Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia adalah makhluk yang dilahirkan paling sempurna. Manusia
memiliki kemampuan kognitif untuk memproses informasi yang diperoleh dari
lingkungan disekelilingnya melalui indera yang dimilikinya, membuat persepsi
terhadap apa yang dilihat atau dirabanya, serta berfikir untuk memutuskan aksi
apa yang hendak dilakukan untuk mengatasi keadaaan yang dihadapinya. Hal-
hal yang dapat mempengaruhi kemampuan kognitif pada manusia meliputi
tingkat intelejensi, kondisi fisik, serta kecepatan system pemrosesan informasi
terganggu, maka akan berpengaruh pada reaksi manusia dalam mengatasi
berbagai kondisi yang dihadapi.
Persepsi dalam arti sempit melibatkan pengalaman kita tetapi secara
psikis pengertian itu tidaklah tepat. Tetapi lebih tepatnya persepsi merupakan
proses yang menggabungkan dan mengorganisir data-data indera kita
(penginderaan) untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga kita dapat
menyadari disekeliling kita, termasuk sadar dengan diri kita sendiri. Dan
didalam mempersepsi keadaan sekitar maka akan lahir sebuah argument yang
berasal dari informasi yang dikumpulkan dan diterima oleh alat reseptor
sensorik kita sehingga dapat menggabungkan atau mengelompokkan data yang
telah kita terima sebelumnya melalui pengalaman awal kita.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian persepsi?
2. Apa saja syarat terjadinya persepsi?
3. Bagaimana proses persepsi dan faktor-faktor yang

1
Mempengaruhinya?
4. Apa saja ciri dan karakteristik persepsi?
5. Apa saja jenis-jenis persepsi?
6. Apa saja gangguan persepsi?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian persepsi
2. Untuk mengetahui syarat terjadinya persepsi
3. Untuk mengetahui proses dan faktor-faktor yang mempengaruhi
persepsi
4. Untuk mengetahui jenis-jenis persepsi
5. Untuk mengetahui gangguan persepsi

1.4 Manfaat
a. Bagi Pembaca
Dapat memberikan informasi kepada mahasiswa lainnya mengenai
pengertian persepsi, ciri-ciri persepsi, syarat terjdinya persepsi, proses
terjadinya persepsi, dan gangguan pada persepsi.
a. Bagi Penulis
Untuk memenuhi tugas yang diberikan dosen, dan melalui pembuatan
makalah ini penulis menjadi lebih sering membaca.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Persepsi


Persepsi merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi
manusia dalam merespon kehadiran berbagai aspek dan gejala di sekitarnya.
Persepsi mengandung pengertian yang sangat luas, menyangkut intern dan
ekstern. Berbagai ahli telah memberikan definisi yang beragam tentang
persepsi, walaupun pada prinsipnya mengandung makna yang sama. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, persepsi adalah tanggapan (penerimaan)
langsung dari sesuatu. Proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca
inderanya.
Sugihartono, dkk (2007: 8) mengemukakan bahwa persepsi adalah
kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk
menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Persepsi
manusia terdapat perbedaan sudut pandang dalam penginderaan. Ada yang
mempersepsikan sesuatu itu baik atau persepsi yang positif maupun persepsi
negatif yang akan mempengaruhi tindakan manusia yang tampak atau nyata.
Bimo Walgito (2004: 70) mengungkapkan bahwa persepsi merupakan
suatu proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang
diterima oleh organisme atau individu sehingga menjadi sesuatu yang berarti,
dan merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu. Respon sebagai
akibat dari persepsi dapat diambil oleh individu dengan berbagai macam
bentuk. Stimulus mana yang akan mendapatkan respon dari individu tergantung

