Anda di halaman 1dari 28

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kinerja merupakan gambaran dari pencapaian pelaksana suatu kegiatan
dalam mewujudkan tujuan perusahaan. Dimana salah satu tujuan penting
didirikannya perusahaan adalah memaksimalkan kekayaan pemegang saham
melalui peningkatan nilai perusahaan(Brigham & Houston, 2012). Menurut
(Darmawati, Khomsiyah, & Rika, 2005) Kinerja Keuangan perusahaan adalah :
‘’Suatu gambaran tentang kondisi keuangan suatu perusahaan
yang dianalisis dengan alat-alat analisi keuangan, sehingga
dapat diketahui mengenai baik buruknya keadaan keuangan
suatu perusahaan yang mencerminkan prestasi kerja dalam
periode tertentu’’.

Kinerja Keuangan perusahaan disebut juga suatu penentuan yang mengukur


mengenai baik buruknya perusahaan dalam prestasi kerja dapat dilihat dari
kondisi keuangannya pada periode tertentu. Kondisi keuangan dianalisis dengan
alat-alat analisis keuangan.
Pengukuran kinerja keuangan dalam perusahaan keuangan dalam
perusahaan dilakukan untuk mengetahui apakah hasil yang dicapai telah sesuai
dengan perencanaan. Dengan meningkatnya kinerja keuangan perusahaan berarti
perusahan dapat mencapai tujuan dari didirikannya perusahaan tersebut. Dalam
mengukur kinerja keuangan perusahaan dapat menggunakan Return On Asset
(ROA) dan Return On Equity (ROE).
Menurut Hastuti (2005) dalam Yudha (2007) kinerja perusahan adalah
hasil dari banyak keputusan individual yang dibuat secara terus menerus oleh
manajemen. Oleh karena itu untuk menilai kinerja perusahaan perlu melibatkan
analisis dampak keuangan kumulatif dan ekonomi dari keputusan yang dibuat dan
mempertimbangkannya dengan menggunakan ukuran komperatif.Kinerja
keuangan merupakan salah satu faktor yang menunjukkan efektifitas dan efisiensi
suatu organisasi dalam rangka mencapai tujuannya. Efektifitas terjadi apabila

2
manajemenmemiliki kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau suatu alat
yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan efisiensi
diartikan sebagai rasio (perbandingan) antara masukan dan keluaran yaitu dengan
masukan tertentu memperoleh keluaran yang optimal.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , kinerja dapat diartikan sebagai
sesuatu yang dapat dicapai, prestasi yang diperlihatkan dan kemampuan kerja,
berkinerja artinya berkemampuan dengan menggunakan tenaga. Jadi kinerja
keuangan membutuhkan dana eksternal untuk melakukan ekspansi, sehingga
mendorongperusahaan untuk melakukan perbaikan dalam penerapan Corporate
Governance dalam rangka menurunkan biaya modal (La Porta, dkk., 1999;
Klapper dan Love, 2002) dalam Wardani (2008).Dengan adanya penerapan Good
Corporate Governance (GCG) dapat meningkatkan kinerja keuangan pada
perusahaan.Apabila penerapan Good Corporate Governance (GCG) semakin
banyak, maka semakin baik kinerja keuangan terhadap perusahaan.Para pelaku
usaha menilai GCG hanya sebatas kepatuhan terhadap peraturan yang kurang
memberikan dampak langsung terhadap kinerja keuangan seperti halnya dalam
kegiatan pemasaran.Sehingga ini menjadi alasan mengapa GCG kurang maksimal
dalam hal implementasinya di kalangan perusahaan-perusahaan Indonesia. Suatu
hal yang sangat kontradiktif, dimana dalam satu sisi penerapan Good Corpporate
Governance (GCG) diyakini sangatlah penting dalam pencapaian tujuan
perusahaan yang berkelanjutan, namun di sisi lain banyak pelaku usaha yang tidak
menerapkannya secara sungguh-sungguh dengan alasan dampak yang ditimbulkan
kurang signifikan terhadap keuangan perusahaan.
Pengelolaan perusahaan berdasarkan prinsip Good Corporate Governance
(GCG) merupakan upaya untuk menjadikan GCG sebagai pedoman bagi
pengelolaperusahaan dalam mengelola manajemen perusahaan. Penerapan
prinsip-prinsip GCG saat ini sangat diperlukan agar perusahaan dapat bertahan
dan tangguh dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat, serta agar dapat
menerapkan etika bisnis secara konsisten sehingga dapat mewujudkan iklim usaha
yang sehat, efisien, dan transparan. GCG merupakan sarana untuk menjadikan
perusahaan lebih baik, antara lain dengan hambatan praktik korupsi, kolusi,

3
nepotisme (KKN), meningkatkan disiplin anggaran, melakukan pengawasan,serta
mendorong efisiensi pengelolaan perusahaan.
Agency Theory menjelaskan bahwa pihak manajemen lebih mengetahui
seluk beluk perusahaan, sehingga pengelolahan perusahaan tersebut menjadi
tanggug jawab manajemen perusahaan. Meskipun pihak manajemen bertanggung
jawab mengelolah perusahaan dengan tujuan untuk mencapai visi dan misi
perusahaan, namun manajemen perusahaan tetap bertanggung jawab mengenai
pengelolahan kinerja perusahaan kepada pemilik perusahaan/owner/pemegang
saham, karena pemilik perusahaan/owner/pemegang saham lebih berhak
mengambil keputusahan untuk masa depan perusahaan.
Berdasarkan penelitian tedahulu terdapat beberapa keterbatasan secara
umum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Good Corporate
Governance (GCG) yang diproksikan oleh Dewan Direksi, Dewan Komisaris,
Komisaris Independen, Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial, dan
Komite Audit terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan ROA. Maka judul
penelitian ini adalah “Pengaruh Good Corporate Governaance (GCG)
Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di
Bursa Efek Indonesia (BEI)”.

