Anda di halaman 1dari 3

TOPIK:

PERBANDINGAN JUMLAH SEDIMENT URIN LEUKOSIT


YANG DIPERIKSA SEGERA DAN DITUNDA SELAMA 2 JAM

NAMA : KRISTIANA DEWI

NIM : PO. 71. 34. 0. 16. 020

KELAS : TK.III / REG.A

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN


PALEMBANG

JURUSAN ANALIS KESEHATAN


Jalan sukabangun 1 KM 6,5 Sukarami Palembang
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Urin merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal yang telah
melewati fase penyaringan, penyerapan dan pengeluaran. Komposisi urin sesorang ditentukan
oleh diet, status gizi, kecepatan metabolisme dan fungsi ginjal. Urin terdiri dari air dengan
bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik.
Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin
berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa,
diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung
urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang
akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui
urinalisis (wikipedia.indonesia)
Pemeriksaan urin rutin terdiri atas pemeriksaan makroskopik, kimia urin dan
mikroskopik. Pemeriksaan makroskopik meliputi pemeriksaan volume urin, warna urin, berat
jenis dan kejernihan. Volume urin pada orang dewasa normal yakni 800-1300 ml. Warna urin
normalnya berkisar antara kuning muda dan kuning tua. Warna itu disebabkan oleh beberapa
macam zat warna, terutama urochrom dan urobilin. Berat jenis urin 24 jam dari orang normal
berkisar antara 1,016-1,022 dan batas normal 1,003 – 1,030. Sedangkan untuk kekeruhan
urine pada saat dikeluarkan dapat disebabkan oleh bakteri , Chylus dan lemak, unsur sedimen
dalam jumlah banyak
Pemeriksaan urin berdasarkan kandungan kimia meliputi pemeriksaan dengan
metode protein bence jones, benedict, rothera, Gerhardt, Harrison, Wallace dan diamond dan
masih banyak lagi. Tetapi, pada zaman modern saat ini metode tersebut jarang digunakan
karena keterbatasan waktu pemeriksaan dan reagen sehingga kebanyakan laboratorium saat
ini menggunakan metode carik celup urin untuk memeriksa kimia urin karena lebih mudah
dan efisien (Gandasoebrata, 2013)
Pemeriksaan mikroskopis urin meliputi pemeriksaan sedimen urin. Pemeriksaan ini
sangat penting karena jika partikel dalam urin tidak ikut dikeluarkan maka akan
mengakibatkan gangguan dalam kandung kemih. Pemeriksaan sedimen yang diperiksa
adalah zat sisa metabolisme yang berupa kristal, granula termasuk juga bakteri. Keberadaan
suatu benda normal atau tidak normal yang terdapat dalam urine dapat menunjukkan
keaadaan organ tubuh. Jumlah leukosit melebihi nilai rujukan dalam urine dapat
menunjukkan kondisi leukosituria. Peningkatan jumlah leukosit dalam urin umumnya
menunjukkan adanya infeksi saluran kemih baik bagian atas atau bawah, sistitis, pielonefritis
dan glomerulonefritis. Diagnosis leukosituria ditegakkan apabila didapatkan lebih dari 5
Leukosit per lapang pandang besar (Enny RW,2003)

Pemeriksaan sedimen urin sangat dipengaruhi oleh volume urin, kecepatan dan
lamanya urine diputar dan waktu pemeriksaan. Menurut buku Ganda Soebrata (2013),
pemeriksaan sedimen urin segar dengan jumlah volume spesimen 10 ml, memiliki stabilitas
pada suhu kamar yaitu selama 1 jam. Jika urin didiamkan lama maka bakteri akan
berkembangbiak banyak, sehingga dapat menguraikan NH3 (amoniak) yang bersifat basa.
Pada kondisi basa, pH dalam urin akan meningkat. Hal ini dapat mempengaruhi komponen
sedimen dalam urin menjadi cepat lisis sehingga jumlahnya akan berkurang (Zahrin, 2014).
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Rivana Ariyadi 2016, menyatakan bahwa ada
pengaruh penundaan pemeriksaan hasil sedimen urin pagi hematuria yang signifikan.
Penelitian Rosita (2009) menyatakan bahwa pengaruh penundaan waktu terhadap urinalisis
memberikan informasi tentang disfungsi ginjal yang tidak valid atau tidak bisa dipercaya.

Seringkali sampel urin yang datang ke laboratorium sudah tidak segar lagi dan telah
dikeluarkan beberapa jam sebelumnya hal dikarenakan pasien yang tidak memperhatikan
waktu pengambilan dan pengiriman sampel urin. Penundaan waktu berkemih dan
pemeriksaan akan mengurangi validitas hasil.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian


dengan topik “perbandingan jumlah sediment urin leukosit yang diperiksa segera dan ditunda
selama 2 jam”

1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana perbandingan jumlah sedimen urin leukosit yang diperiksa segera dan
ditunda selama 2 jam?