3
pada perhatian individu yang bersangkutan. Berdasarkan hal tersebut, perasaan,
kemampuan berfikir, pengalaman-pengalaman yang dimiliki individu tidak
sama, maka dalam mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan
berbeda antar individu satu dengan individu lain.
Setiap orang mempunyai kecenderungan dalam melihat benda yang
sama dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut bisa dipengaruhi oleh
banyak faktor, diantaranya adalah pengetahuan, pengalaman dan sudut
pandangnya. Persepsi juga bertautan dengan cara pandang seseorang terhadap
suatu objek tertentu dengan cara yang berbeda-beda dengan menggunakan alat
indera yang dimiliki, kemudian berusaha untuk menafsirkannya. Persepsi baik
positif maupun negatif ibarat file yang sudah tersimpan rapi di dalam alam
pikiran bawah sadar kita. File itu akan segera muncul ketika ada stimulus yang
memicunya, ada kejadian yang membukanya. Persepsi merupakan hasil kerja
otak dalam memahami atau menilai suatu hal yang terjadi di sekitarnya (Waidi,
2006: 118).
Jalaludin Rakhmat (2007: 51) menyatakan persepsi adalah pengamatan
tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan
menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Sedangkan, Suharman (2005:
23) menyatakan: “persepsi merupakan suatu proses menginterpretasikan atau
menafsir informasi yang diperoleh melalui system alat indera manusia”.
Menurutnya ada tiga aspek di dalam persepsi yang dianggap relevan dengan
kognisi manusia, yaitu pencatatan indera, pengenalan pola, dan perhatian. Dari
penjelasan di atas dapat ditarik suatu kesamaan pendapat bahwa persepsi
merupakan suatu proses yang dimulai dari penglihatan hingga terbentuk
tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu sadar akan segala
sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya.

4
Sedangkan menurut Ensiklopedia Umum (Muchtar, T.W., 2007 : 13)
:“Persepsi adalah proses mental yang menghasilkan bayangan individu
sehingga dapat mengenal suatu objek dengan jalan asosiasi pada suatu ingatan
tertentu, baik secara indera penglihatan, indera perabaan dan sebagainya,
sehingga bayangan itu dapat disadari”.

2.2 Syarat Terjadinya Persepsi


Menurut Sunaryo (2004: 98) syarat-syarat terjadinya persepsi adalah
sebagai berikut:
a. Adanya objek yang dipersepsikan, objek yang diamati akan
menimbulkan stimulus atau rangsangan yang mengenai alat indera atau
reseptor. Stimulus dapat datang dari individu yang bersangkutan
b. Adanya perhatian yang merupakan langkah pertama sebagai suatu
persiapan dalam mengadakan persepsi. Perhatian juga mengarahkan
individu untuk mengamati yang akan dipersepsi.
c. Adanya alat indera/reseptor yaitu alat untuk menerima stimulus.
d. Saraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus ke otak, yang
kemudian sebagai alat untuk mengadakan respon.

2.3 Proses dan Faktor yang Mempengaruhi Persepsi


Menurut Miftah Toha (2003: 145), proses terbentuknya persepsi
didasari pada beberapa tahapan, yaitu:
a. Stimulus atau Rangsangan
Terjadinya persepsi diawali ketika seseorang dihadapkan pada suatu
stimulus/rangsangan yang hadir dari lingkungannya.
b. Registrasi

5
Dalam proses registrasi, suatu gejala yang nampak adalah mekanisme fisik
yang berupa penginderaan dan syarat seseorang berpengaruh melalui alat indera
yang dimilikinya. Seseorang dapat mendengarkan atau melihat informasi yang
terkirim kepadanya, kemudian mendaftar semua informasi yang terkirim
kepadanya tersebut.
c. Interpretasi
Interpretasi merupakan suatu aspek kognitif dari persepsi yang sangat penting
yaitu proses memberikan arti kepada stimulus yang diterimanya. Proses
interpretasi tersebut bergantung pada cara pendalaman, motivasi, dan
kepribadian seseorang.
Menurut Miftah Toha (2003: 154), faktor-faktor yang mempengaruhi
persepsi seseorang adalah sebagai berikut :
a. Faktor internal: perasaan, sikap dan kepribadian individu, prasangka,
keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan fisik,
gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat, dan motivasi.
b. Faktor eksternal: latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh,
pengetahuan dan kebutuhan sekitar, intensitas, ukuran, keberlawanan,
pengulangan gerak, hal-hal baru dan familiar atau ketidak asingan suatu objek.
Menurut Bimo Walgito (2004: 70) faktor-faktor yang berperan dalam
persepsi dapat dikemukakan beberapa faktor, yaitu:
a. Objek yang dipersepsi
Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau
reseptor. Stimulus dapat dating dari luar individu yang mempersepsi,
tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan
yang langsung mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor.
b. Alat indera, syaraf dan susunan syaraf