1.2 Rumusan Masalah Penelitian


Berdasarkan latar belakang permasalahan, maka perumusanmasalah dalam
penelitian ini adalah terdapat pengaruh Good Corporate Governance (GCG)
terhadap kinerja keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI).
𝐻1 :Apakah terdapat pengaruh antara Good Corporate Governance (GCG)
terhadap ROA?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian yang telah dilakukan adalah untuk menganalisis
pengaruh Good Corporate Governance(GCG)terhadap Kinerja Keuangan
perusahaan manufakturyang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Penelitian ini merupakan hasil dari pengembangan penelitian terdahulu
yang memiliki topik yang sama. Penelitian tersebut antara lain :

2.1.1 Like Monisa Wati (2012)


Like Monisa Wati (2012), yang berjudul “Pengaruh Praktek Good
Corporate Governance terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan di Bursa Efek
Indonesia”.Bertujuan untuk menganalisis pengaruh Good Corporate Governance
terhadap Kinerja Keuangan perusahaan. Pada variabel independen, yakni Good
Corporate Governancepada Like Monisa Wati (2012) menggunakan pengukuran
GCPI. Sedangkan variabel dependen, yakni Kinerja Keuangan menggunakan
(ROA dan NPM). Perusahaan yang dijadikan populasi pada penelitian ini adalah
perusahaan yang terdapat di Bursa Efek Indonesia, yang di lakukan selama 2008-
2010 sehingga diperoleh sampel sebanyak 13 perusahaan. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah analisis regresi sederhana.

Persamaan : Penelitian ini dengan penelitian terdahulu sama-sama menggunakan


variabel independen Good Corporate Governance.

Perbedaan : Penelitian terdahulu menggunakan variabel independen kinerja


perusahaan (ROE dan NPM) sedangkan peneliti sekarang menggunakan ROA dan
ROE. Penelitian terdahulu menggunakan sampel yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI) dari tahun 2008-2010 dan perusahaan yang masuk dalam skor
pemeringkatan (CGPI) dalam penerapanGCG dari tahun 2008-2010, sedangkan
peneliti inimenggunakan sampel perusahaan manufakturyang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2011-2014.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Good Corporate Governance


mempengaruhi Kinerja Keuangan perusahaan terhadap (ROE dan NPM) yang
terdaftar di BEI yang masuk dalam pemeringkatan The Indonesi Institute For
Corporate Governance (IICG). Maka hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang

5
menyatakan penerapan GCG bermanfaat untuk meningkatkan kinerja keuangan
perusahaan.
2.1.2 Cahyani Nuswandari (2009)

Penelitian Cahyani Nuswandari (2009), yang berjudul “Pengaruh


Corporate Governance Perception Index Terhadap Kinerja Perusahaan yang
Teraftar di Bursa Efek Indonesia".Bertujuan untuk menginvestigasi mengenai
pengaruh Corporate Governance Perception Index (CGPI) terhadap kinerja pasar
dan kinerja operasional perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI).Melaksanakan Corporate Governance dengan baik dan sesuai dengan
peraturan yang berlaku sehingga bisa membuat investor merespon secara positif
terhadap kinerja perusahaan dan meningkatkan nilai pasar perusahaan.

Penelitian ini dilakukan sebelumnya baik di Negara maju maupun di


Negara yang berkembang dengan menggunakan pengukuran implementasi
Corporate Governance yang berbeda. Misalnya penelitian yang dilakukan pada
Negara Eropa, variabel yang digunakan untuk mengukur Corporate Governance
adalah Deminor’s Corporate Governance Rating yang terdiri dari 300 kriteria
yang dikelompokkan menjadi 4 bagian yaitu Hak dan Kewajiban
PemegangSaham, Range Pertahanan Takeover, Pengungkapan Corporate
Governance dan Strktur dan Fungsi Dewan. Pengukuran dalam tingkat
implementasi Corporate Governance peneliti menggunakan ukuran yang
dikembangkan oleh Indonesian Institute Of Corporate Governance (IICG).
Pengukuran ini dapat di sebut dengan Corporate Governance Perception Index
(CGPI) yang berupa skor. CGPI merupakan penilaian penerapan Corporate
Governance perusahaan yang terdapat pada 7 dimensi GCG yaitu : komitmen
terhadap tata kelola perusahaan, tata kelola Dewan Komisaris, komite-komite
fungsional, Dewan Direksi, perlakuan terhadap pemegang saham, perlakuan
terhadap stakeholder lain dan transparansi, intregritas dan independensi.

Penelitian ini juga diharapkan untukmempunyai kontribusi bagi regulator


(BEI atau Bapepam), perusahaan, investor, kreditor dan pengembangan

6
teori.Regulator diharapkan menetapkan regulasi untuk mewajibkan mengikuti
program CGPI terhadap perusahaan yang terdaftar di BEI dan perusahaan BUMN.
Investor dan kreditor diharapkan mempertimbangkan track record
penerapanCorporate Governance perusahan untuk membuat keputusan investasi
mereka.

Persamaan :Penelitian ini dengan penelitian terdahulu sama-sama menggunakan


variabel independen Good Corporate Governance.

Perbedaan : pada penelitian terdahulu menggunakan sampel perusahaan publik


yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tahun 2001-2005, sedangkan pada
penelitian ini menggunakan sampel perusahaan manufaktur yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (BEI)pada tahun 2011-2014.

2.1.3 Suklimah Ratih (2011)


Penelitian Suklimah Ratih(2011), yang berjudul "Pengaruh Good
Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan dengan Kinerja Keuangan
Sebagai Variabel Interving pada Perusahaan Peraih The Indonesia Most Trusted
Company-CGPI".Bertujuan utama untuk menguji pengaruh variabel bebas GCG
dengan proksi CGPI (X) terhadap variabel terikat NP (Y3) dengan menggunakan
4 variabel intervening yaitu NPM dan ROA. Hasil uji hipotesis berpengaruh
langsung variabel bebas CGPI (X) terhadap kedua variabel intervening dengan
analisis path dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu hipotesispun yang terbukti
kebenarannya.

