan sebagainya.
b. Harta Qimiy adalah harta yang tidak memiliki persamaan / padanan
atau harta yang memiliki padanan namun terdapat perbedaan kualitas
yang sangat diperhitungkan seperti binatang peliharaan, perhiasan,
barang antic dan lain-lain.

4. Dilihat dari segi sifat pemanfaatannya, ada dua macam yaitu:


a. Harta Istihlak adalah harta yang tidak dapat diambil kegunaan dan
manfaatnya secara biasa kecuali dengan menghabiskannya. Harta
Istihlak terbagi menjadi dua, yaitu: Istihlak Haqiqi adalah harta benda
yang benar-benar habis dipakai sekali dipakai, seperti korek api, kayu
bakar, makanan, dan lain-lain. Istihlak Huquqi adalah suatu harta yang
sudah habis nilainya bila telah digunakan tetapi zatnya masih tetap
ada, seperti kertas tulis dan sebagainya.
b. Harta Isti’mal adalah harta yang dapat digunakan berulang kali dengan
tidak menimbulkan perubahan dan kerusakan zatnya dan tidak
berkurang nilainya, seperti kebun, pakaian, perhiasan dan lain
sebagainya

5. Dilihat dari segi statusnya, ada tiga macam yaitu:

a. Harta mamluk ialah harta benda yang statusnya berada dalam


kepemilikan seseorang baik milik per orangan atau milik badan hukum
yang orang lain tidak berhak menguasainya kecuali dengan akad
tertentu yang dibenarkan oleh syara’. Contohnya : gedung rumah sakit
b. Harta mubah ialah harta benda yang pada asalnya bukan milik
seseorang, namun setiap orang dapat menguasai dan memiliki jenis
benda ini sesuai kesanggupannya. Orang yang lebih dahulu
menguasainya ia menjadi pemiliknya. Seperti air pada mata air,
binatang buruan darat dan laut, pohon-pohon dihutan dan buah-
buahanya
c. Harta mahjur ialah harta yang tidak dapat dimiliki sendiri dan
memberikan pada orang lain menurut syariat, karena telah diwakafkan
ataupun benda yang di khususkan untuk masyarakat umum, seperti
jalan raya, masjid-masjid, kuburan-kuburan, dan yang lainnya.

6. Dilihat dari segi pokoknya atau dapat menghasilkan, ada dua macam yaitu:
a. Harta Ashal adalah harta benda yang dapat menghasilkan harta lain
b. Harta Tsamrah adalah harta benda yang tumbuh atau dihasilkan dari
harta ashal tanpa menimbulkan kerugian atau kerusakan. Seperti
domba menghasilkan bulu domba maka domba harta ashal
sedangkan bulu domba harta tsamrah, kebun menghasilkan buah atau
sayuran dan lain sebagainya.

7. Dilihat dari segi dapat dipecah-pecah atau tidak dapat dipecah-pecah, ada
dua macam yaitu:
a. Harta Qismah adalah harta benda yang dapat dibagi yang tidak
menimbulkan suatu kerugian atau kerusakan apabila harta itu dibagi-
bagi, misalnya beras tepung, daging, emas batangan, kayu dan lain
sebagainya.
b. Harta Ghair Qismah adalah harta yang menimbulkan suatu kerugian
atau kerusakan apabila harta tersebut dibagi-bagi, misalnya gelas,
kursi, meja, mesin, dan lainnya.

8. Dilihat dari segi peruntukannya, ada dua macam yaitu:


a. Harta Khas adalah harta benda yang dimiliki oleh pribadi dan orang
lain tercegah menguasai atau memanfaatkannya tanpa seizing
pemiliknya.
b. Harta ‘Amm adalah harta benda yang menjadi milik masyarakat yang
sejak semula dimaksudkan untuk kemashlahatan dan kepentingan
umum. Harta yang dikelola oleh Negara untuk kepentingan rakyatnya,
seperti sumber daya alam, laut, hutan, dan bumi dengan segala isinya
termasuk kepada harta jenis ini. Dan dikelola oleh Negara untuk
kesejahteraan rakyatnya, serta tidak boleh dimiliki oleh seseorang
untuk kepentingan diri sendiri.