6
Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus, di
samping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk
meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf,
yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Sebagai alat untuk mengadakan
respon diperlukan motoris yang dapat membentuk persepsi seseorang.
c. Perhatian
Untuk menyadari atau dalam mengadakan persepsi diperlukan
adanya perhatian, yaitu merupakan langkah utama sebagai suatu
persiapan dalam rangka mengadakan persepsi. Perhatian merupakan
pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang
ditujukan kepada sesuatu sekumpulan objek.
Faktor-faktor tersebut menjadikan persepsi individu berbeda satu sama
lain dan akan berpengaruh pada individu dalam mempersepsi suatu objek,
stimulus, meskipun objek tersebut benar-benar sama. Persepsi seseorang atau
kelompok dapat jauh berbeda dengan persepsi orang atau kelompok lain
sekalipun situasinya sama. Perbedaan persepsi dapat ditelusuri pada adanya
perbedaan-perbedaan individu, perbedaanperbedaan dalam kepribadian,
perbedaan dalam sikap atau perbedaan dalam motivasi. Pada dasarnya proses
terbentuknya persepsi ini terjadi dalam diri seseorang, namun persepsi juga
dipengaruhi oleh pengalaman, proses belajar, dan pengetahuannya.
Sedangkan faktor-faktor penyebab kesalahan dalam persepsi adalah
sebagai berikut :
a. Informasi yang kurang cukup, faktor ini merupakan penyebab utama dalam
kesalahan menafsirkan pesan.
b. Stereotype, yaitu merupakan gambaran atau tanggapan tertentu mengenai
sifat-sifat objek yang dikelompokan pada konsep-konsep tertentu.

7
c. Kesalahan dalam logika, kadang-kadang dalam kehidupan sehari-hari kita
mempunyai pandangan umum terhadap suatu objek. Misalnya apabila
seseorang memperlihatkan sifst-sifat serius, tidak pernah humor, kemudian kita
beranggapan bahwa orang tersebut bersifat angkuh, maka hal ini akan menjadi
penyebab kesalahan persepsi.
d. Hallo effect dan devil effect, dalam hal ini orang beranggapan bahwa jika
suatu objek atau seseorang berbuat sesuatu, maka selanjutnya orang tersebut
akan menambahkan dengan ciri-ciri tertentu pula.

2.4 Ciri dan Karakteristik Persepsi


Irwanto (Umi Amalia, 2003) mengemukakan ciri-ciri umum persepsi
adalah sebagai berikut ;
a. Rangsangan-rangsangan yang diterima harus sesuai dengan moralitas tiap-
tiap indera, yaitu sensoris dasar dan masing-masing indera (cahaya untuk
penglihatan, bau untuk penciuman, suhu bagi perasa, bunyi bagi pendengaran,
sifat permukaan bagi peraba dan sebagainya).
b. Dunia persepsi mempunyai dimensi ruang (sifat ruang), kita dapat
menyatakan atas-bawah, tinggi-rendah, luas-sempit, depan-belakang, dan lain
sebagainya.
c. Dimensi persepsi mempunyai dimensi waktu seperti cepat-lambat, tua-muda,
dan lain sebagainnya.
d. Objek-objek atau gejala-gejala dalam dunia pengamatan mempunyai struktur
yang menyatu dengan konteksnya. Struktur dan kontek ini merupakan
keseluruhan yang menyatu, contohnya kita melihat meja tidak berdiri sendiri
tetapi diruang tertentu, posisi atau letak tertentu.