Penelitian ini memiliki keterbatasan, pertama menyangkut kurang


banyaknya sampel yang disebabkan periode penelitian yang kurang
panjang.Kelemahan kedua adalah terjadinya kondisi perekonomian yang dilanda
krisis keuangan global pada periode penelitian, menyebabkan jatuhnya kinerja
perusahaan yang bisa menyebabkan beberapa hipotesis yang disusun hasil uji
signifikansinya lemah.

Persamaan :penelitian ini dengan penelitian terdahulu sama-sama menggunakan


variabel independen Good Corporate Governance.

7
Perbedaan : penelitian terdahulumenggunakan pendekatan kuantitatif yaitu
melakukan pengujian terhadap hubungan kausal dari variabel-variabel penelitian
yang terukur (parametrik),sedangkan penelitian ini menggunakan sampel
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun
2011-2014.

2.1.4 Dian Prasinta (2012)


Penelitian Dian Prasinta (2012), yang berjudul "Pengaruh Good Corporate
Governance Terhadap Kinerja Keuangan".Bertujuan untuk mengetahui pengaruh
penerapan Good Corporate Governanceterhadap Kinerja Keuangan. Dengan
menggunakan sampel teknik purposive sampling yaitu untuk memilih sampel
dengan kriteria tertentu, sehingga mendapatkan sampel dalam penelitian ini
sebanyak 31 perusahaan. Penerapan Good Corporate Governancediukur dengan
skor CGPI. Kinerja keuangan diukur dengan Return On Assets(ROA), Return
Equity(ROE) dan Tobin’s Q.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan positif


antara Good Corporate Governancedengan Return On Equity, dan tidak mendapat
hubungan positif antara Good Corporate Governancedengan Tobin’Q.Hal ini
menunjukkan bahwa implementasi Good Corporate Governancesangat
berpengaruh terhadap kinerja operasional, namun pencapaian laba perusahaan dan
respon pasar atas implementasi Good Corporate Governancemasih kurang.

Persamaan :penelitian ini dengan penelitian terdahulu sama-sama menggunakan


variabel independen Good Corporate Governance.

Perbedaan :penelitian terdahulu menggunakan variabel dependen dengan


menggunakan sampel perusahaan yang ikut serta dan memenuhi syarat dalam
ajang Corporate Governance Pereption Index (CGPI) Awards pada tahun
2006,2007, 2008, 2009, dan 2010 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI),sedangkan penelitian ini menggunakan sampel perusahaan manufakturyang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2011-2014.

8
2.1.5 Tri Kartika Pertiwi dan Ferry Madi Ika Pratama (2012)

Tri Kartika dan Ferry (2012), yang berjudul "Penagruh Kinerja Keuangan
Good Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan Food and Baverage".
Dalam penelitian ini untuk menganalisis kinerja keuangan yang diukur dengan
Return on Asset (ROA) terhadap nilai perusahaan yang diukur dengan Tobin’Q
serta untuk menganalisis Good Corporate Governance sebagai variabel moderasi.
Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda, maka kesimpulan yang
diperoleh adalah kinerja keuangan yang diukur dengan ROA mampu
meningkatkan nilai perusahaan Food and Baverages yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI). Hasil penelitian menunjukkan kinerja keuangan berpengaruh
terhadap nilai perusahan, sedangkan Good Corporate Governance bukanlah
variabel yang memoderasi hubungan kinerja keuangan dengan nilai perusahaan.

Persamaan : penelitian ini dengan penelitian terdahulu sama-sama menggukan


variabel independen Good Corporate Governance.

Perbedaan : penelitian terdahulu menggunakan sampel perusahaan Food and


Baverages sebagai penelitian karena saham yang berasal dari produk makanan
dan minuman merupakansaham yang banyak di minati oleh investor,sedangkan
penelitian ini menggunakan sampel perusahaan manufakturyang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2011-2014.

2.1.6 Rejendran Kajananthan (2012)

Rejendran Kajananthan (2012), yang berjudul " Effect Of Corporate


Governance On Capital Structure : Case Of The Srilankan Listed Manufakturing
Companies".Bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara beberapa
fitur tertentu dari tata kelola perusahaan dan struktur modal perusahaan
manufaktur yang terdaftar di bursa Colombo.Untuk melakukannya terdapat 28
sampel perusahaan manufaktur yang dipilih dariorang-orang yang terdaftar di
bursa Colombo selama periode 2009 sampai 2011 sebagai sampel penelitian.
Variabel independen penelitian ini termasuk ukuran perusahaan, struktur dewan,
pertemuan dewan, dan proporsi direksi non eksekutif independen sedangkan

9
variabel dependen diputuskan menjadi rasio utang (sebagai kriteria untuk struktur
modal). Variabel yang diuji secara empiris oleh analisis regresi berganda.Peneliti
ini menemukan bahwa praktik tata kelola perusahaan yang memiliki dampak 34%
pada struktur modal dan di antara variabel tata komite dewan perusahaan memiliki
efek yang signifikan terhadap struktur modal perusahaan.

Persamaan : penelitian ini dengan penelitian terdahulu sama-sama menggunakan


variabel independen Good Corporate Governance

Perbedaan: penelitian terdahulu menggunakan sampel perusahaan manufaktur


yang terdaftar di Sri Lanka periode 2009 dan 2010, sedangkan penelitian ini
menggunakan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI) pada tahun 2011-2014

2.2 Landasan Teori


Dalam landasan teori ini digunakan untuk menjalaskan mengenai
penelitian, di antara lain :
2.2.1 Teori Keagenan (Agency Theory)
Konsep teori agensi didasari pada permasalahan agensi yang muncul
ketika pengurusan suatu perusahaan terpisah dari kepemilikannya. Perusahaan
merupakan mekanisme yang memberikan kesempatan kepada berbagai partisipan
untuk berkontribusi dalam bentuk modal, keahlian serta tenaga kerja dalam rangka
memaksimumkan keuntungan jangka panjang.

Teori keagenan ditekankan untuk mengatasi dua permasalahan yang dapat


terjadi dalam hubungan keagenan (Eisenhardt, 1989 dalam Darmawati, dkk.,
2005). Pertama adalah masalah keagenan yang timbul pada saat (a) keinginan atau
tujuan yang timbul dari principal dan agen berlawanan dan (b) merupakan suatu
hal yang sulit atau mahal bagi prinsipal untuk melakukan verifikasi tentang apa
yang telah benar-benar dilakukan oleh agen. Kedua, adalah masalah pembagian
resiko yang timbul pada saat principal dan agen memiliki sikap yang berbeda
terhadap resiko. Oleh karena itu dibuat kontrak yang diharapkan dapat
menyelaraskan kepentingan principal dan agen.

10
Jenen & Meckling (1976) mendefinisikan hubungan keagenan sebagai
suatu kontrak antara manajer (agent) dan pemilik (principal) perusahaan. Satu
atau lebih principal telah memberi wewenang dan otoritas kepada agent untuk
melakukan kepentingan dalam pengambilan keputusan. Principaladalah
pemegang saham dan yang dimaksudagent adalah manajemen yang mengelola
perusahaan. Agency Theory muncul berdasarkan adanya fenomena pemisahan
antara pemilik perusahaan (pemegang saham/owner) dengan para manajer yang
mengelola perusahaan.

Dalamperkembangan selanjutnya, Agency Theory mendapat respon lebih


luas karena dipandang lebih mencerminkan kenyataan yang ada. Berbagai
pemikiran mengenai tentang Corporate Governance berkembang dengan
bertumpu pada Agency Theory yang mana pengelolaan perusahaan harus diawasi
dan dikendalikan untuk memastikan bahwa pengelolaan dilakukan dengan penuh
kepatuhan kepada berbagai peraturan dan ketentuan yang berlaku (Solihin, 2009).
Sehubungan dengan teori keagenan, maka pihak yang paling berkepentingan
terhadap kinerja manajemen adalah pemilik (shareholders). Untuk kepentingan
pemilik itulah dewan komisaris dibentuk dan salah satu cara yang dapat dilakukan
oleh pemilik untuk memastikan bahwa manajemen mengelola perusahaan dengan
baik adalah dengan mekanisme Corporate Governance yang tepat. Dengan
mekanisme Corporate Governance yang tepat diharapkan manajemen akan dapat
memenuhi tanggung jawab sehubungan dengan kepentingan pemilik.

2.2.2 Pengertian Kinerja Keuangan


Menurut Irham Fahmi (2011:2) kinerja keuangan adalah suatu analisis
yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah menggunakan
aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. Kinerja perusahan merupakan
salah satu gambaran tentang kondisi keuangan, sehingga dapat diketahui
mengenai baik buruknya keadaan keuangan disuatu perusahaan yang
mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu.

11
Nilai perusahaan ditetapkan melalui kinerja manajemen dan kinerja
keuangan perusahaan. Kinerja keuangan dapat diukur dengan beberapa
pendekatanrasio keuangan, baik likuiditas, profitabilitas, aktivitas maupun rasio
pasar. Kebijakan dan keputusan para investor dalammenginvestasikanmodalnya
ke dalam perusahaan lebih dipengaruhi oleh rasio profitabilitas yang dimiliki oleh
suatu perusahaan yang dibandingkan dengan rasio lainnya, karena investor
menganggap bahwa rasio profitabilitas dapat memberikan gambaran tentang
tingkat pengembalian atau keuntungan yang akan diterima oleh investor dari
investasinya.

Brigham dan Houston (2010:146) menjelaskan untuk mengukur


profitabilitas, yang biasanya menggunakan rasio profitabilitas karena rasio
profitabilitas sudah mencakup rasio utang, rasio aktiva maupun rasio likuiditas.

2.2.3 Return On Asset(ROA)


Return On Asset (ROA) adalah rasio pofitabilitas perusahaan yang diukur
dengan membandingkan laba bersih dengan total asset perusahaan, untuk
mengukur efektivitas penggunaan asset perusahaan, dapat dirumuskan sebagai
berikut, (Brigham and Houston, 2006:115) :

Laba Bersih
ROA =
Total Aset

2.2.4 Pengertian Good Corporate Governance


Good Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan) adalah serangkaian
proses, kebiasaan, kebijakan, aturan dan institusi yang mempengaruhi pengarahan,
pengelolaan, serta pengontrolan suatu perusahaan atau korporasi. Tata kelola
perusahaan juga mencakup suatu hubungan antara para pemangku kepentingan
(stakeholder) yang terlibat dalam suatu tujuan pengelola perusahaan. Pihak-pihak
utama dalam tata kelola perusahaan adalah menyangkut masalah akuntabilitas dan
tanggug jawab, khususnya adalah implementasi pedoman dan mekanisme untuk
memastikan perilaku yang baik dan melindungi kepentingan pemegang saham.
Inti dari kebijakan tata kelola perusahaan adalah agar pihak-pihak yang berperan

12
dalam menjalankan perusahan, memahami dan menjalankan fugsi dari pihak yang
berwenang dan taggung jawab. Pihak yang berperan meliputi pemegang saham,
dewan komisaris, komite, direksi, pimpinan unit dan karyawan.

Good Corporate Governance merupakan salah satu elemen kunci dalam


meningkatkan efisiensi ekonomis, yang meliputi serangkaian hubungan antara
manajemen perusahaan, dewan direksi, danpara pemegang saham. Good
Corporate Governance juga dapat diartikan sebagai seperangkat sitem yang
mengatur dan mengendalikan perusahan untuk menciptakan nilai tambah (value
added) bagi para pemangku kepentingan suatu perusahaan.

Manfaat bagi perusahaan yang menerapkan Good Corporate


Governanceseperti yang dikemukakan oleh Achmad Daniri yang dikutip oleh
Djatmiko (2002) adalah bahwa esensi dari Good Corporate Governanceini secara
ekonomis akan menjaga kelangsungan usaha, baik profitabilitasnya maupun
dalam pertumbuhannya. Good Corporate Governancemerupakan pedoman bagi
manajer untuk mengelola perusahaan secara best practice. Manajer akan membuat
keputusan keuangan yang dapat menguntungkan semua pihak (stokeholder).