8
e. Dunia persepsi adalah dunia penuh arti, kita cenderung melakukan
pengamatan atau persepsi pada gejala-gejala yang mempunyai makna bagi kita,
yang ada hubungannya (dengan tujuan yang ada pada diri kita).
Irvin T. Rock (Muchar, T. W. 2007: 14-15) menjelaskan, karakteristik
seseorang terhadap suatu objek meliputi:
a. Proses mental yang berfikir, yang menimbang hal-hal yang dianggap paling
baik dari beberapa macam pilihan.
b. Perseptor dalam mempersiapkan sesuatu tidak terlepas dari latar belakang
perseptor.
c. Persepsi dapat dijadikan dasar bagi seseorang untuk menseleksi dan
mengambil tindakan.
d. Secara umum dalam mempersepsikan sesuatu, seseorang harus dibekali
pengetahuan, panca indera, dan kesadaran lingkungan.
Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa dunia persepsi mempunyai
dimensi ruang dan waktu dengan struktur yang menyatu dengan konteksnya.
Pengalaman indera individu akan sangat tergantung kepada intensitas dan sifat-
sifat rangsang yang diterimanya. Luas sempitnya individu dalam
mempersepsikan sesuatu akan dipengaruhi oleh latar belakang individu.

2.5 Jenis-jenis persepsi

Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh


oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
 Persepsi visual
Persepsi ini adalah persepsi yang paling awal berkembang pada bayi,
dan mempengaruhi bayi dan balita untuk memahami dunianya. Persepsi
visual merupakan topik utama dari bahasan persepsi secara umum,
sekaligus persepsi yang biasanya paling sering dibicarakan dalam konteks

9
sehari-hari.
Contoh dari persepsi visual bisa dilihat dari gambar-gambar berikut ini:
1. Sebuah pertunjukan dengan penonton-penonton disampingnya, atau
kawasan perumahan-perumahan?
2. Bisakah anda menemukan empat orang dalam gambar ini?

Gambar 1 Gambar 2

 Persepsi auditori
Persepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga.
Pendengaran adalah kemampuan untuk mengenali suara. Dalam manusia dan
binatang bertulang belakang, hal ini dilakukan terutama oleh sistem
pendengaran yang terdiri dari telinga, syaraf-syaraf, dan otak. Tidak semua
suara dapat dikenali oleh semua binatang. Beberapa spesies dapat mengenali
amplitudo dan frekuensi tertentu. Manusia dapat mendengar dari 20 Hz sampai
20.000 Hz. Bila dipaksa mendengar frekuensi yang terlalu tinggi terus menerus,
sistem pendengaran dapat menjadi rusak
 Persepsi perabaan

10
Persepsi perabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit. Kulit dibagi
menjadi 3 bagian, yaitu bagian epidermis, dermis, dan subkutis. Kulit berfungsi
sebagai alat pelindung bagian dalam, misalnya otot dan tulang; sebagai alat
peraba dengan dilengkapi bermacam reseptor yang peka terhadap berbagai
rangsangan. sebagai alat ekskresi; serta pengatur suhu tubuh. Sehubungan
dengan fungsinya sebagai alat peraba, kulit dilengkapi dengan reseptor reseptor
khusus. Reseptor untuk rasa sakit ujungnya menjorok masuk ke daerah
epidermis. Reseptor untuk tekanan, ujungnya berada di dermis yang jauh dari
epidermis. Reseptor untuk rangsang sentuhan dan panas, ujung reseptornya
terletak di dekat epidermis.
 Persepsi penciuman
Persepsi penciuman atau olfaktori didapatkan dari indera penciuman yaitu
hidung. Penciuman, penghiduan, atau olfaksi, adalah penangkapan atau
perasaan bau. Perasaan ini dimediasi oleh sel sensor tespesialisasi pada rongga
hidung vertebrata, dan dengan analogi, sel sensor pada antena invertebrata.
Untuk hewan penghirup udara, sistem olfaktori mendeteksi zat kimia asiri atau,
pada kasus sistem olfaktori aksesori, fase cair.Pada organisme yang hidup di
air, seperti ikan atau krustasea, zat kimia terkandung pada medium air di
sekitarnya. Penciuman, seperti halnya pengecapan, adalah suatu bentuk
kemosensor.
 Persepsi pengecapan
Persepsi pengecapan atau rasa didapatkan dari indera pengecapan yaitu
lidah. Pengecapan atau gustasi adalah suatu bentuk kemoreseptor langsung dan
merupakan satu dari lima indra tradisional. Indra ini merujuk pada kemampuan
mendeteksi rasa suatu zat seperti makanan atau racun. Pada manusia dan
banyak hewan vertebrata lain, indra pengecapan terkait dengan indra
penciuman pada persepsi otak terhadap rasa.