Standar Good Corporate Governance (GCG) meliputi enam aspek, yaitu


Dewan Komisaris, Dewan Direksi, Komisaris Independen, Kepemilikan
Institusional,Kepemilikan Manajerial, dan Komite audit.

2.2.5 Prinsip-prinsip dalam GoodCorporate Governance


Dalam Undang-undang No. 40 Tahun 2007 oleh Kementrian Hukum dan
HAM Republik Indonesia tentang Perseroan Terbatas dan Prinsip tata kelola
perseroan yang baik (Good Corporate Governance) dalam menjalankan
perusahaan, dan dalam Keputusan Menteri BUMN Tahun 2002 tentang prinsip-
prinsip Good Corporate Governance harus mencerminkan pada hal-hal sebagai
berikut :

13
1. Transparansi (Transparency)

Keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan


keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenai
perusahaan.

Inti dari prinsip keterbukaan dan transparansi adalah bahwa kerangka


Corporate Governance harus menjamin adanya pengungkapan yang tepat
waktu dan akurat untuk setiap permasalahan yang berkaitan dengan
perusahaan.

2. Kemandirian (Independency)

Suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara profesional tanpa


benturan kepentingan dan pengaruh tekanan dari pihak manapun yang tidak
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-
prinsip korporasi yang sehat. Prinsip ini mengharuskan perusahaan untuk
menggunakan tenaga ahli dalam setiap devisi atau bagian dalam perusahaan
sehingga pengelolaan perusahaan dapat dipercaya, dan dilaksanakan dengan
baik sehingga perusahaan tidak mudah terpengaruh atau di intervensi oleh
pihak-pihak dari dalam maupun dari luar yang tidak sesuai dengan peraturan
dan hukum yang berlaku.

3. Akuntabilitas (Accountability)

Pertanggung jawaban atas pelaksanaan fungsi dan tugas-tugas sesuai dengan


wewenang yang dimiikioleh seluruh organ perseroan.

4. Pertanggung Jawaban(Responsibility)

Perusahaan adalah bagian dari masyarakat yang bertanggung jawab kepada


stakeholder dan lingkungan dimana perusahaan berada. Dengan demikian
perusahaan akan menjadi professional dan penuh etika dalam menjalankan
usahanya, menghindari penyalahgunaan kekuasaan yang dimiliki oleh
organ-organ internal perusahaan.

14
5. Kesetaraan dan Kewajaran (Fairness)

Keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang


timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.Dalam hal ini perusahaan ditekankan agar terlindungi dari
kecurangan serta penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh orang
dalam maupun orang luar.

2.2.6 Tujuan Good Corporate Governance


Tujuan GCG diharapkan untuk dapat meningkatkan nilai tambah bagi
semua pihak yang berkepentingan (stakeholder) melalui beberapa tujuan sebagai
berikut :

1. Meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan kesinambungan suatu organisasi


yang memberikan kontribusi kepada terciptanya kesejahteraan pemegang
saham, pegawai dan stakeholder lainnya dan merupakan solusi yang
elegan dalam menghadapi tantangan organisasi kedepannya,
2. Meningkatkan legitimasi organisasi yang dikelola dengan terbuka, adil,
dan dapat dipertanggug jawabkan,
3. Mengakui dan melindungi hak dan kewajiban para share holders dan
stakeholder.

2.2.7 Manfaat Good Corporate Governance


Ada beberapa manfaat Good Corporate Governance diantara lain :

1. Menigkatkan keyakinan dan kepercayaan dari investor dan para pemegang


saham terhadap perusahaan,
2. Memberikan keputusan yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja
ekonomi perusahaan,
3. Menciptakan dukungan para stakeholder (para pihak yang berkepentingan)
dala lingkungan perusahaan tersebut terhadap keberadaan dan berbagai
strategi dan kebijakan yang ditempuh perusahaan, karena umumnya
mereka mendapat jaminan bahwa mereka juga mendapat manfaat

15
maksimal dari segala tindakan dan operasi perusahaan dalam menciptakan
kemakmuran dan kesejahteraan,
4. Dapat mempengaruhi harga saham secara baik dan positif,

Dari beberapa manfaat tersebut, maka pengambilan keputusan tidak lagi


dilakukan oleh dewan direksi tetapi akan dilakukan oleh pihak-pihak yang
berkepentingan (stakeholder) di dalam perusahaan.

2.2.8 Elemen-elemen Good Corporate Governance


Terdapat beberapa elemen yang terkandung dalam pengukuran corporate
governance yang digunakan dalam penelitian ini diantara lain :

1. Dewan Komisaris

Dewan komisaris merupakan sebuah organ perusahaan yang bertugas


untuk melakukan pengawasan secara umum sesuai dengan anggaran dasar serta
dapat memberikan nasihat kepada dewan direksi. Dewa komisaris bertanggung
jawab atas nilai kualitas tata kelola perusahaan dan mengawasi proses pelaporan
keuangan.

2. Dewan Direksi
Dewan direksi merupakan anggota perusahaan yang memiliki kewajiban
untuk bertanggung jawab penuh atas pegelolaan sebuah perusahan untuk
kepentingan perseroan, sesuai dengan tujuan perusahaan serta mewakili
perusahaan, baik didalam maupun diluar pengadilan sesuai dengan ketentuan
anggaran dasar.
3. Komisaris Independen
Komisaris independen diperlukan untuk memastikan bahwa pengawasan
dan fungsi penasehatan dapat dilakukan dengan benar.Ehikioya, (2009),
menyatakan bahwa komisaris independen dirancang untuk meningkatkan
kemampuan perusahaan dalam melindungi diri dari berbagai ancaman lingkungan
serta dapat menyelaraskan sumber daya perusahaan untuk mendapatkan
keuntungan yang lebih besar.

16
4. Kepemilikan Institusional
Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham perusahaan yang
dimiliki dari perusahaan investasi, perusahaan asuransi, bank dan kepemilikan
institusi lain.
5. Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan bahwa kepemilikan manajerial bertugas dalam melakukan
pengawasan yang baik disebuah perusahaan untuk menghindari adanya tindakan
manajemen laba dari manajer. Kepemilikan adalah jumlah dari kepemilikan
saham oleh manajer,komisaris dan direksi.
6. Komite Audit
Komite audit adalah sekelompok orang yang dipilih oleh kelompok yang
lebih besar untuk mengerjakan pekerjaan tertentu atau untuk melakukan tugas-
tugas khusus atau sejumlah anggota Dewan Komisaris perusahaan klien yang
bertanggung jawab untuk membantu auditor dalam mempertahankan
independensinya dari manajemen.

2.2.9 Pengaruh Good Corporate Goverance terhadap Kinerja Keuangan


Kinerja keuangan suatu perusahaan ditentukan oleh sejauh mana tingkat
keseriusannya dalam menerapkan Good Corporate Governance. Dalam majalah
SWA (2001) menyebutkan bahwa terdapat sebanyak 25 perusahaan peringkat
teratas yang menerapkan Good Corporate Governance dengan baik secara tidak
langsing menaikkan nilai shamnya. Secara teoritis Good Corporate Governance
dapat meningkatkan kinerja keuangan mereka, mengurangi resiko yang mungkin
dilakukan oleh dewan denga keputusan yang menguntungkan sendiri, pada
umumnya Good Corporate Governance dapat meningkatkan kepercayaan
investor untuk menanamkan modalnya yang akan berdampak terhadap kinerjanya.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa praktek Good


Corporate Governance (CGPI) berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan
(ROE) pada perusahaan yang terdaftar di BEI. Selain itu, implementasi GCG
merpakan peluang yang sangat besar bagi perusahaan untuk meraih berbagai
manfaat termasuk kepercayaan investor terhadap perusahaan. Nilai koefisien

17
CGPI yang positif menunjukkan semakin tinggi CGPI maka semakin tinggi
kinerja perusahaan (ROE).

2.2.10 Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap ROA


Rasio profitabilitas perusahaan yang diukur dengan membandigkan laba
bersih dengan total aset perusahaan. Keuntungan menggunankan ROA adalah
pengukuran yang komprehensif dimana semua yang mempengaruhi laporan
keuangan perusahaan dapat tercermin.

Dalam penelitian ini menyataan bahwa tedapat pengaruh positif Good


Corporate Governance terhadap Return On Asset dan hasil penelitian
menunjukkan bahwa Good Corporate Governance tidak berpengaruh positif
terhadap ROA. Halini dapat dilihat dari besarnya nilai signifikan menunjukkan
bahwa Good Corporate Governance tidak berpengaruh positif terhadap ROA.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa GCG tidak mempengaruhi secara


signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Hal ini kemungkinan dapat
disebabkan Return On Assetterhadap nilai perusahan menunjukkan hasil yang
tidak konsisten.

2.3 Kerangka Pemikiran


Berdasarkan landasan teori dan hasil penelitian sebelumnya, maka dasar
perumusan hipotesis berikut disajikan kerangka pemikiran yang diungkapkan
dalam metode penelitian pada gambar berikut ini :

18
Gambar 2.2

Kerangka pemikiran

Good Corporate Governance (GCG) Kinerja Keuangan

Dewan
Komisaris

Dewan
Direksi

Komisaris
ROA
Independen

Kepemilikan
Institusional

Kepemilikan
Manajerial

2.4 Hipotesis Penelitian

𝐻1 : Dewan Komisaris berpengaruh terhadap ROA

𝐻2 : Dewan Direksi berpengaruh terhadap ROA

𝐻3 : Komisaris Independen berpengaruh terhadap ROA

𝐻4 :Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap ROA

𝐻5 : Kepemilikan Manajerial berpengaruh terhadap ROA

19
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian


Rancangan penelitian yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini dapat
ditinjau berdasarkan tiga aspek yaitu :

1. Jenis penelitian ditinjau berdasarkan jenis data


Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif
adalah sebuah penelitian dalam melihat hubungan variabel terhadap obyek
yang diteliti, lebih bersifat sebab dan akibat (hubungan kausal), sehingga
dalam penelitiannya terdapat variabel independen dan dependen. Selain
itu, penelitian ini juga diklasifikasikan ke dalam penelitian arsip karena
penelitian ini menguji terhadap fakta tertulis berupa dokumen atau arsip.
Penelitian ini memperoleh data berupa angka dari laporan keuangan
tahunan pada masing-masing website laporan keuangan yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia tahun 2011-2014.
2. Jenis penelitian ditinjau berdasarkan tujuannya
Penelitian ini merupakan penelitian deduktif, yaitu menguji hipotesis
melalui teori pada keadaan tertentu dimana penelitian ini berawal dari
pernyataan umum ke kesimpulan yang dihasilkan. Hasil pengujian data
digunakan sebagai dasar untuk membuat suatu kesimpulan dimana
kesimpulan tersebut digunakan untuk menerima hipotesis atau menolak
hipotesis yang telah dikembangkan melalui telaah teoritis.

3. Jenis penelitian ditinjau berdasarkan karakteristik masalahnya


Penelitian ini adalah penelitian kausal komperatif. Penelitian kausal
35 dengan karakteristik masalah berupa
komparatif adalah penelitian
hubungan sebab-akibat dari dua variabel atau lebih.

20
3.2 Batasan Penelitian
Adapun keterbatasan dari penelitian adalah penelitian ini menggunakan
variabel independen yaitu Good corporate Governance sebagai pengaruh variabel
dependen yaitu Kinerja Keuangan sebagai variabel moderasi apakah terdapat
pengaruh signifikan. Penelitian ini hanya terbatas pada laporan keuangan tahunan
perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia dengan pengamatan penelitian
tahun 2011-2014.