11
Sensasi pengecapan klasik mencakup manis, asin, masam, dan pahit.
Belakangan, ahli-ahli psikofisik dan neurosains mengusulkan untuk
menambahkan kategori lain, terutama rasa gurih (umami) dan asam
lemak.Pengecapan adalah fungsi sensoris sistem saraf pusat. Sel reseptor
pengecapan pada manusia ditemukan pada permukaan lidah, langit-langit lunak,
serta epitelium faring dan epiglotis.

2.6 Gangguan persepsi


Terdapat beberapa gangguan persepsi, diantaranya adalah :
1. Halusinasi
Halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya suatu rangsangan (objek)
yang jelas dari luar diri klien terhadap panca indera pada saat klien
sadar/bangun dasarnya adalah organik, fungsional, psikotik ataupun
histerik. Hal-hal yang dapat menimbulkan halusinasi adalah :
skizofrenia, psikosis fungsional, sindrom otak & organik (SOO),
epilepsy, neurosis, histerik, intoksikasi atropine (kecubung), dan zat
halusinogenik. Adapun jenis-jenis halusinasi adalah:
a. Halusinasi penglihatan (visual.optik)
Halusinasi ini yang dilihat berbentuk dan tidak berbentuk.
Berbentuk seperti melihat orang, binatang, dan benda-benda
disekitarnya. Tak terbentuk seperti sinar, kilapan, dan pola cahaya.
b. Halusinasi pendengaran (auditif, musik)
Seolah-olah mendengar sura manusia, suara hewan, suara benda-
benda, suara mesin, suara musik, dan suara alam.
c. Halusinasi penciuman (olfaktori)
Seolah-olah dapat mencium bau tertentu dimana orang lain tidak.
d. Halusinasi pengecapan (gustatorik)

12
Mengecap atau merasakan suatu rasa dari makanan yang dimakan,
baik enak atau tidak.
e. Halusinasi perabaan (taktik)
Dapat merasakan perabaan, sentuhan, panas terkena sinar, ditiup,
dsb.
f. Halusinasi gerak (kinestik/phantom)
Anggota badannya bergerak dalam suatu ruangan, atau anggota
badannya bisa merasakan sesuatu yang orang lain tidak rasakan.
g. Halusinasi viseral
Halusinasi organ tubuh bagian dalam yang seolah-olah ada perasaan
tertentu yang timbul didalam tubuh bagian dalam. Seperti merasakan
darahnya membeku saat cuaca dingin.
h. Halusinasi histerik
Halusinasi yang timbul pada neurosa histerik karena adanya konflik
emosional.
i. Halusinasi hipnogogik
Sensorik persepsi yang bekerja salah tepat sebelum tidur, pada orang
normal terjadi sebelum bangun tidur.
j. Halusinasi hipnagogik
Persepsi sensorik bekerja yang salah yang terdapat pada orang
normal, terjadi sebelum tidur.
2. Ilusi
Pencerapan yang sungguh-sungguh terjadi dengan adanya suatu
rangsangan (objek) yang jelas/nyata dari luar diri klien pada panca
indera pada saat klien dalam keadaan sadar atau bangun, karena adanya
gangguan pada panca indera maka interprestasi/penilaiannya yang salah
terhadap rangsangan /objek tersebut. Contoh : mendengar bunyi angin