3.3 Identifikasi Variabel


Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel
dependen dan juga variabel independen:

1. Variabel dependen (Y)


Variabel dalam penelitian ini adalah Kinerja Keuangan
2. Variabel independen (X)
Variabel dalam penelitian ini adalah Good Corporate Governance

3.4 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel


Definisi operasional menjelaskan bagaimana variabel penelitian dapat
diukur. Adapun operasional dari variabel-variabel penelitian dapat dijelaskan
sebagaiberilut:

3.4.1 Variabel dependen (Y)

Perusahaan dapat membenahi atas faktor-faktor internal organisasinya


yang belum sesuai dan belum mendukung terwujudnya GCG berdasarkan hasil
temuan selama survey CGPI berlangsung. Peningkatan atas kesadaran bersama
dikalangan internal perusahaan dan stokeholder terhadap peningkatan kesadaran
bersama dikalangan internal.

Langkah untuk menghitung ROA

𝐋𝐚𝐛𝐚 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐢𝐡
𝐑𝐎𝐀 =
𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐀𝐬𝐞𝐭
3.4.2 Variabel Independen

21
Dalam penelitian ini variabel menjelaskan tentang kualitas penerapan
terhadap Good Corporate Governance (GCG) dapat diukur dengan komposit
peringkat tingkat kualitas dalam penerapan laporan Good Corporate Governance
(GCG) yang terdapat diperusahaan. Adapun elemen-elemen Good Corporate
Governence dijelaskan sebagai berikut :
1. Dewan komisaris merupakan sebuah organ perusahaan yang bertugas
untuk melakukan pengawasan secara umum sesuai dengan anggaran dasar
serta dapat memberikan nasihat kepada dewan direksi.

∑ 𝐴𝑛𝑔𝑔𝑜𝑡𝑎 𝑑𝑒𝑤𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑚𝑖𝑠𝑎𝑟𝑖𝑠

Dewan direksi merupakan anggota perusahaan yang memiliki kewajiban


untuk bertanggung jawab penuh atas pegelolaan sebuah perusahan untuk
kepentingan perseroan, sesuai dengan tujuan perusahaan serta mewakili.

2. Perusahaan, baik didalam maupun diluar pengadilan sesuai dengan


ketentuan anggaran dasar.

∑ 𝐴𝑛𝑔𝑔𝑜𝑡𝑎 𝑑𝑒𝑤𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖

3. Komisaris independen merupakan anggota yang tidak memiliki hubungan


dengan pihak yang ada didalam peusahaan.
∑ 𝐾𝑜𝑚𝑖𝑠𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑖𝑛𝑑𝑒𝑝𝑒𝑛𝑑𝑒𝑛 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎𝑎𝑛
∑ 𝐴𝑛𝑔𝑔𝑜𝑡𝑎 𝑑𝑒𝑤𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑚𝑖𝑠𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎𝑎𝑛
4. Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham perusahaan yang
dimiliki dari perusahaan investasi, perusahaan asuransi, bank dan
kepemilikan institusi lain.
∑ 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘𝑖 𝑖𝑛𝑠𝑡𝑖𝑡𝑢𝑠𝑖
∑ 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟
5. Kepemilikan bahwa kepemilikan manajerial bertugas dalam melakukan
pengawasan yang baik disebuah perusahaan untuk menghindari adanya
tindakan manajemen laba dari manajer. Kepemilikan adalah jumlah dari
kepemilikan saham oleh manajer, komisaris dan direksi.

22
∑ 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘𝑖 𝑚𝑎𝑛𝑎𝑗𝑒𝑟 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑑𝑖𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖
∑ 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟
6. Komite Audit merupakan salah satu dari beberapa komite yang dibentuk oleh
Dewan Komiris. Diketahui secara umum bahwa untuk dapat bekerja secara
tepat guna dalam suatu lingkungan usaha yang kompleks, Dewan Komisaris
harus mendelegasikan beberapa tugas mereka kepada komite-komite audit.

3.5 Populasi, Sampel, Dan Teknik Pengabilan Sampel


Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kinerja keuangan di
Indonesia yang terdiri dari perusahaan manufaktur. Sampel yang digunakan
adalah berupa perusahaan pada tahun 2011-2014. Sampel dalam penelitian ini
merupakan perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
dan menyediakan data minimal lima tahun periode. Metode atau teknik sampling
yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling atau pemilihan.
sampel berdasarkan dengan kriteria tertentu. Perusahaan-perusahaan yang akan
digunakan sebagai sampel memiliki kriteria-kriteria sebagai berikut :

1. Perusahaan terdaftar di BEI antara tahun 2011-2014


2. Perusahaan menerbitkan laporan tahunan untukperiode 2011-2014

3.6 Data dan Metode Pengumpulan Data


Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data
sekunder dimana data yang diperoleh melalui sumber lain yang ada sebelumnya
yang bersifat kuantitatifyaitu data yang bisa diukur dengan angka dari laporan
keuangan tahunan. Data sekunder yang dibutuhkan tersebut diperoleh dari
publikasi oleh instansi-instansi yang terkait seperti perusahaan manufaktur yang
dimaksud di sampel penelitian, dengan cara browse ke website mereka. Metode
pengumpulan data yang digunakan adalah dengan cara mengumpulkan, mencatat,
dan mengkaji data sekunder yang berupa sustainability report (laporan
berkelanjutan) perusahaan manufaktur tahun 2011-2014. Data sekunder
dikumpulkan dan dianalisa sesuai dengan sampelnya.

3.7 Teknik Analisis Data

23
3.7.1 Statistik Deskiptif

Statistik deskiptif memberikan gambaran atau deskipsi suatu data yang


dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum,
sum, range, kuartosis dan skewness (kemencengan distribusi) (Imam, 2011:19).

3.7.2 Uji Asumsi Klasik


1. Uji Multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya kolerasi antar variabel bebas (independen). Model
regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel
independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel-
variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel
independen yang nilai korelasi antara sesame variabel independen sama
dengan nol. Multikolonieritas dilihat dari (1) nilai tolerance dan lawannya
(2) variance inflation factor (VIF). Jika nilai tolerance mendekati angkat 1
dan nilai VIF dibawah 10, maka tidak terjadi masalah multikolonieritas.
Sedangkan jika nilai tolerance mendekati angka 1 dan nilai VIF diatas 10,
maka terjadi masalah multikolonieritas.
2. Uji Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan
kesalahan pengganggu pada periode t – 1 (sebelumnya). Jika terjadi
korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul
karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama
lainnya. Uji Durbin-Waston (DW test) hanya digunakan untuk
autokorelasi tingkat satu (first order autocorrelation) dan mensyaratkan
adanya intercept (konstanta) dalam model regresi dan tidak ada variabel
lag di antara variabel independen (Imam, 2011:110). Hipotesis yang akan
diuji adalah :

H0 : tidak ada autokorelasi ( r = 0)

HA : ada autokorelasi (r ≠ 0)

24
3. Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regesi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda
disebut Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang
Homoskesdatisitas atau tidak terjadi Heteroskesdatisitas. Untuk melihat
ada atau tidaknya Heteroskesdatisitas ini digunakan suatu metode yang
disebut Uji White(Imam, 2011:139). Kriteria untuk pengujian White adalah
:
a. Jika nilai sig < 0,05 varian terdapat heteroskesdatisitas.
b. Jika nilai sig ≥ 0,05 varian tidak terdapat heteroskesdatisitas.
4. Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ,
variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Ada dua
cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak
yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik (Imam, 2011:160). Alat uji
statistik normalitas yang digunakan adalah Kolmogorov-Smirnov (K-S).
Uji K-S dilakukan dengan kriterian pengujian yaitu :
Nilai signifikansi < 0,05 : data tidak terdistribusi normal
Nilai signifikansi > 0,05 : data terdistribusi normal
3.7.3 Uji Hipotesis
a. Koefisien Determinasi

Koefisien determinan ( 𝑅 2 ) mengukur seberapa jauh kemampuan model


dalam menerangka variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinan adalah
antara nol dan satu. Nilai 𝑅 2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel
independen dalam menjelaskan varian variabel dependen amat terbatas. Nilai
yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir
semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.
Secara umum koefisien determinan untuk data silang (crossection) relatif rendah
karena adanya variasi yang besar antara masing-masing pengamatan, sedangkan

25
untuk data runtun waktu (time series) biasanya mempunyai nilai koefisien
determinan yang tinggi(Imam, 2011:97).

b. Uji Good ness of Fit (Uji Statistik F)

Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel


independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh
secara bersama-sama terhadap variabel dependen atau terikat (Imam, 2011:98).
Pengujian hipotesis ini menggunakan kriteria statistik F, yaitu :

1. Menentukan rumusan hipotesis


Ho : 𝛽1, 𝛽2, 𝛽3, 𝛽4 = 0 , artinya model regresi tidak fit
Ha : 𝛽1, 𝛽2, 𝛽3, 𝛽4 ≠ 0 , artinya model regresi fit
2. Menentukan tingkat signifikansi (α = 0,05)
3. Menentukan kriterian penolakan dan penerimaan Ho
a. Jika nilai signifikan F ≥ 0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak,
artinya model regresi tidak fit atau tidak baik.
H1 : Good Corporate Governance tidak berpengaruh terhadap
Kinerja Keuangan
b. Jika nilai signifikan F ≤ 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima,
artinya model regresi fit atau baik.
H1 : Good Corporate Governance berpengaruh Kinerja
Keuangan
c. Uji t

Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu


variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi
variabel dependen (Imam, 2011:98). Langkah –langkah yang dilakukan dalam
pengujian ini adalah menentukan kriteria dari pengujian, yaitu :

1. Menentukan rumusan hipotesis


H1 : Good Corporate Governance mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap Kinerja Keuangan

26
2. Menentukan tingkat signifikansi (α = 0,05)
3. Menentukan penerimaan dan penolakan Ho
a. Jika nilai signifikan t ≥ 0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak,
artinya tidak mempunyai pengaruh.
b. Jika nilai signifikan t ≤ 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima,
artinya mempunyai pengaruh.

27
DAFTAR PUSTAKA

Brigham, E., & Houston. (2012). Manajemen. Jurnal Manajemen, 01 (No. 01), 1-
7.

Darmawati, D., khomsiyah, & Rika. (2005). Hubungan Corporate Governance


dan Kinerja Perusahaan. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, 8 (No1), 8-
30.
Like Monisa Wati. "Pengaruh Praktek Good Corporate Governance terhadap
Kinerja Keuangan Perusahaan di Bursa Efek Indonesia". Jurnal
Manajemen, Vol 01, No 01, September 2012. Universitas Negeri
Padang

Cahyani Nuswandari. " Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE),Hal70-84, September


2009.Fakultas Ekonomi Universitas Stikubank Semarang.

Suklimah Ratih. Jurnal Kewirausahaan, vol 1, No 2, Desember 2011. Lembaga


Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Widya Kartika
Surabaya.

Dian Prasinta."Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja


Keuangan". Accounting Analysis Journal (AAJ) 1, 2, 2012. Jurusan
Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang,
Indonesia.

Tri Kartika Pertiwi. "Penagruh Kinerja Keuangan Good Corporate Governance


Terhadap Nilai Perusahaan Food and Baverage". Jurnal Manajemen
dan Kewirausahaan, Vol 14, No 2, September 2012. Fakultas
Ekonomi, UPN Veteran Jawa Timur, Surabaya, Indonesia.

Kajananhan, Rajendran. " Effect Of Corporate Governance On Capital Structure :


Case Of The Srilankan Listed Manufakturing Companies".

28
International Refereed Research Journal, Vol III, Issue 4(1), October
2012 (64).Universitas Of Jaffna, Sri Lanka.

Tri Purwani. Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja


Perusahaan". Majalah Ilmiah Informatika Vol 1, No 2, Mei 2010.
Fakultas Ilmu Komputer Universitas AKI.

29