13
memanggil dirinya, daun pisang jatuh dilihatnya sebagai seorang
penjahat yang menyelinap, anjing yang berlari dilihat seperti singa yang
sedang mengejar mangsa, dll.
3. Derealisasi
Perasaan aneh pada lingkungan, tidak sesuai dengan kenyataan dan
semua yang dialaminya seperti sebagai mimpinya.
4. Depersonalisasi
Perasaan yang aneh atau terasingkan terhadap dirinya sendiri, orang lain
atau lingkungannya, dirinya sudah tidak seperti biasanya, bagian
tubuhnya sudah bukan miliknya lagi atau sudah diluar dirinya (out of
body experience).
5. Agnosia
Ketidakmampuan mengenal atau mengartikan penerapan akibat
kerusakan otak.
6. Gangguan somatosensorik
Pada reaksi konversi secara simbolik gangguan ini sering
menggambarkan suatu konflik emosional, gangguan ini dapat berupa :
a. Anesthesia
Hilangnya indera peraba pada kulit yang tidak sesuai dengan
aanatomi saraf
b. Parathesia
Berubahnya indera peraba pada kulit yang tidak sesuai dengan
kenyataan, seperti merasa panas atau tebal ketika ada semut berjalan
dikulitnya.
c. Gangguan penglihatan atau pendengaran.
d. Perasaan nyeri
e. Makropsia

14
Objek yang terlihat lebih besar dari objek yang sebenarnya,
terkadang begitu besar sehingga mengerikan , gangguan ini terdapat
pada neurosa histerik.
f. Mikropsia
Objek terlihat lebih kecil dari objek yang sebenarnya, dapat
berganti-ganti dengan makropsia pada histeria (dapat timbul pada
delirium tremens).

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Persepsi merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi
manusia dalam merespon kehadiran berbagai aspek dan gejala di sekitarnya.
Persepsi mengandung pengertian yang sangat luas, menyangkut intern dan
ekstern. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, persepsi adalah tanggapan
(penerimaan) langsung dari sesuatu. Proses seseorang mengetahui beberapa hal
melalui panca inderanya.
Jenis-jenis persepsi berdasarkan alat indera, yaitu persepsi visual,
persepsi auditori, persepsi perabaan, persepsi penciuman, dan persepsi
pengecapan.
Agar seseorang dapat menyadari dan dapat melakukan persepsi ada
beberapa syarat yang perlu dipenuhi, yaitu: adanya objek yang dipersepsi.
Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus
dapat datang dari luar langsung mengenai indera dan dapat datang dari dalam
yang langsung mengenai syaraf penerima (sensoris) tetapi berfungsi sebagai
reseptor. Adanya indera atau reseptor yaitu sebagai alat untuk menerima
stimulus. Diperlukan adanya perhatian sebagai langkah awal menuju persepsi.
3.2 Saran
Dengan ditulisnya makalah ini nantinya dapat dimanfaatkan secara
optimal terkait dengan pengembangan mata kuliah Psikologi. Dan penulis
menyarankan agar ini dikembangkan lebih lanjut sehingga nantinya dapat
menghasilkan tulisan-tulisan yang bermutu. Demikianlah makalah ini penulis
persembahkan, semoga dapat bermanfa

16
DAFTAR PUSTAKA

Angiepriskilla, 2015. Psikologi

Tersedia Di : Www.Slideshare.Net

Dibuka Pada : 12 Oktober 2016

Candra, I Wayan. 2016. Psikologi. Denpasar : Politeknik Kesehatan Denpasar


Jurusan Keperawatan.

17